BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12
3.13 Pengujian Hipotesis
3.13.3 Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi adalah ukuran untuk mengetahui kesesuaian atau ketepatan antara dugaan atau garis regresi dengan data sampel dengan kata lain koefisien determinasi adalah kemampuan variabel X (variabel independen) mempengaruhi variabel Y (variabel terikat). Semakin besar koefisien determinasi menunjukkan semakin baik kemampuan X menerangkan Y (Suharyadi dan Purwanto, 2013:162).
Semakin banyak variabel independen yang ditambahkan ke dalam model, maka R2 akan meningkat meskipun variabel tersebut tidak berpengaruh secara signifikan terhadap model. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dalam penelitian digunakan Adjusted R2 untuk melihat seberapa besar pengaruh faktor-faktor yang ditimbulkan oleh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen.
Apabila nilai R2 suatu regresi mendekati satu, maka semakin baik regresi tersebut dan semakin mendekati nol, maka variabel independen secara keseluruhan tidak bisa menjelaskan variabel dependen.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perbankan Syariah 4.1.1 Berdirinya Bank Syariah di Indonesia
Pada umumnya yang dimaksud dengan bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah. Oleh karena itu, usaha bank akan selalu berkaitan dengan masalah uang yang merupakan barang dagangan utamanya.
Kegiatan dan usaha bank akan selalu berkait dengan komoditas antara lain:
1. Pemindahan uang
2. Menerima dan membayar kembali uang dalam rekening Koran
3. Mendiskonto surat wesel, surat order maupun surat surat berharga lainnya 4. Membeli dan menjual surat-surat berharga
5. M embeli dan menjual cek wesel dan surat wesel 6. Memberi kredit dan
7. Memberi jaminan kredit
Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia.
Berdiri tahun 1991, bank ini diprakarsi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemeritah serta dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan beberapa pengusaha muslim. Bank ini sempat terimbas oleh krisis moneter pada akhir tahun 90-an sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal.
IDB kemudian memberikan suntikan dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 dapat bangkit dan menghasilkan laba. Saat ini keberadaan bank syariah di Indonesia telah diatur dalam Undang-undang yaitu UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan.
Hingga tahun 2007 terdapat 3 institusi bank syariah di Indonesia yaitu bank Muamalat Indonesia, Bank syariah mandiri dan bank mega syariah.
Sementara itu bank umum yang telah memiliki unit usaha syariah adalah 19 bank diantaranya merupakan bank besar seperti Bank Negara Indonesia (Persero), Bank Rakyat Indonesia (Persero) dan Bank Swasta Nasional: Bank Tabungan Pensionan Nasional. Sistem syariah juga telah digunakan oleh Bank Pengkreditan rakyat, saat ini telah berkembang 105 BPR Syariβah.
4.1.2 Prinsip Perbankan Syariah
Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan/atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan lainnya yang sesuai dengan syariah.
Beberapa prinsip/ hukum yang dianut oleh sistem perbankan syariah antara lain 1. Pembayaran terhadap pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman
dengan nilai ditentukan sebelumnya tidak diperbolehkan.
2. Pemberi dana harus turut berbagi keuntungan dan kerugian sebagai akibat hasil usaha institusi yang meminjam dana.
3. Islam tidak memperbolehkan "menghasilkan uang dari uang". Uang hanya merupakan media pertukaran dan bukan komoditas karena tidak memiliki nilai intrinsik.
4. Unsur Gharar (ketidakpastian, spekulasi) tidak diperkenankan. Kedua belah pihak harus mengetahui dengan baik hasil yang akan mereka peroleh dari sebuah transaksi.
5. Investasi hanya boleh diberikan pada usaha-usaha yang tidak diharamkan dalam Islam. Usaha minuman keras misalnya tidak boleh didanai oleh perbankan syariah.
Prinsip dasar operasional bank syariah tidak mengenal adanya konsep bunga uang dan yang tidak kalah pentingya adalah untuk tujuan komersial, Bank Syariah tidak mengenal peminjaman uang tetapi adalah kemitraan/ kerjasama (mudharabah dan musyarakah) dengan prinsip bagi hasil, sedang peminjaman uang hanya dimungkinkan untuk tujuan social tanpa adanya imbalan apapun.
4.1.3 Fungsi Bank Syariah
Bank syariah mempunyai dua peran utama, yaitu sebagai badan usaha (tamwil) dan badan sosial (maal). Sebagai badan usaha, bank syariah mempunyai beberapa fungsi, yaitu sebagai manajer investasi, investor, dan jasa pelayanan.
Sebagai manajer investasi, bank syariah melakukan penghimpunan dana dari para investor/nasabahnya dengan prinsip wadi'ah yad dhamanah (titipan), mudharabah (bagi hasil) atau ijarah (sewa). Sebagai investor, bank syariah melakukan penyaluran dana melalui kegiatan investasi dengan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa. Sebagai penyedia jasa perbankan, bank syariah menyediakan jasa keuangan, jasa nonkeuangan, dan jasa keagenan. Pelayanan jasa keuangan antara lain dilakukan dengan prinsip wakalah (pemberian mandat), kafalah (bank
garansi), hiwalah (pengalihan utang), rahn (jaminan utang atau gadai), qardh (pinjaman kebajikan untuk dana talangan), sharf (jual beli valuta asing), dan lain-lain. Pelayanan jasa nonkeuangan dalam bentuk wadi'ah yad amanah (safe deposit box) dan pelayanan jasa keagenan dengan prinsip mudharabah muqayyadah.
Sementara itu, sebagai badan sosial, bank syariah mempunyai fungsi sebagai pengelola dana sos ial untuk penghimpunan dan penyaluran zakat, infak, dan sadaqah (ZIS), serta penyaluran qardhul hasan (pinjaman kebajikan).
4.1.4 Perbankan Syariah di Indonesia 1. PT Bank Syariah Mandiri
Bank Syariah Mandiri adalah lembaga perbankan di Indonesia. Bank ini berdiri pada 1955 dengan nama Bank Industri Nasional. Bank ini beberapa kali berganti nama dan terakhir kali berganti nama menjadi Bank Syariah Mandiri pada tahun 1999 setelah sebelumnya bernama Bank Susila Bakti yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi.
2. PT Bank Muamalat Indonesia
PT Bank Muamalat Indonesia adalah bank umum pertama di Indonesia yang menerapkan prinsip Syariah Islam dalam menjalankan operasionalnya.
Didirikan pada tahun 1991, yang diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia. Mulai beroperasi pada tahun 1992, yang didukung oleh cendekiawan Muslim dan pengusaha, serta masyarakat luas.
Pada tahun 1994, telah menjadi bank devisa. Produk pendanaan yang ada menggunakan prinsip Wadiah (titipan) dan Mudharabah (bagi-hasil).
Sedangkan penanaman dananya menggunakan prinsip jual beli, bagi-hasil, dan sewa.
3. PT Bank BNI Syariah
PT Bank BNI Syariah adalah lembaga perbankan di Indonesia. Bank ini semula bernama Unit Usaha Syariah Bank Negara Indonesia yang merupakan anak perusahaan PT BNI, Persero, Tbk. Sejak 2010, Unit Usaha BNI Syariah berubah menjadi bank umum syariah dengan nama PT Bank BNI Syariah.
4. PT Bank BRI Syariah
PT Bank BRI Syariah adalah lembaga perbankan syariah. Bank ini berdiri pada 1969, dahulu bernama Bank Jasa Arta lalu diambil alih Bank Rakyat Indonesia, menjadi Bank Umum Syariah pada 2008. Sesuai dengan visinya, saat ini PT. Bank BRI Syariah merintis sinergi dengan PT. Bank Rakyat Indonesia, dengan memanfaatkan jaringan kerja PT. Bank Rakyat Indonesia, sebagai kantor layanan syariah dalam mengembangkan bisnis yang berfokus kepada kegiatan penghimpunan dana masyarakat berdasarkan prinsip syariah.
5. PT Panin Bank Syariah
Panin Bank Syariah adalah lembaga perbankan yang berbasis di Jakarta.
Bank ini dulunya bernama Bank Harfa yang berpusat di Surabaya yang berdiri sejak 1990. PT Bank Panin Syariah (dahulu PT Bank Harfa) berdiri dan mulai melaksanakan kegiatan usaha dengan prinsip-prinsip syariah setelah memperoleh izin operasi syariah dari Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Gubernur BI No.11/52/KEP.GBI/DpG/2009 tanggal 6 Oktober 2009 dan
kemudian resmi beroperasi sebagai bank syariah pada tanggal 2 Desember 2009.
6. PT Bank Syariah Bukopin
PT Bank Syariah Bukopin adalah lembaga keuangan yang berjenis Jasa Keuangan Perbankan. Sebagai salah satu bank nasional di Indonesia, sejarah Perseroan dimulai pada 1990 dengan meleburnya 2 (dua) bank pasar, yakni BPR Gunung Sindoro dan BPR Gunung Kendeng di Samarinda, Kalimantan Timur. Proses peleburan ini termaktub dalam Akta Nomor 102 tanggal 29 Juli 1990 dan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1659/KMK.013/1990 tanggal 31 Desember 1990. Dengan peleburan ini, statusnya pun meningkat menjadi bank umum dengan nama PT Bank Swansarindo International.
Dalam perkembangannya, PT Bank Swansarindo International berulang kali berganti nama hingga paa akhirnya berubah menjadi PT Bank Syariah Bukopin.
7. PT. Bank Victoria Syariah
PT. Bank Victoria Syariah didirikan di kota Cirebon pada tahun 1966 dan mulai beroperasi tanggal 7 Januari 1967. Akuisisi saham PT. Bank Swaguna sebesar 99,80 % oleh PT. Bank Victoria International Tbk telah disetujui oleh Bank Indonesia pada tanggal 3 Agustus 2007.September 2007 Bank telah meningkatkan modal disetor menjadi Rp 90 miliar dan pada Maret 2008 modal disetor Bank meningkat menjadi Rp 110 miliar. PT Bank Victoria Syariah telah mendapatkan Izin Operasional sebagai Bank Syariah bedasarkan SK Gubernur Bank Indonesia No. 12/8/KEP.GBI/DpG/2010 tanggal 10
Februari 2010.1 April 2010 beroperasi secara penuh dengan system syariah.
Saat ini PT Bank Victoria Syariah memiliki satu (1) Kantor Pusat, tujuh (8) kantor cabang, enam (6) kantor cabang Pembantu, yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Depok, Bekasi, Serang, Bandung, Cirebon, Tegal, Solo dan Denpasar.
8. PT. Bank BCA Syariah
PT. Bank BCA Syariah berdiri dan mulai melaksanakan kegiatan usaha dengan prinsip-prinsip syariah setelah memperoleh izin operasi syariah dari Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Gubernur BI No.
12/13/KEP.GBI/DpG/2010 tanggal 2 Maret 2009 dan kemudian resmi beroperasi sebagai bank syariah pada hari Senin tanggal 5 April 2010.
Komposisi kepemilikan saham PT Bank BCA Syariah adalah sebagai berikut : 1. PT Bank Central Asia Tbk.: 99.9999%
2. PT BCA Finance : 0.0001%
PT BCA Syariah mencanangkan untuk menjadi pelopor dalam industri perbankan syariah Indonesia sebagai bank yang unggul di bidang penyelesaian pembayaran, penghimpun dana dan pembiayaan bagi nasabah perseorangan, mikro, kecil dan menengah. Masyarakat yang menginginkan produk dan jasa perbankan yang berkualitas serta ditunjang oleh kemudahan akses dan kecepatan transaksi merupakan target dari BCA Syariah. BCA Syariah hingga saat ini memiliki 47 jaringan cabang yang terdiri dari 9 Kantor Cabang (KC), 3 Kantor Cabang Pembantu (KCP), 3 Kantor Cabang Pembantu Mikro Bina Usaha Rakyat (BUR), 8 Kantor Fungsional (KF) dan 24 Unit Layanan Syariah
(ULS) yang tersebar di wilayah DKI Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, Surabaya, Semarang, Bandung, Solo dan Yogyakarta (data per September 2015).
9. PT Bank Tabungan Pensiunan NasionalSyariah
PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah lahir dari perpaduan dua kekuatan yaitu, PT Bank Sahabat Purbadanarta dan Unit Usaha Syariah BTPN. Bank Sahabat Purbadanarta yang berdiri sejak Maret 1991 di Semarang, merupakan bank umum non devisa yang 70% sahamnya diakusisi oleh PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk (BTPN), dan kemudian dikonversi menjadi BTPN Syariah berdasarkan Surat Keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tanggal 22 Mei 2014. Unit Usaha Syariah BTPN yang difokuskan melayani dan memberdayakan keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia adalah salah satu segmen bisnis di PT Bank Tabungan Nasional Tbk sejak Maret 2008, kemudian di spin off dan bergabung ke BTPN Syariah pada Juni 2014.
4.2 Hasil Penelitian 4.2.1 Uji Asumsi Klasik 4.2.2 Uji Normalitas
Dalam penelitian ini, uji normalitas terhadap residual dengan menggunakan uji Jarque-Bera (J-B). Dalam penelitian ini, tingkat signifikansi yang digunakan adalah πΌ = 0,05. Dasar pengambilan keputusan adalah melihat angka probabilitas dari statistik J-B dengan ketentuan jika nilai probabilitas > 0,05
maka asumsi normalitas terpenuhi kemudian jika probabilitas < 0,05 maka asumsi normalitas tidak terpenuhi. Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.1 sebagai berikut:
Sumber: hasil olahan eviews, 2016
Gambar 4.1 Uji Normalitas dengan Uji Jarque-Bera
Berdasarkan Gambar 4.1 diatas, diketahui nilai probabilitas dari nilai statistik J-B adalah 0,181231. Karena nilai probabilitas, yakni 0,181231 lebih besar dibandingkan tingkat signifikan yakni 0,05. Hal ini berarti asumsi normalitas dipenuhi.
4.2.3 Uji Multikolinearitas
Dalam penelitian ini, gejala multikolinearitas dapat dilihat dari nilai korelasi antara variabel yang terdapat dalam matriks korelasi. Menurut Ghozali (2013:105) jika antar variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi, yakni diatas 0,9 maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas. Hasil uji ini dapat dilihat pada Tabel 4.1 sebagai berikut:
0
Tabel 4.1
Uji Multikolinearitas dengan Matriks Korelasi
BI_RATE INFLASI PDB KURS SHARED ROI
Dari hasil pengujian multikolinearitas pada Tabel 4.7 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala multikolinearitas antara variabel independen. Hal ini karena nilai korelasi antar variabel independen tidak lebih dari 0,9 (Ghozali, 2013:105).
4.2.4 Uji Heteroskedastisitas
Deteksi ada tidaknya heterosledastisitas dapat dilakukan Uji White Heteroscedasticity. Dasar pengambilan keputusan adalah melihat angka probabilitas dari Uji White Heteroscedasticity. Hasil uji ini dapat dilihat pada Tabel 4.2 sebagai berikut:
Tabel 4.2
Uji Heteroskedastisitas dengan Uji White Heteroscedasticity
Dependent Variable: DPK
Total panel (balanced) observations: 45
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
BI_RATE 32.96136 53.86892 0.611881 0.5442
PDB 47.74624 105.5934 0.452171 0.6537
KURS 0.006746 0.021387 0.315410 0.7541
SHARED 0.253957 0.121972 2.082092 0.0439
ROI 0.360923 2.111220 0.170955 0.8651
C -544.5397 1192.993 -0.456448 0.6506
Sambungan Tabel 4.2
R-squared 0.189294 Mean dependent var 35.85756
Adjusted R-squared 0.085357 S.D. dependent var 18.18694 S.E. of regression 17.39344 Akaike info criterion 8.673629 Sum squared resid 11798.74 Schwarz criterion 8.914518 Log likelihood -189.1567 Hannan-Quinn criter. 8.763430
F-statistic 1.821240 Durbin-Watson stat 2.047154
Prob(F-statistic) 0.131272
Sumber: hasil olahan eviews, 2016
Berdasarkan Tabel 4.8 nilai Prob. Chi-Square dan Obs*R-squared = 0.189294 > 0,05. Maka asumsi heteroskedastisitas terpenuhi. Dengan kata lain, tidak terjadi gejala heteroskedastisitas yang tinggi pada residual.
4.3 Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (Ghozali, 2013: 19).
Sebelum melakukan analisis data panel pertama sekali perlu dilakukan statistik deskriptif. Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan dalam perhitungan statistik deskriptif adalah BI rate, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), nilai tukar (kurs), bagi hasil dan Return on Investment (ROI). Berdasarkan analisis statistik deskriptif diperoleh gambaran sampel sebagai berikut.
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif Dari BI Rate, Inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), Nilai Tukar (Kurs), Bagi Hasil dan Return on Investment (ROI)
DPK BI_RATE INFLASI PDB KURS SHARED ROI
Mean 35.85,juta 6.73% 5.63% 5.8% Rp.10465 41.69,juta 1.15%
Median 30.25,juta 6.58% 5.38% 6.0% Rp.9670 34.86juta 0.79%
Maximum 90.73,juta 7.54% 6.96% 6.2% Rp.12440 94.42juta 4.71%
Minimum 11.44,juta 6.45% 4.28% 5.0% Rp.8960 5.99,juta -2.53%
Sumber: Hasil Olahan Eviews, 2016
Berdasarkan Tabel 4.3 menunjukkan bahwa output statistik deskriptif variabel penelitian dari tahun 2010 sampai 2014 dengan menggunakan program
Eviews. Dari tabel tersebut dapat dijelaskan statistik deskriptif variabel dependen dan independen sebagai berikut:
a. Variabel DPK memiliki nilai maksimum sebesar 90.73 juta dimiliki oleh PT Bank Panin Syariah tahun 2012. Nilai minimum sebesar11.44% yang dimiliki oleh PT Bank Victoria Syariah tahun 2014, dan nilai mean dari DPK sebesar 35.85 juta.
b. Variabel BI rate memiliki nilai maksimum sebesar7.54% yg dimiliki oleh seluruh perusahaan tahun 2014. Nilai minimum sebesar 6.45% yang dimiliki oleh seluruh perusahaan tahun 2013, dan nilai mean dari BI rate sebesar 6.73%
c. Variabel inflasi memiliki nilai maksimum sebesar 6.96% yang dimiliki oleh seluruh perusahaan tahun 2013. Nilai minimum dari inflasi sebesar 4.28% yang dimiliki oleh Seluruh Perusahaan tahun 2012, dan nilai mean sebesar 5.63%.
d. Variabel Produk Domestik Bruto (PDB) memiliki nilai maksimum sebesar 6.2% yang dimiliki oleh seluruh perusahaan tahun 2010 dan 2011. Nilai minimum sebesar 5.0% yang dimiliki oleh seluruh perusahaan tahun 2014 Nilai mean sebesar 5.8%
e. Variabel nilai tukar (Kurs) memiliki nilai maksimum sebesar Rp.12440 yang dimiliki oleh seluruh perusahaan tahun 2014. Nilai minimum sebesar Rp.8960 yang dimiliki oleh seluruh perusahaan tahun 2014. Nilai mean dari nilai tukar sebesar Rp.10465.
f. Variabel bagi hasil memiliki nilai maksimum sebesar 94.42 juta yang dimiliki oleh PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah tahun 2011. Nilai minimum sebesar 5.99 juta yang dimiliki oleh PT Bank Syariah Muamalat
Indonesia tahun 2010. Nilai mean sebesar 41.69 juta. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan perbankan yang menjadi sampel dalam penelitian ini memiliki nilai bagi hasil cukup besar.
g. Variabel Return on Investment (ROI) memiliki nilai maksimum sebesar 4.7%
yang dimiliki oleh PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah tahun 2012. Nilai minimum sebesar -2.53% yang dimiliki oleh PT Bank Panin Syariah tahun 2010. Nilai mean sebesar 1.15%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan perbankan syariah yang menjadi sampel dalam penelitian ini memiliki nilai ROI yang positif.
4.4 Pemilihan Model Data Panel
4.4.1 Penentuan Model Estimasi antara Common Effect Model (CEM) dan Fixed Effect Model (FEM) dengan Uji Chow
Untuk menentukan apakah model estimasi CEMatau FEMdalam membentuk model regresi, maka digunakan uji Chow.
Hipotesis yang diuji sebagai berikut.
π»0: Model CEM lebih baik dibandingkan model FEM.
π»1: Model FEM lebih baik dibandingkan model CEM Aturan pengambilan keputusan terhadap hipotesis sebagai berikut.
Jika nilai probabilitas cross section F < 0,05, maka π»0 ditolak dan π»1 diterima.
