HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Variabel Independen
4.2.3.3 Uji Signifikansi Parsial (Uji - t)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independent secara parsial (individu) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependent.
Kriteria pengujiannya adalah sebagai berikut:
a. H0 : b1, b2, b3 = 0 artinya variabel independen yang terdiri dari leverage (DER), free cash flow (FCF), firm size, profitability (ROA), dan growth secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu dividend payout ratio (DPR).
b. Ha : b1, b2, b3≠ 0 artinya variabel independen yang terdiri dari leverage (DER), free cash flow (FCF), firm size, profitability (ROA), dan growth secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu dividend payout ratio (DPR).
Kriteria pengambilan keputusannya adalah:
b. Ha diterima jika thitung > ttabel pada �= 5 %
thitung≤ – ttabel pada �= 5 %
Hasil pengujiannya adalah:
Tingkat kesalahan (α) = 5% dan derajat kebebasan (df) = (n-k)
n = jumlah observasi yaitu 40 observasi k = jumlah variabel yang digunakan yaitu 6
Maka nilai ttabel 5% (34) adalah 2,032. Hasil pengujian hipotesis secara parsial dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut.
Tabel 4.14
Uji Signifikansi Parsial (Uji - t) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 18.660 7.216 2.586 .014 DER 1.143 .504 .376 2.269 .030 FCF .346 .237 .245 1.462 .153 FIRMSIZE -2.896E-8 .000 -.619 -2.988 .005 ROA 5.733 2.331 .541 2.459 .019 GROWTH -.415 .132 -.570 -3.135 .004 a. Dependent Variable: DPR
Sumber: Hasil Penelitian, 2014 (Data Diolah)
Dari hasil pengolahan data menggunakan SPSS Statistics 17.0 yang dapat dilihat pada Tabel 4.14 diperoleh persamaan struktural sebagai berikut:
Y= α + �1�1 + �2�2 + �3�3 + �4�4 + �5�5 + e
Dimana:
Y = Dividend Payout Ratio
α = konstanta
�1 = Debt to Equity Ratio �2 = Free Cash Flow �3 = Firm Size �4 = Return on Asset �5 = Growth
b1,2,3= Koefesien regresi
e = Error
Maka, didapatkan model regresi linear berganda sebagai berikut: DPR = 18,660 + 1,143DER + 0.346 ��� - 0,00000002896 �������� +
5.733 ��� - 0,415 �����ℎ + e
Dengan demikian pengaruh setiap variabel independen secara parsial sebagai berikut:
1) Variabel debt to equity ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012, hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,030) < 0,05, dan nilai thitung (2,269) > ttabel (2,032) artinya jika variabel debt to equity ratio ditingkatkan sebesar satu satuan maka dividend payout ratio akan meningkat sebesar 1,143.
2) Variabel free cash flow berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek
Indonesia periode 2008-2012, hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,153) > 0,05, dan nilai thitung (1,462) < ttabel (2,032), artinya apabila variabel free cash flow ditingkatkan sebesar satu satuan maka dividend payout ratio akan meningkat sebesar 0,346. Namun pengaruh yang terjadi tidak signifikan.
3) Variabel firm size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012, hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,005) < 0,05, dan nilai thitung (-2,988) < -ttabel (-2,032) artinya jika variabel debt to equity ratio ditingkatkan sebesar satu satuan maka dividend payout ratio akan menurun sebesar 2,896E-8.
4) Variabel return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012, hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,019) < 0,05, dan nilai thitung (2,459) > ttabel (2,032) artinya jika variabel return on asset ditingkatkan sebesar satu satuan maka dividend payout ratio akan meningkat sebesar 5,733.
5) Variabel growth berpengaruh negatif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012, hal ini terlihat dari nilai signifikan (0,004) < 0,05, dan nilai thitung (-3,135) < -ttabel (-2,032) artinya jika variabel debt to equity ratio ditingkatkan sebesar satu satuan maka dividend payout ratio akan menurun sebesar 0,415.
6) Berdasarkan hasil Uji-t diketahui bahwa variabel dominan yangmempengaruhi dividend payout ratio adalah variabel return on asset (ROA) , dimana hal ini dapat dilihat dari nilai unstandarized coefficients variabel return on asset sebesar 5,733, dimana nilai ini lebih besar daripada unstandarized coefficients variabel debt to equity ratio (1,143), free cash flow (0,346), firm size (-2,896E-8), dan growth (0,415).
4.3 Pembahasan
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh dari faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio yakni leverage (DER), free cash flow, firm size, profitability (ROA), dan growth terhadap dividend payout ratio. penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deskriptif dan metode statistik, dimana pada metode analisis deskriptif diperoleh data yang berasal dari laporan-laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia serta data-data yang diperoleh dari internet seperti Indonesian Capital Market Directory (ICMD)) periode 2008-2013 yang menyajikan informasi keuangan perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini. Sedangkan pada metode statistik pengolahan data dilakukan dengan program SPSS Statistics 17.0.
Berdasarkan Tabel 4.12 dapat dilihat bahwa nilai R= 0,549 berarti bahwa hubungan yang terjadi antara leverage (DER),free cash flow ( FCF), firm size, profitability (ROA), dan growth terhadap dividend payout ratio (DPR) sebesar 54,9% yang berarti memiliki hubungan yang cukup erat. Nilai R Square hasil
regresi adalah 0,301, yang artinya 30,1 % faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio dapat dijelaskan oleh dapat dijelaskan oleh leverage (DER), free cash flow (FCF), firm size, profitability (ROA), dan growth, sedangkan sisanya 69,9% dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang lain yang tidak diteliti oleh penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa leverage (DER), free cash flow (FCF), firm size, profitability (ROA), dan growth secara simultan berpengaruh signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 dengan nilai 2.927 dan tingkat signifikansi sebesar 0,027.
Ditinjau dari pengaruh secara parsial (Uji-t), variabel leverage (DER) berpengaruh positif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 yang dapat dilihat dari nilai signifikan (0,030) < 0,05, dan nilai thitung (2,269) > ttabel (2,032). Hal ini tidak sejalan dengan yang dikemukakan oleh Sartono (2001:66) yang mennyatakan bahwa DER merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang, dimana semakin tinggi rasio ini menggambarkan gejala yang kurang baik bagi perusahaan. Dengan semakin tingginya rasio ini perusahaan akan menggunakan laba yang akan diperolehnya untuk membayar kewajibannya di masa yang lalu sehinggga akan berdampak pada semakin kecilnya jumlah dividen yang akan dibagikan perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian dari Marietta dan Sampurno (2013) yang menunjukkan bahwa DER memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap DPR. Hal ini dikarenakan ketika perusahaan tidak memiliki dana internal yang cukup untuk melakukan
investasi yang menguntungkan maka perusahaan cenderung menggunakan hutang dalam jumlah yang besar, sehingga dari hutang tersebut perusahaan memiliki tambahan modal yang cukup untuk membiayai investasi dan ekspansi dalam proyek-proyek yang menguntungkan. Melalui investasi tersebut maka perusahaan memperoleh keuntungan yang tinggi dan dengan tingkat keuntungan yang tinggi maka kemungkinan perusahaan untuk membagikan dividen akan semakin tinggi.
Variabel free cash flow (FCF) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 yang dapat dilihat dari nilai signifikan (0,153) > 0,05, dan nilai
thitung (1,462) < ttabel (2,032). Hal ini tidak sejalan dengan teori Keown et al (2008
: 214) yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki Free Cash Flow dalam jumlah yang tinggi akan lebih baik dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, agar Free Cash Flow yang ada tidak digunakan untuk sesuatu atau proyek-proyek yang tidak menguntungkan (wisted on unprofitable) dengan demikian ketersediaan dana dapat dipakai untuk kemakmuran pemegang saham. Dengan demikian semakin tinggi free cash flow yang dimiliki perusahaan menjadi sinyal bahwa dividen yang dibayarkan akan semakin tinggi. Namun hasil peelitian ini sejalan dengan peneltitan Hadianto dan Herlina (2010) yang menjelaskan bahwa free csh flow memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap dividend payout ratio. Walaupun demikian free cash flow tetap mempengaruhi dividend payout ratio secara positif hanya saja tidak signifikan.
Variabel firm size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012
yang dapat dilihat dari nilai signifikan (0,005) < 0,05, dan nilai thitung (2,988) <
-ttabel (-2,032). Hal ini tidak sejalan dengan yang dikemukakan oleh Keown et al
(2000: 621-624) yang menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan kecil atau baru tidak memiliki akses ke pasar modal, sehingga mereka harus sangat bergantung pada dana internal. Sebagai akibatnya, rasio pembayaran dividen perusahaan kecil atau baru jauh lebih rendah daripada perusahaan besar dan milik publik. Sebaliknya perusahaan yang besar memiliki rasio pembayaran dividen yang tinggi. Akan tetapi hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Lopolusi (2013) yang menyatakan bahwa firm size memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap dividend payout ratio. Hal ini disebabkan karena suatu perusahaan yang memiliki ukuran yang besar akan cenderung menginvestasikan kembali laba bersih yang dimilikinya dengan tujuan untuk mengembangkan perusahaan daripada membagikan laba bersih kepada pemegang saham dalam bentuk pembagian dividen. Perusahaan yang melakukan investasi, maka aset yang dimiliki perusahaan akan semakin besar dan perusahaan tersebut akan memiliki ukuran yang semakin besar pula. Sehingga semakin besar ukuran perusahaan, maka akan semakin sedikit laba yang tersedia untuk dibagikan kepada pemegang saham yang berdampak terhadap semakin kecilnya tingkat DPR perusahaan.
Variabel profitability (ROA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 yang dapat dilihat dari nilai signifikan (0,019) < 0,05, dan nilai thitung (2,459) > ttabel (2,032). Hal ini sejalan dengan teori Husnan (2001 : 316),
perusahaan hanya dapat membagikan dividen semakin besar jika perusahaan mampu menghasilkan laba yang semakin besar, jika laba yang dihasilkan besarnya tetap, perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar karena hal ini berarti perusahaan akan membagikan modal sendiri. Dengan demikian, semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan maka akan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membagikan keuntungan kepada para pemegang saham dalam bentuk pembagian dividen. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Marietta dan Sampurno (2013) dan Hadianto dan Herlina (2010) yang menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa profitabilitas memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.
Variabel growth berpengaruh negatif dan signifikan terhadap dividend payout ratio pada industri perbankan di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012 yang dapat dilihat dari nilai signifikan (0,004) < 0,05, dan nilai thitung (3,135) <
-ttabel (-2,032). Hal ini sejalan dengan teori Riyanto (2001:267) mengatakan bahwa
tingkat pertumbuhan perusahaan yang semakin cepat mengakibatkan makin besar kebutuhan dana untuk waktu mendatang untuk membiayai pertumbuhannya. Kebutuhan dana yang besar itu disebabkan karena perusahaan membutuhkan dana lebih untuk membiayai aktivitas investasi, proyek-proyek perusahaan dan ekspansi usahanya. Untuk memanfaatkan peluang investasi yang ada maka perusahaan akan membutuhkan dana yang juga cukup besar. Perusahan akan berusaha untuk menghindari penggunakan dana yang berasal dari pihak eksternal karena akan menimbulkan biaya transaksi yang tinggi. Sehingga akan lebih efisien untuk menggunakan dana internal. Dengan demikian perusahaan yang
ingin memanfaatkan peluang akan lebih memilih untuk menahan sejumlah besar laba yang mereka miliki sehingga akan berpengaruh terhadap semakin kecilnya dividen yang dibayarkan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Desmukh (2005) menemukan hasil bahwa growth memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap dividend payout ratio.
Berdasarkan hasil Uji-t diketahui bahwa variabel dominan yang mempengaruhi dividend payout ratio adalah variabel return on asset. Hal ini dapat dilihat dari nilai unstandarized coefficients variabel return on asset sebesar 5,733, dimana nilai ini lebih besar daripada unstandarized coefficients variabel debt to equity ratio (1,143), free cash flow (0,346), firm size (-2,896E-8), dan growth (0,415). Hal ini dikarenakan profitabilitas yang dimiliki perusahaan mencerminkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan atau memperoleh laba secara efektif dan efisien. Semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan maka akan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk membagikan keuntungan kepada para pemegang saham dalam bentuk pembagian dividen. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Husnan (2001 : 316), perusahaan hanya dapat membagikan dividen semakin besar jika perusahaan mampu menghasilkan laba yang semakin besar, jika laba yang dihasilkan besarnya tetap, perusahaan tidak bisa membagikan dividen yang makin besar karena hal ini berarti perusahaan akan membagikan modal sendiri.
Sedangkan variabel free cash flow berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap dividend payout ratio. tidak ditemukannya pengaruh yang signifikan dari variabel free cash flow tersebut menurut pendapat peneliti
disebabkan karena dalam penelitian ini, hampir sebagian besar perusahaan memiliki free cash flow yang negatif. Berdasarkan perhitungan hal ini mungkin saja terjadi, akan tetapi pada kenyataannya ketika perusahaan memiliki free cash flow yang negatif menunjukkan bahwa perusahaan tidak memiliki arus kas bebas yang tersedia untuk para pemegang saham. Sehingga ketiadaan arus kas bebas ini menyebabkan free cash flow tidak dapat menjelaskan mengenai faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio.
BAB V