B. Tanggung Jawab Negara atas Pencemaran Udara Lintas Batas
2. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Berkaitan dengan pencemaran udara lintas batas negara, secara garis besar Undang-Undang ini menegaskan bahwa ada pelarangan terhadap kesengajaan dalam pencemaran akibat kebakaran hutan. Hal ini tercantum dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d yang menyebutkan bahwa “Setiap orang dilarang membakar hutan” dengan penjelasan yang dikemukakan yaitu:
“Pada prinsipnya pembakaran hutan dilarang. Pembakaran hutan secara terbatas diperkenankan hanya untuk tujuan khusus atau kondisi yang tidak dapat dielakkan, antara lain pengendalian kebakaran hutan, pembasmian hama dan penyakit, serta pembinaan habitat tumbuhan dan satwa. Pelaksanaan pembakaran secara terbatas tersebut harus mendapat izin dari pejabat yang berwenang”
Adanya pengawasan dalam pelaksanaan pengelolaan hutan dan sebagai antisipasi dampak terhadap hubungan nasional dan internasional di Indonesia dinyatakan dalam Pasal 64, yaitu:
“Pemerintah dan masyarakat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan hutan yang berdampak nasional dan internasional”
Penjelasan yang dikemukakan, yaitu:
“Yang dimaksud dengan berdampak nasional adalah kegiatan pengelolaan hutan yang mempunyai dampak terhadap kehidupan
bangsa, misalnya penebangan liar, pencurian kayu, penyelundupan kayu, perambahan hutan, dan penambangan dalam hutan tanpa izin. Yang dimaksud dengan berdampak internasional adalah pengelolaan hutan yang mempunyai dampak terhadap hubungan internasional, misalnya kebakaran hutan, labelisasi produk hutan, penelitian dan pengembangan, kegiatan penggundulan hutan, serta berbagai pelanggaran terhadap konvensi internasional”
Pasal ini mengemukakan prinsip-prinsip hukum lingkungan internasional, dan menegaskannya prinsip bertetangga yang baik (good neighborliness) dan prinsip kedaulatan negara.
Undang-undang ini tidak menyebutkan secara spesifik jika terjadinya kebakaran hutan. Hanya saja Undang-undang ini memuat dua kategori perbuatan pidana yang disebutkan dalam Pasal 78 ayat (2) dan ayat (3), yaitu (1) sengaja membakar hutan, dan (2) karena kelalaiannya menimbulkan kebakaran hutan. Sanksi terhadap kedua perbuatan itu adalah berbeda. Bagi orang yang sengaja membakar hutan di hukum dengan hukuman berat, yaitu penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.10.000.000.000.00 (sepuluh miliar), sedangkan yang karena kelalaiannya menimbulkan kebakaran hutan dihukum dengan hukuman penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000.00 (lima miliar).
3. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara
Peraturan Pemerintah ini adalah peraturan spesifik pertama dan komprehensif dalam menjaga kontrol pencemaran udara di Indonesia. Hal ini sebagai implementasi dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang ini juga tidak menyebutkan secara rinci
dalam pengaturan terhadap kebakaran hutan. Tetapi menegaskan dalam Pasal 2, yaitu:
“Pengendalian pencemaran udara meliputi pengendalian dan usaha dan/atau kegiatan sumber bergerak, sumber bergerak spesifik, sumber tidak bergerak, dan sumber tidak bergerak spesifik yang dilakukan dengan upaya pengendalian emisi dan/atau sumber gangguan yang bertujuan untuk mencegah turunnya mutu udara ambient”
Secara tersirat menegaskan bahwa adanya pengendalian pencemaran udara dengan bentuk apapun sebagai upaya menjaga mutu udara yang sehat.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan, Peraturan pemerintah ini dibuat sebagai dasar yuridis terjadinya kebakaran hutan yang timbul di yurisdiksi Indonesia.
Ditegaskan dalam pasal 11, yaitu “setiap orang dilarang melakukan kegiatan pembakaran hutan dan atau lahan” Selain itu, diambil tindakan-tindakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan seperti dalam Pasal 12, yaitu:
“setiap orang berkewajiban mencegah terjadinya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan”
Dimuat pula pada Pasal 13, dinyatakan:
“Setiap penanggung jawab usaha yang usahanya dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan wajib mencegah terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya”
Dengan demikian, kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia dan faktor penyebabnya, akan berkenaan dengan penegakan hukum nasional. Penegakan hukum dapat direalisasikan sesuai dengan prinsip tanggung jawab negara dan dapat dilaksanakan melalui berbagai jalur, seperti jalur sanksi administasi, sanksi pidana maupun perdata. Selama ini penanganan kebakaran hutan dan lahan dianggap masih bersifat reaktif, parsial, tidak komprehensif dan jangka pendek.
Hampir dapat dipastikan, pendekatan ini tidak akan memecahkan muara persoalan yang menyebabkan serta memicu kebakaran hutan dan lahan yang dialami Indonesia. (Mas Ahmad Santosa.2001:1) Sejak bencana kebakaran hutan yang terjadi awal dekade ini, berbagai studi dan kajian serta bantuan dari berbagai negara sebenarnya telah dilakukan. Namun pemerintah sampai saat ini tidak mampu memanfaatkan serta mengoptimalkan berbagai hasil kajian dan bantuan dari PBB terutama badan perlindungan lingkungan atau United Nations on Development Program (UNDP).
Di sisi lain Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999 tidak memberikan perhatian yang memadai bagi upaya penganggulangan kebakaran hutan secara terintegrasi. Sebagai contoh, larangan membakar hutan yang terdapat dalam Undang-Undang kehutanan sepanjang dapt mendapatkan izin dari pejabat yang berwenang (Pasal 50 ayat 3 huruf d). Pasal ini jelas-jelas membuka peluang dihidupkannya kembali pembukaan lahan dengan cara pembakaran (land clearance by burning).
Dari sini saja dapat kita simpulkan bahwa kita masih memerlukan suatu peraturan yang lebih tegas dalam menjawab masalah kebakaran hutan. Persamaan yang paling jelas yaitu pada Pasal 11 Peraturan Pemerintah No 4 Tahun 2001, yang menyatakan bahwa “Setiap orang dilarang melakukan pembakaran hutan dan atau lahan”. Selain itu juga lebih diambil tindakan-tindakan pencegahan kebakaran hutan seperti yang tercantum dalam Pasal 12 dan Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001. Pasal 12 berbunyi sebagai berikut:
“setiap orang berkewajiban mencegah terjadinya keusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan”
Pasal 13 berbunyi sebagai berikut:
“setiap penanggung jawab usaha yang usahanya dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan wajib mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di lokasi usahanya”
Selain adanya tindakan pencegahan terdapat juga peraturan yang menyatakan kewajiban untuk membayar ganti rugi bagi yang melanggar sehingga menimbulkan akibat kerusakan dan atau pencemaran lingkungan dengan ketentuan pada Pasal 11, Pasal 12, dan Pasal 13. Sedangkan besar ganti rugi yang harus dipenuhi yaitu pada Pasal 49 ayat 1 belumlah ditetapkan karena akan diatur secara tersendiri dengan Peraturan Pemerintah, hanya saja Peraturan Pemerintah ini menegaskan adanya tindakan aktif dalam menangani pencegahan dan memulihkan serta mengendalikan kebakaran hutan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Kriteria pada konsep tanggung jawab negara terdapat satu unsur yang tidak dipenuhi, yaitu unsur pelimpahan kepada negara. Unsur ini tidak dapat dipenuhi karena tidak ada organ negara atau kesatuan daerah atau perorangan/kelompok yang mengatasnamakan negara melakukan kebakaran hutan. Oleh karena itu Indonesia tidak dapat dimintai pertanggungjawaban secara internasional atas kebakaran hutan yang terjadi di wilayahnya.
2. Sikap Indonesia dalam memenuhi kewajiban pertanggungjawaban negara dengan cara pemuasan (satisfaction) atau meminta maaf atas peristiwa kebakaran hutan di wilayahnya. Selain itu adanya tindakan aktif dengan melakukan kerjasama pemadaman api menggunakan pesawat terbang dan kerjasama teknologi serta mensahkan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan.
3. Pertanggungjawaban negara dapat diminta jika selama pemerintahan suatu negara bersikap membiarkan eksploitasi kekayaan yang dilakukan oleh rakyatnya sehingga menimbulkan kerugian atau kerusakan negara lain.
Menurut penulis pemerintah suatu negara harus membuktikan bahwa pemerintah telah mengambil tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh eksploitasi dalam yuridsiksinya.
B. Saran
1. Pemerintah Indonesia seharusnya telah meratifikasi Konvensi Jenewa 1979 dan kesepakatan ASEAN dalam menanggulangi kebakaran hutan sebagai bentuk pertanggungjawaban negara.
2. Melakukan pembenahan kebijakan perlindungan hutan dan adanya pengikutsertaan penduduk Indonesia dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan di Indonesia.
3. Optimalisasi kerjasama masyarakat dan pemerintah terhadap penanganan kebakaran hutan.
DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU
Adolf, Huala. 1991. Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Almaco, Joseph H dan Eliodoro Runca.1986. Some Technical Dimenstions of Transboundary Air Pollution. Martinus Nijhoff Publishers, Netherlands. Arief, Arifin.2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius, Yogjakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka, Jakarta.
Dirdjosiworo, Soerdjono. 1991. Hukum dan Pencemaran Lingkungan. Binacipta, Bandung.
Hamzah, Andi. 1986. Kamus Hukum. Ghalia Indonesia, Jakarta.
Idrus, Fahmi. 2007. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Greisinda Press, Surabaya.
Kiss, Alexandre Charles dan Dinah Shelton. 1991. International Environment Law. Transnational Publishers, USA.
Kusumaatmadja, Mochtar. 1976. Pengantar Hukum Internasional Buku I. Binacipta, Bandung.
Lampung, Universitas. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Universitas Lampung. Lampung University Press, Lampung.
Muhammad, Abdulkadir. 2004. Hukum dan Penelitian Hukum. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Park, Chris. 2001. The Environment: Principles and Applicantions. New york, Routledge.
Sand, Philippe dan Paolo Galizzi. 2004. Documents in International Environmental Law. Cambridge University Press, Cambridge.
Starke, J.G. 1989. Pengantar Hukum Internasional Buku 1. Sinar Grafika, Jakarta. Sumardi dan S.M widyastuti. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
Tsani, Mohd. Burhan. 1990. Hukum dan Hubungan Internasional. Liberty, Yogyakarta.
Usman, Rachmadi. 2003. Pembaharuan Hukum Lingkungan Nasional. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Wijoyo, Suparto. 2002. Refleksi Matarantai Pengaturan Hukum Pengelolaan Lingkungan Secara Terpadu (Studi Kasus Pencemaran udara). Airlangga University Press, Surabaya.
B. KARYA TULIS DAN LAPORAN
Abdullah, Azrina. Laporan. 2002. A Review and Analysis of Legal and Regulatory Aspects of Forest Fires in South East Asia. Project Fire Fight South East Asia, Jakarta, Indonesia.
Al Afghani, Mohamad Mova. Skripsi Fakultas Ilmu Hukum. 2003. Konsep Kealpaan dalam Hukum Pertanggungjawaban Negara. Fakultas Hukum, Universitas Indonesia, Jakarta.
Asian Development Bank. Laporan. 2000. Fire, Smoke and Haze: The ASEAN Response Strategy Summary Report. Asian Development Bank, Manila, Philiphina.
Gundling, Lothar. Laporan. 2005. International Environmental Law: Atmosphere, Freshwater and Soil. Environmental Law Program-United Nations Institute for Training and Research (UNITAR), USA.
M.Syarif, La Ode. Tesis Magister Program Hukum Lingkungan Internasional. 1998. The Implementation of International Responsibilities for Atmospheric Pollution: A Comparison between Indonesia and Australia. Fakultas Hukum, Universitas Teknologi Queensland (QUT). Brisbone, Australia.
Muhdar, Muhamad. Tesis Magister Program Studi Ilmu Hukum Jurusan Ilmu- Ilmu Sosial. 2001. Aspek Pertanggungjawaban Hukum atas Terjadinya Kebakaran Hutan dan Akibat yang Ditimbulkan (Studi Kebakaran Hutan
Yogyakarta.
Setyardi, Heribertus U. Tesis Magister Program Studi Ilmu Hukum Jurusan Ilmu- Ilmu Sosial. 2001. Pertanggungjawaban Negara terhadap Pencemaran Udara akibat Kebakaran Hutan di Indonesia Tahun 1997. Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta,
Sulianti, Dian. Tesis Magister Program Studi Ilmu Lingkungan. 2003. Kinerja Perangkat Daerah dalam Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Indonesia, Jakarta .
Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia. Laporan. 2003. Status Lingkungan Hidup Indonesia. Jakarta.
C. JURNAL DAN MAKALAH
Jurnal Hukum Internasional. 2005. International Environment Law, Lingkup Kajian Hukum Internasional. Volume II No. 2. Fakultas Hukum- Universitas Indonesia. Indonesia University Press, Jakarta
Rahmadi, Takdir. 1999. Aspek-aspek Hukum Internasional Kebakaran Hutan. Jurnal Hukum Lingkungan Tahun III No. 1. Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Jakarta
Sugandhy, Aca. 1997. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan terhadap Keanekaragaman Hayati (Kasus di Sumatera dan Kalimantan). Makalah dalam Diskusi Nasional Kebakaran Hutan diselenggarakan oleh Biological Science Club (B Sc.C). Jakarta, 22 Oktober 1997
Wirawan, Nengah. 1997. Bahaya Kebakaran Hutan dan Pencegahannya. Makalah dalam Diskusi Nasional Kebakaran Hutan diselenggarakan oleh Biological Science Club (B Sc.C). Jakarta, 22 Oktober 1997
D. OPINI DAN BERITA
http://opini.wordpress.com/2006/10/14/gangguan-asap-tanggung-jawab-kita/ dalam tulisan “Gangguan Asap Tanggung Jawab Kita”. Editorial Surat Kabar Suara Merdeka. Sabtu, 14 Oktober 2006 -diakses 10 Februari 2008. http://opini.wordpress.com/2006/10/14/gangguan-asap-tanggung-jawab-kita/
dalam tulisan “Seputar Asap”. Editorial Surat Kabar Republika. Kamis, 12 Oktober 2006 -diakses 10 Februari 2008.
Indonesia dan Upaya Penanggulangannya”. Kamis, 23 Oktober 2003 - diakses 21 Januari 2008.
http://www.american.edu/TED/TRAIL/.HTM -diakses 8 Januari 2007
http://www.cifor.cgiar.org/publications/Html/AR-98/Bahasa/Fires.html dalam artikel “Mencari Solusi Penanganan Bencana Kebakaran di Asia
Tenggara”. -diakses 27 Desember 2007.
http://www.indomedia.com/BPost/012007/9/opini/opini1.htm dalam opini “Pembangunan Berbuah Bencana-Eksploitasi SDA dan Pengabaian Hak Rakyat”. Oleh Berry Nahdian Forqan. Selasa, 9 Januari 2007-diakses 24 Juni 2007.
http://www.indomedia.com/bpost/092007/1/nusantara/nusa1.htm dalam berita “Kebakaran Hutan Rugikan Negara Rp 819 Triliun”. Sabtu, 1 September 2007-diakses 1 September 2007.
http://www.kangguru.org/ausaidprojects/2002cifor.htm dalam tulisan “Indonesia Tersengat Panas”. -diakses 11 Februari 2008.
http://www.metrotvnews.com/berita.asp?id=47936 dalam berita “Titik Panas di Kalteng Berhasil Dipadamkan”. Jum’at, 26 Oktober 2007 -diakses 10 Februari 2008.
http://www.sylvie.edublogs.org dalam tulisan “Belajar dari Kebakaran Hutan
(Bagian 1)”. Jum’at, 9 Februari 2007 -diakses 22 November 2007. http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/10/19/brk,20061019-
86367,id.html dalam berita “Tiga Bandar Udara Ditutup Gara-gara
Asap”. Kamis, 19 Oktober 2006 -diakses 27 Desember 2007. http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/07/26/brk,20070726-
104456,id.html dalam berita “15 Tahun Lagi, Hutan di Indonesia Diperkirakan Habis”. Kamis, 26 Juli 2007 -diakses 31 Oktober 2007. http://www.unece.org/env/lrtap/lrtap_h1.htm. -diakses 8 Januari 2007
http://www.walhi.or.id/kampanye/bencana/bakarhutan/060925_kebkaran-
htn_li/dalam governance briefing “Kasus Kebakaran Hutan, Kebutuhan Akan Kebijakan Yang Mengatur Tanggung Jawab Perusahaan”. Selasa, 26 September 2006-diakses 14 Juni 2007
http://www.wikipedia.org/wiki/Kebakaran_liar -diakses 31 Oktober 2007
http://www.wwf.or.id/index.php?fuseaction=newsroom.detail&id=NWS11870074 32&news_type=2&language=I&PHPSESSID=400e481c17ecb6ce082200
Penegak Hukum yang Tegas”. Senin, 13 Agustus 2007-diakses 1 September 2007.
E. PERJANJIAN INTERNASIONAL
United Nations. The Geneva Convention on Long-Range Transboundary Air Pollution, 13 November 1979. UN Publication.
---. The United Nations Articles on the Responsibility of States for Internationally Wrongful Act, December 2001. UN Publication.
---. Stockholm Declaration on Human environment, 16 Juni 1972. UN Publication.
---. Rio Declaration on Environment and Development, 14 Juni 1992. UN Publication.
---. Forest Principles, Non-Legally Binding Authoritative Statement of Principles for a Global Consensus on Management, Forest Conservation and Sustainable Development of all Types of Forest, 14 Juni 1992. UN Publication.
ASEAN. ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution, 10 Juni 2002.
F. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Indonesia. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup LN.RI Thn 1997 No.68, TLN No.3699.
Indonesia. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan LN.RI Thn 2004 No.29, TLN No.4412.
Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara LN.RI Thn 1999 No.86, TLN No.3853.
Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan LN.RI Thn 2001 No.10, TLN No.4078.
Te n t a n g : Pe n g e n d a lia n Pe n ce m a r a n Ud a r a
PRESI DEN REPUBLI K I NDONESI A,
Menim bang :
a. bahw a udar a sebagai sum ber daya alam yang m em pengar uhi kehidupan m anusia ser t a m ahluk hidup lainnya har us dij aga dan dipelihar a kelest ar ian fungsinya unt uk pem elihar aan kesehat an dan kesej aht er aan m anusia ser t a per lindungan bagi m akhluk hidup lainnya;
b. bahw a agar udar a dapat ber m anfaat sebesar - besar nya bagi pelest ar ian fungsi lingkungan hidup, m aka udar a per lu dipelihar a, dij aga dan dij ainin m ut unya m elalui pengendalian pencem ar an udar a; c. bahw a ber dasar kan ket ent uan t er sebut di at as dan sebagai
pelaksanaan Undang- undang Nom or 23 Tahun 1997 t ent ang
Pengelolaan Lingkungan Hidup dipandang per lu m enet apkan Per at ur an Pem er int ah t ent ang Pengendalian Pencem ar an Udar a;
Mengingat :
1. Pasal 5 ayat ( 2) Undang- Undang Dasar 1945;
2. Undang- undang Nom or 23 Tahun 1997 t ent ang Pengelolaan
Lingkungan Hidup ( Lem bar an Negar a Tahun 1997 Nor 68, Tam bahan Lem bar an Negar a Nom or 3699) ;
MEMUTUSKAN Menet apkan :
PERATURAN PEMERI NTAH TENTANG PENGENDALI AN PENCEMARAN UDARA
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Per at ur an Pem er int ah ini yang dim aksud dengan :
1. Pencem ar an udar a adalah m asuknya at au dim asukkannya zat , ener gi, dar i kom ponen lain ke dalam udar a am bien oleh kegiat an m anusia, sehingga m ut u udar a t ur un sam pai ke t ingkat t er t ent u yang
m enyebabkan udar a am bien t idak dapat m em enuhi fungsinya;
2. Pengendalian pencem ar an udar a adalah upaya pencegahan dan/ at au penanggulangan pencem ar an udar a ser t a pem ulihan m ut u udar a; 3. Sum ber pencem ar adalah set iap usaha dan/ at au kegiat an yang
m engeluar kan bahan pencem ar ke udar a yang m enyebabkan udar a t idak dapat ber fungsi sebagaim ana m est inya.
t r oposfir yang ber ada di dalam w ilayah yur isdiksi Republik I ndonesia yang dibut uhkan dan m em pengar uhi kesehat an m anusia, m akhluk hidup dan unsur Lingkungan hidup lainnya;
5. Mut u udar a am bien adalah kadar zat , ener gi, dan/ at au kom ponen lain yang ada di udar a bebas;
6. St at us m ut u udar a am bien adalah keadaan m ut u udar a di suat u t em pat pada saat dilakukan invent ar isasi;
7. Baku m ut u udar a am bien adalah ukur an bat as at au kadar zat , ener gi, dan/ at au kom ponen yang ada at au yang sehar usnya ada dan/ at au unsur pencem ar yang dit enggang keber adaannya dalam udara am bien;
8. Per lindungan m ut u udar a am bien adalah upaya yang dilakukan agar udara am bien dapat m em enuhi fungsi sebagaim ana m est inya;
9. Em isi ada zat , ener gi dan/ at au kom ponen lain yang dihasilkan dalam suat u kegiat an yang m asuk dan/ at au dim asukkannya ke dalam udara am bien yang m em punyai dan/ at au t idak m em punyai pot ensi sebagai unsur pencem ar ;
10. Mut u em isi adalah em isi yang boleh dibuang oleh suat u kegiat an udar a am bien;
11. Sum ber em isi adalah set iap usaha dan/ at au kegiat an yang
m engeluar kan em isi dar i sum ber ber ger ak, sum ber ber ger ak spesifik, sum ber t idak ber ger ak, m aupun sum ber t idak ber ger ak spesifik; 12. Sum ber ber ger ak adalah sum ber em isi yang ber ger ak at au t idak t et ap
pada suat u t em pat yang ber asal dar i kendar aan ber m ot or ;
13. Sum ber ber ger ak spesifik adalah sum ber em isi yang ber ger ak at au t idak t et ap pada suat u t em pat yang ber asal dar i ker et a api, pesaw at t er bang, kapal laut dan kendar aan ber at lainnya;
14. Sum ber adalah sum ber em isi yang t et ap pada suat u t em pat 15. Sum ber adalah sum ber em isi yang t et ap pada suat u t em pat yang
ber asal dar i hut an dan pem bakaran sam pah
16. Baku m ut u em isi sum ber adalah bat as kadar m aksim al dan/ at au beban em isi m aksim um yang diper bolehkan m asuk at au dim asukkan ke dalam udar a am bien;
17. Am bang bat as em isi gas buang kendar aan ber m ot or adalah bat as m aksim um zat at au bahan pencem ar yang boleh dikeluar kan langsung dar i pipa gas buang kendar aan ber m ot or ;
18. Sum ber gangguan adalah sum ber pencem ar yang m enggunakan m esin udar a at au padat unt uk penyebar annya, yang ber asal dar i sum ber ber ger ak, sum ber ber ger ak spesifik, sum ber t idak ber ger ak at au sum ber t idak ber ger ak spesifik;
19. Baku t ingkat gangguan adalah bat as kadar m aksim um sum ber gangguan yang diper bolehkan m asuk ke udar a dan/ at au zat padat ;
20. Am bang bat as kebisingan kendar aan ber m ot or adalah bat as
m aksim um ener gi suar a yang boleh dikeluar kan langsung dar i m esin dan/ at au t r ansm isi kendar aaan ber m ot or ;
per alat an t eknik yang ber ada pada kendar aan it u;
22. Kendar aan ber m ot or t ipe bar u adalah kendar aan ber m ot or yang
m enggunakan m esin dan/ at au t r ansm isi t ipe bar u yang siap dipr oduksi dan dipasar kan, at au kendar aan yang sudah ber oper asi t et api akan