HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Uji Kesesuaian ( Test Goodness of Fit )
Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi (Y) tanaman cokelat, maka dengan menggunakan sejumlah data yang telah dikumpulkan langsung dari petani responden dilakukan pengolahan data dengan metode Ordinary Least Square yang menggunakan alat bantu program Evieews Versi 4.1.
Dari hasil pengolahan data tersebut diperoleh model persamaan pada Tabel 4.7. berikut ini :
Tabel 4.7. Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi
Tanaman Cokelat di Kabupaten Dairi
LogY = 0,670 + 0.203 logX1 + 0.607 logX2 + 0.048 logX3 + 0.160 logX4 + 0.668 logX5
Std. Error (0,112) (0,142) (0,066) (0,070) (0,118) t-stat (1,813)* (4.259)*** (0,729) (2.260) ** (5,641)***
R² = 0,828 F-Stat = 85,766 Sumber: Lampiran 1
Keterangan : *** signifikan pada 1%
** signifikan pada 5%
* signifikan pada 10%
Dari hasil estimasi pada Tabel 4.7. diatas diperoleh nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,828 yang berarti variasi veriabel bebas (luas lahan, waktu kerja, pupuk,pestisida dan umur tanaman cokelat) mampu menjelaskan variasi produksi tanaman cokelat di Kabupaten Dairi sebesar 82,8 persen dan sisanya sebesar 17,2 persen dijelaskan oleh veriabel lain yang tidak terdapat dalam model estimasi.
Selanjutnya dengan menganalisis lebih mendalam, maka secara simultan (bersamaan) pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat (produksi cokelat) adalah berpengaruh cukup signifikan secara statistik pada tingkat kepercayaan 99 persen. Hal ini dapat dilihat dari hasil estimasi F stat sebesar 85,766 yang lebih besar dari F tabel sebesar (3,34) pada tingkat 1 persen (F0,01) (Fstat 85,766 > Ftabel 3,34).
Kemudian menguji secara parsial (uji t-satistik), maka pengaruh masing-masing variabel bebas yakni luas lahan, waktu kerja, pupuk, pestisida dan umur tanaman cokelat terhadap variabel terikat yakni produksi cokelat di Kabupaten Dairi sebagai berikut :
Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien luas lahan (X1) yang positif sebesar 0,203 menunjukkan jika luas lahan tanaman cokelat meningkat 1 persen maka produksi cokelat meningkat 0,203 persen, ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori bahwa luas lahan memiliki pengaruh yang positif terhadap produksi cokelat.
Variabel luas lahan memiliki nilai t-hitung sebesar 1,813 > nilai t–tabel 1,296 maka hipotesis diterima. Hal ini berarti bahwa luas lahan berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap produksi cokelat di Kabupaten Dairi pada tingkat kepercayaan 90 persen. Dari nilai koefisien luas lahan menunjukkan tingkat elastisitas terhadap produksi cokelat bersifat inelastis. Kesimpulan ini mendukung hasil penelitian Kebede (2005) yang menyatakan bahwa variabel luas lahan berpengaruh signifikan terhadap produksi padi sawah di Nepal. Tingkat produksi cokelat dikabupaten Dairi tergantung dari luas lahan dan juga veriabel pendukung lainnya. Dengan demikian penerimaan petani cokelat tergantung dari produksi cokelat tersebut.
Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien waktu kerja (X2) yang positif sebesar 0,607 menunjukkan jika waktu kerja berusaha tani tanaman cokelat meningkat 1 persen maka produksi cokelat meningkat 0,607, persen ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori bahwa waktu kerja memiliki pengaruh yang positif terhadap produksi cokelat.
Variabel waktu kerja memiliki nilai t-hitung sebesar 4,259 > nilai t–tabel 1,296 maka hipotesis diterima. Hal ini berarti bahwa waktu kerja berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap produksi cokelat di Kabupaten Dairi pada tingkat kepercayaan 99 persen. Dari nilai koefisien waktu kerja menunjukkan tingkat elastisitas terhadap produksi cokelat bersifat inelastis. Kesimpulan ini mendukung hasil penelitian Panjaitan (2007) yang menyatakan bahwa variabel waktu kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi kopi di Kabupaten Dairi.
Sehingga pertanian cokelat di Kabupaten Dairi merupakan usaha yang padat karya. Semakin besar waktu kerja yang digunakan untuk mengelola tanaman cokelat maka produksi akan semakin meningkat, secara otomatis penerimaan petani akan semakin besar pula.
Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien pupuk (X3) yang positif sebesar 0,048 menunjukkan jika penggunaan pupuk untuk berusaha tani tanaman cokelat meningkat 1 persen maka produksi cokelat meningkat 0,048, persen
ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori dimana pupuk memiliki pengaruh yang positif terhadap produksi cokelat.
Variabel pupuk memiliki nilai t-hitung sebesar 0,729 < nilai t–tabel 1,296 . Hal ini berarti bahwa pupuk berpengaruh positif dan tidak signifikan secara parsial terhadap produksi cokelat di Kabupaten Dairi. Dari nilai koefisien pupuk menunjukkan tingkat elastisitas terhadap produksi cokelat bersifat inelastis. Hal ini disebabkan karena petani belum melakukan pemakaian pupuk yang tepat waktu dan tepat sasaran atau belum melakukan pemakaian dosis pupuk yang seimbang. Hal ini dapat dilihat dari data tabulasi penelitian bahwa petani cokelat memberikan pupuk organik (pupuk kandang) yang masih kecil rata-rata 694,84 kg /ha, yang seharusnya 2 ton /ha. Akibat dari kurangnya pemakian pupuk tersebut maka produksi cokelat maupun penerimaan petanipun menjadi kecil. Kesimpulan ini mendukung hasil penelitian Kebede (2005) yang menyatakan bahwa pemberian pupuk tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi padi sawah di Nepal.
Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien pestisida (X4) yang positif sebesar 0, 160 menunjukkan jika penggunaan pestisida untuk berusaha tani tanaman cokelat meningkat 1 persen maka produksi cokelat meningkat 0,160, persen
ceteris paribus. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pestisida memiliki pengaruh yang positif terhadap produksi cokelat.
Variabel pestisida memiliki nilai t-hitung sebesar 2,260 > nilai t–tabel 1,296 maka hipotesis diterima. Hal ini berarti bahwa pestisida berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap produksi cokelat di Kabupaten Dairi pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dari nilai koefisien pestisida menunjukkan tingkat elastisitas terhadap produksi cokelat bersifat inelastis. Dalam hal ini disebabkan karena petani telah melakukan pengendalian organisme pengganggu tanaman berupa gulma, hama dan penyakit tanaman yang dapat memepengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman dengan baik, secara otomatis dapat mempengaruhi produksi cokelat. Besar kecilnya produksi cokelat mempengaruhi penerimaan petani cokelat.
Berdasarkan hasil estimasi menunjukkan bahwa koefisien umur tanaman (X5)
yang positif sebesar 0,668 menunjukkan jika umur tanaman cokelat meningkat 1 persen maka produksi cokelat meningkat 0,668 persen, ceteris paribus. Hal ini
sesuai dengan teori bahwa umur tanaman memiliki pengaruh yang positif terhadap produksi cokelat.
Variabel umur tanaman memiliki nilai t-hitung sebesar 5,641 > nilai t–tabel 1,296 maka hipotesis diterima. Hal ini berarti bahwa umur tanaman berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap produksi cokelat di Kabupaten Dairi
pada tingkat kepercayaan 99 persen. Dari nilai koefisien umur tanaman menunjukkan tingkat elastisitas terhadap produksi cokelat bersifat inelastis. Dilihat dari data tabulasi penelitian bahwa umur tanaman cokelat di Kabupaten Dairi rata-rata 6 tahun, yang merupakan tingkatan yang tepat untuk mencapai produksi yang tinggi.
Penerimaan petani cokelat di Kabupaten Dairi dipengaruhi oleh harga cokelat.
Jika dilihat tingkatan harga cokelat di Kabupaten Dairi, yang masih rendah sebesar Rp18.500, per kilogram.Yang memainkan peranan harga adalah pedangang
pengumpul. Bargaining power dari petani cokelat sendiri sangat lemah, sehingga mau mau tidak mau harga cokelat sangat ditentukan oleh pedagang pengumpul. Lemahnya
Bargaining power petani cokelat disebabkan lemahnya kelompok-kelopok peteni dan juga tidak berjalanya koperasi dengan baik.
Berdasarkan analisis parsial, maka dapat diketahui bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat produksi cokelat secara signifikan adalah luas lahan (X1) pada tingkat keyakin an 90% variabel waktu kerja (X2) signifikan pada tingkat keyakinan 99%, variabel pupuk (X3) tidak signifikan, veriabel pestisida (X4) signifikan pada tingkat keyakinan 95%, veriabel umur tanaman (X5) signifikan pada tingkat keyakinan 99%
Berdasarkan hasil estimasi tingkat produksi cokelat di Kabupaten Dairi di peroleh hasil bahwa fungsi produksi berada pada kondisi Increasing Return to Scale jika dijumlahkan koefisien X1 + X2 + X3 + X4 + X5 lebih besar dari 1. Increasing Return to Scale = 0,203 + 0,607 + 0,048 + 0.160 + 0,668 = 1,686. Increasing Return to Scale yang berarti bahwa persentase pertambahan kuantitas produksi lebih besar
dengan pertambahan kuantitas faktor produksi luas lahan, waktu kerja, pupuk, pestisida dan umur tanaman. Elastisitas produksi lebih besar dari satu dicapai pada waktu kurva produksi marjinal berada diatas kurva produksi rata-rata. Ini merupakan skala usaha yang menunjukkan kenaikan hasil yang bertambah. Setiap penambahan 1% input citeris paribus akan menyebabkan kenaikan output yang lebih besar dari 1%. Oleh karena itu pada daerah increasing return to scale, keuntungan petani akan selalu bisa ditingkatkan dengan cara menambah input dalam proporsi yang tetap.
Jadi bila petani bertujuan mendapatkan keuntungan yang maksimum, petani tersebut harus melakukan usaha taninya dengan cara menambah input yang digunakannya. Bila tidak petani tersebut dikatakan sebagai petani yang tidak rasional, dengan demikian daerah increasing return to scale disebut dengan daerah yang tidak rasional untuk berproduksi.
Untuk mengukur Marginal product (MP), Average Product (AP) dari
penelitian adalah sebagai berikut :
Average Product (AP) dan Marginal Product (MP)
1. Luas Lahan (X1) a. Average Product (AP) APX1 = T P
X1
Dimana :
APX1 = Average Product X1 (Average Product luas lahan) T P = Total Produksi
X1 = Luas Lahan
APX1 = T P = 74638 kg = 1.075,78 kg/ha X1 69,38 ha
Nilai APX1 (Average Product Luas Lahan) sebesar 1.075,78 kg/ha berarti apabila rata luas lahan bertambah 1ha maka akan meningkatkan produksi rata-rata sebesar 1.075,78 kg per tahun.
b. Marginal Product (MP) EpX1 = MPX1
APX1
MPX1 = EpX1 X APX1
Dimana :
MPX1 = Marginal Product X1 (Marginal Product luas lahan) EpX1 = Elastisitas X1 (Elastisitas luas lahan)
APX1 = Average Product X1 (Average Product luas lahan) MPX1 = EpX1 X APX1
= 0,203 x 1.075,78 kg/ha = 218,383 kg/ha
Nilai MPX1 (Marginal Product Luas Lahan) sebesar 218,383 kg/ha berarti apabila perubahan pertambahan luas lahan sebesar 1ha maka akan meningkatkan perubahan pertambahan produksi sebesar 218,383 kg per tahun.
2. Waktu Kerja (X2) a. Average Product (AP)
X2 106944 jam
Nilai APX2 (Average Product Waktu Kerja) sebesar 0,697 kg/jam berarti apabila rata-rata waktu kerja bertambah 1 jam maka akan meningkatkan produksi rata-rata sebesar 0,697 kg. b. Marginal Product (MP) EpX2 = MPX2 APX2 MPX2 = EpX2 X APX2 = 0,607 x 0,697 kg/jam = 0,423 kg/jam
ilai MPX2 (Marginal Product Waktu Kerja) sebesar 0,423 kg/jam berarti apabila perubahan pertambahan waktu kerja sebesar 1 jam maka akan meningkatkan perubahan pertambahan produksi sebesar 0,423 kg.
3. Pupuk (X3)
a. Average Product (AP)
APX3 = TPL = 74638 kg = 1,131 kg/tahun X3 66010
Nilai APX3 (Average Product Pupuk) sebesar 1,131 kg/tahun berarti apabila rata-rata pupuk bertambah 1 kg maka akan meningkatkan rata-rata produksi sebesar 1,131 kg.
b. Marginal Product (MP) EpX3 = MPX3
MPX3 = EpX3 X APX3
= 0,048x 1,131 kg/tahun = 0,054 kg/tahun
Nilai MPX3 (Marginal Product Pupuk) sebesar 0,054 kg/tahun berarti apabila perubahan pertambahaan pupuk sebesar 1 kg maka akan meningkatkan perubahan pertambahan produksi sebesar 0,054 kg.
4. Pestisida (X4)
a. Average Product (AP)
APX4 = T P = 74638 kg = 186,711 kg/ liter X4 399,75 liter
Nilai APX4 (Average Product Pestisida) sebesar 186,711 kg/liter berarti apabila rata pestisida bertambah 1 liter maka akan meningkatkan produksi rata-rata sebesar 186,711 kg b. Marginal Product (MP) EpX4 = MPX4 APX4 MPX4 = EpX4 X APX4 = 0,160 x 186,711 kg/liter = 29,873 kg / liter
Nilai MPX4 (Marginal Product Pestisida) sebesar 29,873 kg/liter berarti apabila perubahan pertambahan pestisida sebesar 1 liter maka akan meningkatkan perubahan pertambahan produksi sebesar 29,873 kg.
5. Umur Tanaman (X5) a. Average Product (AP)
APX5 = TPL = 74638 kg = 129,131 kg/tahun X5 578
Nilai APX5 (Average Product Umur Tanaman) sebesar 129,131 kg/tahun berarti apabila rata-rata umur tanaman bertambah 1 tahun maka akan meningkatkan rata-rata produksi sebesar 129,131 kg.
c. Marginal Product (MP) EpX5 = MPX5 APX5 MPX5 = EpX5 X APX5 = 0,668 x 129,131 kg/tahun = 86,259 kg/tahun
Nilai MPX5 (Marginal Product Umur Tanaman) sebesar 86,259 kg/tahun berarti apabila perubahan pertambahaan umur tanaman sebesar 1 tahun maka akan meningkatkan perubahan pertambahan produksi sebesar 86,259 kg