PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Uji Asumsi Data Penelitian
3. Uji Hipotesis
Pengujian terhadap hipotesis penelitian ini yaitu, hubungan antara
kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik antara remaja awal
dengan orang tua dianalisis menggunakan analisis korelasi Product
Moment dan analisis korelasi Spearman Rho. Hal ini disebabkan karena uji hipotesis dilakukan dengan cara menguji satu per satu dari
cara penyelesaian konflik yang ada. Pada penyelesaian konflik
kompromi diketahui bahwa distribusi data bersifat normal sehingga
digunakan analisis korelasi Product Moment. Pada penyelesaian
konflik kompetisi dan menghindar diketahui bahwa data bersifat tidak
normal sehingga peneliti menggunakan analisis korelasi Spearman
Rho. Pengujian signifikansi hubungan kedua variabel tersebut dilakukan dengan cara membandingkan probability value (p) dengan
tingkat signifikansi (α). Jika suatu korelasi memiliki nilai p<α maka disimpulkan bahwa korelasi tersebut signifikan. Nilai α yang
digunakan dalam pengujian ini adalah 0.05
Berdasarkan hasil analisis korelasi product moment dengan bantuan
program SPSS for windows versi 16, diperoleh besarnya koefisien
korelasi antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian konflik
kompromi sebesar r=0,128 dengan p = 0,206. Oleh karena nilai
p(0,206)>α(0,05) maka disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut
tidak berkorelasi. Hasil analisis korelasi Spearman Rho dengan
koefisien korelasi antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian
konflik kompetisi sebesar r=-0,167 dengan p= 0,097. Oleh karena nilai
p(-0,167)>α(0,05) maka disimpulkan bahwa kedua variabel tersebut
tidak berkorelasi. Hasil analisis korelasi Spearman Rho dengan
bantuan program SPSS for windows versi 16, diperoleh besarnya
koefisien korelasi antara kualitas kelekatan dengan penyelesaian
konflik menghindar sebesar r= -0,055 dengan p =0,583. Oleh karena
nilai p(-0,167)>α(0,05) maka disimpulkan bahwa kedua variabel
tersebut tidak berkorelasi.
Tabel 4.4
Rangkuman hasil uji korelasi Product Moment
Variabel N r Signifikan
Kualitas kelekatan 100 0,128 P=0,206
Penyelesaian konflik kompromi 100
Tabel 4.5
Rangkuman hasil uji korelasi Spearman Rho
Variabel N r Signifikan
Kualitas kelekatan 100 -0,167 P=0,097
Tabel 4.6
Rangkuman hasil uji korelasi Spearman Rho
Variabel N r Signifikan
Kualitas kelekatan 100 -0,055 P=0,583
Penyelesaian konflik menghindar 100
D. Pembahasan
Mean teoritis pada variabel kualitas kelekatan diperoleh sebesar 137,5
dan mean empiris sebesar 164,07 (Mean Empiris > Mean Teoritis). Data
ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek penelitian cenderung memiliki
kualitas kelekatan yang relatif tinggi. Kelekatan aman yang dikembangkan
seorang anak dengan pemberi perhatian utama akan berpengaruh pada
perkembangan anak sepanjang masa hidupnya. Kelekatan yang aman akan
membuat anak bertumbuh menjadi pribadi yang sehat secara sosial dan
psikologis, Steinberg (2002).Dibandingkan dengan gaya kelekatan yang
lain, individu dengan gaya kelekatan yang aman lebih tidak mudah marah,
lebih tidak mengatribusikan keinginan bermusuhan pada orang lain, dan
mengharapkan hasil yang positif dan konstruktif dari konflik (Mikulincer
dalam Baron dan Byrne, 2005). Sebagai tambahan menurut Mikulincer
dalam Baron dan Byrne (2005), dibandingkan dengan orang-orang yang
memiliki gaya kelekatan tidak aman, individu yang memiliki gaya
kelekatan aman akan memproses informasi mengenai situasi sosial dengan
pada informasi baru dalam membuat penilaian sosial. kelekatan yang aman
selama dengan orang tua selama masa remaja dapat berfungsi adaptif,
yang menyediakan landasan yang kokoh di masa remaja sehingga remaja
dapat menjelajahi lingkungan dan dunia sosialnya yang baru dengan
cara-cara yang sehat secara-cara psikologis.
Menurut Cohen (1992) kehidupan masyarakat desa sering kali
ditandai oleh keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan pertanian dan
ikatan-ikatan keluarga yang sangat erat. Hubungan antar pribadi yang ada di
antara para anggotanya sangat kuat dan ditandai oleh pola-pola perilaku
tradisional. Sebagian besar subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini
adalah berasal dari Desa Menggora, Kecamatan Paliyan, Kabupaten
Gunung Kidul. Desa tersebut merupakan perbatasan antara Kabupaten
Bantul dengan Gunung Kidul yang merupakan daerah pingiran dan masih
memiliki sarana dan prasarana yang belum memadai. Oleh karena itu,
kehidupan masyarakat di Desa Menggora masih memiliki hubungan yang
sangat erat dengan para anggota keluarganya. Selain itu mata pencaharian
penduduk di Desa Menggora adalah sebagai seorang petani. Cohen (1992)
mengatakan bahwa masyarakat pedesaan tidak memiliki
pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya khusus karena pekerjaan-pekerjaan hampir setiap orang
dikaitkan dengan pertanian. Pendidikan dalam masyarakat-masyarakat
pedesaan keseluruannya menjadi tanggung jawab keluarga dan terutama
diarahkan kepada pekerjaan-pekerjaan pertanian. Leibo (1995)
yang ada sehingga kehidupan di desa lebih menekankan anggota keluarga
sebagai unit ekonomi. Artinya semua anggota keluarga turut
bersama-sama terlibat dalam kegiatan pertanian ataupun mencari nafkah guna
memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Hal ini juga tercermin dari
perilaku remaja di Desa Menggora tersebut yang sebagian besar sampai
saat ini masih membantu orang tua untuk mencari nafkah sebagai seorang
petani ketika pulang sekolah. Menurut pendapat Cohen (1992) kehidupan
di kota berbeda dengan kehidupan di desa, masyarakat yang hidup di kota
ditandai oleh tingginya tingkat kompetensi dan konflik.
Selain itu, kehidupan masyarakat desa tercermin dengan adanya sifat
kekeluargaan, adanya keakraban diantara anggota keluarga. Hal inilah
yang menyebabkan tingginya kualitas kelekatan antara remaja awal
dengan orang tua.
Pada variabel penyelesaian konflik kompromidiperoleh mean teoritis
sebesar 40 dan mean empiris sebesar 46.35 (Mean Empiris > Mean
Teoritis). Data ini menunjukkan bahwa rata-rata subyek penelitian
cenderung memiliki penyelesaian konfik kompromiyang relatif tinggi.
Variabel penyelesaian konflik kompetisi memiliki mean teoritis sebesar 40
dan mean empiris sebesar 2,82 (Mean Empiris<Mean Teoritis). Data
tersebut menunjukkan bahwa rata-rata subjek penelitian cenderung
memiliki penyelesaian konflik kompetisi yang relatif rendah. Sedangkan
pada variabel penyelesaian konflik menghindar memiliki mean teoritis
Teoritis). Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata subjek penelitian
cenderung memiliki penyelesaian konflik menghindar yang relatif rendah.
Berdasarkan data di atas bisa disimpulkan bahwa sebagian besar subjek
penelitian memillih penyelesaian konfik kompromi. Hal ini terjadi karena
anak-anak Indonesia terutama Jawa dilatih untuk mengembangkan sikap
yang mendukung harmoni kelompok, rasa hormat kepada otoritas,
pengendalian emosi, serta kerja sama melalui sosialisasi yang mereka
alami. Dalam kajian antropologi juga diungkapkan bahwa pengasuhan
anak dalam keluarga Jawa lebih menekankan pada kontrol emosi diri dan
harmoni dalam hubungan sosial. Sebagai implikasinya masyarakat Jawa
tidak mendorong kemunculan perilaku agresi terhadap teman sebaya
apalagi orang tua. Remaja didorong untuk menyelesaikan masalah dengan
bermusyawarah dan berkompromi daripada menggunakan agresi fisik
73
BAB V