HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4. Usia Anak diberikan Makanan Lain Selain ASI
2.1. Umur ibu
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, mengenai umur ibu, menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia 20-35 tahun yaitu sebanyak 54 responden (79,4%). Hasil penelitian tersebut menggambarkan secara umum responden berada pada usia yang dianggap memiliki kemampuan laktasi
yang baik, seperti yang di kemukakan oleh Whitehead (1986) dalam Husna (2006) bahwa usia ibu melahirkan sangat berpengaruh pada kesehatan ibu, sehingga kondisi ibu yang sehat akan berpengaruh terhadap adanya ASI yang akan diberikan kepada bayinya. Usia wanita yang paling baik untuk mempunyai anak adalah pada usia 20 tahun dan berhenti melahirkan pada usia 35 tahun. Hal ini sama seperti yang diugkapkan Hartanto (1996) dalam Sinaga (2011), periode umur antara 20-35 tahun merupakan periode usia yang baik untuk melahirkan, bila umur ibu kurang dari 20 tahun, wanita masih dalam masa pertumbuhan dari faktor biologis sudah siap namun psikologis belum matang, begitu pula jika ibu melahirkan di usia 35 tahun masalah kesehatan sering timbul dengan komplikasi, menyusui bayi memerlukan kondisi kesehatan ibu yang baik. Hal ini sesuai dengan penelitian Sinaga (2011), yang menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Tetapi tidak sesuai dengan hasil penelitian Kristina (2003), yang memberikan hasil tidak ada pengaruh antara usia ibu dengan pemberian ASI eksklusif ( p > 0.05).
2.2. Tingkat Pendidikan Ibu
Berdasarkan tabulasi data yang dikumpulkan peneliti tentang tingkat pendidikan ibu, menunjukkan bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendidikan SMA sebanyak 31 responden (45,6%), sedangkan responden dengan tingkat pendidikan perguruan tinggi sebanyak 23 responden (33,8%), responden dengan tingkat pendidikan SMP sebanyak 8 responden (11,8%), dan responden dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 5 responden (7,4%). Menurut Husna
(2006), tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang yang lebih baik sehingga memungkinkan untuk menyerap informasi dan dapat berfikir secara rasional dalam menanggapi informasi atau setiap masalah yang dihadapi. Begitu pula yang diungkapkan Nadesul (2006), bahwa tingkat pendidikan dan wawasan hidup sehat yang dimiliki menentukan tingginya derajat kesehatan seseorang dan keluarganya. Hal ini sejalan dengan pendapat Notoadmodjo (2010) dalam Firmansyah N. dan Mahmudah (2012), sebagaimana umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah mendapatkan informasi dan akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang, hal ini juga berpengaruh pada ibu dalam pemberian asi eksklusif. Namun hal ini berbeda dengan hasil penelitian Ayunsari dkk. (2013), yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif yang menunjukkan nilai p-value sebesar 0.606.
2.3. Pekerjaan Kepala Keluarga
Analisis yang dilakukan terhadap jawaban yang diberikan responden mengenai pekerjaan kepala keluarga, diketahui mayoritas pekerjaan kepala keluarga responden sebagai wiraswasta sebanyak 40 responden (58,8%), sedangkan pekerjaan kepala keluarga responden sebagai pegawai negeri sipil sebanyak 18 responden (26,5%), pekerjaan kepala keluarga responden sebagai petani sebanyak 6 responden (8,8%), dan pekerjaan kepala keluarga lain-lain sebanyak 3 responden (4,4%). Menurut Pontes dkk. (2008) yang dikutip oleh Destriatania (2010), pekerjaan ayah dianggap sebagai penghalang keterlibatan
dalam konsultasi prenatal sehingga rendahnya kesempatan untuk belajar dan menambah pengetahuan mereka mengenai pemberian ASI menyebabkan mereka enggan untuk mendukung dan terlibat dalam proses menyusui. Hal ini sejalan dengan penelitian Fadjriah (2012), yang menyatakan bahwa ayah yang bekerja pada umumnya memahami mengenai ASI Eksklusif, akan tetapi mereka tidak mendukung ibu dalam memberikan ASI Eksklusif karena alasan kesibukan kerja.