Jika nilai probabilitas cross section F β₯ 0,05, maka π»0 diterima dan π»1 ditolak.
Berikut hasil berdasarkan uji Chow dengan menggunakan Eviews 7.
Tabel 4.4 Hasil Uji Chow
Redundant Fixed Effects Tests Pool: Untitled
Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 1.247808 (8,30) 0.3068
Cross-section Chi-square 12.925959 8 0.1144
Sumber: hasil olahan eviews, 2016
P-value dari nilai F test dan Chi Square adalah 0.3068 dan 0.1144. Karena nilai probabilitas > 0,05, maka model estimasi yang digunakan adalah common effect.
4.4.2 Penentuan Model Estimasi antara Fixed Effect Model (FEM) dan Random Effect Model (REM) dengan Uji Hausman
Untuk menentukan apakah model estimasi FEMatau REMdalam membentuk model regresi, maka digunakan uji Hausman.Hipotesis yang diuji sebagai berikut.
π»0: Model REM lebih baik dibandingkan model FEM.
π»1: Model FEM lebih baik dibandingkan model REM Aturan pengambilan keputusan terhadap hipotesis sebagai berikut.
Jika nilai probabilitas cross section random < 0,05, maka π»0 ditolak dan π»1 diterima.
Jika nilai probabilitas cross section random β₯ 0,05, maka π»0 diterima dan π»1 ditolak.
Berikut hasil berdasarkan Uji Hausman dengan menggunakan Eviews 7:
Tabel 4.5 Hasil Uji Hausman
Correlated Random Effects - Hausman Test Pool: Untitled
Test cross-section random effects
Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 3.259759 6 0.7756
Sumber: hasil olahan eviews, 2016
Dari hasil uji Hausman dapat dilihat P-value sebesar 0,7756 dan angka ini lebih besar dari nilai signifikan 0,05. Karena nilai probabilitas > 0,05, maka model estimasi yang digunakan adalah Random Effect
4.5 Analisis Regresi Berganda Data Panel
Analisis regresi berganda model data panel digunakan untuk mengetahui pengaruh antar variabel. Pengujian regresi berganda model data panel dilakukan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, melalui pengaruh BI Rate, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB), nilai tukar (kurs), bagi hasil, dan Return on Investment (ROI) terhadap dana pihak ketiga perbankan syariah di Indonesia. Pengujian regresi berganda model data panel dilakukan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan variabel dependen, melalui pengaruh BI Rate (X1), inflasi (X2), produk domestik bruto (X3), nilai tukar (kurs) (X4), bagi hasil (X5), dan Return on Investment (X6), terhadap dana pihak ketiga (Y) perbankan syariah di Indonesia.
Tabel 4.6
Pengujian Regresi Berganda Data Panel
Dependent Variable: DPK?
Method: Pooled EGLS (Cross-section random effects) Date: 06/14/16 Time: 23:44
Sample: 2010 2014 Included observations: 5 Cross-sections included: 9
Total pool (balanced) observations: 45
Swamy and Arora estimator of component variances
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -3632.579 1857.572 -1.955552 0.0579
BI_RATE? 163.8002 80.60230 2.032202 0.0492 INFLASI? -17.20350 8.344043 -2.061770 0.0461
PDB? 326.3719 166.5007 1.960184 0.0573
KURS? 0.072906 0.037587 1.939635 0.0599
SHARED? 0.163832 0.124928 1.311414 0.1976 ROI? -0.035071 2.115575 -0.016578 0.9869
Cross-section random 3.569981 0.0456
Idiosyncratic random 16.32317 0.9544
Weighted Statistics
R-squared 0.267231 Mean dependent var 32.21192 Adjusted R-squared 0.151531 S.D. dependent var 17.78140 S.E. of regression 16.37887 Sum squared resid 10194.16 F-statistic 2.309687 Durbin-Watson stat 2.201489 Prob(F-statistic) 0.050000
Unweighted Statistics
R-squared 0.267520 Mean dependent var 35.85756 Sum squared resid 10660.26 Durbin-Watson stat 2.105231 Sumber: hasil olahan eviews, 2016
Nilai adjusted R-squared sebesar 0.151531 yang berarti dengan model random effect ini hanya 15,15% saja variabel dependen Dana Pihak Ketiga dapat dijelaskan oleh variabel yang disertakan dalam penelitian, sedangkan sisanya sebesar 84,85% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hanya terdapat dua variabel yang memiliki nilai probabilitas yang signifikan, yaitu BI rate dan inflasi.
Berdasarkan pengelolaan data pada Tabel 4.5 pada kolom Coefficients , diperoleh model persamaan regresi sebagai berikut:
Y = - + b1X1 - b2X2 + b3X3+ b4X4-b5X5- b6X6 + π Sehingga, persamaan regresi berganda adalah sebagai berikut :
Y = -3632.579 + 163.8002 X1 β 17.20350X2 + 326.3719X3 + 0.072906 X4+ 0.163832 X5- 0.035071X6
Keterangan:
Y = Dana Pihak Ketiga a = Konstanta
X1 = BI Rate X2 = Inflasi
X3 = Produk Domestik Bruto X5 = Kurs
X6 = Bagi Hasil
X7 = Return on Investment e = Standart error
Berdasarkan persamaan regresi berganda tersebut, berikut interpretasi dari model persamaan regresi diatas:
1. Nilai konstanta sebesar -3632.579 artinya walaupun variabel independen bernilai 0, Dana Pihak Ketiga (DPK) tetap sebesar -3632.579.
2. Koefisien BI rate (X1) positif, yaitu 163.8002 artinya dengan tingkat keyakinan 95% dapat diduga jika BI rate mengalami kenaikan sebesar 1%
maka, Dana Pihak Ketiga (DPK) akan naik sebesar 163.8002
3. Koefisien inflasi (X2) negatif, yaitu β 17.20350 artinya setiap penambahan inflasi sebesar 1%, jika variabel lain dianggap konstan, maka akan mengurangi Dana Pihak Ketiga(DPK) sebesar β 17.20350
4. Koefisien PDB (X3) positif, yaitu 326.3719 artinya setiap penambahan PDB sebesar 1%, jika variabel lain dianggap konstan, maka akan meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 326.3719
5. Koefisien nilai tukar (X4) positif yaitu 0.072906, artinya setiap penambahan nilai tukar sebesar 1%, jika variabel lain dianggap konstan, maka akan mengurangi Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 0.072906
6. Koefisien bagi hasil (X5) positif, yaitu 0.163832 artinya setiap penambahan bagi hasil sebesar 1%, jika variabel lain dianggap konstan, maka akan meningkatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 0.163832
7. Koefisien Return on Investment (X6) negatif, yaitu -0.035071, artinya setiap penambahan Return on Investment (ROI) sebesar 1%, jika variabel lain dianggap konstan, maka akan mengurangi Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar -0.035071
4.6 Pengujian Hipotesis
Pada pengujian hipotesis, akan dilakukan pengujian signifikansi koefisien regresi parsial secara menyeluruh atau simultan (uji F), uji signifikansi koefisien regresi parsial secara individu (uji t) dan analisis koefisien determinasi.
Tabel 4.7
Nilai statistik dari Uji F, Uji t dan Koefisien Determinasi
Dependent Variable: DPK?
Method: Pooled EGLS (Cross-section random effects) Date: 06/14/16 Time: 23:44
Sample: 2010 2014 Included observations: 5
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -3632.579 1857.572 -1.955552 0.0579 BI_RATE 163.8002 80.60230 2.032202 0.0492 INFLASI -17.20350 8.344043 -2.061770 0.0461
PDB 326.3719 166.5007 1.960184 0.0573
KURS 0.072906 0.037587 1.939635 0.0599 SHARED 0.163832 0.124928 1.311414 0.1976 ROI -0.035071 2.115575 -0.016578 0.9869 R-squared 0.267231 Mean dependent var 32.21192 Adjusted
R-squared 0.151531 S.D. dependent var 17.78140 S.E. of
regression 16.37887 Sum squared resid 10194.16 F-statistic 2.309687 Durbin-Watson stat 2.201489 Prob(F-statistic) 0.050000
Nilai adjusted R-squared sebesar 0.151531 yang berarti dengan model random effect ini hanya 15,15% saja variabel dependen Dana Pihak Ketiga dapat dijelaskan oleh variabel yang disertakan dalam penelitian, sedangkan sisanya sebesar 84,85% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian