DAFTAR LAMPIRAN
III. METODE PENELITIAN
4. Uji Heteroskedastisitas
Suatu fungsi dikatakan baik apabila memenuhi asumsi homoskedastisitas (tidak terjadi heteroskedastisitas) atau memiliki ragam error yang sama. Salah satu cara untuk melihat ada atau tidaknya masalah heteroskedastisitas adalah dengan menggunakan uji White. Uji White menggunakan residual kuadrat sebagai variabel dependen yang diregresikan terhadap variabel-variabel independennya. Hipotesis penggunaan uji White adalah:
H0 : homoskedastisitas H1 : heteroskedastisitas
Apabila nilai p-value lebih besar dari taraf nyata (α) yang digunakan maka terima H0, sehingga tidak terjadi pelanggaran asumsi heteroskedastisitas.
Sebaliknya jika p-value lebih kecil dari taraf nayat (α) yang digunakan makan tolak H0 dan terjadi pelanggaran asumsi heteroskedastisitas.
IV. GAMBARAN UMUM
4.1. Gambaran Umum PT. Pupuk Kujang 4.1.1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
Pabrik Pupuk Kujang adalah pabrik yang memproduksi pupuk urea (NH2CONH2) dengan kandungan N 46% sebagai produk utama, dengan hasil antara/sampingan amonia, oksigen, dan nitrogen. Badan hukum pabrik ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbentuk Perseroan Terbatas(PT). Pemerintah Indonesia pada tahun 60-an mencanangkan pelaksanaan program peningkatan produksi pertanian dalam usaha swasembada pangan. Kesuksesan program pemerintah ini mutlak dibutuhkan adanya pupuk yang harus dipenuhi untuk mencapai hasil yang maksimal dalam usaha swasembada pangan tersebut. Pengaturan distribusi nasional pupuk sering berubah namun tidak terlalu mendasar. Pada awalnya, distribusi pupuk Indonesia
dimonopoli oleh PT Pusri yang tergabung dalam satu holding company.
Berdasarkan Surat Keputusan Menperindag No. 378/1998 tanggal 6 Agustus 1998, PT Pusri bertindak sebagai penanggung jawab pengadaan dan distribusi pupuk bersubsidi (Ilham 2001).
Produksi urea Pupuk Sriwijaya tahun enam puluhan hanya 100.000 ton/tahun. Kapasitas ini dirasakan kurang memenuhi kebutuhan nasional yang diperhitungkan mencapai angka kurang lebih 728.000 urea ton/tahun pada saat itu.
Produksi pupuk urea Pupuk Sriwijaya itu dirasakan kurang mencukupi, maka timbullah suatu gagasan untuk mendirikan pabrik pupuk urea lainnya dalam usaha peningkatan intensifikasi. Gagasan tersebut didukung pula ditemukannya
sumber gas alam dibagian utara Jawa Barat yaitu di daerah Jati Barang, Kabupaten Indramayu maupun lepas pantai Cilamaya, Kabupaten Karawang. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 menyebutkan bahwa kekayaan alam Indonesia dengan segala isi yang terkandung didalamnya harus dapat dimanfaatkan bagi kepentingan kemakmuran rakyat yang sesuai dengan gagasan untuk melakukan proyek pupuk Jatibarang.
Pada tanggal 9 Juni 1975 sesuai dengan Akta Notaris Sulaeman Ardjasmita, SH. No. 19 tahun 1975 didirikanlah PT. Pupuk Kujang, sebagai sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dilingkungan Direktorat Jendral Industri Kimia, Departemen Perindustrian. PT. Pupuk Kujang dipercayakan tugas untuk membangun pabrik pupuk urea yang didirikan di kawasan Desa Dawuan Cikampek.
Pembangunan pabrik pupuk PT. Pupuk Kujang berjalan baik sampai dengan dilakukan performance test akhir Februari 1979. Pada bulan Oktober 1978 start-up dilakukan pada beberapa unit pabrik, sehingga pada tanggal 7 November 1978 pabrik sudah mulai berproduksi, ini terjadi tiga bulan lebih awal dari yang direncanakan. Pengoperasian pabrik Pupuk Kujang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 12 Desember 1978 yang memiliki kapasitas terpasang 570.000 ton urea per tahun atau 1.725 urea ton/hari. Pada tanggal 1 April 1979 PT. Pupuk Kujang dinyatakan resmi beroperasi secara komersial.
Saat dinyatakan bahwa PT Pupuk Kujang resmi beroperasi secara komersial maka PT Pupuk Kujang mulai melakukan kegiatan produksi sebagai suatu perusahaan yang memproduksi pupuk urea dan juga tidak terlepas dari aktivitas rutin perusahaan yaitu melakukan pembelian berproduksi menjual hasil
produksi tersebut pada masyarakat. Sebagai stabilisator dalam pengadaan dan harga pupuk, PT Pupuk Kujang bersama-sama dengan pabrik lainnya di Indonesia, harus dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri. PT. Pupuk Kujang diberikan tanggung jawab untuk menjamin ketersediaan pupuk di wilayah Jawa Barat dan bagian utara Jawa Tengah.
4.1.2. Mekanisme Pengadaan Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang
Kebutuhan Propinsi Jawa Barat akan pupuk urea setiap tahunnya sekitar 720.000 ton. Sementara kapasitas produksi PT. Pupuk Kujang sendiri maksimal hanya sekitar 570.000 ton per tahun. M aka untuk memenuhi permintaan urea di Jawa Barat ini PT. Pupuk Kujang tetap harus bekerjasama dengan produsen pupuk lainnya. Pemerintah memberikan peraturan kepada produsen pupuk untuk bekerjasama dengan produsen pupuk lainnya jika produsen tersebut tidak mampu memenuhi alokasi pengadaan dan penyaluran pupuk pada wilayah yang menjadi tanggung jawabnya mengingat pentingnya komoditi pupuk ini. Kerjasama tersebut dilakukan dengan Surat Perjanjian Jual Beli (SPJB)/ Kontrak.
Jika terdapat kekurangan pasokan pupuk urea maka PT. Pupuk Kujang mengadakan Kerja Sama Operasional (KSO) dengan PT. Pusri dimana PT. Pusri merupakan koordinator produsen pupuk di Indonesia. PT. Pupuk Kujang akan membeli pupuk urea dari PT. Pusri Palembang sesuai kebutuhan kabupaten- kabupaten yang penyalurannya menjadi tanggung jawab PT. Pusri PPD Jawa Barat. Namun PT. Pupuk Kujang tetap bertanggung jawab untuk menjamin ketersediaan pupuk urea di seluruh kabupaten di Jawa Barat.
4.1.3. Proses Produksi Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang
Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan urea adalah gas alam, air, dan udara. Sifat-sifat gas alam biasanya diwakili oleh komponen-komponen yang terkandung dalam gas alam. Komponen terbesar dalam gas alam adalah metan (CH4), tetapi terdapat juga etana, propane, butane, pentane, karbondioksida, hidrogen, dan argon.
Pabrik pupuk urea ini didesain untuk memproduksi 1,725 ton urea per hari. Pabrik ini menggunakan teknologi canggih yang mudah dioperasikan, investasi pembangunan yang rendah, dan memiliki produk dengan kualitas tinggi. Proses tersebut dikembangkan oleh Toyo Engineering Corporation (TEC) Jepang.
Unit-unit produksi yang dimiliki PT Pupuk Kujang sebagai pabrik penghasil urea adalah sebagai berikut: plant yaitu utility plant, anmonia plant, urea plant, dan bagging plant., penyediaan air bak, penyediaan gas alam, dan pabrik karung plastik.
Utility plant menyediakan air bersih untuk air minum, perkantoran, dan juag air bebas mineral yang digunakan oleh seluruh dinas sebagai air umpan ketel, steam yang digunakan untuk menggerakkan turbin, instrument air, dan plant air, cooling water dan listrik dari gas turbin generator.
