HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Uji Kepekaan terhadap Antibiotika
Tabel 4. Hasil uji kepekaan terhadap berbagai antibiotika pada bakteri yang ditemukan
Antibiotik a Klebsiela n :18 Staphylococcu s n :16 E.coli N :12 Proteus n :3 Pseudomonas n :1 Providensia n :1 S I R S I R S I R S I R S I R S I R AMX 4 1 13 0 4 12 2 1 9 1 0 2 0 0 1 0 0 1 CAZ 13 2 3 10 4 2 8 2 3 2 1 0 0 1 0 1 0 0 GEN 8 3 7 12 4 0 4 7 1 0 1 2 0 1 0 0 0 1 CTX 12 3 3 8 4 4 7 1 4 1 1 1 0 1 0 1 0 0 MER 18 0 0 16 0 0 12 0 0 3 0 0 1 0 0 1 0 0 AMC 3 3 12 0 3 13 0 1 11 0 1 2 0 0 1 0 0 1 FEP 17 1 0 14 2 0 10 2 0 3 0 0 1 0 0 1 0 0 CRO 7 6 5 8 7 1 6 2 4 1 1 1 0 1 0 0 1 0 CSL 16 1 1 16 0 0 11 0 0 2 0 1 1 0 0 1 0 0
AMX : Amoksilin CAZ : Seftazidim GEN : Gentamisin CTX : Sefotaksim MER : Meropenem AMC : Ampisilin FEP : Sefepim CRO : Seftriakson CSL : Sefoperazon
Pada penelitian ini, bakteri terbanyak yang ditemukan pada wanita dengan KPD adalah Klebsiella (36,8%), Staphylococcus (23,3%), Eschericia Coli (23,3%), Proteus (10%), Pseudomonas (3,3%) dan Providensia (3,3%). Dari hasil uji kepekaan bakteri terhadap berbagai antibiotika didapati bakteri Klebsiella sensitif terhadap antibiotika CAZ, CTX, MER, FEP dan CSL.
Bakteri Staphylococcus masih sensitif terhadap CAZ, GEN, CTX, MER, FEP, CRO dan CSL. Bakteri Eschericia Coli masih sensitif terhadap CAZ, GEN, CTX, MER, FEP, CRO dan CSL. Bakteri Proteus masih sensitif terhadap CAZ, MER dan FEP. Bakteri Pseudomonas masih sensitif terhadap MER, FEP dan CSL. Bakteri Providensia masih sensitif terhadap CAZ, CTX, MER, FEP dan CSL. Menurut penelitian Karat C dkk pada 150 pasien KPD dengan usia gestasi > 31 minggu didapatkan bahwa adanya bakterialis vaginosis, E. Coli, dan S. Aureus berhubungan erat dengan terjadinya KPD49, sedangkan pada penelitian Mikamo H dkk terhadap 239 wanita hamil dengan atau tanpa KPD, organisme yang dominan adalah Staphylococcus haemolyticus, Streptococcus agalactiae, Escherichia coli, Fusobacterium nucleatum, dan Prevotdla bivia.50
Bakteri yang terbanyak yang ditemukan pada wanita Non KPD adalah Staphylococcus (30%), Klebsiella (23,3%) dan Eschericia Coli (16,8%). Dari hasil uji kepekaan bakteri terhadap berbagai antibiotika didapati Staphylococcus masih sensitif terhadap CAZ, GEN, CTX, MER, FEP, CRO dan CSL. Bakteri Klebsiella masih sensitif terhadap antibiotika CAZ, CTX, MER, FEP dan CSL, sedangkan bakteri Eschericia Coli masih sensitif terhadap CAZ, GEN, CTX, MER, FEP, CRO dan CSL.
4.4. Faktor Risiko KPD
Tabel 5.Estimasi risiko KPD peserta penelitian berdasarkan jumlah VT Jumlah VT KPD Non KPD PR 95%CI Nilai
P Tidak pernah Pernah 25 29 5 1 0,6 (0,3-1,1) 0,195 Jumlah 30 30
Uji Fishers exact
Tabel 5 menunjukkan estimasi risiko KPD pada peserta penelitian berdasarkan dilakukannya pemeriksan dalam (Prevalence Ratio 0,6).
Dari jumlah kasus yang sama (masing-masing 30 kasus) dijumpai hanya 5 orang pada kelompok KPD yang pernah dilakukan pemeriksaan dalam, sedangkan pada kelompok non KPD hanya 1 orang yang pernah dilakukan pemeriksaan dalam, dengan nilai P = 0,195 pada uji Fisher’s exact, ditunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pemeriksaan dalam dengan KPD.
Menurut Lewis DF dkk, pemeriksaan dalam vagina pada KPD dapat menurunkan periode laten secara signifikan51, sedangkan menurut Jenniges K dalam penelitiannya ditemukan pemeriksaan dalam tidak meningkatkan frekuensi terjadinya KPD.52 Hal ini sesuai dengan penelitian ini dimana tidak ditunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pemeriksaan dalam dengan terjadinya KPD
Tabel 6. Estimasi risiko KPD peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat KPD sebelumnya
Riwayat KPD KPD Non KPD PR 95%CI Nilai P Ya Tidak Pernah 19 3 11 27 3,0 (1,7 - 5,2) 0,001 Jumlah 30 30
Uji statistic Chi-Square
Tabel 6 menunjukkan estimasi risiko KPD pada peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat KPD sebelumnya (Prevalence Ratio 3,0).
Dari jumlah kasus yang sama (masing-masing 30 kasus) dijumpai 19 orang pada kelompok KPD yang ada riwayat KPD sebelumnya, sedangkan pada kelompok non KPD hanya 3 orang yang ada riwayat KPD sebelumnya. Dengan nilai P = 0,001 pada uji Chi- square, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat KPD sebelumnya dengan terjadinya KPD.
Menurut Asrat T dkk pada penelitiannya terhadap 121 pasien KPD dengan riwayat KPD sebelumnya, ditemukan adanya peningkatan risiko berulangnya KPD yang signifikan.53 Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Hadley dkk dimana terjadinya KPD sebelumnya memiliki peningkatan risiko sebesar 21% untuk terjadinya KPD berulang 54, tetapi hal ini dibantah oleh Doddy DR dkk dimana dalam penelitiannya dinyatakan bahwa tidak ada peningkatan risiko berulangnya KPD dengan adanya riwayat KPD pada kehamilan sebelumnya.55 Pada penelitian ini, peneliti menemukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat KPD sebelumnya dengan berulangnya KPD sesuai dengan penelitian oleh Asrat T dkk & Hadley dkk.
Tabel 7. Estimasi risiko KPD peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat koitus 24 jam terakhir
Riwayat Koitus KPD Non KPD PR 95%CI Nilai P
Ya Tidak Pernah 18 4 12 26 2,6 (1,6 - 4,3) 0,001 Jumlah 30 30
Uji statistic Chi-Square
Tabel 7 menunjukkan estimasi risiko KPD pada peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat koitus 24 jam terakhir (Prevalence Ratio 2,6).
Dari jumlah kasus yang sama (masing-masing 30 kasus) dijumpai 18 orang pada kelompok KPD yang memiliki riwayat koitus 24 jam terakhir, sedangkan pada kelompok non KPD hanya 4 orang yang memiliki riwayat koitus 24 jam
terakhir. Dengan nilai P = 0,001 pada uji Chi- square, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat koitus 24 jam terakhir dengan terjadinya KPD.
Menurut penelitian oleh Romem Y dkk paparan oleh cairan semen dihubungkan dengan peningkatan elastisitas dan pecahnya selaput ketuban yang dapat menjadi predisposisi terjadinya KPD56, sedangkan penelitian oleh Naeye RL menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara terjadinya KPD dengan riwayat koitus 24 jam terakhir57, Hal ini juga ditunjang oleh penelitian Mills JL dkk dan Riss P dkk yang juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat koitus dengan terjadinya KPD 58,59, tetapi hal ini dibantah oleh penelitian Ekwo EE dkk dimana ditemukan adanya peningkatan risiko KPD dengan riwayat koitus terutama bila koitus dilakukan pada posisi pria diatas.60 Hal ini sesuai dengan penelitian ini dimana dalam penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat koitus dengan KPD.
Tabel 8. Estimasi risiko KPD peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat merokok
Riwayat Merokok KPD Non KPD PR 95%CI Nilai P Ya Tidak Pernah 3 2 27 28 1,2 (0,6 - 2,6) 1,00 Jumlah 30 30 Uji statistic Fisher’s Exact
Tabel 8 menunjukkan estimasi risiko KPD pada peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat merokok (Prevalence Ratio 1,2).
Dari jumlah kasus yang sama (masing-masing 30 kasus) dijumpai 3 orang pada kelompok KPD yang memiliki riwayat merokok, sedangkan pada kelompok non KPD terdapat 2 orang yang memiliki riwayat merokok. Dengan nilai P = 1,00 pada uji Fisher’s exact, menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara riwayat merokok dengan terjadinya KPD, tetapi dalam hal ini tidak kami masukkan wanita hamil yang memakan sirih ke dalam kelompok merokok. Menurut penelitian Herger JH dkk ditemukan adanya peningkatan yang signifikan antara riwayat merokok selama kehamilan dengan terjadinya KPD61, hal ini sesuai dengan penelitian oleh Kyrklund-Blomberg dkk dimana dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa riwayat ibu merokok meningkatkan risiko terjadinya prematuritas dan KPD.62
Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat merokok dengan terjadinya KPD, tetapi hal ini dapat juga disebabkan oleh jumlah sampel wanita perokok yang terlalu kecil sehingga uji statistik gagal untuk menemukan hubungan ini.
Tabel 9. Estimasi risiko KPD peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat keputihan
Riwayat Keputihan KPD Non KPD PR 95%CI Nilai P
Ya Tidak Pernah 26 10 4 20 4,3 (2,2 – 8,5) 0,001 Jumlah 30 30
Uji statistic Chi-Square
Tabel 9 menunjukkan estimasi risiko KPD pada peserta penelitian berdasarkan adanya riwayat keputihan (Prevalence Ratio 4,3).
Dari jumlah kasus yang sama (masing-masing 30 kasus) dijumpai 26 orang pada kelompok KPD yang memiliki riwayat keputihan, sedangkan pada kelompok non KPD hanya 10 orang yang memiliki riwayat keputihan. Dengan nilai P = 0,001 pada uji Chi - square, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat keputihan dengan terjadinya KPD.
Menurut penelitian Blok R dkk terhadap wanita hamil cukup bulan dengan riwayat infeksi vagina, ditemukan KPD terjadi pada 30,6% subjek.63 Hal ini sesuai dengan penelitian Lewis JF dkk dimana ditemukan adanya hubungan yang kuat antara infeksi pasca persalinan dengan insidens KPD64, sedangkan menurut Ziaei S dkk dalam penelitian prospektifnya terhadap 425 wanita ditemukan bahwa bakterial vaginosis tidak berhubungan dengan terjadinya KPD.65 Pada penelitian ini dapat ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara keputihan dengan KPD yang ditunjukkan dengan nilai P < 0,05.
BAB V