• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

C. UJI HIPOTESIS / UJI KORELASIONAL

a. Pengujian korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara

variabel locus of control eksternal dan burnout. Hasil perhitungan uji

korelasi product moment-Pearson dengan bantuan SPSS 16.0

didapatkan r = 0,333 dengan sig. = 0,007 (p < 0,01) untuk korelasi

antara locus of control eksternal dengan burnout. Artinya locus of

control eksternal berkorelasi positif signifikan dengan burnout. Hasil

Tabel 7

Correlations

LOCex Burnout

LOCex Pearson Correlation 1 .333**

Sig. (1-tailed) .007

N 54 54

Burnout Pearson Correlation .333** 1

Sig. (1-tailed) .007

N 54 54

**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).

b. Pengujian korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan antara

variabel locus of control internal dan burnout. Hasil perhitungan uji

korelasi product moment-Pearson dengan bantuan SPSS 16.0

didapatkan r = -0,090 dengan sig. = 0,258 (p < 0,05) untuk korelasi

antara locus of control internal dengan burnout. Artinya locus of

control internal tidak berkorelasi dengan burnout. Hasil uji korelasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 8

Correlations

LOCin Burnout

LOCin Pearson Correlation 1 -.090

Sig. (1-tailed) .258

N 54 54

Burnout Pearson Correlation -.090 1

Sig. (1-tailed) .258

23

PEMBAHASAN

Berdasarkan dari hasil perhitungan korelasi product moment person antara

variabel locus of control eksternal dengan burnout r = 0,333 dengan sig. = 0,007

(p < 0,01), yang berarti bahwa hipotesis penelitian adanya hubungan positif antara

locus of control eksternal dengan burnout pada karyawan produksi PT. Semacom Integrated Bogor diterima. Semakin tinggi locus of control (eksternal), maka

semakin tinggi pula burnoutnya. Sebaliknya, semakin rendah locus of control

(eksternal), maka semakin rendah pula burnoutnya.

Korelasi signifikan antara locus of control eksternal dengan burnout pada

karyawan produksi PT. Semacom Integrated Bogor. Hal ini didukung oleh hasil

penelitian yang dilakukan oleh Suryani (2016) yang menyatakan bahwa variabel

locus of control eksternal mempunyai hubungan positif dan signifikan terhadap variabel burnout. Dengan demikian, semakin rendah locus of control eksternal

tingkat burnout juga semakin rendah. Individu dengan locus of control eksternal

yang rendah cenderung membuat mereka lebih kuat dan mampu menangani

stresor karena mereka berusaha untuk mengubah faktor yang menyebabkan stress

di tempat kerja yang pada akhirnya berdampak pada burnout. Koeske dan Kirk

(1995) mengatakan bahwa seseorang dengan locus of control eksternal yang

rendah akan lebih mungkin untuk memikul tanggung jawab situasional dan

menggunakan pemecahan masalah serta strategi koping praktis lainnya dengan

cara yang positif.

Sedangkan hasil uji perhitungan korelasi product moment person antara

0,258 (p < 0,05) yang berarti bahwa hipotesis penelitian adanya hubungan negatif

antara locus of control internal dengan burnout pada karyawan PT. Semacom

Integrated Bogor ditolak.

Temuan peneliti ini berkebalikan dengan peneliti sebelumnya, Prestiana

dan Trias (2013) yang menunjukkan hasil locus of control internal berpengaruh

negatif yang signifikan dengan burnout pada guru honorer Sekolah Dasar Negeri

di Bekasi Selatan. Perbedaan hasil yang ditemukan peneliti dengan Prestiana dan

Trias dikarenakan adanya perbedaan pada alat ukur yang digunakan dan profesi

subjek. Pada penelitian ini peneliti menggunakan alat ukur IPC Scale yang

dikembangkan oleh Levenson (1981) dimana pada aspek eksternal diperoleh dari

penjumlahan aspek powerful others dan chance, sehingga faktor eksternal

memiliki jumlah item yang lebih banyak daripada faktor internal. Adanya

perbedaan item ini berdampak pada total skor. Meskipun skoring dari alat ukur ini

telah dibuat sedemikian rupa, tetap perbedaan total skor dan perbedaan profesi

subjek dikhawatirkan yang mempengaruhi hipotesis untuk locus of control

internal dengan burnout ditolak. Namun, hasil penelitian ini memiliki kesamaan

dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kalantarkousheh (2013) yaitu internal

locus of control tidak memiliki pengaruh dengan burnout.

Karyawan produksi PT. Semacom Integrated memiliki locus of control

eksternal yang rendah dan pada burnout berada pada kategori rendah. Berdasarkan

hasil uji korelasi adapun sumbangan efektif yang diberikan locus of control

eksternal sebesar 11,1% dengan burnout yang ditunjukkan oleh koefisien

25

faktor-faktor lain yang mempengaruhi burnout selain faktor locus of control

eksternal. Hal ini sesuai dengan Lee dan Ashfort (dalam Dewanti, 2010) yang

berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor-faktor lain yang mempengaruhi

burnout selain locus of control, antara lain ambiguitas peran, konflik peran, beban kerja, dukungan, faktor demografi, tipe kepribadian, dan harga diri.

Burnout muncul akibat kondisi internal seseorang yang ditunjang oleh faktor-faktor lingkungan yang berupa tekanan yang berlarut-larut. Karyawan yang

memiliki penilaian positif dalam menghadapi tekanan-tekanan dalam bekerja

memandang kerja sebagai usaha untuk memperoleh kemajuan dan akan

menghambat lajunya tingkat burnout (Sihotang, 2004). Penilaian positif terhadap

tekanan di tempat kerja pada karyawan seperti adanya dukungan atasan apabila

bekerja dengan baik, interaksi sosial karyawan yang kondusif dan menerima

pekerjaan yang menjadi kewajiban dengan sepenuh hati, serta manajemen kontrol

diri yang baik merupakan hal-hal yang berhubungan dengan hasil penelitian ini.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif mengenai kategorisasi burnout

karyawan produksi di PT. Semacom Integrated Bogor diketahui terdapat 0%

partisipan yang tergolong dalam kategori sangat tinggi. Selain itu, terdapat

(35,19%) partisipan yang tergolong dalam kategori tinggi. Sebagian besar

(40,74%) partisipan memiliki burnout yang berada pada kategori rendah, dan

sisanya (24,07%) terdapat dalam kategori sangat rendah. Namun, berdasarkan

perhitungan rata-rata/mean, tingkat burnout pada karyawan produksi PT.

Semacom Integrated Bogor termasuk dalam kategori rendah, dengan jumlah

produksi PT. Semacom Integrated Bogor (33%) memiliki locus of control

eksternal yang rendah dan sebesar (67%) memiliki locus of control internal yang

tinggi.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Locus of control eksternal memiliki hubungan positif yang signifikan

dengan burnout pada karyawan produksi PT. Semacom Integrated.

Semakin tinggi locus of control eksternal, maka semakin tinggi pula

burnoutnya. Semakin rendah locus of control eksternal, maka semakin rendah pula burnoutnya.

2. Locus of control internal tidak memiliki hubungan dengan burnout pada

karyawan produksi PT. Semacom Integrated Bogor.

3. Hasil kategorisasi karyawan produksi PT. Semacom Integrated Bogor

memiliki locus of control eksternal yang lebih rendah daripada locus of

control internalnya dan memiliki burnout yang tergolong rendah.

4. Peranan atau sumbangan efektif dari variabel locus of control eksternal

terhadap burnout pada karyawan produksi PT. Semacom Integrated

Bogor sebesar 11,1%.

B. SARAN

1. Bagi Perusahaan

Perusahaan diharapkan ikut menjaga dan mempertahankan

27

dapat membantu karyawan yang cenderung memiliki locus of control

eksternal supaya dapat mengubah pemahamannya dalam menghadapi

stressor di tempat kerja agar tidak terjadi peningkatan burnout pada

karyawan. Walaupun burnout yang ada di PT. Semacom Integrated Bogor

tergolong rendah namun tetap harus dikontrol agar dapat terus

dipertahankan. Perusahaan juga diharapkan untuk membuka konseling

untuk karyawan produksi secara berkala agar karyawan dapat mengatasi

stresor dalam bekerja sehingga dapat meminimalisir burnout.

2. Bagi Karyawan Produksi

Karyawan produksi PT. Semacom Integrated Bogor diharapkan

dapat mempertahankan keyakinannya terhadap peristiwa-peristiwa yang

terjadi ditentukan oleh kemampuan dan usahanya sendiri sehingga ketika

dihadapkan dengan burnout di tempat kerja dapat dengan mudah

mengatasinya serta dapat menjaga keefektivan dalam bekerja. Karyawan

juga dapat melakukan relaksasi dan melakukan konsultasi apabila merasa

ada yang mengganjal baik dalam bidang pekerjaan atau dalam kehidupan

karyawan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan penelitian selanjutnya dapat bekerjasama dengan pihak

yang bersangkutan dalam pengambilan dan pengawasan pengisian

kuesioner supaya memperoleh data yang lebih akurat. Penelitian

lain selain locus of control, misalnya ambiguitas peran, konflik peran, beban kerja, dukungan, faktor demografi, tipe kepribadian, dan harga diri.

29

Dokumen terkait