BAB V. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan alat ukur/instrumen penelitian dalam mengukur suatu hal yang hendak didapatkan dari penggunaan instrumen tersebut. Dalam hal ini perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen
yang valid dan reliabel. Menurut Sugiyono (2013) hasil penelitian yang valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti.
Suatu instrumen dikatakan valid, bila (Siregar, 2014): a. Efisien korelasi product moment melebihi 0,3.
b. Koefisien korelasi product moment > r-tabel (a ; n-2) n = jumlah sampel.
c. Nilai sig β€ Ξ±.
Rumusan yang bisa digunakan untuk mengukur uji validitas adalah Product Moment sebagai berikut (Siregar, 2014) :
n(βπ₯π¦- (βπ₯) (βπ¦)
β{ n βx2 β( βx)2 } { nβ y2 β( βy2) }
Keterangan :
rxy = Validitas Instrumen n = Jumlah instrument x = Skor rata-rata dari X y = Skor rata-rata Y 2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengatur seberapa besar suatu instrumen penelitian dapat dipercaya, dan digunakan sebagai alat pengumpul data. Pengujian reliabilitas dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan
test-retest, equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada intrumen dengan teknis tertentu (Sugiyono, 2013).
Uji reliabilitas dilakukan untuk menguiji konsistensi jawaban dari responden.Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsistensi atau stabil dari waktu ke waktu. Adapun rumus yang digunakan untuk mengatur reliabilitas pada penelitian ini adalah Cronbach Alpha sebagai berikut (Siregar,2014) :
r11 = (
k (kβ1)) ( 1 -
βπ2π π2π‘)
Keterangan : r11 = reliabilitas instrumentk = banyak butir pertanyaan
β π2π = total dari varian masing-masing variabel
π2π‘ = varian total
Reliabilitas konsisten internal dapat diterima jika Ξ± β₯ 0,6 .
reliabilitas konsistensi internal adalah suatu pendekatan untuk menaksir konsistensi internal dari kumpulan item/indikator, dimana beberapa item dijumlahkan untuk menghasilkan skor total untuk skala/konstrak.
1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan analisis statistik pada suatu data yang berfungsi untuk menjelaskan keadaan suatu data pada saat menghimpun jawaban responden. Berikut perhitungan untuk menentukan rentang nilai pada suatu kelas dalam suatu data:
Diketahui bobot nilai tertinggi adalah 5 dan bobot nilai terendah adalah 1. Sehingga interval dapat dihitung sebagai berikut :
Interval =πππππππππ πππ’πβπππππππππ’ππ’π πΎππππ πππ‘πππ£ππ
Interval = 5β1 5 = 0,8
Berdasarkan rentang skala skor 0,8 maka skor dapat dikelompokkan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Skala Data
Skala Data Kelas Kategori
1 1,00 β 1,79 Sangat Rendah
2 1,80 β 2,59 Rendah
3 2,60 β 3,39 Cukup
4 3,40 β 4,19 Tinggi
5 4,20 - 5,00 Sangat tinggi
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara bersama mempengaruhi variabel terikat.
Dimana :
Y = Kepuasan pasien rawat inap b1 = Koefisien regresi tangibles
b2 = Koefisien regresi reliability
b3 = Koefisien regresi assurance
b4 = Koefisien regresi responsivenss
b5 = Koefisien regresi emphaty
X1 = tangibles X2 = reability X3 = assurance X4 = responsiveness X5 = emphaty e = varians pengganggu
Analisis korelasi berganda digunakan untuk mengetahui derajat hubungan atau kekuatan hubungan variabel X1, X2 dengan Y. (Sugiyono, 2011 :286)
3. Uji Asumsi Klasik
Model regresi linier dapat disebut sebagai model yang baik jika memenuhi asumsi klasik. Oleh karena itu, uji asumsi klasik sangat diperlukan sebelum melakukan analisis regresi. Uji asumsi klasik terdiri atas uji normalitas, uji multikorelasi, uji heterokedastisitas, dan uji autokorelasi (Sarjono dan Julianita, 2011).
