• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Teknik Analisa Data

1) Uji Normalitas

117 118 10 Output SPSS uji asumsi klasik dan uji regresi linear berganda 119

11 Uji normalitas 119 10 Uji Heteroskedestisitas 121 11 Uji Multikolinearitas 121 12 Uji autokorelasi 122 13 Koefisien Determinasi 122 14 Uji F ( simultan ) 122 15 Uji t ( parsial ) 123

1

Perkembangan dunia usaha dalam berbagai jenis industri, seakan-akan tak pernah pupus oleh pergeseran zaman. Demikian juga dengan perkembangan industri perbankan yang tidak jauh berbeda tingkat perkembangannya dengan industri-industri lainnya. Untuk menyesuaikan zaman dan adanya kebutuhan serta masukan dari masyarakat luas, perbankan yang ada saat ini banyak mengalami perkembangan. Perkembangan ini ditunjukkan dalam bentuk inovasi produk, prinsip, sistem operasionalnya serta pergeseran paradigma sampai pada pengkonversian diri.

Dari pergeseran dan perkembangan yang ada tersebut, dalam kurun waktu terakhir, muncul lembaga-lembaga keuangan berbasis syari’ah yang mana sebagai salah satu tonggak penting dalam pengembangan ekonomi syari’ah di Indonesia, dimana perkembangannya mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Perkembangan sistem keuangan syariah semakin kuat dengan ditetapkannya dasar-dasar hukum operasional melalui UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan Syari’ah yang telah dirubah dalam UU No. 10 tahun 1998, UU No. 23 tahun 1999, UU No. 9 tahun 2004 tentang Bank Indonesia, dan UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan syariah. Tentu dukungan regulasi dari pemerintah ini memberikan peluang bagi beroperasinya bank dengan sistem syariah.

Luthfi Hamidi (1:2003), Kepala Biro Perbankan Syari’ah Bank Indonesia, mengatakan bahwa fenomena meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap keberadaan sistem perbankan yang sesuai dengan prinsip syari’ah, mendapatkan respon positif dari pemerintah yang diantara lain melalui dikeluarkannya UU No.21 tahun 2008 tentang perbankan syari’ah, yang menetapkan bahwa perbankan di Indonesia menganut dual banking system, yaitu perbankan konvensional dan perbankan syari’ah.

Bank syari’ah baik yang murni syari’ah maupun unit syari’ah dari bank konvensional dan lembaga non bank dengan sistem syari’ah perkembangan tersebut tetap didominasi oleh unit usaha syari’ah. Secara rinci perkembangan jumlah bank syari’ah sampai 2014, sebagai berikut:

Tabel 1.1

Jaringan Kantor Individual Perbankan Syariah

No Kelompok Bank KPO/KC KCP/UPS KK

HOO/ BO SBO/ SSU CO

Bank Umum Syariah 415 1,526 209

1 PT. Bank Muamalat Indonesia 2 PT. Bank Victoria Syariah 3 Bank BRIsyariah

4 B.P.D. Jawa Barat Banten Syariah 5 Bank BNI Syariah

6 Bank Syariah Mandiri

7 Bank Syariah Mega Indonesia 8 Bank Panin Syariah

9 PT. Bank Syariah Bukopin 10 PT. BCA Syariah

11 PT. Maybank Syariah Indonesia

83 8 51 9 64 137 35 7 12 8 1 255 11 196 56 159 510 320 5 8 6 110 7 1 17 64 5 5

Sumber: Data Statistik Perbankan Syari’ah) 2014, www.bi.go.id.

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa perkembangan perbankan syariah tidak hanya terlihat dari sisi penambahan kuantitas saja, namun juga dari sisi sistem dan layanan. Sebelumnya pada bank umum syariah maupun unit syariah hanya boleh melayani calon nasabah di kantor cabang syariah atau kantor cabang pembantu. Namun sejak office-channeling yang didasari Peraturan BI Nomor 8/3/PBI/2006 dan berlaku efektif Mei 2007 pelayanan jasa financing, seperti pembukuan rekening, setor, transfer, kliring, dan tarik tunai bisa dilakukan di cabang bank umum yang mempunyai unit syari'ah. Dengan penerapan office-channeling ini, akselerasi pertumbuhan bisa segera terealisasi.

12 PT Bank Danamon Indonesia Tbk 13 PT Bank Permata Tbk

14 PT Bank Internasional Indonesia Tbk 15 PT Bank Cimb Niaga, Tbk

16 PT Bank OCBC Nisp, Tbk 17 PT BPD DkI

18 BPD Yogyakarta

19 PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah 20 PT BPD Jawa Timur 21 PT BPD Jambi 22 PT Bank Bpd Aceh 23 PT Bpd Sumatera Utara 24 BPD Sumatera Barat

25 PT Bank Pembangunan Daerah Riau 26 PT BPD Sumatera Selatan Dan Bangka Belitung

27 PT BPD Kalimantan Selatan 28 PT BPD Kalimantan Barat 29 BPD Kalimantan Timur 30 PT BPD Sulawesi Selatan Dan Sulawesi Barat

31 PT BPD Nusa Tenggara Barat 32 PT Bank Sinarmas

33 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

34 PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional 25 11 5 3 6 2 1 2 2 1 2 5 3 2 3 2 2 3 2 25 21 14 135 2 1 9 2 4 5 12 17 6 3 1 6 2 12 4 20 6 5 2 5 1 4 1 1 10 7

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah 98 - 164

mata atas adanya dukungan regulasi pemerintah, namun juga didukung oleh kualitas dan pelayanan yang diberikan oleh lembaga tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian Maryani (75:2005) yang menyatakan Produk, Lokasi, Reputasi dan Pelayanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perkembangan keuangan syariah. Lembaga keuangan syariah di dalam hal ini adalah perbankan syariah secara umum, dianggap oleh sebagian orang sebagai alternatif, bagi masyarakat yang sudah jenuh dengan sistem ekonomi kapitalis, sebuah sistem ekonomi yang sudah lama mendunia, yang selalu mengutamakan kekayaan pribadi, yang berdampak pada ketidakmerataan distribusi kekayaan, sehingga banyak terjadi kesengsaraan.

Namun sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang masih menganggap, bahwa sistem ekonomi syariah hanya hadir untuk masyarakat muslim. Tidak bisa dipungkiri, bahwa paradigma fanatisme agama masih kental terlihat dalam masyarakat kita, sehingga persepsi pasar syariah sendiri hanya dipahami sebagai pasar untuk kaum muslim saja, pasar yang (tertutup) untuk kalangan non-muslim. Padahal, sistem bagi hasil merupakan salah satu elemen penting dari pasar syari’ah, sudah sejak lama diterapkan negara-negara Eropa, terutama Inggris (Kertajaya dan Sula, 25:2006). Jadi, persepsi bahwa pasar konvensional selalu lebih menguntungkan dan pasar syari’ah adalah (pasarnya) kaum muslim, itu semua tidak tepat. Kemudian bagaimana dengan citra (Islam) dan apa yang dapat ditawarkan untuk menarik para nasabah, sedangkan citra Islam belum menjadi daya tarik nomor 1 bahkan dikalangan umat Islam sendiri.

konvensional yang ada saat ini tidak bisa menjadi solusi terbaik dari masalah yang dihadapi masyarakat, sehingga masyarakat melirik kembali ajaran Islam yang bebas riba. Perbankan syari’ah merupakan suatu badan usaha yang fungsinya sebagai penghimpun dana dari masyarakat dan penyalur dana kepada masyarakat, yang sistem dan mekanisme kegiatan usahanya berdasarkan hukum Islam sebagaimana yang diatur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist (Usman, 93 : 2002).

Masyarakat muslim yang menggunakan jasa perbankan syari’ah menganggap bahwa bunga adalah riba. Hal ini secara tegas dinyatakan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 278-279, yang berbunyi (Depag 69-70:2002)

ﺎَﯾ

ﺎَﮭﱡﯾَأ

َﻦﯾِﺬﱠﻟا

ْاﻮُﻨَﻣآ

ْاﻮُﻘﱠﺗا

َﮫّﻠﻟا

ْاوُرَذَو

ﺎَﻣ

َﻲِﻘَﺑ

َﻦِﻣ

ﺎَﺑﱢﺮﻟا

نِإ

ﻢُﺘﻨُﻛ

ﻨِﻣْﺆﱡﻣ

ﻦَﯿ

نِﺈَﻓ

ْﻢﱠﻟ

ْاﻮُﻠَﻌْﻔَﺗ

ْاﻮُﻧَذْﺄَﻓ

ٍبْﺮَﺤِﺑ

َﻦﱢﻣ

ِﮫّﻠﻟا

ِﮫِﻟﻮُﺳَرَو

نِإَو

ْﻢُﺘْﺒُﺗ

ْﻢُﻜَﻠَﻓ

ُسوُؤُر

ْﻢُﻜِﻟاَﻮْﻣَأ

َنﻮُﻤَﻠْﻈُﺗ

َﻻَو

َنﻮُﻤِﻠْﻈَﺗ

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah Swt dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika tidak melakukannya (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah Swt dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak pula di aniaya.”(Q.S. Al-baqoroh:278-279”)

Pelarangan riba ternyata tidak hanya terdapat dalam Islam, melainkan jauh sebelum Islam sudah ada. Di India Kuno hukum yang berdasarkan Weda, kitab suci tertua agama Hindu mengutuk riba sebagai sebuah dosa besar dan melarang operasi bunga. Dalam agama Kristen pelarangan atau restriksi keras atas riba berlaku selama lebih dari 1400 tahun. Secara umum semua kontrol menunjukkan bahwa penarikan bunga apapun dilarang (Alguad dan Lewis 264:2003).

berjudul ” Bank Syariah Dari Teori Ke Praktek” menyatakan bahwa orang-orang Yahudi dilarang mempraktikan pengambilan bunga. Pelarangan ini banyak terdapat dalam kitab suci mereka, baik dalam Old Testament (Perjanjian Lama) maupun Undang-undang Talmud. Kitab Deuteronomy (Ulangan) Pasal 23 ayat 19 menyatakan: Janganlah engkau membungakan uang kepada saudaramu, baik

uang maupun bahan makanan, atau apapun yang dapat dibungakan”.

Karakteristik budaya non-muslim yang kurang dapat bekerjasama, dan jiwa kapitalisme yang lazim melekat pada kalangan non-muslim, sewajarnya menjadikan Bank Konvensional yang memiliki sistem kapitalis sebagai sarana investasi yang menjanjikan. Namun kenyataannya, sebagian besar nasabah non-Muslim juga tertarik untuk menyimpan dananya di perbankan Syari’ah. Penyataan tersebut diperkuat oleh Republika.co.id,Jakarta yang mengatakan produk perbankan syariah ternyata diminati komunitas non-muslim, hal itu dilandaskan karena jenis produk yang berbasiskan bagi hasil dan jual beli dengan angsuran tetap dianggap lebih fair dan transparan. Direktur BNI Syariah, Imam T Saptono mengatakan umumnya non muslim menggemari bank syariah karena didasarkan pada benefit yang diperoleh, misalnya margin bagi hasil dan tingkat margin pembiayaan yang kompetitif. Dengan demikian, penulis ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi minat nasabah non-muslim menjadi nasabah di Bank Syari’ah

Penelitian yang pernah dilakukan Bank Indonesia dan Universitas Brawijaya Tahun 2000 membagi faktor yang mempengaruhi Bank customer's

(2) Other Stimuli (Economy) dan (3) Bank Customer's Characteristics (Cultural, Social, Personal, Psychological). Bagi responden yang sudah menjadi nasabah Bank Syari'ah, sebagian besar mereka sudah memahami Bank Syari'ah, baik secara penuh (58,3%) maupun secara sebagian (25%). Faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat individu untuk memilih Bank Syari'ah antara lain; (1) Informasi dan Penilaian, (2) Humanisme dan Dinamis, (3) Ukuran dan Fleksibilitas Pelayanan, (4) Kebutuhan, (5) Lokasi, (6) Keyakinan dan Sikap, (7) Materialisme, (8) Keluarga, (9) Peran dan Status, (10) Kepraktisan dalam Menyimpan Kekayaan, (11) Perilaku pasca pembelian, (12) Promosi Langsung, dan (13) Agama (BI dan UNBRAW 11-12:2000).

Oleh karena itu faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan dari nasabah untuk menggunakan jasa perbankan syari’ah, sangat penting untuk diperhatikan oleh pihak manajemen perbankan demi kelangsungan dan tetap eksisnya lembaga tersebut. Diminati atau tidaknya suatu lembaga keuangan, sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sifatnya psikologis, yang menyangkut aspek-aspek perilaku, sikap dan selera. Dan bukan hanya faktor psikologis saja, ada banyak faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk menggunakan jasa lembaga keuangan syari’ah. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat masyarakat dalam menggunakan jasa layanan perbankan adalah konsumsi, pendapatan, produk, atau jenis tabungan, lokasi, pelayanan, kesadaran masyarakat dan promosi (Sinungan, 88: 1990). Termasuk juga didalamnya religius stimuli yang merupakan

untuk melakukan suatu tindakan ekonomi (Rachmawaty, 48:2008).

Faktor lain yang mempengaruhi seseorang berminat menjadi nasabah pada sebuah bank adalah reputasi. Suatu bank yang mempunyai reputasi yang baik akan dipercaya oleh nasabahnya. Sebuah bank dipandang mempunyai reputasi apabila bank itu diakui dan dipercaya sebagai perusahaan jasa dengan nama baiknya di mata masyarakat (Maryani, 23:2005). Mekanisme lembaga keuangan syari’ah dengan menggunakan system Profit sharing (bagi hasil), nampaknya menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat bisnis. Salah satu karakteristik bank syari’ah adalah profit sharing (bagi hasil). Jika dalam mekanisme ekonomi konvensional menggunakan instrument bunga, maka dalam mekanisme ekonomi islam dengan menggunakan instrumen profit sharing (bagi hasil). Bagi hasil menurut terminologi asing dikenal dengan profit sharing. Profit sharing dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba. Secara definitif profit sharing diartikan sebagai distribusi beberapa bagian dari laba pada para pegawai dari suatu perusahaan (Muhammad, 101:2002). Serta promosi yang merupakan faktor penentu bagi minat nasabah, apakah produk yang dipasarkan dapat diterima oleh masyarakat luas atau tidak.

Kondisi di atas menarik apabila dikaitkan dengan minat nasabah Non-Muslim yang memilih menjadi nasabah di bank syari’ah. Sebagaimana telah kita ketahui dari label yang ada yakni Syari’ah, disini berarti bahwa sistem yang dijalankan adalah dengan berdasarkan prinsip-prinsip syari’ah. Perbankan syariah bukan hanya menjadi kebutuhan masyarakat Indonesia tapi juga telah menjadi

Inggris dan beberapa negara Eropa, China, India, dan Singapura.

Berdasarkan hal tersebut maka peneliti memandang layak untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Lokasi, Pelayanan, Religius Stimuli, Reputasi, Profit Sharing (Bagi Hasil) dan Promosi Terhadap Minat Nasabah Non-Muslim Menjadi Nasabah Di Bank Syari’ah (Wilayah Jakarta Timur)”.

B. Rumusan Masalah

Dari keseluruhan uraian dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah Lokasi, Pelayanan, Religius Stimuli, Reputasi, Profit Sharing dan Promosi berpengaruh terhadap minat nasabah non muslim menjadi nasabah di Bank Syari’ah secara simultan?

2. Apakah Lokasi, Pelayanan, Religius Stimuli, Reputasi, Profit Sharing dan Promosi berpengaruh terhadap minat nasabah non muslim menjadi nasabah di Bank Syari’ah secara parsial?

3. Dari faktor Lokasi, Pelayanan, Religius Stimuli, Reputasi, Profit Sharing

dan Promosi faktor manakah yang paling dominan mempengaruhi minat nasabah non muslim menjadi nasabah di bank syari’ah?

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui secara simultan pengaruh Lokasi, Pelayanan, Religius Stimuli, Reputasi, Profit Sharing, dan Promosi terhadap minat nasabah non muslim menjadi nasabah di Bank Syari’ah.

b. Untuk mengetahui secara parsial pengaruh Lokasi, Pelayanan, Religius Stimuli, Reputasi, Profit Sharing, dan Promosi terhadap minat nasabah non muslim menjadi nasabah di Bank Syari’ah.

c. Untuk menganalisis faktor manakah diantara Lokasi, Pelayanan, Stimuli, Reputasi, Profit Sharing, dan Promosi yang dominan paling berpengaruh terhadap minat nasabah non muslim menjadi nasabah di Bank Syari’ah.

2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis

1) Sebagai bahan bacaan untuk menambah bahan pengetahuan, referensi dan menyajikan informasi mengenai analisis factor-factor yang mempengaruhi nasabah non muslim memilih bank syariah. 2) Bagi peneliti lain, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan

sebagai referensi bagi penelitian lanjutan atau penelitian yang berkelanjutan.

3) Mengembangkan khazanah ilmu pengetahuan dalam ekonomi, yaitu teori lokasi, pelayanan, religius stimuli, reputasi, profit

nasabah di bank syari’ah. b. Secara praktis

1) Dapat dijadikan dasar bagi manajemen bank untuk rencana mengelola pelayanan jasa dalam rangka menarik minat nasabah. 2) Bagi investor, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan

12 1. Bank Syariah

a. Pengertian Bank Syariah

Menurut Muhammad, Bank Syariah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba. Bank Islam atau bank syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga (Muhamad, 7:2002). Bank Islam atau biasa disebut bank tanpa bunga adalah lembaga keuangan atau perbankan yang kegiatan usahanya memberikan kredit dan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syari’ah Islam. Berdasarkan pengertian tersebut, bank Islam berarti bank yang tata cara bermu’amalat secara Islam yakni mengacu kepada ketentuan Al-qur’an dan Hadits. Atau dengan kata lain, Bank Islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syari’at Islam (Muhamad, 13:2002).

Bank adalah sebuah lembaga perantara antara pihak yang surplus dana dengan pihak yang minus dana. Bank syari’ah memiliki keistimewaan yang membuatnya berbeda dengan bank konvensional.

Perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional disajikan dalam tabel 2.1 berikut ini (Sholahuddin, 16:2006):

Tabel 2.1

Perbedaan Bank Syari’ah dan Konvensional

Bank syariah Bank konvensional

1. Melakukan investasi yang halal 2. Berdasarkan prinsip bagi hasil,

jualbeli atau sewa 3. Profit dan falah oriented

4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan

5. Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah

1. Investasi yang halal dan haram 2. Memakai perangkat bunga 3. Profit oriented

4. Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hihubungan debitur-kreditur

5. Tidak terdapat dewan sejenis

Sumber: Muhammadiyah University Press, 2006

b. Tujuan Bank Syari’ah

Bank syariah memiliki tujuan yang lebih luas dibandingkan dengan bank konvensional, hal ini terkait dengan keberadaannya sebagai institusi komersial dan kewajiban moral yang disandangnya. Selain bertujuan meraih keuntungan sebagaimana layaknya bank konvensional pada umumnya, (Wibowo dan Widodo, 37:2005) Tujuan bank syari’ah diantaranya sebagai berikut :

1) Menyediakan lembaga keuangan perbankan sebagai sarana meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat. 2) Meningkatkan partisipasi masyarakat banyak dalam proses

pembangunan.

3) Membentuk masyarakat agar berfikir secara ekonomis dan berperilaku bisnis untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

4) Berusaha bahwa metode bagi hasil pada bank Syari’ah dapat beroperasi, tumbuh, dan berkembang melebihi bank–bank dengan metode lain.

c. Fungsi dan Peran Bank Syari’ah

Tim pengembangan perbankan syariah Institute Banking Indonesia (23-24:2002) menyebutkan fungsi dan peran bank syari’ah antara lain: 1) Manajer Investasi, bank Islam dapat mengelola investasi dana

nasabah.

2) Investor, bank Islam dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya. 3) Penyediaan Jasa Keuangan dan Lalu Lintas Pembayaran, bank

Islam dapat melakukan kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya institusi perbankan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip Syari’ah.

4) Pelaksanaan Kegiatan Sosial, sebagai suatu ciri yang melekat pada entitas keuangan Islam.

d. Teori Bunga dan Riba

Teori bunga muncul sejak manusia mulai melakukan pemikiran ekonomi. Secara leksikal, bunga sebagai terjemahan dari kata Interest.

Bunga adalah tanggungan pada pinjaman uang yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan (Muhamad 40:2002). Secara umum, perkembangan teori bunga dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu Teori Bunga Murni, dan Teori

Bunga Moneter. Mengutip dalam buku Muhammad Syafi’i Antonio yang berjudul ”Bank Syariah”, Adam Smith dan Ricardo memandang bunga sebagai kompensasi yang dibayarkan oleh penghutang kepada pemilik uang sebagai jasa atas keuntungan yang diperoleh dari uang pinjaman (Antonio 12:2001). Asal makna ”Riba”

menurut bahasa arab adalah (bertambah). Adapun yang dimaksud disini menurut istilah syara’ adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu, tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara’ atau terlambat menerimanya (Rasjid, 290-292 :1994).

Adapun pengertian tambah dalam konteks riba adalah tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan

syara'. Riba sering diterjemahkan orang dalam bahasa inggris sebagai

"usury" yang artinya The act of lending money at an exorbitant or illegal rate of interest (Rasjid, 40:1994).

Mas’adi (166:2002) membagi riba menjadi dua macam, yaitu: 1) Riba al-Nasi’ah adalah penambahan harga atas barang

kontan penundaan waktu pembayaran atau penambahan ‘ain (barang kontan) atas dain (harga hutang) terhadap barang berbeda jenis yang ditimbang atau ditukar atau ditukar dengan barang sejenis yang tidak ditakar atau ditimbang.

2) Riba al-Fadhl adalah penambahan pada salah satu dari benda yang dipertukarkan dalam jual beli benda ribawi yang sejenis, bukan karena faktor penundaan pembayaran. Dalam literatur ulama fikih klasik tidak dijumpai pembahasan yang mengaitkan antara riba dengan bunga bank. Mengutip pada buku Drs. Ghufron A. Mas’adi, M. Ag., “Fiqh Muamalah Kontekstual”, Wahbah al-Zuhaily membahas bunga bank dengan menggunakan sudut pandangan teori fikih klasik dimana menurutnya bunga bank termasuk Riba Nasi’ah .

2. Minat

Minat merupakan kesukaan (kecenderungan hati) kepada sesuatu. Shaleh dan Wahab (263:2004) mendefinisikan minat itu sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian kepada orang lain dan bertindak terhadap orang lain, aktivitas atau situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang. Sedangkan Menurut Andi Mappiare (62:1994) definisi minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari satu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.

Salah dan Wahab (265:2004) menyebutkan faktor–faktor yang mempengaruhi timbulnya minat, secara garis besar dikelompokkan menjadi dua yaitu:

a. Dari dalam diri individu yang bersangkutan (misal: bobot, umur, jenis kelamin, pengalaman, perasaan mampu, kepribadian).

b. Berasal dari luar mencakup lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Crow (250:2006) berpendapat terdapat tiga faktor yang menjadi timbulnya minat, yaitu:

a. Dorongan dari dalam individu, misal dorongan untuk makan akan membangkitkan minat untuk bekerja atau mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan dan lain-lain.

b. Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu.

c. Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan emosi.

Dalam pandangan islam disebutkan dalam Al-Qur’an tentang minat yang terdapat dalam surat Q.S. Al- Alaq:1-3 dimana diperintahkan agar kita membaca. Membaca yang dimaksud bukan hanya membaca buku atau dalam artian tekstual, akan tetapi juga semua aspek. Apakah itu tuntutan untuk membaca cakrawala jagad yang merupakan tanda kebesaran-Nya, serta membaca potensi diri, sehingga dengan-Nya kita dapat memahami hal apa yang sebenarnya yang menarik minat kita dalam kehidupan ini. Alqur’an menyebutkan, yang berbunyi:

أَﺮْﻗا ِﻢْﺳﺎِﺑ َﻚﱢﺑَر يِﺬﱠﻟا َﻖَﻠَﺧ َﻖَﻠَﺧ َنﺎَﺴﻧِﺈْﻟا ْﻦِﻣ ٍﻖَﻠَﻋ ْأَﺮْﻗا َﻚﱡﺑَرَو ُمَﺮْﻛَﺄْﻟا

“Bacalah! Tuhanmulah yang maha pemurah! Yang mengajarkan dengan Kalam. Mengajarkan manusia apa yang ia tahu. (Q.S. Al- Alaq:1-3”).

Dengan demikian, bakat dan minat merupakan karunia terbesar yang dianugerahkan oleh Allah Swt kepada kita. Namun, bukan berarti kita hanya berpangku tangan karena minat dan bakat tersebut tidak berkembang dengan sendirinya.

Salim dan Peter (273:1993) berpendapat ada 2 faktor yang mempengaruhi motif konsumen yaitu:

a. Motif rasional

Motif rasional adalah motif yang didasarkan pada kenyataan-kenyataan seperti yang ditunjukkan oleh suatu produk kepada konsumen.

b. Motif emosional

Motif emosional adalah motif pembelian yang didasari dengan perasaan/emosi konsumen.

3. Lokasi

Fenomena global mengharuskan perbankan untuk melakukan

proactive strategic. Salah satu cara untuk mengaktualisasikan proactive strategic yaitu dengan strategi penentuan lokasi usaha yang tepat, sebab keberhasilan dalam penentuan suatu usaha yang tepat akan meningkatkan operasionalisasi bisnis sehingga akan menekan biaya operasional.

Lokasi usaha adalah tempat dan perusahaan melakukan kerja. Desain teori usaha secara sederhana berbunyi “tempatkanlah pada titik geografis yang paling banyak memberikan kesempatan perusahaan di dalam usaha untuk mencapai tujuannya”. Pendapat lain mengatakan

bahwa lokasi usaha adalah tempat perusahaan melakukan aktivitasnya (Sinungan,76:1990).

Menurut Kasmir (163:2005) lokasi bank adalah tempat dimana diperjual belikannya produk perbankan dan pusat pengendalian perbankan. Penentuan lokasi suatu cabang bank merupakan salah satu kebijakan yang sangat penting. Bank yang terletak dalam lokasi yang strategis sangat memudahkan nasabah dalam berurusan dengan bank.

Kasmir (221: 2002) menyebutkan pertimbangan dalam menetapkan lokasi sebagai berikut:

a) Akses yaitu lokasi yang mudah dijangkau secara umum.

b) Visibilitas yaitu lokasi yang dapat dilihat dengan jelas dari sisi jalan.

Dokumen terkait