4.2 Analisis Data
4.2.1 Uji Persyaratan Analisis 1. Uji Normalitas Residual
Uji normalitas adalah untuk melihat apakah data hasil penelitian yang diperolah berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Jika data yang diperoleh dikatakan normal maka data tersebut akan dilanjutkan dengan statistik parametik, jika data yang diperoleh dikatakan tidk normal maka data tersebut akan dilanjutkan dengan statistik non parametik, dengan ketentuan 𝞪 = 0,05.
Adapun kriteria pengujian yang digunakan adalah sebagai beikut:
a. Jika signifikan yang diperoleh > 𝞪, maka sampel berasal dari distribusi yang normal.
b. Jika signifikan yang diperoleh < 𝞪, maka sampel bukan berasal dari distribusi yang normal.
Penelitian ini untuk menghitung uji normalitas residual menggunakan rumus Shapiro-Wilk. Dalam perhitungannya peneliti menggunakan bantuan SPSS 16.0 dengan hasilnya sebagai berikut:
Uji Normalitas Residual Tests of Normality
Shapiro-Wilk
Statistic df Sig.
Unstandardized
Residual .983 40 .805
a. Lilliefors Significance Correction
*. This is a lower bound of the true significance.
Dari hasil perhitungan uji normalitas pada tebel 4.39 di atas dipeoleh hasil output SPSS 16.0, nilai signifikansinya pada kolom Shapiro-Wilk, untuk hasil belajar sebesar 0,805. Karena nilai signifikansi untuk hasil belajar adalah 0,805 > 0,05 dengan demikian, data berasal dari populasi yang berdisribusi normal.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari populasi mempunyai varians yang sama atau tidak. Uji statistik yang digunakan adalah uji Levena. Adapun hipotesis untuk uji homogenitas ini adalah sebagai berikut, dengan ketentuan 𝞪 = 0,05.
Ha = Varians pada tiap kelompok sama (homogen)
Ho = Varians pada tiap klompok tidak sama (tidak homogen) Adapun kriteria pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut:
a) Jika signifikan yang diperoleh > 𝞪, maka varians pada tiap kelompok sama (homogen)
b) Jika signifikan yang diperoleh < 𝞪, maka varians pada tiap kelompok tidak sama (tidak homogen)
Pada perhitungan uji homogenitas ini menggunakan bantuan SPSS 16.0. Hasil perhitungannya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances Unstandardized Residual
Levene
Statistic df1 df2 Sig.
1.868a 11 17 .120
a. Groups with only one case are ignored in computing the test of homogeneity of variance for Unstandardized Residual.
Berdasarkan tabel 4.40 di atas hasil uji homogenitas varians, dapat diketahui bahwa taraf signifikansi yang diperoleh adalah 0,120.
Nilai signifikansi yang diperoleh 0,120 > 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima, jadi data tersebut berasal dari populasi yang bervariansi sama (homogen).
3. Estimasi Model Regresi
Uji regresi bertujuan untuk mengetahui hubungan pengarauh antara satu variabel terhadap variabel lain. Variabel yang dipengaruhi disebut variabel tergantung atau dependen, sedangkan variabel yang mempengaruhi disebut variabel bebas atau variabel independen. Pada penelitian ini, uji regresi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel dependen (kepercayaan diri) terhadap variabel independen (hasil belajar siswa). Untuk uji regresi ini menggunakan uji regresi sederhana karena regresi yang memiliki satu variabel dependen dan satau variabel independen.
Analisis regresi sederhanan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
Variabel Independen : Y = Kepercayaan Diri Variabel Dependen : X = Hasil Belajar
Uji signifikansi Model Regresi 43,559 + 0,368X koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara kepercayaan diri dengan hasil belajar siswa. Semakin meningkat kepercayaan diri siswa maka hasil belajar siswa cenderung semakin meningkat juga.
4. Uji Signifikan Model Regresi
Untuk mengetahui suatu regresi signifikansi atau tidak, maka dilakukan dengan uji signifikansi model regresi satu variabel independen. Hasil uji signifikansi model regresi dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
a. Predictors: (Constant), Kepercayaan Diri b. Dependent Variable: Hasil Belajar
Berdasarkan tabel 4.42, di atas doperoleh nilai signifikansi sebesar 0,001 karena nilau signifikansi 0,001 < 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Maka keputusan yang diambil adalah Ha diterima maka model regresi linier yang diperoleh signifikan.
Tabel 4.43
Berdasarkan tabel.4.43, di atas menunjukkan regresi yang dicari nilai signifikansi dari konstanta sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai variabel X nya sebesar 0,001 < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa koefisien regresi tidak sama dengan nol (signifikan) 6. Koefisien determinasi
Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar prosentase pengaruh kepercayaan diri terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Dimana besarnya nilai tersebut lebih besar dari nol dan lebih kecil dari satu (0 ≤ 𝑟2 ≤ 1). Dalam hal ini, peneliti menggunakan bantuan SPSS 16.0. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.44
Uji koefisien determinasi Model Summaryb
a. Predictors: (Constant), Kepercayaan Diri b. Dependent Variable: Hasil Belajar
Koefisien determinasi dengan rumus = r2 x 100%
= 0,4902 x 100%
= 24%
Pada tabel 4.44, di atas dapat diketahui bahwa nilai R = 0,490 dan nilai RSquare sebesar 0,240 dari koefisien korelasi (0,490) R-Square
matematika siswa. Artinya, bahwa pengaruh kepercayaan diri terhadap hasil belajar matematika siswa sebesar 24% di SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Cirebon, sisanya 76% terbentuk kepercayaan diri terhadap hasil belajar matematika siswa tersebut disebabkan oleh variabe atau faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
7. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui signifikan tidaknya hubungan antara variabel tersebut. Untuk menguji hipotesis ini menggunakan dengan uji statistik t sebagai kriteria penolakan atau penerimaan hipotesisnya adalah sebagai berikut:
Ho : Tidak terdapat pengarauh kepercayaan diri terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
Ha : Terdapat pengaruh kepercayaan diri terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
Kriteria nilai pengujiannya yaitu:
a) Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka H0 diterma b) Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka H0 ditolak
Dengan menggunakan SPSS 16.0 data yang diperoleh sebagai berikut: 3,463 serta signifikansi (0,001 < 0,05). Maka H0 ditolak, artinya bahwa ada pengaruh secara signifikan dalam pengaruh kepercayaan diri terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika (studi kasus pada kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Cirebon).
Setelah penulis melakukan penelitian mengenai pengaruh kepercayaan diri terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Cirebon didapat data kepercayaan diri dan hasil belajar siswa yang diperoleh dari kelas VIII-F yang dijadikan sebagai kelas sampel. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0.
Pada penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa perolehan skor rata-rata hasil angket kepercayaan diri sebesar 71,4 % yang artinya rata-rata siswa memandang positif terhadap kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, hal ini berdampak pula pada hasil belajar matematika siswa dengan skor rata-rata hasil belajar sebesar 75,73%.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa korelasi antara kepercayaan diri dengan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Cirebon termasuk dalam kategori kuat dengan harga r sebesar 0,490. Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara kepercayaan diri terhadap hasil belajar matematika siswa itu berkorelasi positif, yang artinya apabila skor kepercayaan diri siswa mengalami peningkatan maka hasil belajar matematika siswa pun cenderung mengalami peningkatan pula. Hal tersebut juga ditunjukkan oleh koefisien determinasi yang relatif sedang yaitu hanya sebesar 24% yang artinya masih ada 76% faktor-faktor lain yang lebih mempengaruhi hasil belajar dari pada kepercayaan diri siswa.
Hal ini mengisyaratkan bila kepercayaan diri siswa tinggi, maka akan terjadi keyakinan dan pendirian yang teguh sehingga akan meningkatkan hasil belajar matematika. Dalam proses pembelajaran, kepercayaan diri siswa yang tinggi dipertahankan dan kepercayaan diri yang rendah perlu ditingkatkan. Dalam hal ini diperlukan usaha peningkatannya, terutama kemauan dan keikhlasan dari berbagai pihak antara lain orang tua, guru dan lembaga lain.
Kepercayaan diri merupakan bentuk tertinggi dari motivasi manusia, kepercayaan diri akan menghasilkan sesuatu yang terbaik dalam diri manusia, akan tetapi dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk melatih orang sehingga kecakapan diri mereka dapat meningkatkan kepercayaan diri tersebut. Namun bukan berarti siswa tidak berperan serta, mereka harus menyadari ada tugas dan tanggung jawab
mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Karena kepercayaan diri adalah keyakinan yang dibutuhkan untuk mengakibatkan hasil yang diharapkan.
Kepercayaan diri juga perlu dilatih agar dapat berkembang dengan baik.
Seorang siswa yang memiliki kepercayaan diri akan lebih termotivasi dalam belajar. Dengan adanya motivasi belajar yang kuat, maka siswa dapat memperoleh hasil belajar yang memuaskan.
Dari beberapa penjelasan di atas, dari dua variabel tersebut, baik dari teori yang ada maupun dari data hasil penelitian yang dilakukan, maka hipotesis penelitian dapat diterima dengan tingkat kepercayaan 95%. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa “terdapat pengaruh yang signifikan antara kepercayaan diri dengan hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Cirebon”.