yang pertama kali dilakukan, pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ramana (2017) dimana penggunaan Bottom Ash
di kombinasikan pada komposisi Abu batu, yaitu dengan perbandingan 80% Bottom Ash dengan 20% Abu batu. Jenis Fly
Rata-rata Min. Rata-rata Maks. (%)
A 40 35 0,090 0,103 3 B 20 17,0 0,130 0,149 6 C 15 12,5 0,160 0,184 8 D 10 8,5 0,219 0,251 10 Mutu Penyerapan air rata-rata maks. Kuat Tekan (Mpa) Ketahan Aus (mm/menit)
Ash yang digunakan adalah Fly ash tipe C yang didapat dari Petro Kimia Gresik.Pada Tabel 4.37 akan dijelaskan perbandingan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ramana (2017) dengan penelitian saat ini.
Tabel 4. 37 Perbandingan Hasil penelitian sebelumnya
Dari data pada Tabel 4.17 bisa dilihat beberapa hasil yang membandingkan antara penelitian sebelumnya dengan penelitian saaat ini. Jenis Fly Ash yang digunakan pada penelitian ini adalah Surlaya tipe F, Fly Ash ini mempunyai Setting Time
yang cukup lama sehingga sangat cocok dibuat dengan mesin
paving berbeda dengan penelitian sebelumnya yang
menggunakan Fly Ash dari Petro Kimia tipe C yang memiliki
Setting time sangat cepat ± 11 menit setelah larutan Alkali dan
Fly Ash bercampur.Kondisi ini mengakibatkan pembuatan dengan mesin paving tidak efisien karena untuk membuat 56 paving harus dilakukan 7 kali cetak, berbeda dengan Suralaya tipe F yang hanya 1 kali cetak untuk pembuatan 56 paving.
Jenis Fly Ash Petro Kimia tipe C Suralaya tipe F
-Penggunaan Bottom Ash 0.36 0.81 Kg
Kuat Tekan Rata-rata 7 hari 21.4 22.2 Mpa
Kuat Tekan Rata-rata 14 hari 27.4 32.67 Mpa
Kuat Tekan Rata-rata 21 hari 33.61 37.88 Mpa
Kuat Tekan Rata-rata 28 hari 33.18 43.37 Mpa
Ketahanan Aus 0.08 0.06 mm/menit
Resapan Air 3.43 7.8 %
Setting Time ± 11 ±20 menit
Berat Paving 3 2.6 Kg
Kecepatan Produksi menit
Harga per buah Rp 1,164 Rp 900 Rp Jenis Perbandingan Komposisi
80% BA : 20% AB
Komposisi
111 Penggunaan Bottom Ash pada penelitian ini juga lebih banyak dengan selisih 0.45 kg per paving sehingga bisa lebih banyak memanfaatkan limbah yang ada dan harga Paving pun akan lebih ekonomis. Kuat tekan yang dihasilkan pada penelitian ini juga lebih baik, pada penelitian ini usia 7 hari sudah menghasilkan kuat tekan rata-rata sebesar 22.2 MPa sedangkan pada penelitian sebelumnya hanya sebesar 21.4 MPa.Pada usia 28 hari pada penelitian ini didapatkan hasil 43.37 MPa yang sudah memenuhi target mutu K 400 sedangkan pada penelitian sebelumnya hanya 33.18 MPa.
Pada penelitian ini hasil uji ketahanan aus didapatkan sebesar 0.06 mm/menit, hasil ini juga lebih baik dari penelitian sebelumnya yaitu 0.08 mm/menit. Berbeda dengan beberapa uji sebelumnya untuk uji resapan air pada penelitian ini mendapatkan hasil yang kurang baik dimana resapan air rata-rata sebesar 7,80% dimana hasil ini sesuai dengan mutu B pada SNI 03-0691-1996, sedangkan pada penelitian sebelumnya resapan air rata-rata sebesar 3.43% hasil ini sesuai dengan mutu A pada SNI 03-0691-1996.
Salah satu tujuan penelitian ini selain mendapatkan mutu
paving yang sesuai dengan SNI 03-0691-1996 juga mendapatkan harga paving yang lebih murah.Dapat dilihat pada penelitian ini harga per paving sebesar Rp 900 hasil survey harga bahan dan material yang digunakan dilakukan per Mei 2017.Pada penelitian sebelumnya sebesar Rp 1164 hasil survey harga bahan dan material dilakukan per Oktober 2016, ada selisih Rp 264 untuk tiap paving nya.Selisih tersebut bisa lebih besar jika harga material tidak mengalami kenaikan, karena perbedaan waktu pembuatannya beberapa jenis material mengalami kenaikan harga, Seperti harga NaOH Flake pada penelitian sebelumnya harganya sebesar Rp 8.800 per Kg,sedangkan pada penelitian ini harga per Kg sebesar Rp 11.000. Hal ini sangat berpengaruh karena kebutuhan NaOH dan Sodium Silikat sebagai bahan
pembuat larutan alkali memiliki presentase yang sangat besar yaitu lebih dari 90% dari total harga paving.
4.6 Hasil pembuatan GEOPAV dengan komposisi 80%
BA : 20% AB
Dalam penelitian ini dilakukan dua kali pembuatan GEOPAV dengan komposisi yang berbeda, dimana pada komposisi pertama yaitu PS AB = 50%, dan komposisi kedua ini menggunakan komposisi 80% BA : 20% AB guna membandingkan dengan penilitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ramana (2017) tentunya dengan Fly Ash dan Bottom Ash
yang berbeda .
Gambar 4.47 menunjukkan hasil dari pembuatan GEOPAV dengan komposisi 80% BA : 20% AB ,dapat dilihat hasilnya kurang baik, banyak retakan yang terjadi pada GEOPAV dan pada saat pembuatan juga mengalami kesulitan dikarenakan kondisi GEOPAV lembek seperti lumpur, hal ini disebabkan Fly Ash tipe F dari suralaya yang setting time nya cukup lama dan juga komposisi Abu batu yang hanya 20% mengakibatkan proses pengerasan pada GEOPAV tidak bisa terjadi dan hasilnya kurang baik.Bisa disimpulkan bahwa komposisi yang dilakukan oleh Ramana (2017) ini tidak sesuai untuk jenis Fly Ash tipe F dari Suralaya.
113
Gambar 4.47 Hasil pembuatan GEOPAV yang kurang baik dengan menggunakan komposisi 80% BA : 20% AB
115
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut:
1. Komposisi PS AB = 50% menghasilkan kuat tekan terbaik dibandingkan komposisi yang lain pada benda uji kubus 5x5x5 cm yaitu sebesar 30,55 MPa dan juga penggunaan Bottom Ash
yang banyak yaitu 50% dari total kebutuhan Pasir dan Abu batu. Nilai Kovarian pada komposisi PS AB 50% juga masuk dalam kategori Istimewa dengan nilai 9,29%.
2. Untuk pembuatan satu buah GEOPAV ukuran 20x10x6 cm membutuhkan Fly Ash sebanyak 0,766 Kg atau 33,704 Kg untuk 1 m² (44 paving) dan untuk satu buah GEOPAV membutuhkan Bottom Ash sebanyak 0,809 Kg atau 35,60 Kg untuk 1 m² (44 paving).
3. Berdasarkan SNI 03-0691-1996 tentang paving block, pada komposisi PS AB 50% pada GEOPAV usia 28 hari memiliki nilai kuat tekan rata-rata 43,37 MPa sehingga dikategorikan sebagai paving block mutu A.
4. Berdasarkan SNI 03-0691-1996 tentang paving block, pada komposisi PS AB 50% pada GEOPAV usia 28 hari memiliki nilai ketahanan aus rata-rata 0,060 mm/menit sehingga dikategorikan sebagai paving block mutu A.
5. Berdasarkan SNI 03-0691-1996 tentang paving block, pada komposisi PS AB 50% pada GEOPAV usia 28 hari memiliki nilai penyerapan air rata-rata 7,80% sehingga dikategorikan zsebagai paving block mutu B.
6. Penambahan Bottom Ash sebanyak 50% terhadap komposisi Pasir dan Abu batu, atau sebesar 0,809 kg untuk tiap GEOPAV mengakibatkan daya serap pada GEOPAV sangat
tinggi, dikarenakan sifat dasar dari Bottom Ash yang memiliki daya serap yang tinggi.
7. Analisa Biaya GEOPAV tebal 6 cm mutu K 400 didapatkan harga produksi paving (HPP) perbuah sebesar Rp 900 atau sebesar Rp 39.600 per m² (44 buah paving). Sedangkan harga
Paving pada produsen lokal dengan ukuran dan mutu yang sama yaitu Rp 1.600 perbuah atau Rp 70.000 per m², Ada selisih sebesar Rp 700 untuk tiap paving atau Rp 30.400 per m².
8. Dengan menggunakan mesin pembuat paving dengan kapasitas produksi 8.000 buah per hari nya maka dengan komposisi PS AB = 50% dapat memanfaatkan Fly Ash sebanyak 6,13 Ton dan Bottom Ash sebanyak 6,47 Ton tiap harinya atau 184 Ton
Fly Ash dan 194,16 Ton Bottom Ash tiap bulannya.
9. Dikarenakan penambahan komposisi Bottom Ash yang cukup besar maka didapatkan harga yang semakin ekonomis pula,didapatkan harga sebesar Rp 900 perbuah sedangkan pada penelitian sebelumnya didapatkan harga sebesar Rp 1.164 pada penelitian ini beberarpa bahan material mengalami kenaikan harga.
10.Berdasarkan PP no. 101 tahun 2014 tentang limbah B3, Fly Ash dikategorikan masuk dalam limbah B3.Telah dilakukan pengujian TCLP terhadap Fly ash,Bottom ash, dan GEOPAV di laboratorium Teknik Kimia ITS dijelaskan bahwa 3 material uji tersebut memenuhi syarat standarisasi TCLP yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL).