PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. HASIL PENELITIAN 1. Deskripsi Data Penelitian
3. Uji Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini menggunakan korelasi pearson
product moment. Hasil uji korelasi dalam penelitian menunjukkan bahwa
nilai korelasi antara kendali emosi ketika menari dan kompetensi menari
adalah sebesar 0,494. adapun tingkat signifikansinya (p) adalah 0,000.
Pengambilan kesimpulan dari korelasi tersebut adalah sebagai
berikut:
a. Apabila rxy dengan p ≤ 0,01, maka korelasi adalah sangat signifikan. Hal ini berarti pengajuan hipotesis diterima, yaitu ada hubungan yang
sangat signifikan antara variabel kendali emosi terhadap kompetensi
menari.
b. Apabila rxy dengan p ≤ 0,05, maka korelasi adalah signifikan. Hal ini berarti hipotesis diterima, yaitu ada hubungan yang signifikan antara
52
c. Apabila rxy dengan p > 0,05, maka korelasi adalah signifikan. Hal ini
berarti pengajuan hipotesis ditolak, yaitu tidak ada hubungan yang
signifikan antara kendali emosi terhadap kompetensi menari.
Berdasarkan pada kriteria ini maka hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat signifikansi (p) adalah sebesar 0,000 yang berarti p ≤ 0,01, maka korelasinya adalah sangat signifikan (dapat dilihat pada lampiran
halaman 105). Hal ini berarti pengajuan hipotesis diterima, yaitu ada
hubungan yang sangat signifikan antara variabel kendali emosi dan
kompetensi menari.
E. PEMBAHASAN
Penelitian yang menunjukkan koefisien korelasi (rxy) antara
kendali emosi dan kompetensi sebesar 0,494 menunjukkan bahwa hipotesis
penelitian yang menyatakan tentang adanya hubungan positif dan signifikan
antara kendali emosi ketika menari dan kompetensi menari pada siswa-siswi
seni tari Jawa di SMK Negeri 8 (SMKI) dapat diterima atau terbukti.
Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kendali
emosi maka semakin tinggi pula kompetensi menari yang dimiliki oleh
seorang penari tari Jawa, begitu pula sebaliknya semakin rendah tingkat
kendali emosi maka semakin rendah pula kompetensi menari seorang penari
tari Jawa.
Salah satu teori yang mendukung dan sesuai untuk pembuktian
53
bahwa gerak ekspresif dan ekspresi gerak seorang penari terkait dengan faktor
psikologis, mekanisme tubuh dan mentalitas. Seorang penari berarti akan
menghasilkan gerak yang ekspresif apabila memiliki ketajaman rasa dalam
mengalirkan, mengendalikan, dan mengontrol energinya pada otot setiap
organ.
Gerak berkualitas selanjutnya akan tercapai jika memiliki
ketajaman rasa dalam memadukan atau menyelaraskan pengendalian dan
pengontrolan energi dengan pola irama dan pola ruangnya. Mentalitas positif
juga menjadi persyaratan penting bagi penari, terutama sikap-sikap mendasar
yang berkaitan dengan ketegaran, keuletan dan tidak cepat frustasi dalam
menekuni dan menghadapi hal-hal yang dianggap rumit atau sulit. Sikap
mental juga harus memiliki jiwa yang stabil dan tidak emosional jika
mendapat masalah, sehingga akan terhindar dari demam panggung, dan hal
yang lainnya, dalam hal ini seorang penari benar-benar dituntut untuk dapat
mengendalikan emosi yang ada pada dirinya.
Aspek kendali pikiran sangat penting dalam kompetensi menari,
hal ini ditunjukkan dalam koefisien korelasi (rxy) antara kendali pikiran dan
kompetensi sebesar 0,419 yang menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang
menyatakan tentang adanya hubungan positif dan signifikan antara kendali
pikiran ketika menari dan kompetensi menari pada siswa-siswi seni tari Jawa
di SMK Negeri 8 (SMKI). Siswa-siswi sebagai calon penari semakin mampu
untuk mengendalikan pikiran, antara lain dengan selalu tetap teguh pada
54
paling berat dan berpikir dengan jernih dan tetap terfokus kendati dalam
keadaan tertekan (Hurlock, 1974), maka akan semakin mampu memiliki
kompetensi menari yang lebih baik dalam setiap gerak, karena penari akan
mampu untuk menghafalkan gerakan dengan konsentrasi penuh dan
penghayatan.
Aspek rasa penting bagi kompetensi menari, hal ini ditunjukkan
dalam koefisien korelasi (rxy) antara kendali rasa dan kompetensi sebesar
0,458 yang menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan tentang
adanya hubungan positif dan signifikan antara kendali rasa ketika menari dan
kompetensi menari pada siswa-siswi seni tari Jawa di SMK Negeri 8 (SMKI).
Siswa-siswi sebagai calon penari semakin mampu memahami emosi, sabar
berlatih, tidak mudah cemas dan tidak mudah marah (Hurlock, 1974), maka
penari tersebut akan dapat memiliki kompetensi yang baik, karena penari
mampu menghayati dan menjiwai peran dalam sebuah tarian, dan jika penari
sabar melakukan latihan maka penari akan dapat memiliki gerakan yang lebih
luwes.
Aspek psikomotorik penting bagi kompetensi menari, hal ini
ditunjukkan dalam koefisien korelasi (rxy) antara kendali psikomotorik dan
kompetensi sebesar 0,425 yang menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang
menyatakan tentang adanya hubungan positif dan signifikan antara kendali
psikomotorik ketika menari dan kompetensi menari pada siswa-siswi seni tari
Jawa di SMK Negeri 8 (SMKI). Siswa-siswi sebagai calon penari yang
55
belajar melatih gerakan sesuai dengan irama dan ketukan dengan baik,
menjaga kelenturan, penguasaan teknik gerak tari, dan penguasaan ruang serta
ungkapan gerak yang jelas dan bersih, maka penari tersebut akan mampu
menyelaraskan gerakan dengan ketukan dan irama gamelan, selain itu penari
akan terlihat memiliki gerakan yang indah dan luwes (Widodo,2005).
Aspek fisiologis penting bagi kompetensi menari, hal ini
ditunjukkan dalam koefisien korelasi (rxy) antara kendali fisiologis dan
kompetensi sebesar 0,474 yang menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang
menyatakan tentang adanya hubungan positif dan signifikan antara kendali
fisiologis ketika menari dan kompetensi menari pada siswa-siswi seni tari
Jawa di SMK Negeri 8 (SMKI). Ricard dan Lazarus (1991) mengemukakan
bahwa fisiologis merupakan bentuk tindak lanjut adaptasi dari refleks tubuh,
yang mendorong efek dalam tubuh, aktivitas otak dan sekresi hormonal.
Seorang penari semakin mampu mengendalikan aspek fisiologis dengan tidak
terlalu cepat berkeringat dan jantung tidak cepat berdebar, maka penari akan
merasa nyaman dan percaya diri untuk menarikan sebuah tarian dalam sebuah
pertunjukkan
Bentuk relevansi emosi dengan tari selain itu juga dapat dilihat
dalam teori Blooms (dalam Departemen Pendidikan Nasional, 2003) yang
banyak diacu dalam keseluruhan projek kompetensi, psikomotorik, kognitif
dan afektif. Psikomotorik (level dasar) berkenaan dengan aspek wiraga (dan
sebagian wirama), kognitif pada aspek wirama (dan sebagian wirasa), afektif
56
wirama). Dalam perkembangannya standar kemampuan seorang penari tari
Jawa di satukan dalam suatu standar kompetensi nasional bidang tari yang
meliputi ketiga wilayah penilaian diatas.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dicermati bahwa kendali emosi
mempunyai peranan yang penting dalam mencapai kompetensi menari yang
lebih baik terutama pada penari tari Jawa. Kendali emosi diperlukan untuk
meningkatkan kompetensi menari yang biasa di temui oleh para penari tari
jawa pada khususnya, terutama dalam hal pengendalian pikiran, rasa,
psikomotorik dan fisiologis.
Deskripsi data penelitian pada kendali emosi dan kompetensi
menari pada penelitian ini telah dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu
sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Berdasarkan kategori
tersebut, sebanyak 4 subjek (7,8%) mempunyai tingkat kendali emosi yang
sangat rendah, dan 8 subjek (15,7%) mempunyai kendali emosi rendah.
Jumlah subjek yang memiliki kendali emosi sedang sebanyak 10 subjek
(19,6%), sedangkan pada tingkat kendali emosi tinggi memiliki jumlah
terbanyak yaitu sebanyak 15 subjek (29,4%) dan pada kategori kendali emosi
sangat tinggi berjumlah 14 subjek (27,5%).
Penari yang memiliki kendali emosi sedang sampai tinggi
bejumlah 39 orang, jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan penari yang
memiliki kendali emosi rendah (12 orang). Jumlah ini memberi kesimpulan
bahwa penari di SMKI terkhusus kelas III, rata-rata memiliki kendali emosi
57
untuk dapat memahami emosi yang dimiliki, mampu mengelola emosi-emosi
yang menekan, tetap teguh pada pendirian, bersikap positif, dan tidak goyah
dalam pendirian sekalipun dalam situasi yang paling berat. Kendali emosi
juga terwujud dalam kemampuan penari untuk berpikir jernih dan tetap
terfokus kendati dalam keadaan tertekan.
Berdasarkan deskripsi data kategorisasi pada kolom Kompetensi
Menari juga menunjukkan sebanyak 4 subjek (7,8%) mempunyai kompetensi
menari sangat rendah dan 7 subjek (13,7%) mempunyai kompetensi menari
rendah. Jumlah subjek yang memiliki kompetensi menari sedang sebanyak 14
subjek (27,5%) dan pada kategori kompetensi menari tinggi sebanyak 9
subjek (17,6). Jumlah kategori terbanyak terdapat pada tingkat kompetensi
menari yang sangat tinggi yaitu sebanyak 17 subjek (33,4%).
Jumlah kategorisasi diatas telah menunjukkan bahwa kompetensi
menari pada siswa-siswi seni tari Jawa terkhusus kelas III di SMKI rata-rata
baik karena jumlah kompetensi baik (dari sedang sampai tinggi) berjumlah 40
orang, sedangkan penari yang tidak memiliki kompetensi menari rendah
berjumlah lebih sedikit yaitu 11 orang.
Kompetensi menari pada siswa-siswi kelas III jurusan seni tari di
SMKI rata-rata baik karena selain memiliki kemampuan dalam wiraga,
wirama dan wirasa, penari juga memiliki bakat yang dilatih secara kontinyu,
kemampuan dramatik dalam sebuah peran, kepekaan rasa dalam pentas dan
58
juga penguasaan faktor ritmik serta bentuk dalam sebuah penyajian
tari(Murgiyanto, 1998).
Kompetensi menari yang baik secara langsung akan diperoleh
apabila penari mampu mengendalikan emosi dengan baik. Kemampuan
penyajian tari ini mencakup wiraga, wirama dan wirasa dapat diperoleh, hal
ini terbukti dengan adanya kemampuan peragaan yang baik (dalam wiraga),
merangkum di dalamnya tentang kelenturan, penguasaan teknik gerak tari, dan
penguasaan ruang serta ungkapan gerak yang jelas dan bersih. Memiliki
kemampuan rata-rata baik dalam aspek wirama, karena mampu melakukan
gerakan secara cermat dan tepat, dengan ketepatan dalam mengatur dan
mengendalikan waktu pada setiap geraknya, baik ritme atau sekuen-sekuen
terkecil dari setiap geraknya, tempo atau cepat lambat penyelesaian tiap-tiap
rangkaian gerak maupun meter atau ketepatan ketika adanya perubahan ritme
gerak. Serta penguasaan yang baik dalam hal wirasa, dengan menggunakan
kemampuan daya peka yang tinggi, antara lain: daya pikir, imajinasi,
pemusatan pikiran, rasa, mental atau laku yang disertai adanya keseimbangan
dan kesinambuangan yang luluh dari berbagai unsur atau elemen tari
(Widodo, 2005).