Ammonia plant menghasilkan ammonia dan karbondioksida untuk dikirim ke urea plant sebagai bahan baku pembuatan urea. Setelah diproses di urea plant menjadi urea curah, selanjutnya dikirim ke bagging plant untuk dikemas sebelum di jual ke konsumen.
4.1.4.Visi dan Misi Perusahaan a. Visi
Menjadi industri pendukung pertanian dan petrokimia yang efisien dan kompetitif di pasar global.
b. Misi
1. Mendukung program ketahanan pangan nasional
2. Mengembangkan industri agrokimia dan petrokimia yang berbasis sumber daya alam yang ramah lingkungan
3. Memanfaatkan sumber daya tersedia untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat
4. Mendukung pengembangan perekonomian nasional dan perekonomian daerah melalui pemberdayaan masyarakat di sekitar perusahaan
4.2. Faktor-faktor yang Memengaruhi Produksi 4.2.1. Modal
Pada awal PT. Pupuk Kujang berdiri pembiayaan pelaksanaan proyek pabrik pupuk urea ini diperoleh pemerintah Indonesia melalui pinjaman lunak dari pemerintah Kerajaan Iran berupa pinjaman lunak sebesar US $ 200 juta untuk pembelian komponen-komponen mesin dan pipa gas. Sedangkan Pemerintah Indonesia sendiri menyediakan dana untuk pembiayaan konstruksi bangunan senilai US $ 65 juta sebagai penyertaan modal pemerintah. Pembangunan pabrik pupuk mulai dilakukan pada bulan Juli 1976 dengan kontraktor utama Kellog Overses Coorporation dari Jepang sebagai sub kontraktor.
Pabrik, mesin, dan alat-alat produksi yang dimiliki perusahaan merupakan aktiva tetap atau dapat disebut modal tetap yang sifatnya untuk jangka panjang
dan memiliki masa susut. Modal pun terus berkembang dengan usia pabrik dan perbaikan mesin yang sudah tua yang kerap kali terjadi. Perbaikan-perbaikan dan biaya pemeliharaan yang mewajibkan perusahaan untuk menggantikan suku cadang lama dengan yang baru menyebabkan pertambahan modal terjadi.
Mesin dan peralatan pada mesin produksi urea PT. Pupuk Kujang menggunakan teknologi canggih yang dibangun oleh pihak asing dan suku cadangnya jarang didapatkan di Indonesia. Sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya yang tinggi dengan mengimpor dari negara-negara tetangga seperti Jepang, Amerika dan Jerman. Hal ini yang menjadi salah satu permasalahan bagi PT. Pupuk Kujang. Namun, pada beberapa tahun terahkir terdapat kesepakatan perusahaan yang merupakan anggota Asosiasi Produsen Pupuk Inodnesia (APPI) untuk dapat meminta bantuan kepada anggota APPI apabila terdapat mesin yang rusak dan suku cadang yang sulit didapat. Selanjutnya APPI akan mencarikan pinjaman suku cadang yang diperlukan dari pabrik pupuk lain untuk membantu perusahaan.
4.2.2. Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan faktor produksi utama dari suatu proses produksi karena tenaga kerja bertugas mengelola dan mengombinasikan faktor-faktor produksi lain untuk mencapai tingkat output yang diinginkan. Mesin-mesin proses produksi yang dimiliki oleh PT. Pupuk Kujang merupakan mesin yang di impor dari luar negeri dan merupakan mesin yang bersifat khusus, sehingga diperlukan tenaga kerja ahli dibagian pemeliharaan yang benar-benar mengerti tentang mesin tersebut. Menurut Widiar (2005), dengan menstandarkan tingkat keahlian para
tenaga kerja yaitu dengan diikutkan pada ujian sertifikasi tenaga ahli dari Lembaga Sertifikasi Tenaga Ahli Pemeliharaan Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia merupakan salah satu pemecahan masalah tenaga ahli perusahaan dalam jangka panjang pada PT. Pupuk Kujang.
Pada divisi produksi urea 1-A terdapat dua bagian tenaga kerja, yaitu: 1. Tenaga kerja operatif
Tenaga kerja operatif ialah karyawan yang bekerja sebagai operator pada bagian-bagian yang ada di perusahaan. Tenaga kerja operatif bekerja sesuai dengan jam kerja yang berlaku di perusahaan yaitu senin sampai minggu yang terbagi menjadi tiga shift, yaitu:
a. Pagi : jam 07.00-jam 15.00 b. Siang : jam 15.00-jam 23.00 c. Malam : jam 23.00-jam 07.00 2. Tenaga kerja staf
Tenaga kerja staf memiliki bagian tersendiri antara lain: kepala kompartemen, supervisor dan staf ahli.
4.2.3. Penggunaan Bahan Baku
Bahan baku dalam pembuatan urea adalah gas bumi, air dan udara. Ketiga bahan baku tersebut diolah sehingga menghasilkan amonia dan akhirnya menjadi urea. Namun gas bumi merupakan bahan baku utama dalam proses produksi pupuk urea. Penyediaan gas bumi pada PT. Pupuk Kujang berasal dari perusahaan Pertamina Hulu Energi dan Perusahaan gas swasta lainnya. Gas bumi tersebut diambil dari sumber lepas pantai utara Cilamaya, Jawa Barat. Gas bumi tersebut
dialirkan dengan tekanan rendah pada aliran pipa gas dari daerah Cilamaya sampai dengan PT. Pupuk Kujang yang kurang lebih panjangnya sekitar 117 km dengan mesin kontrol yang berada di dekat PT.Pupuk Kujang. Pabrik pupuk urea 1-A PT. Pupuk Kujang membutuhkan sekitar 30 mmbtu gas untuk memproduksi 1 ton urea. Sehingga jika total kapasitas terpasang sebesar 570.000 ton/tahun, maka perusahaan harus menyediakan sekitar 17.100.000 mmbtu gas bumi/ tahun. Namun angka tersebut tidak mutlak karena proses produksi pupuk urea menggunakan mesin dengan memasukkan faktor-faktor produksi bahan baku dalam mesin.
Salah satu masalah yang dihadapi oleh pabrik pupuk adalah ketersediaan gas sebagai bahan baku pupuk urea. Namun permasalah utama bukanlah hanya dari kuantitas dari gas bumi tersebut. Permasalah dalam kontrak harga gas bumi antara PT. Pupuk Kujang dan perusahaan gas tersebut. Gas merupakan unsur terbesar dari stuktur biaya produksi urea yaitu sekitar 50%-60%. Karenanya, ketersediaan gas dengan harga yang terjangkau merupakan hal yang mutlak bagi kelangsungan hidup pabrik pupuk. Terkait dengan masalah gas, sesungguhnya bisa saja industri pupuk membeli harga gas sesuai dengan harga di pasar. Namun, hal ini menjadi tidak bisa diwujudkan karena harga jual pupuk telah ditetapkan pemerintah melalui harga eceran tertinggi (HET). HET Pupuk diatur dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian (Mentan) No.107/Kepts/SR.130/2/2004 yaitu sebesar Rp1.050/kg urea. Tetapi kini harga gas dan biaya lainnya terus meningkat seiring dengan perkembangan kenaikan harga BBM dan inflasi. Industri pupuk yang hanya sanggup membeli gas sekitar $2,0 per mmbtu, jelas kalah bersaing dibandingkan dengan harga yang ditawarkan PLN, PGN, dan untuk LNG yang
bisa membayar lebih dari $2 per mmbtu. Tingginya harga gas dan biaya produksi lainnya serta transportasi, sementara HET tidak berubah, telah menyebabkan produsen pupuk sebagai perusahaan yang dituntut untuk memperoleh laba mengalami opportunity loss cukup besar. Untuk mengurangi kerugian yang dialami produsen pupuk, pemerintah memberikan subsidi dengan pola subsidi harga gas (Sunarsip,2006).
4.2.4. Stream Days
Mesin pada perusahaan memproduksi pupuk urea 24 jam sehari dan berlangsung sepanjang tahun. Peningkatan total produksi urea dapat ditempuh melalui peningkatan optimalisasi mesin-mesin produksi yang digunakan agar dapat berproduksi secara efisien. Berdasarkan catatan angka produksi perusahaan, jumlah stream days yang dilakukan masih berfluktuatif karena terdapat kegiatan pemeliharaan pada mesin, baik pemeliharaan terencana dan pemeliharaan yang tak terencana.
Pemeliharaan terencana telah direncanakan baik dari segi waktu, tipe pekerjaan, suku cadang maupun pendukung lainnya. Pemeliharaan rutin termasuk dalam pemeliharaan terencana perusahaan. Hal ini dilakukan setiap hari terhadap perlatan pabrik untuk memonitor kondisi alat. Pemeliharaan rutin lainnya ialah kegiatan semi overhaul/overhaul. Kegiatan inidilakukan untuk memeriksa bagian internal dari mesin. Tindakan pemeliharaan semi overhaul/overhaul dilakukan berdasarkan waktu, jadi secara periodik setiap tahun terdapat satu waktu untuk mematikan mesin baik mesin dalam kondisi baik maupun tidak. Pemeliharaan rutin lainnya ialah perbaikan tahunan. Perbaikan tahunan dilaksanakan oleh
perusahaan setiap dua tahun sekali, dimana perbaikan ini dilakukan selama 21 hari. Dalam waktu 21 hari tersebut mesin-mesin dapat terus melakukan proses produksi tanpa harus mematikan mesin sehingga tidak akan mengganggu proses produksi.
Pemeliharaan tak terencana merupakan tindakan pemeliharaan pada mesin karena mesin mengalami kerusakan yang sifatnya mendadak. Perbaikan ini dilakukan karena adanya kerusakan yang terjadi akibat faktor-faktor seperti umur mesin yang sudah tua, human eror, atau faktor lain yang membuat mesin menjadi rusak. Jika semakin lama mesin mati, maka jumlah produksi pupuk urea yang dapat dihasilkan akan semakin berkurang.
V. PEMBAHASAN
5.1. Perkembangan Produksi Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang 5.1.1. Produksi Pupuk Urea
Sumber : Rendal Produksi PT. Pupuk Kujang, 2010
Gambar 5.1. Perkembangan Produksi Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang, tahun 1985-2010
Secara umum jika dilihat dari Gambar 5.1, memperlihatkan tren rata-rata nilai produksi pupuk urea PT. Pupuk Kujang yang cenderung menurun. Pada periode-periode awal produksi, jumlah pupuk urea yang diproduksi masih stabil walau terjadi fluktuasi pada periode tertentu. Produksi paling besar dicapai pada tahun 1987 sebesar 645.538 ton. Pada tahun tersebut perusahaan mendapatkan kontrak gas bumi sesuai dengan permintaan perusahaan dan mesin-mesin yang dimiliki oleh PT. Pupuk Kujang relatif masih berfungsi dengan baik. Pada lima tahun terakhir (2006-2010), terjadi penuruan total produksi pada PT. Pupuk Kujang. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mesin pabrik urea 1-A yang cenderung menurun karena usia mesin yang sudah tua. Teknologi lama menyebabkan pemakaian bahan baku berupa gas bumi menjadi lebih boros.
- 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000 to n Tahun
Ini fakta yang tidak bisa dipungkiri. Konsumsi gas bumi yang demikian besar, membuat beban pemerintah akan bertambah mengingat seluruh pabrik pupuk urea nasional berstatus BUMN.
