• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEUTUHAN WACANA

Bagan 22: KOHESI DALAM WACANA anaforis

5.4 Unsur Semantis

5.4.1 Hubungan Semantis Antarbagian Wacana

Unsur semantis antarbagian wacana akan tampak dalam hubungan proposisi-proposisi (klausa atau kalimat). Hubungan semantis antarbagian wacana, antara lain, sebagai berikut.

(a) hubungan sebab-akibat yang menunjukkan sebab serta akibat berlangsungnya suatu peristiwa. Misalnya:

(40) Pada waktu mengungsi dulu sukar sekali menda-

patkan beras di daerah kami. masyarakat hanya memakan singkong sehari-hari. banyak anak yang kekurangan vitamin dan gizi. Tidak sedikit yang lemah dan sakit.

(b) hubungan sarana-hasil yang menunjukkan tercapainya suatu hasil serta bagaimana cara menghasilkannya. Misalnya:

(41) Penduduk di sekitar Kampus Bumisiliwangi yang

mempunyai rumah atau kamar yang akan disewakan memang berusaha selalu menyenangkan para penyewa. Jelas banyak sekali para mahasiswa tertolong. Lebih-lebih yang berasal dari luar Bandung dan luar Jawa. Apalagi sewanya memang agak murah dan dekat pula ke tempat kuliah. Sangat efisien.

(c) hubungan sarana-tujuan yang menunjukkan berlangsungnya suatu peristiwa unuk mencapai suatu tujuan, meskipun tujuan

itu tentu tercapai. Misalnya:

(42) Dia belajar dengan tekun. Tiada kenal letih siang-malam. Cita-citanya untuk menggondol gelar sarjana tentu tercapai paling lama dua tahun lagi. di samaping itu, istrinya pun tabah sekali berjualan. Untungnya banyak juga setiap bulan. Keinginan-nya untuk membeli gubuk kecil agar mereka tidak menyewa rumah lagi akan tercapai juga nanti.

(d) hubungan latar-kesimpulan yang menunjukkan salah satu

bagiannya merupakan bukti sebagai dasar kesimpulan.

(43) Pepohonan telah menghijau di setiap pekarangan rumah dan ruangan kuliah di kampus kami. Burung-burung beterbangan dari dahan ke dahan sambil bernyanyi-nyanyi. Udara segar dan sejuk nyaman. jadi penghijauan di kampus itu telah berhasil. Demikianlah kini keadaan kampus kami; berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu, para sivitas akademika merasa bangga atas kampus itu.

(e) hubungan kelonggaran-hasil yang menunjukkan salah satu bagiannya menyatakan suatu usaha. Misalnya:

(44) Kami tiba di sini agak Subuh dan menunggu agak lama. Ada kira-kira dua jam lamanya. Mereka tidak muncul-muncul. Mereka tidak menepati janji. Kami sangat kecewa dan pulang kembali dengan rasa dongkol.

(f) hubungan syarat-hasil yang menunjukkan salah satu bagian-

nya menyatakan sesuatu yang harus dilakukan atau keadaan yang harus ditimbulkan untuk memperoleh hasil. Misalnya:

(45) Seyogyanyalah penduduk desa kita ini rajin bekerja, rajin menabung di KUD. tentu saja desa kita lebih maju dan lebih makmur dewasa ini. Dan seterusnya pula kita menjaga kebersihan desa ini. Pasti kesehatan masyarakat desa kita lebih baik.

(g) hubungan perbandingan yang menunjukkan perbandingan suatu hal atau peristiwa dengan hal atau peristiwa lainnya. Misalnya:

(46) Sifat para penghuni asrama ini beraneka ragam.Wanitanya pun rajin belajar. Prianya lebih malas. Wanitanya mudah diatur. Prianya agak bandel. Wanitanya suka menolong. Prianya lebih suka menerima atau meminta.

(h) hubungan parafrastis yang menunjukkan sala satu bagian

wacana mengungkapkan isi bagian lain dengan cara lain. Misalnya:

(47) Perang itu sungguh kejam. Militer, sipil, pria, wanita, tua dan muda menjadi korban peluru. Peluru tidak dapat membedakan kawan dengan lawan. Sama dengan pembunuh. Biadab, kejam dan tidak kenal perikemanusiaan. Sungguh ngeri.

(i) hubungan aditif hubungan aditif yang menunjukkan

gabungan waktu, baik yang simultan maupun yang berurutan. Misalnya:

(48) i. Paman menunggu di ruang depan. Sementara itu saya menyelesaikan pekerjaan saya. Kini

pekerjaan saya sudah selesai. Saya sudah merasa lapar. Segera saya mengajak Paman makan malam di kantin. Sekarang saya dan Paman dapat berbicara santai sambil makan.

ii. Orang itu malas bekerja. Duduk melamun saja sepanjang hari. Berpangku tangan. Bagaimana bisa mendapat rezeki? Bagaimana bisa hidup berkecukupan.Tanpa menanam, menyiangi, menumbuk, serta menumpas hama. Bagaimana bisa memperoleh panen yang memuaskan, bukan? Agaknya orang tidak menyadari hal itu.

(k) hubungan identifikasi antara bagian-bagian wacana yang dapat dikenal bahasawan berdasarkan pengetahuannya. Misalnya:

(49) Pemerintah daerah mendirikan pabrik tekstil di Majalaya. Dengan menggalakkan industri tekstil mereka menduga dan mengharap keuntungan lebih berlipat ganda.

(l) hubungan generik-spesifik yang menunjukkan hubungan antara bagian-bagian wacana dari umum ke khusus. Contoh:

(52) Abangku memang bersifat sosial dan pemurah. Dia pasti dan rela menyumbang paling sedikit satu juta rupiah buat pembangunan rumah ibadah itu.

(m) hubungan perumpamaan yang menunjukkan bahwa bagian wacana merupakan ibarat bagi bagian wacana lainnya. Misalnya:

(53) Memang suatu ketakaburan bagi pemuda papa dan miskin itu untuk memiliki mobil dan gedung mewah tanpa bekerja keras memeras otak. Kerjanya hanya melamun dan berpangku tangan saja setiap harinya. Di samping itu dia ber-keinginan pula mempersunting putri Haji Guntur bernama Ruminah itu. Jelas dia itu ibarat pungguk merindukan bulan. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

5.4.2 Kesatuan Latar Belakang Semantis

Keutuhan wacana dapat berupa kesatuan latar belakang semantis seperti kesatuan topik, hubungan sosial para partisipan, dan jenis medium penyampaian.

a. Kesatuan topik

(54) Adi Surya di garut tiada duanya. Ibu-Ibu, bapak-

bapak, Saudara perlu radio, televisi, dan alat elektronik lainnya? Silakan datang ke Adi Surya.

b. Hubungan sosial antarpartisipan

(55) A: Mbak, gelasnya bocor. B.: Oh, haus, Dik?

Contoh (55) merupakan tindak ujaran dalam interaksi sosial. Menurut Austin (1962) tindak ujaran itu memiliki daya lokusi dan perlokusi. Misalnya, makna lokusi

ujaran yang diucapkan A pada (55) ialah bahwa gelas yang dihadapinya tidak bisa

tidak benar karena kenyataan menunjukkan bahwa gelas itu tidak retak, masih utuh, tetapi isinya sudah habis. Dalam hal ini makna yang ditangkap oleh peserta ujaran adalah makna ilokusi yang sesuai dengan konvensi sosial, yang berarti bahwa A minta tambah minuman. B menyadari makna tersebut, lalu mengambil minuman tambahan untuk A sambil berkomentar. Dalam hal ini B melaksanakan sesuatu sesuai dengan daya perlokusi yang terkandang di dalam ujaran yang diucapkan A.

c. Jenis medium pembicaraan

Apabila kita mndengarkan laporan pandangan mata perbandingan sepak bola melalui radio, kita mungkin akan mendengar kalimat-kalimat yang lepas-lepas, serta mempunyai ciri penghubung apa pun, tetapi kita dapat memahami sepenuhnya. Uajaran tersebut dapat dianggap sebagai sebuah wacana lengkap.

Dokumen terkait