Potensi Hasil (ku/ha)
4) Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih
Keberadaan kelembagaan Balai Benih
setelah diberlakukannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, pada umumnya telah menjadi Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian Provinsi, dan menjadi kewenangan daerah. Sampai dengan saat ini, baru 32 provinsi yang telah membentuk UPTD Balai Benih. Data lebih rinci nama Balai Benih yang ada di Indonesia seperti pada Lampiran 1.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian
Nomor 347/Kpts/OT.210/6/2003 tentang
Pedoman Pengelolaan Balai Benih Tanaman Pangan dan atau Hortikultura, adapun tugas pokok Balai Benih adalah sebagai berikut :
a) Balai Benih Provinsi
Kedudukan :
Balai Benih Provinsi berada di bawah
32
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Kepala Dinas Pertanian Provinsi yang membidangi Tanaman Pangan
Tugas :
Memproduksi dan menyebarluaskan benih bermutu varietas unggul kelas Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP)
Fungsi :
• Memproduksi dan menyalurkan
Benih Dasar (BD) dan Benih Pokok (BP) kepada produsen benih
• Observasi penerapan teknologi
perbenihan, baik produksi maupun pasca panen
• Melaksanakan pemurnian kembali
varietas unggul
• Membina produsen benih secara
teknis
• Menyebarluaskan informasi
perbenihan dan melakukan
pengawasan internal mutu benih b) Balai Benih Kabupaten/Kota
Kedudukan :
Satuan kerja yang berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada
33
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Kabupaten/Kota yang membidangi
tanaman pangan
Memproduksi dan menyebarluaskan benih bermutu varietas unggul kelas Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR)
Fungsi :
• Memproduksi dan menyalurkan Benih Pokok (BP) kepada produsen benih dan Benih Sebar (BR) kepada petani
• Observasi penerapan teknologi
perbenihan, baik produksi maupun pasca panen
• Melaksanakan pemurnian kembali varietas unggul
• Membina produsen benih secara teknis
• Menyebarluaskan informasi
perbenihan dan melakukan
pengawasan internal mutu benih.
5) Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai
Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Berdasarkan Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 46/M.PAN/2/2001
tanggal 26 Februari 2001 perihal
34
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan
Departemen dan LPND dan Keputusan
Menteri Pertanian Nomor
168/Kpts/PL.810/3/2001 tanggal 8 Maret
2001 tentang Penghapusan Barang
Milik/Kekayaan Negara (BM/KN) Departemen
Pertanian yang ditindaklanjuti dengan
pengalihan kepada Pemerintah Daerah, kelembagaan pengawasan dan sertifikasi benih yang telah diserahkan ke daerah dan menjadi kewenangan daerah berjumlah 25 BPSB di 25 provinsi.
Dalam perkembangan selanjutnya
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur atau
Peraturan Pemerintah Daerah, telah
terbentuk institusi yang menangani
pengawasan dan sertifikasi benih yang berbentuk UPTD yaitu UPTD BPSB. Sampai dengan tahun 2014, telah terbentuk 32 UPTD Institusi Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Data secara rinci UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih dapat dilihat pada Lampiran 2.
Pelaksanaan sertifikasi dan pengawasan peredaran mutu benih tanaman pangan pada dasarnya untuk menjamin mutu benih yang
diproduksi dan beredar yang akan
dipergunakan oleh petani. Mekanisme pengendalian mutu yang secara formal
35
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019(1) sertifikasi dan pengujian benih
berdasarkan OECD Scheme dan
International Seed Testing Association
(ISTA) rules (UU 12/1992, PP 44/1995), dan (2) sistem standarisasi pertanian yang mencakup antara lain standarisasi produk, sertifikasi sistem mutu, sertifikasi produk, akreditasi laboratorium pengujian mutu benih, dan akreditasi LSSM (PP 102/2000).
Institusi yang berwenang dalam mengawasi dan mensertifikasi calon benih menjadi bersertifikat adalah Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih yang merupakan Lembaga Pemerintah di Propinsi/ UPTD. Produsen
benih juga dapat melakukan sendiri
pemeriksaan pertanaman dan benih yang
diproduksinya. Produsen tersebut
disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Sistim
Mutu Benih (LSSM) yang merupakan
lembaga swasta/badan hukum yang sudah
diberikan izin oleh pemerintah sesuai
Peraturan Pemerintah RI Nomor 44 Tahun 2005 tentang Perbenihan Tanaman dan Keputusan Presiden RI Nomor 72 Tahun 1971 tentang Pembinaan, Pengawasan Pemasaran dan Sertifikasi Benih.
Kedudukan :
BPSB berkedudukan di Provinsi bertanggung jawab langsung Kepala Dinas Provinsi.
36
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Tugas :
Melaksanakan penilaian kultivar dan klon, penilaian dan penetapan pohon induk tanaman hortikultura tahunan, sertifikasi benih, analisis dan pengawasan mutu benih tanaman pangan dan hortikultura
Fungsi :
• Penilaian kultivar (varietas). • Melaksanakan sertifikasi benih
• Melaksanakan pengujian mutu benih • Melaksanakan pengawasan mutu dan
peredaran benih tanaman pangan dan hortikultura
Kegiatan pengawasan dan sertifikasi sebagaimana amanat PP RI Nomor 44 tahun 2005, meliputi; pasal 33 tentang sertifikasi (1) pemeriksaan terhadap; kebenaran benih sumber atau pohon
induk, petanaman dan pertanaman, isolasi tanaman
agar jangan terjadi persilangan liar, alat panen dan
pengolahan benih, tercampurnya benih; (2)
pengujian laboratorium untuk menguji mutu benih
yang meliputi sifat genetis, fisiologis dan fisik; (3)
pengawasan pemasangan label. Pasal 47 tentang pengawasan yang meliputi (1) pemeriksaan terhadap proses produksi, (2) pemeriksaan terhadap sarana dan tempat penyimpanan serta cara pengemasan benih bina, (3) pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan sertifikasi, (4) pemeriksaan mutu benih, (5)
37
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019pemeriksaan dokumen, dan catatan produsen, pemasok, pengedar benih bina, (6) pemeriksaan terhadap pemenuhan persyaratan pendaftaran, pengadaan, perizinan, sertifikasi dan pendaftaran peredaran benih
Proses sertifikasi benih diakhiri dengan kegiatan pengujian untuk menentukan mutu benih dan kesesuaiannya dengan standard mutu. Pengujian benih dilakukan oleh laboratorium penguji benih.
Dalam melaksanakan pengujian, sebuah
laboratorium benih harus memiliki kewenangan dan dituntut memiliki kompetensi. Kewenangan diberikan melalui tugas pokok dan fungsi dan kompetensi diakui melalui status akreditasi pihak III (dalam hal ini
oleh KAN). Sampai saat ini belum semua Balai
Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) memiliki
laboratorium pengujian mutu benih yang
terakreditasi. Dari 25 BPSB, hingga akhir tahun 2014 baru 19 laboratorium BPSB yang terakreditasi oleh KAN (Tabel 14). Hal ini perlu mendapat perhatian
agar semua laboratorium mutu benih dapat
terakreditasi sehingga dapat memenuhi standar dalam melaksanakan pengujian mutu benih.
38
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Tabel 17. Laboratorium Benih pada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih yang telah Terakreditasi
No. Nama Institusi Nomor Akreditasi
1 BPSB TPH Provinsi Jawa Timur LP-049-IDN
2 BPSB TPH Provinsi Sumatera Selatan LP-074-IDN
3 BPSB TPH Provinsi Jawa Tengah LP-107-IDN
4 BPSB TPH Provinsi Jawa Barat LP-118-IDN
5 BPSBTPH Provinsi Bali LP-135-IDN
6 BPSB TPH Lampung LP-212-IDN
7 BPSB TPH Sumatera Utara LP-234-IDN
8 BPSB TPH Sulawesi Selatan LP-348-IDN
9 BPMSHPHH DKI Jakarta LP-349-IDN
10 BPSBTPH NTB LP-441-IDN
11 BPSB TPH DI Yogyakarta LP-484-IDN
12 BPSB TPH Sumatera Barat LP-544-IDN
13 BPSB TPH Kalimantan Selatan LP-452-IDN
14 BPSBTPH Kalimantan Barat LP-533-IDN
15 BPSB TPH Sulawesi Tenggara LP-576-IDN
16 BPSB TPH Nusa Tenggara Timur LP-588-IDN
17 BPSB TPH Maluku LP-689-IDN
18 BPSB TPH Sulawesi Utara LP-688-IDN
39
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Sumberdaya manusia (SDM) merupakan
faktor yang sangat penting dalam
mendukung pengembangan perbenihan.
Sumberdaya manusia yang dibutuhkan
dalam pengembangan perbenihan meliputi pelaku pada seluruh subsistem pada sistem perbenihan (subsistem penelitian, pemuliaan dan pelepasan varietas, sub sistem produksi dan pemasaran dan sub sistem sertifikasi dan pengawasan mutu dan sub sistem penunjang).
Peningkatan profesionalisme petugas
perbenihan terus dilakukan baik jajaran staf
maupun Pengawas Benih Tanaman.
Pelatihan-pelatihan petugas terus dilakukan, untuk mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi. Penetapan jabatan fungsional
diharapkan semakin mendorong
profesionalisme petugas.
Pengawas Benih Tanaman Pangan (PBT), adalah petugas yang berperan penting dalam pengawasan mutu benih tanaman yang berkedudukan pada Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH). Jumlah PBT di seluruh Indonesia hingga akhir 2014 adalah 1.241 orang, sedangkan kebutuhan
PBT seharusnya adalah 2.174 orang, (Tabel 15).
40
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Tabel 18. Kebutuhan dan Jumlah PBT tahun 2014
T A T A JML T A JML T A JML 1 NAD 28 0 9 23 60 41 49 90 32 26 58 2 Sumatera Utara 0 34 28 24 86 50 64 114 - 32 32 3 Sumatera Barat 9 0 26 16 51 117 - 117 91 (16) 75 4 Riau 8 0 7 3 18 26 13 39 19 10 29 5 Jambi 20 0 8 7 35 21 18 39 13 11 24 6 Sumatera Selatan 1 3 16 12 32 55 47 102 39 35 74 7 Bengkulu (TL) 8 0 14 23 45 24 16 40 24 16 40 8 Lampung 0 0 15 24 39 31 27 58 16 3 19 9 Kepulauan Riau - - - - - - - - - -10 Bangka Belitung 2 0 2 8 12 10 11 21 8 3 11 11 Banten 4 0 8 8 20 14 12 26 6 4 10 12 DKI Jakarta 0 0 10 1 11 13 2 15 3 1 4 13 Jawa Barat 3 1 30 48 82 78 35 113 38 15 53 14 Jawa Tengah 1 0 25 61 87 74 72 146 49 11 60 15 DI Yogyakarta 0 0 10 12 22 91 86 177 81 74 155 16 Jawa Timur 16 0 35 71 122 91 86 177 56 15 71 17 Bali 1 0 12 10 23 17 24 41 5 14 19 18 NTB 2 3 21 27 53 31 56 87 10 29 39 19 NTT 20 - - 5 25 42 21 63 42 16 58 20 Kalimantan Barat 2 0 5 17 24 8 29 37 3 12 15 21 Kalimantan Tengah 9 0 9 6 24 20 20 40 11 14 25 22 Kalimantan Selatan 3 1 18 17 39 44 38 82 26 21 47 23 Kalimantan Timur (TL) 3 3 10 4 20 12 16 28 2 12 14 24 Sulawesi Utara 12 13 26 11 62 35 15 50 9 4 13 25 Gorontalo 17 0 3 5 25 24 41 65 21 36 57 26 Sulawesi Tengah 11 0 21 10 42 28 41 69 7 31 38 27 Sulawesi Tenggara 2 8 5 22 37 25 30 55 20 8 28 28 Sulawesi Selatan 7 7 18 21 53 52 36 88 34 15 49 29 Sulawesi Barat 1) 1 1 4 2 8 15 5 20 11 4 15 30 Maluku 9 14 2 1 26 11 12 23 12 2 14 31 Maluku Utara 0 17 - - 17 0 20 20 - 5 5 32 Papua 21 0 7 2 30 30 66 96 23 64 87 33 Papua Barat - 3 8 11 30 6 36 24 5 29 407 509 1.241 1.160 1.014 2.174 735 532 1.267 ket: Diperbantukan PBT PBT Saat ini PBT A = Ahli JUMLAH T = Terampil Usulan Daerah NO PROVINSI Kebutuhan Kekurangan berdasarkan
41
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-20196) Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM)
Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih
Tanaman Pangan dan Hortikultura (LSSM BTPH), dibawah Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura, dan
dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri
Pertanian Nomor 1100.1/Kpts/KP.150/10/1999 tanggal 13 Oktober 1999 jo Nomor 361/Kpts/ KP.150/5/2002, tentang Pembentukan BTPH. Sejak tanggal 28 Januari 2005, LSSM-BTPH telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan nomor Sertifikat : Nomor LSSM-020-IDN, dengan ruang lingkup kegiatan
diperluas Sertifikasi Benih Tanaman.
Re-akreditasi oleh KAN yang terakhir telah
dilaksanakan dengan Sertifikat Nomor LSSM-033-IDN tanggal 18 Agustus 2011 sesuai acuan ISO 17021:2011.
Dalam melaksanakan tugasnya
bertanggungjawab kepada Menteri Pertanian melalui Direktur Jenderal Tanaman Pangan dan Direktur Jenderal Hortikultura.
Pembentukan LSSM BTPH bertujuan untuk : (a) menjamin mutu dan meningkatkan daya
saing produksi benih; (b) memberikan
perlindungan kepada produsen dan masyarakat perbenihan yang tidak memihak; (c) perlu adanya Kelembagaan Pelayanan Sertifikasi
42
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Sistim Mutu Benih Tanaman Pangan dan
Hortikultura; dan (d) mendorong dan
menumbuhkan kemandirian pelaku agribisnis
perbenihan, dengan pemberian peran
kewenangan kepada pelaku agribisnis yang telah mampu menjamin mutunya.
Tugas dan fungsi dari LSSM BTPH adalah melaksanakan Sertifikasi Sistem Mutu pada pelaku agribisnis perbenihan. Hingga saat ini (s/d April 2014), terdapat 15 (lima belas) perusahaan benih yang telah menerapkan sertifikasi sistem manajemen mutu, sembilan
diantaranya merupakan produsen benih
tanaman pangan yaitu 1) PT Dupont Indonesia (produksi benih jagung hibrida dan padi hibrida), 2) PT Branita Sandhini (produksi benih jagung hibrida), 3) PT BISI Internasional (benih padi
inbrida dan hibrida, jagung dan hortikultura), 4) PT. Sang Hyang Seri Cabang Sukamandi
(produksi benih padi inbrida), 5) PT Asian Hybrid Seeds Technologies Indonesia (produksi benih jagung hibrida), 6) PT Agri Makmur Pertiwi (produksi benih jagung hibrida, padi hibrida, dan hortikultura), 7) UPBS Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (produksi benih padi kelas benih penjenis), 8) PT Sang Hyang Seri Cabang
Pasuruan (produksi benih padi inbrida), dan 9) PT Syngenta Seed Indonesia (produksi benih
43
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-20197) Produsen dan Pengedar benih
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 56/Permentan/ SR.110/11/2015 tentang Produksi, Sertifikasi, dan Peredaran Benih Bina Tanaman Pangan dan Tanaman Hijauan Pakan Ternak , yang dimaksud dengan produsen benih bina adalah perorangan, badan usaha, badan hukum atau instansi pemerintah yang melakukan proses produksi benih bina. Sedangkan pengedar benih bina adalah perorangan, badan usaha, badan hukum atau instansi pemerintah yang
melakukan serangkaian kegiatan dalam
rangka menyalurkan benih bina ke lokasi pemasaran dan/atau kepada masyarakat.
(a) Produsen
Produsen benih merupaka n lembaga yang bertugas dalam proses produksi sampai benih siap salur terdiri dari Badan
Usaha Milik Negara (BUMN) dan
produsen swasta nasional. Lembaga ini sangat penting sekali perannya dalam memenuhi kebutuhan benih baik lokal, regional maupun secara nasional.
Secara umum yang berperan dalam
proses penyediaan benih nasional
adalah; (1) produsen swasta dengan kategori produsen swasta dengan modal kuat dan produsen swasta dengan modal
44
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019lemah seperti penangkar; (2) Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Produsen
benih swasta dengan katagori
permodalan yang cukup kuat, jumlahnya
kurang memadai untuk memenuhi
kebutuhan benih di seluruh wilayah
Indonesia. Sedangkan
produsen/penangkar dengan modal
lemah seringkali menjalani usahanya
secara musiman/tidak kontinyu.
Produsen dengan katagori penangkar
berkemampuan finansial terbatas ,
jumlahnya cukup banyak. Jika produsen
dengan kategori ini dibina dan
diberdayakan, maka akan dapat
memenuhi kebutuhan benih nasional dan mempermudah akses petani terhadap benih bermutu dan bersertifikat. Jumlah produsen benih tanaman pangan sampai tahun 2014 dapat dilihat pada Tabel 19. Faktor-faktor proses produksi benih unggul bersertifikat mulai dari hulu sampai hilir adalah; 1) sistem produksi (saprodi, benih sumber, pupuk, alat dan mesin pra panen, panen); 2) sistem
pengolahan benih (prasarana dan
sarana/ alat dan mesin); 3) proses
pengawasan dan sertifikasi;
45
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019dan sumberdaya manusia, produsen swasta dan BUMN.
Pemenuhan kebutuhan sarana produksi (benih sumber, pupuk, pestisida dll)
dalam rangka pelaksanaan proses
produksi benih selalu terkendala dengan
lemahnya modal. Kurangnya
kemampuan penangkar dalam
mengakses sumber-sumber permodalan merupakan hal yang kontra produktif dalam upaya produksi benih bermutu dan bersertifikat. Indikator permasalahan ini dapat dilihat pada masih rendahnya nilai tukar petani dari tahun ke tahun. Sepanjang tahun 2009 s.d 2014 kenaikan
nilai tukar petani hanya mencapai 0,50%, sedangkan laju inflasi meningkat
46
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Tabel 19. Rekapitulasi Produsen Benih Tanaman Pangan per Propinsi tahun 2014
JAGNG KEDLAI K.TNAH JML JAGUNG KEDELAI K.TANAH PLJ LAIN JML
1 N A D 24 4 4 1 209 53 4.974,00 663,00 1.145,00 50,00 - 1.858 6.832,00 2 SUMUT 18 2 1 - 3 - 21 9.310,00 33,50 6,00 - - 39,50 9.349,50 3 R I A U 13 5 4 1 10 - 23 292,37 56,70 313,00 2,05 - 371,75 664,12 4 K E P R I - - - - - - - - - - - - - -5 SUMBAR 6 3 1 - 4 6 16 6.204,98 5.318,56 6,80 17,04 - 5.342,40 11.547,38 6 JAMBI 5 2 3 1 6 2 13 405,00 25,00 316,00 3,00 - 344,00 749,00 7 SUMSEL 20 - - - - - 20 8.471,60 - - - - - 8.471,60 8 BABEL - - - - - - - - - - - - - -9 BENGKULU 4 1 1 - 2 - 6 10.382,00 520,00 1.500,00 - - 2.020,00 12.402,00 10 LAMPUNG 15 - - - - 2 17 11.605,00 30,00 - - - 30,00 11.635,00 11 BANTEN 14 1 - - 1 2 17 3.185,00 30,74 - 10,00 - 40,74 3.225,74 12 DKI. JKT 2 - - - - - 2 1.400,00 - - - - - 1.400,00 13 JABAR 154 5 3 3 11 1 166 44.154,50 349,00 173,00 3.042,00 101,00 3.665,00 47.819,50 14 JATENG 212 5 5 - 10 7 229 63.855,33 2.717,00 1.535,00 140,83 40,00 4.432,83 68.288,16 15 D I Y 11 3 2 - 5 6 22 5.015,00 510,00 307,00 10,00 - 827,00 5.842,00 16 JATIM 199 15 13 4 32 - 231 41.900,50 43.227,50 2.205,00 250,00 45.682,50- 87.583,00 17 B A L I 21 1 1 2 4 2 27 17.771,75 2.010,00 7,70 2.509,00 - 4.526,70 22.298,45 18 N T B 104 - 1 - 131 118 8.348,14 70,00 1.410,39 - - 1.480,39 9.828,53 19 N T T 16 5 2 - 7 6 29 521,70 87,98 11,60 - 6,00 105,58 627,28 20 KALBAR 29 2 2 - 4 - 33 3.404,90 28,00 27,00 - - 55,00 3.459,90 21 KALSEL 58 4 19 2 25 1 84 4.880,00 30,00 330,00 31,00 - 391,00 5.271,00 22 KALTENG 5 3 3 3 9 1 15 67,33 13,00 4,50 6,50 - 24,00 91,33 23 KALTIM 8 1 - - 1 - 9 567,20 2,50 - - - 2,50 569,70 24 SULSEL 72 2 7 2 11 1 84 16.246,30 159,97 1.772,00 43,00 - 1.974,97 18.221,27 25 SULBAR - - - - - - - - - - - - - -26 SULUT 12 4 1 2 7 1 20 8.457,00 1.230,00 100,00 200,00 3,00 1.533,00 9.990,00 27 SULTENG 37 1 6 - 7 1 45 1.735,67 5,00 153,00 - - 158,00 1.893,67 28 SULTRA 24 2 3 1 6 - 30 4.553,00 19,00 65,75 3,00 - 87,75 4.640,75 29 GRNTALO 3 8 - - 8 5 16 900,50 714,00 50,00 - - 764,00 1.664,50 30 MALUKU 10 2 1 - 3 - 13 113,50 252,00 2,00 - - 254,00 367,50 31 MALUT - - - - - - - - - - - - - -32 PAPUA 2 2 1 1 4 1 7 317,00 27,00 24,00 12,60 - 63,60 380,60 33 PAPUA BRT 3 1 1 - 2 - 5 75,50 20,00 3,00 - - 23,00 98,50 1.101 84 85 23 192 78 1.371 279.114,77 58.149,45 11.467,74 6.330,02 150,00 76.097,21 355.211,98