5.1.2. Modal
Mesin dan peralatan yang memengaruhi produksi pupuk urea merupakan hal yang sangat penting mengingat dalam proses pembuatan pupuk urea membutuhkan proses dari teknologi yang canggih. Semua bahan pendukung di masukkan dan di proses pada mesin tersebut.
Sumber : Rendal Produksi PT. Pupuk Kujang, 2011
Gambar 5.2. Perkembangan Modal ,Tahun 1985-2010
Gambar 5.2. memperlihatkan tren grafik rata-rata nilai modal yang mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Hal ini diduga terjadi karena hampir semua mesin-mesin didatangkan dari luar negeri dengan biaya yang cukup tinggi dengan suku bunga dari pembelian mesin yang terus meningkat setiap tahunnya. Nilai modal terendah yaitu pada tahun 1986. Pada tahun tersebut diduga perusahaan tidak mengalami kerusakan mesin yang berarti, hanya terjadi perbaikan mesin yang masih dapat di perbaiki oleh tenaga ahli dari perusahaan. Sehingga biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan pada tahun tersebut relatif
- 50.000.000 100.000.000 150.000.000 200.000.000 250.000.000 Ju ta ru p iah Tahun
kecil. Modal tertinggi yaitu pada tahun 2010, hal tersebut diduga karena perbaikan pada beberapa komponen mesin yang harganya cukup tinggi dan harus mendatangkan suku cadang dari Jerman yang membuat perkembangan modal pada tahun 2010 tinggi.
5.1.3. Tenaga Kerja
Sumber : Rendal Produksi PT. Pupuk Kujang, 2010
Gambar 5.3. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja, Tahun 1985-2010
Gambar 5.3. memperlihatkan tren grafik rata-rata nilai penyerapan tenaga kerja yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun walau tidak terlalu signifikan. Hal ini dikarenakan jumlah tenaga kerja yang digunakan cenderung tetap mengingat mesin yang digunakan belum mengalami perubahan yang signifikan dari awal pabrik didirikan sehingga perusahaan merasa tidak perlu melakukan perekrutan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak. Jumlah tenaga kerja paling banyak yaitu pada tahun 1989. Hal ini disebabkan adanya program perbaikan mesin yang membutuhkan penambahan tenaga kerja yang didapat dari mutasi tenaga ahli dari divisi lain. Total tenaga kerja paling rendah adalah tahun 2006. Hal ini disebabkan adanya penyelesaian pembangunan pabrik baru urea 1b yang diadakan oleh PT. Pupuk Kujang sehingga beberapa tenaga ahli terserap oleh penyelesaian pabrik urea 1b tersebut.
0 50 100 150 200 250 o ran g Tahun
5.1.4. Bahan Baku
Sumber : Rendal Produksi PT. Pupuk Kujang, 2010
Gambar 5.4. Perkembangan Bahan Baku, Tahun 1985-2010
Gambar 5.4. memperlihatkan tren grafik rata-rata nilai bahan baku yang cenderung mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan pasokan gas bumi untuk produksi pupuk sangat terbatas dan terjadinya fluktuasi harga gas bumi. Tahun 1985-1997 kontrak harga gas bumi yang didapatkan PT. Pupuk Kujang hanya sebesar 1 US$/mmbtu, lalu mengalami kenaikan pada tahun 1998-2005 sebesar 1,85 US$/mmbtu, dan pada tahun 2006 sampai dengan sekarang harga gas bumi terus meningkat dan berfluktuasi. Pada tahun 2007, pasokan gas bumi terendah yang didapatkan oleh PT. Pupuk Kujang, yaitu hanya sebesar 10.719.205 mmbtu. Hal ini dikarenakan pada bulan Juli tahun 2007 kontrak gas bumi pabrik urea 1-A habis dan belum disepakatinya kontrak baru karena permasalahan harga gas yang meningkat. Perusahaan baru akan mendapatkan pasokan gas pada awal tahun 2008, sehingga ada kekosongan selama bulan Juli-Desember 2007 yang menyebabkan total produksi pada tahun 2007 cukup rendah yaitu hanya sebesar 389.000 ton.
