• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data

4.4.2 Adjusment Harga

4.4.3.1 Uji Koefisien Determinasi (R 2 ) dan adj-R 2

Nilai determinasi R2 diinterpretasikan sebagai proporsi total keragaman Y yang dapat dijelaskan oleh model regresi X terhadap Y. Nilai R2 berkisar antara 0 dan 1. Makin besar nilai R2makin cocok hubungan regresi yang menggambarkan pola hubungan X dan Y. Nilai R2 = 1 menunjukkan bahwa variabel X memiliki kecocokan sempurna dengan variabel Y. Jika nila R2 bernilai nol, menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara X dan Y.

Rumus menghitung R2 adalah: R2 = JKR

JKT Keterangan:

JKR = Jumlah Kuadrat Regresi JKT = Jumlah Kuadrat Total

Nilai Adjusted R-Square secara umum mempunyai karakteristik yang diinginkan sebagai ukuran goodness of fit (kebaikan dari kesesuaian model) daripada R2. Jika variabel baru ditambahkan ke dalam model, R2 selalu naik, tetapi adj-R2 dapat naik dapat turun. Oleh karena itu, lebih disarankan

36 menggunakan nilai adj-R2. Nilai adj-R2 dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

adj-R2 = 1 – (1 – R2 )[(n – 1) / (n – k)]

Nilai adj-R2 tidak akan pernah melebihi nilai R2 bahkan bisa turun jika ditambahkan variabel bebas yang tidak perlu. Nilai adj-R2 dapat bernilai negatif jika model memiliki kecocokan yang sangat rendah.

4.4.3.2Uji F

Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel bebas secara serempak berpengaruh nyata pada variabel tidak bebasnya. Fhit dalam uji F dihitung dengan menggunakan Minitab 14. Sedangkan Ftabel dihitung dengan menggunakan rumus Ftabel = Fk, n-k-i, α.

Kriteria uji F adalah sebagai berikut:

Tolak H0 jika Fhit > Ftabel atau p-value < α (taraf nyata). Hal ini berarti terdapat minimal satu parameter tidak nol dan berpengaruh nyata terhadap keragaman variabel tak bebas.

Terima H0 jika Fhit < Ftabel atau p-value > α (taraf nyata). Hal ini berarti bahwa secara bersamaan variabel yang digunakan tidak dapat menjelaskan keragaman dari variabel tak bebas secara nyata.

4.4.3.3 Uji-t

Uji-t dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial berpengaruh terhadap variabel terikat. Uji ini juga dilakukan untuk mengetahui keabsahan dari hipotesis dan membuktikan apakah koefisien regresi signifikan atau tidak secara statistik.

37 Hipotesis : H0 : β = 0 H1: β ≠ 0 Statistik uji: thit = b –β Sb

Hasil thit dihitung berdasarkan ttabel (ttabel = tα/2 (n-2)). Keterangan:

b = koefisien regresi parsial sampel β = koefisien regresi parsial populasi Sb = simpangan baku koefisien dugaan

Teknik pengambilan kesimpulan:

Tolak H0 jika thit > ttabel atau p-value < α (taraf nyata). Hal ini berarti variabel bebas yang digunakan berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebasnya.

Terima H0 jika thit < ttabel atau p-value > α (taraf nyata). Hal ini berarti variabel bebas yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebasnya. 4.4.3.4 Uji Multikolinieritas

Salah satu asumsi dari model regresi berganda adalah bahwa tidak ada hubungan linier sempurna antar peubah bebas dalam model. Jika hubungan tersebut ada, berarti terdapat multikolonieritas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peubah-peubah bebas tersebut berkolinieritas ganda sempurna sehingga tidak mungkin diperoleh dugaan parameter koefisiennya. Pengujian terhadap ada tidaknya hubungan multikolinieritas dalam sebuah model dapat diketahui melalui uji Marquardt dan dapat dilihat dari nilai VIF (Varian Inflation Factor) pada masing-masing variabel bebas. Jika nilai VIF kurang dari 10 menunjukkan bahwa persamaan tersebut tidak mengalami multikolinieritas.

38 4.4.3.5 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk melihat apakah terjadi pelanggaran terhadap asumsi homoskedastisitas atau varians yang sama. Jika varians tidak sama, maka dapat disimpulkan terdapat masalah heteroskedastisitas. Jika terjadi heteroskedastisitas akibatnya pendugaan OLS tidak efisien lagi. Uji heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik residuals terhadap fitted values pada output Minitab 14. Apabila titik-titik sebaran pada grafik tersebut menyebar secara acak, maka tidak ada masalah heteroskedastisitas.

39 V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

5.1 Geografis

Kota Tanjungpinang merupakan Ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Sesuai dengan SK Menteri Dalam Negeri Nomor 5 tanggal 21 Juni 2001, Kota Tanjungpinang membawahi empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tanjungpinang Kota, Kecamatan Tanjungpinang Barat, Kecamatan Tanjungpinang Timur dan Kecamatan Bukit Bestari. Pembagian wilayah tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:

Sumber: Kantor Kecamatan Tanjungpinang Timur (2011)

Gambar 9. Peta Administratif Kota Tanjungpinang

Kecamatan Tanjungpinang Timur terdiri dari lima kelurahan, yaitu Kelurahan Batu Sembilan, Kelurahan Melayu Kota Piring, Kelurahan Air Raja, Kelurahan Pinang Kencana dan Kelurahan Kampung Bulang. Luas wilayah Kecamatan Tanjungpinang Timur mencapai 8.350 ha. Tabel 2 menunjukkan perincian luas wilayah dan rasio terhadap luas kecamatan menurut kelurahan.

40 Tabel 2. Luas Wilayah dan Rasio terhadap Luas Kecamatan menurut

Kelurahan Tahun 2010

No Kelurahan Luas

Rasio terhadap Luas Kecamatan

(ha) (%)

1 Batu Sembilan 2.300 27,54

2 Melayu Kota Piring 1.200 14,37

3 Air Raja 2.200 26,35

4 Pinang Kencana 1.500 17,96

5 Kampung Bulang 1.150 13,77

Jumlah 8.350 100

Sumber: BPS Kota Tanjungpinang (2010)

Suhu udara rata-rata di Kecamatan Tanjungpinang Timur mencapai 18°C - 23°C dengan banyaknya curah hujan yang turun mencapai ±7 mm – 19 mm tiap tahunnya. Sebagian besar wilayah Kecamatan Tanjungpinang Timur terdiri dari daratan dan kontur tanahnya yang cenderung rata. Hanya Kelurahan Kampung Bulang yang rata-rata wilayahnya berada pada pesisir atau bibir pantai. Lokasi penelitian di Kecamatan Tanjungpinang Timur difokuskan pada dua kelurahan, yaitu Kelurahan Batu Sembilan dan Kelurahan Pinang Kencana.

Kelurahan Batu Sembilan berada pada ketinggian 17,07 meter di atas permukaan laut. Suhu udara rata-rata mencapai 21,8⁰C sampai dengan 22⁰C dengan banyaknya curah hujan yang turun mencapai ± 7 mm. Berdasarkan data BPS Kota Tanjungpinang tahun 2010, luas wilayah Kelurahan Batu Sembilan adalah 2.300 ha. Kelurahan Batu Sembilan memiliki luas wilayah yang relatif lebih besar dibandingkan dengan empat kelurahan lainnya dalam wilayah Kecamatan Tanjungpinang Timur. Sebagian besar wilayah Kelurahan Batu Sembilan terdiri dari daratan dan sebagian kecil berada di daerah pesisir. Kelurahan Batu Sembilan terdapat perbukitan dan lembah yang berbeda-beda. Rata-rata pegunungan dan lembah tersebut mengandung tanah bauksit yang

41 merupakan aset daerah dan dapat menambah nilai pendapatan bagi pemerintah daerah.

Batas-batas wilayah Kelurahan Batu Sembilan adalah: Utara : Kelurahan Air Raja dan Kelurahan Pinang Kencana Selatan : Kelurahan Dompak dan Kelurahan Sei Jang

Barat : Kelurahan Melayu Kota Piring

Timur : Kelurahan Lengkuas Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan

Bandara Raja Haji Fisabilillah berada di wilayah Kelurahan Pinang Kencana dan berbatasan dengan Kelurahan Batu Sembilan di Kecamatan Tanjungpinang Timur. Kelurahan Pinang Kencana merupakan salah satu kelurahan hasil pemekaran Kelurahan Batu Sembilan. Luas wilayah Kelurahan Pinang Kencana adalah 1.500 ha. Kelurahan ini berada pada ketinggian 20 meter di atas permukaan laut. Suhu udara rata-rata mencapai 180C sampai dengan 270C dengan banyaknya curah hujan ± 19,16 mm. Bentuk wilayah Kelurahan Pinang Kencana adalah 40 % seperti berombak dan 60 % berombak seperti bukit.

Batas-batas wilayah Kelurahan Pinang Kencana adalah: Utara : Desa Tuapaya, Kecamatan Bintan Utara

Selatan : Kelurahan Batu Sembilan, Kecamatan Tanjungpinang Timur Barat : Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur Timur : Kelurahan Gunung Lengkuas, Kecamatan Bintan Timur 5.2 Penduduk dan Perekonomian

Penduduk merupakan modal dasar yang penting bagi keberhasilan pembangunan di suatu daerah. Modal dasar penduduk inilah yang dapat menggerakkan lajunya perekonomian wilayah, khususnya Kelurahan Batu

42 Sembilan. Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2010, penduduk yang bermukim di Kelurahan Batu Sembilan mencapai 16.362 jiwa yang terdiri dari 8.457 jiwa laki-laki dan 7.905 jiwa perempuan. Sementara itu, jumlah penduduk di Kelurahan Pinang Kencana mencapai 20.122 jiwa yang terdiri dari 10.274 jiwa laki-laki dan 9.848 jiwa perempuan. Meskipun kepadatan penduduk di Kelurahan Pinang Kencana hanya sebesar 13 jiwa per ha, namun jumlah penduduk Kelurahan Pinang Kencana lebih padat dibandingkan kelurahan lain yang berada di wilayah Kecamatan Tanjungpinang Timur.

Pada umumnya, penduduk yang bermukim di Kelurahan Batu Sembilan bermatapencaharian swasta dan wiraswasta. Jumlah penduduk yang bermatapencaharian swasta adalah sebanyak 1.435 jiwa dan berwiraswasta sebanyak 604 jiwa. Sementara itu, mata pencaharian lain penduduk yang bermukim di Kelurahan Batu Sembilan adalah sebagai pegawai negeri, petani dan lain-lain. Keterangan lebih lengkap tentang mata pencaharian penduduk di Kelurahan Batu Sembilan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kelurahan Batu Sembilan Tahun 2009

No. Mata Pencaharian Jumlah Penduduk (jiwa)

1 Pegawai Negeri Sipil 388

2 Wiraswasta 604

3 Swasta 1.435

4 TNI/POLRI 101

5 Petani 302

6 Lain-lain 1.460

Sumber: Kelurahan Batu Sembilan (2010)

Sementara itu, untuk melihat komposisi penduduk di Kelurahan Pinang Kencana berdasarkan keadaan sosial ekonomi dapat dilihat pada Tabel 4.

43 Tabel 4. Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian di Kelurahan

Pinang Kencana Tahun 2009

No. Mata Pencaharian Jumlah Penduduk

(jiwa)

1 Pegawai Negeri Sipil 2.255

2 Buruh/Wiraswasta 4.534

3 Pedagang 1.912

4 ABRI/POLRI 1.620

5 Petani 1.276

6 Lain-lain 8.509

Sumber: Kelurahan Pinang Kencana (2009)

Berdasarkan data pada Tabel 4 diketahui bahwa keadaan sosial ekonomi penduduk yang berada di Kelurahan Pinang Kencana untuk tahun 2009 banyak mengalami perubahan. Hal ini dikarenakan wilayah Kelurahan Pinang Kencana cukup potensial bagi penduduk asli maupun bagi pendatang untuk berwiraswasta, yang mana mayoritas penduduk di wilayah Kelurahan Pinang Kencana bekerja sebagai wiraswasta.

Dokumen terkait