ANALISIS DATA
D. Hasil Penelitian (Uji Hipotesis)
2. Uji Pengaruh Simultan (Uji F)
Hasil uji F dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 4.14 dan Tabel 4.15 sebagai berikut :
Tabel 4.14
Hasil Uji Pengaruh Simultan (Uji F) Model Penelitian 1
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression ,256 3 ,085 22,080 ,000b
Residual ,402 104 ,004 Total ,658 107
a. Dependent Variable: MD
Berdasarkan hasil analisis yang disajikan dalam Tabel 4.14 dapat diketahui bahwa nilai F sebesar 22,080 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < alpha (0,05). Maka, variabel independen yang ada pada model penelitian yang pertama yaitu Jumlah Anggota Dewan Komisaris (JADK), Jumlah Persentase Kehadiran Anggota Dewan Komisaris Dalam Rapat (JRDK), dan Kepemilikan Dispersi (KD) memiliki pengaruh signifikan secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependen yaitu Mandatory Disclosure konvergensi IFRS (MD).
Tabel 4.15
Hasil Uji Pengaruh Simultan (Uji F) Model Penelitian 2
ANOVAa
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression ,207 1 ,207 2,836 ,095b Residual 7,309 100 ,073 Total 7,516 101 a. Dependent Variable: RS b. Predictors: (Constant), MD (Sumber : IBM SPSS 22.0)
Berdasarkan hasil analisis yang disajikan dalam Tabel 4.15 dapat diketahui bahwa nilai F sebesar 2,836 dengan nilai signifikan sebesar 0,095 > alpha (0,05). Nilai signifikansi yang lebih besar dari alpha (0,05) merupakan indikasi bahwa model penelitian kedua belum memenuhi asumsi kelayakan model regresi atau
fitness model dalam persentase alpha 5%. Namun, model penelitian kedua masih memenuhi asumsi kelayakan model regresi atau fitness model pada alpha 10%.
3. Uji t
Hasil uji t dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 4.16 dan Tabel 4.17 sebagai berikut :
Tabel 4.16 Hasil Uji t Model Penelitian 1
Berdasarkan pengujian pada tabel 4.16 dan tabel 4.17 dapat dirumuskan model regresi sebagai berikut :
MD = 0,496 + 0,027JADK + 0,100 JRDK + 0,093 KD + e (1) RS = 0,411 - 0,591 MD + e (2) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1(Constant) ,496 ,054 9,148 ,000
JADK ,027 ,004 ,608 7,626 ,000 ,924 1,083 JRDK ,100 ,049 ,166 2,025 ,045 ,871 1,148 KD ,093 ,037 ,199 2,502 ,014 ,932 1,073 a. Dependent Variable: MD (Sumber : IBM SPSS 22.0)
Keterangan : MD (Mandatory Disclosure); JADK (Jumlah Anggota Dewan Komisaris); JRDK (Jumlah Persentase Kehadiran Anggota Dewan Komisaris Dalam Rapat); KD (Kepemilikian Dispersi).
Tabel 4.17 Hasil Uji t Model Penelitian 2 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) ,411 ,257 1,600 ,113
MD -,591 ,351 -,166 -1,684 ,095 1,000 1,000 a. Dependent Variable: RS
Hasil pengujian terhadap hipotesis-hipotesis penelitian adalah sebagai berikut :
a. Jumlah Anggota Dewan Komisaris Terhadap Tingkat Kepatuhan Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS Pada Perusahaan Perbankan
Tabel 4.16 menunjukkan bahwa variabel Jumlah Anggota Dewan Komisaris (JADK) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,027 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,000 < alpha (0,05). Berdasarkan nilai koefisien regresi dan nilai signifikansi tersebut, maka Jumlah Anggota Dengan Komisaris (JADK) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure
konvergensi IFRS (MD) pada perusahaan perbankan. Dengan demikian hipotesis satu (H1) dinyatakan diterima.
b. Persentase Kehadiran Dewan Komisaris Dalam Rapat Terhadap Tingkat Kepatuhan Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS Pada Perusahaan Perbankan
Berdasarkan Tabel 4.16, variabel Jumlah Persentase Kehadiran Dewan Komisaris Dalam Rapat (JRDK) memiliki nilai koefisien regresi dan tingkat signifikansi masing-masing sebesar 0,100 dan 0,045 < alpha (0,05), maka Persentase Kehadiran Dewan Komisaris Dalam Rapat (JRDK) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure
konvergensi IFRS (MD) pada perusahaan perbankan. Dengan demikian hipotesis dua (H2) dinyatakan diterima.
c. Jumlah Kepemilikan Dispersi Terhadap Tingkat Kepatuhan Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS Pada Perusahaan Perbankan
Tabel 4.16 menunjukkan bahwa variabel Jumlah Kepemilikan Dispersi (KD) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,093 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,014 < alpha (0,05). Maka Jumlah Kepemilikan Dispersi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure
konvergensi IFRS (MD) pada perusahaan perbankan. Dengan demikian hipotesis tiga (H3) dinyatakan diterima.
d. Tingkat Kepatuhan Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS terhadap Return
Saham Pada Perusahaan Perbankan
Berdasarkan Tabel 4.17, variabel mandatory disclosure konvergensi IFRS (MD) memiliki nilai koefisien regresi dan tingkat signifikansi masing-masing sebesar -0,591 dan 0,095 > alpha (0,05), maka variabel mandatory disclosure
konvergensi IFRS tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham (RS) pada perusahaan perbankan. Dengan demikian hipotesis empat (H4) dinyatakan ditolak.
Tabel 4.18
Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
Kode Hipotesis Hasil
H1 Jumlah anggota dewan komisaris berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure
konvergensi IFRS pada perusahaan perbankan
Diterima
H2 Jumlah persentase kehadiran dewan komisaris dalam rapat berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS pada perusahaan perbankan
Diterima
H3 Kepemilikan dispersi berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS pada perusahaan perbankan
Diterima
H4 Mandatory disclosure konvergensi IFRS berpengaruh positif terhadap return saham pada perusahaan perbankan
E. Pembahasan
1. Pengaruh Jumlah Anggota Dewan Komisaris terhadap Tingkat Kepatuhan
Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS Pada Perusahaan Perbankan
Hasil pengujian hipotesis pertama menyatakan bahwa jumlah anggota dewan komisaris memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Terdukungnya hipotesis pertama mengindikasikan bahwa banyak nya jumlah dewan komisaris dapat mereduksi atau mencegah terjadinya dominasi atas perusahaan oleh manajemen.
Dominasi atas perusahaan akan menimbulkan kesempatan bagai manajemen untuk melakukan tindakan oportunistik yang akan mendatangkan keuantungan bagi dirinya sendiri. Dengan adanya dewan komisaris yang memiliki fungsi
montoring maka tindakan oportunistik yang seringkali dilakukan oleh pihak manajemen dapat direduksi, sehingga akan berdampak kepada pengungkapan informasi yang lebih luas.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hafiz dkk., (2015), Supriyono dkk., (2014) dan Hikmah dkk., (2011) yang menyatakan bahwa jumlah anggota dewan komisaris memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Sutiyok dan Rahmawati (2016) dan penelitian Pitasari dan Septiani (2014) yang menyatakan bahwa jumlah anggota dewan komisaris tidak memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS.
2. Pengaruh Persentase Kehadiran Dewan Komisaris Dalam Rapat terhadap Tingkat Kepatuhan Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS Pada Perusahaan Perbankan
Hasil pengujian hipotesis kedua menyatakan bahwa jumlah persentase kehadiran dewan komisaris dalam rapat memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Pengujian hipotesis kedua tersebut mengindikasikan bahwa tingginya intensitas rapat dewan komisaris mampu meningkatkan pengungkapan informasi suatu perusahaan.
Tingginya intensitas rapat yang diadakan merupakan indikasi bahwa manajemen tidak memutuskan sendiri kebijakan perusahaan, sehingga kebijakan yang ada pada suatu perusahaan tidak ada unsur-unsur tindakan kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajemen. Rapat dewan komisaris dapat memastikan bahwa manajemen telah melakukan pengungkapan informasi yang memadai sebagai wujud transparansi dan akuntabilitas kepada pihak yang memiliki kepentingan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutiyok dan Rahmawati (2016), Waryanto dkk., (2010) dan Hafiz dkk., (2015) yang menyatakan bahwa jumlah kehadiran dewan komisaris dalam rapat berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Hasil penelitian ini memiliki hasil yang tidak sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Supriyono dkk., (2014) dan penelitian Pitasari dan Septiani (2014).
3. Pengaruh Jumlah Kepemilikan Dispersi Terhadap tingkat Kepatuhan
Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS Pada Perusahaan Perbankan
Hasil pengujian hipotesis ketiga menyatakan bahwa jumlah kepemilikan dispersi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Pengujian hipotesis ketiga tersebut menggambarkan bahwa jumlah kepemilikan dispersi mampu meningkatkan pengungkapan informasi suatu perusahaan.
Perusahaan perbankan dengan kepemilikan menyebar (dispersi) akan cenderung menyediakan pengungkapan informasi yang memadai. Karena perusahaan dengan kepemilikan dispersi kepemilikan sahamnya terbagi atas banyak pihak. Sehingga banyak pihak yang memerlukan informasi tentang perusahaan. Dengan demikian perusahaan perbankan dengan kepemilikan dispersi memiliki tuntutan yang lebih besar dari pada perusahaan dengan kepemilikan terkonsentrasi untuk melakukan pengungkapan informasi.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Alvionita dan Taqwa (2015), Sutiyok dan Rahmawati (2016) dan penelitian Putranto dan Raharja (2013) yang dalam penelitiannya didapatkan hasil bahwa kepemilikan dispersi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Hikmah dkk., (2011) yang
menyatakan bahwa kepemilikan dispersi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS.
4. Pengaruh Tingkat Kepatuhan Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS terhadap Return Saham Pada Perusahaan Perbankan
Hasil pengujian hipotesis keempat menyatakan bahwa tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham. Berdasarkan pada hasil pengujian hipotesis keempat diperoleh hasil bahwa tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS memiliki pengaruh negatif terhadap return saham, dan pengaruhnya tidak signifikan.
Tidak diterimanya hipotesis keempat diduga karena ada faktor lain yang dijadikan dasar investor dalam melakukan keputusan investasi. Kemungkinan faktor yang paling sering dijadikan dasar oleh investor untuk berinvestasi adalah bagaimana kinerja suatu perusahaan yang tercermin melalui laba yang diperoleh dalam suatu periode serta pergerakan harga saham dari waktu ke waktu.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Gunawan dan Lina (2015) yang menyatakan bahwa secara parsial mandatory disclosure konvergensi IFRS tidak memiliki pengaruh terhadap investor reaction yang diukur menggunakan volume perdagangan saham. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Junaedi (2005) yang menyebutkan bahwa secara parsial mandatory disclosure
SIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN