BAB IV HASIL PENELTIAN
4.2. Analisa Bivariat
4.2.2. Uji Non Parametrik
Tabel 4.5Hasil Uji Wilcoxon
Pre – post
Z -4.8002a
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
Tabel 4.5 menunjukan Z hitung (-4.8002) terletak di daerah luar Z tabel (responden <1000= -1,96 - 1,96) atau di daerah Ho di tolak, maka keputusan adalah menolak Ho. Tanda min (-) pada tabel hasil Z menunjukan arah pengaruh slow deep breathing. Tanda (-) menunjukan arah berlawanan yang berarti semakin sering dilakukan tindakan slow deep breathing makan akan semakin menurun skala nyeri yang dirasakan oleh responden. Melihat P value (Sig.) < 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, sedangkan apabila P value (Sig.) > 0.05 maka H0 di terima dan H1 ditolak. Hasil analisa uji wilcoxon menunjukan nilai P value = 0.000 sehingga P value < 0.05 maka H0 ditolak dan H1 diterima bahwa terdapat pengaruh slow deep breathing terhadap skala nyeri akut pada pasien cidera kepala ringan.
50 BAB V PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang pembahasan hasil penelitian dengan teori dan penelitian sebelumnya yang mendukung atau berlawanan hasil penelitian. Pembahasan pertama tentang karakteristik responden meliputi usia dan jenis kelamin. Pada bagian berikutnya akan dibahas tentang hasil analisis untuk variabel skala nyeri akut sebelum dan sesudah dilakukan latihan slow deep breathing. Hasil penelitian dapat diterapkan dan diaplikasikan pada praktek keperawatan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada cidera kepala ringan khususnya pada pasien yang mengalami nyeri akut.
5.1. Hasil Analisa Univariat 5.1.1. Karakteristik responden
Karakteristik yang dibahas pada bab ini adalah meliputi usia dan jenis kelamin :
5.1.1.1. Usia
Karakteristik responden menurut umur diklasifikasikan menurut teori perkembangan Elizabeth B. Hurlock dibagi menjadi 3 yaitu remaja (12 – 20 tahun) , dewasa muda (21 – 40 tahun), dan dewasa tengah (41 – 60 tahun) (Rola, 2006). Berdasarkan tabel 4.1 didapatkan hasil remaja 23,4%, dewasa muda 46,6%, dewasa madya 30%.Tingginya angka kejadian cidera kepala pada usia
dewasa muda karena pada usia tersebut merupakan golongan umur yang paling aktif dan produktif (Nasution, 2010).
Mayoritas penderita berada pada kelompok usia produktif yang memiliki mobilitas yang tinggi namun kesadaran menjaga keselamatan masih rendah. Produktifitas yang tinggi pada usia produktif disertai dengan tingkat aktifitas dan mobilitas yang tinggi inilah yang menjadi penyebab banyaknya kejadian kecelakan baik kecelakaan lalulintas maupun kerja yang menimbulkan cidera kepala (Bustan, 2007).
5.1.1.2. Jenis Kelamin
Responden diklasifikasikan menjadi 2 yaitu laki - laki sebanyak 53,3 % dan perempuan sebanyak 46,3. Data ini juga didukung oleh Evan (1996) dalam Nasution,(2010) yang menyebutkan distribusi kasus cidera kepala pada laki-laki duakali lebih sering dari pada wanita. Penelitian lain juga menunjukkan hal samayaitu sebagian besar (74 %) kasuscidera kepala adalah laki-laki. Besarnya jumlah laki-laki dalam kejadian cidera kepala erat kaitannya dengan mobilisasi individu yang lebih seringsehingga angka kecelakaan lebih tinggi (Suparnadi, 2002 dalam Nasution, 2010).
Mobilitas pada laki-laki lebih aktif dari perempuan seperti pada aktifitas pekerjaan dan transportasi. Laki-laki umumya lebih sering bekerja pada lingkungan outdoor dan menggunakan
52
kendaraan pribadi sehingga laki-laki rentan terjadi kecelakaan lalulintas maupun kecelakaan kerja yang menimbulkan cidera kepala (zainuddin, 2013). Hal ini disebabkan laki-laki lebih banyak berada diluar rumah, ditempat kerja, dan dijalanan serta merupakan pengguna kendaraan terbanyak (damanik, 2011)
5.1.2. Skala Nyeri Akut Sebelum dan Sesudah Melakukan Slow Deep Breathing Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata skala nyeri akut pasien cidera kepala ringan sebelum tindakan adalah 3.5333 dengan nilai minimum 2 dan nilai maksimum adalah 5 sedangkan skala rata-rata skala nyeri akut pasien cidera kepala ringan sesudah dilakukan tindakan adalah 1.9333 dengan nilai minium 1 dan nilai maksimum 3. Hasil pengukuran ini sesuai dengan penelitian Tarwoto (2011) intensitas nyeri kepala akut pada kelompok intervensi dan kontrol sebelumperlakuan termasuk dalam kategori nyeri kepala ringan. Hasil penelitian inisesuai yang dikemukakan oleh Kraus (1980) dalam Tarwoto (2011) yangmenyatakan bahwa sebagian besar (72,5%) pasien cedera kepala mengalaminyeri kepala ringan.
Pasien cidera kepala ringan pada umumnya mengalami nyeri kepala dengan skala kecil, sebab trauma pada cidera kepala ringan tidak sampai melukai atau menimbulkan trauma pada jaringan otak. Trauma pada cidera kepala ringan pada umumnya hanya terjadi dibagian kulit kepala dan kontisio serta edema dipermukaan kulit, sehingga hanya menimbulkan respon nyeri dengan skala kecil ( Nurfaise, 2012).
Menurut Packard dan Ham (1997) dalam Tarwoto (2011) nyeri kepala post trauma kepala,khususnya pada cedera kepala ringan disebabkan perubahan neurokimia yangmeliputi depolarisasi saraf, pengeluaran asam amino pada neurotransmitteryang berlebihan, disfungsi serotonergik, gangguan pada opiate endogen,kehilangan keseimbangan kalsium dan perubahan kadar magnesium. Nyeri kepalapada cedera kepala disebabkan karena kerusakan sel saraf akan memicupelepasan hormone tirotropin yang menjadi antagonis dari efek opioid peptide endogen tanpa gangguan analgesik.
5.1.3. Pengaruh Slow Deep Breathing Terhadap Intensitas Nyeri Kepala Akut Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien nyeri kepala akut pada ciderakepala ringan yang diberikan tindakan slow deep breathing di ruang IGD memperlihatkan adanya perbedaan yangbermakna rata-rata intensitas nyeri kepala sebelum dan sesudah tindakan ( p value = 0.000 < 0.05). Selisih rata-rata skala nyeri kepala akut sebelum dan susudah dilakukan slow deep breathing adalah 1.6. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini,terlihat bahwa tindakan slow deep breathing mempunyai pengaruh yang signifikan terhadappenurunan intensitas nyeri kepala akut pada pasien cidera kepala ringan.
Slow deep breathing adalah teknik untuk mengurangi ketegangan nyeri dengan mekanisme merelaksasi. Slow deep breathing merupakan salah satu terapi komplementer yang telah dibuktikan manfaatnya melalui penelitian-penelitian terutama dalam upaya menurunkan atau mengurangi
54
stres, kecemasan pasien, penurunan tekanan darah, meningkatkan fungsi paru dan saturasi oksigen. Slow deep breathing dapat menurunkan nyeri dengan cara mengurangi stres, kecemasan pasien, penurunan tekanan darah, meningkatkan fungsi paru dan saturasi oksigen yang menyebabkan terjadinya relaksasi sehingga mengurangi rasa nyeri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri akibat trauma. Tindakan relaksasi dapat mengubah persepsi responden terhadap nyeri(Tarwoto, 2011).
Relaksasi memberikan efek secara langsung terhadap efek secara langsung terhadap fungsi tubuh seperti penurunan tekanan darah, nadi, dan penurunan konsumsi oksigen oleh tubuh serta penurunan ketegangan otot (Smeltzer & Bare, 2008).Slow deep breathing dapat mengendalikan dan mengembalikan emosi yang akan membuat tubuh rileks seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Mekanisme latihan slow deep breathing dalam menurunkan skala nyeri akut pada pasien cedera kepala ringan sangat terkait dengan pemenuhankebutuhan oksigen pada otak melalui peningkatan suplai dan denganmenurunkan kebutuhan oksigen otak. Latihan slow deep breathingmerupakan tindakan yang dapat meningkatkan suplai oksigen dan menurunkan kebutuhanoksigen otak, sehingga terjadi keseimbangan oksigen otak. Slow deep breathing merupakan tindakan yang disadari untuk mengaturpernapasan secara dalam dan lambat. Napas dalam lambat dapat menstimulasirespons saraf otonom melalui pengeluaran neurotransmitter
endorphin yangberefek pada penurunan respons saraf simpatis dan peningkatkan responsparasimpatis (Tarwoto, 2011). Stimulasi saraf simpatis meningkatkan aktivitas tubuh,sedangkan respons parasimpatis lebih banyak menurunkan ativitas tubuh ataurelaksasi sehingga dapat menurukan aktivitas metabolik (Velkumary &Madanmohan, 2004). Stimulasi saraf parasimpatis dan penghambatanstimulasi saraf simpatis juga berdampak padavasodilatasi pembuluh darah otak yang memungkinkan suplai oksigen otaklebih banyak sehingga perfusi jaringan otak diharapkan lebih adekuat (Downey, 2009).
Jerath, et al. (2006) mengemukakan bahwa mekanisme penurunanmetabolisme tubuh pada pernapasan lambat dan dalam masih belum jelas,namun menurut hipotesanya napas dalam dan lambat yang disadari akanmempengaruhi sistem saraf otonom melalui penghambatan sinyal reseptorperegangan dan arus hiperpolarisasi baik melalui jaringan saraf dan non-sarafdengan mensinkronisasikan elemen saraf di jantung, paru-paru, sistem limbik,dan korteks serebri. Selama inspirasi, peregangan jaringan paru menghasilkansinyal inhibitor atau penghambat yang mengakibatkan adaptasi reseptorperegangan lambat atau slowly adapting stretch reseptors (SARs) danhiperpolarisasi pada fibroblas. Penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tarwoto (2011) yang menggunakan Quasi-Experimental Design dengan pendekatanPretest-Posttest Control Group Designdidapatkan hasil ada perbedaan yang bermakna rata-rata intensitas nyeri kepala sebelumdan setelah intervensi
56
slow deep breathingpada kelompok intervensi, dan juga adaperbedaan yang bermakna rata-rata intensitas nyeri kepala sebelum dansetelah intervensi pada kelompok kontrol.
Penelitian Kristmas (2015) menunjukkanberdasarkan hasil pengukuran secara manual menunjukkan adanya penurunan skala nyeri kepala yang lebih maksimal pada kelompok yang dilakukan slow deep breathing dibandingkan dengan kelompok Non-slow deep breathing, sehingga slow deep breathing tetap dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan mandiri dalam menurunkan nyeri kepala.Penelitian lain yang mendukung pengaruh slow deep breathing terhadap nyeri akut adalahpenelitian Oktalina (2014) yang mengemukakan bahwa slow deep breathing mampu mengurangi nyeri akut pada pasien pasca operasi kangker kandung kemir.
Mengacu pada teori diatas dapat peneliti simpulkan bahwa teknik slow deep beathing dapat menurunkan skala nyeri dikarenakan slow deep breathing menurunkan atau mengurangi stres, kecemasan pasien, penurunan tekanan darah, meningkatkan fungsi paru dan saturasi oksigen yang menimbulkan efek relaksasi sehingga nyeri yang dirasakan oleh responden dapat berkurang.
55 BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
6.1.1. Distribusi responden berdasarkan karakteristiknya meliputi: tahap perkembangan dewasa muda (20-40 tahun) merupakan tahap perkembangan tertinggi terjadi kasus cidera kepala ringan yaitu sebanyak 46,6 % dan sebagian besar berjenis laki-laki sebanyak 53,4 %.
6.1.2. Skala nyeri akut pasien cidera kepala ringan sebelum mendapatkan tindakan latihan slow deep breathing adalah 3.5333 dengan nilai minimum 2 dan nilai maksimum 5.
6.1.3. Skala nyeri akut pasien cidera kepala ringan setelah mendapatkan tindakan latihan slow deep breathing adalah 1.9333 dengan nilai minium 1 dan nilai maksimum 3.
6.1.4. Ada perbedaan yang bermakna rata-rata skala nyeri kepala sebelum dan setelah tindakan slow deep breathing.
6.1.5. Terdapat pengaruh slow deep breathing terhadap skala nyeri akut pada Responden cidera kepala ringan dengan nilai P value = 0.000.
6.2. Saran
6.2.1. Pasien cidera kepala ringan
Bagi pasien cidera kepala ringan dapat melakukan slow deep breathing dalam penatalaksanaan nonfarmakologi nyeri akut yang dialami.
57
6.2.2. Perawat RSUD Pandan Arang Boyolali dan tenaga kesehatan lain
Perawat pelaksana harus dapat menguasai tindakan slow deep breathing dengan mempelajari lebih mendalam teknik slow deep breathing sehingga diperlukan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan untuk meningkatkan efektifitas tindakan slow deep breathing agar dapat maksimal dalam memberikan intervensi kepada pasien.
6.2.3. Bagi RSUD Pandan Arang Boyolali
Diharapkan tidakan slow deep breathing dapat dijadikan salah satu intervensi keperawatan mandiri pada pasien yang mengalami cedera kepala ringan dan bagi menager pelayanan keperawatan dapat menjadikan slow deep breathing sebagai standar operasional prosedur dalam asuhan keperawatan pasien cedera kepala ringan yang mengalami nyeri akut. 6.2.4. Intitusi pendidikan
Tindakan slow deep breathing dapat dipertimbangkan menjadi materi yang diajarkan kepada para mahasiswa dalam mengurangi nyeri akut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber ilmu atau referensi baru bagi para pendidik dan mahasiswa sehingga dapat menambah wawasan yang lebih luas dalam hal intervensi keperawatan mandiri.
6.2.5. Peneliti selanjutnya
Diharapkan hasil penelitian ini menjadi bahan kajian, dan rujukan dalam melakukan penelitian angka kejadian cidera kepala pada fase perkembangan dewasa muda dan dapat melakukan penelitian Quasi-Experimental Design dengan kelompok kontrol di ruang IGD. Penelitian ini
juga dapat dilanjutkan dengan sampel yang lebih besar dan kriteria inklusi yang lebih ketat. Karena penelitian ini bersifat aplikatif sehingga layak untuk dikembangkan lagi untuk memperkaya khasanah keilmuan keperawatan. Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi inspirasi para peneliti selanjutnya untuk meneliti pada kasus-kasus lain selain pada nyeri kepala akut.
6.2.6. Peneliti
Peneliti lebih memperdalam keilmuan tentang ilmu keperawatan khususnya pada kasus cidera kepala ringan dengan keluhan nyeri akut serta dapat mengetahui pengaruh slow deep breathing terhadap skala nyeri akut pada pasien cidera kepala ringan sehingga peneliti dapat mengaplikasikan pada pelayanan kesehatan.
a
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M.Z. (2008). Korelasi antara Kadar Oxygen Delivery Dengan Length of Stay pada Pasien Cedera Kepala Sedang, Program Pendidikan Bedah Dasar Bagian Bedah FK Unpad.
Arikunto, Suharsimi,. (2010). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi 2010). Jakarta : Rineka Cipta.
Baulch, I. (2010). Assessment and management of pain in the paediatric patient. Nursing Standard.
Black, M. J., & Hawks, H.J. (2009). Medical Surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes. 8th Edition. St Louis Missouri: Elsevier Saunders.
Breathesy. (2006). Blood Pressure reduction : Frequently asked question, diakses tanggal 18 http:www.control-your-blood-pressure.com/faq.html, Desember 2014.
Brooker, C. (2005). Ensiklopedia Keperawatan (Churchill Livingstone’s Mini EncyclopediaOf Nursing 1” Editing ). Jakarta : EGC.
Brunner & Suddarth’s. (2004). Textbook of Medical Surgical Nursing, Lippincott: Williams & Wilkins.
Bustan, MN., (200). Epidemologi penyakit tidak menular. Rineka Cipta, Jakarta. Corwin, E, J. (2009). Handbook Of Pathophysiology,3rd Ed. Jakarta : EGC.
Dahlan Sopiyudin, M. (2011). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan: Deskriptif, Bivariat, dan Multivariat. Edisi 5. Jakarta : Salemba Medika. Damanik, RP., (2011). Karakteristik Penderita Cidera Kepala Akibat Kecelakaan
Lalulintas Darat Rawat Inap Di RSUD DR. H. Kumpulan Pane Tebing Tinggi Tahun 2010-201. Fakultas Kesehatan Masyarakan Universitas Sumatra Utara.
Deem, S. (2006). Management of Acute Brain Injury and Associated Respiratory Issues, Symposium Papers, Journal Respiratory Care.
Dewanto, G. Suwodo, W, J. Riyanto, B. Turana, Y. (2009). Panduan Praktis Diagnosis & Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta : EGC.
Downey, L.V. (2009). The Effects of Deep Breathing Training on Pain Management in The Emergency Department. Southern Medical Journal, (102), 688-692.
Geng, A., & Ikiz, A. (2009). Effect of Deep Breathing Exercises on oxygenatipn after head and neck surgery. Elsevier Mosby.
Grace, P, A & Neil, R, B. (2007). At Glance Ilmu Bedah. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama.
Hanley & belfus. (2008). Emergency Nurcing Secrets. Jakarta : EGC.
Hickey, V.J. (2004). The Clinical Practice Of Neurological and Neurosurgical Nursing, 4th Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Hidayat, A,. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Surabaya : Salemba.
Jerath, R., Edry, J.W., Barnes, V.A., Jerath, V. (2006). Physiology of long pranayamic breathing : Neural respiratory elements may provide a mechanism that explains how slow deep breathing shifts the autonomic nervous system, Medical Hypothesis.
Ktistmas, Sheren., (2015). Slow Deep Breathing Dalam Menurunkan Skala Nyeri Kepala Pada Penderita Hipertensi. Skripsi. Universitas Pelita Harapan Tanggerang.
Larsson, B., & Jane, C. (2004). Relaxation Treatment of Adolescent Headache Sufferers : Results From a School-Based Replication Series, diakses tanggal
18 desember.
2014http://web.ebscohost.com/ehost/detail?vid=5&hid=111&sid=76de80e5 -5527-4f6d,.
Li, Liu & Herr, (2007), Post Operatif Pain Intensity Assessment: A Comparison Of Four Scale In Chinese Adult. Diunduh Tanggal 19 Desember 2014 Dari http://www.nebi.nlm.nih.gov/
Little, R.D. (2008). Increased Intracranial Pressure. Elsevier.Inc.
Lusiyawati (2009). Asuhan Keperawatan Pada Nn. S Dengan Cedera Kepala Ringan Di Bangsal Flamboyan Rsud Pandan Arang Boyolali. Karya Tulis Ilmiah. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Machfoed, M Hassan., (2010). Konsensus Nasional III, Diagnostik dan Penatalaksanaan Nyeri Kepala, Kelompok Studi Nyeri Kepala. Surabaya : Airlangga University Press.
c
Madikians, A., & Giza, C.C. (2006). A Clinician’s Guide to the Pathophysiology of Traumatic Brain Injury. Indian Journal of Neurotrauma.
Martini, F. (2006). Fundamentals of Anatomy & Physiology. Seventh Edition, Pearson, Benjamin Cummings.
Meliala, L.KRT., & Suryamiharja, A. (2007). Penuntun Penatalaksanaan Nyeri Neuropatik. Edisi Kedua. Yogyakarta: Medikagama Press.
Miller, Corol, A. (2009). Nursing For Wellness In Older Adults. China.
Nasution. E.S.(2010). Karakteristik Cedera Kepala Akibat Kecelakaan Lalu Lintas. http://repository.usu.ac.id/bitstream, diakses tanggal 20 Juni 2015 Notoadmojo, Soekidlo,. (2005), Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Nurfaise. (2012). Hubungan Derajat Cidera Kepala Dan Gambaran Ct Scan Pada Penderita Cidera Kepala Di RSU DR. Soedarso Periode Mei-Juli 2012. Universitas Tanjungpura.
Nursalam. (2011). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Dan Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis Dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika .
Oktalina, lidia., (2014) Pemberian slow deep breathing terhadap penurunan intensitas nyeri pada asuhan keperawatan Ny.s dengan pasca CA.BULI Diruang mawar RSUD Dr. Moewardi Surakarta. KTI. Prodi D III Keperawatan Stikes Kusuma Husada.
Polit & Hungler. (2005). Nursing Research: Principles And Methods Philadelphia. Lippincott Company.
Potter, A.P., & Perry, A. (2006). Fundamentals of Nursing. 6 th Edition. St. Louis Missouri: Mosby-Year Book, Inc.
Rola, Fasti., (2006). Hubungan Konsep Diri Dengan Motivasi Berprestasi Bagi Remaja. Universitas Sumatra Utara.
Santoso, Singgih,. (2010). Statistik Parametrik. Jakarta : Pt Elex Media Komputindo
Soertidewi L, Misbach J, Sjahrir H, Hamid A, Jannis J, Bustami M, editors. (2006). Konsensus nasional penanganan trauma kapitis dan trauma spinal. Jakarta : Perdossi.
Soertidewi L, Misbach J, Sjahrir H, Hamid A, Jannis J, Bustami M, editors. (2006). Konsensus nasional penanganan trauma kapitis dan trauma spinal. Jakarta : Perdossi.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Syamsuddin, A. (2009). Efektifitas Terapi Relaksasi Napas Dalam dengan Bermain Meniup Baling-baling untuk menurunkan tingkat nyeri pada anak post perawatan luka operasi di dua Rumah Sakit di Banda Aceh, Nanggoe Aceh Darussalam. Tesis: Tidak dipublikasikan.
Tarwoto. (2011). Pengaruh Latihan Slow Deep Breathing Terhadap Intensitas Nyeri Kepala Akut Pada Pasien Cedera Kepala Ringan. Universitas Indonesia.
Umar, Husein,. (2005). Riset Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Velkumary, G.K.P.S., & Madanmohan. (2004). Effect of Short-term Practice of Breathing Exercise on Autonomic Function in Normal Human Volunteers. Indian Journal Respiration.
Wagner AK. (2006). Conducting research in TBI: current concepts and issues. In: Zasler ND, Katz DI, Zafonte RD. Brain Injury Medicine. New York: Demos Medical Publishing.
Wijayasakti, R. (2009), Glasgow Coma Scale (GCS) dengan Keluhan Nyeri Kepala Pasca Trauma pada Pasien Cedera Kepala di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Karanganyar, Skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Zainuddin, Siti Z. (2013), Hubungan Amnesia Post Trauma Kepala Dengan Gangguan Neurobehavior Pada Penderita Cidera Kepala Ringan Dan Sedang, Universitas Hasanudin.