• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Data Penelitian

2. Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini, uji hipotesis dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment melalui program Windows SPSS versi 15.0. Taraf signifikansi yang digunakan adalah 0,01 atau disebut dengan taraf signifikansi one-tailed. Hal ini berdasarkan hipotesis dalam penelitian ini bersifat satu arah. Hasil uji hipotesis menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,368 dengan nilai p=0,01 (p<0,05).

Data ini menunjukkan adanya hubungan negatif antara dukungan emosional orangtua dengan prokrastinasi akademik. Kesimpulannya adalah bahwa semakin tinggi dukungan emosional dari orangtua yang diterima mahasiswa maka semakin rendah tingkat kecenderungan prokrastinasi akademik yang muncul. Sebaliknya, semakin rendah dukungan emosional yang diberikan orangtua maka semakin tinggi tingkat prokrastinasi akademik yang dilakukan mahasiswa. Dengan demikian, hipotesis penelitian ini dapat diterima.

D. Pembahasan

Dalam penelitian ini, dapat dilihat bahwa rerata skor pada variabel dukungan emosional orangtua lebih rendah dari rerata teoritiknya yaitu 100,56 < 115. Hal ini menunjukkan bahwa subjek penelitian ini yaitu mahasiswa Fakultas Psikologi Sanata Dharma cenderung kurang mendapat dukungan emosional dari orangtuanya. Alasan yang didapatkan peneliti dari wawancara dalam hal ini dikarenakan kurangnya waktu bertemu antara orangtua dengan anak, kurangnya pengetahuan orangtua terhadap kondisi anak, kebiasaan menyendiri, dan lain sebagainya. Sedangkan pada variabel prokrastinasi akademik, skor rerata empiriknya lebih tinggi dari rerata teoritiknya yaitu 146,58 > 112,5. Hal ini menunjukkan bahwa subjek penelitian ini memiliki tingkat prokrastinasi dalam menghadapi tugas yang cukup tinggi.

Berdasarkan uji coba korelasi Product Moment, koefisien korelasi untuk variabel dukungan emosional orangtua dan prokrastinasi akademik sebesar –

kedua varibel. Maka, hipotesis penelitian ini yang berbunyi dukungan emosional dari orangtua yang diberikan semakin tinggi maka tingkat prokrastinasi akademik pada mahasiswa yang sedang berhadapan dengan tugas akan berkurang dapat diterima. Demikian juga sebaliknya, semakin rendah dukungan emosional yang diberikan oleh orangtua kepada mahasiswa maka semakin tinggi kecenderungan prokrastinasi akademik mahasiswa muncul.

Dengan diterimanya hipotesis penelitian ini, maka dapat dinyatakan bahwa dukungan emosional orangtua berhubungan terhadap tingkat prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi yang sedang menghadapi tugas. Dukungan emosional merupakan proses aktif terhadap individu dimana seseorang bersedia memberi dorongan semangat dan keterbukaan akan keluhan sehingga secara afektif seseorang yang menerimanya merasa nyaman dan dicintai. Para ahli membuat klasifikasi komponen utama dari berbagai kepentingan yang diperoleh seorang dalam suatu hubungan (House, dalam Sears, 1988). Weiss (1994) menyebut komponen atau dimensi merupakan bentuk-bentuk bantuan yang dapat diperoleh dari hubungan dengan orang lain.

Dalam perkuliahan, mahasiswa seringkali berhadapan dengan tugas-tugas yang dianggap sulit sehingga secara afektif merasa tertekan dan terancam. Hal ini memunculkan ketakutan dan kecemasan sehingga mahasiswa memilih untuk menghindari tugas-tugas sulit tersebut. Berdasarkan pernyataan tersebut, dukungan emosional dari orangtua mempunyai peranan dalam tercapainya suatu tujuan belajar. Dalam hal ini, nampak bahwa dukungan emosional memiliki kaitan dengan perilaku akademik. Berkaitan dengan penelitian, dukungan emosional

yang diberikan orangtua mahasiswa Fakultas Psikologi Sanata Dharma berkaitan dengan perilaku mereka dalam menghadapi tugas-tugas. Subjek memiliki dukungan emosional dari orangtuanya cenderung rendah dan tingkat prokrastinasi dalam mengerjakan tugas-tugas cenderung tinggi.

Seseorang yang mendapatkan dukungan emosional dari orangtua secara efektif mempunyai ketenangan dalam proses berpikir dan belajar serta mempunyai strategi dan kemampuan untuk mengendalikan aspek-aspek penting dalam perilaku belajarnya (Weiss, 1994). Ketika seseorang kurang mendapat dukungan emosional dari orangtua, maka akan sulit memotivasi diri sendiri dan kurang menggunakan strategi yang memungkinkan mereka gagal dalam tujuan belajar. Dalam hal ini tujuan belajar subjek adalah menyelesaikan tugas-tugas dengan berbagai tingkat kesulitan. Dapat dikatakan bahwa mahasiswa menjadi kurang mampu mengatur dirinya dalam menghadapi tugas-tugas sulit sehingga tidak dapat menggunakan ketrampilan mengenai strategi kognitif yang dapat digunakan untuk meningkatkan performasi belajarnya.

Dalam menghadapi tugas-tugas yang tergolong sulit dan memakan waktu yang relatif lama, mahasiswa dituntut untuk mencari dan menggunakan berbagai literatur dan informasi. Adanya ketenangan dan kenyamanan dalam memilih serangkaian strategi kognitif yang tepat dapat membantu subjek dalam memperhatikan informasi yang diperolehnya. Subjek yang merasa cemas dan takut terhadap tugas sehingga kurang dapat memaksimalkan strategi kognitifnya akan mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas. Kesulitan-kesulitan inilah yang memungkinkan subjek untuk menghindari dan menunda penyelesaian tugas.

Pada dasarnya, jika seseorang kurang memaksimalkan strategi kognitifnya maka prokrastinasi akan cenderung muncul (Wolter, 2003).

Tingkat prokrastinasi yang cenderung tinggi juga disebabkan oleh tertekannya mahasiswa secara afektif. Perasaan tidak mampu dan tidak berdaya akan tugas yang dikerjakan menimbulkan perilaku penghindaran dan penundaan. Menurut Burka & Yuen (2008), dukungan emosional dari orang terdekat membantu seseorang untuk merasa nyaman dan menjadi optimis sehingga mampu mengendalikan diri dengan baik. Dalam hal ini, mahasiswa menjadi optimis dan kecemasan dalam pengerjaan tugas menjadi berkurang.

Berdasarkan uraian di atas, ketika seseorang telah mendapatkan dukungan afeksi dari orang terdekat maka kecenderungan avoidance yang dapat menyebabkan prokrastinasi akademik dapat dicegah. Orang terdekat dalam hal ini orangtua dapat menjadi kontrol sosial bagi prokrastinator. Keadaan atau situasi yang dimunculkan dapat mempengaruhi munculnya prokrastinasi. Dalam teori behaviorisme dijelaskan bahwa ketika seseorang mendapatkan reward atas usahanya maka perilaku tersebut akan diulangi. Dalam konteks ini, orangtua dapat memberikan pujian dan bentuk apresiasi lainnya sebagai bentuk reward, sehingga ketika mahasiswa berhasil menyelesaikan tugasnya tepat waktu maka perilaku tersebut akan diulangi. Kondisi ini dapat menekan munculnya kecenderungan avoidance yang menyebabkan prokrastinasi akademik.

Millgram (1998) menjelaskan bahwa prokrastinasi terkait dengan appraisal-anxiety-avoidance. Jika dikaitkan dengan teori cognitive-behavioral, ketika mahasiswa melakukan penilaian terhadap tugas yang sedang dihadapi, jika

tugas tersebut dinilai atau dipersepsikan tidak menyenangkan maka akan muncul kecemasan dan akhirnya muncul perilaku menghindar. Dukungan afeksi dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan tersebut sehingga perilaku menghindar tidak muncul. Orangtua berusaha mengubah persepsi negatif mahasiswa terhadap tugas dengan berbagai cara seperti dorongan untuk menyemangati, pujian, nasehat maupun saran. Hal ini dilakukan agar mahasiswa dapat berpikir optimis dalam menghadapi tugas.

Rendahnya kenyamanan mahasiswa dalam memilih dan menjalani strategi-strategi yang membantu proses belajar menyebabkan mahasiswa kurang memiliki kemampuan mengendalikan diri. Dalam hal ini, serangkian strategi tersebut dapat membantu untuk mengatasi perasaan cemas dan takut. Oleh karena itu, mahasiswa kurang mampu bertahan dan memaksimalkan usaha dan kemauannya dalam menyelesaiakan tugas-tugas. Hal inilah yang akan mendorong mahasiswa untuk menghindari dan menunda pengerjaan tugas.

52 BAB V

Dokumen terkait