Pemenuhan gas atas PT. Pupuk Kujang memang sangat terkait dengan dinamika harga gas di dunia. Fluktuasi tersebut banyak dipengaruhi oleh permintaan gas dari luar negeri serta naik turunnya harga bahan bakar minyak di
- 5.000.000 10.000.000 15.000.000 20.000.000 m m b tu Tahun
pasar internasional, sehingga pemasok gas bumi akan beriorientasi pada keuntungan. Apabila harga gas di luar negeri naik, maka perusahaan pemasok gas cenderung menjual gas ke luar negeri untuk menghasilkan devisa lebih banyak, sehingga cadangan gas untuk perusahaan PT. Pupuk Kujang berkurang dan gas yang didapatkan perusahaan tidak sesuai kesepakatan.
5.1.5. Stream Days
Stream days adalah waktu yang diperlukan mesin dalam memproduksi pupuk. Peralatan di setiap divisi pabrik mampu beroperasi pada beban kondisi operasi yang rendah dengan mesin bertekanan tinggi.
Gambar 5.5. memperlihatkan tren grafik rata-rata nilai stream days yang fluktuatif. Stream days tertinggi yaitu pada tahun 2003. Hal tersebut terjadi karena faktor produksi utama yaitu gas tersedia serta manajemen perawatan pabrik yang baik sehingga sudah melakukan perbaikan sebelum mesin dalam keadaan mati total (down time). Sedangkan stream days terendah yaitu pada tahun 2006, hal ini disebabkan oleh diadakannya perbaikan tahunan yang waktunya diluar dari total waktu yang telah diprediksi oleh tenaga ahli.
Sumber : Rendal Produksi PT. Pupuk Kujang, 2010
Gambar 5.5. Perkembangan Stream Days, Tahun 1985-2010
0,00 100,00 200,00 300,00 400,00 H ar i Tahun
5.2. Hasil Estimasi Fungsi Produksi Cobb-Douglas
Analisis faktor-faktor yang memengaruhi produksi pupuk urea PT. Pupuk Kujang pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel yang memengaruhi produksi pupuk urea di PT. Pupuk Kujang. Model analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda yang telah dilogaritmakan baik variabel dependen ataupun variabel independennya. Estimasi model yang digunakan pada penelitian ini adalah fungsi produksi Cobb Douglas dengan metode pendugaan OLS (Ordinary Least Square). Fungsi produksi Cobb Douglas digunakan untuk menjelaskan hubungan faktor-faktor produksi pada penelitian ini sesuai dengan hasil estimasi. Selain itu, fungsi produksi Cobb Douglas juga dapat menjelaskan elastisitas produksi dan skala usaha dari PT. Pupuk Kujang. Sehingga fungsi ini dianggap mampu menjelaskan permasalahan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil estimasi model dari fungsi Cobb-Douglas terbaik yang diperoleh dari empat variabel bebas ditunjukkan pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1. Hasil Pendugaan Parameter Model Terhadap Total Produksi Pupuk Urea PT. Pupuk Kujang
Variabel Koefisien Std. Error P VIF
Constant -13.124 3.621 0.002 - Modal (X1) 0.2725 0.1297 0.024 1.7 Tenaga Kerja (X2) 0.6786 0.2245 0.003 1.8 Bahan Baku (X3) 0.8834 0.1457 0.000 1.6 Stream Days(X4) 0.5451 0.2477 0.019 1.3 R-Square : 84.2% Fstatistik : 27,90 Prob : 0,000 Durbin Watson : 1.92022 *signifikan pada taraf nyata lima persen
5.3. Analisis Uji Statistika
Uji F dilakukan untuk menguji apakah variabel-variabel modal, jumlah tenaga kerja, jumlah bahan baku, dan stream days mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap produksi pupuk urea. Berdasarkan pengujian yang telah