• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tahapan Pelaksanaan Penelitian

10. Keinginan untuk Memperbaiki Nilai Tabel 4.34

4.5 Uji Hipotesis

Uji hipotesis adalah pengujian data statistik untuk mengetahui data hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Sebelum melakukan uji hipotesis, terlebih dahulu menguji tingkat hubungan antara kedua variabel yang dikorelasikan dengan menggunakan rumus korelasi tata jenjang oleh Spearman. Pengolahan data statistik dalam penelitian ini menggunakan piranti lunak SPSS versi 16.0 maka uji thitung tidak lagi digunakan karena SPSS telah menguji hipotesis tersebut secara otomatis.

Tabel 4.38

Uji Korelasi antara Komunikasi Persuasif terhadap Prestasi Belajar

Berdasarkan tabel uji hipotesis diatas yang diperoleh melalui program SPSS versi 16.0 maka diperoleh hasil koefisien korelasi (rs) sebesar 0,919. Dari

Correlations Komunikasi Persuasif Prestasi Belajar Spearman's rho Komunikasi Persuasif Correlation Coefficient 1.000 .919 ** Sig. (2-tailed) . .000 N 66 66

Prestasi Belajar Correlation

Coefficient .919

**

1.000

Sig. (2-tailed) .000 .

N 66 66

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

tailed) = 0,000 yang berarti bahwa angka signifikansi < 0,01 yang berarti terdapat hubungan yang sangat signifikan sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Maka komunikasi persuasif pengajar berkorelasi secara sangat signifikan dengan prestasi belajar anak didik SMP di UPT SLB-E Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara.

Untuk mengukur derajat hubungan ini, digunakan nilai rs menurut Guilford yaitu sebagai berikut:

≤ 0,20 = hubungan rendah sekali; lemah sekali

0,20 – 0,39 = hubungan rendah tapi pasti 0,40 – 0,70 = hubungan yang cukup berarti 0,71 – 0,90 = hubungan yang tinggi; kuat

≥ 0,90 = hubungan yang sangat tinggi; kuat sekali; dapat diandalkan Berdasarkan tabel Guilford di atas diketahui bahwa kedua variabel dalam penelitian ini menunjukkan hubungan yang sangat tinggi karena rs ≥ 0,90. Maka terdapat hubungan yang tinggi antara komunikasi persuasif pengajar dengan prestasi belajar anak didik di UPT SLB-E Negeri Pembina Medan.

Pada tabel 4.38 terdapat tanda ** (flag of significant) yang menunjukkan kedua variabel berkorelasi secara sangat signifikan sekalipun dinaikkan pada level 0,1 (one-tailed). Dengan demikian didapatkan bahwa Ha (terdapat hubungan antara komunikasi persuasif yang dilakukan pengajar terhadap prestasi belajar anak didik SMP di SLB-E Negeri Pembina Medan) dalam penelitian ini di terima dan hubungannya sangat signifikan sedangkan Ho (tidak terdapat hubungan antara komunikasi persuasif yang dilakukan pengajar terhadap prestasi belajar anak didik SMP di SLB-E Negeri Pembina Medan) ditolak.

4.6 Pembahasan

Dari hasil uji hipotesis yang dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16.0, hasil penelitian menunjukkan Ha: terdapat hubungan antara komunikasi persuasif yang dilakukan pengajar terhadap prestasi belajar anak didik SMP di UPT SLB-E Negeri Pembina Medan. Hubungan tersebut memiliki nilai yang tinggi sehingga terbukti bahwa komunikasi persuasif pengajar memiliki

pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar anak didik SMP di UPT SLB-E Negeri Pembina Medan.

Komunikator persuasif dapat berhasil dilakukan jika komunikator memiliki kredibilitas, daya tarik dan kekuasaan dalam menguasai pesan yang akan disampaikan. Komunikator yang memiliki keahlian dalam penguasaan pesan, kepercayaan komunikan, dinamisme dalam menyampaikan pesan, sosiabilitas yang baik dengan komunikan, koorientasi yang tinggi dengan komunikan serta karisma yang dapat menarik perhatian awal komunikan dapat dipastikan akan mampu menyampaikan pesan persuasif dengan baik.

Hal ini dapat terlihat melalui tabel 4.18. Mayoritas menyatakan bahwa mereka sering memperhatikan guru menjelaskan sebanyak 35 orang dari 66 orang responden. Enam orang responden menyatakan tidak pernah memperhatikan guru menjelaskan, 22 orang meyatakan jarang memperhatikan guru menjelaskan dan tiga orang menyatakan sangat sering memperhatikan guru menjelaskan. Berdasarkan hasil tersebut, pengajar berhasil menarik perhatian awal responden sehingga responden mau memperhatikan apa yang sedang dikatakan oleh pengajar.

Daya tarik komunikator juga merupakan faktor penting terutama dalam menarik perhatian awal komunikan. Penampilan fisik yang terlihat oleh komunikan serta kesamaan nilai-nilai, sikap atau kepercayaan yang ditunjukkan oleh komunikator dapat membuat komunikan tertarik untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh komunikator. Tempo berbicara, kejelasan dalam berkata-kata serta intonasi suara merupakan stimulus awal yang diberikan atau diperlihatkan oleh komunikator untuk menarik perhatian komunikan.

Pada tabel 4.16 dari 66 orang responden, mayoritas responden yang menyatakan pengajar sebagai orang yang menyenangkan sebanyak 54 orang. Sepuluh orang responden menyatakan pengajar sebagai orang yang menyenangkan, satu orang responden menyatakan pengajar sebagai orang yang kurang menyenangkan dan satu orang responden menyatakan pengajar sebagai orang yang membosankan. Hal ini menunjukkan bahwa pengajar memiliki kemampuan untuk mendorong tumbuhnya minat responden melalui pembawaan pengajar.

Kekuasaan merupakan hal lain yang harus dimiliki oleh komunikator dalam menyampaikan pesan. Hal ini diperlukan komunikator untuk dapat mengendalikan situasi saat pesan persuasif disampaikan atau pelaksanaan pesan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh komunikator. Dalam beberapa kesempatan kekuasaan ini dapat terlihat sebagai pemaksaan kehendak komunikator terhadap komunikan tetapi masih dalam taraf persuasif bukan koersif.

Pada tabel 4.23 dari 66 orang responden, jumlah responden yang menyatakan sering mendapat hukuman dari pengajar sebanyak 33 orang. 13 orang menyatakan tidak pernah, 14 orang menyatakan jarang dan 6 orang menyatakan sangat sering. Hal ini menunjukkan bahwa pengajar menggunakan kekuasaan yang dimiliki masih dalam taraf persuasif karena pengajar memberikan hukuman hanya kepada responden yang terlambat masuk ke dalam kelas atau tidak mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah.

Selain pemberian hukuman, sering kali pengajar juga menggunakan ganjaran atau pujian yang bertujuan untuk membangkitkan kepercayaan diri anak didik. Hal tersebut dapat dilihat melalui tabel 4.24 dimana sebanyak 50 responden menyatakan pengajar sering memberikan ganjaran atau pujian. Selebihnya sebanyak sepuluh orang responden menyatakan pengajar sangat sering memberikan ganjaran, satu orang menyatakan pengajar tidak pernah memberikan ganjaran dan sebanyak lima orang menyatakan pengajar jarang memberikan ganjaran kepada responden.

Ganjaran yang diberikan pengajar kepada responden biasanya berupa pujian untuk responden yang dapat mengerjakan tugas atau kewajibannya dengan baik atau terkadang beberapa pengajar memberikan permen atau makanan ringan kepada responden yang dapat menjawab soal yang pengajar berikan. Hal tersebut merupakan salah satu cara yang digunakan pengajar untuk menumbuhkan hasrat responden dalam menerima pesan yang disampaikan.

