• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS OLEH CUT RIKA PRATIWI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS OLEH CUT RIKA PRATIWI"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN SKOR THE KESSLER PSYCHOLOGICAL DISTRESS-10 PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA DAN TAHUN KETIGA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

TESIS

OLEH

CUT RIKA PRATIWI 1 8 7 0 4 1 0 1 8

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS 1 PROGRAM STUDI PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

PERBEDAAN SKOR THE KESSLER PSYCHOLOGICAL DISTRESS-10 PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA DAN TAHUN KETIGA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

TESIS

Untuk memperoleh gelar Magister Kedokteran Klinik di Bidang Psikiatri Pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

CUT RIKA PRATIWI 1 8 7 0 4 1 0 1 8

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I PROGRAM STUDI PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Tesis : Perbedaan Skor The Kessler Psychological Distress- 10 Pada Mahasiswa Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan Nama Mahasiswa : Cut Rika Pratiwi

NIM : 187041018

Program Studi : Magister Kedokteran Klinik Konsentrasi : Psikiatri

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Prof.dr.Bahagia Loebis, Sp. K.J. (K) dr. Vita Camellia, M.Ked, Sp. K.J NIP. 19780404 200501 2 002

Ketua Program Studi Dekan Magister Kedokteran Klinik

Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, M.Ked(Oph), Sp.M(K) Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin, Sp.S(K) NIP. 19760417 20051 2 002 NIP. 19660524 199203 1 002

(4)

Telah diuji pada

Tanggal : 24 Juni 2020

Penguji :

Penguji I Penguji II

dr. H. Harun T. Parinduri., Sp. K.J. (K) Dr. dr. Elmeida Effendy, M.Ked, Sp.K.J.(K) NIP. 19720501 199903 2 004

Penguji III

Dr. dr. Mustafa M. Amin, M.Ked, M.Sc.,Sp.K.J.(K) NIP. 19780330 200501 1 003

Mengetahui, Ketua Departemen

Psikiatri

Dr. dr. Elmeida Effendy, M.Ked, Sp.K.J.(K) NIP. 19720501 199903 2 004

(5)

PERNYATAAN

PERBEDAAN SKOR THE KESSLER PSYCHOLOGICAL DISTRESS - 10 PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA DAN TAHUN KETIGA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis mengacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar pustaka.

Medan, 24 Juni 2020

CUT RIKA PRATIWI

(6)

UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta telah memberikan kesempatan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.

Tesis ini disusun untuk melangkapi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun demikian besar harapan penulis kiranya tulisan ini dapat bermanfaat dalam menambah perbendaharaan bacaan khususnya tentang :

“ Perbedaan Skor The Kessler Psychological Distress- 10 Pada Mahasiswa Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga Fakultas Kedokteran Universitas

Sumatera Utara Medan “

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis selama mengikuti Program Studi Magister Kedokteran Klinik bidang Psikiatri.

Dengan selesainya tesis ini, perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1. Rektor Universitas Sumatera Utara, Dekan Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara, Ketua TKP PPDS–1 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, dan Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program

(7)

Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. dr. Elmeida Effendy, M.Ked., Sp. K.J. (K) selaku Ketua Program Studi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, juga sebagai guru dan penguji yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, masukan, dan dorongan dalam menyelesaikan tesis ini

3. Dr. dr. Mustafa M. Amin, M.Ked., M.Sc., Sp. K.J. (K). selaku guru dan penguji yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dukungan, dan memberi masukan-masukan berharga kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

4. dr. Vita Camellia, M.Ked., Sp. K.J. sebagai guru dan pembimbing tesis penulis yang banyak membagikan pengetahuan, bimbingan, masukan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

5. dr. M. Surya Husada, M.Ked., Sp. K.J. selaku Sekretaris Program Studi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, selaku guru yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan, pengetahuan, dorongan, dukungan, dan memberi masukan-masukan berharga kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

6. Prof. dr. Bahagia Loebis, Sp. K.J.(K) selaku guru besar dan pembimbing tesis penulis yang banyak memberikan pengetahuan yang berharga, bimbingan, masukan, semangat dan dorongan kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

(8)

7. dr. H. Harun T. Parinduri, Sp. K.J. (K) selaku guru dan penguji yang banyak membimbing dan memberikan pengetahuan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

8. Prof. dr. H. M. Joesoef Simbolon, Sp. K.J. (K) selaku guru besar yang banyak memberikan bimbingan dan pengetahuan yang berharga kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

9. dr. Nazli M. Nasution, M.Ked., Sp. K.J. sebagai guru dan pembimbing tesis penulis yang memberikan bimbingan, masukan, dan dorongan dalam menyelesaikan tesis ini.

10. dr. Dessy Mawar Zalia, M.Ked, Sp. K.J. sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan kepada penulis.

11. dr. Cindy Chias Arthy, M.Ked, Sp. K.J. sebagai guru yang telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan kepada penulis

12. Rekan-rekan sejawat peserta PPDS–1 Program Studi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, dr. Anastasia V. F. Sipayung, M.Ked., dr. Julius Martin Siagian, M.Ked., dr. Ihsan Fadhilah, M.Ked., dr.

Ariwan Selian., dr. Ridho Akbar Syafwan, M.Ked., dr. Dona Farila Agus, M.Ked., dr. Lidya de Vega, M.Ked., dr. Risni Nanda., dr. Sri Andriani, M.Ked., dr. Z. Chandra S. Harahap, M.Ked., dr. Huzaipah, M.Ked., dr.

Bayu Ariatama, M.Ked., dr. Munawir Saragih, M.Ked., dr. Agusmita, M.Ked., dr. Thomas Hendriko, M.Ked., dr. Erlina Yulia, M.Ked dan dr.

Muhammad Hasbi, M.Ked., dr. Cut Nyak Dian, dr. Starki, dan dr. Fenny Aprilia Saragih yang banyak memberikan masukan serta selalu

(9)

memberikan dorongan-dorongan yang membangkitkan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

13. Para perawat dan pegawai di berbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani pendidikan.

14. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2019 dan 2017 telah bersedia berpartisipasi secara sukarela dalam penelitian untuk keperluan tesis ini.

15. Kedua orang tua yang sangat penulis cintai, Alm. H. Teuku Marzuki dan Hj. Yusrina, Mertua yang penulis sayangi Syarifuddin dan Nazriah dengan penuh kesabaran dan kasih sayang mendukung penulis dalam menjalani masa pendidikan dan penyelesaian tesis ini. Keberhasilan dalam hidup penulis tidak lepas merupakan berkat doa dan dukungan orang tua tercinta.

Seluruh keberhasilan dalam hidup ini tentu saja penulis persembahkan kepada keduanya.

16. Untuk suami tercinta Surya Firnanda, terimakasih atas segala doa dan dukungan, pengertian yang mendalam, pengorbanan, air mata, bahkan ikut berlelah membantu dalam segala hal. Tanpa semua itu, penulis tidak akan mampu menyelesaikan pendidikan dan tesis ini dengan baik. Terima kasih atas segala doa, kesabaran, dan pengertian serta pengorbanan atas segala waktu dan kesempatan yang tidak dapat penulis habiskan bersama-sama dalam suka cita dan keriangan.

17. Anakku tersayang Athifa Intan Rasyiqa dengan kelucuan dan kesabaran, menghibur dan menghapus lelah fisik dan jiwa sang mama.

(10)

18. Adik ku tersayang, drg. Cut Ayu Zuraina dan H. Maulidin Bastian, S.T, M.T., Teuku Fauzan Fahlevi, S.T., dan Teuku Farhan Rizki. Abang dan kakak yang ku cintai, Andi Rizal, S.T dan Iryanti Djohar, Eri Effendi dan Nur Fatimah, Heri Suhendra dan Siti Sofia Ibrahim yang banyak memberikan semangat dan doa kepada penulis selama menjalani pendidikan.

Semoga Tuhan membalas semua jasa dan budi baik mereka yang telah membantu penulis tanpa pamrih dalam mewujudkan cita-cita penulis. Akhirnya penulis mengharapkan semoga penelitian dan tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 24 Juni 2020

CUT RIKA PRATIWI

(11)

ABSTRAK

Perbedaan skor The kessler psychological distress-10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara Medan

Cut Rika Pratiwi1, Bahagia Loebis2, Vita Camellia2

Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Univesitas Sumatera Utara Latar Belakang: Distres psikologis didefinisikan sebagai masalah emosional yang ditandai oleh gejala psikologis yang berbeda, seperti depresi dan kecemasan.

Lingkungan perguruan tinggi khususnya pada mahasiswa kedokteran bisa menyebabkan distress psikologis. Faktor- faktor yang bisa terkait terhadap distres psikologis yaitu karena penyesuaian diri, belajar dengan hal-hal yang baru, persaingan, masalah sosial, tuntutan tinggi, kelelahan, dukungan yang buruk dan kurangnya istirahat. Terlepas dari kenyataan ini, distres psikologis adalah masalah kesehatan mental yang menjadi masalah baru bagi mahasiswa kedokteran.

Tujuan: Untuk mengetahui Perbedaan skor The kessler psychological distress-10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

Metode: Studi ini merupakan studi analitik observasional dengan diagnosis penelitian analitik komperatif numerik tidak berpasangan untuk menilai Perbedaan skor The kessler psychological distress-10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan dengan menggunakan instrumen penilaian the kessler psychological distress-10 (K-10).

Hasil: Terdapat perbedaan skor The kessler psychological distress-10 (K-10) yang sangat bermakna pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga. p<0.001.

Kesimpulan: Terdapat perbedaan distress psikologis pada mahasiswa kedokteran tahun pertama dan tahun ketiga. Distress psikologis dijumpai lebih banyak pada mahasiswa kedokteran tahun pertama dibandingkan tahun ketiga.

Kata Kunci: distress psikologis, mahasiswa kedokteran, kessler

1. Peserta PPDS-1 Program Studi Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

2. Staf pengajar Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

(12)

ABSTRACT

The difference of the Kessler psychological distress-10 (K-10) score in the first and third year students of the Medical Faculty of University Sumatera Utara

Medan

Cut Rika Pratiwi1, Bahagia Loebis2, Vita Camellia

Department Of Psychiatry Medical Faculty of Univesitas Sumatera Utara

Background: Psychological distress is defined as an emotional problem characterized by different psychological symptoms, such as depression and anxiety. College environment especially medical students can cause psychological distress. Factors that can be related to psychological distress are due to adjustment, learning with new things, competition, social problems, high demands, fatigue, poor support and lack of rest. Therefore, psychological distress is a mental health problem which is a new problem for medical students.

Objective: To find out the difference of the Kessler psychological distress-10 (K- 10) score in first and third year students of the Medical Faculty of University Sumatera Utara Medan

Method: This study is an observational analytic study with a diagnosis of unpaired numerical comparative analytic study to assess differences of the Kessler psychological distress-10 (K-10) score in first and third year students of the Medical Faculty of University Sumatera Utara Medan using the Kessler psychological distress-10 (K-10) assessment instrument.

Results: There was a very significant difference of the Kessler psychological distress-10 (K-10) score in first and third year students of the Medical Faculty of University Sumatera Utara Medan which is very significant in the first and third year students. p <0.001.

Conclusion: There was a differences of psychological distress in first-year and third-year medical students. Psychological distress is more common in first year medical students than in third years.

Keywords: psychological distress, medical student, kessler

1. Resident of Department of Psychiatry, Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara.

2. The staff of the Department of Psychiatry, Faculty of Medicine, Universitas Sumatera Utara.

(13)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... ii

PERNYATAAN ... iii

UCAPAN TERIMAKASIH ... iv

ABSTRAK ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ...xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...xiv

DAFTAR SINGKATAN ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

I.1. Latar Belakang ... 1

I.2. Rumusan Masalah ... 4

I.3. Hipotesis ... 5

I.4. Tujuan Penelitian ... 5

I.4.1. Tujuan Umum ... 5

I.4.2. Tujuan Khusus ... 5

I.4.3. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

II.1. Definisi ... 7

II.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Distress Psikologis ... 8

II.3. Aspek-Aspek Distress Psikologis ... 9

II.3.1. Jenis Kelamin ...10

II.3.2. Tempat Tinggal ...11

II.3.3. Suku ...11

II.3.4. Tahun Akademik Mahasiswa Kedokteran ...12

II.3.5. Pendapatan Orangtua ...13

II.4. Gambaran Klinis Distress Psikologis ...13

II.5. Penilaian Distress Psikologis ...15

II.4.1. The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) ...16

II.6. Kerangka Teori ...18

II.7. Kerangka Konsep ...19

II.8. Definisi Operasional ...20

(14)

III.2. Tempat dan Waktu Penelitian ...22

III.3. Populasi dan Sampel Penelitian ...22

III.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi ...23

III.4.1. Kriteria Inklusi ...23

III.4.2. Kriteria Eksklusi ...23

III.5. Estimasi Besar Sampel ...23

III.6. Persetujuan Informed consent ...26

III.7. Etika Penelitian ...26

III.8. Prosedur Kerja ...27

III.9. Alur Penelitian ...28

III.10. Rencana Manajemen dan Analisis Data ...29

III.10.1. Pengumpulan Data ...29

III.10.2. Uji Analisis ...29

BAB IV HASIL PENELITIAN ...30

IV.1. Karakteristik Demografik ...30

IV.1.1. Uji Normalitas Karakteristik Demografik ...30

BAB V PEMBAHASAN ...37

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...43

VI.1. Kesimpulan ...43

VI.2. Saran ...44

DAFTAR RUJUKAN ...46

LAMPIRAN ...50

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.5. Perbedaan skor distress psikologis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun

pertama dan tahun ketiga ... 25 Tabel 4.1. Distribusi karakteristik demografik subjek penelitian

mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga FK-USU ... 31 Tabel 4.2.Jumlah mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun

ketiga yang mengalami distress psikologis ………. 32 Tabel 4.3. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU tahun Pertama dan

Tahun Ketiga ... 33 Tabel 4.4. Skor k-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan

Tahun Ketiga Berdasarkan Tempat Tinggal ... 34 Tabel 4.5. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan

Tahun Ketiga Berdasarkan Suku ... 35 Tabel 4.6. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan

Tahun Ketiga Berdasarkan Daerah Asal ... 36

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Persetujuan Komite Etik ... 50

Lampiran 2. Lembar Penjelasan Kepada Calon Subyek Penelitian ... 51

Lampiran 3. Persetujuan Setelah Penjelasan ... 52

Lampiran 4. Identitas Subjek Penelitian ... 53

Lampiran 5. Riwayat Hidup ... 54

Lampiran 6. The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) ... 55

(17)

DAFTAR SINGKATAN

K-10 : The Kessler Psychological Distress WHO : World Health Organization

FK : Fakultas Kedokteran USU : Universitas Sumatera Utara

SPSS : Statistical Package for Social Science

(18)

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Distress psikologis merupakan masalah kesehatan mental yang umum di masyarakat berupa keadaan perubahan emosional yang biasanya ditandai dengan gejala depresi dan kecemasan. Gejala-gejala ini sering berdampingan dan terjadi bersamaan dengan keluhan somatik yang umum dan berbagai kondisi kronis, serta dengan sindrom yang tidak dapat dijelaskan secara medis.1

Lingkungan perguruan tinggi khususnya kedokteran bisa menyebabkan mahasiswa mengalami distress psikologis. faktor- faktor yang bisa terkait terhadap Distress psikologis yaitu karena persaingan, masalah sosial, tuntutan tinggi, dukungan yang buruk dan kurangnya kontrol. Terlepas dari kenyataan ini, Distress, depresi, kecemasan dan beberapa kesulitan adalah masalah kesehatan mental yang menjadi masalah baru bagi mahasiswa. Dengan demikian, penting untuk diperhatikan bahwa tingkat distress psikologis tertentu diperlukan mahasiswa untuk memotivasi mahasiswa lebih maju.1,2

Pendidikan kedokteran bertujuan untuk menghasilkan dokter terlatih yang mampu mengambil tanggung jawab memajukan kesehatan masyarakat dan mencapai tingkat tinggi penyembuhan yang berpusat pada pasien. Ini membutuhkan bertahun-tahun belajar yang penuh tekanan dan pelatihan yang serius.3

Banyak tantangan dan kesulitan yang tinggi dalam menempuh Pendidikan kedokteran yang bisa berdampak negatif pada fungsi kognitif dan pembelajaran mahasiswa di sekolah kedokteran. Selain itu, efek negatif dari pendidikan

(19)

kedokteran yang panjang dan melelahkan pada status psikologis mahasiswa telah ditunjukkan dalam beberapa studi. Hasil studi menunjukkan bahwa sepertiga mahasiswa yang sakit secara psikologis tidak lulus dari perguruan tinggi.4

Distress psikologis sebagai bagian dari kehidupan yang tak terhindarkan umumnya didapati pada berbagai kelompok populasi. Pendidikan di fakultas kedokteran dianggap sebagai lingkungan yang sangat banyak tekanan mulai dari pelajaran, pelatihan, dan ketrampilan medis yang memicu tekanan. Sebuah studi telah mengungkapkan prevalensi tinggi distress psikologis pada mahasiswa kedokteran, mulai dari 21,6% hingga 56%.5

Pendidikan memainkan peran penting dalam memfasilitasi pengembangan kepribadian, menyediakan karier dan peluang masa depan yang lebih luas.

Mahasiswa kedokteran harus bekerja keras, belajar dan berlatih dengan sungguh- sungguh sehingga mereka memperoleh keterampilan klinis yang tepat dan juga mendapatkan banyak pengetahuan, dan harus berkorban untuk mencapai hasil yang baik.6,7

Banyak kekhawatiran sebelum masuk ke perguruan tinggi, salah satu masalahnya yaitu kesenjangan antara harapan mahasiswa sebelumnya dengan realitas kehidupan di perkuliahan dapat menyebabkan kesulitan yang signifikan, jika tidak diperhatikan secara efektif dapat menyebabkan kinerja akademik yang buruk dan peningkatan angka drop-out. Banyak faktor yang harus dikorbankan baik itu waktu luang, waktu dengan keluarga dan beberapa penyesuaian khususnya untuk mahasiswa yang berasal dari luar negeri yang kurang terwakili dalam populasi mahasiswa.Pendidikan adalah investasi penting yang membantu

(20)

orang membangun keterampilan dan mempersiapkan diri untuk pekerjaan yang berkualitas.7,8

Studi yang dilakukan Yusoff dan kawan-kawan pada tahun 2012 di sekolah medis swasta Malaysia melaporkan bahwa 46,2% memiliki distress psikologis. Selain itu, tingkat distress lebih tinggi pada mahasiswa kedokteran dibandingkan dengan mahasiswa di program lain. Sebuah penelitian di Singapura melaporkan bahwa 57% dari mahasiswa kedokteran memiliki tekanan psikologis dibandingkan dengan 47,3% dari mahasiswa lainya.5

Sebuah studi oleh Dendle. C dan kawan-kawan pada tahun 2018 di Australia sebanyak 126 subjek tentang dampak distress psikologis mahasiswa kedokteran terhadap kinerja akademik pada tahun pertama mereka. Studi ini mengidentifikasi bahwa mahasiswa kedokteran mengalami perasaan tertekan psikologis pada saat masuk ke penempatan klinis, dan perasaan ini meningkat sepanjang tahun klinis pertama tetapi memiliki dampak minimal pada hasil akademik.9

Studi oleh Qamar dan kawan-kawan tahun 2014 di Pakistan, Sebanyak 445 mahasiswa kedokteran menyelesaikan kuesioner K-10. Skor rata-rata adalah 19,61 (SD = 6,76) dengan kisaran 10 hingga 43. Skor stres untuk mahasiswa perempuan (13,0%) lebih besar dari skor untuk laki-laki (11,2%; P = 0,011). Pada studi ini sebagian besar mahasiswa mengeluhkan gejala stres selama aktifitas sehari-hari mereka dengan panduan belajar medis atau pelatihan ditemukan bahwa mahasiswa kedokteran pada tahun akademik pertama dan ketiga mereka, tetapi tidak di tahun akademik kedua dan keempat mereka.10

(21)

Berdasarkan pada uraian diatas, pengukuran distress psikologis sangat penting untuk memantau kesehatan mental individu dan populasi pada titik waktu tertentu dan dalam menentukan tingkat dan penentu tren kesehatan mental dari waktu ke waktu. The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) pertama kali dikembangkan oleh Kessler dan lainnya untuk digunakan dalam Survei Wawancara Kesehatan Nasional AS tahunan untuk mengukur aspek non-spesifik dari distress psikologis. Dan telah di validasi dalam versi bahasa Indonesia dengan sensitivitas 85,7%; spesifisitas 74,7%. skala ini memiliki konsistensi internal yang baik dan kemampuan diskriminan untuk mendeteksi gangguan depresi atau kecemasan.11

Terdapat distress psikologis yang berupa gangguan depresi dan kecemasan yang dialami mahasiswa kedokteran. Maka penulis tertarik untuk meneliti perbedaan skor The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga fakultas kedokteran sumatera utara, peneiliti akan menggunakan kuisioner The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) dengan 10- item singkat yang dirancang untuk mendeteksi distress psikologis yang terkait dengan gejala psikologis dalam survei populasi ini.11

I.2. Rumusan Masalah

Apakah terdapat perbedaan skor The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

(22)

I.3. Hipotesis Studi

Terdapat Perbedaan skor The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

I.4. Tujuan Studi I.4.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Perbedaan skor The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

I.4.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui karakteristik sosiodemografik pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Untuk mengetahui skor The Kessler Psychological Distress- 10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan.

3. Untuk mengetahui skor The Kessler Psychological Distress- 10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan berdasarkan tempat tinggal.

4. Untuk mengetahui skor The Kessler Psychological Distress- 10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan berdasarkan Suku.

(23)

5. Untuk mengetahui skor The Kessler Psychological Distress- 10 (K-10) pada mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan berdasarkan daerah asal.

I.4.3. Manfaat Studi

1. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah dan informasi mengenai perbedaan skor The Kessler Psychological Distress- 10 (K-10) pada mahasiswa FK-USU Medan.

2. Hasil studi ini diharapkan dapat menambah informasi pada institusi pendidikan kedokteran untuk memberikan perhatian kepada mahasiswa kedokteran dengan tujuan memberikan layanan psikologis untuk mengurangi distress psikologis dan membantu mahasiswa mengembangkan strategi koping, sehingga dapat meningkatkan kwalitas dan keterampilan pada masa pendidikan di fakultas kedokteran.

3. Hasil penelitian ini juga dapat dilanjutkan untuk bahan penelitian selanjutnya yang sejenis atau penelitian ini dijadikan sebagai bahan acuan.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi

Distress psikologis didefinisikan sebagai keadaan masalah emosional yang ditandai oleh gejala psikologis yang berbeda, seperti gejala mulai dari depresi (misalnya kehilangan minat, kesedihan, keputusasaan) dan kecemasan (misalnya gelisah; perasaan tegang) hingga ciri-ciri kepribadian, disabilitas fungsional, dan masalah perilaku.12

Gejala dapat bervariasi dalam komposisi dan durasi, dan dapat berkaitan dengan gejala somatik (misalnya insomnia dan kekurangan energi). Beberapa berpendapat bahwa distress psikologis adalah fenomena sementara yang konsisten dengan reaksi emosional normal terhadap stresor, sementara yang lain mengklaim itu adalah komponen yang mendasari kecemasan dan depresi dan kondisi yang relatif stabil. Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai hal ini dengan hasil yang ambigu, mulai dari fluktuasi tinggi dalam sebulan hingga kondisi yang relatif stabil selama beberapa dekade.12

Berbagai penelitian telah memberikan dukungan untuk penggunaan The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) untuk mendeteksi gejala kecemasan dan depresi pada sampel yang berbeda di sebagian besar negara. K-10 adalah skala yang dikembangkan dan dirancang oleh Profesor Ronald C. Kessler dari Universitas Harvard sebagai bagian dari komponen kesehatan mental dari Survei Wawancara Kesehatan Nasional AS pada tahun 1992 untuk skrining kesehatan mental dalam survei populasi ini adalah skala nonspesifik berdasarkan 10

(25)

pertanyaan tentang gejala kecemasan dan gejala depresi yang mungkin dialami seseorang selama 30 hari terakhir.13

II.2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Distress Psikologis

Sehubungan dengan penyakit mental dan penggunaan layanan kesehatan dan untuk menambah pengetahuan kita tentang kesehatan mental dengan menilai sejauh mana tekanan psikologis pada suatu populasi.14

Ada empat pola sosial dasar yang mempengaruhi distress. Pola sosial yang pertama adalah gender, di mana perempuan lebih mudah mengalami distress dibandingkan dengan laki-laki. Kemudian, status pernikahan, dimana dijelaskan bahwa individu yang sudah menikah cenderung lebih resilien terhadap distress bila dibandingkan dengan individu belum menikah. Selanjutnya adalah peristiwa hidup yang tidak diinginkan, yaitu bahwa semakin banyak terjadinya perubahan yang tidak diinginkan dalam sebuah kehidupan seseorang, maka semakin tinggi tingkat distress yang dialami. Serta terakhir, yaitu kelas sosial ekonomi, dimana disebutkan bahwa semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang (baik dari segi pendidikan, pekerjaan maupun pemasukan) maka semakin rendah tingkat distress yang dialami.15

Distress merefleksikan baik pengaruh situasional dari lingkungan (termasuk peristiwa yang terjadi dalam hidup, pengaruuh fisiologis, kognitif dan sosial yang disebabkan oleh peristiwa tersebut) maupun faktor intrapersonal individu seperti kepribadian.14,15

Pentingnya Keterlibatan orang tua dalam proses belajar anak memberikan peluang untuk sukses. Keterlibatan orang tua dalam pembelajaran anak-anak

(26)

semua bidang studi, tetapi juga meningkatkan perilaku dan penyesuaian sosial yang lebih baik.16

II.3. Aspek-Aspek Distress Psikologi.

Menurut world health organization (WHO) tahun 2001 yaitu distress psikologis merupakan kesehatan mental untuk setiap individu menyadari potensinya sendiri, dapat mengatasi tekanan psikologis yang normal dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Oleh karena itu kesehatan mental merujuk lebih dari sekedar 'tidak adanya penyakit', tetapi termasuk 'keadaan fisik, mental dan sosial yang lengkap. Namun, penting untuk menunjukkan bahwa beberapa orang mungkin memang memerlukan perawatan medis dan perawatan untuk masalah kesehatan mental, mayoritas orang yang mungkin mengalami kesusahan dari waktu ke waktu dalam hidup mereka tidak akan memerlukan intervensi medis.14 Bentuk utama dari distress psikologis, yaitu :

a) Depresi

Depresi adalah salah satu gangguan mood yang ditandai dengan gejala utama berupa afek depresif, kehilangan minat maupun anhedonia, dan kehilangan energi yang ditandai dengan cepat lelah. Serta memiliki gejala tambahan lainnya seperti: konsentrasi atau perhatian yang berkurang, harga diri maupun kepercayaan diri yang berkurang, rasa bersalah atau rasa tidak berguna, memiliki pandangan tentang masa depan yang suram serta pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang.17

Depresi merupakan penyakit mental yang paling umum dan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia. Menurut studi Global Burden of

(27)

Disease, depresi menempati urutan keempat di dunia diantara penyebab kematian dini dan kecacatan, dan diproyeksikan menjadi penyebab utama kedua pada tahun 2020. Depresi juga menjadi masalah sosial yang menonjol karena meningkatnya kasus bunuh diri. Laporan terbaru menunjukkan bahwa prevalensi seumur hidup dari gangguan depresi utama adalah 6,7% (4,8% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan), dan telah meningkat sebesar 0,2% setiap tahun selama dekade terakhir.18

b) Kecemasan

Kecemasan adalah perasaan takut dan khawatir. Ketakutan ini biasanya mengenai peristiwa dan situasi masa depan yang tidak pasti yang berpotensi menimbulkan stres atau penderitaan. Hubungan antara "kecemasan" dan

"kemarahan" selanjutnya menyiratkan perasaan permusuhan yang mendasar.

Secara klinis, kecemasan dan amarah sering muncul bersamaan, menggambarkan respons bahaya yang ditakuti bisa tidak spesifik dan tidak dapat disangka, atau spesifik dan dapat diprediksi. Seringkali bukan rasa takut itu sendiri melainkan gangguan emosional, reaksi fisik, dan adaptasi perilaku yang paling melemahkan.

Interaksi yang kompleks antara unsur-unsur biologis dan psikososial sedang diselidiki secara berkelanjutan. Pendekatan pengobatan baru telah ditemukan, diuji, dan dilaporkan sering. Sejarahnya yang kaya dan pengetahuan yang terus berkembang menjadikan kecemasan di antara kondisi-kondisi paling menarik dalam psikiatri.17,18

II.3.1. Jenis Kelamin

Respon stres pada seseorang berkaitan dengan aktivitas HPA axis dan

(28)

mengalami stres. HPA axis bekerja dalam mengatur produksi dari hormon kortisol, sedangkan sistem saraf simpatis bekerja dalam pengaturan denyut jantung dan tekanan darah. Respon HPA dan autonomik lebih tinggi pada pria sehingga mempengaruhi respon seseorang dalam mengatasi stressor. Selain itu, hormon seks pada wanita akan menurunkan respon HPA dan sympathoadrenal yang dapat menyebabkan penurunan feedbak negatif hormon kortisol ke otak sehingga wanita cenderung mudah stress.19

II.3.2. Tempat Tinggal

Dalam sebagian mahasiswa yang akan menuju tahun pertama mereka di perguruan tinggi. Mereka akan pindah ke asrama kampus dan tinggal jauh dari keakraban dan kenyamanan rumah untuk pertama kalinya. Ditambah dengan kecemasan normal di perguruan tinggi, Banyak siswa akan merindukan Ibu, Ayah, saudara mereka, dan sebagainya selama beberapa bulan pertama sekolah.

Kecemasan berpisah seperti itu adalah bagian normal dari tumbuh dewasa, tetapi baik orang tua maupun siswa sendiri seharusnya tidak menyerah pada masalah yang terkait dengan kerinduan dan kemandirian.15

II.3.3. Suku

Suku bangsa adalah kelompok etnis dan budaya masyarakat yang terbentuk secara turun temurun. Sebagai bagian dari sistem budaya masyarakat, identitas dan atribut kesukuan dari suatu kelompok masyarakat akan diwariskan pada generasi berikutnya. Berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 suku batak menduduki peringkat ke 3 terbanyak dengan jumlah penduduk 8,5 juta (3,6%) setelah suku jawa dengan jumlah penduduk 95,2 juta (40,2%) dan suku sunda dengan jumlah penduduk 36,7 juta (15,5%). Suku batak sendiri merupakan salah

(29)

satu suku yang ada di sumatera utara, dengan pengelompokan Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing, dan Batak Angkola.20 II.3.4. Tahun Akademik Mahasiswa Kedokteran

Tahun pertama sekolah kedokteran melibatkan banyak kecemasan baru.

Banyak mahasiswa pindahan dari daerah lain/ pendatang, meninggalkan keluarga, dan teman. Kemudian mulai mengikuti kuliah Praktek menggunakan cadaver untuk pertama kalinya ( praktikum anatomi). Tugas-tugas akademis yang banyak dan mengejutkan; akan belajar tentang bagaimana cara berhadapan dengan pasien sebagai seorang calon dokter yang akan datang dapat membangkitkan semangat, ketakutan, empati, kekaguman, dan kebingungan bagi mahasiswa kedokteran.

Oleh karena harus itu banyak penyesuain yang harus dihadapi oleh mahasiswa, terlebih penyesuaian dengan tempat belajar yang baru, teman yang baru dan staf pengajar yang berbeda-beda.17

Tahun ketiga sekolah kedokteran melibatkan tugas yang lebih berat dimana mahasiswa mempersiapkan diri untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat di rumah sakit dan klinik. Marcus mendokumentasikan tahun ini sebagai waktu ketika mahasiswa yang sensitif untuk menyelesaikan tugas dan kemampuan mereka dinilai apakah potensi yang mereka dapatkan sudah memadai atau belum. Banyak mahasiswa yang berubah pikiran dari peduli menjadi dingin, keras, dan agresif tetapi mati rasa terhadap perasaan menjadi tidak berharga dan menimbulkan masalah. Menjalani perubahan ini dapat menimbulkan rasa yang menakutkan bagi mahasiswa dan perasaan negatif pada diri mereka sendiri. Hal ini dapat membuat mahasiswa mempertanyakan integritas keputusan mereka

(30)

untuk mengali pilihan karier lain dan depresi karena bertanya-tanya apakah ini adalah keputusan yang tepat.17

II.3.5. Pendapatan Orangtua

Dorongan untuk meningkatkan keragaman gender, etnis, dan ras dalam pendidikan kedokteran sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Namun, kesenjangan keanekaragaman sosial ekonomi tetap ada, dan mungkin melebar. Lebih dari 48%

mahasiswa kedokteran berasal dari keluarga berpenghasilan tinggi, sementara kurang dari 6% berpenghasilan rendah.21

Siapa pun dari latar belakang apa pun dapat mengejar karir di bidang kedokteran. Orangtua dengan penghasilan yang rendah akan kesulitan memenuhi kebutuhan anaknya dalam masa pendidikan yang memerlukan biaya yang semakin meningkat. Investasi awal yang signifikan dapat menjadi penghalang bagi mahasiswa tanpa simpanan keuangan yang kuat. Proses aplikasi yang mahal dan kompetitif menghadirkan kendala tambahan. Mahasiswa diharapkan berhasil secara akademis, trampil dan melakukan penelitian yang bagus. Bantuan keuangan dan beasiswa sangat diharapkan untuk mengurangi beban dimasa pendidikan. Mahasiswa mana pun dari latar belakang apa pun harus memiliki kesempatan berjuang untuk memasuki karier apa pun terutama untuk profesi medis.21 istress

II.4. Gambaran klinis dari Distress psikologis

Sekolah kedokteran pada dasarnya adalah pengalaman pembelajaran yang penuh tekanan dan menantang, ini dapat membuat mahasiswa kedokteran rentan terhadap depresi, kecemasan, dan kelelahan. Potensi tekanan psikologis pada mahasiswa sekolah kedokteran telah dipelajari oleh berbagai peneliti. Setelah

(31)

sekolah kedokteran, kehidupan seorang dokter praktik juga sering cocok dengan gaya hidup yang penuh tekanan kronis.4

Pola coping sebelum sekolah kedokteran serta ciri-ciri kepribadian, sistem pendukung, dan banyak faktor lainnya, mempengaruhi stres dan kemampuan mereka untuk menghadapinya. Gejala-gejala tekanan psikologis (mis. Stres, kecemasan dan depresi) secara signifikan lebih tinggi pada akhir tahun pertama pelatihan medis daripada di awal. Oleh karena itu sekolah kedokteran harus mengamati mahasiswanya pada akhir tahun pertama khususnya menjelang masa ujian, untuk menentukan apakah mereka memerlukan dukungan psikologis.

Karena tekanan psikologis yang melekat pada proses ini, semua sekolah kedokteran harus memiliki layanan kesehatan mental mahasiswa kedokteran yang mudah diakses. Beberapa sekolah kedokteran menyediakan layanan ini melalui departemen psikiatri atau program pelatihan terkait lainnya.4

Ciri-ciri yang menentukan dari distress psikologis adalah paparan terhadap peristiwa stres yang mengancam kesehatan fisik atau mental, ketidakmampuan untuk mengatasi secara efektif dengan stressor ini dan gejolak emosional yang dihasilkan dari ketidakefektifan ini. Menurut Ridner tahun 2004 bahwa distress psikologis lenyap ketika stresor menghilang atau ketika seseorang datang untuk mengatasi stresor ini secara efektif.19

Tingkat distress dapat dipengaruhi oleh respons seseorang terhadap distress. Respons terhadap stres dikelompokkan menjadi 4 bagian yaitu respons fisiologis, respons kognitif, respons emosi, serta respons tingkah laku. Faktor lain yang juga dapat menyebabkan perbedaan tingkat stres seseorang adalah

(32)

seseorang, begitupun sebaliknya. Jika seseorang bisa melawan distress yang ia rasakan dengan melakukan mekanisme coping yang benar, maka distress tersebut bisa berkurang bahkan bisa menghilang.19

Status distress psikologis dalam nosologi psikiatrik bersifat ambigu dan telah lama diperdebatkan dalam literatur ilmiah. Di satu sisi, distress psikologis dipandang sebagai gangguan emosional yang dapat berdampak pada fungsi sosial dan kehidupan sehari-hari individu. Dengan demikian, telah menjadi objek dari banyak penelitian yang berusaha mengidentifikasi risiko dan faktor-faktor pelindung yang terkait dengannya.19

Dengan demikian, distress psikologis akan menjadi masalah medis sebagian besar ketika disertai dengan gejala lain yang, jika dijumlahkan, memenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan kejiwaan. Jika tidak, sejalan dengan model stress-distress, itu dipandang sebagai fenomena sementara yang konsisten dengan reaksi emosional "normal" terhadap stresor.19

II.5. Penilaian Distress Psikologis

Distress psikologis dinilai dengan skala standar yang dikelola sendiri atau dikelola oleh pewawancara penelitian atau dokter. Pada prinsipnya, pengembangan skala harus didasarkan pada definisi komprehensif dari konstruk yang akan diukur. Seperti disebutkan sebelumnya, masalah utama dengan konstruksi distress psikologis adalah maknanya yang beragam dalam literatur ilmiah. Memang, beberapa skala yang terdiri dari beragam gejala psikologis, somatik dan perilaku dikembangkan tanpa dasar konseptual yang jelas dan digunakan untuk menilai distress psikologis. Distress psikologis yang paling banyak diterima yaitu keadaan penderitaan emosional yang ditandai dengan gejala

(33)

depresi dan kecemasan. Karena itu, skala ini dirancang untuk mengukur gejala terkait seperti depresi atau kecemasan.19

II.5.1. The Kessler Psychological Distress-10 (K-10)

The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) adalah salah satu dari beberapa instrumen terbaru dari distress psikologis yang relatif singkat berdasarkan pertanyaan tentang gangguan depresi dan kecemasan yang dialami seseorang dalam periode 4 minggu terakhir yang dikembangkan oleh Kessler dan kawan-kawan, Ini dirancang untuk skrining distress psikologis dalam Survei Kesehatan Nasional AS. Tujuan dari skala ini adalah untuk memiliki alat skrining singkat untuk menentukan apakah peserta membutuhkan wawancara terstruktur yang lebih mendalam atau tidak.12,22

The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) telah di validasi dalam versi bahasa Indonesia pada tahun 2018 dengan sensitivitas 85,7%; spesifisitas 74,7%, terdiri dari 10 item berkaitan dengan keadaan emosional, membutuhkan waktu 2-3 menit untuk menyelesaikan dan masing-masing memiliki 5 skala penilaian, yaitu tidak ada waktu= 0, sedikit waktu= 1, beberapa waktu= 2 sebagian besar waktu = 3 dan sepanjang waktu= 4. Skor total berkisar antara 0–40. Dengan demikian, skor keseluruhan yang tinggi menunjukkan tingkat distress psikologis yang tinggi.22,23

Penelitian telah menunjukkan sistem skoring alternatif, yang menghasilkan rentang skor yang berbeda, mis. Amerika Serikat menggunakan skala 0–4, sedangkan Australia menggunakan skala 1–5. Selain itu, skala terbalik, dimana '5' adalah 'Tidak ada waktu' dan '1' adalah 'Semua waktu', digunakan dalam beberapa

(34)

skala yang disajikan pertama kali (0-4). K-10 dilaporkan menjadi alat skrining yang lebih baik untuk gangguan kesehatan mental.12,22

Sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya, hasil penelitian oleh Thach Duc Tran dan kawan-kawan tahun 2018 di Indonesia menegaskan bahwa K-10 menggunakan skala 0–4 yang memiliki kepekaan yang tinggi dan keandalan internal untuk digunakan di kalangan remaja. Studi ini menunjukkan bahwa nilai batas optimal K-10 adalah ≥18 dengan sensitivitas 85,7%; spesifisitas 74,7%

untuk mendeteksi gangguan depresi dan gangguan kecemasan, di kalangan remaja Indonesia yang lebih rendah daripada orang dewasa di Amerika. .23

(35)

II.6. Kerangka Teori

Gambar 2. 1 Kerangka Teori

Sosioekonomi Stresor psikologis Tempat tinggal

Lama pendidikan

K-10

Distress Psikologis

Internal Eksternal

Mahasiswa FK-USU

Jenis kelamin Umur Kepribadian

(36)

II.7. Kerangka Konsep

Gambar 2. 2 Kerangka Konsep Mahasiswa tahun

pertama FK-USU

The Kessler Psychological

Distress-10 (K10)

Jenis kelamin Mahasiswa tahun

ketiga FK-USU

(37)

II.8. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional

Alat Ukur dan Cara Ukur

Hasil Ukur Skala

1 Jenis kelamin Sifat jasmani atau

rohani yang

membedakan dua dua makhluk sebagai perempuan dan laki- laki

Observasi Laki-laki, perempuan

Nominal

2 Umur Umur adalah

lamanya waktu hidup atau sejak dilahirkan.

Wawancara Dalam tahun Numerik

3 Jumlah penghasilan orangtua

Penghasilan atau pendapatan orangtua perbulan

Wawancara Dalam rupiah

≤ Rp 5 juta

> Rp 5 juta

Nominal

4 Tempat tinggal Tempat berlindung dan tempat

wawancara Dengan keluarga Kost

Nominal

(38)

menjadi mahasiswa.

5 Tingkat perkuliahan

Waktu yang ditempuh dalam masa pendidikan pada fakultas kedokteran USU.

wawancara Tahun pertama

Tahun ketiga

Nominal

6 Daerah asal Daerah asal Tempat tinggal sebelum menjadi mahasiswa fakultas kedokteran USU

Wawancara Kota Medan

Luar Kota Medan

Nominal

7 Suku suatu kelompok

manusia yang mengidentifikasi dirinya dengan sesama berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama.

Wawancara Batak Selain Batak

Nominal

8 The Kessler Psychological Distress -10 (K-10)

Instrumen K-10 versi Bahasa Indonesia

Self-

administered

0 - 40 Numerik

(39)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN III.1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan diagnosis penelitian analitik komperatif numerik tidak berpasangan dua kelompok satu kali pengukuran dengan pendekatan potong lintang yang membandingkan dua kelompok, yaitu:

Kelompok I: mahasiswa FK-USU tahun pertama.

Kelompok II: mahasiswa FK-USU tahun ketiga.

III.2. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat Penelitian : Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Waktu penelitian : Februari 2020– April 2020 III.3. Populasi dan Sampel Penelitian

 Populasi target: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

 Populasi Terjangkau: Mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara di FK-USU pada periode Februari 2020– April 2020

 Sampel penelitian: Semua Mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

 Cara pengambilan sampel: didapatkan dengan cara probability sampling

(40)

III.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi III.4.1. Kriteria Inklusi

1. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun pertama dan tahun ketiga,

2. Warga Negara Indonesia,

3. Kooperatif dan bersedia sebagai subjek penelitian.

III.4.2. Kriteria Eksklusi

1. Riwayat penyakit psikiatri,

2. Riwayat penyakit medis umum, trauma kepala.

3. Riwayat pemakaian zat terlarang.

III.5. Estimasi Besar Sampel

Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang dilakukan di Sumatera Utara yang meneliti perbedaan skor distress psikologis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun pertama dan tahun ketiga.

Oleh sebab itu, untuk mengetahui besar sampel dilakukan penelitian pendahuluan dari bulan Februari 2020 dengan merekrut 15 subjek yaitu 15 subjek masing-masing pada mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga sesuai dengan prosedur penelitian dengan hasil sebagai berikut :

Untuk mencari besar sampel pada diagnosis penelitian analitik komparatif numerik tidak berpasangan dua kelompok satu kali pengukuran, maka terlebih dahulu kita mencari rumus untuk simpang baku gabungan yaitu:24

(S)2 = (s12 x (n1-1) + s22 x (n2-1)) n1+n2-2

(41)

dimana,

sg = simpang baku gabungan sg2 = varian gabungan

s1 = simpang baku kelompok 1 pada penelitian sebelumnya n1 = besar sampel kelompok 1 pada penelitian sebelumnya s2 = simpang baku kelompok 2 pada penelitian sebelumnya n2 = besar sampel kelompok 2 pada penelitian sebelumnya

Setelah didapatkan simpang baku gabungan, maka langkah selanjutnya adalah:25,26 n1 =n2 = 2𝑥 [(𝑍𝛼+𝑧𝛽)𝑥 𝑆𝑔

𝑋1−𝑋2 ]2

dimana, parameter yang berasal dari kepustakaan adalah sg (simpang baku gabungan), sedangkan yang ditetapkan peneliti adalah zα, zβ, dan x1-x2, oleh karena itu pada penelitian ini ditetapkan bahwa:

zα = nilai standar alfa  5% = 1,96  2 arah zβ = nilai standar beta  10% = 1,28

S = simpang baku gabungan

x1-x2 = selisih minimal rerata yang dianggap bermakna

Penelitian ini didahului dengan melakukan penelitian pendahuluan dengan menyertakan 15 subjek masing-masing pada mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga untuk mendapatkan jumlah sampel yang mendekati keadaan yang sebenarnya dan dilakukan penghitungan besar sampel:

(42)

Tabel 3.5. Perbedaan skor distress psikologis pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun pertama dan tahun ketiga.

No. Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU

tahun pertama

Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun ketiga

1. 18 10

2. 20 12

3. 25 10

4. 22 15

5. 15 16

6. 18 20

7. 26 16

8. 24 18

9. 10 21

10. 20 11

11. 12 14

12. 14 12

13. 12 10

14. 16 13

15. 10 15

rerata ± s.b 17.47 ± 5.33

rerata ± s.b 14.20 ± 3.55

Skor Distress psikologis

Kelompok 1 = mahasiswa FK-USU tahun pertama (n1 = 15, s1 = 5.33) Kelompok 2 = mahasiswa FK-USU tahun ketiga (n2 = 15, s2 = 3.55)

(sg)2 = (s12 x (n1-1)) + (s22 x (n2-1)) n1+n2-2

(sg)2 = (5.332 x (15-1)) + (3.552 x (15-1)) 15+15-2

(sg)2= 28.41 (14) + 12.60 (14) 30-2

(43)

(sg)2= 397,74 + 176,43 28 (sg)2= 574.17

28 Sg = √20.5 Sg = 4.53

Setelah didapatkan nilai sg, maka:

n1 =n2 = 2𝑥 [(𝑍𝛼+𝑧𝛽)𝑥 𝑆𝑔 𝑋1−𝑋2 ]2 n1 =n2 = 2𝑥 [(1.96+1.28)𝑥 4.53

17.5−14.2 ]2 n1 =n2 = 2𝑥 [(3.24)𝑥 4.53

3.3 ]2 n1 = n2 = 2 x 19.8

n1 = n2 = 39.6

Jadi, jumlah besar sampel minimal yang digunakan pada penelitian ini adalah 40 subjek untuk masing-masing kelompok. Maka peneliti menetapkan sampel penelitian sebanyak 60 subjek untuk masing-masing kelompok.

III.6. Persetujuan Informed consent

Semua subyek penelitian akan diminta mengisi persetujuan secara tertulis untuk ikut serta dalam penelitian setelah mendapatkan penjelasan yang terperinci dan jelas.

III.7. Etika Penelitian

Peneliti ini telah mendapatkan persetujuan dari Komisi Etik tentang Penelitian Kesehatan dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(44)

III.8. Prosedur Kerja

1. Penelitian dimulai setelah mendapatkan persetujuan dari komite etik penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. Subjek yang dimasukan kedalam penelitian ini adalah Mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

3. Mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang akan diberikan penjelasan mendapatkan penjelasan yang terperinci dan jelas dan jika mahasiswa bersedia maka mahasiswa diminta untuk menandatangani persetujuan untuk menjadi subjek dalam penelitian ini.

4. Mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara akan di wawancara tentang karakteristik untuk mengetahui umur, jenis kelamin, jumlah penghasilan orangtua, tempat tinggal, tingkat perkuliahan, suku dan daerah asal.

5. Subjek diambil secara probability sampling tipe systematic sampling.

Data subjek didapatkan jumlah mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga yaitu sebanyak 245 dan 257. jumlah yang memenuhi kriteria inklusi mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga yaitu sebanyak 221 dan 246. Dibutuhkan 60 subjek dari setiap kelompok, maka dapat dihitung 1/n dari setiap kelompok 60/221= 3,7 dan 60/246=4,1 dibulatkan menjadi 4. Dilakukan pengundian, kemudian setiap kelipatan ke-4 pada sampling frame masing-masing kelompok bisa dijadikan subjek penelitian. Untuk mahasiswa tahun pertama peneliti melakukan

(45)

wawancara dan pembagian kuisioner secara langsung. Untuk mahasiswa tahun ketiga peneliti melalukan wawancara dan membagi kuisioner melalui media online.

6. Mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara lalu dilakukan pengisian kuisioner K-10. Kemudian dilakukan perhitungan skor K-10.

7. Kemudian melaporkan hasil penelitian.

III.9. Alur Penelitian

Identifikasi Variabel

a. Variabel bebas : mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga FK- USU

b. Variabel tergantung : skor The Kessler Psychological Distress-10 Kriteria

Eksklusi

Informed Concent Persiapan penelitian

Bersedia Tidak

bersedia

Analisis Data Kriteria

Inklusi

Wawancara dan mengisi kuisioner K-10

(46)

III.10. Rencana Manajemen dan Analisis Data III.10.1. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh berupa data karakteristik demografik. Keseluruhan data akan ditabulasikan menurut skala pengukurannya. Skala pengukuran kategorik ditampilkan dalam bentuk frekuensi dan proporsi. Skala pengukuran numerik ditampilkan dalam bentuk median (min-max) dan rerata ± simpangan baku.

III.10.2. Uji Analisis

Uji Analisis dilakukan terhadap variabel distress psikologis pada mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga.

 Bila sebaran normal dan varian sama, gunakan uji t tidak berasangan untuk varian sama.

 Bila sebaran normal dan varian berbeda, gunakan uji t tidak berpasangan untuk varian berbeda.

 Bila sebaran tidak normal, lakukan transformasi. Analisis yang dilakukan bergantung pada sebaran dan varian hasil transformasi.

 Bila sebaran tidak normal, gunakan uji Mann-Whitney.

(47)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara pada bulan Februari 2020 sampai April 2020. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara probability sampling tipe systematic sampling. Subjek penelitian terbagi atas 60 subjek pada kelompok mahasiswa kedokteran tahun pertama dan 60 subjek pada kelompok mahasiswa kedokteran tahun ketiga.

Instrument yang digunakan yaitu The Kessler Psychological Distress-10 (K-10).

IV.1. Karakteristik Demografik

IV.1.1. Uji Normalitas Karakteristik Demografik

Untuk karakteristik demografi pada studi ini disajikan pada tabel 4.1.

Sebelum melakukan analisis lebih lanjut untuk karakteristik demografik dilakukan uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-smirnov karena jumlah subjek pada studi ini > 50 subjek. Variabel numerik pada studi ini disajikan dalam rerata dan simpangan baku jika berdistribusi normal (p > 0.05) dan median (minimum- maksimum) jika tidak berdistribusi normal (p < 0.05) dapat dilihat di lampiran.

Untuk variabel kategorik disajikan dalam bentuk jumlah dan persen.

(48)

Tabel 4.1. Distribusi karakteristik demografik subjek penelitian mahasiswa tahun pertama dan tahun ketiga FK-USU

Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun

pertama

Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU

tahun ketiga

p

Umur

(Dalam tahun)

Med (min - max) 19 (17-20) thn

Med (min - max)

20 (19-22) thn <0.001a

Jenis kelamin - Laki-laki - Perempuan

28 (46.7%) 32 (53.3%)

26 (43.3%) 34 (56.7%)

0.855b

Jumlah penghasilan orangtua

(Dalam rupiah) - ≤ 5 juta - > 5 juta

14 (23.3%) 46 (76.7%)

8 (13.3%) 52 (86.7%)

0.238b

Tempat tinggal - Keluarga - Kost

26 (43.3%) 34 (56.7%)

29 (48.3%) 31 (51.7%)

0.714b

Suku

- Batak - Selain Batak

32 (53.3%) 28 (46.7%)

23 (38.3%) 37 (61.7%)

0.460b

Daerah asal

- Kota Medan - Luar kota Medan

28 (46.7%) 32 (53.3%)

27 (45.0%) 33 (55.0%)

1.000b

a Mann-Whitney U Test b Uji Chi Square

Tabel 4.1. Memperlihatkan karakteristik demografik dari masing-masing kelompok. Untuk nilai median (min-max) umur pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga adalah 19 (17-20) thn dan 20 (19-22) thn.

Untuk jenis kelamin yang terbanyak adalah perempuan pada kelompok subjek

(49)

mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 32(53.3%) dan 34(56.7%). Pada jumlah penghasilan orangtua terbanyak adalah > 5juta pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 46 (76.7%) dan 52 (86.7%). Untuk tempat tinggal terbanyak adalah kost pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 34 (56.7%) dan 31 (51.7%). Untuk suku yang terbanyak adalah suku selain Batak pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga sebanyak 32 (53.3%) dan 37 (61.7%). Untuk daerah asal terbanyak adalah berasal dari luar kota Medan pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga didapatkan sebanyak 32 (53.3%) dan 33 (55.0%) .

Tabel. 4.2 Jumlah mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga yang mengalami distress psikologis.

n Distress Psikologis Nilai cut off ≥18

Non Distress Psikologis cut off <18 Mahasiswa FK-USU

tahun pertama

60 31 (51.7%) 29 (48.3%)

Mahasiswa FK-USU tahun ketiga

60 16 (26.7%) 44 (73.3%)

Tabel 4.2. di atas memperlihatkan mahasiswa FK-USU yang mengalami distress psikologis terbanyak yaitu pada mahasiswa FK-USU tahun pertama sebanyak 31 orang (51.7%).

(50)

Tabel 4.3. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga

n Median

(min-max)

p

Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun pertama

60 18 (9-26) p< 0.001*

Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun ketiga

60 13 (6-21)

*Mann-Withney U Test

Tabel 4.3. di atas memperlihatkan Skor K-10 pada mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga dengan skor K-10 18(9-26) dan 13(6-21) dan nilai (p<0,001).

(51)

Tabel 4.4. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Tempat Tinggal.

n Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU

p

Tahun Pertama

- Keluarga 26 med(min-max)

18 (10-26)

p= 0.562a

- Kost 34 med(min-max)

18 (9-21) Tahun Ketiga

- Keluarga 29 rerata ± s.b

13.59 ± 3.88

p= 0.896b

- Kost 31 rerata ± s.b

13.45 ± 4.03

*Mann-Withney U Test

*t test independent

Tabel 4.4. di atas memperlihatkan Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Tempat Tinggal dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Keluarga dan Kost dengan nilai p=0.562 dan p=0.896.

(52)

Tabel 4.5. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga Berdasarkan Suku

n Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU

p

Tahun Pertama

- Suku Batak 32 med(min-max)

17.5 (9-26)

p=0.828a

- Selain Batak 28 med(min-max)

18 (10-23) Tahun Ketiga

- Suku Batak 23 rerata ± s.b

14.13 ± 4.27

p=0.344b

- Selain Batak 37 rerata ± s.b

13.14 ± 3.71

*Mann-Withney U Test

*t test independent

Tabel 4.5. di atas memperlihatkan Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Suku dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Suku Batak dan Suku Selain Batak dengan nilai p=0.828 dan p=0.344.

(53)

Tabel 4.6. Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama Dan Tahun Ketiga Berdasarkan Daerah Asal

n Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU

p

Tahun Pertama

- Kota Medan 28 med(min-max)

17.50(9-26)

p=0.823a

- Luar Kota Medan 32 med(min-max)

18(10-21) Tahun Ketiga

- Kota Medan 27 rerata ± s.b

13.55 ± 3.95

p=0.771b

- Luar Kota Medan 33 rerata ± s.b

13.48 ± 3.96

*Mann-Withney U Test

*t test independent

Tabel 4.6. di atas memperlihatkan Skor K-10 Pada Mahasiswa FK-USU Tahun Pertama dan Tahun Ketiga Berdasarkan Daerah Asal dan tidak terdapat perbedaan signifikan antara Kota Medan dan Luar Kota Medan dengan nilai p=0.823 dan p=0.771.

(54)

BAB V PEMBAHASAN

Studi ini merupakan suatu studi analitik observasional dengan diagnosis penelitian analitik komperatif numerik tidak berpasangan dua kelompok satu kali pengukuran dengan pendekatan potong lintang dengan menggunakan instrumen penilaian The Kessler Psychological Distress-10 (K-10) dimana subjek penelitian adalah Mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga. dengan melibatkan 120 subjek, masing-masing kelompok terdiri atas 60 subjek Mahasiswa FK-USU tahun pertama dan tahun ketiga yang telah memenuhi kriteria inklusi. Sebelum mengisi kuesioner, peneliti juga telah mendapatkan persetujuan dari subjek penelitian melalui pengisian informed consent. Penelitian ini juga telah mendapatkan persetujuan dari komite etik penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Untuk analisis statistik digunakan IBM SPSS Statistics versi 25 dengan analisis data uji t tidak berpasangan bila data berdistribusi normal dan uji Mann- Whitney U bila data tidak berdistribusi normal setelah sebelumnya dilakukan uji transformasi log namun gagal. Untuk uji normalitas data digunakan uji Kolmogorov-smirnov karena jumlah subjek pada studi ini > 50 subjek yaitu berjumlah 60 subjek tiap kelompok.

Pada tabel 4.1 menunjukan karakteristik demografik pada masing-masing kelompok. Untuk nilai median (min-max) Umur pada kelompok subjek mahasiswa FK tahun pertama dan tahun ketiga adalah 19 (17-20) thn dan 20 (19- 22) thn. Selain itu dijumpai perbedaan bermakna pada kedua kelompok dengan

Gambar

Gambar 2. 1 Kerangka Teori
Gambar 2. 2 Kerangka Konsep Mahasiswa tahun pertama FK-USU  The Kessler  Psychological Distress-10 (K10) Jenis kelaminMahasiswa tahun ketiga FK-USU
Tabel  3.5.  Perbedaan  skor  distress  psikologis  pada  mahasiswa  Fakultas  Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun pertama dan tahun ketiga

Referensi

Dokumen terkait

Tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada skor kemampuan active learning dan critical thinking pada tingkatan akademik mahasiswa tahun pertama, kedua, ketiga,

Untuk mengetahui perbedaan kualitas hidup penderita dispepsia dengan non-dispepsia pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Tahun 2012..

Perbedaan skor kesiapan individu untuk berubah yang tidak bermakna pada karyawan dengan masa kerja antara 2-10 tahun dan karyawan dengan masa kerja lebih dari 10 tahun tidak

Dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa terdapat perbedaan yang tidak signifikan dalam skor sikap terhadap perubahan pada 2 kelompok lama kerja, yakni antara lama kerja 2-10

(a) Peta percepatan di batuan dasar akibat kombinasi ketiga sumber gempa untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun di Propinsi Sumatera Barat yang dibuat dalam studi ini,

Berdasarkan hasil survey, kelompok karier fungsional merupakan kelompok karier yang paling banyak diminati oleh mahasiswa kedokteran tahun pertama dan ketiga. Hasil

Tidak terdapat perbedaan kemampuan active learning dan critical thinking pada tingkatan akademik mahasiswa tahun pertama, kedua, ketiga, dan keempat di Fakultas Kedokteran

Stres pada mahasiswa kedokteran cukup tinggi, khususnya pada mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua yang dapat membawa pengaruh yang kurang baik terhadap proses pembelajaran dan prestasi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat stres antara mahasiswa tahun pertama dan tahun kedua di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan studi potong lintang. Sampel penelitian ini terdiri dari 184 orang mahasiswa yang terdiri dari 92 mahasiswa tahun pertama dan 92 mahasiswa tahun kedua di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Instrumen yang digunakan dalam pengukuran stres adalah Perceived Stress Scale (PSS-10). Pada mahasiswa tahun pertama, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 92 mahasiswa tahun pertama terdapat 4 (4,3%) mahasiswa mengalami stres ringan, 66 (71,7%) mahasiswa mengalami stres sedang, dan 22 (23,9%) mahasiswa mengalami stres berat. Pada mahasiswa tahun kedua, hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 92 mahasiswa terdapat 10 (10,9%) mahasiswa mengalami stres ringan, 71 (77,2%) mahasiswa mengalami stres sedang, dan 11 (12%) mahasiswa mengalami stres berat. Data yang diperoleh dari penelitian diuji statistik dengan uji Chi-Square. Simpulan dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan tingkat stres yang bermakna antara kedua kelompok