BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.9 Uji Reliabilitas dan Validitas
Dalam penggunaan Kuesioner harus dilakukan uji reliabilitas guna menentukan reliabilitas serangkaian item pertanyaan dalam kehandalannya mengukur suatu variable dan uji validitas untuk mengetahui seberapa valid suatu item pertanyaan mengukur variable yang diteliti. Untuk Kuesioner OCAI ini telah digunakan oleh banyak peneliti dalam studi berbagai organisasi. Studi – studi yang dilakukan dalam analisisnya telah diuji semua reliabilitas dan validitasnya. Beberapa studi akan dijelasakan secara singkat untuk memberikan bukti reliabilitas dan validitas dari kuesioner OCAI (Cameron & Quinn, 2011).
2.7.1 Uji Reliabilitas
Reliabel berarti sejauh mana instrument penelitian ini konsisten, yaitu setiap dilakukan pengujian terhadap kuesioner hasilnya tetap konsisten. Salah satu studi yang menguji reliabilitas dari kuesioner OCAI adalah Quinn dan Spreitzer (1991) dalam penelitiannya terhadap 769 eksekutif dari 86 perusahaan umum yang berbeda. 769 eksekutif termasuk manager teratas (13% dari sampel), manajer menengah keatas (45%), manajer menengah (39%) dan setara staf pekerja (2%). Uji reliabilitas yang dilakukan menggunakan nilai koefisien cronbach alpha untuk setiap tipe budaya. Hasilnya tiap koefisien secara statistik
signifikan saat dibandingkan dengan standar normal reliabilitas. Nilai koefisiennya adalah 0,74 untuk clan culture, 0,79 untuk adhocracy culture, 0,73 untuk hierarchy culture dan 0,71 untuk market culture. Dengan kata lain responden cenderung menilai budaya organisasi mereka secara konsisten untuk berbagai pertanyaan didalam kuesioner OCAI ini. Dalam studi tersebut skala yang digunakan adalah skala likert (bukan skala ipsative yang digunakan dalam OCAI). Yeung, Brockbank dan Ulrich (1991) juga melakukan studi yang sama dengan menggunakan instrument OCAI. Studi mereka juga memberikan bukti reliabilitas, yaitu studi dari 10.300 eksekutif di 1.064 bisnis. Hasil dari studi tersebut menunjukan reliabilitas dari clan culture 0,79, reliabilitas dari adhocrary
culture 0,8, hirerachy culture 0,76 dan market culture 0,77. Hal yang sama juga
dilakukan oleh Zammuto dan Krakower (1991) yang menggunakan instrument OCAI untuk menyelidiki budaya lembaga pendidikan tinggi dengan responden lebih dari 1.300 responden. Hasil dari studi mereka yaitu 0,82 untuk clan culture, 0,83 untuk adhocracy culture, 0,78 untuk market culture dan 0,67 untuk
hierarchy culture.
Selain studi diatas sejumlah penelitian juga melakukan hal yang sama misalnya Peterson, Cameron, Spencer dan White (1991). Dalam setiap studi yang serupa reliabilitas tipe budaya menunjukan pola yang konsisten. Dengan kata lain bukti yang cukup telah dipaparkan mengenai reliabilitas dari kuesioner OCAI untuk meyakinkan bahwa kuesioner ini cocok dengan reliabilitas dari instrument yang paling umum digunakan dalam ilmu social dan organisasi.
2.7.2 Uji Validitas
Validitas mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Artinya apakah instrument ini benar - benar tepat dalam mengukur empat tipe budaya organisasi yang ada dalam suatu organisasi. Seperti halnya uji reliabilitas, hal yang sama juga dilakukan dalam uji validitas. Cameron dan Freeman (1991) melakukan studi tetang budaya organisasi dari 334 lembaga pendidikan tinggi dan menghasilkan bukti validitas dari instrument OCAI. Contoh dari organisasi ini mewakili seluruh populasi dari perguruan tinggi dan universitas di Amerika Serikat. Dalam lembaga pendidikan tinggi ini responden yang berpatisipasi berjumlah 3.406, responden yang dipilih adalah individu yang mampu memberikan keseluruhan gambaran dari setiap lembaga pendidikan tinggi tersebut. Respoden yang termasuk adalah presiden, kepala akademik, bagian keuangan, mahasiswa dan petugas institusi penelitian, kepala departemen yang terpilih dan wali yang terpilih.
Bukti untuk validitas dari instrument budaya ini adalah saat tipe budaya cocok dengan efektivitas utama seperti pengambilan keputusan, struktur dan strategi yang digunakan dari sebuah organisasi yang maju. Organisasi yang memiliki tipe budaya clan culture memiliki efektivitas paling utama yaitu dari kinerja yang berkaitan dengan moral, kepuasan, komunikasi intern dan dukungan, segala atributnya konsisten dengan nilai clan culture. Organisasi dengan tipe budaya adhocrary culture memiliki efektivitas paling utama yaitu dari kinerja yang berkaitan dengan adaptasi, keterbukaan system dan inovasi, segala atribut konsisten dengan nilai adhocracy culture. Organisasi dengan tipe budaya market
culture memiliki efektifitas paling utama yaitu dari kinerja yang berkaitan dengan
kemampuan untuk memperoleh sumber daya yang dibutuhkan seperti pendapatan dan sumber daya dengan kemampuan yang baik, segala atribut konsisten dengan nilai market culture. Sedangkan organisasi dengan tipe budaya hierarchy culture tidak unggul dalam kinerja utama.
Analisis statistik tambahan juga mengungkapkan bahwa organisasi dengan tipe budaya yang berbeda juga memiliki strategi organisasi yang berbeda, proses pengambilan keputusan yang berbeda dan struktur yang berbeda. Clan culture memiliki karakter dengan kolegialitas dalam pengambilan keputusan dan perasaan yang khusus dari identitas dan misi organisasi. Adhocracy culture memiliki karakter dengan inovasi, strategi yang agresif dan inisiatif. Market culture memiliki karakter dengan keagresivitasan dan strategi pencarian. Hierarchy
culture memiliki karakter dengan kontrol keuangan yang ketat dan efisiensi.
Analisis ini menghasilkan hasil yang sangat konsisten dengan nilai yang diterapkan dan atribut organisasi yang diklaim menjadi tipe setiap budaya dalam
competing value framework. Dengan kata lain, bukti yang kuat untuk validitas
yang terjadi bersama-sama telah dihasilkan.
Quinn dan Spreitzer (1991) juga menemukan bukti untuk dua jenis validitas yang lain, yaitu validitas kovergent dan validitas diskriminan. Pengujian kedua jenis validitas ini digunakan menggunakan analisis multitrait-multimetode dan analisis skala multidimensi. Untuk membuktikan validitas dari instrument OCAI koefisien korelasi yang terdapat pada kuadran budaya yang sama harus secara signifikan tidak sama dengan nol dan memiliki nilai yang cukup (Campbell
dan Fisk, 1959). Validitas konvergen memiliki nilai korelasi yang sesuai, seperti yang disyaratkan semua koefisien korelasi diagonal secara statistik memiliki nilai tidak sama dengan nol (r < 0,001) dan nilainya berkisar antara 0,212 dan 0,515. Validitas diskriminan yang diuji dalam 3 cara yaitu yang pertama skala dalam kuadran budaya yang sama dites untuk melihat apabila korelasinya lebih tinggi dengan lainnya lalu dilakukan dengan skala dari kuadran budaya yang berbeda dihitung menggunakan instrument yang terpisah (Campbell dan Fisk, 1959). 23 dari 24 perbandingan konsisten sesuai harapan. Cara kedua, skala dalam budaya yang sama diharapkan memiliki korelasi yang lebih tinggi dari lainnya dibandingkan dengan skala dalam kuadran budaya yang berbeda dan dihitung dengan cara yang sama. 16 dari 24 perbandingan konsisteb sesuai harapan. Cara ketiga dilakukan dengan pola yang sama dari hubungan timbal balik yang diperkirakan akan ada didalam dan diantara masing-masing metode independent. Kecocokan dari koefisien Kendall’s dihitung dan memperoleh nilai koefisien 0,764. Dari ketiga cara yang dilakukan dengan menggunakan multitrait-multimetode membuktikan validitas konvergen dan diskriminan dari instrument OCAI ini.
Bukti validitas lainnya ditemukan oleh Zammuto dan Krakower (1991). Dalam studi mereka tentang budaya perguruan tinggi, mereka menemukan bahwa
clan culture sangat terkait dengan desentralisasi, kepercayaan, rasa keadilan
kepada sesama anggota organisasi, moral yang tinggi, kepuasan kepada pemimpin. Semua faktor ini konsisten dengan nilai-nilai inti yang diwakilkan oleh
terhadap perubahan dan orientasi yang proaktif terhadap strategi dan perubahan. Semua faktor ini konsisten dengan nilai-nilai inti yang diwakilkan oleh Adhocracy
culture. Market culture sangat terkait dengan kepemimpinan direktif, konfrontasi
dan konflik, penghargaan untuk prestasi. Semua faktor ini konsisten dengan nilai-nilai inti yang diwakilkan oleh Market culture. Hierarchy culture sangat terkait dengan formalitas, pertahanan terhadap perubahan, stabilitas, orientasi reaktif terhadap perubahan dan moral yang rendah. Semua faktor ini konsisten dengan nilai-nilai inti yang diwakilkan oleh Hierarchy culture.
Selain studi diatas sejumlah penelitian juga melakukan hal yang sama untuk validitas instrument OCAI. Berdasarkan pengalaman penelitian diatas menunjukan bahwa dalam pengukuran menggunakan instrument OCAI yang harus diperhitungkan adalah hal-hal utama dari budaya organisasi yang memiliki dampak kepada organisasi dan individu, serta instrument OCAI ini merupakan instrument yang valid dan reliable.