Tabel silang menunjukkan hubungan antara menanyakan pelajaran yang tidak dipahami dengan mengungkapkan pendapat. Hasil penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 4.35 dimana berdasarkan tabel tersebut dari 66 responden

terdapat sembilan orang yang menyatakan tidak mampu mengungkapkan pendapat, 38 orang kurang mampu mengungkapkan pendapat, 16 orang mampu mengungkapkan pendapat dan tiga orang sangat mampu mengungkapkan pendapat. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa pada mayoritas responden terdapat hubungan antara menanyakan pelajaran yang tidak dipahami dengan mengungkapkan pendapat. Semakin sering responden menanyakan pelajaran yang tidak dipahami semakin mudah bagi responden untuk mengungkapkan pendapat.

Selain itu, terdapat tabel silang yang menunjukkan hubungan antara memperhatikan dan mendengarkan guru di kelas dengan menyelesaikan soal di kelas. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.36 dimana dari 66 responden terdapat empat orang responden tidak pernah menyelesaikan soal yang diberikan di kelas, 24 orang menyatakan jarang menyelesaikan soal, 37 orang menyatakan sering menyelesaikan soal dan satu orang menyatakan sangat sering menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru di kelas. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa pada mayoritas responden terdapat hubungan antara memperhatikan dan mendengarkan guru di kelas dengan menyelesaikan soal di kelas. Responden yang memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru di kelas akan dengan mudahnya mengerjakan soal yang diberikan oleh pengajar di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki minat untuk mendengarkan pesan yang disampaikan oleh komunikator.

Responden yang sudah termotivasi akan menunjukkan hasratnya untuk melakukan suatu kegiatan (action). Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.37 yang menunjukkan hubungan antara pengajar mengingatkan mengerjakan PR dengan memiliki jam belajar di rumah. Dari 66 orang responden enam responden yang menyatakan tidak pernah memiliki jam belajar di rumah, 27 orang menyatakan jarang memiliki jam belajar di rumah, 32 orang menyatakan sering memiliki jam belajar di rumah dan satu orang menyatakan sangat sering memiliki jam belajar di rumah. Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa pada mayoritas responden terdapat hubungan antara pengajar yang mengingatkan anak didik untuk mengerjakan PR di rumah dengan memiliki jam belajar di rumah. Hal ini

menunjukkan bahwa anak didik mengingat apa yang dikatakan oleh pengajar selama berada di sekolah atau dalam kegiatan belajar mengajar.

Jumlah peserta didik yang ideal dalam satu kelas sekolah luar biasa adalah delapan orang untuk kelas tunarungu dan lima orang untuk kelas tunagrahita. Dalam penelitian ini, UPT SLB-E Negeri Pembina Tingkat Provinsi Sumatera Utara memiliki lebih banyak jumlah peserta didik dalam satu kelas (kurang lebih sepuluh orang peserta didik dalam satu kelas). Kurangnya pengajar baik yang berbasis pendidikan maupun yang tidak juga mempengaruh kualitas belajar mengajar. Sebaiknya satu orang pengajar mengajar lima orang peserta didik, tetapi satu orang pengajar menangani sepuluh sampai lima belas peserta didik.

SLB-E Negeri Pembina Medan menggunakan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) sebagai kurikulum operasional pendidikan. Model pengajaran yang digunakan pengajar yaitu pengajaran dengan model tematik atau belajar per tema sesuai kesepakatan dengan peserta didik. Model pengajaran ini melihat bagaimana perubahan perilaku dan skill (kemampuan) peserta didik. Pengamatan guru atau pengajar merupakan poin penting dalam menentukan keberhasilan belajar mengajar. Peserta didik juga diarahkan untuk mengasah minat bakat dan keterampilan yang dimiliki. Sekolah memberikan 20 jam alokasi waktu dalam mengasah keterampilan peserta didik.

Pada skala Guilford menunjukkan hubungan lebih dari 0,90 yaitu hubungan yang sangat tinggi; kuat sekali; dapat diandalkan. Jadi, jelas bahwa hubungan antara komunikasi persuasif pengajar dengan prestasi belajar anak didik di Sekolah Luar Biasa E Negeri Pembina Medan memiliki daya pengaruh yang sangat tinggi; kuat sekali; dapat diandalkan.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait