BAB III METODE PENELITIAN
3.8 Metode Analisis Data
3.8.3 Uji Hipotesis
3.8.3.3 Uji Statistik f (Uji Signifikansi Simultan)
Uji F-statistik digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen yang digunakan dalam penelitian secara bersama-sama signifikan memengaruhi variabel dependen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikansi tingkat 0,05 (alpha = 5%).
Ketentuan penolakan atau penerimaan hipotesis adalah sebagai berikut (Ghozali, 2006):
a. Jika signifikansi > 0,05 maka hipotesis ditolak (koefisien regresi tidak signifikan). Ini berarti bahwa secara bersama-sama variabel independen tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
b. Jika signifikansi < 0,05 maka hipotesis tidak dapat ditolak (koefisien regresi signifikan). Ini berarti bahwa secara bersama-sama variabel independen mempunyai pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
3.8.3.4 Uji Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien determinasi (R²) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan midel dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R² yang semakin mendekati satu berarti model semakin baik (Ghozali, 2005). Kelemahan
koefisien determinasi adalah bias terhadap sejumlah variabel independen yang dimasukkan dalam model; oleh karena itu lebih baik menggunakan adjuted R². Jika adjusted R² bernilai negative maka nilai adjusted R² dianggap nol.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian
Objek penelitian dalam hal ini adalah Laporan Keangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Sumatera Utara. Dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data untuk setiap variabel selama 3 (tiga) tahun bertrut-turut mulai tahun 2014 sampai tahun 2016 yang dilakukan kurang lebih selama 2 (dua) bulan.
Jumlah data yang terkumpul masing-masing 102 observasi dari tiap variabel yang diteliti (100%) dari total 34 kabupaten/kota provinsi Sumatera Utara periode 2014-2016.
4.2 Analisis Data
4.2.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran mengenai data-data dari variabel-variabel yang diteliti. Statistik deskriptif variabel dependen dan independen dari objek penelitian yaitu tingkat pengunggkapan (disc), total aset, pendapatan asli daerah (PAD), tingkat ketergantungan (depend), umur pemda, SKPD, legislatif dan temuan audit Laporan Keuangan Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara selama periode 2014-2016 disajikan dalam tabel 4.1
Tabel 4.1
Sumber : output eviews 9.5, 2018
Dari tabel hasil uji statistik deskriptif diperoleh informasi berikut:
1. Nilai rata-rata Tingkat Pegungkapan (DISC) adalah 47.373%, dengan nilai tertinggi 69.81% dan nilai terendah 33,962%, total pengamatan sebanyak 102.
2. Nilai rata- rata total aset adalah 2.97E+12 dengan nilai tertinggi 3.00E+13, nilai terendah 8.50E+10, total pengamatan sebanyak 102.
3. Nilai rata- rata Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah 2.5E+11, dengan
5. Nilai rata-rata dari umur pemda adalah 43.58 tahun, dengan nilai umur tertinggi 148tahun dan nilai umur terendah adalah 6 tahun, total pengamatan sebanyak 102.
6. Nilai rata- rata dari jumla SKPD adalah 48.5 dengan nilai tertinggi 110 dan nilai terendah 29 total pengamatan sebanyak 102.
7. Nilai rata- rata dari jumlah anggota legislatif adalah 35.44 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 20 total pengamatan sebanyak 102.
8. Nilai rata- rata dari Jumlah Temuan Audit adalah 4.06 dengan nilai tertinggi 23 dan terendah 0 total pengamatan sebanyak 102.
4.2.2 Uji Model 1. Uji Chow
Uji Chow dilakukan untuk memilih model yang terbaik antara Pooled effect atau Fixed effect. Hasil uji menggunakan Eviews 9.5 dapat terlihat dalam tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Uji Chow
Redundant Fixed Effects Tests Test cross-section fixed effects
Effects Test Statistic d.f. Prob.
Cross-section F 14.028627 (33,63) 0.0000
Cross-section Chi-square 216.450255 33 0.0000
Smber: output Eviews 9.5, 2018
Dalam Eviews bila P-Value<α, maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga model yang digunakan adalah model fixed effect dan bila sebaliknya maka model yang digunakan adalah Pooled effect.
Hasil uji menunjjukan nilai P-value adalah 0 < α(0.05). Maka H0 ditolak dan terima H1. Model yang terpilih adalah Fixed effect.
2. Uji Husman
Uji Husman kembali dilakukan untuk membandingkan model mana yang lebih baik untuk digunakan antara model fixed effect atau random effect. Diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.3 Hasil Uji Husman
Correlated Random Effects - Hausman Test Equation: EQ01
Test cross-section random effects
Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.
Cross-section random 66.737696 5 0.0000
Sumber: Output Eviews 9.5, 2018
Dari hasil uji husman diperoleh bahwa hausman statistics > Chi Square tabel atau dalam eviews P-value < α yaitu 0. Maka tolak H0 dan terima H1, sehingga model yang digunakan adalah model Fixed Effect.
Dari kedua uji model tersebut maka dapat disimpulakan bahwa metode analisis data yang paling tepat digunakan adalah model Fixed Effect.
4.2.3 Uji Asumsi Klasik
Karena hasil model yang terpilih untuk data panel adalah Fixed Effect, maka perlu dilakukan Uji Asumsi klasik yaitu Uji Multikolinearitas dan Uji Heteroskedastisitas untuk data panel.
1. Uji Multikoleritas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independent variable).
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebas. Tabel 4.3 di bawah ini menunjukkan hasil Uji Multikoleritas .
Tabel 4.4
Hasil Uji Multikoleritas
TOTAL
ASET PAD DEPEND
UMUR
PEMDA SKPD LEG
TEMUAN AUDIT
TOTAL_ASET 1 0.643 -0.677 0.236 0.158 0.561 -0.044 PAD 0.643 1 -0.774 0.186 -0.005 0.841 -0.06 DEPEND -0.677 -0.774 1 -0.313 -0.061 -0.774 0.289 UMUR_PEMDA 0.236 0.186 -0.313 1 0.044 0.206 0.017 SKPD 0.158 -0.005 -0.061 0.044 1 0.137 0.107 LEG 0.561 0.841 -0.774 0.206 0.137 1 -0.067 TEMUAN_AUDIT -0.044 -0.061 0.289 0.017 0.106 -0.067 1
Sumber : Output eviews 9.5, 2018
Uji yang digunakan untuk melihat ada tidaknya multikolinearitas dalam model menggunakan Eviews adalah uji correlation matrix. Apabila variasi antar variabel independen kurang dari 0,9 (Gujarati, 2012) maka dapat
dikatakan tidak terjadi masalah multikolinearitas. Namun bila terdapat variasi antar variabel independen >0.9 maka terjadi multikolerasi.
Dari tabel hasil Uji korelasi tidak ditemkan nilai variasi yang > 0,9.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi antar variabel bebas dalam data.
2. Uji Heterokedastitas
Heteroskedastisitas terjadi pada saat residual dan nilai prediksi memiliki korelasi atau pola hubungan. Pola hubungan ini tidak hanya sebatas hubungan yang linier, tetapi dalam pola yang berbeda juga dimungkinkan. Ada beberapa metode uji heteroskedastisitas yang dimiliki oleh EViews, seperti : Breusch-Pagan-Godfrey, Harvey, Glejser, ARCH, White dan lain-lain.
Data dalam penelitian ini menggunakan uji melalui grafik dan uji statistik. Apabila tidak ditemukan pola tertentu dalam grafik, maka dalam model tidak terjadi masalah heteroskedatisitas. Namun untuk memastikan lebih akurat dapat melakukan uji statistik.
Uji statistik yang digunakan adalah salah satu uji yang disediakan dalam eviews, yaitu Uji Glejser. Hasil uji glejser ditampilkan dalam tabel 4.4.
Grafik 4.1
Grafik Heteroskedastitas
Sumber : output eviews 9.5, 2018
Tabel 4.5
Total panel (balanced) observations: 102
R-squared 0.149800 Mean dependent var 1.366048 Adjusted R-squared 0.105519 S.D. dependent var 1.356802 S.E. of regression 1.283222 Akaike info criterion 3.393648 Sum squared resid 158.0793 Schwarz criterion 3.548058 Log likelihood -167.0761 Hannan-Quinn criter. 3.456174 F-statistic 3.382925 Durbin-Watson stat 1.206607 Prob(F-statistic) 0.073841
Kabupaten Asahan - 14 Kabupaten Batubara - 15 Kabupaten Dairi - 16 Kabupaten Humbang Hasundutan - 14 Kabupaten Karo - 15 Kabupaten Labuhanbatu - 16 Kabupaten Labuhanbatu Utara - 14 Kabupaten Langkat - 15 Kabupaten Mandailing Natal - 16 Kabupaten Nias Barat - 14 Kabupaten Nias Selatan - 15 Kabupaten Nias Utara - 16 Kabupaten Padang Lawas Utara - 14 Kabupaten Pakpak Bharat - 15 Kabupaten Samosir - 16 Kabupaten Simalungun - 14 Kabupaten Tapanuli Selatan - 15 Kabupaten Tapanuli Tengah - 16 Kabupaten Toba Samosir - 14 Kota Binjai - 15 Kota Gunungsitoli - 16 Kota Padangsidempuan - 14 Kota Pematangsiantar - 15 Kota Sibolga - 16 Kota Tebing Tinggi - 14 Provinsi Sumatera Utara - 15
Residual Ac tual Fitted
Keputusan terjadi atau tidaknya heteroskedastisitas pada model regresi linier adalah dengan melihat Nilai Prob. F-statistic (F hitung). Apabila nilai Prob.
F hitung lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) maka H0 diterima yang artinya tidak terjadi heteroskedastisitas, sedangkan apabila nilai Prob. F hitung lebih kecil dari dari tingkat alpha 0,05 (5%) maka H0 ditolak yang artinya terjadi heteroskedastisitas.
Nilai Prob. F hitung sebesar 0,0738 lebih besar dari tingkat alpha 0,05 (5%) sehingga, berdasarkan uji hipotesis tidak terjadi heteroskedastisitas pada data.
4.3 Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis penelitian dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yang telah dipaparkan pada BAB III. Untuk mengetahui apakah variabel independen dalam model regresi berpengaruh terhadap variabel dependen, maka digunakan penelitian dengan menggunkan uji signifikansi parsial (Uji-T) dan uji signifikansi simulta (Uji-F)
4.3.1 Uji Signifikansi Parsial (Uji-T)
Uji t dilakukan untuk melihat pengaruh variabel independen secara individual terhadap variabel dependen. Kriteria pengujian uji-t adalah sebagai berikut:
H0 ditolak dan H1 diterima bila nilai signifikansi < 0.05, yang berarti bahwa variabel independen secara individual berpengaruh terhadap variabel dependen, begitu sebaliknya.
Tabel 4.6
Hasil Uji Regresi Data Panel
Sumber : Output eviews 9.5, 2018
Dari tabel diatas terdapat tiga variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependennya yaitu total aset, umur pemda dan jumlah legislatif. Hal ini terlihat dari tingkat signifikansi yang diperoleh dua variabel independen tersebut kurang dari 0,05. Pada variabel PAD, Depend,
Total panel (balanced) observations: 102
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C -122.8913 66.13131 -1.858293 0.0678
LOG(TOTAL_ASET) 0.935176 0.968861 -0.965233 0.0381 LOG(PAD) 2.631761 3.141200 0.837820 0.4053
DEPEND 0.083096 6.514500 0.012755 0.9899
UMUR_PEMDA 3.012494 0.600544 5.016278 0.0000
SKPD 0.042064 0.036331 1.157798 0.2497
LEG 0.177893 0.047520 3.743537 0.0003
TEMUAN_AUDIT -0.085411 0.070420 -1.212891 0.2297 Effects Specification
Cross-section fixed (dummy variables)
R-squared 0.928864 Mean dependent var 47.37329 Adjusted R-squared 0.885956 S.D. dependent var 7.236784 S.E. of regression 2.443887 Akaike info criterion 4.907925 Sum squared resid 376.2729 Schwarz criterion 5.911591 Log likelihood -211.3042 Hannan-Quinn criter. 5.314343 F-statistic 21.64805 Durbin-Watson stat 2.598839 Prob(F-statistic) 0.000000
SKPD dan Temuan Audit nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 sehingga variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependennya.
- Hasil pengujian secara parsial Total Aset (X1) terhadap DISC (Y) menunjukkan p value : 0,033< 0,05. Artinya H1 diterima dan H0 ditolak.
H1 diterima berarti bahwa variabel Total Aset berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengungkapan
- Hasil pengujian secara parsial PAD (X2) terhadap DISC (Y) menunjukkan p value : 0,405> 0,05. Artinya H0 diterima dan H1 ditolak. H0 diterima berarti bahwa variabel PAD tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengungkapan
- Hasil pengujian secara parsial depend (X3) terhadap DISC (Y) menunjukkan p value : 0.989> 0,05. Artinya H0 diterima dan H1 ditolak.
H0 diterima berarti bahwa variabel depend tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengungkapan
- Hasil pengujian secara parsial umur pemda (X4) terhadap DISC (Y) menunjukkan p value : 0.00< 0,05. Artinya H1 diterima dan H0 ditolak. H1
diterima berarti bahwa variabel Umur Pemda berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengungkapan
- Hasil pengujian secara parsial SKPD (X5) terhadap DISC (Y) menunjukkan p value : 0.249> 0,05. Artinya H0 diterima dan H1 ditolak.
H0 diterima berarti bahwa variabel SKPD berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengungkapan
- Hasil pengujian secara parsial legislatif (X6) terhadap DISC (Y) menunjukkan p value : 0.0003< 0,05. Artinya H1 diterima dan H0 ditolak.
H1 diterima berarti bahwa variabel legislatif berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengungkapan
- Hasil pengujian secara parsial temuan audit (X7) terhadap DISC (Y) menunjukkan p value : 0.229< 0,05. Artinya H0 diterima dan H1 ditolak.
H0 diterima berarti bahwa variabel temuan audit tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat pengungkapan
4.3.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)
Uji signifikansi simultan (uji-f) adalah pengujian yang dilakukan untuk melihat apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pengujian uji-f adalah sebagai berikut:
Nilai sig-f >0.05 artinya H0 diterima. H0 diterima menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan, demikian sebaliknya.
Hasil Uji signifikan dapat dilihat pada tabel 4.5 Berdasarkan hasil pengolaan Eviews 9.5 pada tabel nilai sig-f <0.05 yaitu 0.000 artinya H1 diterima. H1 diterima berarti variabel independen total aset, PAD, depend, umur pemda, SKPD, legislatif dan temuan audit secara simultan memiliki pengaruh terhadap tingkat pengungkapan (DISC).
4.3.3 Persamaan Regresi
Berdasarkan tabel 4.5, maka diperoleh persamaan regresi linear
DISC = -97.43695 +0.935LOG(Total_Aset) + 2.631LOG(PAD) + 0.83096Depend + 3.012Umur_Pemda + 0.042SKPD + 0.177LEG - 0.0854Temuan_Audit + e
Penjelasan
1. Varibel Total Aset bernilai 0.935 (bernilai positif) berarti Total Aset memiliki pengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Sumater Utara periode 2014-2016. Artinya semakin tinggi total aset semakin tinggi pula tingkat pengungkapan, begitu sebaliknya.
2. Variabel PAD bernilai 2.631(bernilai positif) berarti PAD memiliki pengaruh positif terhadap Tingkat Pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Sumatera Utara periode 2014-2016.
3. Variabel Tingkat ketergantungan (depend) bernilai 0.083 (bernilai positif) berarti depend memiliki pengaruh positif terhadap LKPD Kab/Kota Provinsi Sumatera Utara periode 2014-2016.
4. Variabel Umur Pemda bernilai 3.012 (bernilai positif) berarti umur pemda memiliki pengaruh positif terhadap LKPD Kab/Kota Provinsi Sumatera Utara periode 2014-2016.
5. Variabel SKPD 0.042 bernilai (bernilai positif) berarti jumlah SKPD memiliki pengaruh positif terhadap LKPD Kab/Kota Provinsi Sumater Utara periode 2014-2016.
6. Variabel jumlah Legislatif bernilai 0.177 (bernilai positif) berarti jumlah anggota legislatif memiliki pengaruh positif terhadap LKPD Kab/Kota Provinsi Sumater Utara periode 2014-2016.
7. Variabel temuan audit bernilai -0.085 (bernilai negatif) berarti temuan audit memiliki pengaruh negatif terhadap LKPD Kab/Kota Provinsi Sumater Utara periode 2014-2016. Artinya semakin banyak temuan audit dalm LKPD, maka semakin rendah tingkat pengungkapannya, begitu sebaliknya.
4.3.4 Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
Koefisien determinasi menjelaskan variasi pengaruh variabel-variabel bebas terhadap variabel terikatnya. Atau dapat pula dikatakan sebagai proporsi pengaruh seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai koefisien determinasi dapat diukur oleh nilai Square atau Adjusted R-Square digunakan pada saat variabel bebas lebih dari satu.
Nilai Adjusted R-Square pada tabel di atas besarnya 0,886 menunjukkan bahwa proporsi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen adalah sebesar 88.6%. Artinya Total Aset, PAD, Depend, Umur Pemda, Jumlah SKPD, Jumlah Legislatif dan Temuan Audit memiliki pengaruh terhadap Tingkat Pengungkapaan LKPD sebesar 88.6% sedangkan sisanya 11.4% (100% - 88,3%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak ada di dalam model regresi.
4.4 Pembahasan
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial dan simultan Total Aset berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan. Dapat dilihat dari nilai signifikansi 0.033 < 0.05. hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Maulana (2015), Khasanah (2014)
2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial pendapatan asli daerah (PAD) tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan. Dapat dilihat dari nilai signifikansi 0.405>0.05. hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Khasanah (2014)
3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial tingkat ketergantungan (depend) tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan. Dapat dilihat dari nilai signifikansi 0.99>0.05. hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Khasanah (2014)
4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial umur pemda berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan. Dapat dilihat dari nilai signifikansi 0.00<0.05.
5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial SKPD tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan. Dapat dilihat dari nilai signifikansi 0.249>0.05. hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Maulana (2015)
6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial jumlah legislatif berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan. Dapat dilihat
dari nilai signifikansi 0.0003<0.05. hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Maulana (2015)
7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial temuan audit berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat pengungkapan.
Dapat dilihat dari nilai β -0.085 dan signifikansi 0.2297>0.05.
8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan total aset, PAD, depend, umur pemda, SKPD, legislatif dan temuan audit berpengaruh signifikan terhadap tingkat pengungkapan. Dapat dilihat dari nilai prob f-stat 0.00<0.05.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan sebelumnya maka peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Secara bersama-sama variabel Total aset, PAD, Depend, Umur Pemda, SKPD, Legislatif dan Temuan Audit berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
2. Secara parsial variabel Total Aset berpengaruh terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
3. Secara parsial variabel PAD tidak berpengaruh terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
4. Secara parsial variabel Tingkat Pengungkapan (depend) tidak berpengaruh terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
5. Secara parsial variabel Umur Pemda berpengaruh terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
6. Secara parsial variabel SKPD tidak berpengaruh terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
7. Secara parsial variabel Legislatif berpengaruh terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
8. Secara parsial variabel Temuan audit tidak berpengaruh terhadap Tingkat pengungkapan LKPD Kab/Kota Provinsi Smatera Utara periode 2014-2016
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberikan saran sebagai berikut:
a. Bagi peneliti selanjutnya
Sebaiknya peneliti selanjutnya menempurnakan penelitian ini dengan menambahkan variabel yang dirasa perlu. Peneliti juga diharapkan untuk menambah periode tahun penelitian agar hasil lebih akurat.
b. Bagi Pemerintah
Agar menyediakan informasi LKPD yang merupakan informasi publik yang sudah diaudit di dalam website yang dapat diunduh secara bebas oleh masyarakat, sebagai wujud keterbukaan informasi publik dan memudahkan bagai peneliti untuk mengakses data dan informasi.
DAFTAR PUSTAKA
A Chariri dan I Ghozali, 2007. Teori Akuntansi. Badan Penerbir UNDIP.
Semarang
Ainun Naim dan Fuad Rachman, 2000. Analisis Hubungan antara Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan dengan Struktur Modal dan Tipe Kepemilikan Perusahaan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol 15, No 1.pp70:82.
Almanita Nurtati, Sri Fadilah dan Kania Nucholisah. 2016. Pengaruh Karakteristik dan Kompleksitas Pemerintah Daerah terhadap Pengungkapan Laporan Keuangan Studi pada Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota/Kabupaten di Provinsi Jawa Barat periode 2013-2014). Universitas Islam Bandung.
Arifin, Imam. 2014. Pengungkapan Laporan Keuangan Kementrian/Lembaga, Karakteristik Organisasi dan Hasil Audit BPK. Skripsi FE UI, Jakarta.
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2014. (2014). http://www.bpk.go.id. Diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
_____. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2014. (2014).
http://www.bpk.go.id. Diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
_____. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2015. (2015).
http://www.bpk.go.id. Diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
_____. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2015. (2015).
http://www.bpk.go.id. Diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
_____. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2016. (2016).
http://www.bpk.go.id. Diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
_____. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester II Tahun 2016. (2016).
http://www.bpk.go.id. Diakses pada tanggal 15 Maret 2016.
Choiriyah, Umi. 2010. Informatiaon GAP Pengungkapan Lingkungan Hidup di Indonesia. Skripsi. FE.UNS. Surakarta.
Damodar Gujarati. 2006. Dasar-Dasar Ekonometrika Jilid I. Jakarta : Penerbit Erlangga
Daniri, Mas Ahmad. 2005. Good Corporate Governance: Konsep dan Penerapannya di Indonesia. Jakarta. Ray Indonesia
Donaldson, Lex dan James H. Davis, Stewardship Theory or Agency Theory : CEO Governance and Shareholder Return. Australian Journal of Management, Vol. 16, page 49-64, 1 June 1991.
Ghozali, Imam. 2005. Analisis Multivariate dengan Program SPSS, disi Ketiga.
BPUD, Semarang.
Ghozali, Imam dan Cariri, Anis 2007. Teori Akuntansi, Edisi 3, Universitas Diponegoro, Semarang.
Giligan, Thomas W and Matsusaka, Jhon G. 2001. Fiscal Policy, Legislature Size, and Political Parties: Evidence from State and Local Goverments in the First Half of the 20th Century. National Tax Journal. Vol 54:57-82
Glynn, (1993), American Accounting Association (1970), New Jersey, Prentice-Hall
Gujarati, D.N. 2012. Dasar-Dasar Ekonometrika, Terjemahan Mangunsong, R.C., Salemba Empat, buku 2, Edisi 5, Jakarta.
Hall, James A.2007. Sistem Informasi Akuntansi, Edisi Empat, Buku Satu.
Salemba Empat : Jakarta.
Halim, Abdul, 2002. Akuntansi Keuangan Daerah, Edisi 3 Akuntansi Sektor Publik, Salemba Empat, Jakarta..
Hilmi, Amirudin Zul. 2011. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi 2006-2009.
Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Depok.
Kawedar, Warsito 2010. Opini Audit dan Sistem Pengendalian Intern. FEB UNDIP. Semarang
Khasanah, Nur L. 2014. Pengaruh Karakteristik, Kompleksitas, dan Temuan Audit Terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Skripsi. FEB UNDIP. Semarang.
Iskandar. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial Ukuantitatif dan Kualitatif). GP Press, Jakarta.
Lang, M. H., & Lundholm, R. J. (1996). Corporate Disclosure Policy and Analyst Behavior, The Accounting Review.Vol.: 71 (4), pp.467-492.
Lesmana, S. I. 2010. Pengaruh Karakteristik Pemda Terhadap Tingkat Pengungkapan Wajib di Indonesia. Thesis, Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Liestiani, Annisa. 2008. Pengungkapan LKPD Kabupaten/Kota di Indonesia untuk Tahun Anggaran 2006. Skripsi Sarjana. FE UI. Depok.
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Andi, Jakarta
Mandasari, Putriesti. 2009. Pratices of Mandatory Disclosure Compliance in Indonesian Local Goverment. Tesis Master. Universitas Sebelas Maret.
Maulana, Candra. 2015. Pengaruh Karakteristik, Kompleksitas Pemerintahan dan Temuan Audit Terhadap Tingkat Pengungkapan Wajib Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)(Studi Empiris Pada Pemerintah Kabupaten/
Kota Yang Terdapat Di Pulau JawaTahun 2013). Skripsi. FE UNS.
Semarang.
Sasaran Anggaran, Akuntabilitas Publik, dan Pengendalian Akuntansi Terhadap Kinerja Manajerial Pada Pt. Indonesia Asahan Aluminium (Persero). Skripsi. FEB.USU. Medan.
Mulyadi. 2002. Auditing. Buku 1, edisi Enam, Jakarta: Salemba Empat.
Patrick, Patricia A. 2007. The determinants of organizational innovativeness: The adoption of GASB 34 in Pennsylvania local government. Ph.D. dissertation, The Pennsylvania State University, United States - Pennsylvania.(Retrieved August 8, 2011, from Accounting & Tax Periodicals, Publication No. AAT 3266180)
Rochaety E,dkk. 2007. Metodologi Penelitian Bisnis: Dengan Aplikasi SPSS, Edisi Pertama. Penerbit Mitra Wacana Media :Jakarta.
Sekaran, Uma. 2010. Research Method For Business (5th ed.). United States:
Willey.
Sidik, Machfud, B. Raksana Mahi, Robert Simanjuntak,
& Bambang Brojonegoro, 2002, Dana Alokasi Umum-Konsep Hambatan, dan Prospek di Era Otonomi Daerah, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Sidik, Machfud, Djoko Hidayanto, Tjip Ismail, Kadjatmiko, Arlen T.
Pakpahan, & Adriansyah, 2004, Bunga Rampai Desentralisasi Fiskal, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Jakarta.
Simanjuntak, Binsar H dan Widiastuti. 2004. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia 7. (3).
Soewadji, Yusuf. 2012. Pengantar Metodologi Penelitian. Mitra Wacana Media, Jakarta.
Sudarmaji, Adri M. & Lana Sularto. 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary Disclosure Laporan Keuangan Tahunan. Proceeding PESAT.
Sudarsono, Heri. 2012. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Edisis ke 4.
Ekonisia, Yogyakarta.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R & D. Alfabeta, Bandung.
Suhardjanto dan Yulianingtyas, R.2011.Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah Terhadap Kepatuhan PengungkapanWajib Dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.Universitas Sebelas Maret.
Suripto, Bambang. 1999. Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan Tahunan. Simposium Nasional Akuntansi II
Susbiyani dan Purnomosidhi. 2014. The Compliance with Mandatory Disclosure of Financial Statement. A Study from Local Government in Indonesia. .
Syafitri, Febriyani. 2012. Analisis Pengaruh Karakteristik Pemerintah Daerah terhadap Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan. Skripsi Sarjana.
FEUI. Depok.
Umar, Husein. 2005. Metodologi Penelitia. Raja Grafindo, Jakarta, Undang-Undang No 17 Tahun 2003 te ntang Keuangan Negara.
Undang-Undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.