• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.9 Uji Limit Deteksi dan Limit Kuantitas

Uji limit deteksi (LOD) dilakukan dengan cara mengukur absorban blanko reagen albumin buatan sendiri sebanyak 20 kali (Lampiran 9). Konsentrasi LOD diperoleh dari persamaan garis regresi Y = a + bx, dimana Y adalah absorban limit deteksi, a adalah intersept, b adalah slope dan x adalah konsentrasi limit deteksi. Absorban limit deteksi diperoleh dengan cara menghitung rerata absorban blanko ditambah dengan 3 kali standar deviasi. Dari hasil pengolahan data didapatkan rerata pengukuran absorban blanko menggunakan reagen buatan sendiri sebesar 0.11295 dan standar deviasi sebesar 0.0015. sehingga didapatkan konsentrasi LOD sebesar 0.89 g/dL dan konsentrasi LOQ sebesar 2.28 g/dL.

Pengujian limit deteksi dan limit kuantitas dimaksudkan untuk memperkirakan konsentrasi terendah yang dapat diukur oleh suatu metode. Limit deteksi menunjukkan bahwa hasil konsentrasi analit terendah yang dapat bereaksi dengan reagen yang lebih besar dibandingkan dengan blanko. Limit kuantitas menunjukkan konsentrasi terendah analit di dalam bahan pemeriksaan dan ditentukan dengan presisi dan akurasi yang diterima (Eurachem, 1998; Society &

Biochemistry, 2004; United Nations Office on Drugs and Crime, 2009; Validation et al., n.d.).

45

Kriteria penerimaan uji LOD dan LOQ adalah jika LOD dan LOQ tidak lebih besar dari nilai konsentrasi terendah kadar albumin yaitu 3.5 g/dL, sehingga dapat dikatakan bahwa pengujian limit deteksi dan limit kuantitas dapat diterima.

Reagen buatan sendiri dapat mengukur konsentrasi terendah analit dalam bahan pemeriksaan dengan presisi dan akurasi yang baik.

5.10 Uji Recovery

Uji Recovery dilakukan dengan cara mengukur konsentrasi albumin pada enam bahan pemeriksaan dengan menggunakan kontrol serum normal. Bahan pemeriksaan tersebut dibedakan menjadi baseline sample dan spike sample.

Baseline sample adalah serum yang ditambahkan aquabidest dengan perbandingan 9 : 1. Sedangkan spike sample adalah serum yang ditambahkan larutan standar albumin dengan konsentrasi 5.0 g/dl dengan perbandingan 9 : 1.

Bahan pemeriksaan tersebut selanjutnya diperiksa masing-masing sebanyak empat kali pengulangan sehingga diperoleh 24 data untuk baseline sample dan 24 data untuk spike sample (Lampiran 10). Nilai penerimaan uji recovery dilakukan dengan cara melakukan perhitungan, yaitu membagi selisih antara rerata masing-masing bahan pemeriksaan baseline sample dan spike sample dengan kadar albumin yang ditambahkan yaitu sebesar 0.5 g/dL.

Pengujian recovery dilakukan untuk mengetahui keakuratan pengukuran analit dari bahan pemeriksaan dan mengukur bias yang terjadi antara bahan pemeriksaan yang ditambahkan analit dengan yang tidak ditambahkan analit.

Pengujian ini juga

Kriteria penerimaan uji recovery adalah apabila nilai rerata perhitungan recovery berada pada rentang 95-105% dan proportional error < TEa. Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh bahwa nilai recovery sebesar 98.17% dengan nilai proportional error sebesar 1.83% untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen sendiri dan diperoleh nilai recovery sebesar 95% dengan nilai proportional error sebesar 5% untuk pemeriksaan albumin menggunakan reagen komersial.

Dengan demikian bahwa uji recovery metode BCG dapat diterima.

46 5.11 Uji Interference

Uji Interference dilakukan dengan cara mengukur konsentrasi albumin pada enam bahan pemeriksaan dengan menggunakan kontrol serum normal.

Bahan pemeriksaan tersebut dibedakan menjadi baseline sample dan spike sample. Baseline sample adalah serum yang ditambahkan aquabidest dengan perbandingan 9 : 1. Sedangkan spike sample adalah serum yang ditambahkan kontrol Hemoglobin dengan konsentrasi 3.99 g/dl dengan perbandingan 9 : 1.

Bahan pemeriksaan tersebut selanjutnya diperiksa masing-masing sebanyak empat kali pengulangan sehingga diperoleh 24 data untuk baseline sample dan 24 data untuk spike sample (Lampiran 11). Kriteria penerimaan uji interference dilakukan dengan cara menghitung selisih antara rerata masing-masing bahan pemeriksaan baseline sample dan spike sample, dibandingkan dengan batas kesalahan.

Didapatkan rerata selisih sebesar 0.20 g/dl untuk reagen buatan sendiri dan 0.29 g/dL untuk regaen komersial yang kemudian dibandingkan dengan batas kesalahan. Batas kesalahan untuk pemeriksaan albumin dengan menggunakan reagen buatan sendiri adalah 0.27 g/dl dan 0.30 g/dL dengan menggunakan reagen komersial . Nilai tersebut didapatkan dari perhitungan nilai rerata baseline sample albumin dikali dengan TEa%.

Pengujian Interference dilakukan untuk memperkirakan kesalahan sistematik yang disebabkan oleh bahan pengganggu yang mungkin ada dalam bahan pemeriksaan yang menyebabkan menurunnya spesifisitas metode.

Pengujian ini juga dilakukan untuk mengetahui efek dari bahan pengganggu yang dapat menyebabkan perubahan pada hasil diagnostic secara klinis (Bishop, 2010;

Wesgard, 2008; (Eurachem, 1998; Irish National Accreditation Board (INAB), 2012; Klick, 1997; Lumsden, 2000; United Nations Office on Drugs and Crime, 2009; Validation et al., n.d.)

Kriteria penerimaan uji Interference adalah apabila nilai rerata selisih tidak lebih besar dari nilai batas kesalahan. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa uji Interference dapat diterima. Penambahan kontrol Hemoglobin pada serum sebesar 3.99 g/dL tidak mempengaruhi pemeriksaan albumin metode BCG buatan sendiri.

47 BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian didaptkan hasil bahwa seluruh kriteria parameter pengujian validasi metode terpenuhi dan dapat diterima. Tidak terdapat perbedaan kinerja antara metode BCG untuk pemeriksaan kadar albumin serum menggunakan reagen komersial dengan menggunakan reagen buatan sendiri.

6.2 Saran

Untuk isntitusi, khususnya dilingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung Jurusan Analis Kesehatan, reagen BCG buatan sendiri ini dapat digunakan sebagai alternatif reagen untuk pemeriksaan kadar albumin serum untuk kegiatan praktikum.

48

DAFTAR PUSTAKA

Badan Standarisasi Nasional. (2012). SNI ISO 15189: Laboratorium Medik - Persyaratan Mutu dan Kompetensi. Jakarta: BSN.

Wesgard, J. O. (2008). Basic Methods Validation 3rd Edition. Madison: Wsgard QC.

Bishop, M. L., Fody, E. P., & Schoeff, L. E. (2010). Clinical Chemistry:

Technique, Principles, Correlation (6 ed). Philadelphia: Wolters Kluwer.

Burtis, C. A., Ashwood, E.R., & Bruns, D. E. (2008). TIETZ: Fundamentals of Clinical Chemistry (6 ed). New Delhi, India: Elsevier.

Kaplan, L. A., &Pesce, A. J. (1984). Clinical Chemistry: Theory, Analysis, and Correlation, Missouri, USA: Mosby.

Caraceni, P., Tufoni, M. & Bonavita, M. E. (2013). Clinical use of albumin.

Blood Transfus 11.

Coulter, B. (2009). Albumin 1–2.

Dan, M. & Perhitungannya, C. (2004). Petunjuk Pelaksanaan Validasi I, 117–

135.

Department of Health and Human Services Food and Drug Administration.

(2003). Guidance for Industry of New Drug Substances and Products

Guidance for Industry Q1A ( R2 ) Stability Testing of New Drug Substances and Products. SubStance 25.

Diasys. (2012). Albumin FS * 1–2.

Emea. (2009). Stability Testing of new Drug Substances and Products Step.

Regulation 1–11.

EMEA. (2012). Guideline on bioanalytical method validation Guideline on bioanalytical method validation Table of contents 44, 1–23.

Eurachem. (1998). The Fitness for Purpose of Analytical Methods. Eurachem Guid ISBN 0-94948926-12-0.

Evans, T. W. (2002). Review article: albumin as a drug--biological effects of albumin unrelated to oncotic pressure. Aliment Pharmacol Ther 16 Suppl 5, 6–11.

Horwath, R. O. (1983). United States Patent [ 191 1–4.

49

Infusino, I. & Panteghini, M. (2013). Serum albumin: Accuracy and clinical use.

Clin Chim Acta 419, 15–18. Elsevier B.V.

Irish National Accreditation Board (INAB). (2012). Guide to Method

Validation for Quantitative Analysis in Chemical Testing Laboratories 36.

Irsan Hasan, T. A. I. (2008). Peran Albumin Dalam Penatalaksanaan Sirosis Hati. Csientific J Pharm Dev Med Appl 21, 3–7.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). CARA

PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KLINIK YANG BAIK DENGAN.

Klick, R. L. (1997). Decision making in the clinical laboratory: a quantitative and statistical approach for methods evaluation 1–27.

Lab, S. (2010). Material Safety Data Sheet: Citric Acid 1–2.

Lumsden, J. H. (2000). Laboratory test method validation. Rev Méd Vét 151, 623–630.

Lusignan, P. E. R. (1986). United States Patent [ 19 ] 54–55.

Muthalib, M. I. binti A. & A. (2011). Determination of Critical Micelle Concentration of Mixed Solution of Zwitterionic-Nonionic Surfactants.

Scatchard, B. Y. G., Gibson, S. T., Woodruff, L. M., Batchelder, A. C. &

Brown, A. (1944). CHEMICAL , CLINICAL , AND IMMUNOLOGICAL STUDIES ON THE PRODUCTS OF HUMAN PLASMA

FRACTIONATION . IV . A STUDY OF THE THERMAL STABILITY OF HUMAN SERUM ALBUM IN 1t 3 Normal human serum albumin , though pre- pared as a white dry powder , is distributed to the 445–453.

Science lab. (2000). 1 1 Material Safety Data Sheet. Exposure 1–5.

Science Lab. (2009). Material Safety Data Sheet – Sodium Citrate 1–3.

Seminar, W. (2012). Method Validation & Performance Verification : Introducing New Analytes to Your Lab.

SNI ISO/IEC 17025:2008. (2008). Persyaratan umum kompetensi laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi. Bsn 1–32.

Society, C. & Biochemistry, C. (2004). Validation and Verification of Analytical 1–15.

50

Sugio, S., Kashima, A., Mochizuki, S., Noda, M., Kobayashi, K. (1999). RCSB PDB - 1AO6: CRYSTAL STRUCTURE OF HUMAN SERUM ALBUMIN Structure Summary Page.

United Nations Office on Drugs and Crime. (2009). Guidance for the

Validation of Analytical Methodology and Calibration of Equipment used for Testing of Illicit Drugs in Seized Materials and Biological Specimens.

Validation, M., Software, V., Methods, Q., Summary, V., Methods, Q., Summary, V., Validation, I., Section, E., Performance, M. & Statistics, O. (n.d.). Standardized Protocol for Method Validation / Verification Standard Operating Procedure Quality Assurance Unit Laboratory Services Section - Austin Table of Contents I . Purpose II . Scope.

Wardhan, P. (2016). Clinical Pathology and Clinical Pathology and. Indones J 22.

Patent WO1982000056A1 - Improved albumin reagent - Google Patentsuche.

(n.d.). .

51 LAMPIRAN 1

PEMBUATAN REAGEN ALBUMIN BUATAN SENDIRI METODE BCG

a. Pembuatan Buffer Sitrat 30 mmol/L, b. Reagen albumin buatan sendiri 1; Sebelum penambahan surfaktan 2; Setelah penambahan surfaktan

1; Reagen albumin komersial, 2; Reagen albumin buatan sendiri

Reagen albumin buatan sendiri setelah direkasikan dengan standar dan sampel.

1; blanko, 2; standar, 3; sampel

a. b

1 2

1 2

1 2 3

52

Lampiran 12 : Dukungan Sarana dan Prasarana Penelitian Sarana dan Prasarana yang

dibutuhkan

Lokasi/Keberadaan alat tersebut

Kondisi

Laboratorium klinik Jurusan Analis Kesehatan Baik dan dapat digunakan Alat-alat gelas Jurusan Analis Kesehatan Baik dan dapat digunakan Sentrifuga Jurusan Analis Kesehatan Baik dan dapat digunakan Mikropipet Jurusan Analis Kesehatan Baik dan dapat digunakan Spektrofotometer/Fotometer Jurusan Analis Kesehatan Baik dan dapat digunakan Lampiran 13 : Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas

NO Nama 2 jam/minggu Pembuatan protokol

6 jam Presentasi 6 jam/minggu Diskusi

5 jam/minggu 6 jam/minggu Diskusi

5 jam/minggu Keterangan : Pekerjaan penelitian dilakukan secara bersama-sama

53

Lampiran 14 : Biodata Ketua dan Anggota Peneliti

1. Ketua Peneliti a. Identitas Diri

1 Nama Lengkap Fusvita Merdekawati, S.ST., M.Si

2 NIP 198508172010122003

3 Pangkat dan Golongan ruang Penata Muda TK.I/III b 4 Tempat Lahir/Tgl Lahir Bandung, 17 Agustus 1985

5 Jenis Kelamin Wanita

6 Agama Islam

7 Status Perkawinan Menikah

8 Alamat Rumah Jl.Raya Nagreg No.103A

9 e-mail [email protected]

10 Alamat Kantor Jl. Padjajaran 56 Bandung 11 No. Telepon /Fax (022) 2032672 / 2042630 12 Mata Kuliah yang Diampu Kimia Klinik

Instrumentasi

b. Riwayat Pendidikan

Nama Perguruan Tinggi

D3 D4 S2

Poltekkes Bandung

Poltekkes Bandung

ITB

Bidang Ilmu Analis

Kesehatan

Analis Kesehatan

Bioteknologi Farmasi Tahun masuk - lulus 2003 - 2006 2008-2009 2015-2017

54 2. Anggota Peneliti

a. Identitas Diri

1 Nama Lengkap Dra. Nani Kurnaeni, M.M.Kes

2 NIP 196003311981032001

3 Pangkat dan Golongan ruang Penata /III c

4 Tempat Lahir/Tgl Lahir Bandung, 31 Maret 1960

5 Jenis Kelamin Wanita

6 Agama Islam

7 Status Perkawinan Menikah

8 Alamat Rumah Komp. Matra Persada 56 Cimahi

9 e-mail [email protected]

10 Alamat Kantor Jl. Padjajaran 56 Bandung 11 No. Telepon /Fax (022) 2032672 / 2042630 12 Mata Kuliah yang Diampu Kimia Klinik

Instrumentasi

b. Riwayat Pendidikan

Nama Perguruan Tinggi Bidang Ilmu Pendidikan Biologi Manajemen Kesehatan Tahun masuk - lulus 1982 - 1991 2010 - 2012

c. Pengalam Penelitian dalam 5 Tahun Terakhir N

O

Tahun Judul Penelitian Pendanaan

Sumber Jumlah 1 2014 Pembuatan dan Analisis Bahan

Kontrol Berkualitas Terhadap Pemeriksaan Trigliserida dari Berbagai Jenis Kuning Telur

Poltekkes Bandung

Rp.13.000.000

2 2016 Perbandingan Nilai Rujukan Kolesterol Total, HDL-Kolesterol, dan LDL-Kolesterol pada Siswa SLTA di Daerah Perkebunan dan Kota Bandung

Poltekkes Bandung

Rp.14.000.000

55