PALAWIJA PADI PALAWIJA
/PLJ JUMLAH
JUMLAH
NO PROVINSI
JUMLAH PRODUSEN BENIH KAPASITAS PRODUKSI BENIH (Ton/Tahun)
47
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Prasarana dan sarana serta peralatan yang harus dimiliki oleh setiap produsen pada umumnya belum sesuai dengan standar. Kondisi seperti ini dapat menghambat proses pengembangan usaha produksi benih itu sendiri, karena harus berhadapan dengan biaya yang tinggi, atau bahkan bagi penangkar yang samasekali hanya mampu berproduksi pada bagian hulu maka tidak akan mempunyai posisi tawar yang cukup baik dari segi harga. Keadaan ini menjadikan usaha produksi benih menjadi kurang menarik, karena keuntungan yang diperoleh akan lebih sedikit. Agar dapat memproduksi benih sesuai standar, para produsen/penangkar dengan modal lemah harus bekerjasama dengan pihak produsen besar atau BUMN yang memiliki prasarana dan sarana yang memadai.
(b) Pengedar benih
Pengedar benih merupakan lembaga yang bertugas
dalam mendistribusikan dan memasarkan benih
bersertifikat. Jumlah pengedar benih sampai tahun
48
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Tabel 20. Rekapitulasi Pengedar Benih per Propinsi tahun 2014
JUMLAH JUMLAH No PROVINSI PENGEDAR (TON)
(PENYALUR/PEDAGANG) PADI JAGUNG KEDELAI KC. TANAH KC. HIJAU PALAWIJA 1 ACEH 24 41,59 104,5 20,13 37,56 203,78 2 SUMATERA UTARA 138 14,44 7,05 2,55 1 25,04 3 RIAU 18 100 1,18 101,18 4 SUMATERA BARAT 71 9 9 5 JAMBI 19 32 4,31 36,31 6 SUMATERA SELATAN 11 4,36 4,36 7 BANGKA BELITUNG 0 0 8 BENGKULU 29 2,23 0,99 3,22 9 LAMPUNG 34 67,3 7,88 3 78,18 10 BANTEN 8 38,43 60 98,43 11 DKI JAKARTA 0 0 12 JAWA BARAT 92 750 500 1250 13 JAWA TENGAH 41 39,55 902 941,55 14 DI. YOGYAKARTA 32 23,81 17,14 6 46,95 15 JAWA TIMUR 242 60 48 31 33 172 16 BALI 57 34,96 34,96 17 NUSA TENGGARA BARAT 42 18 5 5 5 33 18 NUSA TENGGARA TIMUR 5 79 79 19 KALIMANTAN BARAT 6 8 8 20 KALIMANTAN SELATAN 41 6 2 6 2 1 17 21 KALIMANTAN TENGAH 2 60 60 22 KALIMANTAN TIMUR 10 3 4 4 11 23 SULAWESI SELATAN 53 26,33 33,14 1 60,47 24 SULAWESI BARAT 12 1062 1062 25 SULAWESI UTARA 13 12,92 12,55 0,8 26,27 26 SULAWESI TENGAH 38 22 6 9 5 42 27 SULAWESI TENGGARA 5 264 15 279 28 GORONTALO 15 330 35,17 50 415,17 29 MALUKU 75 4,05 4,05 30 MALUKU UTARA 2 2,5 2,5 31 PAPUA 0 0 32 PAPUA BARAT 1 1 1 JUMLAH TOTAL 1136 3116,47 1190,91 149,48 138,56 1 509 5105,42 KAPASITAS PENYALURAN RATA-RATA (TON/TAHUN)
49
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-20198) Regulasi
Beberapa regulasi telah mendorong
berkembangnya sistem perbenihan nasional, diantaranya :
(a) Undang-Undang No. 12 Tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Tanaman
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);
(b) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun
1995 tentang Perbenihan Tanaman
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3616);
(c) Keputusan Menteri Pertanian Nomor
347/Kpts/OT.210/6/2003 tentang
Pedoman Pengelolaan Balai Benih
Tanaman Pangan dan atau Hortikultura; (d) Peraturan Menteri Pertanian Nomor
61/Permentan/ OT.140/10/2011 tentang Pengujian, Penilaian, Pelepasan dan
Penarikan Varietas (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 623);
(e) Peraturan Menteri Pertanian Nomor
127/Permentan/ SR.120/11/2014 tentang Pemasukan dan Pengeluaran Benih
50
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Tanaman (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 1826);
(f) Peraturan Menteri Pertanian Nomor
56/Permentan/ SR.110/11/2015 tentang Produksi, Sertifikasi, dan Peredaran Benih Bina Tanaman Pangan dan Tanaman Hijauan Pakan Ternak (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 1774);
(g) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1100.1/Kpts/Kp.150/10/1999
sebagaimana telah diubah dengan
Keputusan Menteri Pertanian Nomor
361/Kpts/KP.150/5/2002 tentang
Pembentukan Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura;
(h) Keputusan Menteri Pertanian Nomor
511/Kpts/PD.310/ /9/2006 sebagaimana
telah diubah dengan Keputusan Menteri
Pertanian Nomor
3599/Kpts/PD.390/10/2009 tentang
Komoditi Binaan Direktorat Jenderal
Perkebunan, Direktorat Jenderal
Tanaman Pangan dan Direktorat Jenderal Hortikultura;
(i) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3517/Kpts/OT.160/10/ 2012 tentang Tim Pembinaan, Pengawasan dan Sertifikasi
51
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019Benih (TP2S) Tanaman Pangan dan Perkebunan;
(j) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 354/HK.130/C/05/2015 tentang Pedoman Teknis Produksi Benih Bina Tanaman Pangan;
(k) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 355/HK.130/C/05/2015 tentang Pedoman Teknis Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan;
(l) Keputusan Menteri Pertanian Nomor 356/HK.130/C/05/2015 tentang Pedoman Teknis Pembinaan dan Pengawasan Peredaran Benih Bina Tanaman Pangan; (m)Keputusan Menteri Pertanian Nomor
391/Kpts/ OT.050/6/2016 tentang Tim Penilai dan Pelepas Varietas Tanaman
Pangan, Perkebunan dan Tanaman
Pakan Ternak;
(n) Keputusan Menteri Pertanian Nomor
1316/HK.150/C/12/2016 tentang
Perubahan Atas Keputusan Menteri
Pertanian Nomor 355/HK.130/C/05/2015 tentang Pedoman Teknis Sertifikasi Benih Bina Tanaman Pangan;
Regulasi tersebut memberikan peluang yang dapat mendorong eksplorasi potensi bangsa dan meningkatkan daya kreativitas sehingga
52
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019pemantapan peranan masing -masing
kelembagaan sehingga berjalan secara simultan, serta mendorong iklim usaha di bidang perbenihan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran bangsa. 1.3. Potensi, Permasalahan dan Tantangan
a. Potensi
Keanekaragaman biogeofisik dan sosial budaya bangsa merupakan peluang bagi pembangunan nasional khususnya pembangunan pertanian dan lebih khusus lagi pembangunan sistem perbenihan nasional. Beberapa kondisi terkini yang berhubungan dengan usaha perbeni han dapat menjadi peluang atau potensi bagi upya pengembangan sektor perbenihan.
1. Sumberdaya Manusia (SDM)
Sampai saat ini sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar dan menopang perekonomian pedesaan. Pada saat krisis ekonomi penyerapan tenaga kerja sektor pertanian justru mengalami peningkatan. Hal ini
mengindikasikan sektor pertanian masih
merupakan sektor yang menjadi pilihan angkatan kerja. Jumlah tenaga kerja yang meningkat setiap
tahunnya (+45%), menjadi peluang untuk
berkembangnya lapangan pekerjaan di sektor perbenihan.
53
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-20192. Sasaran pencapaian ketahanan pangan
Ketahanan dan kemandirian pangan merupakan
produk akhir yang ingin dicapai dalam
pelaksanaan pembangunan tanaman pangan. Unsur pendukung antara lain berkembangnya sistem penyediaan benih sehingga benih unggul bermutu dan bersertifikat dapat diakses dengan mudah oleh para petani. Upaya pencapaian ketahanan pangan setiap tahunnya merupakan agenda utama dalam program pembangunan nasional. Sasaran produksi tanaman pangan khususnya padi, jagung dan kedelai sampai
dengan 2014 sebesar 70% harus dicapai
sedemikian rupa, karena sudah
memperhitungkan kebutuhan secara nasional, baik konsumsi, industri maupun cadangan. Oleh karena itu benih sebagai salah satu komponen pendukung utama akan menjadi agenda utama untuk disempurnakan sistem penyediaannya. 3. Sumberdaya hayati/plasma nutfah yang beragam
Indonesia mempunyai keragaman hayati yang
berlimpah, untuk dapat mengembangkan
varietas-varietas benih baru khususnya tanaman pangan.
4. Ketersediaan Lahan
Dengan adanya sasaran areal tanam komoditi tanaman pangan yang cukup luas menjadikan kebutuhan benih potensial cukup besar maka hal
54
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019ini merupakan potensi untuk mengembangkan produksi benih.
Masih tersedia areal pertanian dan lahan potensial belum termanfaatkan secara optimal
seperti lahan kering/rawa/lebak/pasang
surut/gambut yang merupakan peluang bagi peningkatan produksi tanaman pangan.
Selain potensi lahan, faktor pendukung
keanekaragaman hayati dan ekosistem sangat berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas usahatani tanaman pangan. Disamping itu, kondisi lahan yang secara umum subur dan iklim yang mendukung merupakan peluang yang sangat menguntungkan untuk pembangunan tanaman pangan.
5. Keberadaan produsen/penangkar tanaman
pangan di sentra produksi
Keberadaan produsen benih tanaman pangan di setiap sentra produksi, tersedianya teknologi produksi benih yang cukup memadai, serta adanya lembaga sertifikasi dan pengawasan mutu benih dan lembaga produksi benih sumber dan penangkar di setiap provinsi berpotensi untuk memproduksi benih varietas unggul
bersertifikat yang cukup untuk memenuhi
55
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019b. Permasalahan
1. Belum berkembangnya usaha penangkaran benih secara luas hingga di sentra produksi yang mengakibatkan harga benih me njadi mahal. 2. Ketersediaan benih unggul dan bermutu belum
dapat memenuhi kebutuhan petani, baik dari
aspek jumlah maupun ketepatan waktu
penyediaan.
3. Lemahnya peran Balai Benih dalam rantai perbanyakan benih.
4. Lemahnya koordinasi diantara
institusi/stakeholder perbenihan berimbas kepada melambatnya perkembangan sistem perbenihan. Akhir-akhir ini sistem perbenihan yang sudah dibangun, cenderung tergerus oleh ego institusi . Perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi
ke desentralisasi cenderung mewarnai
pelambatan koordinasi, karena masing-masing provinsi/kabupaten memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Ketidaksinambungan kebijakan pusat dan daerah seperti kurang tersosialisasinya program dan kegiatan dan beberapa peraturan daerah yang kurang selaras dengan kebijakan nasional.
5. Kurangnya kuantintas dan kualitas sumber daya manusia perbenihan di daerah yang menangani
perbenihan (khususnya Pengawas Benih
Tanaman). Perbaikan manajemen dan kinerja perlu dilakukan agar dapat menciptakan kinerja yang berkualitas serta moral dan etos kerja yang optimal.
56
Renstra Direkto rat Perbenihan Tahun 2015-2019c. Tantangan
1. Pemenuhan kebutuhan benih bersertifikat
sebagai salah satu pra syarat pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, bahan baku industri dan energi.
Untuk pemenuhan kebutuhan benih bersertifikat, beberapa langkah perlu diambil, seperti :
a. Membangkitkan i ndustri perbenihan swasta nasional.
b. Membentuk skema perkreditan untuk usaha penelitian pembuatan varietas unggul dalam industri perbenihan swasta nasional.
c. Merangsang minat para pemulia dan teknologi perbenihan untuk terjun ke dalam industri