RANCANGAN DAN KONSTRUKSI MESIN SLURRY ICE
4 UJI KENERJA SLURRY ICE
Pendahuluan
Ikan merupakan salah satu sumber gizi yang paling penting bagi proses kelangsungan hidup manusia. Manusia telah memanfaatkan ikan sebagai bahan pangan sejak beberapa abad yang lalu. Bahan pangan ikan ini mengandung zat gizi utama yang berupa protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kandungan protein yang tersusun atas asam amino esensial yang lengkap, dan lemak yang tersusun sebagian besar oleh asam lemak tak jenuh omega-3 yang berkhasiat terhadap berbagai penyakit dan membantu perkembangan otak. Protein juga dibutuhkan untuk pertumbuhan dan pengganti sel-sel tubuh kita yang telah rusak, dan juga termasuk bagian utama dari susunan (komposisi) tubuh kita. Selain mengandung protein, beberapa jenis ikan juga mengandung minyak ikan (vitamin A) dan mineral-mineral yang berfaedah bagi manusia.
42
Tubuh ikan yang tidak dimakan oleh manusia biasa juga dimanfaatkan sebagai makanan ternak ataupun untuk campuran makanan ikan dalam kolam. Ikan juga merupakan salah satu bahan makanan yang mudah busuk. Hal ini dapat dilihat pada ikan-ikan yang baru ditangkap dalam beberapa jam saja kalau tidak diberi perlakuan atau penanganan yang tepat maka ikan tersebut mutu dan gizinya akan menurun. Kecepatan pembusukan ikan setelah penangkapan dan pemanenan sangat dipengaruhi oleh teknik penangkapan atau pemanenan, kondisi biologis ikan, serta teknik penanganan dan penyimpanan diatas kapal, oleh karena itu segera setelah ikan ditangkap atau dipanen harus secepatnya diawetkan dengan pendinginan atau pembekuan.
Penanganan ikan harus segera dimulai setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya, dengan perlakuan suhu rendah dan harus memperhatikan faktor kebersihan dan kesehatan. Pada prinsipnya pendinginan adalah proses pengambilan panas dari suatu ruangan yang terbatas untuk menurunkan dan mempertahankan suhu di ruangan tersebut bersama isinya agar selalu lebih rendah dari pada di luar ruangan. Pada umumnya, pendinginan tidak dapat mencengah pembusukan secara total, tetapi semakin dingin suhu ikan, semakin besar penurunan aktivitas bakteri dan enzim. Pendinginan proses bakteriologi dan biokimia pada ikan hanya tertunda, tidak dihentikan. Pendinginan ikan dapat dilakukan dengan menggunakan refrigurasi, es, slurry ice (es cair), dan air laut
dingin (chilled sea water). Cara yang paling banyak di pakai dan mudah dalam mengawetkan ikan adalah dengan pendinginan yang menggunakan es sebagai bahan pengawet, baik untuk pengawetan diatas kapal maupun setelah didaratkan, yaitu ketika di tempat pelelangan, selama distribusi dan ketika dipasarkan.
Penyimpanan ikan segar dengan menggunakan es atau sistem pendinginan yang lain memiliki kemampuan yang terbatas untuk menjaga kesegaran ikan, biasanya 10-14 hari. Pemakaian es untuk hasil perikanan laut lama kelamaan merupakan suatu keharusan, sebab dengan hasil penangkapan yang lebih besar, pemasaran ikan akan lebih luas. Pemakaian es sangat baik karena es sanggup mendinginkan ikan dengan cepat, karena panas dari ikan ditariknya sehingga ikan cepat dingin dan pembusukan terhambat, es berasal dari air sehingga tidak akan menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia, dan proses pembuatan es sangat mudah dilakukan. Es memiliki daya pendinginan yang sangat besar. Tiap 1 kg es yang meleleh pada 00C dapat menyerap panas 80 kkal. Pendinginan ikan menggunakan es sangat beragam tergantung pada tempat, jenis ikan dan tujuan dari pendinginan ikan yang diinginkan.
Pendinginan yang ideal untuk menyimpan produk yang mudah busuk pada suhu rendah yang layak untuk memastikan umur lebih panjang, penyusutan pasca panen fisik dan ekonomis yang lebih rendah untuk memelihara kualitas produksi untuk pengiriman produk yang mudah busuk dari nelayan sampai ke konsumen, semua individu yang berada dalam rantai perlu untuk menangani produk dengan penuh perhatian dan suhu yang layak.
Suhu yang direkomendasikan secara khusus akan berbeda untuk komoditas mudah busuk yang bermacam-macam, tetapi semua produk harus di tangani dengan baik contohnya dengan penggunaan mesin pendingin untuk produk ikan segar dan beku selama periode penanganan untuk menghindari penyusutan kualitas, oksidasi yang berlebihan dan pembentukan bahaya food safety.
43 Gangguan dalam rantai penurunan suhu akan mempengaruhi kualitas produk, sehingga menurunkan keuntungan pada sistem produksi perikanan.
Slurry ice di Indonesia belum popular di pakai dalam hal mendinginkan
ikan hasil tangkapan. Sehubungan dengan hal demikina dari hasil pembahasan mumpunyai peluang untuk dapat di mamfaatkan oleh nelayan di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa slurry ice berpotensi untuk mencegah
kerusakan ikan, dan hasilnya lebih baik dibandingkan menggunakan es konvensional (Losada et al. 2006). Pada penelitian lain (Aubourg et al. 2007) dan
(Rodriguez O et al. 2004 ) pendinginan dengan menggunakan slurry ice pada
ikan makarel sangat baik hasilnya di bandingkan dengan flake ice. Menurut (Mugica et al. 2008) penanganan ikan menggunakan slurry ice sangat baik untuk
kualitas dan keamanan pangan nya. Slurry ice sangat dibutuhkan untuk
mendapatkan ikan segar berkualitas tinggi bagi perikanan skala kecil maupun besar. Hal ini untuk pendukung program pemerintah dalam peningkatan mutu perikanan yang keberlanjutan dan berkesinambungan di Indonesia. Maka penelitian ini bertujuan menguji coba kinerja slurry ice.
Metode penelitian Waktu dan lokasi
Kegiatan penelitian ini di lakukan dilaboratorium Divisi Kapal dan Trasportasi Pengelolaan Sumberdaya Perairan IPB dan kapal nelayan dengan membandingkan penurunan suhu antara ikan tawar dan ikan air laut dengan pemakaian media slurry ice dengan es balok. Lokasi penelitian di laut pada Posisi
Lintang S 05⁰ 41,753' Bujur E 106⁰ 42,385' wilayah Kepulauan Seribu Provinsi DKI Jakarta. Seperti terlihat pada lampiran 1. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2014.
Alat dan Bahan
Alat yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Mesin slurry ice, kapal
nelayan, alat pencatat dan alat ukur suhu (termokopelS). Bahan yang di gunakan adalah air laut, ikan mas, dan ikan kembung. Ikan ini digunakan karena jenis ikan ini populasinya kebanyakan di daerah tropis sangat banyak dan merupakan komuditas ikan yang sering di konsumsi masyarakat indonesia. Suhu wilayah perairan tropis pada saat pengambilan sampel 29 ⁰C dan suhu air laut 28⁰C serta salinitas air laut 35 ppt. Ikan yang digunakan adalah ikan mas dan ikan kembung dengan berat 100 gr, panjang ikan 18 cm dengan suhu awal 27 ⁰C.
Mesin slurry ice yang di gunakan pada penelitian ini memakai mesin slurry ice dengan spesifikasi panjang 55 cm, lebar 45 cm dan tinggi 92 cm dengan
berat total 68 kg.
Kompresor yang digunakan pada mesin tersebut berdaya 0,5 HP, kapasitas maxsimum tangki slurry ice generator adalah 8 liter. Produksi slurry ice yang
dihasilkan oleh mesin tersebut adalah 380 liter per hari. Hasil slurry ice seperti terlihat pada Gambar 26.
44
Proses pengujian dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : Seperti terlihat pada Gambar 27;
Proses pengujian :
Setelah ikan ditangkap dari laut selanjutnya dilakukan penyortiran sesuai dengan jenisnya kemudian di bersihkan dengan air laut yang bersih. Ukur suhu, berat dan panjang ikan pada saat naik dari permukaan perairan. Ikan yang sudah bersih dimasukan kedalam dua kotak penyimpan ikan atau coldbox. Memasukan slurry ice dan es balok tersebut ke dalam kotak penyimpanan yang berbeda.
Selanjutnya ukur suhu menggunkan termokopel untuk mengukur penurunan suhu ikan di dalam kotak penyimpanan.
Proses pengujian lapangan terhadap ikan kembung (Restrelliger neglectus),
dilakukan pengukuran pada ikan pasca ditangkap dan dalam kondisi masih hidup langsung dimasukan ke dalam media pendingin, selanjutnya diukur penurunan suhu tersebut.
Metode yang dilakukan menurut (Losada et al. 2006) perbandingan yang dipakai dalam penelitian ini 1: 1 antara es dan produk yang didinginkan.
Selanjutnya metode yang dilakukan untuk memdapatkan kualitas slurry ice yang
baik adalah memesahkannya dari air yang masih berfase liquid. pemilahan pencucian
Ikan di tangkap pendinginan
Penurunan suhu penyimpanan
Gambar 26 slurry ice
45 Analisis Data
Analisa data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan microsoft office Excel 2007 adapun pengujian data untuk mengetahui pengaruh penurunan suhu slurry ice terhadap ikan baik air tawar dan air laut dilakukan uji Mann-
Whitney. Rumus uji Mann-Whitney sebagai berikut :
� = � � + � � + − �
atau
� = � � + � � + − �
di mana :
� = Jumlah peringkat yang yang diberikan pada sampel dengan jumlah jumlah �
� = Jumlah peringkat yang yang diberikan pada sampel dengan jumlah jumlah �
� = banyaknya anggota sampel 1
� = banyaknya anggota sampel 1 U = Statistik uji U
Kedua rumus ini kemungkinan besar akan menghasilkan dua nilai yang berbeda bagi U. Nilai yang dipilih untuk U dalam pengujian hipotesis adalah nilai yang paling kecil dari kedua nilai tersebut.
Hipotesis columns pada H0 = µ1 =µ2, tidak terdapat perbedaan rata2 suhu ikan kembung terhadap box1 dan box 2 dan H1 = µ1 ≠µ2, terdapat perbedaan rata2 suhu ikan kembung terhadap box1 dan box 2. hipotesis baris pada H0 = µ1 =µ2, tidak terdapat perbedaan rata-rata suhu ikan kembung berdasarkan perbedaan waktu pendinginan dan H1 = µ1 ≠µ2, terdapat perbedaan rata2 suhu ikan kembung berdasarkan perbedaan waktu pendinginan.
jika f hitung (F) > f tabel (F crit), tolak H0 dan jika f hitung (F)≤ f tabel
(F crit), terima H0,pengamatan pada penelitian ini berdasarkan tempat
pendinginan terdapat 2 tempat yaitu box1 dan box 2 pada box 1 terdapat 20 pengamatan waktu pendinginan ikan kembung
Pengambilan keputusan Jika probabilitas > 0.05 maka � diterima jika probabilitas < 0.05 maka � ditolak.
Hasil dan Pembahasan Ukuran partikel slurry ice
Ukuran slurry ice seperti pada gambar 28. Pengukuran slurry ice
menggunakan kamera microskopis dengan ukuran 500 μm sesuai dengan penelitian (Inada T. 2009) maka didapat kan ukuran butiran es di bawah 1 mm, hal ini sesuai dengan standart slurry ice.
46
Peningkatan suhu slurry ice
Penelitianan ini menguji tingkat peningkatan slurry ice dibandingkan
dengan es balok apakah terdapat perbedaan rata-rata antara lelehan pada Es Slurry dan Es Balok dengan mengunakan MS excel . pertanyaan diatas dapat di jawab dengan hipotesis: H0: Tidak ada perbedaan rata-rata antara lelehan pada Es Slurry dan Es Balok
H1: Ada perbedaan rata-rata antara peningkatan pada slurry ice dan Es Balok
Hasil yang didapat pada penelitian ini seperti tertera pada tabel 12. Tabel 12 Tabel peningkatan suhu slurry ice dan es balok
t
f Sig. (2-tailed)
Perbedaan
nilai tengah SK 95% perbedaan
ambang bawah ambang atas
Peningkatan suhu -1.600 4 0.1167 -2.9435 -6.6509 0.7639
Keputusan yang dapat di ambil dari tabel diatas adalah nilai sig.(2-tailed) sebesar 0.1167> 0.05 (dengan �=5%), artinya adalah terima H0. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan rata-rata antara peningkatan suhu pada Es Slurry dan Es Balok.
500 μm
47
Tingkat perbandingan peningkatan suhu antara es balok dan slurry ice
pada Gambar 29 diatas menunjukan bahwa laju kenaikan suhu pada slurry es dalam waktu 200 menit menunjukan titik yang sama dengan es balok dalam hal kenaikan suhu lelehan. Nilai tingkat kepercayaan untuk data es balok R2 = 0,992 dan nilai untuk slurry ice adalah R2 = 0,996.
Uji coba terhadap Ikan Mas (cyprinus carpio linnaeus)
Penurunan suhu yang dilihat pada grafik menunjukan perbedaan yang signifikan hal ini penurunan suhu pada penggunaan es balok tidak mencapai suhu 0oC tetapi suhu yang dicapai dengan menggunakan slurry ice dapat mencapai suhu di bawah 0oC. Hal ini senada yang di teliti oleh (Losada et al, 2006) disebabkan bahwa pendinginan dengan es balok tidak semua tubuh ikan terselimuti oleh es sehingga suhu penurunan yang terendah hanya mencapai ± 2,5 oC. Media pendingin slurry ice dapat menyelimuti ikan seluruh tubuh hingga masuk ke dalam rongga-rongga pada tubuh ikan hingga temperatur central ikan mencapai suhu di bawah 0oC, seperti terlihat pada grafik Gambar 30 di bawah ini;
-5.0 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 10 0 11 0 12 0 13 0 14 0 15 0 16 0 17 0 18 0 19 0 20 0 21 0 22 0 S u h u (ºC) waktu (menit) slurry ice ºC es curah ºC -5 0 5 10 15 20 25 30 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 te m p e ratu re °C
waktu dalam menit
es slurry Es balok
Gambar 29 Laju peningkatan suhu slurry ice dan es balok
48
Ujia coba terhadap ikan air tawar yang di uji cobakan terhadap ikan mas (Cyprinus carpio linnaeus)dengan permasalahan yang akan diteliti adalah apakah
terdapat perbedaan rata-rata antara suhu ikan air tawar pada Box 1 (Slurry) dan Box 2 (Es Balok), hepotesisi dari uji rata-rata adalah H0: Tidak ada perbedaan rata-rata suhu ikan air tawar di Box 1 dan Box 2 dan H1: Ada perbedaan rata-rata suhu ikan air tawar di Box 1 dan Box 2. Hasil yang diperoleh seperti Tabel 13 berikut ini
Tabel 13 Uji rata-rata pada ikan mas
t derajat
bebas
Sig. (2- tailed)
Perbedaan
nilai tengah SK 95% perbedaan
ambang bawah ambang atas
Suhu Ikan
Air Tawar -2.274 38 0.029 -5.89 -11.133
- 0.647
Keputusan putusan yang dapat di ambil dari tabel diatas
Nilai sig.(2-tailed) sebesar 0.029< 0.05 (dengan �=5%), artinya adalah tolak H0.
Oleh karena itu, ada perbedaan rata-rata suhu ikan air tawar pada box 1 dan 2
Perbedaan nilai tengah rata-rata suhu ikan air tawar pada box 1 dan 2 adalah -5.89 oC. kemudian, secara interval didapat bahwa perbedaan rata-rata suhu ikan air tawar pada box 1 dan 2 berkisar antara -11.133 oC sampai dengan -0.647 oC pada tingkat kepercayaan 95%
Uji coba pada Ikan Kembung (Restrelliger neglectus)
Penuruanan suhu yang dicapai pada ikan kembung pada penelitian ini dapat digambarkan dalam grafik Gambar 31 berikut ini:
Keputusan yang dapat diambil adalah Nilai sig.(2-tailed) sebesar 0.0003<0.05 (dengan �=5%), artinya adalah tolak H0, oleh karena itu, ada
-5 0 5 10 15 20 25 30 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 Su hu ⁰C waktu (menit)
Slurry ice Ice blocks
49 perbedaan rata-rata suhu ikan air laut pada box 1 dan 2, Perbedaan nilai tengah pada perbedaan rata-rata suhu ikan air laut pada box 1 dan 2 adalah -6.787oC. kemudian, secara interval didapat bahwa perbedaan rata-rata suhu ikan air laut pada box 1 dan 2 berkisar antara -10.282oC sampai dengan -3.291 oC pada tingkat kepercayaan 95%.
Penelitian tersebut mempunyai tingkat kepercayaan yang sama 95%, Penanganan produk ikan segar, apabila terjadi penundaan beberapa jam pendinginan sampai suhu 0°C, hal tersebut dapat mempersingkat umur simpan karena bakteri berkembang biak dengan cepat dengan meningkatnya suhu diatas 0°C. Menurut data yang telah di terbitkan bahwa pertumbuhan bakteri pada suhu hanya 2°C dua kali lebih tinggi dibandingkan pada suhu -1 ° C. Hal ini dapat di capai bila menggunakan teknologi slurry ice (Aubourg et al, 2007)
Penggunaan slurry ice di kapal
Pendinginan ikan dengan slurry ice merupakan berpindahnya panas dari
ikan yang lebih panas menuju slurry ice , sehingga ikan menjadi dingin dan
slurry ice nya bertambah panasnya. Banyaknya cairan es yang diperlukan untuk mendinginkan satu peti ikan yang suhunya 28oC dan beratnya ikan 10 kg hingga suhunya menjadi 00C pertama kali yang harus dihitung adalah :
Panas yang dilepaskan = berat ikan x perbedaan suhu x panas spesifik ikan = 10 x (28-0)oC X 0,84
= 235 kilo kalori
slurry ice dapat menyerap 80 kilo kalori per-kg es yang meleleh, maka berat
cairan slurry ice yang dibutuhkan untuk mendinginkan ikan itu menjadi 0oC
adalah 235/80 kg = 2,937 kg slurry ice , dibulatkan menjadi 3 kg slurry ice per 10
kg ikan . kenyataannya, untuk mendinginkan seperti ikan yang akan diangkut dari pelabuhan ke pasar ikan, sebagian dari es digunakan untuk mendinginkan petinya sendiri dan sebagian lainnya lagi meleleh selama perjalanan karena panas yang masuk ke dalam peti, sehingga es yang diperlukan lebih dari 3 kg. Namun dalam prakteknya di lapangan telah diperoleh pedoman bahwa pengguanan slurry ice
untuk daerah-daerah tropis adalah sebagai berikut : Ratio Penggunaan Ikan : es slurry ( 1 : 2)
Penggunaan slurry ice ini sangat tergantung dari cara yang akan digunakan,
ratio 2:1 dari sisi jumlah penggunaan es lebih sedikit namun harus dikombinasi dengan udara dingin (menggunakan chilling room ). Adapun mekanisme memakaian slurry ice di kapal penangkap ikan sebagai berikut pada Gambar 32.
50
Penggunaan slurry ice untuk bidang perikanan memberikan hasil yang
lebih baik dalam hasil dan produk ikan yang lebih segar. Ada dua kunci tujuan utama dari penggunaan slurry ice yaitu produk yang diolah langsung dingin
mendekati beku dan menghindari kerusakan produk dari hancur atau memar, selain dari itu slurry ice memiliki keunngulan dikarena ini terdiri dari jutaan
mikrokristal es yang berada dalam larutan air garam cair . Kristal-kristal es kecil itu biasanya berukuran 0,25-1 mm sehingga dapat menyelimuti seluruh permukaan produk ikan yang didinginkan dan menghasilkan luas permukaan yang lebih besar perpindahan panasnya dari es bentuk lain. Slurry ice juga mampu
mendinginkan ikan dalam volume yang banyak dan dapat menjaga suhu pendinginan ikan lebih lama dalam periode tertentu di bandingkan dengan pemakaian es balok atau es tube. Slurry ice tidak memiliki sisi yang tajam
sehingga tidak merusak permukaan kulit ikan seperti memar pada ikan serta menghambat pertumbuhan bakteri.
Karakteristik mesin slurry ice memiliki hasil produksi berupa jenis kristal
es kecil didalam cairan. hal ini dapat mendinginan produk yang sempurna, sebab kristal ini berbentuk bulat sehingga mudah untuk mendistribusikan melalui pipa dan sempurna untuk menutupi produk yang akan didinginkan dan mengalir ke celah-celah permukaan pruduk ikan, sehingga memberikan kontak permukaan yang lebih besar dan pendinginan lebih cepat.
Penurunan suhu yang dilihat pada grafik menunjukan perbedaan yang signifikan hal ini penurunan suhu pada penggunaan es balok tidak mencapai suhu 0oC tetapi suhu yang dicapai dengan menggunakan slurry ice dapat mencapai suhu di bawah 0oC. Hal ini senada yang di teliti oleh (Davies et al, 2005) disebabkan bahwa pendinginan dengan es balok tidak semua tubuh ikan terselimuti oleh es sehingga suhu penurunan yang terendah hanya mencapai ± 2,5 oC. Sedangkan media pendingin slurry ice dapat menyelimuti ikan seluruh tubuh hingga masuk ke dalam rongga-rongga pada tubuh ikan.
Sumber: Kauffeld M. 2010
51 Tata letak mesin slurry ice dikapal
Penempatan mesin slurry ice merupakan hal terpenting dalam kaitannya
dengan tata letak kapal diantara pertimbangan yang perlu di perhatikan adalah Dekat dengan sumber air laut
Dekat dengan sumber listrik yang akan di gunakan
Stabilitas kapal yang sudah ada dan tidak mengganggu kegiatan penangkapan ikan.
Pilihan penempatan mesin slurry ice sebagai berikut: pada kamar mesin,
haluan kapal atau deck atas palkah. Hal ini berkaitan erat dengan stabilitas kapal. Seperti pada terlihat pada Gambar 33.
Sumber : http://marinerthai.blogspot.co.id/2012/01/thai-fishing-vessel-drawing.html Keterangan
1. Ruang mesin, 2. ruang deck atas palkah, dan 3. ruang haluan kapal
Gambar 33 Alternatif posisi penempatan mesin slurry ice
Pengoprasian mesin slurry es
Pengoperasian suatu unit mesin slurry ice tidak sekedar hanya
menjalankan dan mematikan mesin slurry ice saja akan tetapi sampai
pemeriksaan dan kemudian memastikan bahwa mesin slurry ice tersebut
telah berjalan secara normal oleh sebab itu dalam melakukan pengoperasian mesin slurry ice perlu diketahui urutan langkah cara mengoperasikan dan
52
Sistem Operasional Prosedur mesin slurry ice
Teknik pengoperasian mesin slurry ice adalah suatu kegiatan yang
meliputi urutan langkah persiapan pengoperasin, menjalankan, memeriksa keadaan mesin slurry ice selama beroperasi dan cara mematikan.Setiap unit
mesin slurry ice tidak selalu mempunyai kelengkapan komponen yang sama
sehingga ini akan menimbulkan perbedaan dalam cara pengoperasiannya, semakin sederhana kelengkapan komponen yang digunakan akan semakin mudah pula cara pengoperasiannya. Petunjuk pengoperasian mesin slurry ice
tidak dapat dibuat secara baku, setiap unit mesin slurry ice mempunyai cara
khusus untuk pengoperasiannya. untuk mesin slurry ice dengan kapasitas
kecil, sedang sampai besar secara umum teknik pengoperasiannya adalah: Persiapan Pengoperasian
Memeriksa tegangan tenaga penggerak
Memeriksa jumlah media pendingin (refrigerant)
Memeriksa jumlah minyak pelumas dalam kompresor
Memeriksa keadaan sekitar mesin slurry ice terutama pada bagian –
bagian yang bergerak
Pempersiapkan peralatan yang digunakan untuk membantu pengoperasian selanjutnya.
Mengisi air laut pada tangki ice slurry generator mesin slurry ice Menjalankan/mengoperasikan
Mengoperasikan aliran media pendingin kondensor dan kompresor Membuka stop kran pada saluran bahan pendingin bertekanan tinggi
terutama kran pengeluaran kompresor
Mengoperasikan tenaga penggerak kompresor
Membuka stop kran pada saluran bahan pendingin bertekanan rendah terutama kran penghisap kompresor
Mengatur pembukaan katup ekspansi (khusus untuk katup ekspansi manual)
Memeriksa mesin slurry ice selama beroperasi
Memeriksa tekanan pada kompresor yaitu tekanan pengeluaran penghisapan dan pelumasan
Memeriksa temperature media pendingin di kondensor Memeriksa temperatur bahan baku yang didinginkan
Memeriksa tegangan/voltage, ampere dan frekwensi apabila menggunakan aliran listrik sebagai tenaga penggeraknya.
Memeriksa kebocoran pada tangki dan pipa-pipa.
Mematikan mesin slurry ice .
Menutup stop kran pada saluran cairan bahan pendingin bertekanan tinggi. Menutup stop kran pada saluran bahan pendingin bertekanan rendah
53 Menghentikan/mematikan tenaga penggerak kompresor
Menutup kran pengeluaran kompresor
Mematikan aliran media pendingin kompresor
Pada saat mesin slurry ice beroperasi keadaanya perlu dimonitor setiap saat
dan dicatat dalam buku harian, untuk kemudian dapat dijadikan sebagai bahan penganalisaan apabila perubahan keadaan yang tidak sesuai standart pengoperasiannya. Adapun standar normal pengoperasian suatu mesin slurry ice berdasarkan jenis bahan pendingin yang digunakan adalah : tekanan
pengeluaran kompresor, tekanan minyak pelumas (oil pressure), khusus
untuk kompresor dengan pelumas sistem tekan/paksa minimal tekanan 1,2 kg/cm2, tekanan maksimal 3 kg/cm2 dan temperatur pengeluaran kompresor untuk R22 adalah 80 - 140 0C
Perawatan mesin slurry ice
Perawatan mesin slurry ice setelah selesai dioperasiakan di anataranya;
Bersihkan kolom ice slurry generator (ISG) dengan air tawar supaya