HASIL PENELITIAN
IV.1. Karakteristik Demografik
IV.1.1. Uji Normalitas Karakteristik Demografik
Untuk karakteristik demografi pada studi ini disajikan pada tabel 4.1.
Sebelum melakukan analisis lebih lanjut untuk karakteristik demografik dilakukan uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-smirnov karena jumlah subjek pada studi ini > 50 subjek. Variabel numerik pada studi ini disajikan dalam rerata dan simpangan baku jika berdistribusi normal (p > 0.05) dan median (minimum-maksimum) jika tidak berdistribusi normal (p < 0.05) dapat dilihat di lampiran.
Untuk variabel kategorik disajikan dalam bentuk jumlah dan persen.
Tabel 4.1. Distribusi karakteristik demografik subjek penelitian
Tabel 4.1. Memperlihatkan karakteristik demografik dari masing-masing kelompok. Untuk nilai median (min-max) umur pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga adalah 19 (17-20) thn dan 20 (19-22) thn.
Untuk jenis kelamin yang terbanyak adalah perempuan pada kelompok subjek
mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 32(53.3%) dan 34(56.7%). Pada jumlah penghasilan orangtua terbanyak adalah > 5juta pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 46 (76.7%) dan 52 (86.7%). Untuk tempat tinggal terbanyak adalah kost pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 34 (56.7%) dan 31 (51.7%). Untuk suku yang terbanyak adalah suku selain Batak pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 32 (53.3%) dan 37 (61.7%). Untuk daerah asal terbanyak adalah berasal dari luar kota Medan pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga didapatkan sebanyak 32 (53.3%) dan 33 (55.0%) .
Tabel. 4.2 Jumlah mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga yang mengalami distress psikologis.
Tabel 4.2. di atas memperlihatkan mahasiswa FK-USU yang mengalami distress psikologis terbanyak yaitu pada mahasiswa FK-USU tahun pertama sebanyak 31 orang (51.7%).
Tabel 4.3. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga
n Median
(min-max)
p
Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun pertama
60 18 (9-26) p< 0.001*
Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun ketiga
60 13 (6-21)
*Mann-Withney U Test
Tabel 4.3. di atas memperlihatkan Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga dengan skor K-10 18(9-26) dan 13(6-21) dan nilai (p<0,001).
Tabel 4.4. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Tempat Tinggal.
n Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU
p
Tahun Pertama
- Keluarga 26 med(min-max)
18 (10-26)
p= 0.562a
- Kost 34 med(min-max)
18 (9-21) Tahun Ketiga
- Keluarga 29 rerata ± s.b
13.59 ± 3.88
p= 0.896b
- Kost 31 rerata ± s.b
13.45 ± 4.03
*Mann-Withney U Test
*t test independent
Tabel 4.4. di atas memperlihatkan Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Tempat Tinggal dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Keluarga dan Kost dengan nilai p=0.562 dan p=0.896.
Tabel 4.5. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga Berdasarkan Suku
n Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU
p
Tahun Pertama
- Suku Batak 32 med(min-max)
17.5 (9-26)
p=0.828a
- Selain Batak 28 med(min-max)
18 (10-23) Tahun Ketiga
- Suku Batak 23 rerata ± s.b
14.13 ± 4.27
p=0.344b
- Selain Batak 37 rerata ± s.b
13.14 ± 3.71
*Mann-Withney U Test
*t test independent
Tabel 4.5. di atas memperlihatkan Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Suku dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Suku Batak dan Suku Selain Batak dengan nilai p=0.828 dan p=0.344.
Tabel 4.6. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga Berdasarkan Daerah Asal
n Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU
p
Tahun Pertama
- Kota Medan 28 med(min-max)
17.50(9-26)
p=0.823a
- Luar Kota Medan 32 med(min-max)
18(10-21) Tahun Ketiga
- Kota Medan 27 rerata ± s.b
13.55 ± 3.95
p=0.771b
- Luar Kota Medan 33 rerata ± s.b
13.48 ± 3.96
*Mann-Withney U Test
*t test independent
Tabel 4.6. di atas memperlihatkan Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Daerah Asal dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Kota Medan dan Luar Kota Medan dengan nilai p=0.823 dan p=0.771.
