• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : YOLANDA ANGRESIA Dosen Pembimbing. Dr. Muhiddinur Kamal, M.Pd

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Oleh : YOLANDA ANGRESIA Dosen Pembimbing. Dr. Muhiddinur Kamal, M.Pd"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN SELF DISCLOSURE DENGAN INTERAKSI SOSIAL REMAJA AWAL DI JORONG I GERAGAHAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Sidang Munaqasyah Pada Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh :

YOLANDA ANGRESIA 2615.198

Dosen Pembimbing

Dr. Muhiddinur Kamal, M.Pd

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BUKITTINGGI

2020 M/1441

(2)

ABSTRAK

Skripsi ini berjudul Hubungan self disclosure dengan Interaksi Sosial Remaja Awal di Jorong I Geragahan yang ditulis oleh Yolanda Angresia, NIM 2615.198, Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi 2020.

Masalah pokok yang ada dalam penelitian ini adalah ada beberapa orang remaja awal yang memiki self disclosure yang rendah. Peneliti melihat pada saat observasi awal bahwa remaja awal di Jorong I Geragahan jarang berkomunikasi dengan teman mereka dikarenakan remaja awal merasa kurang percaya terhadap temannya ataupun orang lain. Selain itu, remaja awal juga beranggapan bahwa temannya tidak memahami dan mengerti tentang apa yang dia alami. Peneliti juga melihat adanya perkelahian antar remaja awal di Jorong tersebut hal ini disebabkan karena adanya rasa curiga dan kebencian, merasa dirinya tidak berguna, bersikap menutup diri dan takut menceritakan masalah yang dialaminya. Selain itu peneliti juga melihat dalam proses berinteraksi antar remaja awal, dimana lawan bicaranya sibuk sendiri dan tidak acuh terhadap informasi yang diberikan. Hal lain yang juga ditemukan oleh peneliti adalah banyaknya remaja awal yang pendiam. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang dihadapi oleh remaja awal di Jorong I Geragahan, dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui signifikansi hubungan antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal di Jorong I Geragahan.

Penelitian ini tergolong pada penelitian korelasi yaitu menghubungkan dua buah variabel yang berbeda. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja awal di Jorong I Nagari Garagahan yang berjumlah 106 orang. Adapun sampel penelitian berjumlah 51 orang remaja awal yang diambil dengan dengan menggunakan teknik random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen skala Likert, sementara teknik analisis data menggunakan statistik sederhana. Pengkorelasian variabel penelitian menggunakan rumus r Product Moment, dengan teknik analisis data menggunakan Statistic Product and Service Solution (SPSS) for windows versi 16.0.

Hasil penelitian mengenai hubungan self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal di jorong I Geragahan diperoleh rxy sebesar 0.589 sementara dari rtabel degree of freedom (df)=49 diperoleh angka 0.281, pada taraf signifikan 0.05. Maka dapat diketahui bahwa rhitung > dari pada rtabel, sehingga dapat diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara positif antara self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal di jorong I Geragahan yang berarti Ha diterima dan H0 ditolak. Angka indeks korelasi tersebut terletak antara interpretasi 0.40-0.599.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa self disclosure di jorong I Geragahan memiliki korelasi yang sedang atau cukup dengan interaksi sosial.

Kata Kunci : Self Disclosure, Interaksi Sosial

(3)

DAFTAR ISI COVER

ABSTRAK ...

KATA PENGANTAR ...

DAFTAR ISI ...

DAFTAR TABEL ...

DAFTAR GRAFIK ...

DAFTAR LAMPIRAN ...

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ...

B. Identifikasi Masalah ...

C. Batasan Masalah...

D. RumusanMasalah ...

E. Tujuan Penelitian ...

F. Manfaat Penelitian...

G. Penjelasan Judul ...

H. Sistematika Penulisan ...

BAB II LANDASAN TEORI

A. Teori ...

1. Self Disclosure...

a. Pengertian Self Disclosure ...

b. Prinsip Keterbukaan Diri ...

c. Fungsi dan Karakteristik keterbukaan diri...

d. Johari Window ...

e. Faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri ...

2. Interaksi Sosial ...

(4)

a. Pengertian Interaksi Sosial ...

b. Ciri – ciri Interaksi Sosial ...

c. Bentuk – bentuk Interaksi Sosial ...

d. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial ...

e. Karakteristik Interaksi Sosial ...

f. Faktor yang mendasari berlangsungnya Interaksi Sosial ...

3. Hubungan Self Disclosure dengan Interaksi Sosial ...

B. Penelitian yang Relevan ...

C. Kerangka Berfikir Penelitia ...

D. Hipotesis Penelitian ...

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ...

B. Lokasi Penelitian ...

C. Populasi dan Sampel ...

1. Populasi ...

2. Sampel ...

D. Teknik Pengumpulan Data ...

E. Metode Analisis Instrumen ...

1. Validitas Instrumen ...

2. Reliabilitas ...

F. Teknik Pengolahan Data dan Pengujian Hipotesis ...

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian...

B. Uji Prasyarat Analisis ...

1. Uji Normalitas ...

2. Uji Linearitas ...

3. Uji Hipotesis Korelasi Sederhana...

(5)

C. Pembahasan ...

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ...

B. Saran ...

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lain, hubungan dengan manusia lain tidak lepas dari rasa ingin tahu tentang lingkungan yang ada di sekitarnya. Manusia membutuhkan pergaulan dan keberadaan orang lain untuk memenuhi segala kebutuhan jasmani maupun rohaninya sejak lahir. Dalam rangka mengetahui gejala di lingkungannya ini menuntut manusia untuk berinteraksi. Untuk mewujudkan interaksi ini harus membuka diri kepada orang lain.

Keterbukaan diri sebagai tanggapan terhadap situasi yang sedang di hadapi dan memberikan informasi tentang masa lalu yang berguna untuk masa kini. Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi dan pada saat yang sama berkomunikasi dengan orang lain akan dapat meningkatkan pengetahuan diri sendiri.

Menurut Charles R. Berger dan James J. Bradac dalam Muhammad Budyatna salah satu alternatif mengenai perolehan pengetahuan interaktif yang berupa tanya jawab ialah pengungkapan diri atau self disclosure.

Keterbukaan diri (self disclosure) merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam interaksi sosial. Individu yang terampil melakukan self disclosure mempunyai ciri-ciri yakni memiliki rasa tertarik

(7)

kepada orang lain daripada mereka yang kurang terbuka, percaya diri sendiri, dan percaya pada orang lain.1

Menurut hasil penelitian dari Gainau, menyebutkan bahwa keterbukaan diri (self disclosure) sangat penting dalam hubungan sosial dengan orang lain. Individu yang mampu dalam keterbukaan diri (self disclosure) akan dapat mengungkapkandiri secara tepat, terbukti mampu menyesuaikan diri (adaptive), lebih percayadiri sendiri, lebih kompeten, dapat diandalkan, lebih mampu bersikap positif, percaya terhadap orang lain, lebih objektif, dan terbuka2

Menurut penelitian Johnson sebagai salah satu aspek penting dalam hubungan sosial, self disclosure juga perlu bagi remaja, karena masa remaja merupakan periode individu belajar menggunakan kemampuannya untuk memberi dan menerima dalam berhubungan dengan orang lain. Sesuai dengan perkembangannya, remaja dituntut lebih belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang lebih luas dan majemuk. Remaja sebagaimana setiap orang lainnya mempergunakan seluruh waktunya untuk mencoba memuaskan kebutuhan fisik, sosial, emosional dan kebutuhan pribadinya yang lain3.

1 Gainau, M.B. Keterbukaan Diri Siswa dalam Perspektif Budaya & Implikasinya bagi konseling. (Jurnal Ilmiah Widya Warta,2009) Vol 33 No. 1

2 Anissa rahmadhaningrum, skripsi:hubungan keterbukaan diri (self disclosure) dengan interaksi sosial remaja di SMA N 3 Bantul (Yogyakarta, STIK Aisyiah,2013)hlm 8

3 Fadhilla Yusri, Jasmienti. Pengaruh pemenuhan Kebutuhan Remaja Terhadap Perilaku Agresif Siswa di PKBM Kasih Bundo Kota Bukittinggi(Bukittinggi: Dosen IAIN

Bukittinggi,2017)vol.3 No.1

(8)

Apabila remaja tersebut tidak memiliki kemampuan self disclosure, maka dia akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang lain.4

Komunikasi merupakan salah satu aspek dalam kehidupan manusia.

Manusia sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang dilakukannya dengan manusia lain, baik yang sudah dikenal maupun yang tidak dikenal sama sekali. Melalui komunikasi manusia bisa berhubungan satu sama lain.

Pemberian informasi tentang diri sendiri kepada orang lain dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu, dengan cara mengungkapkan ide, gagasan, sebaliknya jika tidak mempunyai sikap terbuka, maka akan mengalami kesulitan dalam pencapaian komunikasi atau informasi yang diperlukan, bahkan dengan tidak mempunyai sikap keterbukaan diri yang baik maka individu akan sulit dikenal lebih dekat oleh orang lain.

Dalam berinteraksi dengan teman dan lingkungan disekitarnya, remaja awal pada dasarnya melakukan keterbukaan diri karena akan lebih efektif jika ada keterbukaan antara remaja awal dengan teman sebayanya. Komunikasi ini akan lebih menyenangkan dan lancar apabila individu mempunyai sikap terbuka dalam menyampaikan pendapatnya.

Hurlock membagi masa remaja menjadi dua bagian yaitu masa remaja awal pada umur 11/12 tahun - 16/17 tahun dan remaja akhir pada umur 16/17 tahun - 18 tahun). Pada masa remaja akhir, individu sudah mencapai transisi

4 Gainau, M.B. skripsi, Keterbukaan Diri Siswa dalam Perspektif Budaya & Implikasinya bagi konseling. (Papua, STAKPN,2009)hlm2

(9)

perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. Setiap individu dikatakan sebagai remaja awal apabila dia telah memasuki usia sekolah.5

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak – anak menuju dewasa. Salah satu yang harus dimiliki oleh remaja yaitu nilai – nilai moral budi pekerti yang luhur.6 Remaja awal yang merupakan bagian dari masyarakat dituntut dapat terbuka dengan orang lain di lingkungan dimana remaja berinteraksi. Lingkungan yang dimaksud adalah keluarg, masyarakat serta sekolah. Karena hampir sebagian waktu remaja awal banyak digunakan berinteraksi di sekolah. Tugas remaja awal di sekolah adalah belajar, dengan belajar remaja awal akan memperoleh ilmu positif yang bisa bermanfaat untuk masa depan.

Apabila komunikasi tersebut merupakan komunikasi diantar dua orang yang sudah akrab, maka keterbukaan diri akan berlangsung hingga bisa tersingkapkan bagian – bagian diri yang terdalam dan mengokohkan keakraban dan membangun kepercayaan. Namun tidak semua bisa melakukannya karena berbagai alasan, yaitu takut aib nya terbongkar, tidak percaya kepada lawan bicara, merasa malu dan takut terhadap apa yang timbul

5 Hurlock, Developmental Psychology: A Lifespan Approach. (Jakarta: Erlangga Gunarsa,1990)h. 46

6 Alfi Rahmi, Januar.Jurnal Pengokohan fungsi keluarga sebagai upayah preventif terjadinya degradasi moral pada remaja, Al-Taujh:Bingkai Bimbingan dan Konseling.(Bukittinggi : Dosen IAIN Bukittinggi,2009)hlm.62-68

(10)

dikemudian hari. Hal ini akan menyebabkan mereka menjadi pendiam (introvert) dan bahkan sampai berakibat terhadap kondisi sakit pada fisiknya.

Johnson menunjukan bahwa individu yang mampu dalam keterbukaan diri (self disclosure) akan dapat mengungkapkan diri secara tepat, terbukti mampu menyesuaikan diri (adaptive), lebih percaya diri sendiri, lebih kompeten, dapat diandalkan, lebih mampu bersikap positif, percaya terhadap orang lain, lebih objektif dan terbuka. Sebaliknya individu yang kurang mampu dalam membuka diri (self disclosure) terbukti tidak mampu menyesuaikan diri, kurang percaya diri, timbul persaan takut, dan tertutup.

Rendahnya keterbukaan diri remaja awal bisa disebabkan karena timbulnya perasaan tidak enak, kecemasan yang berlebihan, rasa takut dan khawatir akan melakukan suatu kesalahan, merasa diri tidak mampu diterima oleh lingkungan, takut mendapatkan suatu hal yang tidak sesuai dengan harapan dan berbagai pikiran irasional lainnya.

Dalam ajaran agama Islam ada dua tata hubungan yang harus dipelajari oleh pengikutnya, yaitu Hablumminallah dan Habluminannas, yang artinya hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia. Kedua hubungan itu harus berjalan secara serentak selama dia masih hidup di dunia. Umat islam itu bersaudara dan saling tolong menolong.

Sebagaimana yang dijelaskan di dalam surat Al – Hujurat ayat 11 yang artinya:

(11)

Artinya : “Hai orang – orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki – laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka, dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri, dan janganlah memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk – buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang – orang yang zalim”

Ayat di atas menjelaskan janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud adalah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil – memanggil dengan gelar – gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian diantara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir (seburuk – buruk nama).

Hal tersebut bisa membuat remaja awal membuat tidak percaya diri dan akan membuat remaja awal akan malu untuk berkomunikasi dengan teman sebayanya. Bahkam bagi remaja awal yang memiliki sifat percaya diri yang tinggi remaja awal itu akan membalas ucapan yang disampaikan oleh teman sebaya nya dengan perkataan lebih kasar, maka hal tersebut bisa mempengaruhi cara remaja awal berinteraksi dan membuka diri.

Secara garis besar kemampuan remaja awal dalam berinteraksi sosial dapat dikategorikan sebagai seseorang yang bisa berinteraksi sosial dengan baik. Remaja awal yang bisa berinteraksi sosial dengan baik biasanya dapat

(12)

mengatasi berbagai persoalan di dalam pergaulan. Mereka tidak mengalami kesulitan untuk menjalani hubungan dengan teman baru.

Tempat belajar pertama dan paling penting dalam perkembangan kepribadian seseorang adalah dalam lingkungan keluarga. Komunikasi dalam keluarga sangat lah penting untuk melatih kejujuran anak kepada orang tua.

Pola asuh orang tua berpengaruh terhadap kemampuan seorang anak dalam berkomunikasi. Orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengungkapkan perasaan dan pikirannya untuk memutuskan suatu hal. Perintah dan nasihat yang diberikan orang tua seakan wajib dilakukan oleh anaknya tanpa komunikasi dua arah. Hal ini mengakibatkan adanya perbedaan persepsi diantara keduanya.

Sekolah dan masyarakat sebagai lingkungan kedua setelah keluarga memegang peranan penting, terutama dalam pembinaan sikap mental, pengetahuan dan keterampilan anak. Sasaran pembinaan ini adalah tumbuhnya remaja – remaja yang dinamis, kritis dalam berfikir dan bertindak.7 Keadaan ini akan memperkecil frekuensi terjadinya penyimpangan.

Masa remaja awal biasanya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, dengan ciri-ciri tidak stabil keadaannya, lebih emosional, mempunyai banyak masalah, masa yang kritis, mulai tertarik pada lawan

7Sahilun A. Nasir, Peranan Pendidikan Agama terhadap Pemecahan Problema Remaja, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002) h.9

(13)

jenis, munculnya rasa kurang percaya diri, suka mengembangkan pikiran baru, gelisah, suka berkhayal dan suka menyendiri.8 Masyarakat memberikan lingkungan sosial kepada remaja awal dimana adanya orang yang lebih kecil, kawan yang sebaya dan bahkan orang yang lebih besar. Masyarakat dapat memberikan pengaruh yang kuat bagi perkembangan remaja.

Menurut Sarwono masa remaja merupakan masa “sturm und drang”

(topan dan badai), masa penuh emosi dan adakalanya emosinya meledak- ledak, yang muncul karena adanya pertentangan nilai-nilai. Emosi yang menggebu-gebu ini adakalanya menyulitkan, baik bagi si remaja maupun bagi orangtua/ orang dewasa di sekitarnya. Namun emosi yang menggebu-gebu ini juga bermanfaat bagi remaja dalam upayanya menemukan identitas diri.

Reaksi orang-orang di sekitarnya akan menjadi pengalaman belajar bagi si remaja untuk menentukan tindakan apa yang kelak akan dilakukannya.9

Banyak yang terjadi di sekolah adanya perkelahian antara peserta didik dalam satu kelas, adanya rasa curiga dan rasa benci antara peserta didik, adanya peserta didik yang merasa bahwa dirinya tidak berguna, bersikap menutup diri dan takut menceritakan masalah yang dialaminya.

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan di Jorong 1 Geragahan yang menyatakan bahwa “Saya jarang berkomunikasi dengan

8 Mappiare, A., Psikologi Remaja, (Surabaya: Bina Usaha, 2000), hlm. 76.

9 Sarwono, S. Psikologi Remaja.( Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada,2011) h.54

(14)

teman lain dikarenakan saya merasa kurang percaya terhadap orang lain, remaja awal beranggapan bahwa temannya tidak memahami dan mengerti tentang apa yang dia alami”10

Hal ini sesuai dengan ungkapan orangtua yang ada di Jorong 1 Geragahan yang menyatakan bahwa “Sering terjadi perkelahian antar remaja awal di Jorong tersebut, adanya rasa curiga dan kebencian, adanya remaja awal yang merasa dirinya tidak berguna, bersikap menutup diri dan takut menceritakan masalah yang dialaminya.11 Hal tersebut sejalan dengan ungkapan wali Jorong yang menyatakan bahwa “dalam proses berinteraksi ada remaja awal yang sibuk sendiri dan tidak acuh terhadap informasi yang diberikan oleh lawan bicaranya dan banyak remaja awal yang pendiam”12

Berdasarkan beberapa fenomena yang telah terjadi di lapangan, maka peneliti merasa tertarik untuk mengetahui bagaimana “Hubungan Self Disclosure dengan Interaksi Sosial Remaja Awal di Jorong 1 Geragahan”

B. Identifikasi Masalah

Permasalahan penelitian yang penulis ajukan ini dapat diidentifikasi permasalahannya sebagai berikut:

1. Rendahnya kepercayaan diri remaja awal Jorong 1 Geragahan 2. Kurangnya keterbukaan diri remaja awal Jorong 1 Geragahan

10 Rani (Nama Samaran) remaja awal jorong I Geragahan, wawancara langsung,2020

11 Leoni (Nama Samaran) orangtua remaja awal jorong I Geragahan, wawancara lansgung, 2020

12 Lily (Nama Samaran) Wali Jorong I Geragahan, wawancara langsung, 2020

(15)

3. Sering terjadi perkelahian antar remaja awal Jorong 1 Geragahan

4. Masih banyak remaja awal yang jarang berinteraksi dengan masyarakat sekitar

C. Batasan Masalah

Agar penelitan ini dapat dilakukan lebih fokus, sempurna dan mendalam maka penulis memandang permasalahan penelitian yang diangkat perlu dibatasi variabelnya. Oleh sebab itu, penulis membatasi diri hanya berkaitan dengan hubungan self disclosure dengan interaksi sosial remaja awal Jorong 1 Geragahan.

D. Rumusan Masalah

Dari batasan masalah tersebut rumusan masalahnya adalah:

1) Apakah terdapat hubungan antara self disclosure dengan interaksi social remaja awal Jorong 1 Geragahan.

2) Sebesar apa hubungan antara self disclosure dengan interaksi social remaja awal Jorong 1 Geragahan.

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui signifikansi hubungan self disclosure terhadap interaksi social Jorong 1 Geragahan.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait utamanya bagi pihak – pihak berikut:

(16)

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan mengenai hubungan self disclosure dengan interaksi social remaja awal.

2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis

Bagi penulis sendiri sebagai salah satu persyaratan untuk mencapai gelar sarjana di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Jurusan Pendidikan Bimbingan dan Konseling (PBK) IAIN Bukittinggi.

b. Bagi guru bimbingan dan konseling

Bagi guru bimbingan dan konseling sebagai bahan masukan agar lebih dapat memahami anak didiknya dan memberikan pengarahan dalam belajarnya, dan guru bimbingan dan konseling dapat memberikan pemahaman dan pengembangan dalam mengehatui hubungan self disclosure terhadap interaksi social remaja awal

G. Penjelasan Judul

Istilah – istilah dalam penelitian ini banyak sekali, terutama tentang judul penelitian. Agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahaminya, maka berikut ini penulis akan menjelaskan beberapa istilah dalam memerlukan pemahaman lebih jauh diantaranya:

(17)

Hubungan : Adalah kesinambungan interaksi antara dua orang atau lebih yang memudahkan proses pengenalan satu akan yang lain.13

Self disclosure : Adalah tipe khusus dari percakapan dimana berbagi informasi dan perasaan pribadi dengan orang lain.14

Interaksi social : Hubungan antara individu dengan individu yang lain, inidividu yang satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat hubungan timbal balik. Hubungan tersebut dapat antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.15 Jadi, judul skripsi yang penulis maksud dengan adanya keterbukan diri antar remaja, remaja awal dapat berkembang secara optimal, merasa dihargai, diperhatikan, dan dipercaya oleh orang lain, sehingga mempererat interaksi social remaja awal di Jorong 1 Geragahan.

H. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembaca memahami isi skripsi ini, maka dalam penyusunan skripsi ini menggunakan sistematika dan garis besar isinya yang disajikan sebagai berikut :

13 Kamus Besar Bahasa Indonesia Negara Republik Indonesia .

14 Shelley. E. Taylor, Psikologi Sosial, (Jakarta: Kencana, 2009), h.334

15 Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: CV Andi, 2003), h. 65

(18)

BAB I : Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, defenisi operasional, dan sistematika penulisan.

BAB II : Landasan teori, meliputi teori, penelitian yang relevan, kerangka berfikir penelitian, dan hipotesis penelitian.

BAB III : Metode penelitian, meliputi jenis penelitian, populasi dan sampel penelitian, instrument penelitian, pengujian instrument, dan teknik analisis data.

BAB IV : Deskripsi hasil penelitian, Uji prasyarat analisis, dan Pembahasan

BAB V : Kesimpulan dan Saran.

(19)

14

BAB II

LANDASAN TEORI A. Teori

1. Self Disclosure

a. Pengertian Self Disclosure

Secara bahasa, self berarti diri sendiri, dan disclosure dari kata closure yang diartikan sebagai penutupan, pengakhiran, sehingga disclosure berarti terbuka atau keterbukaan. Menurut Leary, Mc Donald dan Tangney dalam Agus, self adalah Kelengkapan psikologis yang memungkinkan refleksi diri berpengaruh terhadap pengalaman kesadaran, yang mendasari semua jenis persepsi, kepercayaan dan perasaan tentang diri sendiri serta yang memungkinkan seseorang meregulasi tentang perilakunya sendiri.1 Definisi tersebut tampak menggabungkan tiga cara yaitu self as experiencing, executive agents, beliefs about oneself.

Keterbukaan diri merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan dalam hubungan interpersonal, karena dengan adanya pengungkapan diri seseorang dapat mengungkapkan pendapatnya, perasaannya, cita- citanya dan sebagainya, sehingga memunculkan hubungan keterbukaan.

1Agus Abdul Rahman, Psikologi Sosial, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2013), h. 46

(20)

Sidney seorang pakar Self disclosure memandang “Self disclosure is the act of making yourself manifest, showing yourself so others can perceive you, everything and everybody in the word disclose themselves by one means or another as long as they exist2 ( Pengungkapan diri adalah tindakan mewujudkan diri anda, menunjukkan diri anda sehingga orang lain dapat melihat anda. Segala sesuatu dan semua orang di dunia mengungkapkan diri mereka dengan satu cara atau lainnya selama mereka ada).

Canary, Cody, & Manusov dalam Shelley E. Taylor menjelaskan Self disclosure, adalah tipe khusus dari percakapan dimana berbagi informasi dan perasaan pribadi dengan orang lain.Informasi diri bisa bersifat deskriptif dan evaluatif. Informasi disebut deskriptif apabila individu melukiskan berbagai fakta mengenai dirinya sendiri yang belum diketahui orang lain. Misalnya jenis pekerjaan, alamat, dan usia. Informasi yang bersifat evaluatif berkaitan dengan pendapat atau perasaan pribadi individu terhadap sesuatu, seperti tipe orang yang disukai atau dibenci.3

Richhard West mendefinisikan self disclosure sebagai proses pembukaan informasi mengenai diri sendiri kepada orang lain yang memiliki tujuan. Biasanya informasi yang ada didalam pembukaan diri

2 Sidney M. Jourard, The Transparent Self, (New York: Van Nostrand Reinhold, 1971), h. 19

3Shelley E. Taylor, et al. Psikologi Sosial, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 334

(21)

adalah informasi yang signifikan4. Self disclosure pun bisa bersifat eksplisit. Dalam hal ini, informasi diri lebih bersifat rahasia karena tidak mungkin diketahui orang lain, kecuali diberitahukan sendiri oleh individu yang bersangkutan.

Sama seperti di atas, Devito menjelaskan self disclosure sebagai salah satu tipe komunikasi ketika informasi tentang diri yang biasa dirahasiakan diberitahu kepada orang lain5. Kedua belah pihak mampu mengungkapkan perasaan pribadinya terhadap satu sama lain6. Ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu informasi yang diutarakan tersebut harus informasi yang biasanya disimpan atau dirahasiakan dan informasi tersebut harus diceritakan kepada orang lain baik secara tertulis dan lisan.

Berdasarkan paparan-paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa self disclosure merupakan suatu bentuk komunikasi yang dilakukan secara sengaja dengan cara membagi pikiran dan informasi tentang dirinya sehingga menjadikan dirinya diketahui oleh orang lain. Selain itu, self disclosure pun dapat meningkatkan keakraban, kepercayaan, dan kekeluargaan. Makin sering informasi diri diungkapkan, makin tercipta pengertian diantara seseorang dengan orang lain. Dengan begitu, komunikasi akan berjalan dengan baik.

4Richard West, Pengantar Teori Komunikasi, (Jakarta: Salemba Humanika, 2008),h.199

5 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia, (Jakarta: Professional Books, 1997), h.40

6 Muhammad Budyatna, Teori Komunikasi Antar Pribadi, (Jakarta: Kencana, 2014), h. 38

(22)

b. Prinsip Keterbukaan Diri

Keterbukaan diri memiliki beberapa prinsip dasar yang perlu untuk dipahami. Beberapa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam keterbukaan diri menurut Derlega, Gzelak & Omazu dalam Taylor adalah :

1) Penerimaan Sosial, individu mengungkapkan informasi tentang dirinya guna meningkatkan penerimaan sosial dan agar individu disukai oleh orang lain.7

2) Pengembangan Hubungan, berbagi informasi pribadi dan keyakinan pribadi adalah salah satu cara untuk mengawali hubungan dan bergerak ke arah intimasi.

3) Ekspresi Diri, mengekspresikan perasaan dapat mengurangi stress.

4) Klarifikasi Diri, dengan berbagi perasaan dan pengalaman pribadi kepada orang lain, individu dapat memperoleh pemahaman dan kesadaran yang lebih luas.

5) Kontrol Sosial, individu mungkin membuka atau menyembunyikan informasi tentang dirinya sebagai alat kontrol sosial. Individu mungkin dapat menekankan topik atau ide yang menciptakan kesan baik di mata pendengar.

7Shelley E. Taylor, Psikologi Sosial, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 334

(23)

c. Fungsi dan Karakteristik Keterbukaan Diri

Menurut Sumartono, membuka diri berarti terbuka untuk berbagai keuntungan, seperti:

1) Membuka diri membuat kita belajar tentang banyak hal dari beragam situasi.

2) Membuka diri membuat rasa percaya diri semakin tumbuh dan berkembang dengan baik

3) Keterbukaan diri merangsang manusia berfikir kreatif dan kritis8 Selain itu, Devito mengemukakan bahwa self disclosure mempunyai beberapa karakteristik umum antara lain:

1) Keterbukaan diri adalah suatu tipe komunikasi tentang informasi diri yang pada umumnya tersimpan, yang dikomunikasikan kepada orang lain.

2) Keterbukaan diri adalah informasi diri yang seseorang berikan merupakan pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui oleh orang lain dengan demikian harus dikomunikasikan.

3) Keterbukaan diri adalah informasi tentag diri sendiri yang meliputi tentang pikiran, perasaan maupun sikap.

4) Keterbukaan diri dapat bersifat khusus yang artinya rahasia yang

8Sumartono Mulyodiharjo, The Power Of Communication, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2007), h.119

(24)

diungkapkan kepada orang lain secara pribadi yang tidak semua orang ketahui

5) Keterbukaan diri melibatkan sekurang- kurangnya seorang individu lain, oleh karena itu keterbukaan diri merupakan informasi yang harus diterima dan dimengerti oleh individu lain.9

Keterbukaan diri mengandung perilaku dimana seseorang mengungkapkan diri secara jujur dan apa adanya, sebab apabila individu mengatakan informasi secara tidak jujur maka akan berkurang maknanya serta dapat merugikan dirinya.

Menurut Brooks & Emmert dalam Daryanto mengemukakan ciri – ciri sikap terbuka dan orang tertutup, seperti yang ada dalam tabel 2.1 dibawah ini10 :

Tabel 2.1 Ciri-ciri Sikap Terbuka dan Sikap Tertutup No Sikap Terbuka Sikap Tertutup 1 Menilai pesan secara

obyektif, dengan

menggunakan data dan keajekan logika

Menilai pesan berdasarkan motif-motif pribadi.

2 Membedakan dengan mudah, melihat nuansa.

Berfikir simplisitis, artinya berpikir hitam putih (tanpa nuansa).

3 Berorientasi pada isi. Bersandar lebih banyak pada sumber pesan (siapa) daripada isi pesan (apa).

9 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia, (Jakarta: Professional Books, 1997), h.42

10Daryanto, Teori Komunikasi, (Malang: Gunung Samudera, 2014) h. 145

(25)

4 Mencari informasi dari berbagai sumber.

Mencari informasi tentang kepercayaan orang lain dari sumbernya sendiri, bukan dari sumber kepercayaan orang lain.

5 Lebih bersifat provisional dan bersedia mengubah kepercaya-annya.

Secara kaku

mempertahankan dan memegang teguh sistem yang dipercainya.

6 Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya

Menolak, mengabaikan, mendistorsi dan menolak pesan yang tidak konsisten dengan sistem yang dipercayainya.

Ciri – ciri orang terbuka dapat diuraikan sebagai berikut :

a) Menilai pesan secara objektif dengan menggunakan data dan logika. Orang yang terbuka melihat pesan secara objektif berdasarkan sejauh mana proposisi itu sesuai dengan dirinya.

b) Mampu membedakan dan melihat nuansa dengan mudah.

Orang terbuka dapat membedakan dan melihat suasana dengan mudah, sehingga dapat menyesuaikan diri dalam segala hal.

Lebih memandang dunia secara menyeluruh bukan melihat dari kacamata sebagian kecilnya.

c) Lebih menekankan pada isi. Bagi orang terbuka yang paling penting adalah apa yang dibicarakan bukan siapa yang

(26)

berbicara. Selain itu, tidak cenderung cemas dalam setiap tindakan.

d) Berusaha mencari informasi dari sumber lain. Orang terbuka lebih dapat menerima dan mencari sumber informasi untuk dirinya dari berbagai pihak.

e) Bersifat profesional dan berusaha mencari informasi serta bersedia mengubah keyakinan jika tidak sesuai dengan keadaan. Artinya berpikiran terbuka serta bersedia mendengar pandangan orang lain yang berlawanan dan bersedia mengubah pandangannya jika keadaan mengharuskan.

f) Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya. Dapat menerima informasi dan pesan sekalipun tidak sesuai dengan kepercayaan dan tidak menghindari kontradiksi.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti akan menggunakan aspek keterbukaan diri menurut Johnson, karena aspek yang dijelaskan lebih bersifat universal dan jelas. Aspek keterbukaan diri tersebut yaitu keberanian mengambil resiko, rasa aman, dan kejujuran.

d. Johari Window

Sebagaimana orang berinteraksi dalam hubungan, mereka akan terlibat pada tingkat tertentu pada pengungkapan terhadap satu sama

(27)

lain dan mereka juga akan memberikan sejumlah umpan balik terhadap satu sama lain11. Semakin sering mereka berinteraksi maka semakin baik hubungan antarpribadi. Hubungan antarpribadi yang sehat ditandai oleh keseimbangan pengungkapan diri atau self disclosure yang tepat yaitu saling memberikan data biografis, gagasan- gagasan pribadi, dan perasaan-perasaan yang tidak diketahui orang lain dan umpan balik berupa verbal dan respons-respons fisik kepada orang dan/atau pesan- pesan mereka di dalam suatu hubungan.

Berkaitan dengan teori-teori pengungkapan diri, Johari Window merupakan teori yang sering digunakan untuk mendeskripsikan posisi kepribadian seseorang. Johari Window, gabungan nama dari dua orang penggagas, yaitu Jo Luft dan Harry Ingham. Dengan Johari Windows seseorang bisa lebih mengerti bagaimana hubungan antara dirinya dengan orang lain12

Johari Window satu dari sekian cara sederhana untuk mengetahui diri sendiri dan orang lain dalam berkomunikasi. Ia juga bisa digunakan untuk menggambarkan kesadaran diri. Dengan memakai Johari Window seseorang akan mengetahui apa kelemahan dirinya dalam berkomunikasi. Dengan mengetahui kelemahannya ini

11 Muhammad Budyatna, Teori Komunikasi Antar Pribadi, (Jakarta: Kencana, 2014), h. 40

12Nurudin, Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), h. 185

(28)

seseorang bisa sesegera mungkin mengubah kelemahannya itu untuk dijadikan potensi agar lebih baik dalam berkomunikasi. Berikut adalah empat kuadran tersebut:

Tabel 2.2 Johari Window dalam Self Disclosure Diketahui diri

sendiri

Tidak diketahui diri

Sendiri Diketahui

orang lain

Area Terbuka

Area Buta

Tidak diketahui orang lain

Area Tertutup

Area Tidak dikenal

Jika komunikasi antara dua orang berlangsung dengan baik maka akan terjadi disclosure yang mendorong informasi mengenai diri masing- masing ke dalam kuadran “terbuka” kuadran 4 sulit untuk diketahui, tetapi mungkin dapat dicapai melalui kegiatan seperti refleksi diri dan mimpi.13

1) Area terbuka/open area

Daerah ini berisi segala informasi umum yang ada pada diri seseorang dan orang lain. Jika dikembangkan lebih jauh daerah terbuka juga bisa berisi informasi, sikap, perilaku, motivasi

13Daryanto, Teori Komunikasi, (Malang: Gunung Samudera, 2014) h. 78

(29)

keinginan motif, ide yang diketahui diri sendiri dan orang lain.

Secara ringkas daerah terbuka adalah daerah yang individu tersebut tahu dan juga diketahui orang lain.14 Ini meliputi informasi umum yang dibagikan kepada orang lain.

2) Area buta/blind area

Perilaku, perasaan dan motivasi yang hanya diketahui oleh orang lain tapi tidak diketahui diri sendiri. Kebanyakan orang memiliki titik- titik buta sebagai bagian dari perilaku mereka atau pengaruh-pengaruh dari perilaku mereka di mana mereka tidak menyadarinya15. Misalnya orang lain menyadari kecemasan yang inividu alami, tetapi tidak dirasakan oleh individu tersebut. Atau orang lain melihat individu tersebut berbakat dibidang melukis tetapi kita tidak menyadarinya.16

3) Area tertutup/secret area

Kondisi perilaku, perasaan dan motivasi yang hanya diketahui oleh diri dan tidak diketahui orang lain. Menyimpan informasi dalam daerah tertutup tentu mempunyai motifnya sendiri-sendiri. Bisa karena ajaran agama, tidak layak diketahui orang lain karena berakibat buruk, malu atau alasan lain.

14Nurudin, Ilmu Komunikasi Ilmiah dan Populer, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016) h. 186

15Muhammad Budyatna, Teori Komunikasi Antar Pribadi, (Jakarta: Kencana, 2014) h. 41

16 Julia T. Wood, Komunikasi Interpersonal, (Jakarta: Salemba Humanika, 2013), h. 60

(30)

4) Tidak dikenal/unknown area

Perilaku, perasaan dan motivasi yang tidak diketahui oleh diri sendiri dan orang lain. Area ini berisi informasi mengenai potensi yang belum terungkap, bakat yang belum dimanfaatkan, dan reaksi terhadap peristiwa yang belum pernah di alami.

Joseph A. Devito mengatakan untuk meningkatkan kesadaran diri yakni, dialog dengan diri sendiri, mendengarkan, mengurangi daerah buta, amati diri dari sudut pandang berbeda dan memperluas daerah terbuka. Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling diperlukan suasana keterbukaan, baik keterbukaan dari konselor maupun keterbukaan dari klien17

e. Faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri

Devito mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri meliputi:

1) Kelompok besar

Keterbukaan diri lebih banyak terjadi dalam kelompok kecil daripada kelompok besar. Dengan satu pendengar, pihak yang melakukan keterbukaan diri dapat meresapi tanggapan dengan cermat. Sedangkan apabila ada lebih dari satu pendengar pemantauan seperti ini dapat menjadi sulit, karena tanggapan yang

17Prayitno, Dasar-dasar Bimbingan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), h. 116

(31)

muncul pasti berbeda dari pendengar yang berbeda.18 2) Perasaan menyukai

Seseorang membuka diri kepada orang – orang yang disukai atau dicintai, dan tidak membuka diri kepada orang yang dibenci.

Hal tersebut dikarenakan orang yang disukai akan bersikap mendukung dan positif

3) Efek diadik

Individu melakukan keterbukaan diri apabila orang lain juga melakukan keterbukaan diri. Efek diadik ini dapat membuat seseorang merasa lebih aman, nyaman, dan memperkuat perilaku membuka diri sendiri.

4) Kompetensi

Orang yang kompeten lebih banyak melakukan dalam keterbukaan diri daripada orang yang kurang kompeten. Ketika individu berbicara tentang hal yang menarik, maka orang lain juga akan demikian, begitupun sebaliknya jika individu memberi tahu hal-hal yang bersifat pribadi, orang lain diharapkan merespon dengan keterbukaan yang sama.

5) Kepribadian

Kepribadian juga salah satu faktor yang mempengaruhi

18Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia, (Jakarta: Professional Bppks, 1997) h. 38

(32)

keterbukaan diri individu. Individu yang mempunyai kepribadian ekstrovert melakukan keterbukaan diri lebih besar daripada orang yang kurang pandai bergaul dan lebih introvert

6) Topik

Seseorang lebih cenderung membuka diri tentang topik tertentu daripada topik yang lain, seperti informasi tentang pekerjaan atau hobi dari pada tentang situasi keuangan. Seseorang lebih memberikan informasi yang positif daripada hal yang bersifat negatif.

7) Jenis kelamin

Faktor terpenting yang mempengaruhi keterbukaan diri adalah jenis kelamin. Pada umumnya, wanita lebih suka terbuka daripada laki-laki

Berdasarkan faktor – faktor yang mempengaruhi keterbukaan diri yang dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang mempengaruhi keterbukaan diri seseorang adalah dilihat dari besarnya kelompok, jenis kelamin, perasaan menyukai dan akan membuka diri bila orang lain juga melakukannya, kepribadian, serta topik pembicaraan.

2. Interaksi Sosial

a. Pengertian Interaksi Sosial

(33)

Interaksi sosial ialah hubungan antara individu dengan individu yang lain, individu yang satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat hubungan timbal balik.19 Menurut Muhammad Ali interaksi mengandung pengertian hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih, dan masing – masing orang yang terlibat didalamnya memainkan peran secara aktif.20

Sedangkan menurut Kimball Young dan Raymond dalam Soerjono Soekanto interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial, tak akan mungkin ada kehidupan bersama.21 Sementara itu, Sarlito juga mengemukakan interaksi sosial adalah hubungan manusia dengan manusia yang lainnya, atau hubungan manusia dengan kelompok, atau hubungan kelompok dengan kelompok22. Menurut Adlan Sanur interaksi sosial merupakan hubungan sunattullah sosial yang dinamis, adanya interaksi dalam bentuk partisipasi, identitas maupun sosial.23

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat penulis simpulkan interaksi sosial merupakan hubungan individu dengan individu yang lain dimana saling berinteraksi satu sama lainnya. Contohnya seorang

19 Bimo walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta: CV Andi, 2003), h. 65

20 Muhammad Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2015), h.87

21 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta:Rajawali Pers, 2013), h.54

22 Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2014), h.185

23 Adlan Sanur, interaksi antara etnis tionghoa dan masyarakat local dengan pendekatan multikulturalisme di kampung cina Bukittinggi,(Bukittinggi: Dosen IAIN Bukittinggi,2017)hlm.121

(34)

guru dengan muridnya yang sedang membahas sesuatu atau sedang mendiskusikan sesuatu.

Bentuk umum proses social adalah interaksi social karena interaksi social merupakan syarat utama terjadinya aktifitas – aktifitas social. Apabila dua orang bertemu, interaksi social dimulai pada saat itu. Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi, aktivitas – aktivitas semacam itu merupakan bentuk – bentuk interaksi social.24

Interaksi social yang normal biasanya memerlukan pertukaran secara timbal balik di mana pengirim atau senders dan penerima atau receivers yang saling kenal satu sama lain dalam tingkat saling ketergantungan yang tinggi dan dinamis.

b. Ciri – ciri interaksi social

Didalam interaksi social terdapat beberapa ciri – ciri yang terkandung didalamnya, ciri – ciri interaksi sosial diantaranya adalah sebagi berikut :

1) Adanya hubungan

Setiap interaksi terjadi karena adanya hubungan timbal balik, baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok.

2) Adanya individu

24 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta:Rajawali Pers, 2013) h.55

(35)

Setiap interaksi sosial menurut tampilnya individu – individu yang melaksanakan hubungan. Artinya dalam sebuah interaksi social, setidaknya ada dua orang yang sedang bertemu dan mengadakan hubungan.

3) Ada tujuan

Setiap interaksi social memiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi individu lain. Artinya dalam sebuah interaksi social, orang – orang yang terlibat di dalamnya memiliki tujuan yang di inginkan oleh mereka. Apakah untuk menggali informasi, atau sekedar beramah – tamah atau yang lainnya.

4) Adanya hubungan dengan struktur dan fungsi sosial

Interaksi sosial yang ada hubungannya dengan struktur dan fungsi kelompok ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok. Di samping itu tiap individu memiliki fungsi di dalam kelompoknya.25

Menurut Muhammad Ali setiap interaksi senantiasa di dalamnya mengimplikasikan adanya komunikasi antarpribadi.

Demikian pula sebaliknya. Setiap komunikasi antarpribadi

25 Slamet Santosa, Dinamika Kelompok, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2004), h.11

(36)

senantiasa mengandung interaksi. Sulit memisahkan antara keduanya.26

c. Bentuk – bentuk interaksi sosial

Bentuk – bentuk interaksi sosial antara lain:

1) Kerja sama (Cooperation)

Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan – kepentingan yang sama.27 Contohnya dalam lingkungan masyarakat warga dan remaja awal bersama – sama bergotong – royong membersihkan lingkungan sekitar.

Kerjasama dibedakan menjadi empat, yaitu kerja sama spontan, kerja sama langsung, kerja sama kontrak dan kerja sama tradisional. Kerja sama spontan adalah kerja sama yang serta – merta. Kerja sama langsung merupakan hasil dari perintah atasan. Sedangkan kerja sama kontrak merupakan kerja sama atas dasar tertentu, dan kerja sama tradisional merupakan bentuk kerja sama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial.

26 Muhammad Ali, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT Bumi Aksara,2015) h. 64

27 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,(Jakarta: Rajawali Pers, 2013) h. 64

(37)

2) Persaingan (Competition)

Menurut Gillin dalam Soerjono Soekanto persaingan dapt diartikan sebagai suatu proses sosial, dimana individu atau kelompok – kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang – bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

3) Pertentangan (Conflict)

Pertentangan merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan. Sebab musabab dari pertentangan adalah perbedaan individu, perbedaan budaya, perbedaan kepentingan dan perbedaan sosial.

d. Syarat terjadinya interaksi sosial

Soekanto mengungkapkan beberapa syarat terjadinya interaksi antara lain28 :

1) Kontak sosial

Kontak sosial berasal dari bahasa latin con atau cum (yang artinya bersama – sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Jadi

28 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar,(Jakarta: Rajawali Pers, 2013) h. 58

(38)

artinya secara harifah adalah bersama – sama menyentuh. Secara fisik kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniah.

Sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti hubungan badaniah karena orang dapat mengadakan hubungan dengan baik tanpa menyentuh seperti misalnya dengan cara berbicara dengan pihak lain tersebut. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antara orang – perorangan, antara orang – perorangan dengan suatu kelompok, dan antara suatu kelompok dengan kelompok.

Menurut Abdulsyani “kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih, melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat”.

Kontak sosial dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kontak primer dan kontak sekunder. Kontak primer, terjadi apabila seseorang mengadakan hubungan secara langsung seperti : tatap muka, saling senyum, berjabat tangan, dan lain – lain. Sedangkan kontak sekunder, yaitu kontak tidak langsung atau memerlukan perantara seperti : menelpon dan berkirim surat.

Dari penjelasan di atas terlihat ada tiga komponen pokok dalam kontak sosial, yaitu percakapan, saling pengertian, dan kerjasama antara komunikator dengan komunikan.

(39)

Adapun penjelasan tiga komponen pokok dalam kontak sosial, sebagai berikut:

a. Percakapan

Sugiyo menyatakan bahwa agar percakapan mengalir dan berisi tanpa ada kecanggungan atau terhenti di tengah-tengah percakapan yang membuat setiap orang tidak nyaman maka di perlukan manajemen interaksi.29 Selain itu, kesegaran suatu aktivitas yang mengarah kepada keterlibatan

pembicara dengan pendengar untuk menyampaikan kebersamaan dapat diekspresikan secara verbal dengan cara:

1. Menggunakan kata kita atau kata kami, misalnya

“Kapan aku dan kamu akan pergi?” sebaiknya “Kapan kita akan pergi?

2. Umpan balik yang berupa pengakuan dan komentar terhadap pembicaraan orang lain, misalnya “Aku rasa kamu benar.”

3. Fokus pada pembicaraan orang lain. Disimpulkan bahwa percakapan dilakukan dengan berbicara yang sopan dan tidak menggunakan emosi terhadap lawan bicara, memberikan umpan balik atau tanggapan, serta fokus terhadap pembicaraan tersebut.

29 Sugiyo.Komunikasi Antar Pribadi. (Semarang: Unnes Press,2005)h.17

(40)

b. Saling Pengertian atau Menerima

Saling pengertian atau menerima menurut Sugiyo adalah suatu sikap seseorang dalam melihat orang lain sebagaimana adanya. Sikap ini juga ditunjukkan dengan menghargai orang lain tidak membeda-bedakan, dan sikap tulus tanpa syarat. sikap menerima secara apa adanya maka hubungan antar pribadi dapat berlangsung seperti yang diharapkan, sebaliknya kita tidak bersikap menerima misalnya mengkritik, mengecam, mengomeli, menilai akan berakibat konsep diri seseorang menjadi rendah yang pada gilirannya dapat menghancurkan kepercayaan. Menerima tidak berarti menyetuji semua perilaku orang lain tetapi berusaha untuk memahami orang lain sebagaimana adanya. Hal ini dapat ditunjukkan dengan menghargai orang lain, memberi kesempatan lawan bicara, dan saling memahami perasaan satu sama lain.

c. Bekerjasama

Charles H. Cooley dalam Soekanto menyatakan bahwa kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut dan kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting

(41)

dalam kerjasama yang berguna30. Kepentingan-kepentingan yang sama antar individu harus adanya kesadaran dari diri individu itu sendiri seperti kesediaan untuk membantu, saling memberi dan menerima pengaruh orang lain, melakukan kegiatan bersama teman dan bertanggungjawab terhadap tugas kelompok.

2) Adanya Komunikasi

Arti penting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak – gerak badaniah atau sikap), perasaan – perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.

Menurut De Vito dalam (Sugiyo, 2005 : 4) menyatakan bahwa “ciri – ciri komunikasi meliputi lima ciri yaitu : keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesamaan”.

Adapun penjelasannya sebagai berikut : 1) Keterbukaan

Komunikasi antar pribadi mempunyai ciri keterbukaan maksudnya adanya kesediaan kedua belah pihak untuk membuka diri, mereaksi kepada orang lain, merasakan pikiran dan perasaan orang lain. Keterbukaan ini sangat penting dalam komunikasi

30 Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar.( Jakarta : Rajawali Pers,2014)h.66

(42)

antarpribadi agar komunikasi menjadi lebih bermakna dan efektif.

Keterbukaan ini berarti adanya niat dari masing-masing pihak yang dalam hal ini antara komunikator dan komunikan saling memahami dan membuka pribadi masing-masing. Jadi apabila seseorang sudah terbuka dala berkomunikasi maka seseorang akan dengan mudah memberikan dan menerima informasi sesuai dengan keinginannya.

2) Empati

Menurut Surya (2003) dalam Sugiyo (2005: 5) empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurna baik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran, dan keinginan. Dengan berempati kita menempatkan diri dalam suasana perasaan, pikiran, dan keinginan orang lain sedekat mungkin. Secara psikologis apabila dalam komunikasi komunikator menunjukkan empati pada komunikan akan menunjang berkembangnya suasana hubungan yang didasari atas saling pengertian, penerimaan, dipahami, dan adanya kesamaan diri. Jadi jika seseorang sudah memiliki rasa empati dalam berinteraksi maka seseorang itu sudah menyadari perasaan orang lain dan bertindak untuk membantu.

3) Dukungan

(43)

De Vito yang dikutip Sugiyo (2005: 5) secara tegas menyatakan keterbukaan dan empati tidak akan bertahan lama apabila tidak didukung oleh suasana yang mendukung. Hal ini berarti bahwa dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator.

Jika seseorang sudah dihargai dan diterima maka dukungan sosialnya akan dirasakan dalam berinteraksi.

4) Rasa positif

Rasa positif dalam komunikasi antarpribadi ditunjukkan oleh sikap dari komunikator khususnya sikap positif. Sikap positif dalam hal ini berarti adanya kecenderungan bertindak pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif terhadap komunikan. Dalam komunikasi antarpribadi sikap positif ini ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya dua aspek/ unsur yaitu:

pertama, komunikasi antarpribadi hendaknya memberikan nilai positif dari komunikator.

Maksud pernyataan ini yaitu apabila dalam komunikasi, komunikator menunjukkan sikap positif terhadap komunikan maka komunikan juga akan menunjukkan sikap positif. Sebaliknya jika komunikator menunjukkan sikap negatif maka komunikan juga akan bersikap negatif. Kedua, perasaan positif pada diri komunikator. Dan dalam komunikasi ini hendaklah adanya

(44)

hubungan timbale balik agar kedua belah pihak merasa dihargai dan adanya rasa kesenangan. Apabila kondisi ini tidak muncul maka komunikasi akan terhambat dan bahkan akan terjadi pemutusan hubungan.

5) Kesamaan

Kesamaan menunjukkan kesetaraan antara komunikator dan komunikan. Dalam komunikasi antarpribadi kesetaraan ini merupakan ciri yang penting dalam keberlangsungan komunikasi dan bahkan keberhasilan komunikasi antarpribadi. Apabila dalam komunikasi antarpribadi komunikator merasa mempunyai derajat kedudukan yang lebih tinggi daripada komunikan maka dampaknya akan ada jarak dan ini berakibat proses komunikasi akan terhambat.

Namun apabila komunikator memposisikan dirinya sederajat dengan komunikan maka pihak komunikan akan merasa nyaman sehingga proses komunikasi akan berjalan dengan dengan baik dan lancar. Kesamaan ini sangatlah penting dalam menjalani suatu hubungan. Dalam melakukan komunikasi dengan orang lain, harus ada rasa keterbukaan, empati, memberikan dukungan atau motivasi, rasa positif pada orang lain, dan adanya kesamaan atau kesetaraan dengan orang lain.

(45)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa syarat – syarat yang dibutuhkan dalam interaksi adanya kontak sosial dan adanya komunikasi, baik itu kontak primer maupun kontak sekunder dan komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal.

Apabila individu mampu memenuhi syarat – syarat yang ada dalam interaksi sosial, maka akan terjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Syarat – syarat interaksi sosial diatas akan dijadikan sebagai indikator dalam penyusunan skala interaksi sosial.

Berdasarkan teori –teori tentang interaksi sosial di atas, dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, dimana individu yang satu mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya sehingga terjadi hubungan saling timbal balik.

Aspek yang akan diteliti dalam penelitian ini diambil dari syarat – syarat kemampuan interaksi sosial. Adapun syarat interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi.

Indikator dari interaksi sosial yaitu percakapan, saling pengertian, bekerjasama, keterbukaan, empati, memberikan dukungan atau motivasi, rasa positif, dan adanya kesamaan dengan orang lain.

e. Karakteristik Interaksi Sosial

(46)

Sebagai suatu proses sosial umum dan mendasar, interaksi sosial memiliki sejumlah karakteristik. Adapun karakteristik interaksi sosial akan dijelaskan berikut ini :

1) Pelaku berjumlah lebih dari satu orang, interaksi sosial haruslah bersifat timbal-balik, di mana suatu aksi ditanggapi dengan reaksi dari pihak yang dituju.

2) Komunikasi antara masing – masing pihak menggunakan berbagai simbol yang dapat dipahami maknanya oleh masing – masing pihak.

3) Ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedang berlangsung.

4) Suatu interaksi sosial dipastikan memiliki tujuan – tujuan tertentu yang ingin dicapai melalui pelaksanaannya.

5) Interaksi sosial didasarkan atas status atau peranan yang dimiliki.31 f. Faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial

Faktor – faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial antara lain :

1) Faktor imitasi

31 Ajat Sudrajat, Karakteristik dan Sifat Interaksi Sosial, 2016,

http://sosiologiciamis.blogspot.com/2016/11/karakteristik-dan-sifat-interaksi.html/diakses 01 Desember 2019

(47)

Imitasi adalah suatu tindakan meniru orang lain. Imitasi biasanya tidak dapat disadari dilakukan. Imitasi atau perbuatan meniru bisa dilakukan dalam bermacam – macam bentuk.32

2) Faktor sugesti

Sugesti adalah pemberian pengaruh pandangan sesorang kepada orang lain dengan cara tertentu, sehingga orang tersebut mengikut pandangan tanpa dengan berfikir panjang

3) Faktor identifikasi

Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara batiniah.

4) Simpati

Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu dengan orang yang lain. Simpati muncul dalam diri seorang individu tidak atas dasar rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses indentifikasi.

3. Hubungan self disclosure dengan interaksi sosial

Self disclosure merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dalam interaksi sosial33. Individu yang terampil melakukan self disclosure mempunyai ciri-ciri yakni mempunyai rasa tertarik kepada

32 Abu ahmadi, Psikologi Sosial, (Jakarta:Rineka Cipta,2009),h. 52

33Azmy Hajidah: Analisis Tingkat Self Dsclosure Siswa SMP Maarif Nu Pandaan, 2016, h. 6

(48)

orang lain daripada mereka yang kurang terbuka, percaya diri sendiri, dan percaya pada orang lain.

Menurut Charles R. Berger dan James J. Bradac dalam Muhammad Budyatna salah satu alternatif mengenai perolehan pengetahuan interaktif yang berupa tanya jawab ialah pengungkapan diri atau self disclosure.34Dalam melakukan interaksi dibutuhkan diri yang positif untuk mencapai suatu interaksi sosial yang baik. Karena keterbukaan diri berkaitan erat dengan interaksi sosial. Jourard menemukan bahwa orang- orang yang lebih bersedia mengungkapkan informasi pribadi mengenai diri mereka pada orang lain begitu pula mereka juga menerima lebih banyak pengungkapan pribadi dari orang- orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang tidak bersedia mengungkapkan informasi pribadi tentang diri mereka demikian pula pihak lain tidak bersedia mengungkapkan informasi pribadi kepada mereka yang tidak bersedia itu.

Carl Rogers adalah salah satu “raksasa” dalam hal pemikiran mengenai hubungan antar manusia (human relationship). Gagasannya sering disebut dengan teori mengenai diri (self theory) namun pendekatan Rogers lebih merupakan suatu teori mengenai hubungan karena menurut

34 Muhammad Budyatna, Teori Komunikasi Antar Pribadi, (Jakarta : Kencana, 2014) h. 263

(49)

Rogers diri tidak bisa dipisahkan dari hubungan.35

Keterbukaan diri sebagai pemberian informasi tentang diri sendiri kepada orang lain. Informasi ini dapat mencangkup berbagai hal seperti pengalaman hidup, perasaan, emosi, pendapat, cita-cita dan sebagainya.

Pengetahuan tentang diri akan meningkatkan komunikasi dan pada saat yang berkomunikasi dengan orang lain akan dapat meningkatkan pengetahuan diri sendiri.

Komunikasi teraupeutik adalah pengiriman pesan antara pengirim dan penerima dengan interaksi diantara keduanya. Komponen dasar komunikasi teraupeutik adalah kerahasiaan, keterbukaan diri (self disclosure), privasi, sentuhan, mendengarkan aktif dan melakukan pengamatan.36

Self disclosure atau proses pengungkapan diri menjadi fokus penelitian dari teori komunikasi mengenai hubungan, merupakan proses mengungkapkan informasi pribadi seseorang kepada orang lain dan sebaliknya. Sidney Jourard menandai sehat atau tidaknya komunikasi antar pribadi dengan melihat keterbukaan yang terjadi dalam komunikasi.

Menurut Abu Bakar Fahmi pada interaksi sosial di dunia maya, keterbukaan diri berhubungan dengan seberapa banyak seseorang

35Morissan, Teori Komunikasi Individu Hingga Massa, (Jakarta: PT Fajar Interpretama Mandiri, 2013), h. 323

36Heri D.J Maulana, Promosi Kesehatan, (Jakarta: Buku Kedokteran, 2007), h.

100

(50)

berbicara tentang dirinya sendiri yang diindikasikan dengan daftar minat pribadi, aktifitas pribadi, sikap pribadi, dan sejenisnya.37

Jung, seorang ahli penyakit jiwa dari Swiss, membuat pembagian tipe-tipe manusia dalam dua golongan besar, yakni:

a. Tipe extrovert, orang – orang yang perhatiannya lebih diarahkan keluar dirinya, kepada orang-orang lain, kepada masyarakat.

b. Tipe introvert, orang-orang yang perhatiannya lebih mengarah kepada dirinya, kepada “aku” nya.

Orang yang tergolong tipe tipe extrovert mempunyai sifat-sifat berhati terbuka, lancar dalam pergaulan, ramah-tamah, penggembira, kontak dengan lingkungan besar sekali. Mereka mudah mempengaruhi dan mudah pula dipengaruhi oleh lingkungan. Sedangkan orang-orang yang tergolong tipe introvert memiliki sifat-sifat: kurang pandai bergaul, pendiam, sukar diselami batinnya, suka menyendiri, bahkan sering takut kepada orang lain.38

Tidak semua orang memiliki keberanian membuka diri.

Padahal untuk memulai persahabatan, membuka diri merupakan langkah awal yang sangat penting. Tanpa ada keberanian membuka diri tidak akan terjadi proses berbicara mendengarkan dan hubungan

37Abu Bakar Fahmi, Mencerna Situs Jejaring Sosial, (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2011), h. 82

38 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), h. 150

Referensi

Dokumen terkait

Roby Batubara Monitoring & Evaluation Specialist mm 18,0 Awaluddin Siregar, SH Sub Specialist Legal & CHU mm 12,0 7 Zulkifli Siregar, S.Kom Senior Assistant

Berdasarkan sejumlah pendapat dari para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa strategi coping merupakan aktivitas-aktivitas spesifik yang dilakukan oleh individu

Namun para petani pada umumnya belum mengetahui tanaman Azolla tersebut serta bagaimana cara pembudidayaan dan pengelolaan Azolla ini menjadi pupuk organik.Oleh karena lahan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap mahasiswi prodi D-3 Kebidanan STIKes Senior Medan, maka tingkat pengetahuan mahasiswi tentang Virus Zika

Dampak positif dari perkembangan teknologi adalah perkembangan sektor ekonomi, namun perkembangan teknologi juga memiliki dampak negatif yaitu menghasilkan limbah

Khusus untuk qaradh al hasan pada prinsipnya apabila nasabah tidak mampu untuk mengembalikan pinjaman pokok, maka pihak bank seyogyanya membebaskan utang nasabah tersebut

Untuk melakukan jangkauan perubahan maka kebijakan ditentukan dari tahapan implementasinya, hal ini tidak luput dari timbulnya berbagai problem-problem yang justru