Siswa-siswi calon penari yang kurang mampu mengendalikan
emosi yang dimiliki, maka kompetensi menari yang mereka miliki juga
kurang baik. Siswa-siswi yang kurang mampu berkonsentrasi, dan tidak fokus
pada tarian yang dibawakan, dapat membuat suatu kesalahan gerakan, atau
59
cepat marah dan mudah cemas, membuat mudah putus asa, dan tidak akan
dapat menjiwai peran yang dibawakan dalam sebuah tarian. Siswa-siswi yang
tidak mempraktekan gerakan secara baik dan benar, membuat gerakan penari
menjadi kaku, dan tidak sesuai dengan gerakan yang dimaksud dalam tarian.
Siswa-siswi yang tidak dapat mengendalikan pikiran, perasaan dan
psikomotorik, menjadi mudah cemas dan ketika pementasan menjadi
berdebar-debar.
Data-data yang diperoleh telah menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang positif dan signifikan antara kendali emosi ketika menari dan
kompetensi menari pada siswa-siswi seni tari Jawa. Hubungan ini terjadi
karena penari mampu mengendalikan emosi (Pikiran, rasa, psikomotorik dan
fisiologis)dengan baik, yaitu dengan belajar untuk memahami emosi dalam
situasi yang logis, melalui pemikiran yang rasional. Mampu mengelola
dengan baik emosi-emosi yang menekan, dengan tetap teguh pada pendirian,
bersikap positif, dan tidak goyah sekalipun dalam situasi yang paling berat,
serta mampu berpikir dengan jernih dan tetap terfokus kendati dalam keadaan
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, didapatkan bahwa
hasil koefisien korelasi (rxy) antara kendali emosi dan kompetensi menari
adalah sebesar 0,494. Hal ini menunjukkan adanya hubungan positif dan
signifikan antara kendali emosi ketika menari dan kompetensi menari tersebut.
Hal ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat kendali emosi maka akan
semakin tinggi pula kompetensi menari penari tari Jawa. Sebaliknya semakin
rendah kendali emosi maka semakin rendah pula kompetensi menari penari
tari Jawa.
B. Saran
1. Bagi peneliti selanjutnya: karena peneliti memiliki keterbatasan jumlah
subjek dan keterbatasan dalam ruang lingkup penelitian, dalam arti hanya
meneliti khusus tari Jawa. Peneliti selanjutnya disarankan untuk dapat lebih
memperbanyak jumlah subjek dan memperluas jumlah ranah penelitian,
dalam arti bukan hanya khusus penari tari jawa.
2. Bagi penari (terkhusus siswa-siswi SMK N 8 Surakarta): peneliti
menyarankan supaya para penari terutama penari tari Jawa dapat
meningkatkan kemampuan kendali emosi, untuk meningkatkan kompetensi
menari para penari
61
3. Guru atau pelatih seni tari Jawa(terkhusus guru SMK N 8 Surakarta):
peneliti menyarankan supaya guru atau pelatih seni tari, terutama tari Jawa
lebih menekankan kendali emosi untuk meningkatkan kompetensi para
penari, antara lain bisa dengan menambahkan pelajaran atau pelatihan
khusus tentang kendali emosi dan mempraktekkannya secara berkelanjutan,
62