• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

2. Uji Serempak (Uji F)

Uji serempak (Uji F) bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen yang terdiri dari Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Profit Margin (NPM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit ratio (LDR) terhadap variabel dependen yaitu Pertumbuhan Laba secara simultan. Uji F memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,05, jika signifikansi F berada dibawah 0,05 maka variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

Tabel 4.9 Hasil Uji Statistik F

ANOVAb Model

Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 23.509 5 4.702 3.651 .004a

Residual 127.477 99 1.288

Total 150.986 104

a. Predictors: (Constant), LNLDR, LNBOPO, LNNPM, LNNPL, LNCAR b. Dependent Variable: LNPERTUMBUHANLABA

Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (Data Diolah)

Dari uji F yang telah dilakukan diperoleh F hitung sebesar 3,651 sedangkan F tabel adalah 2,31 dengan demikian, Fhitung3,651>Ftabel 2,32. Maka disimpulkan bahwa berdasarkan hasil tersebut maka Capital Adequacy ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Profit Margin (NPM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh signifikan secara simultan terhadap Pertumbuhan Laba.

Sesuai dengan kriteria pengujian, jika F hitung lebih besar dari F tabel (3,651> 2,31 ) dan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 (0,004 > 0,05) maka demikian Ha diterima.atau H0 ditolak.

4.2.5. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Pengujian koefisien determinasi dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan sampai seberapa jauh variabel independen yang digunakan dalam persamaan regresi mampu menjelaskan variabel dependen. Dari penelitian ini R2 menunjukkan bahwa variabel independen kemungkinan dapat menjelaskan bahwa perubahan naik turunnya variabel dependendan merupakan pengaruh dari variabel independen diluar variabel yang dipakai dalam model regresi yang turut berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan Pertumbuhan Laba. Apabila nilai R2 suatu regresi mendekati satu, maka semakin baik regresi tersebut. Hasil output SPSS dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut ini:

Tabel 4.10

Uji Koefisien Determinasi (R2) Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .395a .156 .113 1.13474 1.711

a. Predictors: (Constant), LNLDR, LNBOPO, LNNPM, LNNPL, LNCAR b. Dependent Variable: LNPERTUMBUHANLABA

Sumber: Hasil Penelitian, 2016 (Data Diolah)

Pada Tabel 4.10 nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,113 yang berarti bahwa korelasi atau hubungan variabel dependen Pertumbuhan Laba dengan variabel independen Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Profit Margin (NPM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan

Operasional (BOPO), Loan to Deposit ratio (LDR) mempunyai hubungan yang cukup erat yaitu sebesar 11,3%. Besarnya pengaruh variabel independen Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Profit Margin (NPM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit ratio (LDR) terhadap Pertumbuhan Laba ditunjukkan oleh nilai Adjusted R Square sebesar 0,113, artinya variabel Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Profit Margin (NPM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit ratio (LDR) berpengaruh terhadap Pertumbuhan Laba sebesar 11,3% sisanya sebesar 88,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini. Nilai Standar Error of the Estimate (SEE) adalah sebesar 1,13474, semakin kecil nilai SEE maka model regresi akan semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.

4.3 Pembahasan

Berdasarkan pengujian secara simultan diketahui bahwa nilai F hitung sebesar 3,651 dengan nilai signifikansi 0,004 dan dapat disimpulkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Profit Margin (NPM), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit ratio (LDR) secara serempak berpengaruh signifikan terhadap Pertumbuhan Laba Perbankan Go Public di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2013.

Berdasarkan pengujian secara parsial diketahui pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen sebagai berikut:

Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba Perbankan Go Public di Bursa Efek Indoneisa 2010-2013. Capital Adequacy Ratio memiliki nilai koefisien yang bernilai positif, namun tingkat signifikansinya >0,05 sehingga meskipun Capital Adequacy Ratio bernilai positif, namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba.

Capital Adequacy Ratio merupakan rasio kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi dan mengontrol risiko-risiko yang timbul yang dapat berpengaruh terhadap kinerja suatu bank dalam menghasilkan keuntungan, dan menjaga besarnya modal yang dimiliki.

Secara keseluruhan, tingkat kecukupan modal bank pada periode 2010-2013 berada diatas 8%. Capital Adequacy Ratio bernilai positif namun tidak signifikan umumnya karena tinggi atau rendahnya tingkat kecukupan modal tidak secara langsung mampu meningkatkan pertumbuhan laba. Hal ini karena meskipun bank mampu memenuhi tingkat kecukupan modal minimum yang ditetapkan Bank Indonesia, namun belum tentu mampu meningkatkan tingkat keuntungan bank secara langsung. Hal lainnya, pada beberapa bank terdapat nilai CAR yang tinggi, namun pada beberapa bank lainnya rendah sehingga secara umum CAR tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan laba.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Dewi dan Sudiartha (2011) yang menyatakan bahwa Capital Adequacy Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba. Selanjutnya penelitian Rismawati, et.al (2015) juga menyatakan bahwa Capital Adequacy Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2010-2012.

4.3.2. Pengaruh Non Performing Loan Terhadap Pertumbuhan Laba

Non Performing Loan merupakan tingkat kredit macet pada perusahaan perbankan. Tingkat NPL mencerminkan besarnya persentase jumlah kredit yang tidak mampu dibayar oleh kreditur sesuai waktu yang ditentukan. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa NPL bernilai positif tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba. Hal ini umumnya karena tingkat NPL pada masing-masing bank secara umum memiliki nilai yang bervariasi. Pada beberapa bank terdapat nilai NPL yang rendah, namun pada beberapa bank lainnya nilai NPL tergolong tinggi bahkan ada yang diatas 5% sehingga secara keseluruhan, NPL bernilai positif atau searah dengan pertumbuhan laba namun tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan laba. Dengan kata lain, meningkat maupun menurunnya NPL tidak menyebabkan perubahan yang signifikan pada pertumbuhan laba pada perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2013.

4.3.3. Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Pertumbuhan Laba

Net Profit Margin merupakan rasio yang mengukur perbandingan antara laba bersih yang dicapai perusahaan dengan pendapatan yang diterima. Dengan

demikian, rasio NPM mencerminkan kemampuan perusahaan memperoleh laba bersih dari total pendapatannya.

Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa NPM bernilai negatif atau tidak searah dengan pertumbuhan laba perusahaan perbankan tahun 2010-2013. Hal ini karena terdapat beberapa bank dengan tingkat NPM yang tinggi sementara ditemukan juga beberapa bank dengan tingkat NPM yang sangat rendah bahkan bernilai negative atau mengalami kerugian. Sehingga secara umum nilai NPM perbankan pada periode 2010-2013 cenderung berfluktuasi secara signifikan dan relative rendah sehingga member pengaruh yang negative terhadap pertumbuhan laba.

4.3.4. Pengaruh Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Terhadap Pertumbuhan Laba

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan perbandingan antara jumlah biaya yang dikeluarkan dengan pendapatan yang dicapai oleh bank. Dengan demikian, semakin tinggi nilai rasio BOPO mencerminkan tingginya beban atau biaya operasional yang harus dikeluarkan perusahaan untuk memperoleh keuntungan.

Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa BOPO bernilai positif tidak signifikan terhadap pertumbuhan laba. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun BOPO bernilai positif, namun tingkat signifikansinya >0,05 sehingga koefisien BOPO yang bernilai positif tidak menyebabkan perubahan yang signifikan pada pertumbuhan laba.

Secara keseluruhan, nilai BOPO pada perusahaan perbankan perioden 2010-2013 fluktuatif pada masing-masing bank setiap tahunnya. Namun secara umum nilai BOPO berada pada level yang wajar tidak terlalu tinggi sehingga rasio BOPO searah dengan pertumbuhan laba namun tidak signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan laba.

4.3.5 Pengaruh Loan to Deposit Ratio Terhadap Pertumbuhan Laba

Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki nilai koefisien yang bernilai positif atau searah dengan pertumbuhan laba. Namun meskipun koefisien Loan to Deposit Ratio bernilai positif, tingkat signifikansinya >0,05 dengan demikian, secara parsial Loan to Deposit Ratio berpengaruh positif tidak signfikan terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan perbankan go public di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2013.

Loan to Deposit Ratio menunjukkan perbandingan antara jumlah kredit yang diberikan dengan Dana Pihak Ketiga, jika Loan to Deposit Ratio terlalu tinggi hingga diatas 100% maka likuiditas bank dinyatakan tidak sehat, namun sebaliknya, jika Loan to Deposit Ratio terlalu rendah menunjukkan bahwa bank kurang optimal dalam menjalankan perannya sebagai lembaga itermediasi antara pihak yang kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana sehingga Loan to Deposit Ratio harus berada diangka ideal agar likuiditas tetap terjaga dan penyaluran kredit juga optimal.

Loan to Deposit Ratio bernilai positif namun tidak signifikan karena tingkat LDR pada perusahaan perbankan selama periode 2010-2013 cenderung berfluktuasi dengan nilai rata-rata sebesar 77,31%. Sehingga meskipun bernilai

positif namun tidak mendorong peningkatan pada pertubuhan laba secara signifikan hal ini juga dimungkinkan karena pada beberapa bank terdapat nilai NPL yang cukup tinggi sehingga sejumlah kredit yang disalurkan mengalami kredit macet. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rismawati, et al. (2015) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa LDR tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba.

BAB V

Dokumen terkait