BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Ukuran dan Kepadatan Populasi
Populasi komodo di areal penelitian ditentukan berdasarkan jumlah individu untuk mengetahui dugaan populasi komodo dengan cara pengambilan beberapa contoh jalur. Hasil pengamatan ditemukan sebanyak 142 individu antara lain 16 individu tetasan, 32 individu anakan, 26 individu muda, dan 68 individu dawasa. Untuk individu tetasan hanya ditemukan pada satu sarang komodo di Loh Buaya, yaitu pada jalur 10 sebagai jalur wisata. Data lebih lengkap tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil pengamatan komodo berdasarkan kelas umur dan tipe habitat Jalur Tipe Hutan Lokasi Tetasan Anakan Muda Dewasa Total
1 Hutan 1 L.Bar 0 1 1 4 6 2 Hutan 2 L.Bar 0 2 3 3 8 3 Savana 1 L.Bar 0 0 0 0 0 4 Hutan 3 L.Bar 0 4 1 1 6 5 Savana 2 L.Bar 0 1 1 5 7 6 Hutan 4 L.Bar 0 4 1 0 5 7 Savana 3 L.Bya 0 3 1 6 10 8 Savana 4 L.Kim 0 1 2 3 6 9 Savana 5 L.Kim 0 0 2 1 3 10 Hutan 5 L.Bya * 16 12 9 22 59 11 Savana 6 WW* 0 0 0 9 9 12 Savana 7 WW 0 0 0 2 2 13 Savana 8 WW-LG 0 2 0 2 4 14 Savana 9 WW-LG 0 1 2 1 4
24 Lanjutan Tabel 2. 15 Savana 10 LG 0 0 0 0 0 16 Savana 11 LG 0 0 1 3 4 17 Savana 12 L.Bya 0 1 1 4 6 18 Savana 13 L.Kim 0 0 1 2 3 19 Savana 14 L.Kim 0 0 0 0 0 20 Savana 15 L.Kim 0 0 0 0 0 Keterangan : *) : Jalur wisata L.Bar : Loh Baru L.Bya : Loh Buaya L.Kim : Loh Kima WW : Wae Waso LG : Lengkong Gurung
Jalur pengamatan yang paling banyak ditemukan komodo yaitu pada jalur 10 (L.Bya – Hutan) sebanyak 59 individu. Jalur ini merupakan jalur yang biasa dilalui oleh para wisatawan untuk melakukan tracking. Peluang untuk melihat komodo sangat besar pada jalur ini, karena potensi pakan komodo, pakan mangsa komodo, maupun potensi air bagi mangsa komodo di jalur ini dan di sekitarnya cukup banyak. Dibuktikan selama pengamatan banyak ditemukan satwa mangsa komodo seperti rusa timor, kerbau air, kuda liar, dan monyet ekor panjang.
Sebanyak 5 jalur pengamatan tidak ditemukan individu komodo yaitu pada jalur L.Bar – Savana 1, LG – Savana 10, L.Kim – Savana 13, L.Kim – Savana 14, dan L.Kim – Savana 15. Jalur tersebut memiliki tipe habitat savana yang memiliki kondisi alam yang terbuka dengan sedikit pepohonannya. Kondisi ini menyulitkan komodo untuk berteduh atau beristirahat yang biasa dilakukan pada batang-batang pohon yang telah roboh atau pada naungan-naungan pohon yang tidak langsung terkena sinar matahari pada saat siang. Hal ini juga menyulitkan komodo untuk mendapatkan mangsanya sehingga memudahkan satwa mangsa untuk menghindari serangan komodo.
Komodo di P. Rinca memiliki dugaan populasi sebesar 698 individu dengan kepadatan 3,15 ind/km2. Pada Tabel 3 menunjukan hasil perhitungan dengan menggunakan Caughley (1977) mengenai dugaan dan kepadatan populasi komodo.
Tabel 3. Dugaan populasi dan kepadatan komodo di P. Rinca berdasarkan kelas umur Kelas Umur Dugaan Populasi (ind) Kepadatan (ind/km2) SE Kisaran Populasi (ind) Tetasan 79 0,4 0,82 78,18 – 79,82 Anakan 157 0,8 0,62 156,38 – 157.62 Muda 128 0,65 0,45 127,55 – 128,45 Dewasa 334 1,7 1,18 332,82 – 335,18 Keterangan : SE (Sampling Error)
Hasil penelitian menunjukan dugaan populasi dan kepadatan terbesar pada kelas umur dewasa sebanyak 334 individu dengan kepadatan 1,7 ind/km2. Sedangkan yang terkecil yaitu pada kelas umur tetasan sebanyak 79 individu dengan kepadatan 0,4 ind/km2. Kondisi daya dukung habitat di kawasan TNK dan penyebaran komodo pada masing-masing tipe habitat menjadi salah satu faktor perbedaan kepadatan setiap kelas umur komodo.
Komodo di kawasan TNK terdapat di P. Rinca, P. Komodo, P. Gili Motang, dan P. Nusa Kode. Kegiatan inventarisasi populasi komodo hampir setiap tahun dilakukan oleh pihak Balai TNK. Namun untuk P. Nusa Kode belum dilakukan penelitian terhadap kondisi populasi komodo. Tabel 4 menunjukan nilai kepadatan komodo di setiap pulau di kawasan TNK.
Tabel 4. Kepadatan komodo di masing-masing pulau di TNK Tahun P. Rinca (ind/km2) P. Komodo (ind/km2) P. Gili Motang (ind/km2) 2003 6,45 3,97 - 2004 6,85 - - 2005 6,61 3,63 - 2006 - - - 2007 6,77 4,03 4,5 (Sumber: Statistik TN Komodo Tahun 2007)
Jika dibandingkan dengan pulau-pulau lain di kawasan TNK, kepadatan komodo di P. Rinca pada tahun 2003 - 2007 memiliki kisaran kepadatan 6,45 – 6,77 ind/km2, P. Komodo 3,63 – 4,03 ind/km2, dan di P. Gili Motang 4,5 ind/km2. Perbedaan nilai kepadatan populasi komodo pada beberapa tahun ke belakang mengalami kenaikan dan penurunan. Proses-proses ini disebabkan oleh faktor – faktor alam atau potensi pakan, dan habitat, serta faktor manusia (perburuan pakan komodo), tingkat kematian, dan tingkat kelahiran.
26
Gambar 4. Tipe habitat di kawasan TNK Sumber : Panduan Sejarah Ekologi TNK (2004)
P. Komodo memiliki luasan yang lebih besar dibandingkan dengan P. Rinca, tetapi memiliki kepadatan yang lebih kecil. Hal ini disebabkan oleh kondisi habitat yang relatif berbukit-bukit bahkan terdapat beberapa gunung – gunung kecil, sehingga berpengaruh terhadap metode inventarisasi yang dilakukan.
P. Gili Motang memiliki ukuran komodo lebih kecil dari pulau – pulau lain. Hal ini akan menyebabkan sedikitnya populasi yang ada di P. Gili Motang. Komodo yang terdapat di P. Gili Motang memiliki tingkat agresivitas yang lebih tinggi dari komodo di pulau-pulau lainnya, karena sedikitnya orang-orang yang berkunjung ke pulau ini. Tidak adanya pos penjagaan dan terletak cukup jauh dari Labuan Bajo menjadi salah satu hambatan untuk menuju ke pulau ini.
Kepadatan komodo pada berbagai kelas umur di tiap tipe habitat memiliki nilai yang berbeda (Tabel 5). Pada hutan gugur memiliki kepadatan lebih tinggi dari pada di savana.
Tabel 5. Kepadatan populasi komodo berdasarkan kelas umur terhadap tipe habitat Kelas Umur Kepadatan (ind/km
2
)
Hutan Gugur Savana
Tetasan 1,6 0
Anakan 2,3 0,1
Muda 1,5 0,12
Dewasa 3 0,42
Kepadatan komodo tertinggi di hutan gugur yaitu pada kelas umur dewasa (3 ind/km2) dan terendah pada kelas umur muda (1,5 ind/km2), sedangkan di savana kepadatan komodo tertinggi yaitu pada kelas umur dewasa (0,42 ind/km2) dan pada kelas umur tetasan tidak ditemukan sama sekali. Keadaan ini menunjukan tingkat kemampuan hidup dan pergerakan komodo dewasa lebih tinggi dibandingkan dengan komodo lainnya yang lebih muda.
Menurut Fakhruddin (1998), tanpa memperhatikan tipe vegetasi bahwa kepadatan populasi komodo di P. Komodo sebesar 27,5 ind/km2 dengan asumsi komodo tersebar hanya di hutan gugur dengan luasan 76,07 km2. Maka diperoleh populasi komodo di hutan gugur sebanyak 2091 individu. Perbedaan jumlah yang cukup jauh dibandingkan dengan populasi di Rinca sebesar 698 individu dengan kepadatan sebesar 8,4 ind/km2. Komodo mempunyai berbagai pola perilaku yang bervariasi dalam merespon lingkungannya, sehingga dapat berfluktuasi dari waktu ke waktu mengikuti fluktuasi lingkungannya. Perbedaan topografi antara P. Komodo dengan P. Rinca menjadi salah satu penyebab perbedaan populasi komodo dikedua pulau tersebut, sehingga memiliki peluang bertemu komodo berbeda. P. Rinca yang memiliki topografi yang relatif datar sedangkan P. Komodo lebih berbukit-bukit.
(a) (b)
Gambar 5. Lokasi pengamatan. (a) Savana. (b) Hutan Gugur.
Inventarisasi komodo setiap tahun dilakukan untuk menduga kelestarian populasi komodo dan pendukung dalam kegiatan ekowisata di TNK. Kegiatan ini dilakukan oleh pihak Balai TNK, LSM, maupun peneliti-peneliti lainnya. Beberapa peneliti melakukannya dengan metode-metode yang berbeda, seperti feeding (pengumpanan), jalur, atau consentration count (Tabel 6).
28
Tabel 6. Perkembangan populasi komodo di P. Rinca
Tahun Populasi (ind) Metode Pelaksana/Peneliti Keterangan 2001 1110 Feeding Balai TN Komodo -
2002 - - - Tidak dilakukan penelitian 2003 1265 Feeding Balai TN Komodo - 2004 1346 Feeding Balai TN Komodo - 2005 1298 Feeding Balai TN Komodo -
2006 - - - Tidak dilakukan penelitian 2007 1329 Feeding Balai TN Komodo -
Inventarisasi yang dilakukan dengan menggunakan pengumpanan (feeding) oleh pihak BTNK menggunakan daging kambing yang dipasang di beberapa plot yang sama selama bertahun-tahun. Hasil analisis dari metode feeding selama 6 tahun ke belakang bahwa populasi komodo mengalami peningkatan sebesar 13,96% dari 1100 individu pada tahun 2001 menjadi 1265 individu pada tahun 2003. Pada tahun 2004 mengalami peningkatan sebesar 6,4% dibandingkan tahun 2003 menjadi 1346 individu. Untuk tahun 2005 mengalami penurunan populasi sebesar 3,57% dari 1346 individu pada tahun 2004 menjadi 1298 individu pada tahun 2005 dan pada tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 2,33%.
Kegiatan inventarisasi komodo yang telah dilakukan selama ini oleh pihak Balai TNK adalah metode feeding. Jika dibandingkan dengan metode yang dilakukan selama pengamatan terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan (Tabel 7). Hal ini disesuaikan dengan tujuan dan sumber dana serta tenaga yang ada. Tabel 7. Kelebihan dan kekurangan metode dalam inventarisasi komodo
Metode Kelebihan Kekurangan
Pengumpanan (Feeding)
• Peluang menemukan satwa lebih besar • Mudah dalam
identifikasi jumlah, jenis kelamin, dan kelas umur.
• Membutuhkan biaya yang besar dalam penyediaan umpan. • Dalam jangka panjang,
dapat merubah perilaku satwa
• Diperlukan lokasi yang sering dilalui satwa.
Kombinasi transek jalur dan
Consentration count
• Perhitungan jumlah jalur dapat disesuaikan dengan luasan total untuk memperoleh
Intesitas Sampling yang besar.
• Membutuhkan tenaga yang lebih besar.
Lanjutan Tabel 7.
• Tidak membutuhkan biaya yang besar • Kemungkinan terjadi
strees pada satwa yaitu kecil, karena sedikitnya gangguan oleh manusia terhadap satwa. • Terkadang kondisi lapangan (jalur pengamatan) tidak memungkinkan untuk terlihatnya objek pengamatan (satwa) secara keseluruhan karena kondisi alam (cuaca, kerapatan vegetasi, dan topografi).
3. Struktur Umur
Struktur umur dapat digunakan untuk menilai keberhasilan perkembangbiakan satwaliar sehingga dapat menduga prospek kelestariannya. Pengklasifikasian struktur umur komodo, yaitu berdasarkan kelas umur tetasan, anakan, muda, dan dewasa. Ciri-ciri yang membedakan komodo berdasarkan kelas umur selama di lapangan dilihat pada Tabel 8 dan Gambar 6.
Tabel 8. Ciri-ciri morfologi komodo berdasarkan kelas umur No. Kelas Umur
Ciri-ciri Morfologi
Warna Tubuh Bentuk Kepala Ukuran Tubuh (SVL) 1 Anakan Kuning
kemerahan Kecil lancip > 0.60 m
2 Remaja Kuning
kehitaman Sedang, agak lancip 0.60 - 1.25 m
3 Dewasa Hitam
keabu-abuan Besar, lebar >1.25 m
(a)
(c)
Gambar 6. Komodo berdasarkan kelas umur. (a) Dewasa, (b) Muda, (c dan d) Anakan
Untuk membedakan jenis kelamin hanya dilakukan pada kelas umur dewasa, karena pada kelas umur anakan dan remaja sangat sulit men
sekali persamaan secara morfologi, ba
yang tepat untuk membedakan jenis kelamin pada kelas umur anakan dan remaja. Nilai masing-masing kelas umur terlihat pada Gambar
Berdasarkan analisis data untuk struktur umur komodo kelas umur dewasa memiliki jumlah terbesar
umur yang lain. Sedangkan untuk nilai yang terkecil yaitu pada kelas umur tetasan sebesar 11,31%. Nilai tetasan tersebut didapatkan dari hasil
0 50 100 150 200 250 300 350 In d iv id u (b) (d)
. Komodo berdasarkan kelas umur. (a) Dewasa, (b) Muda, (c dan d)
Untuk membedakan jenis kelamin hanya dilakukan pada kelas umur dewasa, karena pada kelas umur anakan dan remaja sangat sulit mengingat banyak sekali persamaan secara morfologi, bahkan sampai sekarang belum ada
membedakan jenis kelamin pada kelas umur anakan dan remaja. masing kelas umur terlihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Struktur umur komodo
analisis data untuk struktur umur komodo diperoleh kelas umur dewasa memiliki jumlah terbesar (47,85%) dibandingkan dengan kelas umur yang lain. Sedangkan untuk nilai yang terkecil yaitu pada kelas umur tetasan
. Nilai tetasan tersebut didapatkan dari hasil hatcling
0 50 100 150 200 250 300 350
Tetasan Anakan Muda Dewasa
Kelas Umur
30
. Komodo berdasarkan kelas umur. (a) Dewasa, (b) Muda, (c dan d)
Untuk membedakan jenis kelamin hanya dilakukan pada kelas umur gingat banyak ada metode membedakan jenis kelamin pada kelas umur anakan dan remaja.
diperoleh nilai dibandingkan dengan kelas umur yang lain. Sedangkan untuk nilai yang terkecil yaitu pada kelas umur tetasan hatcling bulan
Februari 2008 pada satu sarang komodo yang dipagari yang bertujuan untuk menghindari predator terhadap telur maupun tetasan komodo dan juga sebagai pemantauan hasil tetasan pada sarang komodo. Untuk kelas umur anakan dan muda masing-masing sebesar (22,49% dan 18,34%). Keadaan ini menunjukan adanya resiko kematian yang cukup tinggi pada tetasan komodo. Pengelolaan yang kurang intensif terhadap sarang komodo dapat menyebabkan rendahnya populasi pada tetasan komodo. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor pakan komodo yang diduga memiliki populasi yang relatif semakin menurun, terlebih masih adanya gangguan dari perburuan liar terhadap rusa dan keberadaan anjing liar.
Jika dilihat berdasarkan urutan jumlah individu yang memiliki nilai tertinggi sampai terendah yaitu kelas umur dewasa, anakan, muda, dan tetasan. Kondisi populasi komodo seperti ini sangat sulit untuk berkembang atau bertambah, sehingga kemungkinan besar komodo berada dalam status satwa yang terancam punah. Menurut Wiessum (1973), bahwa populasi dapat stabil, berkembang, atau menurun disebabkan oleh :
1. Keadaan hidup satwa seperti makanan, tempat tinggal, pelindung, dan lain-lain. 2. Keadaan sikap hidup satwa yaitu kelahiran, kematian, dan survival.
3. Perpindahan satwa.
Kesulitan secara visual selama pengamatan mempengaruhi karena ukuran komodo semakin kecil semakin sulit untuk ditemukan. Terlebih komodo muda, anakan, dan tetasan lebih sering ditemukan di pohon atau alang-alang.
Struktur umur komodo dalam beberapa tahun ini di P. Rinca dan P. Komodo (Tabel 9) dalam keadaan populasi mundur (regressive population), yaitu natalitas mengalami penurunan.
Tabel 9. Populasi komodo berdasarkan kelas umur di TN Komodo tahun 2003 – 2007
Tahun P. Rinca P. Komodo
Anak Remaja Dewasa Total Anak Remaja Dewasa Total 2003 354 389 522 1265 228 456 667 1351 2004**) 266 434 646 1346 - - - - 2005**) 302 415 581 1298 211 349 677 1237 2006***) - - - - 2007 340 377 612 1329 202 413 755 1370 Ket: **) Tahun 2004 dan 2005 dana untuk inventarisasi komodo hanya tersedia untuk P. Rinca. ***) Tidak ada kegiatan inventarisasi komodo.
32