2.4. Pekerjaan Ibu
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, mengenai pekerjaan ibu menunjukkan bahwa status pekerjaan ibu yang bekerja sebanyak 35 responden (51,5%), sedangkan status pekerjaan ibu yang tidak bekerja sebanyak 32 responden (47,1%). Menurut Roesli (2000), pekerjaan merupakan alasan yang sering digunakan oleh ibu untuk berhenti menyusui bayinya, seharusnya walaupun bekerja ibu dapat tetap memberikan ASI secara Eksklusif dengan memiliki pengetahuan yang benar tentang menyusui, memiliki perlengkapan memerah ASI, dan mendapat dukungan di lingkungan kerja. Sama seperti yang diungkapkan oleh visness dkk. (1997) yang dikutip oleh Destriatania (2010), Kembalinya ibu ke dunia kerja lebih dini dan kondisi tempat kerja yang kurang mendukung menyebabkan ia tidak dapat melanjutkan pemberian ASI pada bayinya. Dukungan pemberian ASI secara Eksklusif di tempat kerja tertuang dalam pasal 83 UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang dikutip oleh Kemalasari (2009), menyatakan bahwa buruh/pekerja perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika
hal itu harus dilakukan selama waktu kerja. Dan hasil penelitian Tan (2011), menunjukkan bahwa pada ibu-ibu yang bekerja menunjukkan kegagalan pemberian ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan pada ibu yang tidak bekerja, ini disebabkan faktor seperti penyapih dalam persiapan untuk kembali ke pekerjaan, kelelahan ibu dan kesulitan dalam tuntutan pekerjaan. Sedangkan hasil penelitian Firmansyah N. dan Mahmudah (2012), menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pekerjaan responden terhadap pemberian ASI eksklusif, karena responden yang tidak bekerja memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan ASI eksklusif sedangkan responden yang bekerja dapat menyediakan ASI eksklusif cadangan di rumah.
2.5. Penghasilan Keluarga
Hasil penelitian yang menggambarkan penghasilan keluarga, menunjukkan bahwa penghasilan keluarga responden Rp. 1.400.000-Rp. 2.800.000 sebanyak 28 responsen (41,2%), sedangkan penghasilan keluarga di bawah Rp. 1.400.000 sebanyak 24 responden (35,3%), dan penghasilan keluarga responden di atas Rp. 2.800.000 sebanyak 15 responden (22,1%). Menurut Amir dan Susan (2008) dalam Destriatania (2010), penghasilan keluarga yang rendah menjadi alasan ibu tidak memberikan ASI secara Eksklusif kepada bayinya karena kurangnya dukungan dari anggota keluarga, ketidakmampuan mengatasi masalah yang berkaitan dengan menyusui dan waktu kerja yang kurang fleksibel. Sama seperti hasil penelitian Saraswati (2000), menunjukkan bahwa penghasilan keluarga mempengaruhi pola konsumsi keluarga. Namun berbeda dengan yang
diungkapkan oleh Rahayu (2010), semakin tinggi tingkat pendapatan dalam keluarga justru akan menyebabkan semakin rendahnya persentase dalam pemberian ASI, hal ini dijelaskan sebagai berikut semakin tinggi tingkat pendapatan ibu maka akan tinggi pula daya beli ibu terhadap susu formula, dan tambahan makanan pendamping ASI
2.6. Jumlah Anggota Keluarga
Analisis yang dilakukan terhadap jawaban yang diberikan responden mengenai jumlah anggota keluarga, diperoleh gambaran bahwa sebanyak 34 responden (50%) memiliki jumlah anggota keluarga kurang dari empat orang, sedangkan sebanyak 33 responden (48,5%) memiliki jumlah anggota keluarga lebih dari empat orang. Hasil ini tidak menunjukkan hasil yang signifikan antara jumlah anggota keluarga kurang dari empat orang dengan jumlah anggota keluarga lebih dari empat orang. Menurut Damayanti (2010), banyaknya anggota keluarga menyebabkan banyak nasihat yang diberikan kepada ibu yang sedang memberikan ASI kepada bayinya khususnya nasihat dari anggota keluarga yang lebih tua, nasihat tersebut dapat menjadi kendala dalam pemberian ASI Eksklusif karena nasihat yang diberikan umumnya tidak sesuai dengan tindakan pemberian ASI secara Eksklusif seperti ibu harus memberi madu kepada bayi agar bayi menjadi kuat. Namun hal ini berbeda dengan hasil penelitian Ayunsari dkk. (2013), yang mengatakan bahwa jumlah anggota keluarga tidak mempunyai hubungan dengan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p=0.866.
2.7. Tipe Keluarga
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, mengenai tipe keluarga, diperoleh bahwa mayoritas tipe keluarga responden dengan tipe keluarga kecil yaitu sebanyak 54 responden (79,4%), sedangkan tipe keluarga responden dengan tipe keluarga besar sebanyak 13 responden (19,1%). Hal ini sejalan dengan penelitian Juherman (2008), yang menunjukkan hasil, keluarga kecil lebih banyak dibandingkan keluarga besar yang memberikan ASI Eksklusif, ini menjelaskan bahwa semakin banyak jumlah anggota dalam keluarga maka alokasi waktu, perhatian, dan tingkat keeratan yang diberikan orangtua kepada anak akan berkurang. Sejalan dengan hasil penelitian Kendang (2012), yang menunjukkan bahwa kakek dan nenek yang tinggal serumah dengan keluarga yang memiliki bayi atau keluarga besar, mempunyai peluang sangat besar untuk memberikan MPASI dini pada bayi sehingga meningkatkan kegagalan pemberian ASI Eksklusif, walaupun ibu mengetahui bahwa pemberian MP-ASI terlalu dini dapat mengganggu kesehatan bayi. Tetapi hal ini berbeda dengan hasil penelitian Ayunsari dkk. (2013), yang menunjukkan bahwa responden dengan tipe keluarga kecil tidak memiliki perbedaan dibandingkan dengan responden yang memiliki tipe keluarga besar dalam memberikan ASI Eksklusif, dengan nilai CI : 0,865-1,187 yang menunjukkan bahwa hasil tidak signifikan atau tidak ada pengaruh antara tipe keluarga dengan tindakan pemberian ASI Eksklusif.
2.8. Suku
Hasil penelitian yang menggambarkan suku responden, mayoritas responden bersuku Gayo yaitu sebanyak 40 responden (58,8%), sedangkan responden bersuku Jawa sebanyak 12 responden (17,6%), responden bersuku Aceh sebanyak 10 responden (17,7%), responden bersuku Minang sebanyak tiga responden (4,4%), dan bersuku Batak sebanyak dua responden (2,9%). Menurut Leininger (1984) yang dikutip oleh Firanika (2010), manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kebudayaan pada setiap saat dimanapun dia berada, kebudayaan dapat menopang perilaku kesehatan maupun dapat memperburuk kesehatan. Begitu juga yang diungkapkan Swaswona dan meutia (1998) dalam Firanika (2010), bahwa perilaku pemberian ASI Eksklusif tidak terlepas dari pandangan budaya yang telah diwariskan turun-menurun dalam kebudayaan atau suku yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan penelitian Basriludin (2009), yang menunjukkan hasil bahwa kebudayaan atau suku berpengaruh terhadap tindakan pemberian ASI Eksklusif, yang ditunjukkan oleh nilai (p<0,05), karena nilai/norma tentang pemberian ASI Eksklusif dianggap bermanfaat bagi kesehatan ibu.
2.9. Jumlah Anak
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, mengenai jumlah anak, diketahui 39 responden memiliki anak kurang dari dua anak (57,4%), sedangkan 28 responden memiliki anak lebih dari dua anak (41,2%). Menurut Effendy (1998), jumlah anak mempengaruhi fungsi pokok keluarga seperti memberikan
kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan terhadap anggota keluarga sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan kebutuhannya, keluarga memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya selalu terpelihara. Seperti penelitian Tan (2011), yang menunjukkan bahwa, jumlah anak yang lebih dari satu orang membuat ibu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menyusui, sehingga pemberian ASI Eksklusif akan lebih tinggi. Berbeda dengan yang diungkap Soedjiningsih (1995), bahwa memiliki anak yang banyak meningkatkan resiko pada ibu dan bayinya, ibu akan sulit dalam menyusui bayi dan merawat anak-anaknya. Tetapi hal ini berbeda dengan hasil penelitian Ayunsari dkk. (2013), yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah anak dengan pemberian ASI Eksklusif, yang ditunjukkan dengan nilai p-value sebesar 0.705.
