HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Hasil Penelitian
B. Uji Prasyarat Analisis 1. Uji Normalitas
Uji normalitas yang peneliti lakukan dengan menggunakan uji Kolmogorof-Smirnov dengan bantuan program SPSS versi 16.0 jika nilai Significance correlation (sig) pada hasil perhitungan besar dari alpha (0.05), maka data dapat dikatakan berdistribusi normal. Sebaliknya, jika nilai Significance correlation (sig) pada hasil perhitungan kecil sama dari alpha (0.05), maka dapat dikatakan tidak berdistribusi normal.
Uji normalitas yang peneliti dapatkan dalam jumlah sampel 51 orang yaitu menggunakan bantuan SPSS versi 16.0 sebagai berikut:
a. Self Disclosure
Normal Parametersa Mean .0000000 Std. Deviation 11.1515201
Berdasarkan table di atas, dapat diketahui hasil uji normalitas pada kolom Kolmogorov-Smirno Z dan Asymp. Sig untuk menginterpretasikan normalitas data pada penelitian ini peneliti menggunakan hasil tes Asymp. Sig. Berdasarkan interpretasi SPSS 16.0 for Window untuk uji normalitas. Jika nilai signifikan pengujian > dari alpha (0.05). maka data berdistribusi normal. Hasil pengujian menujukkan nilai signifikan normalitas Asymp. Sig yaitu (0.630) > dari alpha (0.05) sehingga data berdistribusi normal. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada kurva berikut :
Grafik 4.3
Histogram Self Disclosure
Kolmogorov-Smirnov Z .748
Asymp. Sig. (2-tailed) .630
a. Test distribution is Normal.
Berdasarkan gambar 4.1 menunjukkan bahwa instrumen dengan variabel self disclosure berdistribusi normal dengan mean 2.225.16 dan Std.
deviation sebesar 11.152 dengan banyak sampel 51. Instrumen dengan variabel self disclosure dikatakan normal karena semua skor pada histogram berada dalam garis kurva normal.
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui hasil uji normalitas pada kolom Kolmogorov-Smirno Z dan Asymp. Sig untuk menginterpretasikan normalitas data pada penelitian ini peneliti menggunakan hasil tes Asymp. Sig. Berdasarkan interpretasi SPSS
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardiz ed Residual
N 51
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation 7.69739651
16.0 for Window untuk uji normalitas. Jika nilai signifikan pengujian
> dari alpha (0.05). maka data berdistribusi normal. Hasil pengujian menujukkan nilai signifikan normalitas Asymp. Sig yaitu (0.081) >
dari alpha (0.05) sehingga data berdistribusi normal. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada grafik interaksi sosial berikut :
Grafik 4.4
Histogram Interaksi Sosial
Berdasarkan grafik 4.4 menunjukkan bahwa instrumen dengan variabel interaksi sosial berdistribusi normal dengan mean 8.338.15 dan Std.
deviation sebesar 7.697 dengan banyak sampel 51. Instrumen dengan variabel interaksi sosial dikatakan normal karena semua skor pada histogram berada dalam garis kurva normal.
2. Uji Linearitas
Uji linearitas bertujuan untuk membuktikan apakah variabel self disclosure mempunyai hubungan yang linear dengan variabel interaksi sosial. Adapun hasil uji yang ditemukan yaitu :
Tabel 4.6 Hasil Uji Linearitas Self Disclosure dengan Interaksi Sosial
Remaja Awal Jorong 1 Geragahan N=51
Berdasarkan tabel 4.5, hasil uji linearitas di atas dapat dilihat nilai signifikansi deviation ftom linearity adalah linear sebesar 0.461 yang menyatakan bahwa nilai Linearity > dari α (0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang linear antara variabel self disclosure dengan variabel interaksi sosial.
3. Uji Hipotesis Korelasi Sederhana
Uji hipotesis penelitian diarahkan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu “terdapat hubungan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan. Uji hipotesis ini menggunakan teknik analisis korelasi Product moment dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi 16.0 for windows.
Tabel 4.7
Hasil Uji Hipotesis Variabel Self Disclosure dengan Interaksi Sosial
lah melakukan perhitungan, berdasarkan tabel 4.6 diperoleh hasil bahwa nilai korelasi antara self disclosure dengan interaksi sosial bernilai 0.589** untuk mengkorelasikan kedua variabel tersebut
Correlations
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
dicari df=n-2 (51-2) maka df=49. Kemudian dilihat r tabel korelasi product moment pada signifikan 0.05 dengan df 49=0.281.
Berdasarkan pedoman interpretasi, jika nilai rhitung>rtabel, maka ada hubungan yang signifikan.
Pada hasil perhitungan tersebut, diketahui bahwa rhitung
0.589** > rtabel 0.281, maka dapat diketahui bahwa terdapat korelasi (hubungan) yang signifikan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan. Jika dilihat pada tabel pedoman interpretasi product moment dapat disimpulkan bahwa 0.589** terletak (0.40-0.599) yaitu antara variabel X dan Y terdapat korelasi yang artinya berkorelasi cukup
a. Uji Hipotesis
Berdasarkan tabel 4.6 uji korelasi di atas, dapat diketahui bahwa hubungan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal Jorong I Geragahan memiliki korelasi positif. Hal tersebut dapat dilihat dengan rhitung
sebesar 0.589 dari rtabel dengan degree of freedom (df) 49 diperoleh angka 0.281 pada taraf signifikan 0.05. Maka dapat diketahui bahwa angka indeks (rxy) 0.589 rhitung > dari rtabel yaitu 0.281. Hipotesis yang dirumuskan pada bab II dapat diketahui yaitu sebagai berikut :
1) Ha : Terdapat hubungan yang signifikan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan
2) H0 : tidak terdapat hubungan yang signifikan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan
Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat diketahui bahwa hipotesis yang diterima Ha, sedangkan hipotesis H0
ditolak. Jadi dapat diketahui bahwa hipotesis yang diterima pada penelitian ini adalah Ha, yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan.
b. Koefisien Determinasi
Untuk mengetahui besar hubungan self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan terlihat dari koefisien determinasi antara variabel self disclosure (X) dengan interaksi sosial (Y) dengan rumus :
D= r2 x 100%
D= (0.589)2 x 100%
D= 0.346921 x 100%
D= 34.6921%
Besarnya hubungan self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan dari nilai koefisien determinasi antara variabel self disclosure (X) dengan interaksi sosial (Y) sebesar 34.6921%.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 16.0 for windows menunjukkan bahwa rhitung 0.589 > rtabel 0.281, maka dapat diketahui bahwa terdapat korelasi (hubungan) yang signifikan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan dihasilkan angka sebesar 34.6921%.
Angka ini menunjukkan bahwa self disclosure menjadi salah satu faktor penentu terjadinya interaksi sosial. Berdasarkan perhitungan kriteria di atas dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga diperoleh suatu interpretasi bahwa adanya hubungan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal jorong I Geragahan.
Berdasarkan data peneliti di atas memperkuat dukungan teori Charles R. Berger dan James J. Bradac dalam jurnal ilmiah Widya Warta bahwa “ salah satu alternatif mengenai perolehan pengetahuan interaktif yang berupa tanya jawab ialah pengungkapan diri atau self disclosure.
Keterbukaan diri (self disclosure) merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam interaksi sosial. Individu yang terampil
melakukan self disclosure mempunyai ciri-ciri yakni memiliki rasa tertarik kepada orang lain daripada mereka yang kurang terbuka, percaya diri sendiri, dan percaya pada orang lain”1
Menurut hasil penelitian dari Gainau, menyebutkan bahwa keterbukaan diri (self disclosure) sangat penting dalam hubungan sosial dengan orang lain. Individu yang mampu dalam keterbukaan diri (self disclosure) akan dapat mengungkapkandiri secara tepat, terbukti mampu menyesuaikan diri (adaptive), lebih percayadiri sendiri, lebih kompeten, dapat diandalkan, lebih mampu bersikap positif, percaya terhadap orang lain, lebih objektif, dan terbuka2
Berdasarkan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa Ha diterima yaitu variabel self disclosure berhubungan positif dan signifikan terhadap variabel interaksi sosial di jorong I Geragahan. Hubungan self disclosure dengan interaksi sosial sangat berhubungan. Remaja awal yang memiliki self disclosure yang tinggi maka semakin tinggi pula interaksi sosial yang dimilikinya, begitu juga sebaliknya semakin rendah self disclosure maka semakin rendah interaksi sosial yang dimilikinya.
1 Gainau, M.B. Keterbukaan Diri Siswa dalam Perspektif Budaya & Implikasinya bagi konseling.
2009. Jurnal Ilmiah Widya Warta Vol 33 No. 1
2 Anissa rahmadhaningrum, skripsi:hubungan keterbukaan diri (self disclosure) dengan interaksi sosial remaja di SMA N 3 Bantul (Yogyakarta, STIK Aisyiah,2013)hlm 8
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis mengenai hubungan self disclosure dengan interaksi sosial pada remaja awal di jorong I Geragahan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal di jorong I Geragahan. Korelasi yang terjadi self disclosure dengan interaksi sosial berkorelasi sedang atau cukup, yaitu r=0.589 yang terletak pada 0.40-0.599. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi self disclosure maka semakin tinggi pula perilaku interaksi sosial.
2. Besarnya hubungan self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal di jorong I Geragahan dari nilai koefisien determinasi antara self disclosure dengan interaksi sosial adalah sebesar 34.6921% selebihnya ditentukan oleh faktor lain.
3. Remaja awal di jorong I Geragahan, memiliki frekuensi self disclosure tinggi.
Sesuai dengan hasil penelitian dari 51 responden yang diteliti ada 11 orang (21%) remaja awal yang berada pada tingkat self disclosure sangat tinggi, 34 orang (67%) remaja awal yang berada pada kategori tinggi dan 6 orang (12%) remaja awal yang berada pada tingkat self disclosure sedang. Dari besarnya persentase self disclosure, menunjukkan bahwa remaja awal di jorong I Geragahan, lebih dominan memiliki tingkat self disclosure yang dikategorikan
tinggi.
4. Tingkat interaksi sosial remaja awal di jorong I Geragahan juga tergolong tinggi. Sebagai mana dapat dilihat dari hasil penelitian sebelumnya, bahwa dari 51 responden ada 9 orang (16%) remaja awal yang berada pada tingkat interaksi sosial sangat tinggi 34 orang (67%) remaja awal yang berada pada kategori tinggi dan 8 orang (16%) remaja awal yang berada pada tingkat interaksi sosial sedang. Dari besarnya persentase interaksi sosial menunjukkan bahwa remaja awal di jorong I Geragahan, lebih dominan memiliki tingkat interaksi sosial yang dikategorikan tinggi.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, analisis dan kesimpulan penelitian tentang hubungan self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal di jorong I Geragahan, maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut, yaitu bagi:
1. Remaja awal agar dapat meningkatkan perilaku self disclosure dan interaksi sosial di lingkungan masyarakat, disekolah maupun dikehidupan sehari-hari, karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, saling terbuka satu sama lain, dengan adanya keterbukaan memperluas pertemanan dan kekeluargaan.
2. Wali jorong, masyarakat dan keluarga, hendaknya selalu memberikan motivasi yang baik terhadap remaja awal, memberikan contoh yang baik untuk remaja awal, dan selalu memperhatikan aktifitas remaja awal, agar remaja awal dapat
terbuka dalam menceritakan masalahnya sehingga kesulitan yang terjadi dapat ditangani langsung oleh guru bimbingan dan konseling di masing – masing sekolah remaja awal.
3. Peneliti selanjutnya, yang tertarik dengan tema yang sama disarankan untuk melakukan penelusuran sumber dan dan literatur yang lebih banyak, guna memperkaya dan menambah penguatan terhadap teori-teori yang mendukung.