• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM SEKOLAH

B. Analisis Data

2. Uji Homogenitas Data

Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelompok perlakuan berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama. Adapun langkah perhitungannya pada Lampiran 10.

Tabel 5.27

Hasil Pengujian Homogenitas data Motivasi dan Prestasi belajar (Siklus I)

No Variabel Probabilitas Alpha ( )

Kesimpulan

1 Motivasi Belajar siswa kelas XII Penjualan (sebelum menggunakan metode STAD)

0,139 0,05 Homogen

2 Motivasi Belajar siswa kelas XII Penjualan (sesudah menggunakan metode STAD)

0,140 0,05 Homogen

3 Hasil Belajar siswa kelas XII Penjualan (sebelum menggunakan metode STAD)

0,243 0,05 Homogen

4 Hasil Belajar siswa kelas XII Penjualan (sesudah menggunakan metode STAD)

Tabel 5.18 menunjukkan bahwa distribusi data variabel motivasi dan prestasi belajar siswa (siklus I) terkategorikan homogen, hal ini disebabkan karena nilai probabilitas masing-masing variabel lebih besar dari nilai taraf signifikansi = 0,05

Tabel 5.28

Hasil Pengujian Homogenitas Data Motivasi dan Prestasi Belajar (Siklus II)

No Variabel Probabilitas Alpha ( ) Kesimpulan 1 Motivasi Belajar siswa

kelas XII Penjualan sesudah menggunakan metode STAD (Siklus II)

0,250 0,05 Homogen

2 Hasil Belajar siswa kelas XII Penjualan sesudah menggunakan metode STAD (Siklus II)

0,187 0,05 Homogen

Tabel 5.18 menunjukkan bahwa distribusi data variabel motivasi dan prestasi belajar siswa (siklus II) terkategorikam homogen, hal ini disebabkan karena nilai probabilitas masing-masing variabel lebih besar dari nilai taraf signifikansi = 0,05.

C. Pengujian Hipotesis

1. Motivasi Belajar Siswa (Siklus I)

Ho : Tidak ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran

Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Ha : Ada Perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Hasil Analisis:

Data yang digunakan dalam analisis pengujian hipotesis adalah data motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji t atau yang sering dikenal dengan istilah T-Tes (Sugiyono, 2009:122). Uji t ini digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan motivasi belajar siswa setelah pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Berdasarkan data pada lampiran 10 halaman 256, dan diproses dengan bantuan SPSS for windows versi 17 diperoleh hasil bahwa selisih mean motivasi belajar siswa kelas XII Penjualan SMK Sanjaya (sebelum menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD) adalah 57,74 dengan deviasi standar 6,312 dan selisih mean motivasi belajar siswa

kelas XII penjualan (sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD) adalah 58,91 dengan deviasi standar 6,193. Rata-rata perbedaan selisih motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah (-1,174), dengan deviasi standar 3,701. Hasil perhitungan nilai t hitung

(-1,521) lebih kecil daripada t tabel (2,074) pada taraf signifikasi dengan (0,142 > 0,05) maka Ho diterima dan Ha ditolak artinya bahwa tidak ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD sebelum dan sesudah implementasi tindakan.

2. Hasil Belajar Siswa (Siklus I)

Ho : Tidak ada perbedaan/peningkatan hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD

Ha : Ada perbedaan/peningkatan hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Hasil Analisis:

Data yang digunakan dalam analisis pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah pembelajaran kooperatif tipe

STAD. Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji t atau yang sering dikenal dengan istilah T-Tes (Sugiyono, 2009:122). Uji t ini digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan prestasi belajar siswa setelah pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Berdasarkan data pada lampiran 10 halaman 259, dan diproses dengan bantuan SPSS for windows versi 17 diperoleh hasil bahwa selisih mean hasil belajar siswa kelas XII Penjualan SMK Sanjaya (sebelum menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD) adalah 70,65 dengan deviasi standar 15,45 dan selisih mean hasil belajar siswa kelas XII penjualan (sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD) adalah 75,96 dengan deviasi standar 10,90.

Rata-rata perbedaan selisih hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah

(- 5.30), dengan deviasi standar 7.00. Hasil perhitungan nilai t hitung

(-3,336) lebih besar daripada t tabel (2,080) pada taraf signifikasi dengan (0,002 < 0,05) maka bahwa Ho ditolak dan Ha diterima artinya bahwa ada perbedaan/peningkatan prestasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD sebelum dan sesudah implementasi tindakan.

3. Motivasi Belajar Siswa (Siklus II)

Ho : Tidak ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran

Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Ha : Ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD

Hasil Analisis:

Data yang digunakan dalam analisis pengujian hipotesis adalah data motivasi belajar siswa siklus pertama dan siklus kedua sesudah pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji t atau yang sering dikenal dengan istilah T-Tes (Sugiyono, 2009:122).

Uji t ini digunakan untuk mengetahui adanya perbedaan motivasi belajar siswa setelah pembelajaran kooperatif tipe STAD siklus pertama dan siklus kedua.

Berdasarkan data pada lampiran 10 halaman 263, dan diproses dengan bantuan SPSS for windows versi 17 diperoleh hasil bahwa selisih mean motivasi belajar siswa kelas XII Penjualan SMK Sanjaya setelah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus pertama adalah 58,32, dengan deviasi standar 5,626 dan selisih mean motivasi belajar siswa kelas XII penjualan sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus kedua adalah 61,73, dengan deviasi standar 5,275. Rata-rata perbedaan selisih motivasi

belajar siswa pada siklus pertama dan siklus kedua sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah (3,409), dengan deviasi standar 7,242. Hasil perhitungan nilai t hitung

(2,208) lebih besar daripada t tabel (2,080) pada taraf signifikasi dengan

(0,038 < 0,05) maka bahwa Ho ditolak dan Ha diterima artinya bahwa ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus pertama dan siklus kedua.

4. Hasil Belajar Siswa (Siklus II)

Ho : Tidak ada perbedaan/peningkatan hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD

Ha : Ada perbedaan/peningkatan hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Hasil Analisis:

Data yang digunakan dalam analisis pengujian hipotesis adalah data prestasi belajar siswa siklus pertama dan siklus kedua sesudah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Selisih mean motivasi belajar siswa kelas XII Penjualan SMK Sanjaya setelah menggunakan metode

pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus pertama sebesar 76,27 dengan deviasi standar 10,907, dan pada siklus kedua selisih mean hasil belajar siswa sebesar 77,27 dengan deviasi standar 10,660. Rata-rata perbedaan selisih hasil belajar siswa pada siklus pertama dan siklus kedua sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah (-,82), dengan deviasi standar 11,23.

Hasil perhitungan nilai t hitung (-.342) lebih kecil daripada t tabel (2,080)

pada taraf signifikasi dengan (0,679 < 0,05) maka bahwa Ho diterima

dan Ha ditolak artinya bahwa tidak ada perbedaan/peningkatan hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus pertama dan siklus kedua.

D. Analisis dan Pembahasan Penerapan Metode Pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa dalam Belajar Ekonomi

1. Siklus Pertama

a. Motivasi Belajar

Deskripsi mengenai motivasi belajar siswa sebelum menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, menunjukkan bahwa ada 11 siswa (47,82%) yang memiliki motivasi belajar yang terkategorikan tinggi. Hal ini didukung oleh hasil

perhitungan nilai mean motivasi belajar siswa = 57,74; median = 59; dan modus = 60,47

Deskripsi motivasi belajar siswa pada saat penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, menunjukkan bahwa ada 8 siswa (34,79%) yang memiliki motivasi belajar yang terkategorikan tinggi.

Motivasi belajar siswa mengalami penurunan sesudah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD.

Hal ini di dukung oleh hasil perhitungan nilai mean motivasi belajar siswa = 58,91; median motivasi belajar siswa = 57; modus motivasi belajar siswa = 61,59 dan deviasi standar = 6,193.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD sebelum dan sesudah implementasi tindakan. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan t-test yang menunjukkan t hitung sebesar -1,521 dan t tabel

(df = 22) = 2,074 pada taraf signifikasi sebesar 0,05 sehingga t hitung =

- 1,521 < t tabel = 2,074.

Hal ini dikarenakan pada saat implementasi tindakan siklus pertama kondisi kelas tidak mendukung dan proses pembelajaran tidak berjalan seperti biasanya karena bencana yang melanda kota DIY. Keadaan ini tetap akan membawa dampak psikologis, moril dan materiil. Walaupun pada kenyataannya jumlah siswa yang hadir tidak

berkurang. Tetapi dengan melihat kondisi seperti ini akan mempengaruhi proses belajar mengajar dan siswa terlihat kurang aktif dalam berdiskusi dalam kelompok.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode STAD pada mata pelajaran Ekonomi belum memberi dampak meningkatnya motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem.

Berikut ini disajikan deskripsi motivasi belajar siswa setelah siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran STAD.

Tabel 5.29

Analisis Komparatif Tingkat Motivasi Belajar Siswa (Siklus I) Skala Motivasi Belajar Siswa Kriteria Motivasi Pra Penelitian Siklus I Perubahan

69 - 80 Sangat Tinggi 0% 8,70 % Ada peningkatan sebesar 8,70% 60 - 68 Tinggi 47,82% 34,79% Ada penurunan

sebesar 13,03% 54 - 59 Sedang 17,40% 34,79% Ada peningkatan

sebesar 17,39% 47 - 53 Rendah 34,78% 21,74% Ada penurunan

sebesar 13,04%

≤ 46 Sangat Rendah 0% 4,34% Ada peningkatan sebesar 11% Total - 100% 100% -

Tabel 5.13 menunjukkan analisis motivasi belajar siswa pada masa pra penelitian dan siklus pertama kemudian dilihat perubahannya. Dari data tersebut tampak bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan pada tingkat motivasi dengan kriteria tinggi dari 0%

meningkat menjadi 8,70 %. Walaupun demikian tetap dikatakan bahwa motivasi siswa pada siklus pertama tetap mengalami penurunan. Pada masa pra penelitian atau sebelum penerapan metode pembelajaran STAD persentase siswa yang memiliki motivasi belajar dengan kriteria tinggi adalah 47,82%, setelah menggunakan metode pembelajaran STAD persentase siswa yang memiliki motivasi belajar dengan kriteria tinggi menurun sebesar 34,79%.

Persentase siswa yang memiliki motivasi belajar dengan kriteria sedang mengalami peningkatan sebesar 17,39%, setelah menggunakan metode pembelajaran STAD. Persentase siswa yang memiliki motivasi belajar dengan kriteria rendah mengalami penurunan sebesar 13,04% setelah menggunakan metode pembelajaran STAD. Persentase siswa yang memiliki motivasi belajar dengan kriteria sangat rendah meningkat menjadi 11%, setelah menggunakan metode pembelajaran STAD.

b. Hasil Belajar

Deskripsi mengenai hasil belajar siswa sebelum menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, menunjukkan bahwa ada 11 siswa (47,82%) yang belum mengalami ketuntasan belajar sesuai dengan kriteria keberhasilan PTK 65%. Hal ini didukung oleh hasil perhitungan nilai mean hasil belajar siswa = 70,65; median hasil belajar siswa = 7,00; modus hasil belajar siswa = 77,34; dan deviasi standar = 15,47.

Deskripsi hasil belajar siswa pada saat penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, menunjukkan bahwa ada 19 siswa (82,60%) yang mengalami ketuntasan belajar melebihi kriteria keberhasilan PTK. Walaupun pada saat implementasi tindakan motivasi siswa mengalami penurunan tetapi hasil belajar siswa mengalami peningkatan.

Hal ini di dukung oleh hasil perhitungan nilai mean hasil belajar siswa = 75,96; median hasil belajar siswa = 75,00; modus hasil belajar siswa = 80,67; dan deviasi standar = 10,90.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan/peningkatan hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD sebelum dan sesudah implementasi tindakan. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan t-test yang menunjukkan t hitung sebesar -3,336 dan t tabel

(df = 21) = 2,080 pada taraf signifikasi sebesar 0,05 sehingga t hitung =

- 3.336 > t tabel = 2,080.

Hal ini dikarenakan bahwa pada pertemuan kedua implementasi tindakan siswa terlihat aktif dalam berdiskusi dalam kelompok, siswa juga bebas dalam mengemukakan pendapatnya di dalam kelompok dan berusaha untuk memahami dan mendalami materi yang diberikan. Adanya kerja sama antar anggota kelompok untuk saling bertukar pendapat dan bimbingan dari siswa yang lebih mampu, maka daya

ingat siswa lebih kuat. Selain itu tidak menutup kemungkinan bahwa ada faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Misalnya siswa telah memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi sehingga dengan penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode STAD pada mata pelajaran Ekonomi sudah memberi dampak meningkatnya hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem.

Tabel 5.30

Hasil Analisis Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I Ketuntasan belajar

No Nama Nilai Tuntas Belum Standar

1 Agus Suryanto 70 9 ³7,00

2 Agustina Rinti. B 72 9 ³7,00

3 Anastasia Dewi.W 80 9 ³7,00

4 Candra Febriantoro 75 9 ³7,00

5 Disa Tunjung Sari 50 9 ³7,00

6 Eka Tias Noviyanti 90 9 ³7,00

7 Eni Sulastri 70 9 ³7,00

8 Eni Yuli Astuti 95 9 ³7,00

9 Eva Tari 75 9 ³7,00

10 Fitri Purwaningsih 85 9 ³7,00

11 Ika Beti Astuti 70 9 ³7,00

12 Irna Faradillah 80 9 ³7,00

13 Luvi Novitasari 78 9 ³7,00

14 Maria Lena Astuti 70 9 ³7,00

15 Monika Dyaztika G.C.D

95 9 ³7,00

16 Pepen Feta Very 90 9 ³7,00

17 Rani Wijayanti 65 9 ³7,00

18 Rida Soraya 85 9 ³7,00

19 Rini Asih Nugroho 70 9 ³7,00

20 Rochmat Setyo A. 65 9 ³7,00

21 Sri Rahayu 80 9 ³7,00

22 Yunita Astari 70 9 ³7,00

Jumlah Siswa 23

Jumlah siswa yang tuntas 19

Persentase 82,60%

Kriteria ketuntasan Tuntas

Tabel 5.31 menunjukkan hasil belajar siswa yang dilaksanakan dalam bentuk kuis. Dari tabel di atas tampak bahwa ada 19 siswa (82,60%) yang memperoleh nilai 7,00 dan ada 4 siswa (17.40%) yang memperoleh nilai ≤ 7,00. Jumlah siswa yang hasil belajarnya mencapai KKM sudah memenuhi target (65%) yang ditentukan, maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa siklus pertama sudah tuntas.

2. Siklus Kedua

a. Motivasi belajar

Deskripsi mengenai motivasi belajar siswa pada siklus kedua setelah menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, menunjukkan bahwa ada 15 siswa (68,18%) yang memiliki motivasi belajar yang terkategorikan tinggi. Hal ini didukung oleh hasil perhitungan nilai mean motivasi belajar siswa = 61,73; median motivasi belajar siswa = 61,50; modus motivasi belajar siswa = 64,07; dan deviasi standar = 5,275.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus

pertama dan siklus kedua. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan t-test yang menunjukkan t hitung sebesar -2,208 dan t tabel (df = 21) = 2,080

pada taraf signifikasi sebesar 0,05 sehingga t hitung = -2,208 > t tabel =

2,080. Hal ini dikarenakan pada saat implementasi tindakan siklus kedua siswa termotivasi dengan ungkapan “di mana ada kemauan di situ ada jalan”, segala masalah dan persoalan pasti ada jalan keluar, asal muncul kemauan dan semangat untuk belajar.

Dengan adanya ungkapan ini dan juga hasil refleksi dari siswa maupun guru pada siklus pertama, proses pembelajaran berjalan dengan baik, guru lebih banyak melibatkan siswa dalam diskusi kelompok, bertukar pikiran dengan teman sesama kelompok, beda kelompok dan juga guru sehingga membangkitkan motivasi belajar. Siswa terlihat aktif dan tidak bosan dalam belajar. Penerapan metode STAD pada siklus pertama dan siklus kedua terdapat rentang waktu yang cukup jauh karena ada berbagai kegiatan yang dilakukan di sekolah sehingga proses belajar mengajar di sekolah tidak berjalan secara normal.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode STAD pada mata pelajaran Ekonomi pada siklus kedua memberi dampak meningkatnya motivasi belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem. Berikut ini disajikan deskripsi motivasi belajar siswa setelah siswa melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran STAD.

Tabel 5.31

Analisis Komparatif Tingkat Motivasi Belajar Siswa (Siklus I dan Siklus II)

Skala Motivasi Belajar Siswa Kriteria Motivasi Siklus I Siklus II Perubahan

69 - 80 Sangat Tinggi 8,70 % 4,55 % Ada penurunan sebesar 4,15% 60 - 68 Tinggi 34,79% 68,18% Ada

peningkatan sebesar 33,39% 54 - 59 Sedang 34,79% 22,72% Ada penurunan

sebesar 12,07% 47 - 53 Rendah 21,74% 4,55% Ada penurunan

sebesar 17,19%

≤ 46 Sangat Rendah 4,34% 0% Ada penurunan sebesar 0% Total - 100% 100% -

Pada tabel 5.32 tampak bahwa pada siklus kedua 1 siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar dengan kriteria sangat tinggi (4,55%), 15 siswa memiliki tingkat motivasi belajar dengan kriteria tinggi (68,18%), 5 siswa memiliki tingkat motivasi belajar dengan kriteria sedang (22,72%), 1 siswa memiliki tingkat motivasi belajar dengan kriteria rendah (4,55%). Pada siklus kedua jumlah siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar dengan kriteria tinggi sebanyak 15 siswa (68,18%).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan/peningkatan motivasi belajar siswa setelah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD. Jika dibandingkan dengan siklus pertama jumlah siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar dengan

kriteria tinggi (34,79%) dengan jumlah siswa 8 orang sedangkan pada siklus kedua siswa yang memiliki tingkat motivasi belajar dengan kriteria tinggi meningkat menjadi (68,18%) dengan jumlah siswa 15 orang.

b. Hasil Belajar

Deskripsi mengenai hasil belajar siswa pada siklus kedua dalam menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD, menunjukkan bahwa ada 20 siswa (90,90%) yang sudah mengalami ketuntasan belajar sesuai dengan kriteria keberhasilan PTK 65%. Hal ini didukung oleh hasil perhitungan nilai mean hasil belajar siswa = 77,27; median hasil belajar siswa = 75,00; modus hasil belajar siswa = 82,00; dan deviasi standar = 10,660.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan/peningkatan hasil belajar siswa kelas XII jurusan Penjualan SMK Sanjaya Pakem dalam pembelajaran Ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus pertama dan siklus kedua. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan t-test yang menunjukkan t hitung sebesar -.342 dan t tabel (df = 21) = 2,080

pada taraf signifikasi sebesar 0,05 sehingga t hitung = -.342 < t tabel =

2,080.

Hal ini dikarenakan pada saat berdiskusi dalam kelompok, ada siswa yang kurang serius dalam mendengarkan pendapat dari teman sekelompoknya dan juga dikarenakan soal kuis yang diberikan kepada

siswa memiliki tingkat kesukaran yang tinggi sehingga sulit bagi beberapa orang siswa. Sesuai dengan hasil observasi dan wawancara dari guru mata pelajaran Ekonomi, ada juga faktor lain di luar individu yang mempengaruhi hasil belajar siswa yakni tingkat kecerdasan siswa, penanaman konsep dan keterampilan, pembentukan siswa, juga kondisi ekonomi keluarga. Tingkat kecerdasan dan pemahaman siswa kelas XII penjualan SMK Sanjaya Pakem dibawah rata-rata.

Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus pertama dan siklus kedua tidak ada perbedaan, walaupun perbedaan yang terjadi tidak signifikan.

Tabel 5.32

Hasil Analisis Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II Ketuntasan belajar

No Nama Nilai Tuntas Belum Standar

1 Agus Suryanto 75 9 ³7,00

2 Agustina R. Budiyanti 80 9 ³7,00

3 Anastasia Dewi.W 85 9 ³7,00

4 Candra Febriantoro 75 9 ³7,00

5 Disa Tunjung Sari 50 9 ³7,00

6 Eka Tias Noviyanti 90 9 ³7,00

7 Eni Sulastri 70 9 ³7,00

8 Eni Yuli Astuti 85 9 ³7,00

9 Eva Tari 95 9 ³7,00

10 Fitri Purwaningsih - - - ³7,00

11 Ika Beti Astuti 90 9 ³7,00

12 Irna Faradillah 90 9 ³7,00

13 Luvi Novitasari 90 9 ³7,00

14 Maria Lena Astuti 65 9 ³7,00

15 Monika Dyaztika G.C.D

80 9 ³7,00

16 Pepen Feta Very 80 9 ³7,00

17 Rani Wijayanti 70 9 ³7,00

18 Rida Soraya 70 9 ³7,00

20 Rochmat Setyo A. 70 9 ³7,00

21 Sri Rahayu 75 9 ³7,00

22 Yunita Astari 75 9 ³7,00

23 Brigita Rohayani 75 9 ³7,00

Jumlah Siswa 22

Jumlah siswa yang tuntas 20

Persentase 90,90%

Kriteria ketuntasan Tuntas

Tabel 5.33 menunjukkan hasil belajar siswa yang dilaksanakan dalam bentuk kuis. Dari tabel di atas tampak bahwa ada 20 siswa (90,90%) yang memperoleh nilai 7,00 ke atas dan 2 siswa (9,10%) yang memperoleh nilai ≤ 7,00. Jumlah siswa yang hasil belajarnya mencapai KKM sudah memenuhi target (65%) yang ditentukan, maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar siswa pada siklus kedua sudah tuntas.

Berdasarkan hasil analisis pada masing-masing siklus di atas maka secara ringkas analisis tingkat motivasi dan hasil belajar siswa disajikan dalam tabel berikut

Tabel 5. 33

Hasil Analisis Motivasi dan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD

Komponen Hasil Analisis Keterangan

Siklus I Siklus II

Motivasi 34,79% 68,18% Jumlah siswa yang termotivasi

Hasil Belajar 82,60% 90,90% Persentase ketuntasan belajar

Tabel 5.33 menunjukkan hasil analisis motivasi dan hasil belajar siswa pada masing-masing siklus. Tingkat motivasi belajar berada pada kategori tinggi. Hal ini dibuktikan berdasarkan capaian skor pada siklus pertama sebesar 34,79%, dan siklus kedua sebesar 68,18%. Meskipun mengalami penurunan pada siklus pertama, namun tingkat motivasi tersebut masih berada dalam golongan tinggi. Capaian skor pada tingkat hasil belajar siklus pertama 82,60%, sedangkan siklus kedua 90,90%.

Berdasarkan uraian tentang motivasi dan hasil belajar di atas, secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe STAD meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Proses pembelajaran akan menjadi menarik dan tidak membosankan jika dikemas dengan menarik pula serta memperhatikan kondisi subjek. Maka dapat dikatakan bahwa termotivasi tidaknya siswa untuk belajar juga tergantung dari cara guru mengemas proses pembelajaran sedemikian rupa tanpa mengesampingkan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Sedangkan aspek yang diamati untuk mengukur hasil belajar adalah kemampuan siswa mengerjakan kuis.

Dokumen terkait