• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3. Pengujian Hipotesis dan Analisa Regresi Logit

4.3.1 Pengujian Hipotesis

4.3.1.2. Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)

Pengujian regresi logistik juga akan diuji terhadap ketepatan antara prediksi model regresi logistik dengan data hasil pengamatan yang dinyatakan

Hosmer and Lemeshow Test

1.720 8 .988

Step 1

memastikan tidak adanya kelemahan atas kesimpulan dari model yang diperoleh. Pengujian overall model fit ini dilakukan dengan menggunakan pengujian terhadap nilai –2 log likelihood. Nilai –2 log likelihood yang rendah menunjukkan bahwa model akan semakin fit.

Tabel 4.8. Kelayakan Model (Goodness Of fit)

Uji Likehood Nilai

-2 log likelihood Awal (Block Number 0) 36.170 -2 log likelihood Awal (Block Number 1) 18.307 Sumber : data diolah

Berdasarkan tabel di atas diperoleh bahwa pengujian pada blok 0 atau pengujian dengan tidak memasukkan seluruh prediktor diperoleh nilai –2 log likelihood sebesar 36.170. Nilai tersebut tidak mengalami penurunan rendah yang menunjukkan sebagai model yang belum dapat menjelaskan hubungan variabel bebas dan variabel terikatnya.

Sedangkan pada blok 1 setelah memasukkan variabel ke dalam model diperoleh nilai -2 log likelihood sebesar 18.307. Hal ini menunjukkan ada penurunan nilai -2 log likelihood yang cukup besar yang memungkinkan akan semakin adanya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatnya. Penentuan nilai -2 log likelihood tersebut disajikan dalam nilai chi square dalam omnibus test of model coefficient. Uji kemaknaan koefisien regresi secara keseluruhan (overall model) dari 2 prediktor secara keseluruhan dilakukan dengan menggunakan omnibus test of model coefficient.

Hasil pengujian omnibus test diperoleh nilai chi square (penurunan nilai - 2 log likelihood) sebesar 17.863 dengan signifikansi sebesar 0,003. Dengan nilai signifikansi yang < dari 0,05 tersebut maka dapat disimpulkan bahwa secara

bersama-sama financial distress dapat diprediksi oleh ke 2 prediktor dalam model. Pengujian hipotesis pertama yang dilakukan adalah menilai kelayakan model regresi logistik yang akan digunakan.

4.3.1.3. Menilai Koefisien Deter minasi (Nagelker ke R Square)

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar variabilitas variabel-variabel independen mampu memperjelas variabilitas variabel dependen. Besarnya nilai koefesien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square. Nilai Nagelkerke R Square dapat diinterpretasikan seperti nilai R Square pada regresi berganda (Ghozali, 2006). Nilai ini didapat dengan cara membagi nilai Cox & Snell R Square dengan nilai maksimumnya. Sebagai berikut :

Tabel 4.9. Koefisien Determinasi

Sumber : data diolah

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa nilai Cox and Snell R Square sebesar 0,317 dan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,599 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabilitas variabel independen sebesar 59,9% sedangkan sisanya sebesar 40,1% dipengaruhi oleh faktor - faktor lain di luar variabel yang diteliti.

Model Summary 17.863a .317 .599 Step 1 -2 Log likelihood

Cox & Snell R Square

Nagelkerke R Square

Estimation terminated at iteration number 9 because parameter estimates changed by less than .001. a.

4.3.1.4. Uji Koefisien Regresi

Pengujian koefisien regresi dapat diilakukan dengan regresi logistik yang hasilnya terdapat pada tabel berikut:

Tabel 4.10. Koefisien Regresi

Sumber : data diolah

Hasil pengujian terhadap koefisien regresi menghasilkan model berikut : Ln

P P

1 =-5.205+0.054ROA-0.003ROE-0.251DER+12.072DAR+0.012CR Dari persamaan tersebut dapat dijelaskan bahwa :

β0 = Konstanta = -5.205

Apabila variabel ROA (X1), ROE (X2), DER (X3), DAR (X4), dan CR (X5) adalah konstan atau sama dengan nol, maka financial distress (Y) adalah sebesar -5.205.

β1 = Koefisien untuk X1 = 0.054

Apabila likuiditas yang diproksikan dengan return on asset (X1) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan tidak menerima financial distress turun sebesar 0,054 satuan. Secara statistik X1 tidak signifikan karena tingkat

Variables in the Equation

.054 .053 1.027 1 .311 1.055 -.003 .012 .084 1 .771 .997 -.251 .124 4.101 1 .043 .778 12.072 5.339 5.113 1 .024 174847.6 .012 .012 .949 1 .330 1.012 -5.205 2.795 3.467 1 .063 .005 X1 X2 X3 X4 X5 Constant Step 1a

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Variable(s) entered on step 1: X1, X2, X3, X4, X5. a.

signifikansi sebesar 0,311 lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh likuiditas terhadap financial distress.

β2 = Koefisien untuk X2 = -0.003

Apabila likuiditas yang diproksikan dengan return on equity (X2) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan tidak menerima financial distress turun sebesar -0,003 satuan. Secara statistik X2 tidak signifikan karena tingkat signifikansi sebesar 0,771 lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh likuiditas terhadap financial distress.

β3 = Koefisien untuk X3 = -0.251

Apabila likuiditas yang diproksikan dengan debt to equity ratio (X3) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan tidak menerima financial distress turun sebesar -0,251 satuan. Secara statistik X3 tidak signifikan karena tingkat signifikansi sebesar 0,043 lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh likuiditas terhadap financial distress.

β4 = Koefisien untuk X4 = 12.072

Apabila likuiditas yang diproksikan dengan debt to asset ratio (X4) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan tidak menerima financial distress naik sebesar 12.072 satuan. Secara statistik X4 signifikan karena tingkat signifikansi sebesar 0,024 lebih besar dari 0,05, yang berarti berpengaruh likuiditas terhadap financial distress .

β5 = Koefisien untuk X5 = 0.012

Apabila likuiditas yang diproksikan dengan current ratio (X5) naik sebesar satu satuan, log probabilitas perusahaan tidak menerima financial distress turun sebesar 0,012 satuan. Secara statistik X5 tidak signifikan karena tingkat signifikansi sebesar 0,330 lebih besar dari 0,05, yang berarti tidak ada pengaruh likuiditas terhadap financial distress.

Hasil pengujian koefisien regresi telah menunjukkan bahwa kelima variabel independen dalam penelitian ada dan tidak ada berpengaruh signifikan terhadap financial distress pada perusahaan textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikemukakan maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

4.4.1. Pengaruh ROA Perusahaan Terhadap Financial Distress

Hipotesis yang dikemukakan adalah ROA berpengaruh positif terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang go publik di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ROA terhadap financial distress adalah tidak berpengaruh.

Semakin kecil ROA suatu financial distress, semakin kecil pula tingkat keuntungan yang dicapai financial distress tersebut dan semakin baik pula posisi financial distress tersebut dari segi penggunaan aset. dengan demikian semakin tinggi asset financial distress dialokasikan pada pinjaman dan semakin rendah

rasio permodalan, maka kemungkinan dalam perusahaan untuk gagal akan semakin meningkat; sedangkan semakin rendah ROA maka kemungkinan akan financial distress gagal akan semakin besar. Alasan yang cukup mendasar atas diperolehnya hasil yang tidak signifikan adalah bahwa nampaknya kondisi keuangan yang agak memprihatinkan dari suatu perusahaan, akan menjadikan sinyal atau early warning (peringatan dini) bagi perusahaan bahwa mereka dapat mengalami tekanan keuangan atau financial distress pada 1 tahun ke depan.

Penelitian ini di dukung uga oleh Husnan (1998) mengatakan bahwa semakin besar Return on Asset menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat kembalian (return) semakin besar. Apabila Return on Asset meningkat, berarti profitabilitas perusahaan meningkat, sehingga dampak akhirnya adalah peningkatan profitabilitas yang dinikmati oleh pemegang saham. Dengan demikian, semakin tinggi rasio ROA maka semakin rendah kemungkinan terjadinya financial distress pada perusahaan. Sebaliknya semakin rendah rasio ROA menunjukkan kinerja keuangan yang tidak baik dimana perusahaan tidak mampu mengoptimalkan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan sehingga profitabilitas menurun dan kemungkinan terjadinya financial distress semakin besar.

4.4.2. Pengaruh ROE Per usahaan Ter hadap Financial Distress

Hipotesis yang dikemukakan adalah ROE berpengaruh positif terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang go publik di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ROE terhadap financial distress adalah tidak berpengaruh.

Hal ini didukung oleh penelitian Menurut Luciana Spica Almilia dan Winny Herdiningtyas (2005) rasio ROE digunakan untuk mengukur kinerja manajemen financial distress dalam mengelolah modal yang tersedia untuk menghasilkan laba setelah pajak. Semakin besar ROE, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai financial distress sehingga kemungkinan suatu perusahaan dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Laba setelah pajak adalah laba bersih dari kegiatan operasional setelah dikurangi pajak sedangkan rata-rata total ekuitas adalah rata-rata modal inti yang dimiliki bank, perhitungan modal inti dilakukan berdasarkan ketentuan kewajiban modal minimum yang berlaku.

Berdasarkan kondisi tersebut pada perusahaan textile dan garment bahwa semakin tinggi ROE menunjukkan semakin tinggi perusahaan menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan laba atau keuntungan bersih. Dan jika semakin rendah rasio ini maka, kemungkinan suatu perusahaan dalam kondisi bermasalah. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa ROE berpengaruh tidak berpengaruh terhadap kondisi financial distress perusahaan.

Atau dengan kata lain penggunaan modal sendiri jauh lebih kecil untuk menghasilkan laba setelah pajaknya. Hal ini berarti menunjukkan bahwa perusahaan yang tidak mengalami memilki tingkat pengembalian tinggi dari pada perusahaan bangkrut.

4.4.3. Pengaruh DER Perusahaan Ter hadap Financial Distress

Hipotesis yang dikemukakan adalah DER berpengaruh positif terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang go publik di BEI. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa DER terhadap financial distress adalah berpengaruh.

Penelitan ini juga didukung oleh Menurut (Horne dan Wachowicz, Jr 2005), semakin tinggi rasio hutang, semakin besar risiko keuangannya. Yang dimaksudkan dengan terjadinya peningkatan risiko adalah kemungkinan terjadinya default karena perusahaan terlalu banyak melakukan pendanaan aktiva dari hutang. Jadi, apabila rasio hutang semakin besar dapat membahayakan perusahaan karena dengan hutang yang semakin banyak akan menyulitkan perusahaan untuk memperoleh tambahan dana.

Berdasarkan uraian di atas bahwa total penerimaan yang dihasilkan oleh perusahaan dari aktivitas yang didanai oleh hutang lebih besar dibandingkan jumlah biaya hutang yang dikeluarkan, maka hal ini berarti perusahaan mampu memaksimalkan penggunaan hutang dengan tepat.

Hal ini menunjukkan besarnya proporsi total modal sendiri yang menjadi tanggungan dibandingkan dengan aset yang dimiliki. Dengan demikian perusahaan yang mengalami bangkrut memilki modal lebih kecil dari pada perusahaan yang tidak bangkrut.

4.4.4. Pengaruh DAR Per usahaan Ter hadap Financial Distress

Hipotesis yang dikemukakan adalah DAR berpengaruh positif terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang go publik di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DAR terhadap financial distress adalah berpengaruh.

Penelitian ini didukung juga oleh (Hanafi dan Halim, 2005) Penggunaan leverage yang tinggi akan meningkatkan rentabilitas modal saham (Return On Equity atau ROE) dengan cepat, tetapi sebaliknya apabila penjualan menurun, rentabilitas modal saham (ROE) akan menurun cepat pula. Risiko perusahaan dengan financial leverage yang tinggi akan semakin tinggi pula.

Berdasarkan uraian di atasn bahwa rasio DAR menunjukkan seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Biasanya pihak pemberi pinjaman berkepentingan terhadap kemampuan perusahaan untuk membayar hutang, sebab semakin banyak hutang perusahaan maka semakin tinggi kemungkinan perusahan tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada kreditur dan tidak mengalami kebangkrutan.

4.4.5. Pengaruh CR Perusahaan Terhadap Financial Distress

Hipotesis yang dikemukakan adalah CR berpengaruh positif terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang go publik di BEI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CR terhadap financial distress adalah tidak berpengaruh.

Penelitian ini juga didukung oleh (Hanafi dan Halim, 2005). Perusahaan yang mempunyai aktiva lancar lebih besar dari kewajiban lancarnya dengan perbandingan 2:1 atau setidaknya rasio lancar lebih dari 1 (satu), maka bisa dikatakan perusahaan dalam kondisi yang likuid untuk menutup kewajiban lancarnya sehingga kecil kemungkinan terjadi financial distress. Namun, apabila jumlah aktiva lancar yang dimiliki perusahaan lebih rendah dari jumlah kewajiban

lancarnya, maka tidak akan cukup untuk menutup kewajiban lancar yang dimiliki perusahaan. Akibatnya, perusahaan dapat mengalami kesulitan keuangan.

Berdasarkan uraian di atas bahwa ika kewajiban lancar meningkat lebih cepat dibandingkan aktiva lancar, maka rasio lancar akan turun dan hal ini bisa menimbulkan permasalahan. Dengan demikian dapat dimungkinkan bahwa pola hubungan antara current ratio dengan financial distress adalah negative. Semakin besar tingkat likuiditas perusahaan, dalam hal ini aktiva lancarnya, memperlihatkan semakin baik kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya, sehingga terhindar dari kemungkinan terjadinya financial distress.

Hal ini berarti perusahaan yang memiiiki quick ratio yang tinggi maka perusahaan tersebut lebih likuid, yang berarti perusahaan marnpu melunasi kewajiban jangka pendeknya dan mampu membiayai operasional perusahaan tersebut. Dengan adanya kecukupan biaya untuk mendanai operasional perusahaan maka perusahaan mampu memproduksi barang dan menjalankan aktivitas operasional perusahaan dan kemungkinan perusahaan rnengalami kesulitan keuangan akan menjadi kecil.

4.5. Perbedaan Hasil Penelitian Dengan Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak pada :

1. Sampel

Yang menjadi responden pada penelitian ini adalah perusahaan textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009 sampai dengan 2011 sebanyak 48 Laporan Keuangan.

2. Variabel Penelitian

1. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5 variabel bebas yaitu ROA, ROE, DER, DAR, CR, secara parsial terhadap financial distress(Y).

Tabel 4.11. : Tabel Perbedaan Penelitian Terdahulu Dan Penelitian Sekarang

No. Nama Peneliti Hasil

1. Setyawan dan Widarjo,

(2004)

(1) Likuiditas yanag diukur dengan cash ratio tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan (2) Profitabilitas berpengaruh negative terhadap financial distress (3) Financial leverage yang diukur dengan total liabilities to total asset tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan, (4) Financial leverage yang diukur dengan current liabilities to total asset tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan.

2. Yuanita,Ika (2009)

1.) Rasio CA/CL, rasio NI/Sales, rasio CL/TA, dan rasio NI/TA-Growth % dapat digunakan sebagai prediktor kondisi kesulitan keuangan atau financial

distress pada perusahaan dalam industri textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2.) Tingkat ketepatan model regresi logistik yang digunakan dalam menjelaskan klasifikasi kondisi perusahaan dalam prediksi financial distress.

3 Asmoro, (2010).

CAR berpengaruh negatif terhadap prediksi kondisi bermasalah, maka langkah yang sebaiknya diambil oleh pihak bank adalah menjaga kesanggupan minimum nilai kecukupan modal yang ditentukan oleh Bank Indonesia sebesar 8%. Hal ini dimaksudkan agar bank memiliki kemampuan modal yang cukup

untuk meredam akibat berkembang atau

meningkatnya ekspansi aktiva yang mengandung risiko.

4. Jazuri ,Ida (2013)

1. ROA tidak berpengaruh terhadap financial distress 2. ROE tisak berpengaruh terhadap financial distress 3. DER berpengaruh terhadap financial distress 4. DAR berpengaruh terhadap financial distress 5. CR tidak berpengaruh terhadap financial distress

Sumber: peneliti

4.6. Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini dirasakan oleh peneliti telah dilakukan secara optimal untuk mendukung tujuan penelitian, namun demikian peneliti merasa dalam hasil penelitian ini masih ada beberapa keterbatasan antara lain :

2. Dari hasil penelitian ini variabel yang digunakan adalah ROA, ROE, DER, DAR dan CR dan financial distress sehingga dalam penelitian yang akan datang hendaknya diperhitungkan variabel yang berhubungan dengan financial distress.

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dikemukakan di bab terdahulu, maka dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. ROA tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. ROE tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3. DER berpengaruh terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. DAR berpengaruh terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

5. CR tidak berpengaruh terhadap financial distress perusahaan textile dan garment yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

5.2. Saran

1. ROA merupakan suatu pengukuran dari penghasilan atau income, dalam suatu perusahaan. Dengan menambah aktiva lancar dan aktiva lainnya sampai tingkat tertentu diharapkan modal kerja bertambah, diusahakan pemberian kredit pun tidak bermasalah sehingga ROA juga meningkat.

2. ROE dalam penelitian ini tidak berpengaruh maka sebaiknya perusahaan harusnya melakukan penggunaan modal sendiri dengan efektif untuk menghasilkan laba sebelum pajaknya. Hal ini berarti menunjukkan bahwa perusahaan memiliki tingkat pengembalian yang tinggi.

3. DER berpengaruh terhadap financial distress, maka peningkatan hutang perusahaan justru meningkatkan tingkat keuntungan yang didasarkan pada modal sendirinya.

4. DAR dalam penelitian ini berpengaruh terhadap financial distress, maka proporsi penggunaan hutang perusahaan haruslah digunakan pada porsi yang sesuai agar tingkat keuntungan yang didasarkan pada modal sendirinya.

5. CR dalam penelitian ini tidak berpengaruh maka proporsi penggunaan aktiva lancar yang paling likuid dan dapat segera digunakan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek perusahaan.

Anonim, 2003, Pedoman Penyusunan Usulan Penelitian dan Skripsi Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran Jawa Timur.

Baridwan, Zaki, 2000, Intermediate Accounting, Edisi Ketujuh, Bagian Penerbitan BPFE, Yogyakarta

Ghozali, Imam, 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang

Husnan, Suad. 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. UPP (Unit Penerbit dan Percetakan)AMP YKPN: Yogyakarta.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2004. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia No. 2. Buku Satu. Salemba Empat: Jakarta.

Jensen, M.C. 1986. “Agency Cost of Free Cash Flow, Corporate Finance, and Take Over”. American Economic Review

Munawir,S. 2002. Analisis Laporan Keuangan. Edisi ketiga. Liberty:Yogyakarta. Mardiyanto, Handono. 2009. Inti Sari Manajemen Keuangan (Teori, Soal, dan

Jawaban). Jakarta: Grasindo.

Sumarsono, 2004, Metodologi Penelitian Akuntansi, Surabaya.

Santoso,Singgih, dan Tjiptono,F (2001).”SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional”. PT Elex Media Komputindo Gramedia Jakarta, Jakarta Standar Akuntansi Keuangan.2002. IAI.Jakarta : Salemba empat

Standar Akuntansi Keuangan.2007. IAI.Jakarta : Salemba empat

Sawir,Agnes. 2005. Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. PT. Gramedia:Jakarta

Madura,Jeff. 2001. Pengantar Bisnis. Jakarta:Salemba Empat

Brigham Eugena F. Dan Joel F. Houston. 2001. Manajemen Keuangan Edisi 8. Erlangga:Jakarta

Sofyan Syafri Harahap. 2007. Teori Akuntansi.Edisi Revisi. PT. Raja Grafindo Van Horne dan James C. Wachowicz. 2005. Prinsip-Prinsip Manajemen

Keuangan. Salemba Empat:Jakarta

Zaki Baridwan. 2000. Intermediate Accounting. Yogyakarta

J ur nal :

Almilia, Luciana Spica dan Kristijadi, (2003). “Analisis Rasio Keuangan untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ.” Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia, Vol. 7 No. 2, Desember, Hal 183 – 206

Setiawan dan Widardjo.2009. Pengaruh rasio keuangan terhadap Kondisi financial distress perusahaan Otomotif. Jurnal bisnis dan akuntansi vol. 1,No. 2, Agustus 2009, Hal. 107 - I19

Yuanita,Ika (2009). “Prediksi Financial Distress Dalam Industri Textile Dan Garment (Bukti Empiris Di Bursa Efek Indonesia). Jurnal Akuntansi & Manajemen Vol 5 No.1 Juni 2010 ISSN 1858-3687 hal 101 – 119.

Wild, J. J., Subramanyam, K. R., & Halsey, R. H. (2007) Financial Statement Analysis. Ninth Edition. MC Graw Hill

Foster, George.1987. Financial Statement Analysis. Prentice Hall : Englewood Cliffs, New Jersey.

Platt, H. 2002. Predicting Corporate Financial Distress: Reflections on Choice-

Based Sample Bias. Journal of Economics and Finance, Vol. 26 No. 2, pages

184 – 197. 59

Bahtiar Usman. (2003), Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi

Perubahan Laba pada Bank-Bank di Indonesia. Media Riset Bisnis & Manajemen. Vol. 3. No. 1.

Gitman, Lawrence J. (2000), Principles of Managerial Finance, International edition, Ninth Edition, San Diego State University, Canada.

Damodaran, A. 1997. Corporate Finance Theory and Practic, John Wiley&Sons, Inc. Hal 114,487

Lukman Dendawijaya. (2009). Manajemen Perbankan. Ghalia Indonesia, Jakarta.

Luciana Spica Almilia, S.E., M.Si & Winny Herdiningtyas, S.E. 2005. “Analisis Rasio Camel Terhadap Prediksi Kondisi Bermasalah Pada Lembaga Perbankan”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol 7, No.2, hal 15.

Skr ipsi :

Asmoro,Agro,(2010) Analisis pengaruh rasio keuangan Terhadap prediksi kondisi bermasalah Pada bank (Studi Kasus pada Bank Persero dan Bank Umum Swasta Nasional periode 2004- 2007) .UNDIP

Purwanti, Yulia. 2005. Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Kondisi Keuangan Financial Distress Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta. Skripsi. FE-Universitas Islam Indonesia Jogjakarta.

Dokumen terkait