• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Responden

1. Uji Validitas dan Reliabilitas

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan

fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur, yang sesuai dengan maksud dilakukanya pengukuran tersebut (Wiyono, 2011:111). Teknik korelasi yang digunakan adalah korelasi product moment. Berikut ini rumus korelasi product moment:

Keterangan:

= Koefisien korelasi setiap pertanyaan

X = Skor tiap item pertanyaan

Y = Skor seluruh pertanyaan (total Variabel) n = Jumlah responden

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang realibel (reliable). Walupun reliabilitas mempunyi berbagai nama lain seperti keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi, dan sebagainya, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep relibilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Metode uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik Alpha-Cronbach. Hasil pengujian dapat dikatakan reliabel jika nilai Alpha-Cronbach diatas 0,6. Dinyatakan dalam rumus (Wiyono, 2011:116):

][1-

Keterangan :

= Reliabilitas instrumen

K = Banyaknya item pertanyaan

∑ = Jumlah varian butir

= Varian total

J. Teknik Analisis Data

Untuk menjawab rumusan masalah, maka peneliti melakukan langkah sebagai berikut:

1. Uji Korelasi Rank-Spearman

Dalam uji korelasi, peneliti menggunakan korelasi peringkat Spearman (Rank-Spearman) untuk mengetahui dan mengukur kekuatan hubungan antar variabel. Peneliti menggunakan alat bantu SPSS 21 untuk melakukan uji korelasi pringkat Spearman tersebut. Metode ini dipilih dengan pertimbangan ada kemungkinan data yang diolah tidak berdistribusi normal. Dengan demikian peneliti merasa metode Rank-Spearman lebih cocok untuk digunakan dalam penelitian ini, karena kemampuannya untuk melakukan pengujian pada data tidak berdistribusi normal ataupun statistik non parametrik sekalipun. Langkah-langkah yang digunakan dalam uji korelasi Rank-Spearman sebagai berikut. Menghitung koefisien korelasi Rank-Spearman dengan menggunakan program SPSS (Santoso, 2010:241).

50 BAB IV

GAMBARAN UMUM KPP PRATAMA SLEMAN

A. Sejarah

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sleman dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 132/PMK.01/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 55/PMK.01/2007. Sesuai Keputusan Direktur Jendereal Pajak Nomor KEP-141/PJ/2007 tentang Penerapan Organisasi, Tata Kerja, dan Saat Mulai Beroperasinya Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kantor Pelayanan Pajak Pratama dan Kantor Pelayanan, Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah I, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jawa Tengah II, dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Daerah Istimewa Yogyakarta, ditetapkan bahwa Sistem Administrasi Modern pada KPP Pratama Sleman dimulai sejak tanggal 30 Oktober 2007. KPP Pratama Sleman bersama KPP Pratama Wates dan KPP Pratama Wonosari merupakan pemecahan dari KPP Pratama Yogyakarta Dua. Selain itu, KPP Pratama Sleman juga merupakan penggabungan dari Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan sebagai fungsi Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak Yogyakarta.

KPP Pratama Sleman menempati lantai I, lantai IV, dan lantai V Gedung Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Daerah Istimewa Yogyakarta yang diresmikan oleh Ibu Sri Mulyani selaku Menteri Keuangan Republik Indonesia pada tanggal 5 November 2007. Wilayah kerja KPP Pratama Sleman mencakup seluruh wilayah Kabupaten Sleman yang terdiri dari 17 wilayah Kecamatan, 86 Desa, dan 1212 Dusun.

B. Visi dan Misi Direktorat Jendral Pajak 1. Visi

Menjadi Institusi Penghimpunan Penerimaan Negara yang Terbaik demi Menjamin Kedaulatan dan Kemandirian Negara.

2. Misi

Menjamin penyelenggaraan negara yang berdaulat dan mandiri dengan: 1. Mengumpulkan penerimaan berdasarkan kepatuhan pajak suka rela

yang tinggi dan penegakan hukum yang adil;

2. Pelayanan berbasis teknologi moderen untuk kemudahan pemenuhan kewajiban perpajakan;

3. Aparatur pajak yang berintegritas, kompeten dan profesional; dan 4. Kompensasi yang kompetitif berbasis sistem manajemen kinerja.

C. Struktur Organisasi

Gambar II. Struktur Organisasi KPP Pratama Sleman Sumber: Sub Bagian Umum KPP Pratama Sleman

Kepala Kantor

Seksi Pengolahan Data dan Informasi

Seksi Pelayanan

Seksi Penagihan

Seksi Pemeriksaan

Sub Bagian Umum dan Kepatuhan Internal Seksi Pengawasan dan

Konsultasi I Seksi Pengawasan dan

Konsultasi II Seksi Pengawasan dan

Konsultasi III Seksi Pengawasan dan

Konsultasi IV Seksi EkstensifikasI dan

Penyuluhan

Kelompok Fungsional Pemeriksa Pajak

Tabel 4.1 Jumlah Sumber Daya Manusia KPP Pratama Sleman

No Seksi Jumlah

1 Kepala Kantor 1

2 Sub Bagian Umum 10

3 Seksi Pelayanan 17

4 Seksi Penagihan 5

5 Seksi Pengolahan Data dan Informasi 6

6 Seksi Pemeriksaan 3

7 Seksi Ekstensifikasi Perpajakan 7 8 Seksi Pengawasan dan Konsultasi I 8 9 Seksi Pengawasan dan Konsultasi II 14 10 Seksi Pengawasan dan Konsultasi III 13 11 Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV 12 12 Kelompok Jabatan Fungsional 15

JUMLAH 111

54 BAB V

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A.Deskripsi Data Responden

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sleman, Yogyakarta jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi yang terdaftar sebesar 150.053. Penentuan besarnya sampel minimum dihitung menggunakan rumus Slovin. Sampel minimum yang dibutuhkan adalah sebanyak 100 sampel. Berikut perhitungannya:

= = = = 99,95

Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 100 WPOP. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada Wajib Pajak Orang Pribadi yang berada di KPP Pratama Sleman, Yogyakarta.

Kuesioner yang disebarkan kepada WPOP berjumlah 100 kuesioner. Dari 100 kuesioner yang disebarkan dan dikembalikan sejumalah 100 kueisoner. Deskripsi karakteristik responden dalam penelitian ini terdiri dari frekuensi dan presentase usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan dan tahun kepemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak.

1. Responden Berdasarkan Usia

Tabel 5.1

Data Responden Berdasarkan Usia Keterangan Frequency Percent Valid

Percent Cumulative Percent Valid 20-30 Tahun 20 20.0 20.0 20.0 31-40 Tahun 54 54.0 54.0 74.0 41-50 Tahun 23 23.0 23.0 97.0 51-60 Tahun 2 2.0 2.0 99.0 60-70 Tahun 1 1.0 1.0 100.0 Total 100 100.0 100.0 Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa frekuensi responden tertinggi dalam penelitian ini berusia 31-40 tahun sebanyak 54 responden. Lainya 23 responden berusia 41-50 tahun, 20 responden berusia 20-30 tahun, 2 responden berusia 51-60 tahun dan 1 responden berusia 60-70 tahun. Responden terbesar berdasarkan usia yaitu pada usia 31-40 tahun yang dimana usia tersebut, masuk dalam masa dewasa. Pada usia dewasa ini, perkembangan cara berfikir telah matang sehingga memiliki pengetahuan luas.

2. Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 5.2

Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa frekuensi responden laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan frekuensi responden perempuan. Frekuensi responden laki-laki sebanyak 56 responden dan frekuensi responden perempuan sebanyak 44 responden. Responden terbesar berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki sebanyak 56 responden yang menunjukan bahwa laki-laki lebih berorientasi kepada pikiran praktis dan mampu memberikan kesimpulan yang logis.

Keterangan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid laki-laki 56 56.0 56.0 56.0 Perempuan 44 44.0 44.0 100.0 Total 100 100.0 100.0

3. Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 5.3

Data Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui bahwa responden yang berpendidikan S-1 menunjukkan frekuensi tertinggi dengan jumlah 46 responden. Lainya 21 responden berpendidikan SMA Sederajat, 16 responden berpendidikan D-3/Akademik, 15 responden berpendidikan S-2 dan 2 responden berpendidikan SMP sederajat. Responden terbesar berdasarkan tingkat pendidikan yaitu S1 sebanyak 46 responden yang menunjukan bahwa S1 merupakan jenjang pendidikan tinggi yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar pada seseorang, baik secara umum maupun spesifik di suatu bidang keilmuan. Selain itu, jenjang ini juga bertujuan untuk membentuk pola pikir dan sikap seorang dalam pembelajar cepat dan jenjang S1 ini bisa dijadikan fondasi yang lebih banyak dibangun dari komponen pola pikir dan pola sikap.

Keterangan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid SMP Sederajat 2 2.0 2.0 2.00 SMA Sederajat 21 21.0 21.0 23.0 D-3/Akademik 16 16.0 16.0 39.0 S-1 46 46.0 46.0 85.0 S-2 15 15.0 15.0 100.0 Total 100 100.0 100.0

4. Responden Berdasarkan Pekerjaan Tabel 5.4

Data Responden Berdasarkan Pekerjaan

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel 5.4 dapat diketahui bahwa responden dengan pekerjaan sebagai PNS mempunyai frekuensi paling tinggi dengan jumlah 35 responden. Lainya 33 responden dengan pekerjaan wiraswasta, 28 responden dengan pekerjaan karyawan swasta, 2 responden dengan pekerjaan POLRI, 1 responden dengan pekerjaan wartawan dan 1 responden dengan pekerjaan guru.Responden terbesar berdasarkan pekerjaan yaitu PNS sebanyak 35 responden yang menunjukan bahwaperilaku kerja merupakan setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh seorang PNS yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun unsur perilaku kerja meliputi kedisiplinan merupakan kesanggupan seorang PNS untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditentukan dalam

Keterangan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Guru 1 1.0 1.0 1.0 Karyawan Swasta 28 28.0 28.0 29.0 Pegawai Negri Sipil

(PNS) 35 35.0 35.0 64.0 POLRI 2 2.0 2.0 66.0 Wartawan 1 1.0 1.0 67.0 Wiraswasta 33 33.0 33.0 100.0 Total 100 100.0 100.0

peraturan perundang-undangan atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi sanksi.

5. Responden Berdasarkan Tahun Kepemilikan NPWP Tabel 5.5

Data Responden Berdasarkan Tahun KepemilikanNPWP

Sumber: Data diolah

Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa responden dengan tahun perolehan NPWP pada tahun 2013 memiliki frekuensi tertinggi dengan jumlah 22 responden. Lainya 19 responden dengan tahuan perolehan NPWP pada tahun 2012, 17 responden dengan tahun perolehan NPWP pada tahun 2010, 14 responden dengan tahun perolehan NPWP pada tahun 2014, 11 responden dengan tahun perolehan NPWP pada tahun 2015, 3 responden dengan tahun perolehan NPWP pada tahun 2009 dan 1 responden dengan tahun perolehan NPWP pada tahuan 2008. Responden terbesar berdasarkan tahun kepemilikan NPWP yaitu tahun 2013 sebanyak 22 responden yang

Keterangan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 2008 1 1.0 1.0 1.0 2009 3 3.0 3.0 4.0 2010 17 17.0 17.0 21.0 2011 13 13.0 13.0 34.0 2012 19 19.0 19.0 53.0 2013 22 22.0 22.0 75.0 2014 14 14.0 14.0 89.0 2015 11 11.0 11.0 100.0 Total 100 100.0 100.0

menunjukan bahwa Wajib Pajak patuh dalam melaporkan SPT yang berkepemilikan NPWP 2013.

B. Deskripsi Hasil Kuesioner

Deskripsi ini berisis data penelitian atau hasil dari kuesioner yang telah disebarkan tentang variabel yang digunakan. Deskripsi hasil kuesioner memuat data statistik seperti rerata (mean), simpangan baku (standar deviasi), serti skor minimum dan skor maksimum. Deskripsi hasil kuesioner secara rinci dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 5.6

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Pengetahuan Pajak 100 21 40 34.23 3.504 Kualitas Pelayanan AR 100 27 40 34.84 3.187 Konsultasi AR 100 23 39 33.80 3.414 Kepatuhan WPOP 100 20 35 28.81 3.119 Valid N (listwise) 100 Sumber: Data diolah

Keterangan:

N = Jumlah responden;

Minimum = Jumlah total skor terendah dari setiap variabel; Maksimum = Jumlah total skor tertinggi dari setiap variabel; Mean = Besarnya nilai rata-rata;

1. Persepsi Pengetahuan Pajak

Pengetahuan pajak menggambarkan seberapa banyak ilmu atau wawasan tentang pajak yang dimiliki atau diketahui oleh Wajib Pajak. Setiap Wajib Pajak Orang Pribadipasti memiliki pengetahuan yang berbeda-beda. Sebagian besar pengetahuan pajak diperoleh WPOP dari sosialisasi yang diberikan oleh petugas pajak. Sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pajak seorang Wajib Pajak sehingga dapat menambah pengetahuan dan mampu memberikan kesadaran akan pentingnya pajak.

Berdasarkan tabel di atas, nilai rata-rata dari pengetahuan pajak adalah sebesar 34,23 dengan standar deviasi ± 3,504. Artinya, besarnya nilai rata-rata pengetahuan pajak terletak diantara jarak dari 30,726 (34,23 – 3,504) sampai dengan 37,734 (34,23+3,504). Nilai minimum sebesar 21 dan nilai maksimum sebesar 40 adalah total skor terkecil dan terbesar dari jawaban responden.

2. Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative

Kualitas pelayanan yang diberikan Account Representative dikatakan berkualitas apabila dapat menyediakan produk atau jasa (pelayanan) sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan. Kualitas pelayanan diukur dengan kemampuan memberikan pelayanan yang memuaskan, memberikan pelayanan dengan tanggap, kemampuan, kesopanan dan sikap dapat dipercaya yang dimiliki oleh petugas pajak.

Berdasarkan tabel di atas, nilai rata-rata dari kualitas pelayanan adalah sebesar 34,84 dengan standar deviasi ± 3,187. Artinya, besarnya nilai rata-rata kualitas pelayanan Account Representative terletak diantara jarak dari 31,653 (34,84-3,187) sampai dengan 38,027 (34,84+3,187). Nilai minimum sebesar 27 dan nilai maksimum sebesar 40 adalah total skor terkecil dan terbesar dari jawaban responden.

3. Persepsi Konsultasi Account Representative

Konsultasi memberikan arti bahwa Account Representative merupakan pegawai DJP yang ditugaskan menjadi seorang konsultan internal DJP untuk Wajib Pajak, dengan kata lain Account Representative adalah mitra (kawan) bagi Wajib Pajak dalam hal memberikan bimbingan berupa informasi ataupun pengetahuan perpajakan.

Berdasarkan tabel di atas, nilai rata-rata dari Konsultasi Account Representative adalah sebesar 33,80 dengan standar deviasi ± 3,414. Artinya, besarnya nilai rata-rata Konsultasi Account Representative terletak diantara jarak dari 30,386 (33,80-3,414) sampai dengan 37,214 (33,80+3,414). Nilai minimum sebesar 23 dan nilai maksimum sebesar 39 adalah total skor terkecil dan terbesar dari jawaban responden.

4. Persepsi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP)

Kepatuhan Wajib Pajak adalah perilaku Wajib Pajak yang taat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan perpajakan. Kepatuhan pajak didasarkan pada adanya kewajiban WPOP untuk memasukkan Surat Pemberitahuan (SPT) dan melaporkan semua penghasilan secara akurat.

Berdasarkan tabel di atas, nilai rata-rata dari kepatuhan Wajib pajak Orang Pribadi adalah sebesar 28,81 dengan standar deviasi ± 3,119. Artinya, besarnya nilai rata-rata kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi terletak diantara jarak dari 25,691 (28,81-3,119) sampai dengan 31,929 (28,81+3,119). Nilai minimum sebesar 20 dan nilai maksimum sebesar 35 adalah total skor terkecil dan terbesar dari jawaban responden.

C. Teknik Pengujian Instrumen 1. Uji Validitas dan Reliabilitas

Dalam penelitian ini, pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Data diperoleh dengan cara membagikan kuesioner kepada Wajib Pajak Orang Pribadi di ruang lingkup Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sleman, Yogyakarta. Kuesioner yang disebarkan 100 kuesioner, dari hasil kuesioner yang disebar 100 atau tingkat pengembalian kuesioner 100%.

Kuesioner terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu bagian I (pertama) berisi data responden yang akan digunakan untuk mengetahui karakteristik responden antara lain nama, umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan kepemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak. Sedangkan bagian II (kedua) berisi pernyataan mengenai

persepsi pengetahuan pajak, persepsi kualitas pelayanan, persepsi konsultasi Account Representative dengan persepsi kepatuhan WPOP. a. Uji Validitas

Uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode korelasi product moment yang telah dibahas pada bab terdahulu. Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Wiyono, 2011:111).

1) Variabel Persepsi Pengetahuan Pajak

Tabel 5.7 Analisis Uji Validitas Variabel Persepsi Pengetahuan Pajak

No. Item Nilai Nilai

Keterangan 1 0.507 0.1946 Valid 2 0.616 0.1946 Valid 3 0.479 0.1946 Valid 4 0.542 0.1946 Valid 5 0.491 0.1946 Valid 6 0.554 0.1946 Valid 7 0.502 0.1946 Valid 8 0.513 0.1946 Valid

Sumber: Data Primer Diolah

Berdasarkan tabel 5.7 dapat dilihat bahwa semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai variabel persepsi pengetahuan pajak memiliki lebih

bahwa semua pernyataan untuk variabel persepsi pengetahuan pajak dinyatakan valid.

2) Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative

Tabel 5.8 Analisis Uji Validitas Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative

Sumber: Data Primer Diolah

Berdasarkan tabel 5.8 dapat dilihat bahwa semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative memiliki lebih besar dari ( > ). Jadi

dapat disimpulkan bahwa semua pernyataan untuk Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative dinyatakan valid.

No. Item Nilai Nilai

Keterangan 1 0.440 0.1946 Valid 2 0.554 0.1946 Valid 3 0.571 0.1946 Valid 4 0.526 0.1946 Valid 5 0.439 0.1946 Valid 6 0.571 0.1946 Valid 7 0.542 0.1946 Valid 8 0.487 0.1946 Valid

3) Variabel Persepsi Konsultasi Account Representative Tabel 5.9 Analisis Uji Validitas Variabel Persepsi

Konsultasi Account Representative No. Item Nilai

Nilai Keterangan 1 0.576 0.1946 Valid 2 0.527 0.1946 Valid 3 0.652 0.1946 Valid 4 0.529 0.1946 Valid 5 0.438 0.1946 Valid 6 0.563 0.1946 Valid 7 0.394 0.1946 Valid 8 0.473 0.1946 Valid

Sumber: Data Primer Diolah

Berdasarkan tabel 5.9 dapat dilihat bahwa semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai Variabel Persepsi Konsultasi Account Representative memiliki

lebih besar dari ( > ). Jadi dapat

disimpulkan bahwa semua pernyataan untuk Variabel Persepsi Konsultasi Account Representative dinyatakan valid.

4) Variabel Persepsi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Tabel 5.10 Analisis Uji Validitas Variabel Persepsi

Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi

Sumber: Data Primer Diolah

Berdasarkan tabel 5.10 dapat dilihat bahwa semua butir pernyataan yang digunakan untuk mencari data mengenai Variabel Persepsi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi memiliki lebih besar dari ( > ). Jadi

dapat disimpulkan bahwa semua pernyataan untuk Variabel Persepsi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi dinyatakan valid.

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang realibel (reliable). Walupun reliabilitas mempunyi berbagai nama lain

No. Item Nilai Nilai Keterangan

1 0.510 0.1946 Valid 2 0.526 0.1946 Valid 3 0.534 0.1946 Valid 4 0.549 0.1946 Valid 5 0.512 0.1946 Valid 6 0.483 0.1946 Valid 7 0.678 0.1946 Valid

seperti keterpercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan, konsistensi dan sebagainya, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep relibilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya (Wiyono, 2011:116).

1) Variabel Persepsi Pengetahuan Pajak

Pada tabel 5.11 hasil uji reliabilitas pada variabel persepsi pengetahuan pajak di atas, menunjukan bahwa variabel persepsi pengetahuan pajak memiliki nilai Cronbach's Alpha 0.607 > 0.6. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa variabel pengetahuan pajak adalah reliabel.

2) Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative

Tabel 5.11 Uji Reliabilitas Persepsi Pengetahuan Pajak

Cronbach's Alpha N of Items 0.607 8 Tabel 5.12 Uji Reliabilitas Kualitas Pelayanan Account Representative Cronbach's Alpha N of Items 0.601 8

Pada tabel 5.12 hasil uji reliabilitas pada Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative di atas, menunjukan bahwa Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative memiliki nilai Cronbach's Alpha 0.601 > 0.6. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa Variabel Persepsi Kualitas Pelayanan Account Representative adalah reliabel.

3) Variabel Persepsi Konsultasi Account Representative

Pada tabel 5.13 hasil uji reliabilitas pada Variabel Persepsi Konsultasi Account Representative di atas, menunjukan bahwa Variabel Persepsi Konsultasi Account Representative memiliki nilai Cronbach's Alpha 0.604 > 0.6. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa Variabel Persepsi Konsultasi Account Representative adalah reliabel.

Tabel 5.13 Uji Reliablitas Persepsi Konsultasi Account Representative Cronbach's Alpha N of Items 0.604 8

4) Variabel Persepsi Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi

Pada tabel 5.14 hasil uji reliabilitas pada Variabel Persepsi

Dokumen terkait