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data. Uji normalitas adalah membandingkan antara data yang kita miliki dan data berdistribusi normal yang memiliki mean dan standar deviasi yang sama dengan data kita. Uji normalitas menjadi penting karena merupakan salah satu syarat pengujian parametrict-test. Dalam uji normalitas, untuk menentukan normal tidaknya suatu data adalah dengan melihat nilai Sig. dibagian Kolmogorov-Smirnov, apabila angka Sig. menunjukkan < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal (Sarjono dan Julianita, 2011).
b. Uji Multikolinearitas
Menurut Sarjono dan Julianita (2011), uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan diantara variabel bebas memiliki masalah multikorelasi (gejala multikolinearitas) atau tidak. Multikorelasi adalah korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah yang terjadi pada hubungan diantara variabel bebas. Uji multikorelasi perlu dilakukan jika jumlah variabel independen lebih dari satu.
Menurut Wijaya, 2009 (dikutip dalam Sarjono danJulianita, 2011), ada beberapa cara mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas, sebagai berikut:
1) Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi
empiris yang sangat tinggi tetapi secara individual variabel bebas banyak yang tidak sinifikan mempengaruhi variabel terikat. 2) Menganalisis korelasi diantara variabel bebas. Jika diantara
variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (lebih beβsar daripada 0,90), hal ini merupakan indikasi adannya multikolinieritas.
3) Multikolinieritas dapat juga dilihat dari nilai VIF ( variance-inflating factor). Jika VIF<10 tingkat kolineritas dapat ditoleransi.
4) Nilai Eigenvalue dari satu atau lebih variabel bebas yang mendekati nol memberikan petunjuk adanya multikolinieritas. c. Uji Heteroskedastisitas
Menurut Wijaya, 2009 (dikutip dalam Sarjono dan Julianita, 2011) uji heteroskedastisitas menunjukan bahwa varians variabel tidak sama untuk semua pengamatan/observasi. Jika varians dan residual suatu pengamatan yang lain tetap maka disebut homoskedastisitas.
Model regresi yang baik adalah terjadi homoskedatisitas dalam model, atau dengan kata lain tidak terjadi heteroskedastisitas. Ada beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas yaitu dengan melihat scatterplot serta melalui/menggunakan uji
sering digunakan adalah uji scatterplot, maka dari itu dalam penelitian ini penulis menggunakan uji scatterplot untuk mengetahui hetero tidaknya data yang diperoleh.
4. Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis yang dilakukan pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (kualitas pelayanan dan fasilitas) terhadap variabel dependen (kepuasan pelanggan). a. Uji statistik F
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Hipotesis nol (H0) yang hendak diuji adalah apakah semua parameter dalam model sama dengan nol atau H0 : π½1=π½2=β¦β¦=π½π = 0 yang artinya adalah
apakah semua variabel independen bukan merupakan penjelas yang
signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatifnya HΞ±,
tidak semua parameter simultan sama dengan nol, atau H0 : π½1β π½2
β β¦β¦β π½π β 0 yang artinya adalah semua variabel independen
secara simultan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen (Kuncoro, 2001).
b. Uji statistik t
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Hipotesis nol (H0) yang hendak
diuji adalah apakah suatu parameter (π½π) sama dengan nol, atau
H0 :π½π= 0 yang artinya adalah apakah suatu variabel independen
bukan merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatifnya (Ha).parameter suatu variabel
tidak sama dengan nol, atau H0 : Ξ²i β 0 yang artinya adalah variabel
tersebut merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel dependen (Kuncoro, 2001).
5. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang
kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semuainformasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi-variasi dependen (Kuncoro, 2001).
42
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah RSUD Salatiga
RSUD Salatiga merupakan Rumah Sakit Umum yang berada di Salatiga tepatnya di jalan Osamaliki 19, Salatiga. Dengan kontak telp. (0298)-324074, faks. (0298)-321925 dan website rsud.salatiga.go.id. Pada mulanya tahun 1978 RSU Kelas D, masih menumpang di Gedung RS DKT Salatiga, SK Menteri Kesehatan RI Nomor : 134/MENKES/SK/IV/78. Lalu pada Tahun 1981 Gedung RSUD mulai dibangun di Jl. Osamaliki No. 19 Salatiga. Tahun 1983 Tanggal 1 Mei 1983 RSUD Kota Salatiga mulai menempati gedung baru. Tahun 1988 menjadi RSU Kelas C SK Menteri Kesehatan RI Nomor :105/MENKES/SK/88. Tahun 1992 RSU Kota Salatiga melaksanakan uji coba sebagai RSU Unit Swadana Daerah SK Walikotamadya Tk. II Salatiga Nomor : 445/042. Tahun 1993 RSU Kota Salatiga resmi menjadi RSU Unit Swadana Daerah SK Menteri Dalam Negeri Nomor : 45/2142/PUOD Peraturan Daerah Kodya Dati II Salatiga Nomor 9 Tahun 1993. Tahun 1997 akreditasi penuh 5 pelayanan, YM 02.03.3.5.6221 Tgl. 17 Desember 1997 s/d 17 Desember 2000. Tahun 2001 RSUD Kota Salatiga menjadi Badan Pengelola RSUD (BPRSUD) Peraturan Daerah Kota Salatiga Nomor 6 Tahun 2001 tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Daerah Kota
Salatiga. Kemudian pada tahun 2008 RSUD mengalami peningkatan sebagai berikut:
1. Peraturan Daerah Kota Salatiga No. 11 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Salatiga Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu dan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Salatiga, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan peraturan Daerah Kota Salatiga No. 9 tahun 2011.
2. Tata kelola RSUD Kota Salatiga dengan pola pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah, Peraturan Walikota Salatiga Nomor 38 tahun 2008 (tanggal 10 Oktober 2008).
3. Badan Pengelolaan RSUD (BPRSUD) Kota Salatiga sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Keputusan Walikota Salatiga No. 060/358/2008 (tanggal 24 Desember 2008)
4. Akreditasi penuh tingkat lengkap 16 pelayanan
YM.01.10/III/4290/08 tanggal 26 November 2008 s/d 26 November 2011.
Kemudian pada tahun 2009 peningkatan kelas RSUD menjadi Rumah Sakit Kelas B Non Pendidikan SK Menteri Kesehatan Nomor : 823/MENKES/SK/IX/2009 tanggal 11 September 2009. Tahun 2010 Perda yang mengatur kelembagaan RSUD Kota Salatiga dirubah dengan Perda Nomor 2 Tahun 2010. Tahun 2011 RSUD Kota Salatiga berhasil menjadi RSU Kelas B Pendidikan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : HK.03.05/III/2960/II tanggal 3 Desember 2011.
Tahun 2012 lulus Akreditasi Rumah Sakit Tingkat Lengkap 16 Pelayanan : Kars. Sert/370/1/2012 Sertifikat Komisi Akreditasi Rumah Sakit 26 Januari 2012 s/d 26 Januari 2015. Kemudian di tahun 2015 RSUD Salatiga menjadi Rumah Sakit Tipe B Terbaik dan juara 1 Promosi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Tingkat Provinsi Jawa Tengah.
B. Visi dan Misi RSUD Salatiga
1. Visi :
βMewujudkan rumah sakit pendidikan yang mandiri sebagai
pilihan utama dengan pelayanan yang bermutuβ.
2. Misi :
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna, berhasil guna dan berdaya guna.
b. Melaksanakan proses perubahan terus menerus dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan prima.
c. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan kedokteran berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan stratejik.
d. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan penelitian pengembangan ilmu kedokteran.
3. Moto :
βKeselamatan, kesembuhan dan kepuasan anda menjadi
kebahagiaan kamiβ.
Segenap Direksi & Staff RSUD Kota Salatiga berkomitmen untuk : a. Memberikan pelayanan kesehatan yang prima
b. Meningkatkan kepuasan dan keselamatan pelanggan
c. Melaksanakan perbaikan berkelanjutan melalui sistem manajemen mutu
4. Tujuan :
a. Terwujudnya RSUD Kota Salatiga sebagai pusat pendidikan dan rujukan pelayanan kesehatan yang memenuhi standard fisik, peralatan medis, tehnik dan administrasi manajemen.
b. Terwujudnya pelayanan prima di rumah sakit. c. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia. d. Meningkatkan kepuasan dan keselamatan pasien.
e. Tersedianya eviden base dengan menerapkan sistem informasi manajemen rumah sakit lebih bermutu sehingga dapat mendukung pelayanan.
f. Meningkatnya pelaksanaan system reward and punishment dalam mewujudkan kinerja rumah sakit dan kesejahteraan karyawan.
C. Struktur Organisasi
SK Penempatan pejabat struktural berdasarkan Peraturan Walikota Nomor 56 Tahun 2016.
Gambar IV.1 Struktur Organisasi
D. Fasilitas Rumah Sakit
1. Rawat Jalan :
a. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Pelayanan Unit Gawat Darurat Rumah Sakit memberikan Pelayanan 24 jam secara terus menerus 7 hari dalam seminggu.
Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit kelas B setara dengan unit pelayanan Gawat Darurat Bintang III. Yaitu memiliki dokter spesialis empat besar (dokter spesialis bedah, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis anak, dokter spesialis kebidanan) yang siaga ditempat (on-site) dalam 24 jam, dokter umum siaga ditempat (on-site) 24 jam yang memiliki kualifikasi medik untuk pelayanan GELS (General Emergency Life Support) dan atau ATLS + ACLS dan mampu memberikan resusitasi dan stabilisasi kasus dengan masalah ABC (Airway, Breathing, Circulation) untuk terapi definitif serta memiliki alat transportasi untuk rujukan dan komunikasi yang siaga 24 jam.
Gambar IV.2 Instalasi Gawat Darurat b. Poli Eksekutif
Poliklinik Eksekutif memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat. Pasien akan ditangani oleh dokter spesialis, perawat profesional dan tenaga kesehatan profesional lainnya. Jadwal loket pendaftaran Senin s/d Kamis : Pukul 07.30
s/d 12.00, Jumβat : Pukul 07.30 s/d 10.00, Sabtu : Pukul : 07.30
s/d 10.00.
Pelayanan poliklinik non eksekutif meliputi : 1) Pelayanan penyakit dalam
2) Pelayanan syaraf
3) Pelayanan kulit, kelamin, estetika dan kecantikan 4) Pelayanan anak 5) Pelayanan paru 6) Pelayanan mata 7) Pelayanan jiwa 8) Pelayanan psikologi 9) Pelayanan THT 10) Pelayanan bedah
11) Pelayanan bedah ortopedi 12) Pelayanan sexsiologi
13) Pelayanan pendaftaran dan rekam medis 14) Pelayanan kasir Bank Jateng
Gambar IV.3 Poli Eksekutif
Gambar IV.4 Poli Eksekutif
Gambar IV.6 Poli Eksekutif
c. Poli Reguler
Poliklinik reguler memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat. Pasien akan ditangani oleh dokter spesialis, perawat profesional dan tenaga kesehatan profesional lainnya. Poliklinik umum juga menjadi layanan di poliklinik reguler. Jadwal loket pendaftaran Senin s/d Kamis : Pukul 07.30
s/d 12.00, Jumβat : Pukul 07.30 s/d 10.00, Sabtu : Pukul : 07.30 s/d 10.00.
Pelayanan poliklinik reguler meliputi : 1) Pelayanan spesialis gigi
2) Pelayanan penyakit dalam 3) Pelayanan dyaraf
4) Pelayanan urologi
5) Pelayanan gizi & assesment narkoba 6) Pelayanan bedah
7) Pelayanan bedah ortopedi 8) Pelayanan mata
9) Pelayanan TB DOT 10) Pelayanan paru
11) Pelayanan kulit, kelamin, estetika dan kecantikan 12) Pelayanan iwa
13) Pelayanan psikologi 14) Pelayanan kebidanan
15) Pelayanan tumbuh kembang anak 16) Pelayanan anak
17) Pelayanan VCT dan CST
18) Pelayanan rhematologi dan osteoporosis 19) Pelayanan farmasi
21) Pelayanan kasir Bank Jateng
Gambar IV.7 Poli Reguler
Gambar IV.8 Poli Reguler
Gambar IV.10 Poli Reguler 2. Rawat Inap
a. Intensive Care Unit (ICU)
Fasilitas pada ruang ICU meliputi : 1) 4 tempat tidur
2) Ruangan AC 3) Pengawasan sentral 4) Dokter jaga 24 Jam 5) Mayo table
6) Almari pasien (Bed Cabinet) 7) Intubasi 8) Bedsite monitor 9) Defibrator 10) Ventilator 11) Infus pump 12) Syringe pump 13) Suction central 14) Oxygen central
15) DC syok 16) ECG
b. High Care Unit (HCU) 1) 4 tempat tidur 2) Ruangan AC 3) Pengawasan sentral 4) Dokter jaga 24 Jam 5) Meja makan
6) Almari pasien (Bed Cabinet)
7) Bedsite monitor 8) Defibrilator 9) Suction
10) Alat pembebas jalan nafas (Laringoskop, ETT, OFA) 11) Infuse set
12) Syringe pump 13) Infuse pump
14) Alat transportasi pasien c. Kelas VVIP
1) Kamar luas 2) 1 Kamar 1 Bed
3) Kamar mandi di dalam, air panas dan dingin 4) TV, AC, kulkas, meja makan pasien
5) 1 set kursi tamu, kulkas, AC, TV, almari, meja makan pasien & rak handuk
6) Tempat sandal, tangga tempat tidur, kursi sandaran, telepon dalam, jam dinding
7) Sofa bed
8) Souvenir selamat datang d. Kelas VIP
Fasilitas :
1) 1 kamar 1 bed
2) Kamar mandi di dalam, air panas dan dingin 3) Meja makan pasien
4) Kulkas, TV dan AC
5) Almari, rak handuk, sofa bed, tempat sandal, tangga tempat tidur
6) Kursi sandaran, telepon dalam, jam dinding Bangsal :
1) Paveliun wijaya kusuma lt. 2 2) Paveliun wijaya kusuma lt. 3 3) Paveliun wijaya kusuma lt. 4 e. Kelas 1A
Fasilitas :
1) 1 Kamar 2 Bed
3) Meja Makan Pasien 4) Kulkas, TV & AC
5) Almari & Rak Handuk, Sofa Bed, Tempat Sandal, Tangga Tempat Tidur
6) Kursi Sandaran, Jam Dinding Bangsal :
1) Paveliun wijaya kusuma lt. 2 2) Paveliun wijaya kusuma lt. 3 3) Paveliun wijaya kusuma lt. 4 f. Kelas 1B
Fasilitas :
1) 1 kamar 1 bed
2) Kamar mandi di dalam
3) TV
4) Almari pasien, rak handuk, sofa 5) Tempat sandal, tangga tempat tidur 6) Meja makan
7) Jam dinding, kipas angin Bangsal :
1) Anggrek (anak) 2) Cempaka 3) Melati
g. Kelas 1C Fasilitas :
1) 1 kamar 3 bed
2) Kamar mandi di dalam
3) TV
4) Almari pasien
5) Sofa, tangga tempat tidur 6) Jam dinding Bangsal : 1) Anggrek (anak) 2) Cempaka 3) Melati 4) Dahlia h. Kelas 2 Fasilitas : 1) 1 kamar 4-6 bed 2) Kamar mandi terpisah
3) TV
4) Almari pasien
5) Tempat sandal, kursi penunggu pasien, tangga tempat tidur 6) Jam dinding
Bangsal : 1) Anggrek (anak) 2) Cempaka 3) Melati 4) Dahlia i. Kelas 3 Fasilitas :
1) 1 kamar 6 tempat tidur 2) Kipas angin
3) Oksigen sentral
4) LCD
5) Almari pasien 6) Kursi penunggu 7) Tangga tempat tidur 8) Jam dinding
j. Ponek (Dahlia)
Pelayanan Obstetri Neonatal Essensial / Emergency Komprehensif yang tujuan utamanya menyelamatkan ibu dan anak baru lahir melalui program kasus rujukan berencana serta upaya meningkatkan kesejahteraan ibu dan meneurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Fasilitas :
1) Vacum Extrasi 2) Incubator Tansport
3) A.V.N. (Aspiras Vaccum Normal) 4) Forcep Set
5) Radian Warmer 6) Curretage Set 7) Bed Side Monitor 8) Lampu Tindakan 9) Set Resusitasi 10) O2 Sentral 11) CTG
Pelayanan Laboratorium Meliputi : 1) Pemeriksasan darah rutin 2) Pemeriksaan darah kimia 3) Pemeriksaan Serologi 4) Pemeriksaan Fases 5) Pemeriksaan urin rutin 6) Pemeriksaan urin reduksi 7) Pemeriksaan urin kehamilan
k. Perinatologi
Pelayanan Perinatal Resiko Tinggi (PONEK) adalah pelayanan yang menciptakan kondisi bagi ibu & janin atau bayinya agar dapat menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang optimal serta terhindar dari morbiditas.
Fasilitas dan peralatan meliputi :
1) Bed Site Monitor 2) Suction Transport 3) CPAP 4) Syring Pump 5) Oksimetri 6) Phototerapi 7) T-piece Resusitator 8) Infant Warmer 9) Incubator 10) Infuse Pump 11) Incubator Transport 3. Pelayanan Penunjang a. Medis
1) Instalasi Bedah Sentral (IBS) 2) Endoscopy dan treadmill 3) Hemodialisa
5) Rehab medik 6) Laboratorium 7) Instalasi bank darah 8) Pelayanan farmasi 9) CSSD 10) Rekam medis 11) Pelayanan gizi 12) Loundry 13) Kamar jenazah b. Non Medis 1) Pelayanan IPSRS
2) Pelayanan mobil ambulance c. Pelayanan Administrasi dan Keuangan
Pelayanan Administrasi dan Keuangan Meliputi :
1) SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit 2) Pemasaran
3) Kasir
4) Pengelolaan keuangan 5) Pendidikan dan pelatihan 6) Hukum dan kehumasan d. Fasilitas Pendukung
1) Bank dan ATM
3) Parkir
4) Pelayanan rohami 5) Pelayanan BPJS 6) Sekuriti
E. Kebijakan Mutu Pelayanan
Dalam menjamin kualitas pelayanan RSUD Salatiga kepada para pasien, RSUD Salatiga mempunyai maklumat kebijakan mutu pelayanan untuk para pegawainya, agar para pegawai bekerja secara berkualitas sehingga menghasilkan kualitas pelayanan yang baik kepada pasien sesuai standar pelayanan yang ditetapkan oleh RSUD Salatiga.
62
BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai proses peneliti mengumpulkan data hingga pengolahan data beserta pembahasannya. Dalam mengumpulkan data peneliti menyebarkan 100 kuesioner yang akan diberikan pada pasien rawat jalan di RSUD Salatiga, penelitian dilakukan pada tanggal 29 Agustus 2018, dalam kuesioner berisi pernyataan β pernyataan mengenai pengaruh dari kualitas pelayanan, fasilitas terhadap kepuasan pasien. Pada saat menyebarkan kuesioner, peneliti menyebarkan di poliklinik RSUD Salatiga. Peneliti membagikan kuesioner kepada pasien yang sekiranya bisa membaca dan menulis. Tentunya sebelum membagikan kuesioner untuk pasien yang sudah tua, peneliti bertanya terlebih dahulu apakah pasien tersebut bisa membaca, menulis dan bersedia mengisi kuesioner. Pengukuran varibael dalam penelitian ini menggunakan skala
Likert dengan ketentuan:
Tabel V.1 Skala Likert
Dalam penelitian ini analisa data terbagi menjadi 2 bagian yaitu pengujian instrumen yang terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas, dan analisis data yang
Keterangan Skala Pengukuran
SS (Sangat Setuju) 1
S (Setuju) 2
N (Netral) 3
TS (Tidak Setuju) 4
terdiri dari uji asumsi klasik, uji regresi berganda, uji f, uji t dan koefisien determinasi. Dalam pengujian ini peneliti menggunakan program perhitungan komputer yaitu SPSS 19.0.
A. Deskripsi Responden
1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Dalam penelitian ini jenis kelamin responden dibedakan menjadi 2 yaitu:
Tabel V.2
Karakteristik Responden Berdasarksn Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Presentase (%)
Laki β laki 56 56,00
Perempuan 44 44,00
Total 100 100
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan tabel di atas menunjukan bahwa jumlah responden yang berjenis kelamin laki β laki berjumlah 56 orang (56%) dan yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 44 orang (44%).
2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Dalam penelitian ini usia responden dibedakan menjadi 5 yaitu:
Tabel V.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Sumber: Data primer yang diolah
Usia Jumlah Presentase (%)
β€ 20 tahun 4 4,00 21-30 tahun 26 26,00 31- 40 tahun 24 24,00 41-50 tahun 26 26,00 > 50 tahun 20 20,00 Total 100 100
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah responden yang berusia β€ 20 tahun berjumlah 4 orang (4%), 21-30 tahun berjumlah 26 orang (26%), 31- 40 tahun berjumlah 24 orang (24%), 41-50 tahun berjumlah 26 orang (26%), > 50 tahun berjumlah 20 orang (20%).
3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Dalam penelitian ini jumlah pendidikan terkahir responden dibedakan menjadi 6 bagian yaitu:
Tabel V.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah responden berpendidikan terakhir SD berjumlah 6 orang (6%), SMP berjumlah 14 orang (14%), SMA berjumlah 43 orang (43%), D1-D3 berjumlah 13 orang (13%), S1 berjumlah 24 orang (24%), S2/S3 berjumlah 0 orang (0%).
Pendidikan Terakhir Jumlah Presentase (%)
SD 6 6,00 SMP 14 14,00 SMA 43 43,00 Diploma 1-Diploma 3 13 13,00 S1 24 24,00 S2/S3 0 0,00 Total 100 100
4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Dalam penelitian ini jumlah pekerjaan responden dibedakan menjadi 6 bagian yaitu :
Tabel V.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah responden yang mempunyai pekerjaan sebagai PNS berjumlah 14 orang (14%), TNI/POLRI berjumlah 4 orang (4%), pegawai swasta berjumlah 27 orang (27%), wiraswasta berjumlah 24 orang (24%), buruh berjumlah 20 orang (20%), lain-lain (freelance, ibu rumah tangga, pensiunan) berjumlah 11 orang (11%).
5. Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Kunjungan Pemeriksaan Dalam penelitian ini jumlah kunjungan pemeriksaan responden dibedakan menjadi 5 bagian yaitu :
Pekerjaan Jumlah Presentase (%)
PNS 14 14,00 TNI/POLRI 4 4,00 Pegawai Swasta 27 27,00 Wiraswasta 24 24,00 Buruh 20 20,00 Lain-lain 11 11,00 Total 100 100
Tabel V.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Kunjungan Pemeriksaan
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah responden berdasarkan jumlah kunjungan pemeriksaan sebanyak 1 kali berjumlah 17 orang (17%), 2 kali berjumlah 28 orang (28%), 3 kali berjumlah 21 orang (21%), 4 kali berjumlah 14 orang (14%), β₯ 5 kali berjumlah 20 orang (20%).
B. Deskripsi Variabel
1. Deskripsi Variabel Kualitas Pelayanan
Berdasarkan dari 100 kuesioner yang telah disebar, didapatkan hasil rekapitulasi variabel kualitas pelayanan dengan skala pengukuran variabel berdasarkan rata β rata dengan menggunakan skala likert seperti pada tabel V.1.
Kunjungan Jumlah Presentase (%)
1 kali 17 17,00 2 kali 28 28,00 3 kali 21 21,00 4 kali 14 14,00 β₯
5 kali
20 20,00 Total 100 100Tabel V. 7
Deskripsi Variabel Kualitas Pelayanan
No Pernyataan Rata β rata Kategori
1 Gedung RSUD Salatiga dalam kondisi
layak digunakan 3,9 Tinggi
2 Memiliki peralatan medis yang lengkap
dan sudah mendukung pemeriksaan 3,8 Tinggi
3 Dokter, petugas medis dan non-medis
berpenampilan bersih dan rapi 3,8 Tinggi
4 Dokter dan petugas medis siap melayani
pasien setiap saat 3,9 Tinggi
5 Dokter dan petugas medis selalu memberi obat pasien sesuai prosedur pemberian obat
3,8 Tinggi
6 Dokter, petugas medis dan non-medis
selalu ramah dan sopan terhadap pasien 4 Tinggi
7 Dokter dan petugas medis memberikan
pelayanan secara profesional 3,8 Tinggi
8 Dokter dan petugas medis memperhatikan
keluhan pasien 3,8 Tinggi
9 Dokter selalu memberikan penjelasan
tentang penyakit 3,7 Tinggi
10 Dokter, petugas medis dan non-medis
memberikan pelayanan tepat waktu 3,9 Tinggi
11 RSUD Salatiga menyediakan dokter
spesialis yang lengkap 3,8 Tinggi
12 Dokter dan petugas medis yang terdidik, berkompeten menimbulkan kepercayaan pasien