• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.2 Analisis Statisitik Inferential

6.2.4 Hasil Regresi Linier Berganda

6.2.4.2 Uji t Secara Parsial

Uji-t secara parsial dipergunakan untuk mengetahui pengaruh parsial masing masing variabel bebas X1 (komunikasi organisasi) atau X2 (motivasi kerja) terhadap variabel terikat (kinerja karyawan) dengan rumus sebagai berikut :

2 1 2 xy xy r N r t

Dengan menggunakan derajat kebebasan (db = N-2) pada daftar signifikansi 5%, maka apabila t-hitung > t-tabel dinyatakan kontribusi yang dihitung berarti atau signifikan (Sudjana, 2006:44). Seluruh analisis data regresi linier berganda dilakukan dengan proses kompeterisasi Statistical Package for Sosial Science (SPSS) Versi 19.

4.6.2.4.3 Uji Determinasi R2

Uji ini dilakukan untuk mengetahui besar pengaruh serentak dari variabel bebas terhadap variabel terikat Y.

4.6.2.4.4 Persamaan Regresi

Analisis regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda (multiple regression analysis). Analisis regresi linier berganda adalah analisis hubungan antara dua atau lebih variable bebas (X) terhadap satu variabel terkait (Y) dengan asumsi Y merupakan fungsi dari X. Hasil analisis regresi adalah berupa koefisien untuk masing-masing variable bebas. Koefisien ini diperoleh dengan cara memprediksi nilai variabel terikat dengan suatu persamaan (Ghozali, 2012). Dalam analisis regresi, selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga melanjutkan arah hubungan antara variabel terkait dengan variabel bebas (Ghozali, 2012).

Secara matematis, hubungan variabel tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut :

Y = a + b1X1 + b2 X2 + b3+X3 + b4X4 + e Dimana:

Y = Optimalisasi Rendemen Gula a = Konstanta b1 b2 b3 b4 = Koefisien Regresi X1 = Variabel Technoware X2 = Variabel Humanware X3 = Variabel Infoware X4 = Variabel Organware e = error

BAB V

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.1 Pabrik Gula Sei Semayang

Pabrik Gula Sei Semayang (PGSS) merupakan salah satu Pabrik Gula di PT Perkebunan Nusantara II (Persero). Berdirinya PTP Nusantara – II diawali dengan perusahaan bangsa Belanda dengan nama NV Veronigde Deli Maatscnanappij (NV VDM). Pada tanggal 11 Januari 1958 seluruh perusahaan bangsa Belanda yang diambil alih kepemilikannya termasuk Perusahaan Perkebunan Belanda berdasarkan Undang-Undang No. 86 tahun 1958 tentang Normalisasi Perusahaan milik Belanda NV VDM yang terdiri dari 34 perusahaan.

Perusahaan Belanda dirubah menjadi Perkebunan Negara Baru pada tanggal 28 November 1958, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 29/1960. Pada bulan Juni 1960 Perusahaan Perkebunan Negara Baru dirubah menjadi 39 perkebunan dengan luas areal 101.633 Ha. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 143 tahun 1961, maka pada tanggal 1 Juni 1961 Perusahaan Negara Baru dirubah menjadi Perusahaan Sumatera Utara I yang bergerak khusus dalam bidang penegembangan tembakau. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 1968, Lembaran Negara No. 23 tahun 1968 maka Perusahaan Perkebunan Sumatera Utara I dirubah menjadi Perkebunan IX yang terdiri dari 23 Perkebunan dengan luas 58.319,75 Ha.

Setelah melakukan penelitian secara seksama, dan hasilnya dapat memenuhi ketentuan-ketentuan maka Perusahaan Perkebunan dialihkan menjadi Perusahaan Perseroan. Perubahan status ini dilakukan dengan akte No. 6 tanggal 1 April 1974, sehingga nama Perusahaan Perseroan menjadi PT Perkebunan IX (PTP IX), Selanjutnya pada bulan April tahun 1996 PT Perkebunan IX digabung dengan PT Perkebunan II sehingga menjadi PT Perkebunan Nusantara – II.

Pendirian Pabrik Gula Sei Semayang untuk memenuhi kebutuhan akan gula yang masih kurang khususnya di luar pulau jawa, maka dimulai dari proyek

gula PT Perkebunan IX dilatar belakangi oleh percobaan tebu di lahan tembakau oleh PPIG (Proyek Pengembangan Industri Gula) PTP IX yang dimulai tahun 1975 dan dilakukan di tiga tempat yaitu :

1. Perkebunan Tanjung Morawa 2. Perkebunan Batang Kuis 3. Perkebunan Sei Semayang

Pada pelaksanaan Percobaan tersebut Balai penelitian PT Perkebunan IX ikut serta secara aktif melakukan penelitian, karena melihat kemungkinan penanaman tebu di antara lokasi Tembakau Deli adalah sebagai usaha untuk peningakatan produktivitas tanah. Hasil penelitian penanaman tebu dilakukan dengan memiliki harapan besar untuk memulai suatu Proyek Gula, oleh karena output per hektar yang tinggi dengan rendemen yang memadai. Maka studi kelayakan pendirian pabrik pada bulan Pebruari 1978 oleh Philipine Consortion of Sugar Consultan, dan pada bulan Agustus 1978 izin prinsip pembangunan proyek gula PTP IX dikeluarkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia dengan surat No. 252/Menteri/III/1978.

Pabrik Gula Sei Semayang (PGSS) adalah suatu perusahaan penghasil gula yang pertama didirikan di luar pulau Jawa yang mempunyai kantor besar di jalan Tembakau Deli No. 4 Medan, dan merupakan Pabrik penghasil gula dari dua unit Pabrik Gula yang dimiliki PT Perkebunan IX (kini PTP Nusantara – II). Sejalan dengan pengelompokan Perusahaan Gula Negara, Pabrik Gula Sei Semayang dikategorikan dalam golongan D. Pengelompokan ini didasarkan SK Menteri Pertanian No. 559/Keputusan/EKK/10/1977 yang menyatakan gilingan per hari sebagai berikut :

1. Golongan A, kapasitas giling 800 – 1200 ton/hari 2. Golongan B, kapasitas giling 1200 – 1800 ton/hari 3. Golongan C, kapasitas giling 1800 – 2700 ton/hari 4. Golongan D kapasitas giling 2700 – 4000 ton/hari

Untuk mendorong pertumbuhan dalam negeri, ditetapkan bahwa peralatan Pabrik harus dibuat di dalam negeri yang dibuat di Perbengkelan Super Andalas Steel dan PT Atmindo. Staf teknik dididik di dalam negeri melalui LPP (Lembaga Pendidikan Perkebunan) dan telah melakukan Job Training selama tiga kali masa giling dan dua kali masa pemeliharaan mesin di berbagai Pabrik Gula di pulau Jawa. Training di luar negeri dilakukan di Thailand dan Philipina, pendidikan khusus listrik dan Instrumen di Pabrik Gula Cot Girek setelah mengikuti kursus di Medan.

Pada tahun 1978 dilakukan feasibility study untuk Pendirian Pabrik Gula, dan pada tahun yang sama diperoleh izin prinsip pendiriannya, maka pada Tahun 1982 PTP IX PT. Perkebunan IX (kini PTP Nusantara – II) mewujudkan Proyek Pengembangan Industri Gula (PPIG) di Indonesia dengan mendirikan Pabrik Gula Sei Semayang ( PGSS ).

Gambar 5.1 Pabrik Gula Sei Semayang PTPN II (Persero). Keterangan :

a. Tampak depan PGSS.

b. Tumpukan tebu dan area penggilingan tebu.

Lokasi Pabrik Gula Sei Semayang (PGSS) terletak antara kota Medan dengan Kota Binjai, tepatnya di Jl. Medan-Binjai km 12,5 km Desa Mulyorejo, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Dari jalan besar ini ke PGSS berjarak 2,5 km. PGSS berada ditengah perkebunan tebu. Dengan Perbatasan

1. Sebelah Selatan PGSS terdapat Bengkel Teknik,

2. Sebelah Timur terdapat jalan kebun ke Kebun Bulun Cina

3. Sebelah Utara terdapat daerah penanaman DP (Diversun Penanaman) IV/V Tebu

4. Dan sebelah Barat terdapat Perumahan Karyawan PGSS.

Pabrik ini merupakan satu diantara dua pabrik gula yang ada di PTPN II, yaitu PG. Sei Semayang dan Pabrik Gula Kuala Madu. Kedua pabrik ini akan menghasilkan gula dari lima kebun, yakni Kebun Sei Semayang, Kebun Bulu Cina, Kebun Helvetia, Kebun Klumpang dan Kebun Saentis. Kebun-kebun inilah yang melakukan budidaya tanaman tebu, dan hasil penennya akan dibawa ke kedua pabrik tersebut diatas. Secara administrasi berikut disajikan data identitas tentang Pabrik Gula Sei Semayang di PT Perkebunan Nusantara II (Persero). Identitas Perusahaan

Nama Unit Usaha : Pabrik Gula Sei Semayang (PGSS)

Alamat : Jln. Binjai Km. 12,5

: Desa Muliorejo Kabupaten Deli Serdang 20352 Telepon / Fax. : 8474047 (061)

Bidang Usaha : Pengolahan tebu menjadi Gula Putih Akte Pendirian : No. 35 Tahun 1996

Status Modal : PMDN

SK Amdal : No. 0647/BPDL/DS/2007

Penanggung Jawab : M. AGUS HASAN (Manajer) Izin TPS Limbah B3 : No. 462 Tahun 2012

Lokasi Usaha

Lokasi Pabrik Gula Sei Semayang berbatas wilayah sebagai berikut : - Utara : Deversum Penanaman Kebun Sei Semayang - Timur : Jalan Lintas ke Bulu Cina

- Selatan : Kantor Kebun Sei Semayang

- Barat : Deversum Penanaman Kebun Sei Semayang

Luas Areal

Luas Areal PG. Sei Semayang + terdiri dari : - Areal Pabrik : 90.750 m²

- Areal Pengolahan Limbah: 9.110 m² - Areal River Side : 2.322 m² - Perumahan Karpim : 37.548 m² - Perumahan Karpel : 101.600 m²

Kondisi Pabrik

Pabrik Gula Sei Semayang telah mengolah selama + 30 tahun, kapasitas awal 4000 TCD dan sampai saat ini masih tetap berkapasitas 4000 TCD dan tahun 2012 ini masih mengolah tebu menjadi gula.

Tenaga Kerja

- Karyawan Pimpinan : 17 orang

- Papam : 1 orang

- Kar. Pelaksana PGSS : 363 orang - Kar.Pelaksana Kandir : 23 orang - Kar. PKWT : 50 orang

Bagian /Stasiun

2. Dinas Pengolahan 3. Dinas Teknik 4. Unit Laboratorium

5.2 Technoware/Perangkat Teknik

Setelah tebu di panen dari kebun, maka tebu tersebut diangkut ke Pabrik Gula Sei Semayang, untuk pengolahan selanjutnya. Proses pengolahan adalah salah satu proses transformasi atau perubahan bentuk suatu bahan menjadi bentuk lain, yang mempunyai nilai tambah dari bahan dasarnya. Bahan baku yang digunakan adalah tebu yang sudah berumur 11 – 12 bulan, dimana kadar air nira tertinggi terletak pada bagian pangkal batang.

Gambar 5.2 Alat Berat Membantu Penempatan Tebu yang akan digiling. Tebu yang diangkut ke PGSS adalah tebu yang berasal dari kebun yang dikelola PTPN II (Persero) sendiri maupun kebun yang berasal dari kerjasama dengan masyarakat sekitar. Tebu yang dibawa ke PGSS tampak beragam, terlihat tebu dengan serasah, batang muda, pucuk batang atau daun muda (trash) yang masih ada, walaupun sudah diarahkan (bahan baku harus layak giling) kadar

trashnya maksimal 5 persen.

Namun karena penebangan/pemanenan tebu bersifat borongan dari lapangan, maka hal ini mengakibatkan kurang maksimalnya seleksi input dari lapangan. Ketika tebu sampai di PGSS dilakukan seleksi bahan baku input,

dengan mengambil sample, setelah dihitung kadar trash nya maka, tebu tersebut dapat masuk di area PGSS ini. Karenanya perlu dilakukan kerjasama dengan pihak pemanen agar lebih focus pada standar pemanenan. Bahkan perlu dilakukan sangsi terhadap kualitas tebu yang tidak layak giling yang dipasok ke PGSS. Serta tidak member izin masuk bagi pengangkut tebu dengan kadar trash di atas 10 persen dari muatan angkutnya.

Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimurnikan, diuapkan, dimasak, dan dilakukan proses pemutaran, pengeringan, pemisahan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal.

Dalam pengelompokan proses pengolahan gula, ada juga yang menambahkan dengan proses pengumpulan tebu sebelum diolah di pabrik pada awal mula proses tersebut, dan ada juga yang menambahkan proses akhir seperti pengeringan gula kristal, lalu penyaringannya kemudian pengemasannya. Mesin produksi mutlak diperlukan untuk meningkatkan produksi output yang dihasilkan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Kalibrasi mesin dan peralatan jarang/tidak secara rutin di laksanakan di PGSS, hanya ketika sebulan sebelum produksi dilakukan. Begitu juga dengan pemeliharaan rutinnya. Sebaiknya perlu dilakukan penjadwalan dan pelaksanaan kalibrasi dan pemeliharaan mesin yang rutin. Termasuk dilaksanakan ketika masa produksi sedang berlangsung, untuk menghasilkan rendemen gula yang optimal.

Optimalisasi Teknologi di PGSS sangat diperlukan, untuk menghasilkan kualitas dan kuantitas gula yang diharapkan dapat sesuai dengan target yang ingin dicapai. Dengan adanya pembelian mesin baru dan perbaikan mesin lama, diperlukan integrasi atau sinkronisasi antara mesin lama yang diperbaiki dan mesin baru pada setiap stasiun produksi di Pabrik Gula Sei Semayang, hal ini mutlak diperlukan agar proses produksi dapat berjalan simultan dan lancar.

Gambar 5.3 Tebu diangkat ke Tempat Penggilingan dengan Canehandling. Proses pemurnian yang dilakukan pabrik gula di Indonesia antara lain : 4. Proses Defekasi

5. Proses Sulfitasi 6. Proses Karbonatasi

PGSS sejak berdiri dan beroperasional melakukan pengolahan gula dengan proses pemurniannya menggunakan metode sulfitasi ini, dimana setelah tebu ditebang lalu diangkut ke lapangan pabrik, lalu diangkat dengan alat cane handling atau alat lainnya, lalu tebu tersebut digiling, dimurnikan, diuapkan, dimasak/dikristalisasi, lalu di pisah diputaran, disaring dan dikeringkan, lalu dikemas sesuai kemasan yang diinginkan.

Untuk mendapatkan atau memproduksi gula jadi (siap dipasarkan) dilakukan beberapa tahap pengolahan yang dilakkukan di PGSS seperti penjelasan diatas tadi, antara lain :

8) Penggilingan tebu (Stasiun Gilingan) 9) Pemurnian nira (Stasiun Pemurnian) 10) Penguapan nira (Stasiun Penguapan) 11) Kristalisasi (Stasiun Masakan) 12) Pemisahan (Stasiun Putaran)

Potensi rendemen dari batang tebu yang diangkut ke PGSS ini adalah 7,5%, artinya dari 100 kg batang tebu bisa menghasilkan 7,5 kg gula, potensi inilah yang diharapkan dicapai dengan minimal lose (kehilangan) gula 96%. Berikut dijelaskan secara rinci hasil pengamatan di lapangan proses pengolahan tebu menjadi gula di PGSS beserta hasil dan pembahasannya. Tebu yang datang di PGSS ditimbang dahulu, lalu diambil samplenya, lalu diletakkan ditempat yang disediakan. Di PGSS ini, dihalaman depannya terdapat teras yang terbuat dari semen, yang dapat menampung tebu 400 ton, tebu yang sudah dikumpulkan ini kemudian di angkut ke mesin gilingan, salah satunya dengan menggunakan alat cane handling. Proses selanjutnya adalah dimasukkan ke stasiun gilingan.

Gambar 5.4 Tebu yang dikumpulkan di Halaman Pabrik.

Perbaikan dan Pembelian Mesin Produksi

1 Penggilingan Tebu (Stasiun Gilingan)

Tujuan dari stasiun gilingan adalah untuk memisahkan nira dari sabut atau ampas dengan hasil nira sebanyak – banyaknya dan kandungan saccarosa

dalam ampas sekecil mungkin. Dalam proses penggilingan ini juga dipakai air imbibisi yang digunakan untuk mengurangi kadar nira yang masih ada dalam ampas. Terdapat pengurangan nira karena dimakan oleh jasad renik/mikrobiologi. Perlu alternative metoda pengolahan agar nira bisa maksimal diproses ke tahap berikutnya, tanpa terjadi kontaminasi jasad renik yang mengurangi nilai sukrosa.

2 Pemurnian Nira (Stasiun Pemurnian)

Proses ini menghilangkan kandungan kotoran dan bahan non sugar

dalam nira mentah dengan catatan gula reduksi maupun saccarosa jangan sampai rusak selama perlakuan. Bahan non sugar yang dimaksud adalah :

- Ion – ion organic yang nantinya menghambat pengkristalan dari saccarosa

- Koloid yang menyebabkan sukarnya pengendapan serta penyaringan. - Zat warna yang mungkin terkandung dalam zat lain yang mungkin juga

terikut seperti tanah dan sisa daun. 3 Penguapan Nira (Stasiun Penguapan)

Stasiun penguapan ini ditunjukkan untuk menguapkan air pada nira sampai dicapai tingkat kekentalan sekitar 64 brix sehingga didapat nira kental yang telah berkurang 36 % kandungan airnya.

4 Kristalisasi (Stasiun Masakan)

Dalam stasiun masakan terhadap nira kental yang terlebih dahulu disulfitasi dengan SO2 untuk pemucatan nira kental. Pengkristalan gula dan nira kental dengan ukuran 0,9 – 1,1 mm.

5 Pemisahan (Stasiun Putaran)

Tujuan pemutaran pada stasiun ini adalah untuk memisahkan kristal gula dengan larutan (stroop) yang masih menempel pada kristal gula. Putaran bekerja dengan gaya centrifugal yang menyebabkan masakan terlempar jauh dari titik (sumbu) putaran, dan menempel pada dinding putaran yang telah dilengkapi dengan saringan yang menyebabkan kristal gula tertahan pada dinding putaran, dan larutan (stroop)nya keluar dari putaran dengan menembus lubang-lubang saringan, sehingga terpisah larutan (stroop) tersebut dari gulanya. Proses pemutaran di pabrik gula sei semayang terdiri dari 2 bagian yaitu :

1) High Grade Centrifugal 1600 rpm terdiri dari 9 unit, putaran yaitu 5 berfungsi untuk memutar masakan gula A dan B sedangkan yang 4 untuk memutar gula produk.

2) Low Grade Centrifugal terdiri dari 12 putaran yaitu 9 untuk memutar masakan D (gula D1) dan 3 untuk memutar gula D2. Putaran bekerja berdasarkan gaya sentrifugal yang menggunakan full automatic discontinu. Gaya sentrifugal akan menyebabkan masakan terlempar menjahui titik putaran, dimana sistem putaran dilengkapi dengan media saringan. Saringan ini akan menahan kristal dan larutan akan terpisah dari kristalnya.

6 Penyelesaian (Pengeringan dan Pengemasan)

Tahap ini bertujuan mengeringkan gula yang terbentuk, lalu menyaring nya, kemudian mengemasnya dalam jumlah dan kemasan tertentu. Dengan adanya

conveyor maka proses pengemasannya menjadi lancar.

Gambar 5.7 Pengemasan Gula

Berikut adalah bagan proses pembuatan gula yang dilakukan di PGSS.

Gambar 5.8 Bagan Proses Pembuatan Gula di PGSS Tebu Pemerahan Nira

Ampas Pemurnian Nira Penguapan Penghabluran/ Pengkristalan Pemutaran dan Penyelesaian

Gudang StroopTetes

Blotong Gula Masakan Nira Mentah Nira Encer Nira Kental

Tabel 5.1 Data Investasi PGSS Tahun 2010-2013 Investasi Non Tanaman

Kebun Unit: PG Sei Semayang

No. Nama Aktiva Jumlah (Rp.)

Tahun 2010 Jumlah (Rp.) Tahun 2011 Jumlah (Rp.) Tahun 2012 Jumlah (Rp.) Tahun 2013 Jumlah (Rp.)

A. Pemeliharaan Mesin dan Instalasi/Technoware

1. Stasiun Gilingan 186.650.000 2.924.422.000 2.484.452.000 5.595.524.000 2. Stasiun Pemurnian 453.734.000 1.263.894.900 1.005.053.391 2.722.682.291 3. Stasiun Penguapan 406.486.000 1.102.414.600 665.465.500 2.174.366.100 4. Stasiun Masakan 148.744.000 1.103.797.500 7.014.046.500 8.266.588.000 5. Stasiun Putaran 896.890.000 1.751.711.572 16.335.622.051 655.384.000 19.639.607.623 6. Stasiun Ketelan 1.407.983.350 1.795.960.428 3.203.943.778 7. Stasiun Boiler 524.277.300 391.338.600 915.615.900 8. Stasiun Listrik 447.275.047 968.789.100 1.328.122.000 643.753.150 3.387.939.297 9. Stasiun Instrumen 338.139.300 74.450.000 412.589.300 B.

Sarana Prasarana Pendukung

1. Pemeliharaan Bangunan Perusahaan 743.175.565 743.175.565 2. Pemeliharaan Bangunan Rumah 108.695.728 108.695.728 3. Perabot dan Perlengkapan Kantor/Laboratorium 44.550.000 299.955.750 297.297.500 641.803.250

4. Jalan, Jembatan & Saluran Air

230.374.679 44.966.472 275.341.151

5. Pengangkutan 55.343.000 55.343.000

6. Inventaris Kecil 43.620.000 43.620.000 Jumlah 3.992.312.397 11.779.459.829 30.606.517.007 1.808.545.750 48.186.834.983

Dari table 5.1, terlihat jumlah total investasi di PGSS dari tahun 2010 –

sampai tahun 2013 adalah sebesar Rp. 48,1 Milyard. Tujuan pembelian dan perbaikan mesin produksi adalah untuk meningkatkan hasil produksi yang lebih baik. Dan investasi yang terbesar adalah pada stasiun putaran, yaitu 19,6 Milyard. Dari hasil wawancara di lapangan hal ini dilakukan karena beberapa alasan diantaranya mesin/peralatan lama memiliki kapasitas produksi yang kecil yaitu 650 kg/3 menit, teknologi dan tingkat otomatisasi rendah, sementara mesin/alat yang baru memiliki kapasitas 1.500 kg/3menit. Serta alat baru ini tingkat otomatisasinya tinggi dan penggunaan operasionalnya lebih mudah. Ini adalah contoh gambar dari mesin High Grade Centrifugal.

Gambar 5.9 Mesin Lama dan Baru High Grade Fugal di Stasiun Putaran Keterangan:

a. Mesin lama High Grade Fugal yang masih dioperasikan b. Mesin baru High Grade Fugal

Dengan adanya perbaikan mesin lama dan pembelian mesin baru diharapkan hasil produksi gula baik dari tebu maupun raw sugar dapat meningkat

baik dari segi kualitas, maupun kuantitas. Pihak Manajemen, karyawan pimpinan maupun karyawan pelaksana, begitu juga dengan PKWT (Pekerja Kebutuhan Waktu Tertentu), tenaga harian lepas, perlu mengintegrasikan atau mensinkronisasikan mesin produksi dalam mengoptimalkan rendemen gula. 5.3 Humanware/Perangkat Manusia

Humanware sebagai pemakai teknologi dalam mengoptimalkan teknologi menjadi perhatian khusus. Dari pengamatan dan konsultasi dilapangan humanware atau dalam hal ini SDM di PGSS masih banyak yang mengeluh dengan reward yang di berikan PGSS. Karena itu perlu di berlakukan reward and funishment. Karyawan yang berprestasi diberi hadiah bisa berupa kenaikan jenjang karir, uang, pendidikan, dan bagi yang melanggar disiplin dapat dikenakan sanksi. Dengan adanya hal ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas karyawan.

Teknologi diperkenalkan kepada penggunanya (karyawan pelaksana) dengan cara pelatihan dan pengarahan dari perusahaan pengada mesin. Pelatihan juga diajarkan dari karyawan lamar kepada karyawan baru. PKWT (Pelaksana Kerja Waktu Tertentu) hanya direkrut ketika PGSS berproduksi, hal ini menyebabkan setiap tahunnya pekerja di PGSS dari PKWT ini berubah setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan perlu adanya pelatihan atau pengajaran dari para karyawan tetap dan lama mengajari berulang-ulang kepada PKWT agar mereka mengerti.

Syarat perekrutan PKWT yang masih belum jelas mengakibatkan para PKWT tidak pada bidang keahliannya. Karenanya perlu dilakukan perekrutan PKWT dengan seleksi yang baik, diadakan pendidikan dan peatihan singkat terhadap tugas mereka sebelum PGSS beroperasi ditahunnya.

Dari data yang peneliti temukan KP (Karyawan Pelaksana seperti operator, mandor, teknisi) dibeberapa bagian ada yang hanya tamatan SD / SMP / SMA, sehingga pola pikir dan penerapan teknologi baru dalam pengoperasian mesin baru menjadi terhambat, karena lama dalam mengerti dan harus

berulang-ulang. Karenanya perlu disarankan kepada karyawan tersebut melakukan pendidikan lanjutan, missal paket C, dan dibiyayai oleh perusahaan, agar minimal mereka berpendidikan SMA sederajat semua. Dan bagi karyawan yang dianggap mampu kuliah maka diberikan kesempatan dan biaya untuk kuliah. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan SDM kedepannya.

5.4 Infoware/Perangkat Informasi

Infoware dari mesin pengolahan harus dapat menjadi masukan untuk proses produksi selanjutnya. Peralatan monitoring di stasiun gilingan yang tidak berfungi otomatis di ubah menjadi otomatis, dan beberapa fungsi yang rusak segera diganti.

Gambar 5.10 Peralatan Monitoring di Stasiun Gilingan

Dari beberapa keterangan penjelasan diatas yang diambil dari beberapa literature, maka berdasarkan pengamatan peneliti di PGSS, dalam hal sasaran teknis pihak manajemen sudah tepat dengan memberikan informasi SOP (Standard Operating Procedure), informasi hasil produksi (target capaian) dan informasi penggunaan alat serta petunjuk apa yang harus dikerjakan pada waktu tertentu dan parameternya. Dengan adanya informasi ini yang selalu dikoordinasikan antara pimpinan dan karyawan, diharapkan target produksi yang ingin dicapai dapat terlaksana dengan baik.

5.5 Organware/Perangkat Organisasi

Organware atau yang dikenal dengan struktur organisasi perusahaan mutlak diperlukan dalam perusahaan. Adanya pembagian tanggung jawab menjadikan masing-masinng bidang dapat bekerja optimal. Sumber daya manusia atau dalam hal ini pekerja di PGSS perlu adanya pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan skill dan keahlian di bidangnya. Berdasarkan wawancara di lapangan, sejak tahun 1995 untuk tingkat operator, tidak ada pengiriman pembelajaran, proses pemakaian alat, dipelajari dari para senior yang memakai alat tersebut, lalu diajarkan kepada junior yang akan memakai alat tersebut.

Untuk pengembangan perusahaan, semua elemen perlu mendapat perhatian, khususnya para pekerja. Pihak top manajemen perlu selalu memotivasi bawahannya dala bekerja. Berikut dari hasil pengamatan di lapangan yang di lakukan pihak manajemen dalam meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan, diantaranya dengan memasang spanduk motto di PGSS.

Gambar 5.11 Spanduk Motto di PGSS

Struktur Organisasi di Pabrik Gula Sei Semayang (PGSS) ini dipimpin oleh seorang manajer, yang membawahi empat kepala dinas. Dalam hal manajerial menajer memiliki peran penting dalam mengembangkan usaha PGSS ini. Masing-masing kepala dinas memiliki beberapa orang asisten.

BAB VI

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

6.1 Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif adalah analisis yang dilakukan untuk mendapatkan gambaran deskriptif mengenai responden dalam penelitian ini, khususnya untuk mengetahui persepsi umum responden mengenai variabel-variabel yang diteliti.

6.1.1 Variabel Technoware

Membandingkan parameter kinerja tiap mesin/peralatan di tiap stasiun produksi yang ada di PGSS dengan standard Pabrik Gula di Indonesia adalah sebuah cara untuk mengetahui optimalisasi dari faktor technoware. Hasil kinerja di Pabrik Gula Sei Semayang dari tahun 2011 sampai tahun 2013 yang sudah dirata-ratakan dari ketiga tahun tersebut, dibandingkan dengan standard pabrik

Dokumen terkait