BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Bahan Penelitian
3.5.7 Uji Preformulasi tiap Formula
5 2,5 182,5 200 10 10 5 2,5 172,5 200 10 20 5 2,5 162.5 200 10 30 5 2,5 152,5 200 10 182,5 5 2,5 - 200 Keterangan :
Metoklorpramida = bahan obat Maltodekstrin = disintegrant
Magnesium stearat = pelincin Talkum = pelicin Mannitol = pengisi
Ditimbang masing-masing bahan lalu dimasukkan ke dalam lumpang dan dicampur hingga homogen. Campuran yang telah homogen tersebut kemudian dicetak langsung dengan mesin cetak tablet.
3.5.7 Uji Preformulasi Tiap Formula 3.5.7.1 Sudut Diam
Tiap formula dituang pelan-pelan lewat corong, sementara bagian bawah corong ditutup. Selanjutnya penutup dibuka dan granul dibiarkan mengalir keluar. Diukur tinggi dan jari-jari kerucut yang terbentuk, kemudian ditentukan sudut diamnya (Lachman, et al., 1994).
Tg α = h / r
Keterangan : α = sudut diam D = diameter h = tinggi kerucut r = jari-jari kerucut
3.5.7.2 Penetapan Waktu Alir
Formula yang akan dicetak dimasukkan kedalam corong alir, lalu dialirkan hingga seluruh granul mengalir. Ditentukan waktu alir mulai dari formula mengalir sampai seluruh formula mengalir keluar.
3.5.7.3 Penetapan Indeks Kompresibilitas
Tiap formula dituang pelan-pelan ke dalam gelas ukur sampai volume 10 ml. Gelas ukur dipasang pada alat. Pengetapan dilakukan sampai volume konstan. Perubahan volume setelah pengetapan dicatat (Lachman, et al., 1994).
Indeks kompresibilitas = Vawal – V akhir x 100 % Vawal
3.5.8 Evaluasi Tablet terhadap Berbagai Formula 3.5.8.1 Uji Friabilitas
Ditimbang 20 tablet yang telah dibersihkan dari debu, dicatat beratnya (a gram), dimasukkan kedalam alat, lalu alat dijalankan selama 4 menit (100 kali putaran), setelah batas waktu yang ditentukan tablet dikeluarkan dan dibersihkan dari debu, lalu ditimbang lagi (b gram) (Voight, 1994).
Friabilitas (F) = a – b x 100 % a
3.5.8.2 Uji Kekerasan
Satu tablet diletakkan tegak lurus diantara anvil dan punch, tablet dijepit dengan memutar skrup pengatur hingga tanda lampu ’stop’ menyala, lalu ditekan tombol sampai tablet pecah, pada saat tablet pecah angka yang ditunjukkan jarum pada skala dibaca. Kekerasan tablet adalah angka yang ditunjukkan jarum pada skala
3.5.8.3 Uji Waktu Hancur In Vitro
Satu tablet dimasukkan pada masing-masing tabung dari keranjang dan digunakan air bersuhu 37o ± 2o sebagai media, kemudian alat dijalankan. Waktu hancur tablet dicatat yaitu sejak keranjang yang berisi tablet dinaik turunkan sampai tablet hancur. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada bagian tablet yang tertinggal dikasa (Ditjen POM, 1979).
3.5.9 Evaluasi Tablet terhadap Formula dengan Waktu Hancur In Vitro yang Paling Cepat
3.5.9.1 Penetapan Kadar Zat Berkhasiat secara Spektrofotometri Ultraviolet 3.5.9.1.1 Pembuatan Larutan Baku Induk Metoklopramida HCl
Metoklopramida HCl baku ditimbang 50 mg, dimasukkan kedalam labu 100 ml. Ditambahkan larutan asam klorida 0,1 N, dikocok sampai larut dan ditambahkan lagi larutan asam klorida 0,1 N sampai garis tanda. Konsentrasi teoritis 500 mcg/ml (larutan induk baku pertama). Kemudian dari larutan induk baku pertama, dipipet 10 ml dimasukkan kedalam labu 50 ml, tambahkan larutan asam klorida 0,1 N, dikocok sampai larut dan ditambahkan lagi larutan asam
klorida 0,1 N sampai garis tanda. Konsentrasi teoritis 100 mcg/ml (larutan induk baku kedua).
3.5.9.1.2 Pembuatan Kurva Serapan
Larutan induk baku kedua dipipet 6,5 ml, dimasukkan kedalam labu 50 ml, tambahkan larutan asam klorida 0,1 N, dikocok sampai larut dan ditambahkan lagi larutan asam klorida 0,1 N sampai garis tanda (konsentrasi teoritis 13 mcg/ml), kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 200 nm sampai 400 nm.
3.5.9.1.3 Pembuatan Kurva Kalibrasi
Larutan induk baku kedua dipipet 3,5 ml, 5 ml, 6,5 ml, 8 ml dan 9,5 ml; masing-masing dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml lalu diencerkan dengan larutan HCl 0,1 N hingga garis tanda. Konsentrasi yang diperoleh berturut-turut adalah 7 ppm, 10 ppm, 13 ppm, 16 ppm dan 19 ppm. Masing-masing larutan kemudian diukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang maksimum. Kurva kalibrasi antara jumlah serapan dengan konsentrasi dibuat dari data yang diperoleh, lalu dihitung persamaan regresi dan koefisien korelasinya.
3.5.9.1.4 Penetapan Kadar Metoklopramida HCl dalam ODT
Sebanyak 20 tablet ODT ditimbang seksama lalu diserbukkan. Selanjutnya ditimbang sejumlah serbuk setara dengan 10 mg metoklopramida. Serbuk ini lalu dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml, ditambahkan larutan asam klorida 0,1 N sampai garis tanda. Larutan disaring dengan membuang beberapa tetes pertama
filtrat. Dipipet 6,5 ml filtrat dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml lalu diencerkan dengan larutan HCl 0,1 N hingga garis tanda. Larutan ini lalu diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang analisis.
3.5.9.2 Uji Keseragaman Sediaan
Penetapan keseragaman sediaan dilakukan dengan metode keseragaman kandungan dikarenakan ODT yang diformulasi dalam penelitian ini mengandung bobot zat aktif kurang dari 50 mg atau lebih kecil 50% dari bobot satuan sediaan yakni 10 mg.
Satu tablet digerus lalu dimasukkan ke dalam labu tentukur 100 ml dan dilarutkan dan diencerkan dengan larutan HCl 0,1 N hingga garis tanda. Larutan disaring dengan membuang beberapa tetes pertama filtrat. Dipipet 6,5 ml filtrat, lalu dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml dan encerkan dengan larutan HCl 0,1 N sampai garis tanda. Larutan ini lalu diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang analisis. Uji ini dilakukan terhadap 10 tablet.
3.5.9.3 Uji Waktu Pembasahan
Kertas saring yang berbentuk lingkaran diletakkan di kedalam cawan petri berdiameter 8,5 cm yang telah berisi 8 ml larutan warna ponceau 0,1 % b/v dalam air suling.
Satu tablet diletakkan perlahan-lahan dibagian tengah cawan petri tersebut, kemudian dicatat waktu pembasahan sempurna dari tablet. Waktu pembasahan
(wetting time) adalah waktu yang dibutuhkan untuk membuat permukaan atas dari tablet menyerap warna (Singh dan Singh, 2009). Uji ini dilakukan terhadap 6 tablet.
3.5.9.4 Uji Waktu Hancur In Vivo
Uji ini menggunakan 6 sukarelawan. Sebelum memulai uji, setiap sukarelawan diharuskan mencuci mulut terlebih dahulu, lalu diletakkan satu tablet ODT di atas lidah mereka dan dibiarkan tablet hingga hancur sempurna. Waktu yang dibutuhkan agar tablet hancur tanpa mengunyah dihitung, setelah itu tablet segera diludahkan. Dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali untuk tiap sukarelawan. Titik akhir untuk waktu hancur dimulut adalah waktu dimana tablet yang diletakkan di lidah menjadi hancur (tablet tidak utuh lagi).
3.5.9.5 Uji Profil Pelepasan Bahan Obat (Disolusi)
Studi pelepasan obat secara in vitro dilakukan menggunakan alat disolusi tipe 2 (dayung) dengan medium disolusi 900 ml suhu 37 ± 0,5°C dengan kecepatan putaran 50 rpm dalam waktu 30 menit. Pada interval waktu 1 menit, 2,5 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, dan 30 menit, lalu diambil 10 ml cuplikan. Pengambilan cupilkan dilakukan pada posisi yang sama yaitu pertengahan antara permukaan medium disolusi dan bagian atas dari dayung tidak kurang 1 cm dari dinding wadah (Ditjen POM, 1995). Larutan cuplikan ini lalu diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang 272 nm. Selanjutnya diperoleh persen kumulatif pelepasan obat. Dilakukan uji disolusi terhadap ODT dan tablet metoklopramida.
Data yang diperoleh dari profil pelepasan obat dari ODT dan sediaan tablet metoklopramida dibandingkan secara in vitro. Data dibandingkan menggunakan uji t dengan signifikansi 0,05 (p = 0,05). Analisis statistik dilakukan menggunakan program SPSS 16.0.