III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
4.5.4. Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah ketepatan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat ukur (Nazir 2003). Umar (2005) mendefinisikan reliabilitas adalah suatu nilai
yang sama secara berulang dua kali atau lebih. Uji reliabilitas adalah uji keterandalan yang digunakan dalam riset dimana instrumen riset yang baik akan mampu mengungkapkan informasi yang sebenarnya di lapangan. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keterandalan dari atribut-atribut yang diajukan pada responden dalam kuesioner. Instrumen yang reliabel akan menghasilkan data yang sesuai dengan kenyataannya, dalam arti berapa kali pun penelitian diulang dengan instrumen tersebut akan tetap diperoleh „kesimpulan‟ yang sama (Durianto et al. 2004).
Pengujian reliabilitas yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode Alpha Cronbach, yaitu metode perhitungan reliabilitas yang dikembangkan oleh Cronbach. Sama halnya dengan uji validitas, uji reliabilitas juga dilakukan dengan menggunakan software SPSS 17,0. Reliabilitas suatu atribut dapat dilihat pada hasil output SPSS pada tabel yang berjudul Reliability Coefficients. Koefisien Alpha Cronbach merupakan koefisien reliabilitas yang paling umum digunakan untuk mengevaluasi internal consistency. Nilai koefisien reliabilitas berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai koefisien reliabilitas, semakin reliabel sebuah kuesioner, koefisien reliabilitas yang dianggap baik adalah nilai yang lebih besar dari 0,7.
Hasil uji reliabilitas dalam penelitian ini Lampiran 3 menunjukkan bahwa semua atribut Restoran Mira Sari dapat dikatakan sangat reliabel karena memiliki nilai Alpha = 0,863. Sehingga semua atribut sudah konsisten pada pengukurannya dalam penelitian ini.
4.5.5. Structural Equation Model (SEM)
Structural Equation Model atau Model Persamaan Struktural terdiri atas persamaan pengukuran dan persamaan struktural. Model yang menggambarkan hubungan antara peubah laten (peubah yang tidak dapat diukur secara langsung) dengan peubah-peubah manifesnya dinamakan model pengukuran. Bila di dalam
bersifat teoritis serta apakah sesuai dengan data yang diperoleh daripada
exploratory (mencari model yang sesuai dengan data) meskipun analisis SEM terkadang melibatkan teknik-teknik eksplorasi di dalamnya. SEM sering disebut dengan istilah LISREL (Linear Structural Relationship) karena LISREL merupakan salah satu perangkat lunak yang paling sering dipakai dalam mengestimasi model SEM (Firdaus & Farid 2008).
Pendekatan SEM akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif dalam mempelajari suatu fenomen ilmiah. SEM dapat membantu mengarahkan pola pikir peneliti secara efektif dalam menggali permasalahan penelitian hingga penelusuran atribut yang relevan dalam menjelaskan fenomena atau konstruk. Terdapat tujuh langkah dalam membangun SEM menurut Firdaus dan Farid (2008) yaitu :
1. Pengembangan model teoritis, yaitu merupakan pengujian kausalitas secara empiris dari teori yang sudah ada dan digunakan untuk konfirmasi model teoritis tersebut. Hubungan kausalitas dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan arti namun pola hubungan akan menjadi rasional bila dilandaskan pada suatu teori tertentu.
2. Pengembangan path diagram (diagram alur). Diagram jalur adalah sebuah gambar yang menampilkan hubungan yang lengkap dari sekelompok peubah. Diagram dibangun berdasarkan konstruk untuk menunjukkan hubungan kausalitas. Konstruk merupakan suatu konsep yang dilandaskan pada suatu teori dan berperan sebagai pembatas dalam mendefinisikan pola hubungan.
3. Mengkonversi diagram path ke dalam persamaan dalam bentuk persamaan struktural untuk menyatakan hubungan kausalitas.
4. Menentukan matriks input dan estimasi model. Data input SEM merupakan matriks kovarian untuk melakukan pengujian model dari teori yang ada dan setara dengan regresi untuk digunakan dalam penjelasan atau prediksi fenomena yang dikaji.
5. Pendugaan koefisien model. Hal ini dilakukan karena kadangkala proses pendugaan memberikan hasil yang irasional sehingga dapat diatasi dengan
menetapkan beberapa nilai koefiisen pada nilai tertentu dan peubah laten yang hanya memiliki satu peubah indikator ditetapkan nilainya (umumnya 1).
6.Evaluasi kriteria goodness of fit. SEM tidak memiliki alat uji statistik tunggal untuk menguji antara model dengan data yang disajikan. Beberapa indeks kesesuaian dan cut of value yang umumnya digunakan adalah sebagai berikut : a. Degree of Freedom (DF) harus positif yang menandakan model tidak
underidenified.
b. P-value harus lebih dari 0,05 untuk menandakan hasil bahwa uji kecocokan model yang dilakukan telah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan.
c. RMSEA (Root Mean Square Error of Approximation) adalah indeks untuk mengkompensasikan chi-square dalam contoh besar yang menunjukkan kesesuaian yang diharapkan bila model diestimasi. Syarat agar model menunjukkan close fit adalah RMSEA < 0,08.
d. GFI (Goodness of Fit = R2 dalam regresi) dan AGFI (adjusted R2) adalah rentang ukuran antara 0 (poor fit) sampai dengan 1 (perfect fit) yang memperhitungkan proporsi tertimbang dari varian dalam sebuah matriks kovarian contoh. Nilai GFI dan AGFI yang disarankan ≥ 0,90.
e. CFI (Comparative Fit Index) merupakan indeks yang besarannya tidak dipengaruhi oleh ukuran contoh sehingga sangat baik untuk mengukur tingkst penerimaan sebuah model. Nilai harus disarankan ≥ 0,90 untuk menunjukkan kecocokan incremental.
Interpretasi dan modifikasi model. Setelah model diterima, interpretasi dilakukan mengikuti teori yang mendasarinya. Jika kriteria kelayakan model belum sesuai, maka dilakukan modifikasi model. Modifikasi model dapat dilakukan dengan membuang atau menambah hubungan di dalam model SEM. Modifikasi hanya boleh dilakukan jika terdapat perubahan yang signifikan dengan dukungan data empirik.
У
(px1) = λy(pxm) * (mx1) + (px1)X(qx1) = λx(pxn) * ξ(nx1)+ (qx1)
Keterangan :
= peubah laten endogen ξ = peubah laten eksogen
= besarnya pengaruh dari peubah endogen ke peubah endogen lainnya = besarnya pengaruh dari peubah eksogen ke peubah endogen
= model hubungan antar peubah laten yang melibatkan komponen acak
У
= peubah manifest yang berkaitan dengan peubah laten endogen X = peubah manifest yang berkaitan dengan peubah laten eksogen λ = besarnya loading antara peubah laten dengan peubah manifesnya= kesalahan pengukuran yang berkaitan dengan peubah endogen = kesalahan pengukuran yang berkaitan dengan peubah eksogen
Model SEM sering dinyatakan juga dalam bentuk diagram lintas (path diagram). Keuntungan digunakannya diagram lintas antara lain mempermudah dalam memahami hubungan antar peubah, baik dalam model pengukuran mupun model struktural. Berikut ini adalah keterangan yang berkaitan dengan diagram lintas dalam model SEM :
a. Peubah atau variabel laten (variabel yang tidak dapat diukur secara langsung, tetapi dapat dibentuk oleh variabel lain yang dapat diukur) digambarkan dalam bentuk oval. Peubah laten dalam SEM dapat berupa peubah endogen yang dilambangkan dengan huruf Yunani “eta” ( ) yaitu apabila dipengaruhi oleh peubah laten lain. Peubah laten eksogen yang dilambangkan dengan “ksi” (ξ) yaitu apabila hanya mempengaruhi peubah laten lain. Dalam diagram lintas pada bagian model struktural, peubah endogen dicirikan dengan peubah yang menjadi target paling tidak satu panah satu arah, sedangkan peubah eksogen dicirikan dengan peubah yang tidak dituju oleh panah satu arah.
b. Model struktural, pada diagram lintas model SEM, panah satu arah menunjukkan hubungan pengaruh sedangkan panah dua arah menunjukkan hubungan korelasi. Besarnya pengaruh dari peubah endogen ke peubah
pengaruh dari peubah eksogen ke peubah endogen dilambangkan dengan “gamma” ( ). Besarnya koragam antar peubah laten dilambangkan dengan “phi” (Φ).
c. Galat struktural (structural error) merupakan model hubungan antar peubah laten yang melibatkan komponen acak yang disebut dengan galat struktural. Galat ini dilambangkan dengan “zeta” ( ). Untuk memperoleh dugaan parameter yang konsisten, galat struktural diasumsikan tidak berkorelasi dengan peubah eksogen.
d. Peubah atau variabel manifest (variabel yang dapat diamati dan diukur langsung) digambarkan dalam bentuk kotak. Peubah manifes yang berkaitan dengan peubah laten endogen dilambangkan dengan “Y”, sedangkan yang berkaitan dengan peubah laten eksogen dilambangkan dengan “X”.
e. Model pengukuran merupakan model antara peubah laten dengan peubah- peubah manifesnya. Penyusunan peubah laten dari peubah-peubah manifesnya menggunakan alat analisis faktor, dimana peubah laten merupakan common factor yang mendasari peubah-peubah manifesnya. Besarnya loading antara peubah laten dengan peubah manifes dilambangkan dengan “lamda” (λ) dengan λx untuk peubah eksogendan λy untuk peubah
endogen.
Kesalahan pengukuran antara peubah laten dengan peubah manifesnya seringkali terjadi. Kaitannya dengan analisis faktor pada model pengukuran ini adalah unique factor yang bersesuaian dengan masing-masing peubah manifes. Kesalahan pengukuran yang berkaitan dengan peubah eksogendilambangkan dengan “delta” ( ) sedangkan yang berkaitan dengan peubah endogendilambangkan dengan “epsilon” ( ).
4.5.7. Implementasi Model SEM
variabel yang mendasari variabel lainnya memang terdapat suatu korelasi. Atas dasar itulah maka dapat disusun hipotesis dari model SEM yang diestimasi. Adapun hipotesis yang disusun dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Peubah laten endogen (variabel kepuasan) dibangun dan mempunyai hubungan dengan lima dimensi kualitas pelayanan antara lain, tangibles,
reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty. Hipotesis ini disusun berdasarkan teori Zeithaml et al. (1990).
2. Kepuasan berpengaruh terhadap kesetiaan atau loyalitas konsumen. Hipotesis ini didasarkan teori Kotler (2005).
3. Variabel laten loyalitas merefleksikan variabel-variabel teramati, antara lain melakukan kunjungan ulang, sikap terhadap kenaikan harga, dan merekomendasikan PFM kepada orang lain. Hipotesis ini didasarkan teori Lovelock dan Wirtz (1987).
Hubungan kausalitas model SEM ini untuk lebih jelasnya dapat dilihat melalui diagram path. Model persamaan struktur mengenai nilai yang dipersepsikan pada kepuasan konsumen
Tabel 3. Keterangan Variabel-variabel pada Model Persamaan Struktur
Variabel Laten
No
Variabel Indikator Notasi
Tangibles (ξ1) (variabel laten eksogen) 1 Tampilan restoran X11 2 Keteraturan dekorasi X12 3
Ketersedian area parkir X13
4
Kemudahan mencapai lokasi X14
5
Pencantuman informasi pada menu X15
6
Ketersediaan fasilitas umum (seperti tolet dan musholah) X16
7
Penampilan pegawai X17
Reliability (ξ2)
(variabel laten eksogen)
8 Ketersediaan makanan dalam menu (ditinjau dari jumlah ketersediaan makanan yang ditawarkan)
X21
9
Kesesuaian harga dan kualitas produk dan pelayanan X22
10
Ketelitian dalam pencatatan dan permintaan konsumen X23 Responsiveness
(ξ3)
(variabel laten eksogen)
11 Ketersediaan pegawai memberikan bantuan dan penjelasan jika ada yang kurang dipahami
X31
12
.Kecepatan pegawai menyediakan pesanan konsumen X32
13
Kecepatan pegawai dalam menanggapi keluhan konsumen X33
Assurance (ξ4)
(variabel laten eksogen)
14
Keramahan dan kesopanan kayawan dalam melayani konsumen X41
15 Pengetahuan pegawai terhadap produk yang ditawarkan restoran (seperti harga dan bahan – bahan yang digunakan)
X42
16
Keamanan mengkansumsi makanan X43 Emphaty (ξ5)
(variabel laten eksogen)
17 Kemampuan pihak manajemen dan pegawai memberikan respon yang baik dalam menanggapi keluhan konsumen
X51
18 Kemampuan pegawai untuk tidak melakukan diskriminasi pelayanan X52
Kepuasan ( 1)
(variabel laten endogen)
19 Kepuasan secara keseluruhan Y11
δoyalitas ( 2)
(variabel laten endogen)
20
Keinginan untuk berbelanja kembali Y21
21
Kesediaan membeli jika harga naik Y22
22
V
GAMBARAN UMUM RESTORAN MIRA SARI
5.1. Profil Perusahaan
Restoran Mira Sari awal dirintis semanjak tahun 1979 dan mulai dibuka untuk umum pada Bulan Maret 1980. Pada awal berdirinya Restoran Mira Sari berlokasi di Jalan Merdeka Bogor. Pendiri Restoran Mira Sari ini adalah H Djadjuri Sadikin. Usaha Restoran Mira Sari ini diawali oleh rasa coba – coba H Djadjuri Sadikin untuk membuka rumah makan di garasi rumahnya. Dari awal berdiri ternyata mengalami perkembangan pesat karena lokasinya yang berdekatan dengan kantor Pemda Bogor pada tahun itu. Banyak pelanggannyya berasal dari kalangan PNS Pemda Bogor. Seiring berjalannya waktu ternyata H Djadjuri Sadikin ingin lebih mengembangkan usahanya dan akhirnya sekitar tahun 1990an. Beliau mencoba membangun Restoran Mira Sari didaerah Cisarua memanfaatkan lahan yang dimiliki oleh orang tua H Djadjuri. Luas lahan yang digunakan untuk membangun Restoran Mira Sari yaitu seluas 2750 m 2 . Setelah proses pembangunan maka pada tahun 1994 dibukalah Restoran Mira Sari di Cisarua.
Dalam perjalanan usahanya Restoran Mira Sari bermaksud untuk melestarikan budaya Sunda sehingga konsep dari Restoran Mira Sari adalah Sunda. Restoran Mira Sari memutuskan untuk menggunakan modal sendiri tanpa meminjam melalui bank atau lembaga keuangan lainnya. Setelah mengalami perkembangan akhirnya usaha Restoran Mira Sari mengganti struktur manajemennya yang awalnya dijalankan secara langsung oleh H Djadjuri Sadikin mulai berpindah manajemen ke anaknya sendiri. Sampai saat ini usaha tersebut dijalankan oleh Dewi sebagai anak kandung dari H Djadjuri dan Bagus sebagai menantunya. Setelah pemindahan manajemen ternyata banyak perubahan yang dilakukan seperti mulai adanya konsep lesahan, saung, kolam ikan, fasilitas ruang pertemuan dan bahkan dibangunnya mess untuk pegawai yang bekerja di Restoran Mira Sari. Jumlah tenaga kerja di Restoran Mira Sari hanya ada sekitar 50 orang yaitu 40 orang laki – laki dan 10 orang wanita.
Sistem kerja di Restoran Mira Sari dilakukan sengan sistem shift. Restoran Mira Sari sendiri buka 24 jam sehingga dalam kegiatan operasionalnya dibagi menjadi tiga shift yaitu shift pagi 06.00-14.00, shift siang 14.00-22.00 dan shift malam 22.00-06.00. perekrutan pegawai di Restoran Mira Sari mengutamakan pegawai berasal dari warga sekita lokasi Restoran Mira Sari dengan minimal pendidikan SMA atau SMK dan memiliki keterampilan serta berperilaku baik.
5.2. Struktur Organisasi
Struktur organisasi Restoran Mira Sari terdiri dari Direktur Utama, Manajer Keuangan/Accounting, HRD (Human Resourches Development), Pramusaji, Koki dan Bagian Humas. Bagan struktur organisasi dapat dilihat pada sebagai berikut.
Gambar 5.Struktur Organisasi Restoran Mira Sari
Secara ringkas fungsi dan tugas pokok untuk setiap jabatan penting pada struktur organisasi dijelaskan sebagai berikut.
1) Direktur Utama
Direktur utama sebagai pihak yang memimpin seluruh kegiatan restoran Direktur Utama (Pemilik)
Manajemen Keuangan
HRD Humas
Pramusaji Koki Kasir dan Petugas
Manajer Keuangan bertugas memberikan laporan rugi laba setiap kegiatan kepada pihak manajemen; memberikan laporan keuangan serealistis mungkin kepada manajemen; memberikan analisa keuangan yang tepat; melakukan perencanaan, kontrol, dan pengendalian aliran kas yang ketat untuk menjaga kelancaran likuiditas perusahaan; menyelesaikan setiap permasalahan pajak. 3) HRD (Human Resourches Development)
HRD bertugas menjamin terselenggaranya kegiatan personalia sesuai dengan kebijakan perusahaan; membantu direktur utama dalam hal tugas-tugas kesekretariatan dan menyimpan catatan-catatan atau informasi yang bersifat rahasia.
4) Pramusaji
Bertugas untuk memberikan pelayanan yang baik kepada setiap pengunjung Restoran Mira Sari
5) Koki
Koki bertugas memasak makanan yang ada dimenu sesuai dengan harapan konsumen.
6) Kasir
Kasir bertugas melakukan penerimaan proses transaksi pembayaran dari konsumen yang telah selasai melakukan kunjungan dan pembelian serta bertanggung jawab kepada pihak manajemen.
7) Keamanan
Bagian keamanan bertugas menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung selama berada di Restoran Mira Sari.
VI
KARAKTERISTIK KONSUMEN RESTORAN MIRA
SARI
6.1. Karekteristik Umum Responden
Konsumen yang berkunjung ke Restoran Mira Sari memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Latar belakang ini dapat menjadi faktor bagi konsumen memilih untuk berkunjung ke Restoran Mira Sari. Memiliki pengetahuan mengenai perbedaan pada latar belakang konsumen dapat membantu pihak manajemen Restoran Mira Sari dalam membuat suatu perencanaan bisnis. Karakteristik umum responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsumen yang pada saat penelitian sedang atau pernah berkunjung ke Restoran Mira Sari lebih dari satu kali dalam waktu sebulan terakhir.
6.1.1. Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan data yang terkumpul dari 100 orang responden dapat diketahui bahwa jumlah persentase antara responden berjenis kelamin laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan yang cukup banyak.
Gambar 6. Sebaran Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Responden yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 78 orang sedangkan laki-laki sebesar 22 orang. Perbedaan sejauh 56 persen ini
6.1.2. Sebaran Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan hasil penelitian dari 100 orang responden dapat diketahui bahwa responden yang berkunjung ke Restoran Mira Sari memiliki beragam usia. Terlihat pada Gambar 7, sebanyak 37 orang responden berada pada usia 36-45 tahun, 30 orang responden berada pada usia 26-35 tahun, 17 orang responden berusia 46-55 tahun, dan 5 orang responden berusia 56-65 tahun. Pada usia muda berkisar 17-25 tahun terdapat 9 orang responden dan hanya terdapat 2 orang responden pada usia lebih dari 65 tahun. Hal ini telah sesuai dengan target yaitu konsumen pada usia 25-65 tahun.
Gambar 7. Sebaran Responden berdasarkan Usia
6.1.3. Sebaran Responden Berdasarkan Pendidikan
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat diketahui bahwa responden yang berkunjung di Restoran Mira Sari memiliki latar belakang pendidikan yang beragam.
Gambar 8. Sebaran Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pada Gambar 8 tampak bahwa responden dengan latar belakang pendidikan diploma, sarjana dan pascasarjana mendominasi dengan persentasi yakni 20 persen untuk Diploma, 52 persen untuk Sarjana dan 24 persen untuk Pascasarjana.
6.1.4. Sebaran Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Berdasarkan data yang terkumpul dari 100 orang responden dapat diketahui bahwa jumlah mayoritas responden adalah responden yang telah menikah. Terdapat 89 orang responden yang telah menikah dan 11 orang responden yang belum menikah. Hal ini dikarenakan konsumen yang telah menikah lebih memilih untuk mengolah sendiri seperti apa makanan yang diinginkan dan kapan diinginkannya. Sehingga konsumen yang telah menikah lebih banyak jumlahnya daripada konsumen yang belum menikah dalam berkunjung ke Restoran Mira Sari. Produk-produk di Restoran Mira Sari cenderung membutuhkan untuk diolah terlebih dahulu sebelum dikonsumsi, sehingga bagi konsumen yang belum menikah akan cenderung untuk lebih memilih makanan yang dapat langsung dikonsumsi.
Gambar 9. Sebaran Responden berdasarkan Status Pernikahan
6.1.5. Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Konsumen yang berkunjung ke Restoran Mira Sari memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Responden yang berkunjung ke Restoran Mira Sari selama penelitian berlangsung sebagian besar merupakan pegawai negeri sipil dan pegawai swasta yang masing-masing berjumlah 37 orang responden dan 35 orang responden.
6.1.6. Sebaran Responden Berdasarkan Pendapatan
Pengetahuan akan besar rata-rata pendapatan responden setiap bulannya dapat diketahui setelah informasi mengenai latar pekerjaan dari setiap responden telah diperoleh. Pendapatan yang dimiliki konsumen dapat dijadikan informasi mengenai besar daya beli konsumen.
26% 9%12% 10% 12% 31% < Rp 500.000 Rp 500.000 - Rp 1.499.999 Rp 1.500.000 - Rp 2.499.999 Rp 2.500.000 - Rp 3.499.999 Rp 3.500.000 - Rp 4.500.000
Gambar 11. Konsumen Berdasarkan Rata-Rata Pendapatan Per Bulan
Diketahui sebagian besar responden yakni sebesar 31 persen memiliki pendapatan lebih dari Rp 4.500.000 setiap bulannya. Pada penelitian ini terdapat pula responden yang tidak memiliki pendapatan karena responden tidak bekerja dan adapula yang mengandalkan pendapatan suaminya khususnya bagi responden dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Nilai sembilan persen pada tingkat pendapatan Rp 500.000–Rp 1.499.999 merupakan persentase terkecil dari responden berdasarkan rata-rata pendapatan per bulan. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa segmentasi dan target konsumen Restoran Mira Sari berdasarkan pendapatan yakni masyarakat dari kalangan menengah ke atas sudah sesuai.
6.2. Proses Keputusan Pembelian Konsumen di Restoran Mira Sari
6.2.1. Keputusan Pembelian Konsumen Berdasarkan Alasan Melakukan Pembelian
Setiap konsumen memiliki alasan tersendiri dalam melakukan pembelian.
25% 17% 8% 50% Kenyamanan tempat Ajakan kerabat
Kemudahan mencapai lokasi
Makanan yang disajikan
Gambar 12. Konsumen Berdasarkan Alasan Melakukan Pembelian
Berdasarkan Gambar 12, dapat dilihat bahwa mayoritas responden mengunjungi Restoran Mira Sari responden yakni sebesar 50 persen berpendapat bahwa yang menjadi aasan konsumen melakukan pembelian di Restoran Mira Sari adalah karena makanan yang disajikannya sesuai dengan harapan mereka. Mereka merasa Retoran Mira Sari merupakan tempat yang sesuai untuk mengkonsumsi makanan khas Sunda..
6.2.2. Keputusan Pembelian Konsumen Berdasarkan Sumber Informasi
Informasi mengenai keberadaan makanan yang ditawarkan oleh Restoran Mira Sari diperoleh konsumen dari berbagai sumber. Gambaran sebaran responden berdasarkan sumber informasi dapat dilihat pada Gambar 13.
33%
10% 5% 52%
Keluarga Papan nama Media Massa Teman/kerabat
Gambar 13. Konsumen Berdasarkan Sumber Informasi
Gambar di atas menginformasikan bahwa lebih dari setengah jumlah responden, yakni sebesar 52persen, mendapatkan informasi mengenai keberadaan Restoran Mira Sari yang berasal dari Teman. Sebanyak 33 persen responden mengatakan mereka mengetahui dari keluarga. Dan sisanya 10 persen dari papan nama serta 5 persen dari media massa
6.2.3. Keputusan Pembelian Konsumen Berdasarkam Pengaruh Sumber Informasi
Sumber informasi yang menginformasikan mengenai keberadaan Restoran Mira Sari terdiri dari berbagai macam jenis. Bermacam-macam jenis sumber informasi tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda bagi setiap responden.
Dilihat dari ilustrasi di atas tampak bahwa mayoritas responden yakni sebesar 80 persen merasakan sumber informasi yang mereka dapatkan membuat mereka menjadi tertarik untuk mengunjungi dan melakukan pembelian. Hanya sebesar empat persen responden merasa tidak tertarik setelah mendapatkan informasi mengenai Restoran Mira Sari dan tidak ada responden yang merasakan pengaruh lainnya dari sumber informasi yang diperoleh. Hal ini berarti cara menyampaikan informasi serta media informasi yang dipilih sudah tepat.
6.2.4. Keputusan Pembelian Konsumen Berdasarkan Keputusan
Berkunjung
Terdapat dua keputusan berkunjung ketika akan melakukan kujungan ke Restoran Mira Sari, apakah dilakukan secara terencana atau tidak terencana. Keputusan berkunjung secara terencana dilakukan bila konsumen telah menentukan hari dan waktu berkunjung ke Restoran tersebut.
77% 23%
Terencana Tidak Terencana
Gambar 15. Konsumen Berdasarkan Keputusan Berkunjung
Sebagian besar responden yaitu sebanyak 77 persen melakukan kunjungan secara terencana dan sisanya berkunjung secara tidak terencana atau mendadak. Konsumen yang melakukan kunjungan secara terencana umumnya telah melakukan persiapan sebelum melakukan kunjungan dan pembelian.
6.2.5. Keputusan Pembelian Konsumen Berdasarkan Pihak yang Mempengaruhi dalam Berkunjung
Dalam melakukan kunjungan, konsumen dipengaruhi oleh berbagai pihak. Pihak yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan kunjungan berbeda-beda bagi setiap konsumen. Berikut ini merupakan sebaran responden berdasarkan pihak yang mempengaruhi dalam berkunjung.
80% 9%
5% 6%
Inisiatif Sendiri Keluarga
Teman/Kolega Iklan/Promosi
Gambar 16. Konsumen Berdasarkan Pihak yang Mempengaruhi dalam Berkunjung
Sebagian besar responden, yakni sebesar 80 persen menyatakan bahwa berkunjung karena inisiatif sendiri. Disamping itu, sebanyak dua persen responden menyatakan tidak ada yang mempengaruhinya dalam melakukan kunjungan . Beberapa konsumen yang telah menikah dipengaruhi oleh anggota keluarganya dalam berkunjung ke toko.
6.2.6 Keputusan Pembelian Konsumen Berdasarkan Pihak yang
Mempengaruhi dalam Melakukan Pembelian
Dalam membeli produk, konsumen juga dapat dipengaruhi oleh berbagai pihak yang berbeda-beda untuk setiap konsumen. Gambaran sebaran responden berdasarkan pihak yang mempengaruhi dalam melakukan pembelian dapat dilihat