BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Pengujian Asumsi Klasik
2. Uji Multikolonieritas
Dengan melihat tampilan kurva Normal P-Plot Of Regression Standarized Residual dapat disimpulkan bahwa kurva normal plot memberikan pola distribusi normal yang dimana data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi ini telah memenuhi asumsi normalitas.
2. Uji Multikolonieritas
Hasil uji multikolinieritas pada model 1 ini, variabel kecerdasan emosional ini memiliki nilai VIF 1,000 dan nilai tolerance 1,000, maka pada model 1 ini tidak terjadi multikolinieritas. Begitu pula untuk model
commit to user
2, semua variabel memiliki nilai VIF lebih kecil dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,10. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam model 2 penelitian ini tidak terjadi multikoliniertas antar variabel independen. Hasil Uji multikolinieritas secara lengkap dapat dilihat pada Tabel IV.10.
Tabel IV.10
Hasil Uji Multikolonieritas
Model Variabel Tolerance VIF Keterangan 1
2
Kecerdasan Emosional Mengenali Emosi Diri Mengelola Emosi Diri Memotivasi Diri Sendiri Mengenali Emosi Orang Lain Membina Hubungan 1,000 0,463 0,548 0,477 0,711 0,489 1,000 2,160 1,825 2,096 1,406 2,047 Tidak Terjadi Multikolinieritas Tidak Terjadi Multikolinieritas Tidak Terjadi Multikolinieritas Tidak Terjadi Multikolinieritas Tidak Terjadi Multikolinieritas Tidak Terjadi Multikolinieritas Sumber: Data Primer yang Diolah
3. Uji Heteroskedastisitas
Penelitian ini menggunakan grafik Scatterplot untuk menunjukkan ada tidaknya heteroskedastisitas yang dapat dilihat pada Gambar IV.3 dan Gambar IV.4.
commit to user
Gambar IV.3 Grafik Scatterplot (Model 1)
Gambar IV.4 Grafik Scatterplot (Model 2)
Dari hasil grafik scatterplots pada model 1 maupun model 2, titik-titik tersebar secara acak secara tersebar dan tidak membentuk sebuah pola tertentu secara jelas baik di atas maupun dibawah angka 0
commit to user
pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa kedua model tersebut tidak terjadi adanya heteroskedastisitas pada model regeresi sehingga model regresi layak digunakan untuk memprediksi prestasi belajar yang diukur dengan IPK berdasarkan masukan variabel independennya.
4. Uji Autokorelasi
Hasil uji run test pada model 1 penelitian ini menunjukkan nilai signifikansi 0,342 yang berarti lebih besar dari 0,05, maka residual random. Begitu pula dengan model 2, menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,415 yang berarti lebih besar dari 0,05, maka residual random. Ini menunjukkan bahwa kedua model tidak terjadi gangguan autokorelasi pada model penelitian. Hasil uji Run Test lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel IV.11.
Tabel IV.11 Hasil Uji Run Test
Model Signifikansi Keterangan Keputusan 1 2 0,342 0,415 Residual Random Residual Random
Tidak Terjadi Gangguan Autokorelasi Tidak Terjadi Gangguan
Autokorelasi Sumber: Data Primer yang Diolah
commit to user D. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda. Menurut Gujarati (2003 dalam Ghozali, 2006), secara umum, analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (terkait) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas atau bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui. Analisis regresi dilakukan dengan cara mengukur goodness of fit untuk menilai ketepatan suatu fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual. Dalam penelitian ini diukur dari nilai adjusted , Pvalue, dan nilai signifikansi t.
1. Pengujian Model 1
Tabel IV.12
Hasil Analisis Regresi Model 1
Variabel Independen β tvalue Signifikansi Konstanta Kecerdasan Emosional R2 Adjusted R2 F statistic Pvalue 2,650 0,014 0,022 0,18 4,871 0,028 10.631 2,207 0,000 0,028
Sumber: Data Primer yang Diolah
Berdasarkan Tabel IV.12 pada model 1 tersebut dapat dituliskan dalam persamaan regresi sebagai berikut :
commit to user
Pada Tabel IV.12 menunjukkan konstanta 2,650 yang menyatakan, bahwa jika tidak ada variabel kecerdasan emosional maka prestasi belajar sudah memiliki nilai 2,650.
Koefisien regresi untuk variabel kecerdasan emosional sebesar 0,014 yang menyatakan, bahwa setiap penambahan satu unit nilai variabel ini akan menurunkan nilai prestasi belajar sebesar 0,014 dengan asumsi variabel yang lain tetap.
Berdasarkan nilai signifikansi pada Tabel IV.12, variabel kecerdasan emosional menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,028. Berdasarkan nilai signifikansi t tersebut, menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf 5%, kecerdasan emosional berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dengan kata lain hipotesis 1 diterima.
Dilihat dari Tabel IV.12 pada uji F didapat nilai F statistik sebesar 4,871 dengan Pvalue0,028. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa Pvalue lebih kecil dari 0,05, yang berarti bahwa pengujian signifikansi nilai F dari variabel kecerdasan emosional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar secara bersama-sama.
commit to user 2. Pengujian Model 2
Tabel IV.13
Hasil Analisis Regresi Model 2
Variabel Independen β tvalue Signifikansi Konstanta
Mengenali Emosi Diri Mengelola Emosi Diri Memotivasi Diri Sendiri Mengenali Emosi Orang Lain Membina Hubungan R2 Adjusted R2 F statistic Pvalue 2,547 -0,005 -0,004 0,028 0,009 -0,014 0,129 0,108 6,255 0,000 9,939 -0,710 -0,693 4,631 1,338 -2,175 0,000 0,478 0,489 0,000 0,182 0,031
Sumber: Data Primer yang Diolah
Berdasarkan Tabel IV.13 pada model 2 tersebut dapat dituliskan dalam persamaan regresi sebagai berikut :
Y = 2,547 – 0,005X1 – 0,004X2 + 0,028X3 + 0,009X4 – 0,014X5 + ε
Pada Tabel IV.13 menunjukkan konstanta 2,547 yang menyatakan, bahwa jika tidak ada variabel mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan, maka prestasi belajar sudah memiliki nilai 2,547.
Koefisien regresi untuk variabel mengenali emosi diri sebesar -0,005 yang menyatakan, bahwa setiap penambahan satu unit nilai variabel ini akan menurunkan nilai prestasi belajar sebesar 0,005 dengan asumsi variabel yang lain tetap.
commit to user
Koefisien regresi untuk variabel mengelola emosi diri sebesar -0,004 yang menyatakan, bahwa setiap penambahan satu unit nilai variabel ini akan menurunkan nilai prestasi belajar sebesar 0,004 dengan asumsi variabel yang lain tetap.
Koefisien regresi untuk variabel memotivasi diri sendiri sebesar 0,028 yang menyatakan, bahwa setiap penambahan satu unit nilai variabel ini akan menaikkan nilai prestasi belajar sebesar 0,028 dengan asumsi variabel yang lain tetap.
Koefisien regresi untuk variabel mengenali emosi orang lain sebesar 0,009 yang menyatakan, bahwa setiap penambahan satu unit nilai variabel ini akan menaikkan nilai prestasi belajar sebesar 0,009 dengan asumsi variabel yang lain tetap.
Koefisien regresi untuk variabel membina hubungan sebesar -0,014 yang menyatakan, bahwa setiap penambahan satu unit nilai variabel ini akan menurunkan nilai prestasi belajar sebesar 0,014 dengan asumsi variabel yang lain tetap.
Berdasarkan hipotesis pada penelitian ini bahwa H1 diterima apabila kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap prestasi belajar mahasiswa program akuntansi. Dilihat dari Tabel IV.13, penelitian ini terdapat dua variabel independen yang berpengaruh secara signifikan
commit to user
terhadap variabel prestasi belajar, yaitu variabel memotivasi diri sendiri dan variabel membina hubungan.
Pengujian pengaruh variabel kemampuan mengenali emosi diri menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,475. Berdasarkan nilai signifikansi t tersebut, menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih besar dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa pada taraf 5%, kemampuan mengenali emosi diri tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa dengan kata lain hipotesis 1 ditolak.
Pengujian pengaruh variabel kemampuan untuk mengelola emosi diri menunjukakan nilai signifikansi sebesar 0,489. Berdasarkan nilai signifikansi t tersebut, menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih besar dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukan bahwa pada taraf 5%, kemampuan mengelola emosi diri berpengaruh tidak signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa dengan kata lain hipotesis 1 ditolak.
Pengujian pengaruh variabel memotivasi diri sendiri menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000. Berdasarkan nilai signifikansi t tersebut, menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukan bahwa pada taraf 5%, memotivasi diri sendiri berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar dengan kata lain hipotesis 1 diterima.
commit to user
Pengujian pengaruh variabel kemampuan untuk mengenali emosi orang lain menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,182. Berdasarkan nilai signifikansi t tersebut, menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih besar dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukan bahwa pada taraf 5%, kemampuan untuk mengenali emosi orang lain berpengaruh tidak signifikan terhadap prestasi belajar mahasiswa dengan kata lain hipotesis 1 ditolak.
Pengujian pengaruh variabel membina hubungan menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,031. Berdasarkan nilai signifikansi t tersebut, menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih besar dari taraf signifikan 0,05. Hal ini menunjukan bahwa pada taraf 5%, membina hubungan berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar dengan kata lain hipotesis 1 diterima.
Dilihat dari Tabel IV.13 Pada uji F didapat nilai F statistik sebesar 6,255 dengan Pvalue 0,000. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa Pvalue lebih kecil dari 0,05, yang berarti bahwa pengujian signifikansi nilai F dari variabel mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar secara bersama-sama.
commit to user E. Pembahasan
1. Pengujian Model 1
Pada penelitian model 1 ini menemukan bahwa kecerdasan emosional ternyata memberikan pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar, dengan nilai IPK menjadi nilai ukurnya.
Variabel kecerdasan emosional memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap prestasi belajar. Hal ini ditunjukkan dari nilai signifikansi t yaitu 0,028 yang berarti variabel ini berpengaruh secara signifikan terhadap prestasi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional juga akan semakin tinggi prestasi belajar.
Seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik, dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya sendiri dengan cepat, lebih terampil dalam memusatkan perhatian, lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain, dan lebih cakap dalam memahami orang lain.
Hasil penelitian ini konsisten dan mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Purnaningtyas (2011). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian oleh Purnaningtyas (2011) yaitu pada subjek penelitiannya. Pada penelitian Purnaningtyas (2011) menggunakan siswa SMP sebagai subjek penelitiannya. Penelitian lainnya yang konsisten dan
commit to user
mendukung penelitian ini yaitu penelitian oleh Bahtiar (2009). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian oleh Bahtiar (2009) yaitu pada subjek penelitiannya. Pada penelitian Bahtiar (2009) menggunakan siswa SMA sebagai subjek penelitiannya.
Pada hipotesis menyatakan bahwa variabel kecerdasan emosional mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar yang dinyatakan diterima karena dalam uji F menunjukkan adanya pengaruh akan hal tersebut. Pada uji F menunjukkan Pvalue 0,028, maka H1 diterima yang berarti variabel independen secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.