• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Independent Sample t-test dan Mann-Whitney U

Dalam dokumen T1 802010030 Full text (Halaman 33-39)

TEKNIK ANALISIS DATA

A. Uji Independent Sample t-test dan Mann-Whitney U

Selanjutnya melalui pengukuran uji-t dengan pendekatan IndependentSample t-test pada sampel yang berdistribusi normal dan menggunakan uji-u dengan pendekatan

Mann-Whitney U pada sampel yang tidak berdistribusi normal. Pengukuran ini digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan antara dua sampel.

1. Komponen keintiman

Analisis data pada komponen keintiman pada etnis Jawa dan etnis Papua, menggunakan pengujian u, karena data yang dihasilkan tidak berdistribusi

normal. Setelah dilakukan pengujian, menghasilkan nilai Z sebesar -1,121 dengan signifikasi sebesar 0,262 (p>0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan komponen keintiman pada etnis Jawa dan Papua.

Sedangkan pada sampel data suami baik etnis Jawa dengan Papua menggunakan uji t karena data berdistribusi normal, menghasilkan nilai t sebesar -1,486 dengan signifikasi sebesar 0,141 (p>0,05) dan pada sampel data istri dalam kedua etnis tersebut menggunakan uji u dan menghasilkan nilai Z sebesar -0,014 dengan signifikasi sebesar 0,988 (p>0,05). Hal ini berarti bahwa sampel data suami etnis Jawa dan suami etnis Papua, dengan istri etnis Jawa dan istri etnis Papua tidak terdapat perbedaan pada komponen keintiman.

2. Komponen gairah

Pada uji t yang dilakukan untuk komponen gairah, dihasilkan nilai t sebesar 1, 475 dengan signifikansi sebesar 0,142 (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan komponen passion pada etnis Jawa dan Papua. Sedangkan pada sampel suami pada etnis Jawa dan etnis Papua menghasilakn nilai t sebesar 1,120 dengan signifikasi sebesar 0,266 (p>0,05), dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pada komponen gairah pada sampel suami etnis Jawa dan suami etnis Papua. Hasil perhitungan uji t pada sampel istri etnis Jawa dan sampel istri etnis Papua diketahui bahwa nilai t sebesar 0,964 dengan signifikasi sebesar 0,338 (p>0,05), dengan begitu pada sampel data istripun juga tidak ditemukan adanya perbedaan.

3. Komponen komitmen

Pada komponen komitmen ini semua sampel tidak berdistribusi normal, oleh karena itu dilakukan pengujian u pada semua sampel. Pada sampel total

suami-istri diketahui bahwa nilai Z sebesar -1,080 dengan signifikansi yang didapat sebesar 0,280 (p>0,05). Maka, pada komponen komitmen juga tidak ada perbedaan diantara etnis Jawa dan etnis Papua. Selain itu, sampel suami pada etnis Jawa dan etnis Papua menghasilkan nilai Z sebesar -0,902 dengan signifikasi sebesar 0,367 (p>0,05). Hal ini berarti tidak terdapat perbedaan pada sampel suami etnis Jawa dan sampel suami etnis Papua dalam komponen komitmen. Pada sampel istri etnis Jawa dan sampel istri etnis Papua, juga dilakukan pengujian u, dan menghasilkan nilai Z sebesar -0,647 dengan signifikasi sebesar 0,518 (p>0,05). Dengan begitu, pada sampel istri pun juga tidak ditemukan adanya perbedaan dalam komponen komitmen. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan bahwa “ada perbedaan signifikan komponen cinta pada etnis Jawa dan etnis Papua” ditolak.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil perhitungan uji-t menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan komponen cinta pada etnis Jawa dan etnis Papua. Pada komponen keintiman, baik sampel etnis Jawa dan etnis Papua menempati kategori sangat tinggi. Pada etnis Jawa, terlihat dari prosesi adat pernikahan yaitu upacara wijik kembang setaman dan

kacar kucur, diamana dalam upacara wijikkembang setaman dimaksudkan supaya sang istri bisa melayani suaminya dengan baik, dan pada upacara kacar kucur sang suami memberikan nafkah pada istrinya. Kedua hal tersebut merupakan elemen dari keintiman. Mungkin hal tersebut menjadi panutan pada pasangan etnis Jawa untuk memelihara hubungan pernikahannya, sehingga menyebabkan keintiman pada pasangan tersebut berada dalam kategori sangat tinggi. Pada etnis Papua, pemberian mas kawin merupakan sesuatu hal yang wajib, dan mas kawin merupakan suatu media yang

menuntut sang istri untuk setia melayani suami dan memelihara anak-anaknya yang lahir dari perkwaninan tersebut, dan menuntut suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik (Mampioper, dalam Papuasiana, 2011). Hal ini mungkin menjadi alasan mengapa keintiman dalam etnis Papua sangat tinggi, dengan adanya pemberian mas kawin dalam kebudayaan Papua, maka menuntut pasangan tersebut untuk terus mendukung kesejahteraan satu sama lain.

Sementara itu pada komponen gairah, baik etnis Jawa maupun etnis Papua sama-sama berada dalam kategori yang sangat tinggi, Doherty, Hatfield, Thompson, dan Choo (1994) mengungkapkan bahwa ketika dihadapkan dengan emosi yang paling kuat, yaitu gairah cinta, pria dan wanita dari berbagai etnis dan kebudayaan tampaknya memiliki sikap dan perilaku yang sama. Hal ini mungkin sudah mewakili mengapa tidak ada perbedaan pada komponen gairah, baik dari etnis Jawa maupun etnis Papua keduanya memiliki sikap dan mungkin pandangan yang sama terhadap gairah.

Pada komponen komitmen, baik etnis Jawa maupun etnis Papua berada dalam kategori sangat tinggi. Pada etnis Jawa, ajaran dari upacara adicara sinduran, yang mengajarkan bahwa harus tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga walaupun banyak masalah berat yang menimpa, mungkin membuat pasangan dari etnis Jawa ini menjaga komitmen pernikahannya. Sekali lagi ditekankan bahwa budaya Jawa merupakan suatu yang sangat sakral dan tidak bisa dipungkiri lagi bahwa budaya tersebut masih dipegang teguh oleh masyarakatnya, hal ini mendorong masyarakat untuk selalu bersikap harmonis dengan kebudayaannya, meskipun terjadi pengikisan budaya oleh karena modernisasi, tetapi ajaran-ajaran budaya Jawa masih saja tetap terpelihara dan masih kental. Sementara itu masyarakat Papua termasuk masyarakat Biak sangat memegang teguh ajaran agama Kristen. Injil masuk ke tanah Papua pada

tahun 1855, dan pada tahun 1908 wilayah Biak Numfor dijadikan sebagai medan penginjilan. Pada saat itu pula agama norma-norma ajaran Kristen menjadi unsur kebudayaan baru bagi masyarakat Biak (Rumansara, 2003). Agama Kristen mengajarkan bahwa apa yang sudah dipersatukan oleh Allah, janganlah dipisahkan oleh tangan manusia, dengan kata lain, agama Kristen sangat tidak menganjurkan perceraian. Oleh karena itu, karena ajaran agama Kristen yang begitu kental dan dipegang teguh oleh masyarakat Biak dan masyarakat Papua lainnya. Selain itu, pengaruh mas kawin juga sangat kuat disini, mas kawin merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat Papua, sudah dijelaskan sebelumnya bahwa disisi lain, mas kawin menuntut suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik agar mas kawin yang dibayarkan tidak hilang jika terjadi penyelewengan yang mengakibatkan perceraian. Oleh karena itu, dengan adanya pengaruh agama dan kebudayaan yang kuat maka wajar saja bila komponen komitmen etnis Papua berada pada kategori yang sangat tinggi.

Faktor lain tidak adanya perbedaan komponen cinta ditinjau dari etnis bisa dikarenakan perbedaan antara budaya individualisme dan budaya koletivitis. Doherty, Hatfield, Thompson, dan Choo (1994) mengungkapkan bahwa pada penelitiannya, mereka menemukan beberapa perbedaan cinta pada kebudayaan negara barat dengan negara timur, atau kebudayaan individualisme dengan kebudayaan kolektivisme. Negara dengan kebudayaan individualisme (seperti Amerika, Inggris, Australia, Kanada, serta negara-negara di utara dan barat Eropa) lebih mementingkan keinginan pribadi, sedangkan negara dengan kebudayaan kolektivisme (seperti Cina, Amerika Latin, Yunani, Italia bagian selatan, Kepualuan Pasifik) lebih menekan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama (Markus & Kitayama, 1991; Triandis, McCusker, & Hui, 1990, dalam Hatfield & Rapson, 2007). Ting-Toomey (dalam Matsumoto, 2008)

membandingkan rating komitmen cinta, keterbukaan, ambivalensi, dan ungkapan konflik, pada 781 subjek dari perancis, Jepang, dan Amerika Serikat, hasilnya, subjek Amerika dan Perancis mempunyai tingkat komitmen cinta dan keterbukaan secara signifikan lebih tinggi dari subjek Jepang. Sementara itu subjek Amerika dan subjek Jepang memberi rating yang secara signifikan lebih tinggi pada pengungkapan konflik. Simmons, vom Kolke, dan Shimizu (dalam Matsumoto, 2008) meneliti sikap cinta dan romantika pada siswa Amerika, Jerman, dan Jepang. Hasilnya menginidkasikan bahwa cinta romantis lebih dinilai tinggi di Amerika dan Jerman daripada di Jepang. Para peneliti tersebut menduga bahwa perbedaan yang muncul di penelitian mereka karena cinta romantik lebih dihargai di budaya-budaya yang kurang tradisional dengan lebih sedikit ikatan keluarga besar yang kuat, dan kurang dihargai dalam budaya-budaya dimana jaringan kekerabatan punya pengaruh.

Indonesia sendiri adalah negara dengan kebudayaan kolektivisme yang sangat kental dengan tradisi. Dalam penelitian cinta ini, yang berfokus pada dua etnis, Jawa dan Papua tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan. Jawa dan Papua yang memang berada di Indonesia, dan terlihat berbeda jika ditinjau dari kebudayaannya, tetapi keduanya berada menganut budaya kolektivisme dan masih sangat kental tradisinya. Tidak hanya tradisi yang masih kental, hubungan kekerabatan keluarga besar pun juga masih terpelihara dengan baik dalam kedua etnis ini. Hal ini terbukti pada saat mereka memutuskan akan menikah, peran keluarga besar sangat mempunyai andil disini, jika keluarga besar tidak menyetujui calon pasangan yang telah dipilih oleh sang anak, maka sangat sulit untuk mengadakan pernikahan, sebaliknya jika keluarga besar menyetujui maka pernikahan dengan mudah bisa dilakukan. Doa restu dari orang tua dan keluarga dinilai sangat penting, selain itu terlihat juga melalui upacara sungkeman

pada etnis jawa dan keterlibatan semua kerabat dalam pembayaran mas kawin pada etnis Papua. Hal tersebut sangat sesuai dengan apa yang sudah dipaparkan oleh Doherty, Hatfield, Thompson, dan Choo (1994) bahwa kebudayaan kolektivisme lebih menekan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama..

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, tidak ada perbedaan yang signifikan pada komponen cinta yang ditinjau dari etnis. Hal ini disebabkan karena pengaruh budaya dan agama yang masih kental, dan ada pengaruh berbagai faktor lain seperti, etnis Jawa dan etnis Papua yang notabene adalah suku asli dari Indonesia yang merupakan negara dengan kebudayaan kolektif, masih tradisional, dan mempunyai sistem kekerabatan serta kekeluargaan yang sangat erat.

Dalam dokumen T1 802010030 Full text (Halaman 33-39)

Dokumen terkait