• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Uji Persyaratan Analisis dan Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini uji persyaratan analisis yang dilakukan adalah uji normalitas, uji multikolonieritas, dan uji heteroskedastisitas. Berikut disajikan hasil uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini:

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menentukan data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal dan diambil dari populasi yang normal.

Pada penelitian ini penulis mengolah menggunakan aplikasi olahan computer dengan teknik Kolmogorov-Smirnov.

Kriteria pengukuran yang digunakan untuk menyatakan apakah data berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak dinyatakan

apabila nilai Sig. atau signifikansi yang terdapat dalam kolom Kolmogorov-Smirnov <0,05 maka data residual berdistribusi tidak normal. Sedangkan apabila Sig. atau signifikansi yang terdapat dalam kolom Kolmogorov Smirnov >0,05 maka data residual berdistribusi normal. Hasil uji normalitas pada penelitian ini dapat dilihat pada table One Sample Kolmogorov-Smirnov Test berikut ini:

Tabel 4.8 Hasil Uji Normalitas

Sumber: Pengolahan data SPSS 21 (2018)

Berdasarkan tabel 4.8 di atas, hasil menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa nilai Kolmogorov-Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 0,461 dan koefisien signifikansi atau Asymp-Sig sebesar 0,984 yang artinya lebih besar dari taraf kesalahan 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh dalam penelitian ini berdistribusi normal dan memenuhi syarat uji normalitas. Selain menggunakan tabel, uji normalitas juga dapat dibuktikan melalui grafik histogram dan grafik P-Plot. Adapun gambar grafik histogram dan P-Plot sebagai berikut:

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 100

Normal Parameters

a,b

Mean ,0000000

Std. Deviation 7,84965642

Asymp. Sig. (2-tailed) ,984

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Gambar 4.1

Hasil Uji Normalitas dengan Grafik Histogram

Sumber: Pengolahan data SPSS 21 (2018)

Berdasarkan gambar 4.1 grafik histogram di atas, dapat disimpulkan bahwa grafik histogram memberikan pola distribusi normal, hal ini bisa terlihat dari grafik histogram yang menggambarkan bentuk lonceng maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

Gambar 4.2

Hasil Uji Normalitas dengan P-Plot

Sumber: Pengolahan data SPSS 21 (2018)

Berdasarkan gambar 4.2 di atas, hasil uji normalitas tentang persepsi seks pranikah menggunakan P-Plot of regression standarised residual.

Dasar pengambilan keputusannya adalah jika titik-titik menyebar disekitar garis dan mengikuti garis diagonal berarti menunjukkan pola distribusi normal dan model regresi memenuhi normalitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh dalam penelitian ini berdistribusi normal.

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolinieritas dilakukan untuk melihat apakah terjadi korelasi anara variabel bebas atau satu sama lainnya. Tabel 4.14 menunjukan hasil uji Multikolinieritas.

Tabel 4.9 Uji Multikolonieroitas

Sumber: Pengolahan data SPSS 21 (2018)

Berdasarkan hasil uji multikoliniaritas pada tabel 4.9 dapat terlihat bahwa penelitian ini terbebas dari mulitikoliniaritas karena memiliki nilai Tolerance ≥ 0,1 dan VIF ≤ 10. Maka dapat dikatakan tidak terjadi gejala multikoliniaritas antar variabel.

c. Uji Heteroskedastisitas

Heterokedastisitas dapat diketahui dengan menggunakan Uji Glejser, Park, White dan secara grafik. Pengujian penelitian dengan Glejser yaitu meregresikan variabel independen dengan absolute residual. Jika tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada α = 0,05, maka dapat dikatakan bahwa model regresi berganda terbebas dari asumsi heterokedastisitas.

Tabel 4.10

Uji Heteroskedastisitas dengan Uji Glejser

Sumber: Pengolahan data SPSS 21 (2018)

Berdasarkan tabel hasil uji Glejser di atas diketahui bahwa variabel pengetahuan seks remaja (X

1

) sebesar 0,312, pengetahuan dampak seks pranikah (X

2

) sebesar 0,480. Dimana semua nilai variabel independen signifikan atau lebih besar dari α = 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model regresi pada penelitian ini tidak terjadi gejala heteroskedastisitas karena Sig. > 0,05.

Coefficientsa

Model Unstandardized

Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

1

(Constant) 4,395 3,417 1,286 ,201

X1 ,040 ,039 ,109 1,017 ,312 ,892 1,121

X2 -,029 ,041 -,076 -,709 ,480 ,892 1,121

a. Dependent Variable: ABS_RES1

d. Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Tabel 4.11

Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Sumber: Pengolahan data SPSS 21 (2018)

Berdasarkan tabel 4.11 di atas, menunjukkan hasil uji regresi linier berganda antara pasangan data pengetahuan seks remaja (X

1

) dan pengetahuan dampak seks pranikah (X

2

) terhadap persepsi seks pranikah (Y) diketahui bahwa nilai koefisien regresi pada variabel pengetahuan seks remaja (X

1

) adalah sebesar 0,398, nilai koefisien regresi pada variabel pengetahuan dampak seks pranikah (X

2

) sebesar 0,357 dan nilai konstanta 5,681. Dengan demikian persamaan regresi yang diperoleh adalah Y = -5,681 + 0,398X

1

+ 0,357X

2

. Dimana Y adalah persepsi seks pranikah, sedangkan (X

1

) adalah pengetahuan seks remaja dan (X

2

) adalah pengetahuan dampak seks pranikah. Dari persamaan tersebut dapat dianalisis beberapa hal, antara lain:

1. Nilai konstanta sebesar -5,681 dapat diartikan apabila semua variabel bebas (pengetahuan seks remaja (X1) dan pengetahuan dampak seks pranikah (X2) ) dianggap konstan atau tidak mengalami perubahan, maka jumlah persepsi seks pranikah sebesar -5,681. Nilai konstanta -5,681 hasil dari regresi linier berganda, disini konstanta -5,681 berarti berpengaruh negatif yang artinya terjadi penurunan jumlah persepsi seks pranikah sebesar -5,681.

t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

2. Nilai koefisien variabel pengetahuan seks remaja sebesar 0,398 menunjukkan bahwa jika nilai variabel pengetahuan seks remaja (X

1

) sebesar 1, maka persepsi seks pranikah akan bertambah 0,398. Dapat disimpulkan bahwa koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara variabel dependen dengan variabel independen, karena itu semakin baik pengetahuan seks remaja maka semakin baik persepsi seks pranikah, begitu pula sebaliknya.

3. Nilai koefisien variabel pengetahuan dampak seks pranikah sebesar 0,357 menunjukkan bahwa jika nilai variabel pengetahuan dampak seks pranikah (X

2

) sebesar 1, maka persepsi seks pranikah akan bertambah 0,357. Dapat disimpulkan bahwa koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara variabel dependen dengan variabel independen, karena itu semakin baik pengetahuan dampak seks pranikah maka semakin baik persepsi seks pranikah, begitu pula sebaliknya.

4. Hubungan variabel Y dengan X

1

dan X

2

pada angka tertentu menentukan angka yang terbalik dan bersifat negatif. Tetapi ketika nilai X

1

dan X

2

lebih dari angka 8, maka akan diperoleh titik keseimbangan Y.

Selanjutnya, setiap penambahan nilai X

1

dan X

2

, akan menghasilkan nilai Y yang positif.

Berdasarkan nilai signifikansi, pada tabel 4.11 diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000 pada variabel pengetahuan seks pranikah (X

1

) dan sebesar 0,000 pada variabel pengatahuan dampak seks pranikah (X

2

) yang berarti lebih kecil dari tingkat alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pengetahuan seks pranikah (X

1

), dan pengetahuan dampak seks pranikah (X

2

) berpengaruh terhadap variabel persepsi seks remaja (Y).