• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

1. Ukuran dan Tujuan Kebijakan

Program pengembangan sentra industri kecil di Kabupaten Serang adalah salah satu program unggulan Kabupaten Serang 2010-2015 yang mengusung misi dalam bidang ekonomi “Meningkatkan pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal serta memperkuat struktur perekonomian daerah”. Menurut Meter dan Horn, standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisir. Apabila standar dan sasaran kebijakan kabur, maka akan terjadi multi interpretasi dan mudah menimbulkan konflik diantara para agen implementasi (Wahab, 2012:99).

Dalam implementasinya program pengembangan sentra industri kecil di Kabupaten Serang masih mengalami kendala dalam menentukan ukuran dan standar kebijakan, ada dua faktor yang peneliti buat dalam menganalisis kendala dimensi ukuran dan standar kebijakan, Pertama,

definisi IKM (Industri Kecil Menengah) dan UKM (Usaha Kecil Menengah), meskipun keduanya memiliki kriteria yang sama yakni usaha kecil memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat (Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008) begitupun dengan industri kecil (Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor: 11/M-IND/PER/3/2014 tentang Program Restrukturisasi Mesin atau Peralatan Industri Kecil Menengah). Namun keduanya memiliki perbedaan yakni IKM adalah proses pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi, sedangkan UKM adalah usaha kecil dan menengah yang dijual belikan. Jadi IKM adalah bagian dari UKM, akan tetapi UKM itu belum tentu IKM. Di sisi yang lain dalam industri tidak dikenal industri mikro seperti dalam definisi usaha kita mengenal usaha mikro yakni memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; (Hasil wawancara dengan I4,I5,I3).

Adanya pembagian definisi di atas membawa berbagai konsekuensi yang strategis dalam pengembangan IKM/UKM setidaknya ada dua yakni dalam pengaturan dan pembinaan. Instansi atau lembaga terkait dalam pembinaan UKM/IKM ditingkat pusat terbagi menjadi tiga yakni Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Industri dan Kementerian Perdagangan Sedangkan di tingkat Kabupaten Serang dilebur menjadi satu instansi yakni Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan.

Kedua, implikasi dari definisi di atas adalah landasan kebijakan pengembangan sentra industri kecil yang masih belum jelas dan menimbulkan perdebatan. Pengembangan dan penumbuhan sentra diatur oleh Kementerian Koperasi dan UKM dalam Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor :23/PER/M.KUKM/IV/2005 tentang Perubahan Atas Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan Usaha kecil Menengah Nomor: 32/Kep/M.KUKM/IV/2003 tentang Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Sentra Usaha Kecil dan Menengah. Sebaliknya Kementerian Perindustrian tidak mengatur mengenai sentra industri kecil menengah, Sedangkan kebijakan pengembangan sentra di Kabupaten Serang adalah sentra industri kecil. Hal ini dapat mempengaruhi implementasi program pengembangan sentra industri kecil.

Dampak dari kebijakan di atas adalah terjadinya ambiguitas di kalangan agen pelaksana, antara Bidang Industri dengan Bidang UKM mengenai aturan pengembangan sentra industri, karena Kementerian Perindustrian tidak mengatur hal tersbut (wawancara dengnga I4). Implikasi selanjutnya adalah SOP pengembangan sentra industri kecil tas di Kabupaten Serang dalam pengembangannya menggunakan Undang-Undang Nomor 20 tahu 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

“Di kita tidak ada SOP, pengembangan UMKM itu mengacu pada Undang –Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM, begitu pun dengan Sentra juga sudah diatur dalam undang-undang

tersebut.” ( Wawancara dengan I4, dan I5. 20 Juli pukul 11.30)

Mengenai tata laksana (SOP) pengembangan sentra industri akan dibahas pada bagian dimensi Kognisi agen pelaksana selanjutnya.

Dari dimensi ukuran dan tujuan kebijakan ini, peneliti dapat menganalisis beberapa aspek yang terkandung didalamnya, yaitu: kejelasan standar dan tujuan porgram pengembangan sentra industri kecil tas, serta standar dan tujuan yang realistis dengan keadaan masyarakat.

Tujuan program pengembangan sentra industri kecil tas di Kecamatan Petir menurut para informan terbagi menjadi tiga kategori, kategori pertama adalah informan yang mengatakan bahwa tujuan telah realistis untuk mengembangkan industri kecil sesuai dengan sasaran kebijakan yakni banyaknya pengrajin industri kecil tas di Kecamatan Petir.

“Tujuan dibuatnya sentra adalah untuk menata dan

mengembangkan para pelaku usaha agar meningkatkan produksinya dalam satu wilayah sehingga menimbulkan efek

domino dalam masyarakat” (Wawancara dengan Bapak Aminudin Sekretarais Camat Kecamatan Petir. Tanggal 18 Juli 2016, pukul 15:00 WIB)

Menurut Usman (salah satu pemilik usaha industri kecil tas) dengan adanya program sentra tas di Kecamatan Petir, produk tas dikenal sampai ke daerah lain, otomatis pesanan tas meningkat sehingga kebutuhan pegawai pun meningkat (hasil wawancara dengan I1-1) kebutuhan untuk pegawai di penuhi oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Pengrajin lain Ganil, mengaku pesanan kebanyakan dari instansi pemerintah baik kabupaten maupun Provinsi Banten sebagai souvenir pada kegiatan pemerintahan (hasil wawancara dengan I1-2).

Pemerintah daerah membantu perkembangan usaha tas dengan menggunakan produk produk UMKM untuk kegiatan pemerintahan. Hal ini sesuai dengan huruf (a) ayat 1 pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2013 tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang UMKM menyebutkan bahwa: “Pemerintah dan Pemerintah Daerah memprioritaskan pengembangan Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah melalui: (a) pemberian kesempatan untuk ikut serta dalam pengadaan barang dan jasa Pemerintah dan Pemerintah Daerah”

Kedua, tanggapan informan mengenai standar dan tujuan kebijakan pengembangan sentra industri kecil di Kabupaten Serang. Berbeda dengan dukungan yang pertama, kelompok kedua menilai bahwa standar dan tujuan kebijakan terlalu tinggi dan idealis.

“Pemerintah Kabupaten Serang terlalu tinggi dalam membuat targetan pembangunan, dalam pelaksanaannya sulit merealisasikan targetan itu, sehingga dalam perubahan APBD harus direvisi targetan program unggulan kabupaten serang. (Wawancara dengan I8. Tanggal 20 Juli 2016, pukul 14:30 WIB). Berdasarkan hasil wawancara dengan Mansur (Anggota DPRD Kabupaten Serang) realisasi target 8 (delapan) program unggulan Kabupaten Serang yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Serang minim dilakukan, hal ini terjadi karena Pemerintah Kabupaten Serang tidak konsisten dalam merealisasikan visinya sehingga target itu direvisi

http://satelitnews.co.id/pejabat-pemkab-jadi-bulan-bulanan-dewan/feed/

Program pengembangan sentra industri kecil sudah dikaji sejak tahun 2010, menurut Dahlan (Bidang Program dan Evaluasi Bappeda Kabupaten Serang ) implementasi nya masih belum sesuai dengan kajian, program pengembangan sentra industri kecil tidak hanya pergerakan produksi akan tetapi menumbuhan menjadi ekowisata berbasis sentra yang mampu menimbulkan efek domino bagi kawasan sentra itu sendiri (Wawancara dengan I3).

Ketiga, tujuan dan standar kebijakan program pengembangan sentra industri kecil mestilah diketahui dan disosialisasikan kepada para agen pelaksana serta masyarakat sehingga merasa bertanggungjawab dan ikut serta dalam program tersebut, pihak Kecamatan dan TPLIKM tidak mengetahui dan tidak mampu mengukur standar keberhasilan dari program pengembangan sentra industri kecil tas, karena mereka kurang dilibatkan, dan menganggap program pengembangan sentra itu program dari kabupaten dan tidak ada urusan dengan pihak kecamatan (wawancara dengan I2)