BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
E. Uji Teori
Berdasarkan hasil penelitian atau estimasi model di atas maka dapat dibuat suatu analisis dan pembahasan mengenai pengaruh variabel independen (Kemiskinan, Pengeluaran Pemerintah Bidang Pendidikan dan Pengeluaran Pemerintah Bidang Kesehatan) terhadap Indeks Pembangunan Manusia pada kabupaten/ kota di Provinsi Sulawesi Tengah yang diinterpretasikan sebagai berikut :
1. Pengaruh kemiskinan terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Berdasarkan hasil analisis dapat dijelaskan bahwa variabel kemiskinan berpengaruh negatif dan signifikan. Kemiskinan secara statistik signifikan pada α = 0,05 dengan nilai probabilitas sebesar 0.0007. Variabel Kemiskinan mempunyai koefisien negatif yang berarti antara variabel Kemiskinan dengan Indeks Pembangunan Manusia mempunyai hubungan yang negatif. Koefisien Tingkat Kemiskinan mempunyai nilai sebesar -3.808305 yang berarti apabila terjadi kenaikan nilai Kemiskinan sebesar 1% sedangkan variabel lain tetap maka ada perubahan dalam jumlah variabel dependen yaitu Y (Indeks Pembangunan Manusia) akan menurun sebesar 3.808305 %.
Terlihat bahwa dalam penelitian ini hubungan antara Kemiskinan bernilai negatif terhadap Indeks Pembangunan Manusia, diartikan bahwa ketika variabel yang berada pada sisi kanan model (variabel independen) mengalami kenaikan/ penurunan, maka variabel pada ruas kiri akan mengikuti berlawanan arah yakni penurunan/ kenaikan. Namun terlihat
juga bahwa ternyata Tingkat kemiskinan dalam penelitian ini mempengaruhi IPM di Kabupaten/ Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Sebagai perbandingan dengan penelitian sebelumnya dilakukan Ilza Putra Tunajaya (2015) dengan judul penelitian Faktor-faktor yang mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Seluruh Provinsi Indonesia dengan menggunakan regresi data panel. Dalam penelitian ini terdapat delapan variabel yang digunakankan yaitu variabel Indeks Pembangunan Manusia sebagai variabel dependen dan variabel infrastruktur pendidikan, infrastruktur kesehatan, APBD, ketimpangan, Produk Domestik regional Bruto (PDRB), buta huruf dan kemiskinan sebagai variabel independen. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Tingkat kemiskinan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia).
Sehingga dengan mendasar pada hasil analisis yang didukung dengan data kondisi dilapangan, maka dalam menjawab hipotesis dengan bunyi “Diduga variabel Kemiskinan berpengaruh secara negatif dan signifikan terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2011-2015” terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia).
2. Pengaruh pengeluaran pemerintah bidang pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Berdasarkan hasil analisis dapat dijelaskan bahwa variabel pengeluaran pemerintah bidang pendidikan berpengaruh positif dan
signifikan. Pengeluaran Pemerintah Bidang Pendidikan secara statistik signifikan pada α = 0,05 dengan nilai probabilitas sebesar 0.0006. Variabel pengeluaran pemerintah bidang pendidikan mempunyai koefisien positif yang berarti antara variabel pengeluaran pemerintah bidang pendidikan dengan Indeks Pembangunan Manusia mempunyai hubungan yang positif. Koefisien pengeluaran pemerintah bidang pendidikan mempunyai nilai sebesar 2.911.272 yang berarti apabila terjadi kenaikan nilai pengeluaran pemerintah bidang pendidikan sebesar 1.000 rupiah sedangkan variabel lain tetap maka ada perubahan dalam jumlah variabel dependen yaitu Y (Indeks Pembangunan Manusia) akan meningkat sebesar 2.911.272 %.
Terlihat bahwa dalam penelitian ini hubungan antara pengeluaran pemerintah bidang pendidikan bernilai positif terhadap Indeks Pembangunan Manusia, diartikan bahwa ketika variabel yang berada pada sisi kanan model (variabel independen) mengalami kenaikan/ penurunan, maka variabel pada ruas kiri akan mengikuti berlawanan arah yakni penurunan/ kenaikan. Namun terlihat juga bahwa ternyata dalam penelitian ini pengeluaran pemerintah bidang pendidikan mempengaruhi IPM di Kabupaten/ Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Sebagai perbandingan dengan penelitian sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh Sanggelorang dkk (2015) yang berjudul Pengaruh Pengeluaran Pemerintah di Sektor Pendidikan dan Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Sulawesi Utara menggunakan analisis regresi berganda. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu Indeks
Pembangunan Manusia, Pengeluaran pemerintah Sektor Pendidikan dan Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengeluaran pemerintah sektor pendidikan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Hal tersebut dikarenakan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mengalokasikan data yang besar setiap tahunnya di Sektor Pendidikan, sehingga Indeks Pembangunan Manusia di Sulawesi Utara selalu mengalami peningkatan.
Sehingga dengan mendasar pada hasil analisis yang didukung dengan data kondisi dilapangan, maka dalam menjawab hipotesis dengan bunyi “Diduga variabel pengearuh pengeluaran pemerintah bidang pendidikan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2011-2015” terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia).
3. Pengaruh pengeluaran pemerintah bidang kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia
Berdasarkan hasil analisis nilai koefisien variabel pengeluaran pemerintah bidang kesehatan adalah sebesar 0.458145. Pengeluaran pemerintah bidang kesehatan secaa statistik tidak signifikan pada α = 0,05 dengan nilai probabilitas sebesar 0.1317 lebih besar dari tingkat signifikansi. Hal ini menunjukan bahwa hipotesis yang menyatakan
pengeluaran pemerintah bidang kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia tidak dapat diterima. Untuk variabel pengeluaran pemerintah bidang kesehatan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Sehingga dapat diartikan bahwa pengeluaran pemerintah bidang kesehatan tidak berpengaruh terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2011-2015.
Pengeluaran pemerintah bidang kesehatan tidak berpengaruh signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sulawesi Tengah dikarenakan porsi alokasi belanja pemerintah untuk kesehatan masih sangat minim apabila dibandingkan dengan alokasi belanja pemerintah untuk pendidikan. Rendahnya pengeluaran pemerintah bidang kesehatan mencerminkan bahwa dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di Provinsi Sulawesi Tengah pemerintah daerah lebih memfokuskan pada peningkatan sektor pendidikan dibandingkan sektor kesehatan. Perbandingan pengeluaran pemerintah bidang pendidikan dan kesehatan dapat dilihat pada gambar 5.1.
Berdasarkan Gambar 5.1 menunjukan bahwa porsi alokasi belanja pemerintah bidang kesehatan setiap tahunnya meningkat, kecuali pada tahun 2014 sedikit mengalami penurunan. Namun, peningkatan belanja pemerintah bidang kesehatan masih sangat kecil dibandingkan dengan belanja pemerintah bidang pendidikan. Kecilnya alokasi belanja kesehatan menyebabkan sulitnya masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan.
Pada tahun 2015, jumlah rumah sakit di Provinsi Sulawesi Tengah sebanyak 25 Unit dimana sepuluh diantaranya berada di Kota Palu sedangkan di setiap Kabupaten hanya memiliki rata-rata satu rumah sakit. Sementara itu, ketersediaan rumah bersalin hanya terdapat di Kota Palu dan Kabupaten Banggai sedangkan kabupaten lainnya belum tersedia.
Sumber : DJPK Kemenkeu, 2011-2015
Gambar 5.1
Pengeluaran Pemerintah Bidang Pendidikan dan Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah
Selain ketersediaan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit juga di perlukan tenaga medis yang memadai. Apabila dilihat dari rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk, jumlah tenaga kesehatan masih kurang memadai. Berdaarkan data BPS (2015) jumlah dokter umum di Provinsi Sulawesi Tengah hanya 440 orang, sedangkan jumlah penduduk sulawesi Tengah sebanyak 2,88 juta jiwa, berarti 1 (satu) dokter terbebani
1.592.018 1.973.317 2.152.474 2.307.766 2.526.907 446.337 515.255 717.280 705.351 873.917 0 200.000 400.000 600.000 800.000 1.000.000 1.200.000 1.400.000 1.600.000 1.800.000 2.000.000 2.200.000 2.400.000 2.600.000 2.800.000 2011 2012 2013 2014 2015
Pengeluaran Pemerintah Bidang Pendidikan & Kesehatan (Juta Rupiah)
sekitar 6,5 ribu penduduk. Beban ini masih terlalu besar sehingga jumlah dokter masih perlu penambahan lagi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di Sulawesi Tengah. Selain itu, jumlah penduduk setiap tahunnya mengalami peningkatan sehingga kebutuhan akan tenaga medis juga akan terus meningkat. Rendahnya alokasi belanja pemerintah bidang kesehatan menyebabkan sulitnya masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan dan akan berdampak pada rendahnya kualitas hidup masyarakat, serta akan menghambat produktifitas masyarakat itu sendiri.
Sebagai perbandingan dengan penelitian sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh Sanggelorang dkk (2015) yang berjudul Pengaruh Pengeluaran Pemerintah di Sektor Pendidikan dan Kesehatan terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Sulawesi Utara menggunakan analisis regresi berganda. Penelitian ini menggunakan tiga variabel yaitu Indeks Pembangunan Manusia, Pengeluaran pemerintah Sektor Pendidikan dan Pengeluaran Pemerintah Sektor Kesehatan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengeluaran pemerintah bidang kesehatan berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia. Hal tersebut dikarenakan pemerintah di Provinsi Sulawesi Utara telah membangun beberapa sarana kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas di beberapa tahun belakangan ini sehingga banyak memakan anggaran.
Sehingga dengan mendasar pada hasil analisis yang didukung dengan data kondisi dilapangan, maka dalam menjawab hipotesis dengan
bunyi “Diduga variabel pengearuh pengeluaran pemerintah bidang kesehatan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2011-2015” tidak terbukti karena memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia).