BAB IV PENERAPAN MANAJEMEN KELAS DI SMP NEGERI 02
B. Penerapan Manajemen Kelas di SMP Negeri 02 Bajeng Barat
57
Berdasarkan hasil wawancara beberapa guru SMP Negeri 02 Bajeng Barat dapat disimpulkan bahwa secara umum guru-guru SMP Negeri 02 Bajeng Barat telah mengetahui konsep manajemen kelas, hal ini didasarkan dari yang dikemukakan para guru mengarah pada manajemen kelas bukan hanya semata-mata pengaturan fisik kelas tetapi juga pengaturan peserta didik dan peran guru sebagai manajer dalam kelas. Senada dengan pendapat Zahara yang mengatakan bahwa manajemen kelas adalah usaha sadar yang dilakukan guru dalam mempersiapkan pembelajaran, sarana dan alat peraga, pengaturan ruang kelas, menciptakan proses pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikulum tercapai secara efisien dan efektif.5
Erwinsyah juga berpendapat bahwa manajemen kelas merupakan upaya mengelola peserta didik di dalam kelas yang dilakukan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang menunjang program pengajaran dengan jalan menciptakan dan mempertahankan motivasi peserta didik untuk selalu ikut terlibat dan berperan serta dalam proses pendidikan di sekolah.6 Kemudian Yakin mengatakan bahwa manajemen kelas adalah keterampilan guru sebagai pemimpin sekaligus manajer dalam menciptakan iklim kelas yang kondusif untuk meraih keberhasilan kegiatan belajar-mengajar.7
1. Kondisi Belajar Mengajar
Kondisi belajar mengajar yang diharapkan tercipta di dalam kelas adalah kondisi yang kondusif sehingga pada proses belajar mengajar dapat tercapai tujuan pembelajaran secara efisien dan efektif. Adapun kondisi belajar mengajar
5 Mona Zahara, “Implementasi Manajemen Kelas dalam Proses Pembelajaran di SMP Al-Azhar 3 Way Halim Bandar Lampung”, Skripsi, (Lampung: UIN Raden Intan Lampung), h.33.
6 Alfin Erwinsyah, “Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektivitas Proses Belajar Mengajar”, Jurnal TADBIR: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. V, No. 2, h. 90.
7 Ahmad Al Yakin, “Manajemen kelas di Era Industri 4.0”,
di SMP Negeri 02 Bajeng Barat dapat diketahui dari hasil wawancara peneliti dengan beberapa guru, diantaranya guru wali kelas VIII B dan yang mengatakan bahwa:
Kalau dulu guru menyukai kelas yang tidak gaduh sekarang guru dituntut untuk menerapkan kembali filosofi Ki Hajar Dewantara yang menganut 3 semboyang, yaitu: di depan kita menuntun, kemudian memberi semangat serta memberikan dorongan dari belakang. Jadi itulah yang saat ini saya terapkan di kelas, Jadi, sekarang guru hanya menuntun dan peserta didik dibebaskan berkreasi.
Kemudian hasil wawancara dengan guru bidang studi Matematika yang mengatakan bahwa:
Kondisi kelas saya saat pembelajaran berlangsung adalah saya berusaha menghidupkan pembelajaran yang menarik apalagi pelajaran yang saya ajarkan adalah Matematika, biasanya saya menggunakan video, kemudian membagi kelompok. Pada saat pembelajaran saya biasanya memberikan motivasi dan menanamkan bahwa matematika itu mudah dan dekat dengan keseharian kita sehingga peserta didik terpacu untuk belajar.
Selain hasil wawancara beberapa guru di atas peneliti juga melakukan triangulasi teknik dengan memvalidasi hasil wawancara tersebut dengan melakukan observasi saat guru mengajar di kelas.
Gambar 4.1. Guru memberikan motivasi kepada peserta didik
Pada gambar 4.1 dapat diketahui bahwa seperti yang dikatakan pada sesi wawancara bahwa beliau berusaha menghidupkan pembelajaran sehingga peserta
59
didik tertarik untuk belajar, pada saat observasi beliau di dalam kelasnya saat akhir pembelajaran menanyakan kembali bagaimana perasaan peserta didik dalam belajar hari ini, hal ini merupakan selain bentuk interaksi antara peserta didik dengan guru juga menjadi bahan evaluasi untuk pembelajaran selanjutnya, terkait hal apa yang disukai dan tidak disukai peserta didik pada kelas tersebut.
Salah satu strategi untuk menciptakan pembelajaran yang aktif adalah dengan menciptakan pembelajaran yang bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran yang beragam. Adapun metode pembelajaran yang diterapkan guru SMP Negeri 02 Bajeng Barat dapat diketahui dari hasil wawancara peneliti dengan beberapa guru, di antaranya guru bidang studi Matematika yang mengatakan bahwa:
“Metode pengajaran disesuaikan dengan materi yang diajarkan, terkadang kelompok, kadang juga penyelesaian soal di papan tulis karena saya guru bidang studi Matematika.”
Selanjutnya hasil wawancara dengan guru wali kelas VIII B yang mengatakan bahwa:
Saya sekarang sedang pendidikan guru penggerak, dimana sekarang kita harus menerapkan pembelajaran merdeka belajar, guru bukan lagi sebagai teacher centre tapi harus student centre harus berpusat pada peserta didik, berpihak pada peserta didik kemudian harus melakukan sekolah ramah anak, tidak ada lagi punishment yang berbentuk kekerasan tapi guru di sini bertugas sebagai among, menuntun bukan lagi menuntut. Dulu kan seperti ini guru masuk ke kelas dan mengatakan “coba diam semua”, “perhatikan kemari”, kalau sekarang tidak boleh lagi seperti itu, nah itu yang sekarang saya terapkan, saat masuk ke kelas saya terlebih dahulu senyum, salam, sapa, kemudian lebih ke mereka yang mengembangkan, saya sebagai guru hanya mengarahkan selebihnya mereka yang berkolaborasi.
Kemudian hasil wawancara dengan guru wali kelas VIII C yang mengatakan bahwa:
Kalau saya ceramah kemudian diskusi karena saya mengajar bidang studi IPS sehingga kebanyakan diskusi dan bercerita, jika terdapat kesempatan biasanya saya memberikan eksperimen seperti terkait jual beli, ataupun materi yang dapat dilakukan dengan kegiatan lapangan.
Selanjutnya hasil wawancara dengan guru bidang studi Seni Budaya yang mengatakan bahwa:
Biasanya metode praktek, dan ceramah karena bidang studi yang saya ajarkan adalah seni budaya sehingga kebanyakan praktek yang saya berikan. Apalagi seperti seni tari biasanya di luar kelas atau menggambar alam sekitar biasanya saya arahkan peserta didik untuk keluar belajar.
Selain hasil wawancara beberapa guru di atas peneliti juga melakukan triangulasi teknik dengan memvalidasi hasil wawancara tersebut dengan melakukan observasi saat guru mengajar di kelas.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi beberapa guru SMP Negeri 02 Bajeng Barat dapat diketahui bahwa metode pembelajaran yang diterapkan guru cukup beragam dengan mengkondisikan dengan materi yang diajarkan pada saat pembelajaran. Hal ini dapat terjadi karena para guru juga menerapkan prinsip keluwesan dalam manajemen kelas. Berdasarkan observasi yang dilakukan, peneliti memasuki kelas IX A di pagi hari dan memasuki kelas IX C di kelas siang hari dengan guru yang sama, maka guru bersikap luwes terhadap peserta didik yang dihadapi. Saat pembelajaran di kelas IX A berlangsung maka terlihat guru tersebut dapat melakukan pembelajaran yang berjalan dengan lancar dengan
Gambar 4.2: Metode praktek guru Seni Budaya
Gambar 4.3: Metode ceramah guru IPS
61
metode kerja kelompok. Hal tersebut terjadi dikarenakan peserta didik masih bersikap kooperatif sehingga guru dapat dengan baik memanajemen kelasnya.
Berbeda saat guru tersebut mengajar di kelas IX C pada siang hari. Peserta didik tidak bersikap kooperatif dalam belajar sehingga beberapa kali guru mengembalikan titik fokus mereka dan akibatnya kelas tidak dapat diterapkan metode yang sama pada kelas sebelumnya sehingga guru bersikap luwes dengan tidak memaksakan untuk membentuk kelompok dan menantang peserta didik mengerjakan soal yang berskala tinggi, sehingga guru mengambil tindakan untuk mengubah metode belajar dengan tetap hangat dan antusias dalam mengajar.
Gambar 4.5. Kondisi kelas IX A Gambar 4.4 Kondisi Kelas IX C
Pada gambar tersebut terlihat kondisi kelas IX A yang diberlakukan metode kelompok sedangkan pada gambar tersebut dengan guru yang sama terlihat penggunaan metode yang berbeda dan terlihat guru lebih hangat dan antusias memberikan pembelajaran guna mengembalikan titik fokus peserta didik sehingga dapat terlihat bahwa penerapan prinsip keluwesan juga diterapkan di SMP Negeri 02 Bajeng Barat.
Tindakan yang dilakukan guru tersebut sejalan dengan prinsip manajemen kelas. Sulaeman menjelaskan bahwa untuk mengembangkan kondisi kelas yang kondusif, guru dapat menerapkan prinsip-prinsip manajemen kelas, seperti hangat dan antusias, menciptakan pembelajaran yang menantang, adanya variasi dalam metode pengajaran, bertindak secara luwes, menanamkan hal positif pada peserta didik serta menjadi guru yang dapat diteladani para peserta didik.8 Senada dengan pendapat Djamarah dalam Warsono yang mengemukakan beberapa prinsip manajemen kelas diantaranya: (a) hangat dan antusias, (b) tantangan, (c) bervariasi, (d) keluwesan, (e) penekanan hal positif dan (f) peranan kedisiplinan.9
Selain itu, juga selaras dengan pendapat Karwati dalam Pujiman yang mengatakan bahwa dalam pelaksanaan manajemen kelas yang baik terdapat prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan sebagai berikut: sikap guru yang hangat dan antusias, pembelajaran yang menantang, variasi pembelajaran, keluwesan guru dalam bertindak, penekanan pada hal positif, dan penanaman kedisiplinan dalam setiap perilaku peserta didik.10
8 Sulaiman, “Classroom Management: Learners’ Motivation and Organize the Learning Environment of PAI” Ar Raniry Int. J. Islam. Stud. Vol 4, No. 2, 2018.
9 Sri Warsono, “Pengelolaan Kelas dalam Meningkatkan Belajar Peserta Didik”, Jurnal Manajemen Pendidikan,vol. 10 no.5(2016), h.470.
10 Pujiman, Dkk. “Penerapan Prinsip Manajemen Kelas dan Pengaruhnya terhadap motivasi kelas dan pengaruhnya terhadap motivasi belajar peserta didik di Sekolah Dasar”, Jurnal Pendidikan Ilmiah, Vol 7 No.2, 2021. h. 125.
63
Adapun pendekatan yang diterapkan guru-guru di SMP Negeri 02 Bajeng Barat dapat diketahui dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti. Diantaranya wawancara dengan guru bidang studi Matematika. Beliau mengatakan bahwa:
Pendekatan manajemen kelas dari segi bahasanya adalah sebuah teori tertentu yang diadopsi untuk melakukan manajemen, seperti dalam pembelajaran ada pendekatan langsung dan tidak langsung dan yang sering saya lakukan di kelas adalah memberikan rasa nyaman kepada peserta didik saat belajar sehingga mereka tertarik untuk mengikuti pembelajaran.11
Wali kelas VIII B, beliau juga mengatakan bahwa:
Kalau berbicara tentang pendekatan manajemen kelas secara umum bagaimana guru mengatur kelasnya, dituntut untuk mengatur baik dari segi fisik dan bagaimana guru melakukan proses pembelajaran di kelas. kalau sekarang itu guru dituntut untuk menerapkan pendidikan dengan profil pancasila, harus inovatif, mampu menalar kritis dan guru tidak bisa memaksakan peserta didik sesuai keinginannya karena mereka punya karakter sendiri-sendiri jadi pendekatan yang digunakan lebih ke ramah anak.12
Selanjutnya wawancara dengan guru bidang studi IPS sekaligus wali kelas VIII A, beliau mengatakan bahwa:
Setiap peserta didik memiliki karakter yang berbeda jadi pendekatan yang diterapkan juga menyesuaikan dengan karakter tersebut, misalnya ada peserta didik yang tidak bisa dipaksa untuk cepat-cepatan sehingga kami guru harus mengerti kalau peserta didik tersebut harus tetap diarahkan dan dituntun.13
Selanjutnya wawancara dengan guru bidang studi Seni Budaya, beliau mengatakan bahwa:
Pendekatan yang saya lakukan saat mengajar adalah mencoba mendekatkan diri dengan peserta didik sehingga hubungan baik saya dengan peserta didik dapat terjalin dengan baik, saat ada hubungan emosional antar peserta didik dengan guru maka kelas dapat dikendalikan,
11 Guru Bidang Studi Matematika, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 1 Juli 2022.
12 Wali Kelas VIII B, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 1 Juli 2022.
13 Guru Wali Kelas VIII C, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 2 Juli 2022.
apalagi yang saya ajarkan adalah seni sehingga rasa nyaman di dalam kelas harus tercipta14
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dapat diketahui bahwa di dalam mengajar guru menerapkan pendekatan dalam mengajar, terdapat guru yang melakukan pendekatan sosio emosional, kerja kelompok, perubahan tingkah laku, dan pendekatan kebebasan. Hal ini diperkuat dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti dengan melihat bahwa guru bidang studi Matematika saat melakukan proses pembelajaran menerapkan pendekatan kerja kelompok. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengerjakan soal yang diberikan kemudian memaparkan di depan kelas hasil penyelesaian soal yang diberikan. Hal ini senada dengan pendapat Nurmalasari yang mengatakan bahwa pendekatan kerja kelompok dalam manajemen kelas memandang peran guru sebagai pencipta terbentuknya kelompok belajar yang berada di dalam kelas.15
Gambar 4. 6. Guru Berusaha Mengalihkan perhatian peserta didik Berdasarkan gambar 4.6. didapatkan informasi bahwa seorang guru mengalihkan perhatian peserta didik dengan memanggil peserta didik yang tidak fokus dalam belajar untuk ke depan menyampaikan apa yang diketahui selama
14 Guru Seni Budaya, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 2 Juli 2022.
15 Muldiyana Nugraha, “Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran”, Jurnal Tarbawi, Vol. IV, No. 1, 2018, h.32
65
proses pembelajaran. Hal serupa juga dilakukan oleh guru lain yang dapat dilihat pada gambar 4.5 berikut.
Gambar 4.7. Guru mendatangi peserta didik yang mengganggu temannya Berdasarkan dokumentasi tersebut didapatkan informasi bahwa seorang guru mendekati peserta didik yang tidak perhatian terhadap pembelajaran, guru berusaha mengingatkan kontrak pembelajaran yang disepakati agar peserta didik tersebut bisa kembali fokus mengikuti pembelajaran. Pada saat observasi tersebut terlihat guru yang bersangkutan beberapa kali mendatangi peserta didik untuk tetap kembali memperhatikan pembelajaran.
Tindakan guru tersebut sejalan dengan pendapat Agung dalam Kurniawan, yang mengatakan bahwa ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikan suasana menjadi kondusif agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.16 Sejalan dengan itu menurut pandangan permissive yang memusatkan perhatian pada usaha, dikemukakan tiga pandangan mengenai pendekatan manajemen kelas yaitu: Pendekatan perubahan tingkah laku (Behavior Modification Approach), Pendekatan penciptaan iklim Sosio-emosional (Socio
16 Kurniawan, Dkk. “Strategi Guru dalam Mengelola Kelas di Sekolah Dasar”, International Journal of Elementary, Vol. 3 No. 4, 2019, h. 441
Emosional Climate Approach), Pendekatan proses kelompok (Group Processes Approach). 17
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti dapat diketahui bahwa pendekatan yang digunakan para guru SMP Negeri 02 Bajeng Barat cukup beragam dan menyesuaikan dengan keadaan kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi kelas adalah faktor non fisik kelas seperti suara guru, tipe kepemimpinan guru dan sikap guru. Adapun volume suara guru SMP Negeri 02 Bajeng Barat dapat diketahui dari wawancara yang dilakukan peneliti. Diantaranya wawancara dengan guru bidang studi Matematika yang mengatakan:
Suara saya termasuk kecil karena saya tidak suka berteriak karena sering mengalami tenggorokan kering jadi saat mengajar saya menggunakan pengeras suara portable sehingga dapat membantu saya saat mengajar.18 Kemudian hasil wawancara dengan wali kelas VIII B yang mengatakan bahwa:
Suara saya saat mengajar itu memiliki volume yang cukup besar sehingga saat saya menjelaskan fokus peserta didik hanya mengarah ke sumber suara sehingga peserta didik yang di belakang pun dapat mendengar materi yang disampaikan.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa suara guru mempengaruhi pembelajaran yang sedang berlangsung dan juga penerapan manajemen kelas.
Selain suara guru, sikap guru juga menjadi faktor penentu kondisi pembelajaran di dalam kelas. Hal ini diketahui dari hasil observasi peneliti di kelas VIII B terlihat seorang guru mengabaikan peserta didik yang sedang
17 Isnanto, Dkk. “Pengendalian Tingkah Laku Peserta Didik melalui Pendekatan Manajemen Kelas”, Jambura Journal of Educational Management, Vol 1 No 1 2020. Hl
18 Guru Matematika, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 2 Juli 2022.
67
bercakap dengan temannya lewat jendela sehingga peserta didik lain ikut terganggu dengan keadaan tersebut.
Berbeda dengan keadaan kelas IX C yang pada saat observasi dilakukan terlihat guru bidang studi Matematika mengendalikan kelasnya dari peserta didik yang kurang perhatian dengan pembelajaran dengan beberapa kali menegur peserta didik tersebut untuk tidak mengganggu temannya akan tetapi peserta didik tersebut mengabaikan teguran tersebut. Melihat keadaan tersebut guru yang sedang mengajar mengambil sikap untuk mendekati peserta didik tersebut dan melakukan komunikasi interpersonal atas apa yang mengganggunya. Adanya sikap yang ditunjukkan guru tersebut dapat diketahui bahwa guru tersebut dapat mengatasi permasalahan yang terjadi pada saat kelas berlangsung.
Selain observasi hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru bidang studi Matematika setelah kelas berlangsung yang mengatakan bahwa:
Seperti itulah keadaan kelas saat belajar, kita tidak dapat memastikan bahwa kelas akan sama kondusifnya setiap hari karena banyak faktor yang mengakibatkan peserta didik tidak mengikuti pembelajaran dengan baik, entah itu karena faktor internal peserta didiknya atau karena faktor guru itu sendiri. Jika tindakan saya tadi bersikap mengancam terhadap peserta didik bisa dipastikan kelas menjadi tegang dan makin membuat kelas tidak kondusif, jadi menjadi guru itu adalah belajarnya setiap hari karena menghadapi peserta didik juga setiap hari.
Berdasarkan hasil observasi tersebut dapat diketahui bahwa sikap guru merupakan salah satu faktor penentu efektif atau tidaknya penerapan manajemen kelas.
2. Hubungan antara Guru dengan Peserta Didik
Manajemen kelas yang baik dapat pula ditinjau dari interaksi guru dengan peserta didik di dalam kelas. Pola komunikasi dan interaksi yang dibangun antara guru dengan peserta didik dapat memberikan pengaruh pada tingkat efisiensi kelas sehingga peserta didik dapat memahami pembelajaran dengan baik. Terkait
interaksi guru dengan peserta didik dapat diketahui dari hasil wawancara peneliti dengan guru bidang studi Matematika yang mengatakan bahwa:
Saat pembelajaran berlangsung, jika saya mengkondisikan pembelajarannya tidak langsung maka saya akan meminta feedback peserta didik atau tanggapannya terhadap pembelajaran, dan akhir-akhir ini saya menggunakan media pembelajaran audiovisual cuman beberapa anak tidak merespon hal tersebut walaupun masih ada juga beberapa yang merespon, jadi harapannya mereka lebih banyak mengembangkan materi yang diberikan. Adapun komunikasi interpersonal biasanya saya lakukan adalah mendekati peserta didik yang mengerjakan soal maupun yang tidak fokus dan menanyakan apa kendala yang dihadapi juga memberikan motivasi dan dorongan kepada peserta didik untuk open minded mempelajari matematika lalu menanamkan pada pikiran mereka bahwa Matematika mudah untuk dipahami.19
Selanjutnya hasil wawancara dengan wali kelas VIII B yang mengatakan bahwa:
Beberapa waktu pembelajaran berlangsung daring maka interaksi antara guru dengan peserta didik itu terbatas sehingga guru memiliki sekat antara peserta didik dan baru saat ini kembali meraba karakter peserta didik seperti apa tapi alhamdulillah sekarang sudah tatap muka jadi mulai kembali membangun hubungan interpersonal dengan peserta didik dan sebenarnya lingkungan keluarga itu berpengaruh, hubungan orang tua dengan anaknya harus terjalin juga dengan baik sehingga kami para guru dapat berkoordinasi dengan orang tua peserta didik saat anaknya mengalami hambatan dan kendala saat belajar, karena sering terjadi orang tua dihubungi untuk datang ke sekolah tetapi sering diabaikan jadi kami juga para guru kesulitan koordinasi dengan mereka. Bahkan pada saat perwalian saya ada yang bermasalah saya sampai ke kunjungan rumah peserta didik bersama guru BK untuk mengetahui apa kendala yang selama ini peserta didik tersebut rasakan sehingga jarang hadir di sekolah.20
Selanjutnya hasil wawancara dengan wali kelas VIII C yang mengatakan bahwa:
Kalau komunikasi khususnya saya sebagai wali kelas, umumnya kalau ada peserta didik yang bermasalah dan itu berat biasanya langsung ditangani guru BK tetapi kalau hanya pelanggaran ringan, diperingatkan dulu, mencoba untuk membangun kedekatan sehingga dapat diketahui kendala apa yang dialami peserta didik tersebut.21
Berdasarkan hasil wawancara beberapa guru dapat diketahui bahwa interaksi antara guru dengan peserta didik di dalam kelas cukup terjalin dengan
19 Guru Bidang Studi Matematika, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 1 Juli 2022.
20 Wali Kelas VIII B, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 1 Juli 2022.
21 Wali Kelas VIII C, Wawancara di SMP Negeri 02 Bajeng Barat, 2 Juli 2022.
69
baik hal ini ditandai bahwa guru mendekati peserta didik secara personal saat di dalam proses pembelajaran peserta didik menunjukkan perilaku baik ataupun sebaliknya dan adapun guru sebagai wali kelas selain menjalin hubungan interpersonal antar peserta didik juga menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua peserta didik untuk mengetahui indikasi yang menjadikan peserta didik berperilaku negatif. Hal ini dapat dilihat pada dokumentasi peneliti sebagai berikut.
Gambar 4.8 Guru mendekati peserta didik
Kesimpulan di atas juga diperkuat dengan hasil observasi yang dilakukan peneliti. Diketahui bahwa guru sebagai komunikator membangun komunikasi yang mudah dipahami oleh karenanya peserta didik dapat memaknai pesan yang disampaikan guru. Guru bukan hanya membangun kedekatan pada saat menyampaikan pembelajaran saja tetapi diakhir pembelajaran membangun kedekatan dengan menanyakan perasaan selama pembelajaran berlangsung juga menanyakan kendala yang dihadapi. Sikap yang dihadirkan guru membuat peserta didik memiliki kedekatan dengan guru. Guru tidak hanya sebagai sumber belajar tetapi sebagai orang tua di sekolah.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Iriantara dalam Inah yang mengatakan bahwa guru memiliki peran ganda diantaranya sebagai guru, guru
sebagai orang tua, guru sebagai teman sejawat belajar.22 Guru sebagai orang tua menjadi tempat mencurahkan perasaan peserta didik, tempat mengadu sehingga peserta didik merasa aman dan nyaman ketika saat bersama guru bahkan merasa rindu jika tidak bertemu guru. Interaksi guru dan peserta didik bagaikan hubungan orang tua dan anak. Hangat, akrab, harmonis, dan tulus. Hamid juga berpendapat bahwa sikap guru terhadap peserta didik terdapat dalam kode etik guru Indonesia yang pada prinsipnya guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari memiliki prinsip membimbing dan membentuk manusia Indonesia seutuhnya.23
Tantangan dalam menjalin hubungan baik dengan peserta didik dirasakan oleh guru. Pasca pandemi kedekatan guru dengan peserta didik terbagi menjadi dua jenis, yaitu guru yang memiliki kedekatan dengan peserta didik dengan taraf tidak memiliki sekat antara guru dengan peserta didik membentuk peserta didik yang kurang sopan dalam berinteraksi dengan gurunya. Hal ini dapat diketahui dari hasil wawancara yang dilakukan dengan guru bidang studi Biologi, yang mengatakan bahwa:
“Peserta didik sekarang itu beda dengan masa sebelumnya, dulu itu peserta didik tidak berani masuk ke ruang guru bahkan sekadar lewat saja di koridor ruang guru segan, sedangkan sekarang peserta didik seperti tidak memiliki batasan dengan gurunya karena saat berpapasan saja di koridor kelas sudah tidak ada “budaya tabe” bahkan berani duduk di atas meja saat guru masih ada di dalam kelas”
Penyebab kondisi tersebut terjadi adalah karena para guru menerapkan pembelajaran kebebasan dan pembelajaran berpusat kepada peserta didik sehingga peserta didik merasa dekat dengan guru sehingga menjadikan guru sebagai teman.
Di sisi lain menguntungkan kedua pihak karena dapat membangun kedekatan sehingga pembelajaran mudah dipahami peserta didik sedangkan di sisi lain
22 Ety Nur Inah, “Peran Komunikasi dalam Interaksi Guru dan Peserta Didik”, Jurnal Al-Ta’dib, Vol.8 No.2, Juli 2015, h.153
23 Abdul Hamid, “Guru Profesional”, Jurnal Al-Falah, Vol 17 No. 32, 2017, h. 282