4.6 Analisis Koefisien Determinasi
4.7.1. Uji Hipotesis secara parsial (uji t)
4.7 Uji Hipotesis
4.7.1. Uji Hipotesis secara parsial (uji t)
Tujuan digunakan pengujian ini adalah untuk mengetahui signifikasi pengaruh masing-masing variabel bebas gaya kepemimpinan dan kualitas SDM secara parsial terhadap OCB pada perusahaan keluarga di Surabaya. Uji t terhadap koefisien individu sebagai uji tentang signifikasinya dengan memperhatikan semua variabel bebas yang lain.
1. Gaya Kepemimpinan terhadap OCB Langkah-Langkah pengujian:
Ho: b1 = 0 menunjukkan secara individu antara variabel bebas gaya kepemimpinan tidak memiliki pengaruh signifikan dengan variabel terikat OCB.
Ha: b1 > 0 menunjukkan secara individu antara variabel bebas gaya kepemimpinan memiliki pengaruh signifikan dengan variabel terikat OCB.
α = 0,05
Dengan degree of freedom = n – k – 1
= 250 – 1 – 1
= 248
Thitung = 3,805
Ttabel = 1,64
Dari hasil penelitian diperoleh thitung sebesar 3,805. Apabila α = 0,05 dengan degree of freedom (df) sebesar 250 – 1 – 1 = 248 maka ttabel adalah 1,64. Karena thitung
(3,805) > ttabel (1,64) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap OCB.
2. Kualitas SDM terhadap OCB Langkah-Langkah pengujian:
Ho: b1 = 0 menunjukkan secara individu antara variabel bebas kualitas SDM tidak memiliki pengaruh signifikan dengan variabel terikat OCB.
Ha: b1 > 0 menunjukkan secara individu antara variabel bebas kualitas SDM memiliki pengaruh signifikan dengan variabel terikat OCB.
α = 0,05
Dengan degree of freedom = n – k – 1
= 250 – 1 – 1
= 248
Thitung = 3,401
Ttabel = 1,64
Dari hasil penelitian diperoleh thitung sebesar 3,401. Apabila α = 0,05 dengan degree of freedom (df) sebesar 250 – 1 – 1 = 248 maka ttabel adalah 1,64. Karena thitung
(2,104) > ttabel (1,64) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel kualitas SDM berpengaruh signifikan terhadap OCB.
3. Gaya Kepemimpinan terhadap Kualitas SDM
Ho: b1 = 0 menunjukkan secara individu antara variabel gaya kepemimpinan tidak memiliki pengaruh signifikan dengan variabel kualitas SDM.
Ha: b1 > 0 menunjukkan secara individu antara variabel gaya kepemimpinan memiliki pengaruh signifikan dengan variabel kualitas SDM.
α = 0,05
Dengan degree of freedom = n – k – 1
= 250 – 1 – 1
= 248
Thitung = 6,756
Ttabel = 1,64
Dari hasil penelitian diperoleh thitung sebesar 6,756. Apabila α = 0,05 dengan degree of freedom (df) sebesar 250 – 1 – 1 = 248 maka ttabel adalah 1,64. Karena thitung
(6,756) > ttabel (1,64) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap variabel kualitas SDM.
Berdasarkan hasil uji t, secara parsial; disimpulkan bahwa:
1. Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap OCB. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar 3,805 lebih besar dari nilai ttabel sebesar 1,64.
2. Kualitas SDM berpengaruh sigifikan terhadap OCB. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar 3,401 lebih besar dari nilai ttabel sebesar 1,64.
3. Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kualitas SDM. Hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar 6,756 lebih besar dari nilai ttabel sebesar 1,64.
4. Dari kedua variabel di atas yang paling dominan mempengaruhi OCB adalah gaya kepemimpinan (X1), karena nilai thitung gaya kepemimpinan (3,805) lebih besar dibandingkan dengan thitung kualitas SDM yaitu (3,401).
4.9 Pembahasan
Berdasarkan hasil olahan peneliti ditemukan bahwa 184 responden yaitu 73,6% berjenis kelamin pria dan sisanya 66 responden berjenis kelamin wanita. Hal ini diduga bahwa beban pekerjaan lebih membutuhkan tenaga dan mental pria yang lebih dibanding dengan wanita. Sebagian besar karyawan berusia 31-40 tahun kemudian menyusul 21-30 tahun, hal ini dikarenakan usia produktif adalah sekitar 20-40 tahun. Oleh karena ini perusahaan merekrut dan mengoptimalkan karyawan pada usia produktif tersebut. Di perusahaan keluarga juga mengoptimalkan karyawan dengan lulusan minimal S1 dibuktikan dengan hasil temuan peneliti bahwa sebesar 54% responden memiliki gelar S1. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sampel dari
penelitian ini maka ditunjukkan bahwa 100% responden bekerja lebih dari 3 bulan yang telah menjadi karyawan tetap. Dan kuisioner ini memenuhi dari sampel untuk menggambarkan perusahaan secara keseluruhan dengan bukti bahwa adanya presentase 100% diisi oleh divisi yang berbeda pada tiap perusahaan.
Hasil yang didapat dari uji validitas dan reliabilitas variabel gaya kepemimpinan, kualitas SDM dan OCB menunjukkan bahwa kuisioner memenuhi standard. Untuk uji validitas nilai r diatas nilai tabel 0,126 dan untuk uji reliabilitas cronbach alpha > 0,6.
Hasil dari regresi linier berganda seta pengujian hipotesis melalui Uji-t dan diperoleh hasil sebagai berikut:
H1: Diduga adanya pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya.
Dari hasil penelitian diperoleh thitung sebesar 3,805. Dan ttabel adalah 1,64.
Karena thitung (3,805) > ttabel (1,64) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap OCB. Hasil ini sesuai dengan penelitian DiPoala dan Tschannen-Moran (2001, dalam Tschanne-Moran, 2003) yang mengatakan “Dengan latar belakang lingkungan pendidikan menunjukkan sebuah hubungan kuat antara gaya kepemimpinan pada lingkungan universitas dengan perilaku ektra peran”. Dalam pandangan yang sama pada penelitian Podsakoff et al., (1990 dalam Utomo, 2002) bahwa “Perilaku kepemimpinan mempengaruhi bawahan untuk menghasilkan kinerja melebihi apa yang seharusnya atau melebihi level minimum yang dipersyaratkan organisasi”. Organ dan Ryan (1995, dalam Tschannen-Moran, 2003) juga menjelaskan bahwa “Kepemimpinan yang mendukung memiliki hubungan perilaku ektra peran”. Sehingga dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan Organizational Citizenship Behavior.
Pemimpin dapat mempengaruhi OCB karena dengan gaya kepemimpinan yang baik dapat mengarahkan bawahan dengan baik, perilaku pemimpin ini akan mendorong bawahan untuk menghasilkan kinerja melebihi apa yang seharusnya yang dipersyaratkan organisasi. Sehingga para pegawai akan memiliki kepercayaan dan semangat kerja yang tinggi, dengan demikian organisasi dapat memperoleh kualitas sumber daya yang baik yang nantinya akan menghasilkan kinerja organisasi maupun kinerja individu secara optimal.
Dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan Organizational Citizenship Behavior. Sehingga hipotesa pertama (H1) Diduga adanya pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya diterima.
H2: Diduga adanya pengaruh Kualitas SDM terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya.
Dari hasil penelitian diperoleh thitung sebesar 3,401 dan ttabel adalah 1,64.
Karena thitung (3,401) > ttabel (1,64) maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel kualitas SDM berpengaruh signifikan terhadap OCB.
Hasil ini didukung dengan untuk dapat meningkatkan OCB karyawan maka sangat penting bagi organisasi untuk mengetahui apa yang menyebabkan timbulnya atau meningkatnya OCB. Menurut Siders (2001) meningkatnya perilaku OCB dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri karyawan (internal) seperti moral, rasa puas, sikap positif, dsb sedangkan faktor yang berasal dari luar karyawan (eksternal) seperti sistem manajemen, sistem kepeminpinan, budaya perusahaan (dalam Djati, 2009).
Dan juga banyak teori yang mendukung dalam penelitian ini. Seperti penelitian yang telah membahas tentang hubungan antara service quality dengan
OCB antara lain: penelitian Bienstock, et al. (2003), Yoon and Suh (2003), Hui et.al.
(2001), Bell (2004), Castro et al. (2004); menyatakan bahwa ada pengaruh positif antara OCB dengan service quality. Inti dasar dari hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa faktor yang dapat mendukung karyawan melakukan perilaku extra peran yaitu dari dalam diri karyawan tersebut (dalam Djati, 2009).
Dapat disimpulkan bahwa kualitas SDM mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan Organizational Citizenship Behavior. Sehingga hipotesa kedua (H2): Diduga adanya pengaruh Kualitas SDM terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada perusahaan keluarga di Surabaya diterima.
H3: Diduga adanya pengaruh Gaya kepemimpinan terhadap Kualitas SDM) pada perusahaan keluarga di Surabaya.
Kualitas sumber daya manusia mempengaruhi kinerja organisasi. Artinya, kinerja seseorang akan meningkat ketika kualitas sumber daya manusi dari individu berada pada posisi yang tinggi. Kualitas sumber daya manusia pada beberapa penelitian dihubungkan dengan kepemimpinan, dimana kepemimpinan yang efektif akan selalu memberikan dampak dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia dan kualitas kehidupan kerja dari bawahannya, sehingga dapat mendorong individu untuk menghasilkan kinerja melebihi apa yang seharusnya atau melebihi level minimum yang dipersyaratkan organisasi.
Dari hasil penelitian diperoleh thitung sbesar 6,756 dan ttabel adalah 1,64. Karena thitung (6,756) > ttabel (1,64) maka Ho ditolak dan Ha diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kualitas SDM pada perusahaan keluarga di Surabaya. Sehingga hipotesa ketiga (H3) dimana diduga terdapat pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kualitas SDM pada perusahaan keluarga di Surabaya diterima.