• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Uji Hipotesis

1. Pengujian Hipotesis

Untuk mengetahui apakah Ho ditolak atau diterima peneliti menganalisis

data dengan menggunakan teknik korelasi Person Product Moment(PPM)

dengan menggunakan SPSS Versi 17, adapun kriteria pengujian hipotesis jika

signifikan lebih kecil dari 0,05 (<0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, dan

jika signifikan lebih besar dari 0,05 (>0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Beriku dibawah ini merupakan korelasi Person Product Momentdengan program

SPSS Versi 17: Tabel 14 Correlations VAR00001 VAR00002 Pearson Correlation 1 .445** Sig. (2-tailed) .002 N 45 45 Pearson Correlation .445** 1 Sig. (2-tailed) .002 N 45 45

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan table di atas, diperoleh nilai korelasi sebesar 0,445 dengan

jumlah data (N) 45 dengan taraf signifikan 0,02 dan signifikan 0,05 dengan kata

lain nilai sig.(2-tailed) yang diperoleh lebih kecil dari nilai kritik 0,05

(0,02<0,05) yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, maka

dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pola interaksi

korelas bertanda Negatif (-) yang memiliki arti bahwa adanya korelasi yang

berlawanan arah (korelasi negative).

2. Interpretasi koefisien korelasi

Mengenai koefisien korelasi atau nilai r yang diperoleh Sugiono memberikan

interpretasi sebagai berikut:

Tabel 15

Tabel Interpretasi koefisien korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000 Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat

Berdasarkan table di atas, maka hasil dari koefisien korelasi yang diperoleh

yaitu sebesar 0,445 termasuk pada kategori sedang karena berada pada interval

koefisien antara 0,40 - 0,599, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

terdapat korelasi pada tingkat sedang antara pola interkasi dalam keluarga

dengan perilaku menyimpang peserta didik.

Selanjutnya berkenaan dengan table interpretasi koefisien korelasi menurut

Arikunto “apabila diperoleh angka korelasi (nilai r) yang bertanda negatif berarti

korelasinya negative, korelasi negatif menunjukkan hubungan yang

berlawanan.”1

1Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Pendekan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, Ha. 260

Berdasarkan pendapat tersebut, maka sesuai dengan korelasi yang telah

diperoleh yaitu sebesar 0,445 bertanda negatif (-) artinya terdapat korelasi yang

negatif antara pola interaksi dalam keluarga dengan perilaku menyimpang

peserta didik.Hal ini menunjukkan bahwa semakin harmonis pola interkasi dalam

keluarga maka semakin rendah perilaku menyimpang peserta didik.

3. Penentuan arah korelasi antara pola interaksi dalam keluarga dengan perilaku

menyimpang peserta didik.

Hubungan antara variabel jika dilihat dari segi arahnya dapat dibedakan

menjadi 2 macam, yaitu hubungan yang sifatnya searah dan hubungan yang

sifatnya berlawanan arah. Hubungan yang sifatnya searah diberi nama korelasi

positif sedangkan hubungan yang sifatnya berlawanan arah disebut korelasi

negatif. Dengan demikian dapat dipahami bahwa korelasi positif adalah

hubungan antara dua variabel atau lebih yang menunjukkan arah yang sama, jadi

apabila variabel X mengalami kenaikan maka akan diikuti pula dengan kenaikan

pada variabel Y begitupun sebaliknya.

Berdasarkan hasil perhitungan, maka jelaslah bahwa besarnya korelasi yang

diperoleh dari perhitungan korelasi Person Product Moment(PPM) melalui

program bantuan SPSS Versi 17 antara pola interaksi keluarga dengan perilaku

menyimpang pada peserta didik adalah sebesar -0,445 hasil ini menunjukkan

bahwa indeks korelasi bertanda “Negatif” ini berarti bahwa korelasi antara

Menyimpang Peserta Didik) adalah terdapat korelasi yang berlawanan arah

dengan istilah lain terdapat korelasi yang negatif diantara kedua variabel tersebut.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa semakin

harmonis pola interaksi dalam keluarga maka semakin rendah perilaku

menyimpang peserta didik. Pernyataan di atas jika dibuat bagan berdasarkan arah

korelasi yang telah diperoleh adalah sebagai berikut:

Gambar 16 Arah Korelasi

Korelasi Positif Korelasi Negatif

Variabel X Variabel Y Variabel X Variabel Y

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bawha jika korelasinya positif maka

akan terjadi hubungan yang searah artinya apabila variabel X meningkat pada

variabel Y akan mengalami peningkatan pula, begitu sebaliknya jika korelasinya

negatif maka akan terjadi hubungan yang berlawanan arah, artinya jika variabel

X mengalami peningkatan maka akan terjadi penurunan pada variabel Y. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa berdasarkan hasil penelitian ini maka

terdapat korelasi yang negative antara pola interaksi dalam keluarga dengan

perilaku menyimpang yang artinya semakin harmonis pola interaksi dalam

keluarga maka akan semakin rendah tingkat menyimpang pada peserta didik

4. Pengujian koefisien determinasi antara pola interaksi dalam keluarga dengan

perilaku menyimpang peserta didik.

Untuk pengujian koefisien determinasi, peneliti berpedoman pada pendat

Budiono yang mengatakan bahwa “koefisien determinasi (Coefisient

OfDeterminasi) regresi linier antara X dan Y dapat disajikan dalam bentuk r2.”

Pendapat tersebut menunjukkan bahwa untuk mengetahui koefisien determinasi

korelasi dapat dicari dengan menguadratkan nilai r yang diperoleh. Kemudian

untuk mengetahui presentase hasil koefisien korelasi maka dengan cara

mengkalikan 100% dari nilai r yang telah dikuadratkan tersebut. Dengan

demikian koefisien determinasi dapat dirumuskan sebagai berikut:

Cd = r2 Keterangan:

Cd = koefisien determinasi

r2 = koefisien korelasi

Dengan menggunakan rumus di atas, maka dapat dicari koefisien

determinasi yang telah diketahui bahwa nilai r = -0,445, maka koefisien

determinasinya ialah:

Cd = -0,4452

= 0,198 = 0,20

= 0,20 x 100%

Berdasarkan hasil perhitungan di atas telah diperoleh nilai koefisien

determinasi sebesar 0,20 dan nilai presentasenya 20%, maka dapat disimpulkan

pola interaksi dalam keluarga memiliki presentase dan konstribusi sebesar 20%

terhadap perilaku menyimpang pada peserta didik kelas XI SMAN 3 Bandar

Lampung. Dan untuk mengetahui hasil-hasil perhitungan pada penelitian ini

dapat dilihat pada table berikut ini:

Tabel 17 Hasil Penelitian

Pasangan Variabel Nilai Korelasi

Nilai r2 Presentase Nilai Sig.(2-Tailed)

Hasil Uji

Pola interaksi dalam keluarga dan perilaku menyimpang peserta didik.

-0,445 0,20 20% 0,02 Terdapat

Korelasi

Berdasarkan tabel hasil korelasi di atas dapat disimpulkan bahwatelah

diperoleh nilai korelasi antara pola interaksi dalam keluarga dengan perilaku

menyimpang peserta didik kelas XI SMAN 3 Bandar Lampung, sebesar 0,445

dan nilai korelasi yang diperoleh bertanda negatif hal ini menunjukkan bahwa

terdapat korelasi yang negatif antara pola interkasi dalam keluarga dengan

perilaku menyimpang peserta didik, artinya semakin harmonis pola interaksi di

dalam keluarga maka akan semakin rendah tingkat perilaku menyimpang pada

peserta didik. Hasil perhitungan koefisien determinasi diperoleh nilai sebesar

0,20 hal ini berarti presentasi dari korelasi antara pola interaksi dalam keluarga

dipengaruhi oleh variabel lain. Selanjutnya berdasarkan data hasil penelitian

diperoleh nilai sig.(2-tailed) sebesar 0,02 yakni lebih kecil dari 0,05 (0,02<0,05)

yang menunjukkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Maka terdapat korelasi

antara pola interaksi dalam keluarga dengan perilaku menyimpang peserta didik.

Dokumen terkait