2.10. Pemberian ASI Eksklusif
ASI eksklusif atau pemberian ASI secara Eksklusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan (kolostrum), diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan (Purwanti, 2004).
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, mengenai pemberian kolostrum, diketahui mayoritas ibu memberikan kolostrum kepada bayi mereka yaitu sebanyak 59 responden (86,8%). Kondisi ini mencerminkan bahwa perilaku ibu terhadap pemberian kolostrum sudah cukup baik. Menurut Purwanti (2004), pemberian kolostrum sangat ideal untuk membersihkan mekoneum sehingga
mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI, kolostrum juga mengandung lebih banyak antibodi sehingga dapat memberikan perlindungan bagi bayi ketika kondisi sangat lemah, kadar karbohidrat dalam kolostrum lebih rendah karena aktivitas bayi pada tiga hari pertama masih sedikit dan tidak terlalu banyak memerlukan kalori, tetapi kadar mineral terutama natrium, kalium dan kloridanya lebih tinggi, vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi sedangkan vitamin yang larut dalam air lebih sedikit. Hasil penelitian Ayunsari dkk. (2013), juga menunjukkan bahwa mayoritas ibu memberikan kolostrum kepada bayi mereka, perilaku pemberian kolostrum tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti tingkat pendidikan ibu, jumlah anggota keluarga, paritas (jumlah anak), akses informasi, penolong persalinan, tempat persalinan, dan tempat tinggal (lokasi).
Analisis yang dilakukan terhadap jawaban yang diberikan responden mengenai pemberian ASI enam bulan, diketahui mayoritas responden tidak memberikan ASI enam bulan yaitu sebanyak 44 responden (64,7%). Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menganjurkan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan (Depkes, 2012). Pemberian ASI enam bulan dapat dikatakan eksklusif jika orang tua bayi tidak memberikan makanan lain selain ASI selama enam bulan tersebut, seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif, bahwa ASI Eksklusif merupakan ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan sampai bayi berusia 6 bulan, tanpa tambahan makanan atau minuman lain.
Menurut penelitian Dalimunthe (2011), mayoritas ibu tidak memberikan ASI sampai usia bayi enam bulan, hal ini disebabkan oleh faktor pekerjaan ibu, serta faktor penyakit ibu seperti bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit sewaktu menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri dan demam.
Berdasarkan tabulasi data yang dikumpulkan peneliti tentang pemberian makanan tambahan selain ASI, diketahui mayoritas responden memberikan makanan tambahan selain ASI sebelum usia enam bulan yaitu sebanyak 47 responden (69,1%), sedangkan 20 responden tidak memberikan makanan tambahan selain ASI sebelum usia enam bulan. Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menganjurkan pemberian ASI secara eksklusif, tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain selain ASI (Depkes, 2012). Sama seperti yang tertuang di Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif, ASI Eksklusif diberikan tanpa tambahan makanan atau minuman lain. Menurut Roesli (2000), cairan dan makanan tambahan lain yang sering diberikan kepada bayi sebelum berumur 6 bulan yang dapat menyebabkan gagalnya pemberian ASI Eksklusif seperti tambahan cairan susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan makanan padat tambahan selain asi seperti pisang, papaya, bubur susu, biscuit, bubur nasi, dan tim. Menurut penelitian Fitria (2011), pemberian makanan tambahan selain ASI dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan memberikan makanan tambahan seperti pisang atau nasi pada hari-hari pertama kelahiran, pandangan sebagian masyarakat bahwa menyusui dapat merusak payudara, dan pekerjaan ibu
di luar rumah yang harus meninggalkan anaknya, sehingga bayi tidak hanya diberikan ASI saja tetapi juga diberikan makanan tambahan.
Hasil penelitian yang menggambarkan usia pemberian makanan lain selain ASI, diketahui 30 responden (44,1%) memberikan makanan lain selain ASI kepada bayi pada usia 1-4 bulan. Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menganjurkan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan (depkes, 2012). Dahulunya WHO merekomendasikan untuk memberikan ASI Eksklusif Sebelum tahun 2001 selama 4-6 bulan, namun pada tahun 2001 setelah melakukan telaah tentang pemberian ASI, WHO merevisi rekomendasi ASI Eksklusif tersebut dari 4-6 bulan menjadi 6 bulan (Fikawati & Syafiq, 2010). Hasil penelitian tersebut sejalan dengan yang diungkapkan Fikawati & Syafiq (2010), yang menyatakan bahwa rata-rata pemberian ASI Eksklusif di Indonesia hanya sampai 1,7 bulan yang termasuk dalam rentang usia 1-4 bulan, hal tersebut terjadi karena ketidaktahuan orang tua yang memberikan makanan pendamping pada bayi sebelum usia 6 bulan.
Hasil analisa keseluruhan indikator pemberian ASI Eksklusif, yaitu tentang pemberian kolostrum, pemberian ASI secara terus menerus, pemberian makanan lain selain ASI, dan usia anak diberikan makanan lain selain ASI, menunjukkan mayoritas responden tidak memberikan ASI Eksklusif yaitu sebanyak 50 responden (74,6%), sedangkan responden yang memberikan ASI Eksklusif hanya 17 responden (25,4%). Rendahnya capaian pemberian ASI juga ditunjukkan dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 yang
menunjukkan persentase bayi yang diberi ASI secara Eksklusif sampai dengan bayi berusia 6 bulan hanya 15,3 persen. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah (Depkes, 2011). Capaian tersebut sangat jauh dari target pencapaian pemberian ASI Eksklusif tahun 2010-2014 sebesar 80% yang tertuang dalam rencana Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat oleh Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI (Depkes 2012). Hasil penelitian Ayunsari dkk. (2013), juga menunjukkan mayoritas responden (73,9%) tidak memberikan ASI eksklusif, adapun faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif yang memiliki hubungan yaitu, akses informasi dan tempat persalinan. Selain itu menurut penelitian Agunbiade & Ogunleye (2012), keberhasilah pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, nilai-nilai budaya, penghasilan keluarga, dan kemudahan dalam mendapatkan akses ke pelayanan kesehatan.
2.11. Sumber Informasi ASI Eksklusif
Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti, mengenai sumber mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif, diketahui 22 responden (32,4%) mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif hanya dari pelayanan kesehatan (tempat pelayanan kesehatan, dokter, dan bidan), sedangkan sebanyak 13 responden ( 19,1%) tidak pernah mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif, sebanyak 11 responden (16,2%) mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif dari pelayanan kesehatan (tempat pelayanan kesehatan, dokter, bidan), dan keluarga, sebanyak 10 responden (14,7%) mendapatkan informasi tentang ASI
Eksklusif dari pelayanan kesehatan (tempat pelayanan kesehatan, dokter, bidan), keluarga, dan media (media cetak, media elektronik), sebanyak enam responden (8,8%) mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif hanya dari media (media cetak, media elektronik), sebanyak tiga responden (4,4%) mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif dari pelayanan kesehatan (tempat pelayanan kesehatan, dokter, bidan), dan media (media cetak, media elektronik), seorang responden (1,5%) mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif dari keluarga dan media (media cetak, media elektronik), dan seorang responden lagi hanya mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif dari keluarga. Menurut Perinasia (2003), banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih baik dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa bahwa ASI kurang, petugas kesehatan juga masih banyak yang tidak memberikan informasi pada saat pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi tentang pentinggnya ASI Eksklusif, Sebagai contoh banyak ibu atau petugas kesehatan yang tidak mengetahui bahwa bayi pada minggu-minggu pertama defekasinya encer, sehingga dikatakan bayi menderita diare dan seringkali petugas kesehatan menyuruh menghentikan menyusui. Padahal sifat defekasi bayi yang mendapat kolostrum memang demikian karena kolostrum bersifat laksans, ASI belum keluar pada hari pertama sehingga bayi dianggap perlu diberikan minuman lain, padahal bayi yang lahir cukup bulan dan sehat mempunyai persediaan kalori dan cairan yang dapat mempunyai persediaan kalori dan cairan yang dapat mempertahankannya tanpa minuman selama beberapa hari, karena payudara berukuran kecil dianggap kurang menghasilkan ASI padahal ukuran payudara
tidak menentukan apakah produksi ASI cukup atau tidak. Demikian juga hasil penelitian Ayunsari dkk. (2013), yang menyatakan bahwa antara akses informasi dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan nilai p-value sebesar 0.012, hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara akses informasi dengan praktek pemberian ASI eksklusif.
BAB 6