• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.6 Uji Toksisitas Kulit

Uji toksisitas perlu dilakukan untuk mengetahui keamanan penggunaan bahan baru di dalam formula kosmetik. Beberapa data keamanan diperlukan untuk aplikasi kosmetik yang memanfaatkan bahan baku yang termasuk baru seperti ekstrak tanaman. Pengujian bahan sebagai bahan baku kosmetik antara lain meliputi uji toksisitas akut, uji iritasi kulit primer, uji iritasi kulit kumulatif, uji sensitisasi, uji iritasi mata, uji mutagenik dan juga uji patch test pada manusia. Uji toksisitas kulit yang dilakukan pada penelitian ini adalah uji iritasi primer. Pengujian ini menggunakan 4-6 ekor kelinci jantan New Zealand dengan bobot 1.5-2 kg. Uji tingkat iritasi kulit dilakukan terhadap ekstrak jarak serta produk krim yang mengandung ekstrak jarak pagar dengan menggunakan teknik Draize test yang umum digunakan untuk mendefinisikan iritant lokal utama sebagai senyawa yang menghasilkan reaksi radang kulit.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa fraksi etil asetat daun jarak dengan dengan konsentrasi 0,1% – 1,25% tidak menyebabkan perubahan reaksi kulit (PII = 0), sedangkan konsentrasi 2,5% menyebabkan reaksi peradangan berupa eritema dan menghasilkan nilai PII sebesar 0,25 (Tabel 20). Adapun fraksi metanol daun jarak pagar dengan konsentrasi 0,064% - 1% tidak menghasilkan reaksi iritasi kulit (PII = 0).

Tabel 20 Hasil Primary Skin Irritation Testing

Bahan uji Respon reaksi kulit* Nilai PII Fraksi etil asetat

0,1% ( 0 + 0 )/4 0 0,5% ( 0 + 0 )/4 0 1,25% ( 0 + 0 )/4 0 2,50% ( 1 + 0 )/4 0,25 Fraksi metanol 0,064% ( 0 + 0 )/4 0 0,1% ( 0 + 0 )/4 0 0,5% ( 0 + 0 )/4 0 1% ( 0 + 0 )/4 0 Produk krim

Krim tanpa pengawet ( 0 + 0 )/4 0

Krim dg pengawet komersial ( 0 + 0 )/4 0

Krim dengan fraksi metanol 0,064% ( 1 + 0 )/4 0,25 Krim dengan fraksi etil asetat 1,25% ( 5 + 0 )/4 1,25 Ekstrak daun jarak

Ekstrak kasar (1:1) ( 5 + 0 )/4 1,25

Fraksi metanol (1:1) ( 0 + 0 )/4 0

Fraksi etil asetat (1:1) ( 9 + 0 )/4 2,25

Kontrol positif (SDS 20%) (21 + 0 )/4 5,25

Keterangan: Respon reaksi kulit*: (Jumlah maksimal score eritema dan pembentukan kerak +

jumlah maksimal score edema)/Jumlah kelinci

Pengujian sifat iritasi terhadap produk krim memperoleh hasil bahwa produk krim yang mengandung fraksi etil asetat sebesar 1,25% menunjukkan reaksi eritema dan menghasilkan PII sebesar 1,25 (produk bersifat iritasi ringan), begitu juga produk krim dengan penambahan fraksi metanol sebesar 0,064% juga menunjukkan reaksi eritema meskipun dengan nilai PII lebih rendah yaitu 0,25 (iritasi lemah).

Pada pengujian ekstrak daun jarak, ekstrak kasar menghasilkan reaksi iritasi ringan (PII = 1,25), fraksi metanol tidak menghasilkan reaksi iritasi (PII=0), sedangkan fraksi etil asetat juga menghasilkan iritasi ringan dengan PII cukup tinggi yaitu 2,25. Kontrol positif yang digunakan yaitu Sodium Dedocyl Sulfat (SDS) 20% menghasilkan tingkat iritasi parah/berat (PII = 5,25).

Produk krim dengan penambahan fraksi etil asetat sebesar 1,25% sebagai zat antimikroba menyebabkan iritasi ringan (PII 1,25). Senyawa-senyawa aktif dalam fraksi etil asetat teridentifikasi dapat menyebabkan reaksi iritasi kulit, meskipun pada konsentrasi yang sama fraksi etas dalam bentuk larutan ekstrak

hanya menyebabkan iritasi yang bisa diabaikan (PII 0,25). Hal ini menunjukkan bahwa bentuk sediaan aplikasi mempengaruhi tingkat iritasi. Bentuk krim yang padat dapat meningkatkan penetrasi pada kulit dibandingkan bentuk larutan karena bahan dapat menempel lebih lama pada kulit. Selain itu adanya interaksi senyawa dalam ekstrak dengan senyawa lain dalam formula kosmetik juga memungkinkan untuk menimbulkan reaksi iritasi.

Fraksi etil asetat ekstrak daun jarak pagar menunjukkan tingkat iritasi yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena senyawa-senyawa dalam fraksi tersebut memiliki sifat toksik/iritasi antara lain senyawa benzeneethanol, senyawa fenol serta senyawa terpen.

Senyawa diterpen yaitu ester forbol merupakan senyawa toksik jarak pagar yang bersifat mengiritasi kulit. LD50 pada mencit jantan adalah 27.34 mg/kg berat badan. Adolf et al. (1984) mengkaji tingkat iritasi turunan senyawa forbol dari empat species Jatropha dengan menggunakan prosedur distribusi kromatografi dan countercurrent. Komponen dengan tingkat iritasi tinggi yang diisolasi dari jarak pagar adalah senyawa ester forbol (12-deoxy-16-hydroxyphorbol). Iritasi kulit yang teridentifikasi pada larutan fraksi etil asetat ekstrak daun jarak serta produk krim yang mengandung ekstrak tersebut dapat disebabkan oleh kandungan ester forbol.

Gejala toksisitas jarak pagar tergantung pada jenis ekstrak, dosis/kosentrasi, cara pemberian/cara aplikasi serta sensitivitas hewan yang digunakan. Fraksi toksik dari minyak jarak pagar yang diaplikasikan pada kulit

kelinci dengan dosis 100μl menunjukkan reaksi eritema dan edema, yang

kemudian menjadi nekrosis dan teregenerasi. Skor eritema dan edema yang dihasilkan adalah 5,83 dari total skor 8, adapun aplikasi minyak jarak pagar menghasilkan skor iritasi 0,58. Fraksi toksik yang sama yang diaplikasikan pada

mencit dengan dosis 50 μl menunjukkan pembengkakan wajah, mata berdarah, diare dan eritema kulit sebelum terjadi kematian. Sedangkan aplikasi pada kulit tikus (4 jam) pada dosis 50 μl menunjukkan edema dan eritema yang kemudian menyebabkan scaling/pembentukan kerak yang parah dan terjadi penebalan kulit (Gandhi et al., 1995).

Beberapa komponen dalam kosmetik memang dapat berpotensi mengiritasi kulit antara lain zat pengawet (zat antimikroba), antioksidan, pewangi, pewarna dan pelindung UV. Pada penelitian produk krim yang menggunakan pengawet komersial tidak menghasilkan reaksi iritasi kulit, sama dengan produk krim yang tidak menggunakan bahan pengawet. Hal ini menunjukkan bahwa bahan pengawet komersial cukup aman. Sebagaimana dilaporkan oleh FDA, pada tahun 1984, The Cosmetic Ingredient Review (CIR) telah mengkaji keamanan penggunaan bahan pengawet paraben. Disimpulkan bahwa bahan tersebut aman digunakan dalam produk kosmetik hingga level 25%. Umumnya paraben digunakan pada rentang konsentrasi 0,01 – 0,3%. Hingga saat ini kajian tentang keamanan pengawet paraben telah dilakukan beberapa kali dan hasilnya masih belum berubah tentang keamanannya.

Mitsui (1997) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi respon kulit dalam pengujian iritasi kulit. Pertama adalah bahan uji yang meliputi sifat fisikokimia, kemurnian, pelarut/pengencer dan konsentrasi. Kedua adalah faktor biologi seperti faktor genetik, jenis kelamin, umur dan kondisi kulit. Faktor ketiga adalah kondisi lingkungan seperti cuaca, suhu dan kelembaban, dan faktor keempat adalah aplikasi dan penggunaan seperti frekuensi, kondisi penanganan, periode aplikasi dan penggunaan. Dalam pengujian tingkat iritasi kulit ini faktor kedua hingga keempat diasumsikan sama, sehingga hasil hanya dipengaruhi oleh sifat bahan.

Beberapa bahan dalam formulasi produk kosmetik seperti surfaktan maupun pengawet memang berpotensi untuk mengiritasi kulit. Oleh karena itu dalam beberapa formula ditambahkan zat anti iritasi yang dapat mengurangi tingkat iritasi seperti penambahan alantoin dalam formula produk krim ini. Selain itu dapat juga digunakan bahan-bahan alam yang dapat mengurangi tingkat iritasi seperti jus gel lidah buaya dan sejenis lumut irish moss sebagaimana dilaporkan dalam US Patent No. 6.485.711.

Dokumen terkait