BAB IV METODE PENELITIAN
4.7 Uji Validitas dan Reliabilitas
4.7.1 Uji validitas
Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur sesuai dengan ukuran yang sebenarnya. Daftar pertnyaan di katakan valid jika nilai korelasi product momet lebih besar dari r-Tabel 5% = 0,361 dan 1% = 0,463.
Dalam penelitian ini, cara yang digunakan untuk menguji validitas alat ukur adalah validitas konstruk, yaitu penyusunan tolok ukur operasional dari suatu kerangka berpikir. Upaya yang dilakukan adalah (1). membuat tolok ukur berdasarkan kerangka berpikir yang diperoleh dari beberapa kajian pustaka, (2). berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan berbagai pihak yang dianggap menguasai materi yang akan diukur, (3). membuat kuisioner penelitian, dan (4). menetapkan lokasi uji. Langkah pengujian sbb: (1) membuat tabulasi skor untuk setiap nomor pertanyaan untuk setiap responden; (2) pengujian validitas menggunakan rumus korelasi “Product Moment” (Singarimbun dan Effendi, 1995) yang rumusnya sebagai berikut:
( ) ( )
( )
2 2( )
2 2∑ ∑ ∑
∑
∑ ∑
∑
− − − = Y Y N X X N Y X XY N r Keterangan:r = Koefisien korelasi “Product moment” X = Skor pertanyaan no 1, 2 dst Y = Skor total N = Banyaknya soal
4.7.2 Uji reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan dalam mengukur gejala yang sama dalam waktu yang berbeda. Hal ini sama dengan uji validitas dilakukan pada tempat dan responden yang sama. Hasil pengujian reliabilitas alat ukur akan menggunakan teknik belah dua, yaitu mengkorelasikan jawaban belahan pertama dan belahan kedua. Rumus yang digunakan adalah :
r- total = 2 (r.tt) 1 + r.tt
Keterangan :
r-total = angka reliabilitas keseluruhan item atau koefisien reliabilitas r.tt = angka korelasi belahan pertama dan belahan kedua
Nilai Reliabilitas Guttman Split-Half adalah 0,756 ≥ r-tabel, hal ini menunjukkan bahwa alat ukur tersebut mempunyai reliabilitas yang tinggi.
Langkah pengujian sebagai berikut : (1) membuat tabulasi skor untuk setiap nomor pertanyaan untuk setiap responden; dan (2) pengujian reliabilitas dengan menggunakan rumus korelasi sederhana.
4.8 Pengukuran Variabel dan Batasan Operasional
4.8.1 Pengukuran variabel
Untuk dapat mengambil suatu kesimpulan dari data yang diperoleh dalam pengolahan data digunakan metode deskriptif dan analisis statistika.
Tabel 4.3 Variabel dan Indikator Variabel yang Diamati dalam Penelitian
Variabel Indikator Variabel Parameter Skor
Pelayanan Pelayanan pemerintah a. Kegiatan Vaksinasi b. Pemeriksaan Ternak c. Pengobatan ternak sakit
1,2,3,4,5
Penyuluhan Penyuluh a. Rajin
b. Konsisten c. Kontinyu d. Bekerja keras e. Bertanggung jawab f. Inovatif g. Kreatif 1,2,3,4,5
Materi penyuluhan a. Pengenalan penyakit surra b. Penyebab penyakit surra c. Gejala/ciri penyakit d. Cara penularan penyakit e. Pencegahan penyakit surra f. Karantina hewan sakit
Cara pengobatan penyakit surra
h. Jenis obat yang digunakan untuk penyakit surra
i. Penanganan hewan yang mati
1,2,3,4,5
Frekuensi penyuluhan d. Frekuensi penyuluh bertemu dengan peternak
e. Frekuensi kehadiran peternak dalam kegiatan penyuluhan 1
tahun terakhir 1, 2, 3,4,5
Interaksi penyuluh peternak
a. Aktitas diskusi dalam kegiatan penyuluhan
1,2,3,4,5
Pengaturan Aturan-aturan Dinas Peternakan
a. Kebijakan
b. Peternak mengikuti aturan yang ada
c. Penanganan kasus
1,2,3,4,5
Pengetahuan Penyakit a. Penyakit surra
b. Penyebab penyakit surra c. Ciri-ciri penyakit surra
d. Cara penularan penyakit
Pencegahan a. Apa itu pencegahan penyakit surra
b. Vaksinasi penyakit surra c. Pemberian pakan yang sehat d. Kandang yang sehat
Cara pemeliharaan yang sehat
f. Karantina hewan sakit 1,2,3,4,5
Pengobatan a. Cara pengobatan penyakit surra
b. Jenis obat yang digunakan untuk mengobati penyakit surra
1,2,3,4,5
Keterampilan Penyakit a. Mengidentifikasi penyakit 1,2,3,4,5
Pencegahan a. Cara melakukan vaksinasi b. Cara yang diterapkan untuk
menyembuhkan kuda yang sakit.
c. Cara menjaga kandang agar tetap sehat
d. Cara pemberian pakan yang sehat
e. Cara pemeliharaan agar ternak kuda tetap sehat
f. Cara melakukan karantina hewan sakit
g. Pemilihan bibit yang sehat
1,2,3,4,5
Pengobatan a. Cara melakukan pengobatan penyakit surra
b. Cara penanganan hewan mati.
1,2,3,4,5
Sikap Penyakit a. Bahaya penyakit surra
b. Cara penanganan penyakit
surra 1,2,3,4,5
Pencegahan a. Kegiatan vaksinasi
b. Pemberian pakan yang sehat c. Kandang yang sehat
d. Cara pemeliharaan ternak kuda yang sehat
e. Cara karantina hewan yang sakit.
f. Pemilihan bibit kuda yang sehat
Pengobatan a. Cara pengobatan kuda yang sakit
b. Cara penanganan hewan yang mati
1,2,3,4,5
Adopsi Penyakit a. Usaha yang dilakukan
peternak dalam menangani
kuda yang sakit. 1,2,3,4,5
Pencegahan a. Usaha peternak dalam
mencegah penyakit surra melalui vaksinasi
b. Usaha peternak dalam mencegah penyakit surra melalui pemberian pakan yang sehat
c. Usaha peternak dalam mencegah penyakit surra melalui pemeliharaan kuda yang sehat.
d. Usaha peternak dalam mencegah penyebaran penyakit surra melalui karantina hewan yang sakit.
1,2,3,4,5
Pengobatan
a. Usaha yang dilakukan peternak untuk mengobati penyakit surra
b. Obat yang diberikan jika ternak kuda terserang penyakit surra
c. Usaha peternak dalam menangani kuda yang mati.
1,2,3,4,5
Data mengenai variabel adopsi teknologi sistem pengendalian penyakit surra, pengetahuan, keterampilan, pelayanan, penyuluhan, dan pengaturan responden diukur dengan skala jenjang lima (1,2,3,4,5). Skala ini menggunakan lima kategori jawaban dari setiap pertanyaan yang disusun. Setiap jawaban diberi skor secara konsisten atau data kualitatif diubah terlebih dahulu menjadi data kuantitatif dengan pemberian skor dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif.
Di sisi lain, sikap responden mengenai sistem pengendalian penyakit surra diukur dengan menerapkan “Skala Likert”, dengan membentuk lima kategori jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Skor dinyatakan dalam bilangan bulat (1,2,3,4,5). Untuk pertanyaan positif respon sangat setuju diberikan skor 5, sebaliknya sangat tidak setuju diberikan skor 1, sedangkan untuk pertanyaan negatif respon sangat tidak setuju diberi skor 5, sebaliknya sangat setuju diberi skor 1. Hal ini sesuai dengan metode Singarimbun dan Effendi (1995).
Perolehan total skor pelayanan, peyuluhan, pengaturan, pengetahuan, keterampilan, sikap, dan adopsi teknologi peternak terhadap sistem pengendalian penyakit surra disajikan dalam bentuk persen (%) berdasarkan jumlah skor maksimum ideal (Singarimbun dan Effendi, 1995 ) dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
Proporsi skor = ×100%
SMI X
X = Perolehan skor SMI = Skor maksimum ideal
Berdasarkan hasil kuisioner maka didapatkan variabel pelayanan dengan skor tertinggi 60 (100%) dan skor terendah 12 (20%), penyuluhan skor tertinggi 95 (100%) dan skor terendah 19 (20%), pengaturan skor tertinggi 40 (100%) dan skor terendah 8 (20%), pengetahuan dengan skor tertinggi 80 (100 %) dan skor terendah 16 (20%). Variabel keterampilan dengan skor tertinggi 55 (100 %) dan skor terendah 11 (20%). Variabel sikap dengan skor tertinggi 80 (100%) dan skor terendah 16 (20%) , dan Variabel adopsi dengan skor tertinggi 75 (100%) dan skor terendah 15 (20%).
Nilai-nilai yang termasuk pada masing-masing kategori dilihat dari persentase pencapaian skornya dengan menggunakan rumus Interval Kelas yang dikemukakan oleh Dajan (1986), dengan rumus sebagai berikut:
IK = Jarak kelas Banyaknya kategori
Keterangan: I K = interval kelas
Jarak kelas = persentase skor maksimal dikurangi dengan persentase skor minimal
Banyaknya kategori = jumlah kategori yang ditentukan
Dengan menggunakan rumus interval kelas tersebut maka dapat diketahui nilai kategori untuk setiap variabel yaitu kategori adopsi peternak tentang teknologi pengendalian penyakit surra, pengetahuan, keterampilan, sikap, pelayanan, penyuluhan, dan pengaturan masing-masing dikelompokkan seperti berikut:
Tabel 4.4. Kategori Adopsi, Pengetahuan, Keterampilan, Sikap Pelayanan, Penyuluhan, dan Pengaturan.
Persentase
Pencapaian Adopsi Pengetahuan Keterampilan Pelayanan Penyuluhan Pengaturan Sikap >84%-100% Sagat baik Sagat tinggi Sangat tinggi Sangat baik Sangat baik Sangat baik Sangat positif
>68%-84% Baik Tinggi Tinggi Baik Baik Baik Positif
>52%-68% Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Ragu-ragu
>36%-52% Buruk Rendah Rendah Buruk Buruk Buruk Negatif
0%-36%
Sangat
buruk Sangat rendah
Sangat rendah Sangat buruk Sangat buruk Sangat buruk Sangat Negtif Sumber: Dajan (1986)
4.8.2 Definisi operasional penelitian
Definisi operasional penelitian adalah penjelasan atau pengertian dari peubah-peubah yang terlibat dalam penelitian dengan maksud untuk membatasi lingkup makna peubah kearah objek pengamatan sehingga dapat dilakukan pengukuran. Definisi operasional dalam rencana penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Pelayanan (service) adalah faktor pendukung dalam kegiatan penyuluhan yang merupakan penyediaan sarana dan prasarana seperti vaksin, obat-obatan dalam upaya pengendalian penyakit surra.
b. Penyuluhan adalah suatu sistem atau pelayanan yang diarahkan untuk membantu peternak dalam pengendalian penyakit surra melalui proses pendidikan non formal untuk menekan kematian ternak kuda akibat penyakit surra.
c. Pengaturan (regulation) adalah faktor pendukung dalam kegiatan penyuluhan yang merupakan kebijakan dari pemerintah untuk menangani penyakit surra di Kabupaten Sumba Timur, NTT.
d. Pengetahuan adalah hasil pemahaman peternak terhadap segala ihwal yang berkaitan dengan pengendalian penyakit surra.
e. Keterampilan adalah kemampuan seseorang secara terampil menerapkan pengetahuan kedalam bentuk tindakan secara cepat dan refleks dalam pengendalian penyakit surra.
f. Sikap adalah tanggapan atau penilaian seseorang terhadap suatu hal atau suatu obyek tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, yang disertai kecenderungan untuk bertindak dalam menangani penyakit surra.
g. Adopsi adalah hasil dari kegiatan penyampaian pesan penyuluhan berupa inovasi pengendalian penyakit surra, atau sebagai suatu proses komunikasi yang diawali dengan penyampaian inovasi sampai terjadinya perubahan perilaku peternak dalam pengendalian penyakit surra.