• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.12 Unsur – Unsur Perilaku

2.12.1 Pengetahuan

Sebagaimana diketahui bahwa pengetahuan menurut Mardikanto (1993) berasal dari kata “tahu” yang diartikan sebagai pemahaman seseorang tentang sesuatu yang nilainya lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya. Pengertian tahu dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi setiap ragam stimulus yang berbeda, memahami beragam konsep, pikiran bahkan cara pemecahan terhadap masalah tertentu, sehingga pengertian tahu tidak hanya sekedar mengemukakan/mengucapkan apa yang diketahui, tetapi sebaliknya dapat menggunakan pengetahuan dalam praktek dan tindakannya.

Selanjutnya Wiriaatmadja 1990 berpendapat bahwa pengetahuan adalah aktivitas atau kegiatan yang melihat penyelesaian sesuatu dengan baik dalam jenis, jumlah dan bentuk atau barang maupun dalam kegiatan informasi dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh seseorang dari kegiatan yang dilakukannya. Pengetahuan seseorang dapat diperoleh setelah melakukan penginderaan melalui panca inderanya. Oleh karena itu tindakan yang dilakukan berdasarkan pengetahuan akan langsung dirasakan manfaatnya dibandingkan

dengan tindakan tanpa didasari pengetahuan. Hal ini sesuai pendapat Ray (1998) yang menyatakan bahwa pengetahuan terjadi pada saat atau unit pengambil keputusan lainnya, kontak dengan inovasi dan mendapatkan suatu fungsi inovasi tersebut. Jadi fungsi pengetahuan pada intinya bersifat kognitif atau sekedar mengetahui.

Depdikbud RI (2000) menyebutkan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang adalah hasil belajar baik formal maupun non formal dan terutama hasil interaksi dengan masyarakat. Selajutnya disebutkan bahwa luasnya cakrawala budaya seseorang tidak terlepas dari pengetahuannya dalam hidup bermasyarakat. Akibatnya, pengetahuan seseorang tidaklah berbeda jauh dengan warga lainnya, apabila pengetahuan yang didapatkan semata-mata berasal dari interaksi sosial dengan sesama warga tempat ia hidup.

Wahyu (1986) berpendapat bahwa pengetahuan merupakan produk akhir dari kegiatan berpikir manusia, sedangkan Ahmadi (1991) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengetahuan adalah kesan dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berbeda sekali dengan kepercayaan, takhayul, dan penerangan-penerangan yang keliru.

Pemindahan pengetahuan merupakan titik berat pada proses belajar mengajar (Suparta et al., 2009). Selanjutnya Winkel (1986) yang dikutip oleh (Suparta et al., 2009) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman dan nilai-nilai sikap. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang berarti semakin tinggi

juga pengetahuannya, sehingga dengan pengetahuan yang tinggi orang lebih tanggap terhadap keadaan sekitarnya (Ahmadi, 1991).

Menurut Soekanto (1985), pengetahuan adalah kesan dalam pikiran manusia sebagai hasil proses panca indera, yang berbeda dengan kepercayaan (beliefs), takhyul (superstitions) dan penerangan yang keliru (misinformation). Selanjutnya disebutkan bahwa pengetahuan berbeda dengan buah pikiran (ideas), karena tidak semua buah pikiran merupakan pengetahuan. Pengetahuan itu bisa diperoleh dari pengalaman-pengalaman, baik dari pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain.

Pengetahuan merupakan aspek perilaku, yang terutama berhubungan dengan kemampuan mengingat materi yang dipelajari dan kemampuan mengembangkan intelegensia. Unsur-unsur perilaku pengetahuan tersebut termasuk dalam golongan aspek perilaku pengetahuan. Sehingga pengetahuan dikatakan sebagai kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat dari suatu yang telah dilakukan atau yang dipelajari (Soedijanto, 1987).

Perubahan pada pengetahuan seseorang merupakan manifestasi dari proses belajar (Effendi dan Praja, 1984). Perubahan–perubahan yang terjadi sebagai hasil proses belajar antara lain: 1) Pengetahuan baik jenis maupun jumlahnya, 2) Keterampilan dalam melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan tujuan, 3) Kecakapan dalam berpikir, dan 4) Sikap.

Selajutnya Rogers dan Shoemaker (1971), menyatakan bahwa dalam tahap pengenalan inovasi ada tiga tipe pengetahuan yaitu : kesadaran/pengetahuan mengenai adanya inovasi, pengetahuan teknis dan pengetahuan prinsip. Pada tipe

pengetahuan/kesadaran seseorang cenderung membuka diri terhadap ide-ide yang sesuai dengan minat, kebutuhan dan sikap yang ada padanya. Pengetahuan teknis meliputi informasi yang diperlukan mengenai cara pemakaian atau penggunaan suatu inovasi. Pengetahuan prinsip berkenaan dengan fungsinya suatu inovasi.

Pengetahuan petani sangat menunjang kelancaran dalam berkomunikasi dan mengadopsi teknologi baru. Supriyanto, 1978 (dalam Arthanu, 1985) mengatakan bahwa tingkat pengetahuan petani mempengaruhi ia dalam mengadopsi teknologi baru dan kelanggengannya dalam melaksanakan usahatani.

Dari pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan hasil pemahaman seseorang terhadap suatu obyek, yang diperoleh baik secara formal maupun non formal melalui pengalaman diri sendiri maupun pengalaman orang lain, sehingga mereka lebih terbebas dari keterbatasan dan subyektifitasnya. Dengan adanya pemahaman seseorang tentang suatu hal secara obyektif atau seseorang memiliki pengetahuan yang memadai terhadap suatu hal maka diharapkan dapat memberikan peran serta secara lebih optimal dalam kegiatan produksi sehingga dapat meningkatkan produktifitasnya terhadap hal tersebut, guna mewujudkan tujuan bersama.

2.12.2 Keterampilan

Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat saraf dan otot-otot (Neuromuscular) yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah, seperti menulis, mengetik, olahraga dan sebagainya (Muhibbin, 1995). Sedangkan Reber (1998) yang dikutip oleh Muhibbin (1995) menyatakan bahwa keterampilan adalah kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan

tersusun rapi secara meluas dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.

Ahmadi (1991) berpendapat bahwa keterampilan dapat diperoleh melalui pendidikan formal, non formal, dan informal. Pendidikan formal misalnya sekolah dan pendidikan non-formal diperoleh dari luar sekolah. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari secara sadar maupun tidak sadar, sepanjang hidupnya, di dalam lingkungan keluarga, masyarakat atau dalam lingkungan pekerjaan sehari-hari.

Supriatna (2000) menyatakan metode pendidikan luar sekolah atau keterampilan bagi orang dewasa seperti petani peternak dalam rangka memperoleh pengetahuan, pengalaman, sikap, kepercayaan, keahlian dan partisipasi sosial dilakukan dengan menerapkan metode andragogi. Alasannya adalah : pertama, adanya konsep diri orang dewasa lebih mengarah pada self directing, kedua, berorientasi pada pekerjaan praktis dan ketiga dapat menunjang pemecahan masalah hidupnya.

2.12.3 Sikap

Manusia dilahirkan dengan sikap pandangan atau sikap perasaan tertentu, tetapi dibentuk sepanjang pengetahuannya. Peranan sikap dalam kehidupan manusia adalah relatif besar, sebab apabila sudah dibentuk dalam diri manusia, maka sikap manusia itu turut menentukan tingkah lakunya terhadap obyek tersebut. Adanya sikap ini menyebabkan manusia bertindak secara khas terhadap obyeknya. Sebagaimana halnya dengan konsep lainnya, banyak para ahli memberikan definisi sikap dengan redaksi yang berbeda, tetapi pada prinsipnya

ada unsur-unsur yang sama. Tertentu, baik pada diri sendiri maupun luar diri sendiri. Keadaan ini mencakup penilaian positif atau negatif serta kesediaan untuk bereaksi terhadap situasi atau obyek tertentu dengan cara khas, sehingga dapat diramalkan. Disisi lain, sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak dengan cara konsisten terhadap situasi atau obyek tertentu (Depdikbud RI, 2000).

Walgito (2003) berpendapat bahwa sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai obyek, yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya. Di lain pihak, Dayakisni dan Hudaniah (2001) menyimpulkan bahwa sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak, untuk bereaksi terhadap rangsangan, oleh karena itu manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat, akan tetapi harus ditafsirkan terlebih dahulu sebagai tingkah laku yang masih tertutup.

Pada hakekatnya sikap merupakan suatu interaksi dari berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut Allfort yang dikutip oleh Dayakisni dan Hudaniah (2001) ada tiga yaitu : (1) komponen kognitif, yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut; (2) komponen afektif, yaitu yang berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya; (3) komponen konatif, yaitu kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya. Sikap yang ada pada diri

seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal (faktor fisiologis dan psikologis) serta faktor eksternal dapat berwujud situasi yang dihadapi oleh individu, norma-norma yang ada dalam masyarakat (Walgito, 2003).

Soetarno (1994) menyebutkan bahwa sikap memiliki beberapa ciri. Ciri-ciri sikap tersebut adalah sebagai berikut : (1) sikap tidak dibawa seseorang sejak ia lahir, melainkan dibentuk sepanjang perkembangannya; (2) sikap dapat berubah-ubah, oleh karena itu sikap dapat dipelajari; (3) sikap tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berkaitan dengan suatu obyek; (4) obyek suatu sikap dapat tunggal atau majemuk; (5) sikap mengandung motivasi dan perasaan. Pengetahuan mengenai suatu obyek tanpa disertai motivasi belum berarti sikap.

Sikap merupakan proses sosialisasi, yaitu pembentuk sikap-sikap sosial pada seseorang karena adanya interaksi manusia atau individu (Mar’at, 1984). Seseorang bereaksi sesuai dengan rangsangan yang diterimanya. Pada tahap persuasi, dari proses pengambilan keputusan inovasi seseorang membentuk sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Sebelum orang mengenal suatu ide baru, iya tidak dapat membentuk sikap tertentu tehadap inovasi tersebut, (Rogers dan Shoemaker, 1971). Sikap ini merupakan masalah penting dalam menentukan corak atau warna dari tingkah laku atau perbuatan seseorang (Walgito, 2003).

Sikap adalah determinan perilaku, karena berkaitan dengan persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan suatu keadaan sikap mental, yang dipelajari dan diorganisasi menurut pengalaman, dan menyebabkan timbulnya pengaruh khusus atas reaksi seseorang terhadap orang-orang, objek-objek, dan situasi-situasi dengan siapa ia berhubungan (Winardi, 2004).

Dari definisi tentang sikap diatas, menimbulkan implikasi-implikasi (Azwar, 2003) yaitu : 1) sikap dipelajari, 2) sikap menentukan predisposisi seseorang terhadap aspek-aspek tertentu. 3) sikap memberikan landasan emosional dari hubungan – hubungan antar pribadi seseorang dan identifikasi dengan pihak lain. 4) sikap organisasi dan mereka erat sekali dengan inti kepribadian.

Ada dua tingkatan sikap terhadap inovasi yaitu : 1) sikap terhadap inovasi dan 2) sikap terhadap perubahan. Sikap terhadap inovasi adalah merupakan berkenan atau tidaknya seseorang. Percaya atau tidaknya seseorang terhadap inovasi khususnya dan sikap terhadap perubahan adalah umumnya menyangkut respon seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi yang dipengaruhi oleh hasil pengamatan dan pengalaman sebelumnya (Rogers dan Shoemaker, 1971).

Selanjutnya dikatakan bahwa sikap khusus ini menjembatani antara suatu inovasi dengan inovasi lainnya. Sebab pengalaman positif dengan pengadopsian suatu inovasi terdahulu pada umumnya menimbulkan sikap-sikap positif pula terhadap inovasi yang akan datang berikutnya. Sebaliknya, pengalaman pahit dari pengadopsian suatu inovasi yang dianggapnya suatu kegagalan akan merupakan penghalang bagi masuknya inovasi pada waktu yang akan datang. Oleh karena itu, agen pembaharu yang baik haruslah memulai kegiatannya terhadap sasaran tertentu dengan suatu inovasi yang memiliki taraf keuntungan relatif tinggi, sesuai dengan kepercyaan yang terdapat dalam masyarakat tersebut serta mempunyai

pembentukan sikap positif terhadap perubahan dan memperlancar jalan untuk inovasi-inovasi yang akan datang.

Sikap merupakan respon evaluatif atau suatu bentuk evaluasi atau suatu kesiapan perasaan yang mendukung terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Menurut Azwar (2003) sikap dikatakan sebagai respon. Respon hanya akan terjadi apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki timbulnya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk respon yang dinyatakan sebagai sikap itu didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu, yang diungkapkan dalam bentuk baik atau buruk. Positif atau negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau tidak suka.

Dilihat dari strukturnya Azwar (2003) juga mengemukakan bahwa sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu, komponen kognitif, komponen afektif dan komponen konatif. Komponen kognitif berupa apa yang dipercayai oleh subyek pemilik sikap, komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional dan komponen konatif merupakan kecenderungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang dimiliki subyek.

Sanafiah (1982) menyatakan bahwa sikap adalah perasaan seseorang dan apa yang dia yakini. Pengukuran sikap biasanya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu, sehingga sebagian pendapat dari orang teresebut dapat diketahui. Dari pendapat ini dapat diperkirakan sikapnya yaitu, apa yang sesungguhnya dia yakini. Selanjutnya Walgito (2003) menyatakan bahwa dengan pengukuran sikap ini orang akan mengetahui perbedaan sikap orang tertentu dengan orang lainnya. Sikap selalu berkenaan dengan suatu objek dan selalu

berubah-ubah. Sherif (dalam Garungan, 1981) menyatakan bahwa objek sikap itu dapat berupa suatu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tertentu. Jadi sikap itu dapat berkenaan dengan sederetan objek serupa.

Pembentukan dan perubahan sikap tidak terjadi dengan sendirinya (Azwar, 2003). Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial individu. Dalam interaksi sosial terjadi hubungan yang saling mempengaruhi diantara individu yang satu dengan yang lain. Faktor – faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan orang lain yang dianggap penting, media massa, lembaga pendidikan serta faktor emosi dalam diri individu.

Dari pendapat-pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sikap pada hakikatnya merupakan tanggapan atau penilaian seseorang terhadap suatu hal atau suatu obyek tertentu, sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, yang disertai kecenderungan untuk bertindak. Tindakan atau perilaku seseorang terhadap suatu hal sangat dipengaruhi dari bagaimana tanggapan seseorang terhadap hal tersebut, apakah setuju atau tidak mendukung atau tidak dalam batas skala sikap tertentu.

BAB III

KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP

Dokumen terkait