• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

D. Tata Cara Penelitian

8. Uji iritasi dengan HET-CAM

Uji iritasi dengan metode HET-CAM dilakukan sesuai rekomendasi

prosedur dari ICCVAM (2006). Uji iritasi dilakukan dengan menggunakan

telur ayam dimana uji dilakukan pada saat embrio berusia 9 hari. Pada saat uji dilakukan, kulit telur disekitar rongga udara dibuka sehingga akan terlihat membran dalam telur. Membran dalam tersebut dibasahi dengan larutan NaCl 0,9 % hingga membran berwarna bening. Setelah itu, dengan bantuan pinset

membran dalam dibuang sehingga akan terlihat chorioallantoic membrane

CAM. Dilakukan analisis visual ntuk memverifikasi apakah terdapat kondisi dalam sistem vaskular CAM yang membuat telur tidak layak untuk uji. Berikutnya sebanyak 0,3 gram sediaan uji ditempatkan pada permukaan CAM.

Setelah 20 detik, sediaan uji dicuci dengan larutan NaCl 0,9% hingga

benar-benar hilang. Telur kemudian diamati dibawah kaca pembesar selama 300 detik untuk mengamati apakah terjadi efek iritan pada pembuluh darah CAM meliputi hemoragi, lisis dan koagulasi. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali.

Efek iritasi yang terjadi diberi skor sesuai dengan waktu awal terjadinya hemoragi, lisis dan koagulasi sehingga dapat ditentukan skor iritasinya. Tingkat iritasi ditentukan dari nilai rata-rata skor ketiga telur dan dapat dikategorikan apakah terjadi iritasi lemah, sedang, kuat atau tidak mengiritasi.

9. Uji daya antimikroba emulgel ekstrak kulit buah manggis terhadap

Staphylococcus epidermidis

a. Pembuatan stok bakteri Staphylococcus epidermidis. Sebanyak 5 mL

media Muller-Hinton Agar (MHA) dimasukkan ke dalam tabung reaksi,

kemudian disterilkan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Setelah sterilisasi tabung reaksi dimiringkan dan

dibiarkan memadat. Diambil satu ose biakan murni Staphylococcus

epidermidis dan diinokulasikan secaran goresan zig-zag, kemudian diinkubasikan selama 24 jam pada ruang inkubasi.

b. Pembuatan suspensi Staphylococcus epidermidis. Diambil satu sampai dua

ose koloni bakteri dari stok bakteri, dimasukkan ke dalam tabung reaksi

yang telah berisi 10 mL Muller-Hinton Broth (MHB) yang sudah di

sterilisasi, kemudian diinkubasikan selama 24 jam pada ruang inkubasi.

Selanjutnya, kekeruhan suspensi bakteri Staphylococcus epidermidis

disesuaikan dengan standar Mc Farland 1 (3,0 x 108 CFU/mL).

c. Pembuatan kontrol media. Media MHA steril dituang ke dalam cawan

pada ruang inkubasi. Setelah diinkubasi, diamati, dan dibandingkan dengan perlakuan.

d. Pembuatan kontrol pertumbuhan bakteri uji Staphylococcus epidermidis.

Dalam kondisi aseptis, media MHA steril dengan suhu 45-50°C dituang ke dalam cawan petri dan ditambahkan suspensi bakteri. Cawan petri digoyang sehingga pertumbuhan bakteri dapat merata. Cawan petri tersebut kemudian diinkubasi selama 24 jam pada ruang inkubasi. Setelah diinkubasi, diamati pertumbuhan bakteri uji melalui kekeruhan media dan dibandingkan dengan perlakuan.

e. Uji daya antibakteri emulgel ekstrak kulit buah manggis terhadap

Staphylococcus epidermidis. Dalam kondisi aseptis, sebanyak 15 mL media MHA steril dengan suhu 45-50°C dituang ke dalam cawan petri dengan diameter 12 cm dan dibiarkan memadat sebagai lapisan bawah. Selanjutnya sebanyak 45 mL media MHA steril dengan suhu 45-50°C ditambahkan suspensi bakteri, divortex dan dituang ke dalam cawan petri sebagai lapisan atas. Cawan petri digoyang sehingga pertumbuhan bakteri dapat merata dan dibiarkan memadat. Selanjutnya dibuat 7 lubang sumuran dengan diameter 0,6 cm pada lapisan atas (jangan sampai ke dasar). Ke dalam masing-masing lubang sumuran diberi basis emulgel

sebagai kontrol negatif, gel Cindala® sebagai kontrol positif dan emulgel

formula 1, formula 2, formula 3, formula 4 serta formula 5. Cawan petri tersebut kemudian diinkunbasi selama 24 jam pada ruang inkubasi.

Kemudian diukur zona hambat yang dihasilkan. Dilakukan replikasi sebanyak 3 kali.

10.Penetapan kadar alfa mangostin dalam emulgel dengan KLT-densitometri

a. Pembuatan fase gerak. Fase gerak yang digunakan pada penelitian ini yaitu

campuran kloroform-metanol-etil asetat (28:1,75:3,5) v/v. Fase gerak dituang ke dalam bejana kromatografi kemudian kertas saring dimasukkan dalam bejana yang berisi fase gerak. Bejana ditutup rapat dan dibiarkan selama 1 jam hingga seluruh kertas saring terbasahi oleh fase gerak.

b. Pembuatan larutan stok alfa mangostin. Baku alfa mangostin ditimbang

sebanyak 0,5 mg dan dimasukkan dalam labu takar 5 ml, kemudian dilarutkan dengan metanol p.a sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan stok alfa mangostin 0,1 mg/ml.

c. Pembuatan kurva baku alfa mangostin. Larutan stok alfa mangostin

ditotolkan menggunakan Linomat dengan volume 1; 2; 4; 8; 16 l pada

lempeng alumunim silica gel 60 F254 (20 x 20 cm) sehingga diperoleh seri

baku alfa mangostin 0,1; 0,2; 0,4; 0,8; 1,6 g. Lempeng silica kemudian

dikembangkan dalam bejana kromatografi yang telah dijenuhkan dengan fase gerak kloroform-metanol-etil asetat (28:1,75:3,5) v/v. Pengembangan dilakukan setinggi 8 cm, lempeng silica kemudian dikeluarkan dan ditunggu hingga kering pada suhu kamar. Bercak diamati di bawah lampu

panjang gelombang 319 nm. Bercak seri baku alfa mangostin diamati puncak kromatogram dan nilai AUC yang muncul dengan menggunakan

software winCATS. Dengan metode regresi linier, nilai seri kadar (g/ml) diplotkan terhadap nilai AUC masing-masing seri larutan baku sehingga diperoleh persamaan kurva baku y = bx + a dimana y merupakan nilai

respon (AUC), x merupakan konsentrasi senyawa baku, a adalah intersep

dan b adalah slope. Pembuatan kurva baku dilakukan repetisi sebanyak

tiga kali.

d. Pembuatan larutan uji. Sejumlah 3 g sampel emulgel ekstrak kulit buah

manggis ditimbang seksama kemudian dilakukan pemecahan emulgel dengan penambahan HCl 1 M sebanyak 5 mL. Sampel kemudian dimasukkan kedalam corong pisah dan dilakukan ekstraksi cair-cair dengan penambahan 20 mL kloroform. Fase kloroform (fase bawah) kemudian dipisahkan. Ekstraksi cair-cair dengan klorofom dilakukan 2 kali. Fase klorofom kemudian ditambahkan dengan 10 mL NaCl 5% dan

diambil fase bawah. Klorofom pada larutan uji diuapkan di atas hot plate

hingga bobot tetap. Sampel kemudian dilarutkan pada labu ukur 5 ml

dengan metanol p.a hingga tanda batas. Larutan uji dibuat replikasi

sebanyak 3 kali.

e. Penetapan kadar alfa mangostin dalam ekstrak kulit buah manggis.

Sebanyak 1 L larutan uji ditotolkan pada lempeng silica gel 60 F254

menggunakan Linomat, kemudian dikembangkan dalam bejana

kloroform-metanol-etil asetat (28:1,75:3,5) v/v. Pengembangan dilakukan setinggi 8 cm. Lempeng silica kemudian dikeluarkan dan ditunggu hingga kering. Bercak diamati di bawah lampu UV 254 nm kemudian dianalisis dengan

densitometer (TLC-scanner) pada panjang gelombang 319 nm. Puncak

kromatogram dan nilai AUC yang muncul diamati dengan menggunakan

software winCATS. Kadar alfa mangostin dalam sampel ditentukan dengan memasukkan nilai AUC yang diperoleh sebagai nilai y pada persamaan kurva baku yang paling baik.

E. Analisis Data

Pada penelitian ini akan diperoleh beberapa data, yaitu: data sifat fisik meliputi viskositas dan daya sebar emulgel 48 jam setelah pembuatan, profil pergeseran viskositas selama 1 bulan penyimpanan, daya anti bakteri berupa diameter zona hambat dari tiap-tiap formula emulgel serta kadar alfa mangostin dalam emulgel ekstrak kulit buah manggis. Analisis dilakukan untuk mengetahui signifikansi pengaruh kecepatan putar terhadap sifat fisik, stabilitas fisik dan daya anti bakteri emulgel ekstrak kulit buah manggis serta ada tidaknya perubahan kadar emulgel selama penyimpanan.

Data viskositas, daya sebar, pergeseran viskositas dan zona hambat

dianalisis dengan uji Saphiro-wilk (untuk sampel yang kurang dari atau sama

dengan 50) untuk melihat kenormalan distribusi data dan uji kesamaan varians

Levene’s test untuk melihat kesamaan varians (Dahlan, 2009). Dalam uji

value (p-value) lebih dari 0,05 maka data terdistribusi normal sedangkan jika p-value kurang dari 0,05 maka data terdistribusi tidak normal (Istyastono, 2012).

Data yang diperoleh terdiri dari 5 kelompok formula sehinnga pengujian

dilakukan dengan menggunakan one way ANOVA atau uji Kruskal-wallis dimana

uji ini digunakan untuk uji > 2 kelompok data tidak berpasangan. Jika data sesuai dengan kriteria uji statistik parametrik yakni memiliki distribusi data yang normal dan kesamaan varians, maka analisis dilanjutkan dengan pengujian signifikansi

menggunakan one way ANOVA. Jika data tidak memenuhi kriteria uji statistik

parametrik, maka analisis data menggunakan uji statistik non-parametrik yaitu uji

Kruskal-wallis. Pada uji one way ANOVA dan Kruskal-wallis dengan tingkat

kepercayaan 95%, maka faktor dikatakan berpengaruh signifikan jika nilai p-value

kurang dari 0,05 yang berarti paling tidak terdapat dua kelompok data yang memiliki perbedaan signifikan (Dahlan, 2009).

Analisis Post-Hoc dilakukan apabila data berbeda signifikan dimana uji

Post-Hoc dilakukan untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki perbedaan

signifikan (Dahlan, 2009). Analisis Post-Hoc untuk ANOVA yaitu dengan uji T

sedangkan untuk Kruskal-wallis adalah dengan uji Wilcoxon. Pada uji T dua arah

dan Wilcoxon dua arah, dengan tingkat kepercayaan 95%, maka dua kelompok

dikatakan berbeda jika nilai p-value kurang dari 0,05.

Analisis penetapan kadar dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya perubahan kadar setelah penyimpanan emulgel selama satu bulan. Data yang

didapat dianalisis dengan uji Saphiro-wilk terlebih dahulu untuk melihat

kesamaan varians dua kelompok data. Pada uji kesamaan varians F-test dengan

taraf kepercayaan 95%, jika nilai p-value lebih dari 0,05 maka variansinya sama

sedangkan jika p-value kurang dari 0,05 maka variansinya berbeda. Apabila data

terdistribusi normal maka uji dilakukan dengan menggunakan uji T berpasangan

sedangkan jika data terdistribusi tidak normal maka digunakan uji Wilcoxon. Pada

uji T berpasangan dan Wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95%, maka dua

kelompok dikatakan berbeda jika nilai p-value kurang dari 0,05. Analisis data

52 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Identifikasi Ekstrak Kulit Buah Manggis

Penelitian ini menggunakan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia

mangostana L.) yang diperoleh dari PT Borobudur, Semarang. Identifikasi dilakukan dengan pengamatan organoleptis, meliputi: bentuk, warna, dan bau. Ekstrak kulit buah manggis berwujud serbuk halus, berwarna coklat muda dan

berbau khas aromatik. Identifikasi dibuktikan dengan Certificate of Analysis

(CoA) yang terlampir di lampiran 1.

B. Formulasi Emulgel dengan Variasi Kecepatan Putar Mixer

Ekstrak kulit buah manggis diketahui memiliki aktivitas antimikroba

terhadap berbagai jenis mikroorganisme antara lain: Staphylococcus aereus,

Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhimurium,

spesies Enterococcus, Mycobacterium tuberculosis dan Propionibacterium acnes.

Studi fitokimia menunjukkan bahwa aktivitas antimikroba tersebut berasal dari

xanthone. Alfa mangostin merupakan turunan xanthone memiliki aktivitas antibakteri yang paling poten (Torrungruang, et al., 2007).

Ekstrak kulit buah manggis memiliki aktivitas antimikroba yang tinggi

terhadap bakteri penyebab timbulnya peradangan jerawat yaitu Propionibacterium

acnes dan Staphylococcus epidermidis. Ekstrak etanol kulit buah manggis dengan kandungan alfa mangostin 18,03 ± 0,71 % b/b memiliki nilai KHM 7,81 g/ml

untuk kedua strain bakteri dan nilai KBM 15,63 g/ml untuk Propionibacterium acnes dan 62,50 g/ml untuk Staphylococcus epidermidis (Pothitirat, et al., 2010).

Berdasarkan data tersebut, maka ekstrak kulit buah manggis memiki peluang untuk dapat diformulasikan menjadi suatu sediaan obat jerawat.

Bentuk sediaan yang dipilih adalah emulgel yang merupakan suatu sistem gabungan antara emulsi dan gel. Zat aktif yang digunakan yaitu alfa mangostin merupakan senyawa yang bersifat hidrofob. Bentuk sediaan gel memiliki banyak kelebihan serta banyak digunakan dalam penghantaran obat secara topikal. Namun, sistem gel ini memiliki keterbatasan pada penghantaran obat yang bersifat hidrofobik sedangkan pada bentuk sediaan emulsi memiliki keterbatasan pada stabilitasnya. Oleh karena itu peneliti memilih bentuk sediaan emulgel dimana

menurut Panwar, et al. (2011) emulgel merupakan suatu bentuk formulasi yang

baik untuk obat yang bersifat hidrofobik untuk pengahantaran obat secara topikal. Bentuk sediaan emulgel ini bersifat lebih stabil dan merupakan pembawa yang lebih baik bagi penghantaran obat yang bersifat hidrofobik. Pemilihan bentuk

sediaan emulgel juga dimaksudkan untuk meningkatkan acceptability pengguna

karena dapat menyamarkan warna coklat dari ekstrak kulit buah manggis sehingga

diharapkan lebih acceptable. Selain itu, emulgel juga merupakan suatu bentuk

variasi sediaan topikal yang banyak memiliki karakteristik menguntungkan seperti sifat tiksotropi, tidak berminyak, daya sebarnya baik, mudah dicuci, emolien, transparan dan tampilannya yang menarik. Obat yang bersifat hidrofobik dapat disatukan ke dalam gel dengan menggunakan emulsi sistem M/A yang kemudian

ditambahkan gelling agent agar membentuk sistem gel yang dapat meningkatkan stabilitas sediaan yang dibuat.

Bahan yang digunakan antara lain ektrak kulit buah manggis, carbopol

940, trietanolamin, parafin cair, propilen glikol, tween 20, span 20, metil paraben, propil paraben, etanol 70% dan aquadest. Kulit buah manggis merupakan zat aktif yang mengandung alfa mangostin yang berfungsi sebagai obat jerawat karena memiliki aktivitas antibakteri. Ekstrak kulit buah manggis yang digunakan dalam formula yaitu sebanyak 3% (3 gram untuk setiap 100 gram sediaan) yang diperoleh dari hasil orientasi peneliti berdasarkan efektivitas (dilihat dari besarnya zona hambat) serta penampilan yang dihasilkan. Orientasi yang dilakukan peneliti yaitu dengan menggunakan konsentrasi ekstrak sebanyak 1%, 2%, 4%, 8%. Uji

zona hambat dilakukan terhadap bakteri uji Staphylococcus epidermidis

menggunakan metode difusi sumuran. Hasil zona hambat yang diperoleh yaitu sebagai berikut:

Tabel VI. Hasil uji zona hambat formula orientasi emulgel terhadap

Staphylococcus epidermidis dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit buah manggis

Konsentrasi ekstrak (%)

Rata-rata diameter zona hambat ± SD (mm) Kategori 1 4,08 ± 1,66 Lemah 2 6 ± 1,15 Sedang 4 8,42 ± 0,76 Sedang 8 9,83 ± 2,98 Sedang

Berdasarkan klasifikasi Suryawiria (cit., Zahro dan Agustini, 2013) yang

didasarkan pada diameter zona hambat (Tabel II), maka dapat dinyatakan bahwa aktivitas antibakteri hasil orientasi formula emulgel ekstrak kulit buah manggis

dengan konsentrasi 2%, 4% dan 8% menghasilkan diameter zona hambat yang tergolong dalam kategori sedang. Penampilan sediaan yang dihasilkan yaitu semakin besar jumlah ekstrak yang digunakan, penampilan emulgel semakin tidak

acceptable. Emulgel mulai terlihat tidak acceptable pada penggunaan eksrak dengan konsentrasi 4%. Oleh karena itu peneliti menggunakan ekstrak kulit buah manggis sebanyak 3% (3 gram untuk setiap 100 gram sediaan) dimana diperoleh

hasil zona hambat yang sedang dan penampilan yang acceptable.

Etanol 70% digunakan sebagai pelarut ekstrak kering kulit buah manggis. Ekstrak kulit buah manggis yang terlarut dalam etanol 70% kemudian dimasukkan ke dalam fase minyak dimana nantinya ekstrak kulit buah manggis yang terlarut dalam etanol 70% dapat terpartisi di dalam fase minyak sehingga dapat membentuk emulgel dengan tipe M/A. Emulgel yang dibuat diharapkan memiliki tipe emulsi M/A karena memiliki keuntungan yakni droplet minyak berada di dalam fase air sehingga tidak lengket, mudah dicuci dan tidak memperparah jerawat. Pemilihan etanol 70% sebagai pelarut dikarenakan ekstrak kulit buah manggis dapat larut dalam etanol 70%. Selain itu, pemilihan pelarut ini disesuaikan dengan pelarut yang digunakan saat ekstraksi senyawa dari kulit buah manggis yang tertera dalam CoA (Lampiran 1). Berdasarkan hasil orientasi peneliti, etanol 70% yang digunakan yaitu sebanyak 7,5 gram untuk melarutkan 3 gram ekstrak kering kulit buah manggis (100 gram sediaan). Berdasarkan

Cosmetic Products Notification Portal (2013), maksimum penggunaan etanol

pada sediaan skin care seperti krim, lotion, gel yaitu sebanyak 10% b/b. Maka

Parafin cair dan propilen glikol berfungsi sebagai moisturizer. Moisturizer

berdasarkan mekanisme aksinya dapat dibedakan menjadi beberapa golongan, antara lain emolien dan humektan. Parafin cair berfungsi sebagai emolien yaitu suatu senyawa yang bekerja dengan cara melapisi kulit dengan droplet minyak sehingga dapat mencegah dehidrasi atau hilangnya air pada saat sediaan diaplikasikan ke kulit (Lynde, 2001). Parafin cair juga berfungsi sebagai fase minyak.

Propilen glikol berfungsi sebagai humektan yang dapat menjaga kelembaban, baik kelembaban dari sediaan emulgel sendiri maupun kelembaban kulit saat emulgel diaplikasikan. Humektan bekerja dengan cara menarik air menuju stratum korneum (Lynde, 2001). Mekanisme propilen glikol sebagai

humektan adalah dengan cara membentuk ikatan hidrogen antara gugus –OH pada

propilen glikol dengan air yang terdapat pada lingkungan (Prankerd, 2004).

Tween 20 dan span 20 digunakan sebagai emulsifying agent. Kombinasi

emulsifying agent dipilih karena dapat menghasilkan tipe emulsi yang diinginkan,

yaitu M/A sesuai dengan proporsi tween dan span yang digunakan (Martin, et al.,

1993). Emulgel yang dibuat memiliki nilai HLB 11,84 (lampiran 4) yang

merupakan tipe emulsi M/A (Martin, et al., 1993).

Prinsip kerja kombinasi tween (hidrofilik) dan span (lipofilik) ini adalah bagian hidrokarbon molekul span berada dalam globul minyak dan radikal sorbitan berada dalam fase air. Kepala sorbitan dari molekul span mencegah ekor hidrokarbon bergabung erat dalam fase minyak. Ketika tween ditambahkan, senyawa ini akan mengarah pada antarmuka sehingga sebagian ekor

hidrokarbonnya berada pada fase minyak, sedangkan sisa rantainya, bersama dengan cincin sorbitan dan rantai polioksietilen berada dalam fase air. Rantai hidrokarbon molekul tween teramati berada dalam globul minyak di antara rantai

span, dan penyusunan ini menghasilkan gaya tarik-menarik Van der Waals yang

efektif. Dengan cara ini, lapisan antarmuka diperkuat dan stabilitas emulsi M/A

ditingkatkan melawan penggabungan partikel (Martin, et al., 1993).

Gambar 14. Skema droplet minyak pada emulsi minyak dalam air, menunjukkan arah molekul tween dan span pada antarmuka (Sinko, 2011).

Carbopol merupakan polimer sintetik dari asam akrilat dengan bobot

molekul tinggi. Rantai polimernya membentuk silang-menyilang (crosslinked)

dengan alil sukrosa atau alil pentaeritritol. Carbopol terdiri dari 52% – 68% gugus

asam karboksilat (COOH). Carbopol 940 digunakan sebagai gelling agent dengan

cocok dipilih sebagai gelling agent jika digunakan untuk menghasilkan viskositas yang tinggi pada konsentrasi rendah.

Carbopol dalam bentuk tidak terdispersi berbentuk serbuk putih yang

mengandung molekul rantai panjang dalam bentuk coil. Setelah mengalami reaksi

tertentu molekul akan menjadi uncoil yang menyebabkan viskositas meningkat

(Curteis, 1991). Secara umum, mekanisme pengentalan yang terjadi dimungkinkan melalui dua mekanisme sebagai berikut:

1. Metode ikatan hidrogen

Metode ini hanya dapat terjadi pada sistem pelarut polar karena sistem ini membutuhkan penggunaan pelarut yang dapat mendonorkan gugus

hidroksil. Hasil ikatan hidrogen antara gugus karboksil dari carbopol dan

gugus hidroksil dari pelarut akan menyebabkan molekul menjadi uncoil dan

terjadi kekentalan. Pelarut yang dapat digunakan pada metode ini terbatas seperti polihidroksi dan polietoksi seperti diol, triol dan poliol. Proses ini jauh lembih lambat dari metode netralisasi dimana membutuhkan waktu beberapa jam hingga pengentalan terjadi sempurna (Curteis, 1991).

Gambar 15. Gambaran skematis molekul carbopol dalam keadaan uncoil

2. Netralisasi

Metode ini dapat digunakan baik pada sistem dengan pelarut polar

maupun nonpolar (Curteis, 1991). Carbopol yang didispersikan ke dalam air

akan membentuk dispersi koloid asam dengan viskositas yang rendah. Ketika dinetralkan dengan basa, maka akan terbentuk gel yang sangat kental.

Bahan-bahan yang dapat digunakan dalam penetralan polimer carbopol adalah borax,

kalium hidroksida, natrium bikarbonat, natrium hidroksida dan amin organik

polar seperti trietanolamin (Rowe, et al., 2009).

Penelitian ini menggunakan metode netralisasi yaitu dengan

mendispersikan carbopol dalam air dan dinetralisasi dengan trietanolamin.

Carbopol merupakan polimer sintetik asam akrilik yang membentuk

cross-link sebagai berikut:

Gambar 16. Cross-link polimer asam akrilat dalam bentuk coil (sebelum kontak dengan air) (Noveon, 2008).

Carbopol termasuk dalam salah satu polimer sintetik yang pada saat

berbentuk serbuk memiliki struktur coil. Saat didispersikan dalam air,

carbopol akan mengembangkan rantai-rantai polimernya dan mulai terbentuk

Sebelum netralisasi, carbopol di dalam air akan ada dalam bentuk tak terion

pada pH sekitar 3 (Osborne and Amann, 1990).

Gambar 17. Cross-link polimer asam akrilat saat didispersikan dalam air (mulai terbentuknya sistem uncoil) (Noveon, 2008).

Penambahan basa trietanolamin membuat terjadinya netralisasi gugus

asam karboksilat membentuk garam yang larut (Osborne and Amann, 1990).

Netralisasi mengionisasi gugus karboksilat molekul carbopol sehingga

menghasilkan muatan negatif disepanjang backbone polimer dan terjadi gaya

tolak menolak elektrostatik yang menyebabkan molekul uncoil dan

meningkatkan viskositas dengan waktu reaksi yang cepat (Walters, 2007).

Gambar 18. Cross-link polimer asam akrilat dalam bentuk uncoil setelah netralisasi (Noveon, 2008).

Preservative yang digunakan pada pembuatan emulgel ini adalah kombinasi metil paraben dan propil paraben. Kombinasi ini dimaksudkan untuk menghasilkan efek pengawet sediaan yang lebih efektif. Konsentrasi metil

paraben untuk penggunaan topikal adalah 0,02-0,3%, sedangkan propil paraben

0,01-0,6% (Rowe, et al., 2009).

Faktor yang akan dilihat pengaruhnya adalah kecepatan putar mixer pada

proses pencampuran (emulsifikasi, penambahan carbopol 940 dan penambahan

trietanolamin). Variasi kecepatan putar yang digunakan adalah 100, 300, 500 700, 900 rpm.

C. Pengamatan Organoleptis Emulgel

Pengamatan organoleptis dilakukan untuk melihat penampilan fisik dari sediaan emulgel yang dibuat, meliputi bentuk, warna dan bau. Seluruh formula emulgel ekstrak kulit buah manggis yang dibuat berbentuk semisolid, berbau khas ekstrak kulit buah manggis dan berwarna kuning kecoklatan. Pada kecepatan putar

100 rpm diperoleh sediaan yang tidak acceptable dikarenakan adanya carbopol

yang belum bercampur homogen. Pada kecepatan putar 300 rpm carbopol telah

bercampur homogen. Semakin meningkatnya kecepatan putar memberikan penampilan emulgel yang semakin halus dan merata.

D. Uji pH Emulgel

Sediaan emulgel yang dibuat perlu dilakukan uji pH untuk menghindari terjadinya iritasi pada kulit sehingga aman dan nyaman saat digunakan. Pengujian dilakukan menggunakan indikator kertas pH universal. Emulgel pada penelitian

ini memiliki pH 5-6 dimana masuk dalam rentang pH fisiologis kulit yaitu 4,5 –

6,5 (Tranggono dan Latifah, 2007) sehingga tidak mengiritasi kulit.

E. Uji Sterilitas Emulgel

Uji sterilitas dilakukan untuk memastikan sterilitas dari sediaan emulgel yang telah dibuat. Sediaan obat jerawat perlu dilakukan steriliasi agar menjadi sediaan yang steril karena terdapat kemungkinan obat jerawat tersebut akan dioleskan pada kulit yang mengalami luka terbuka akibat pecahnya jerawat. Sediaan yang ditujukan untuk penggunaan luka terbuka pada kulit adalah sediaan

steril (Benson and Watkinson, 2012). Sterilisasi akan membuat sediaan bebas dari

kontaminan bakteri sehingga saat sediaan digunakan sebagai obat jerawat tidak

Dokumen terkait