BAB V PEMBAHASAN
Studi ini merupakan suatu studi analitik observasional dengan diagnosis penelitian analitik komperatif numerik tidak berpasangan dua kelompok satu kali pengukuran dengan pendekatan potong lintang dengan menggunakan instrumen penilaian The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) dimana subjek penelitian adalah Mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga. dengan melibatkan 120 subjek, masing-masing kelompok terdiri atas 60 subjek Mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga yang telah memenuhi kriteria inklusi. Sebelum mengisi kuesioner, peneliti juga telah mendapatkan persetujuan dari subjek penelitian melalui pengisian informed consent. Penelitian ini juga telah mendapatkan persetujuan dari komite etik penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Untuk analisis statistik digunakan IBM SPSS Statistics versi 25 dengan analisis data uji t tidak berpasangan bila data berdistribusi normal dan uji Mann-Whitney U bila data tidak berdistribusi normal setelah sebelumnya dilakukan uji transformasi log namun gagal. Untuk uji normalitas data digunakan uji Kolmogorov-smirnov karena jumlah subjek pada studi ini > 50 subjek yaitu berjumlah 60 subjek tiap kelompok.
Pada tabel 4.1 menunjukan karakteristik demografik pada masing-masing kelompok. Untuk nilai median (min-max) Umur pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga adalah 19 (17-20) thn dan 20 (19-22) thn. Selain itu dijumpai perbedaan bermakna pada kedua kelompok dengan
diperkirakan 10-20% remaja di dunia mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental. Gangguan mental termasuk gangguan depresi dan gangguan kecemasan mencapai hingga 17% di antara remaja berumur 15-19 tahun.
Persamaan dengan studi ini adalah bahwa umur yang berisiko mengalami gangguan kecemasan sangat berdekatan yaitu pada umur antara 17-20 tahun yang dijumpai pada mahasiswa tahun pertama masa perkuliahan.23
Untuk jenis kelamin terbanyak adalah perempuan pada masing-masing kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga didapatkan subjek dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 53.3% dan 56.7%, Tidak terdapat perbedaan bermakna pada jenis kelamin pada kedua kelompok berdasarkan jenis kelamin (p=0.855). Pada studi Qamar dan kawan-kawan pada 2014 di Pakistan, yang dilakukan pada sekolah kedokteran militer Sebanyak 445 mahasiswa kedokteran diperoleh bahwa Distress psikologis untuk mahasiswa perempuan (13,0%) lebih besar dari skor untuk laki-laki (11,2%; p=0,011).10 Persamaan dengan studi ini yaitu menggunakan instrument K-10 dan distress psikologis ditemukan selama tahun akademik pertama dan ketiga mereka, tetapi tidak di tahun akademik kedua dan keempat mereka. Tidak ada hubungan yang signifikan antara stres dan tahun akademik (p=0,392) sedangkan pada studi ini terdapat hubungan sangat signifikan antara Mahasiswa FK-USU tahun Pertama dan tahun ketiga dengan nilai p<0.001. Perbedaan pada studi ini tidak menilai perbedaan distress psikologis pada perempuan dan laki-laki.
Pada jumlah penghasilan orangtua pada kedua kelompok subjek didapatkan kelompok dengan penghasilan orangtuanya penghasilan > 5 juta
bermakna pada jumlah penghasilan orangtua pada kedua kelompok berdasarkan jumlah penghasilan orangtua (p=0.238). Studi oleh al saadi dan kawan-kawan di syria tahun 2017 diperoleh bahwa distress psikologis lebih mungkin terjadi pada mereka yang memiliki tingkat pendapatan ekonomi "menengah" atau "tidak cukup". Stres lebih rendah pada tahun akhir dibandingkan dengan mahasiswa tahun awal dan lebih tinggi pada tingkat pendapatan ekonomi "rendah"
dibandingkan dengan pendapatan pribadi "cukup". Sedangkan pada mahasiswa kedokteran rata-rata penghasilan orangtuanya adalah cukup.3
Berdasarkan nilai median (min-max) Skor K-10 pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga terdapat Perbedaan Skor K-10 antara Mahasiswa FK-USU tahun Pertama dan tahun ketiga dengan skor K-10 18(9-26) dan 13(6-21), Selain itu dijumpai perbedaan sangat signifikan skor K-10 pada kedua kelompok dengan nilai (p<0,001). Pada studi yang dilakukan Dendle.
C pada tahun 2018 di Australia sebanyak 126 subjek dengan kuisioner K-10 diperoleh bahwa dampak distress psikologis mahasiswa kedokteran terhadap kinerja akademik pada tahun pertama mereka. Studi ini tidak meneliti tentang mahasiswa yang aktif di perkuliahan tetapi lebih mengidentifikasi bahwa mahasiswa kedokteran mengalami perasaan tertekan psikologis pada saat masuk ke penempatan klinis pertama atau awal, dan perasaan ini meningkat sepanjang tahun klinis pertama tetapi memiliki dampak minimal pada hasil akademik.9
Berdasarkan nilai median (min-max) Skor K-10 pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga terdapat Perbedaan Skor K-10 antara Mahasiswa FK-USU tahun Pertama dan tahun ketiga dengan skor K-10 18(9-26) dan 13(6-21), Selain itu dijumpai perbedaan sangat signifikan skor K-10
pada kedua kelompok dengan nilai (p<0,001). Hasil penelitian ini juga sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Abdulghani tahun 2008 di Saudi Arabia tentang stres dan depresi di antara mahasiswa kedokteran dengan menggunakan instrumen K-10, didapati stres lebih tinggi (74,2%) pada tahun pertama dan tahun ketiga masa pendidikan (48,6%), Ada hubungan yang sangat signifikan secara statistik antara tahun subjek penelitian dan tingkat stres. Ketika tahun penelitian meningkat, prevalensi stres menurun, yang secara statistik signifikan (X2 = 45,9, p <0,0001). Odds rasio 6,4 untuk tahun pertama, dan odds rasio 2,4 untuk tahun ketiga. Mahasiswa mengalami stres lebih tinggi pada tahun pertama, dan menurun pada tahun ketiga.27
Hasil studi ini juga sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Saravanan tahun 2014 di Malaysia tentang studi Kecemasan di antara Mahasiswa Kedokteran. Dengan kuisioner K-10. bahwa Tekanan psikologis sering dikenali di kalangan mahasiswa kedokteran terutama mahasiswa tahun pertama. Lebih dari setengah (53,9%) dari mahasiswa kedokteran mengalami tekanan psikologis dalam penelitian ini. mahasiswa kedokteran menunjukkan prevalensi kecemasan yang secara signifikan lebih tinggi daripada populasi umum. Hasil mengungkapkan 83 mahasiswa kedokteran mengalami tekanan psikologis (53,9%) sementara 71 dari mereka (46,1%) tidak memiliki tekanan psikologis.28
Hasil studi ini juga sesuai dengan studi yang dilakukan Saeed A.A dan kawan-kawan tahun 2016 di Saudi Arabia yang meneliti mahasiswa kedokteran dengan instrument K-10 diperoleh bahwa distress psikologis secara signifikan dikaitkan dengan jenis kelamin dan tingkat junior, dengan hasil skor K-10
rata-rata dari 80 peserta adalah 26,03 ± 9,7. Mahasiswa dengan distress psikologis sebanyak 33,8%, dan 30% baik-baik saja.29
Berdasarkan Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Tempat Tinggal tidak terdapat perbedaan signifikan antara Keluarga dan Kost dengan nilai p=0.562 (tahun pertama) dan p=0.896 (tahun ketiga). Studi ini sama dengan studi yang dilakukan oleh Saeed, A., dkk tahun 2016 di Arab Saudi tidak terdapat perbedaan signifikan tingkat distress psikologis dengan nilai p=0.7 (tahun pertama) dan p=0.81 (tahun ketiga).29
Berdasarkan skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Suku dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Suku Batak dan Suku Selain Batak dengan nilai p=0.828 dan p=0.344. Studi ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Al-Saadi,T., dkk tahun 2017 di Arab Saudi tidak terdapat perbedaan signifikan tingkat distress psikologis dengan nilai p=0.084 (tahun pertama) dan p=0.668 (tahun ketiga).3
Berdasarkan skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Daerah Asal dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Kota Medan dan Luar Kota Medan dengan nilai p=0.823 dan p=0.771.
Studi ini tidak sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Dendle, C., dkk tahun 2018 di Australia terdapat perbedaan signifikan tingkat distress psikologis berdasarkan daerah asal dengan nilai p<0.01 (tahun pertama) dan p<0.01 (tahun ketiga).9
Kelebihan studi ini adalah merupakan studi yang menggunakan validitas seleksi dalam pengambilan sampel dengan cara probability sampling tipe systematic sampling dan sudah dilakukan validitas control perancu. Kelebihan
lainnya yaitu studi ini menggunakan instrument kuisioner The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) yang sudah tervalidasi di Indonesia dan memiliki dan sensitifitas dan spesifisitas yang baik.
Keterbatasan dari studi ini adalah studi ini merupakan self reporting questionnaire dimana subjek pada studi ini mengisi sendiri kuisioner yang diberikan sehingga hasil bersifat subjektif maka ada kemungkinan dalam mengisi kuisioner ini subjek tidak mengisi sesuai dengan keadaan dirinya yang sebenarnya dan keterbatasan lainya studi ini yaitu hanya dilakukan pada satu tempat penelitian saja.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN