BAB II LANDASAN TEORITIS RETORIKA DAN DAKWAH
B. Ruang Lingkup Dakwah
2. Unsur-unsur Dakwah
23
H. Hasanuddin, Hukum Dakwah (Tinjauan Aspek dalam Berdakwah di Indonesia)
(Jakarta: PT. Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 26.
24
Wardi Bachtiar, Metodelogi Penelitian Ilmu Dakwah (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 31.
25
a. Subjek dakwah atau da'i
Subjek dakwah adalah orang yang melakukan dakwah, yaitu orang yang berusaha mengubah situasi yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT, baik secara individu atau kelompok (organisasi) sekaligus sebagai pemberi informasi dan pembawa misi, atau lebih jelas disebut dengan da'i.26
Subjek dakwah (ulama, da'i, muballigh) yaitu orang yang melakukan tugas dakwah.
M. Ghazali juga menegaskan dua syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang juru dakwah yaitu pengetahuan mendalam tentang Islam dan juru dakwah harus memiliki jiwa kebenaran (ruh yang penuh dengan kebenaran, kegiatan, kesadaran dan kemajuan).27
b. Objek dakwah atau mad'u
Objek dakwah ini disebut juga mad'u atau sasaran dakwah, yaitu orang-orang yang diseru, dipanggil, atau diundang maksudnya ialah orang-orang yang diajak kedalam islam sebagai penerima dakwah.28 sudah jelas bahwa obyek dakwah adalah manusia mulai dari individu, keluarga, kelompok, golongan, massa dan umat seluruhnya.
Masyarakat yang beraneka ragam latar belakangnya merupakan sasaran (objek) dakwah. selain itu juga sasaran dakwah harus mampu mencangkup segala aspek kehidupan secara utuh, baik sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial.
26
M. Hafi Anshari, Pemahaman dan Pengamalan Dakwah (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), h. 179.
27
A. Hasyim, Dasar Dakwah Menurut Al-Qur'an(Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 167.
28
Sasaran dakwah berawal dari diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, bahkan dunia.
Sasaran dakwah secara sistematis di bagi menjadi beberapa bagian:
a.individu, sasaran dakwah terhadap diri sendiri (individu) merupakan suatu yang esensial sekali. Sebab, jika seorang da'i menanamkan kebaikan dalam dirinya maka akan mempengaruhi segala tingkah lakunya. Dengan begitu, untuk dapat diterima oleh sasaran dakwah atas apa yang disampaikan da'i dan untuk mengharapkan respon sasaran dakwah mengikuti ajarannya, maka da'i harus memberikan teladan yang baik.
b.Keluarga, didalam keluarga, orang tua merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan ajaran agama kepada anak-anaknya dan orang tualah yang dapat memberikan pengaruh kedalam diri anak dalam pergaulannya sehari-hari.
c. Masyarakat, masyarakat (umat) manusia sebagai sasaran dakwah merupakan kumpulan individu yang beraneka ragam. Oleh karena itu, hendaknya seorang da'i mengadakan penelitian untuk memperoleh gambaran mengenai sasaran dakwah.
M. Natsir dalam bukunya Fiqhud dakwah mengatakan bahwa sasaran dakwah yaitu:
1. Ada golongan cerdik-cendikiawan yang cinta kebenaran berfikir kritis dan cepat tanggap. Mereka ini harus dihadapi dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan dan dalil yang dapat diterima oleh kekuatan akal mereka.
2. Ada golongan awam, orang yang belum dapat berfikir kritis dan mendalam. Belum dapat menangkap pengertiaan tinggi-tinggi. Mereka ini panggil dengan sebutan mau'idzotul hasanah, dengan ajaran dan didikan yang baik-baik. Dengan ajaran-ajaran yang mudah dipahami.
3. Ada golongan yang tingkat kecerdasannya diantara kedua golongan tersebut. Mereka ini yang dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong agar berpikir secara sehat.29
Kegiatan dakwah sangat ditentukan oleh sasaran dakwah, karena tanpa adanya sasaran dakwah maka dapat dikatakan dakwah itu pada hakekatnya tidak ada. Dengan demikian, masyarakat sebagai sarana dakwah mencakup berbagai aspek kehidupan yang memiliki strata sosial yang berbeda-beda, yang semuanya harus dihadapi secara proporsional dari para da'i.
c. Materi dakwah
Materi dakwah, tidak lain adalah al-Islam yang bersumber dari al-Qur'an dan al-Hadist sebagai sumber utama yang meliputi: aqidah, syariah, dan akhlak dengan berbagai macam cabang ilmu yang diperoleh darinya.30
Menurut Hamzah Yakub, tekanan utama materi dakwah tidak boleh lepas dari aqidah Islam, tauhid dan keimanan, pembentukan pribadi yang sempurna, pembangunan masyarakat adil dan makmur, serta kemakmuran dan kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.
Al-Qur'an dan Hadist Nabi adalah ajaran-ajaran yang sarat dengan ketetuan dan ajaran untuk meraih kebahagiaan, keseimbangan, kemajuan, keberhasilan, serta ketentraman hidup di dunia dan akhirat. Dengan kata lain
29
M. Natsir, Fiqhud dakwah, (Solo: Ramadhani, 1987), h. 7
30
Qur'an dan Hadist mengingatkan umat untuk meninggalkan serta menjauhkan diri dari kemungkaran, kenistaan, kebathilan, kesewenang-wenangan, kebodohan dan keterbelakangan.
Umat Islam memang harus menjadi umat yang berpikir maju, pandai, dinamis dan kreatif, dan peka terhadap segala aspek perkembangan kehidupan yang ada. Dalam pengertian, umat Islam harus mampu memandang dan mengantisipasi perkembangan serta gejolak kehidupan disekitarnya dengan cermat, hati-hati dan mawas diri.31
d. Metode Dakwah
Metode berasal dari bahasa Jerman, methodica artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani, metode berasal dari kata methodos artinya jalan yang dalam bahasa arab disebut Thariq.32
Metode adalah cara-cara yang dipergunakan oleh seorang da'i untuk menyampaikan materi dakwah, yaitu al-Islam atau serentetan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.33
Dalam realitas sekarang, pengertian tentang metode dakwah banyak disalahpahami oleh masyarakat dewasa ini. Dakwah biasanya dikesankan sebagai suatu keahlian yang dikuasai oleh seseorang dalam berpidato, ceramah atau khutbah saja. Pemahaman masyarakat seperti itu tentunya belum tepat, karena ceramah, pidato dan sejenisnya adalah merupakan salah satu bagian dari metode
31
Sutirman Eka Ardhana, Jurnalistik Dakwah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offet, 1995), hh. 10-11.
32
H. Hasanuddin, Op. Cit., h. 35.
33
dakwah. Oleh karena itu, pemahaman yang keliru tersebut harus dirubah pada jalur yang sebenarnya.
Berdasarkan bentuk-bentuknya penyampaiannya metode dakwah dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yakni:
1. Bil-Lisan 2. Bil-Hal 3. Bil-Qalam
Pedoman dasar yang dijadikan sandaran dalam penggunaan metode dakwah salah satunya adalah hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim:
ی ﻝ !
"
#ﻥ%
&ی &ﻝ !&
'ﻝ () #" *"
+
,
-.
ی
/
%
0
)
1
Siapa diantara kamu melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya (kekuasaanya), jika tidak mampu ubahlah dengan lisannya (nasehat), jika tidak mampu ubahlah dengan hatinya dan yang terakhir inilah selemah-lemahnya iman. (H.R. Muslim)34
1). Bil-Lisan
Dakwah bil-lisan adalah suatu bentuk dakwah yang dilaksanakan melalui lisannya, metode ini sangat umum digunakan oleh para da'i di dalam ceramah, pidato, khutbah, diskusi, nasihat dan lain-lain.
2). Bil-Hal
Dakwah bil-hal adalah dakwah yang dilakukan dengan perbuatan nyata yang meliputi keteladanan. Metode dakwah ini dapat dilakukan oleh setiap individu tanpa harus memiliki keahlian khusus dalam bidang dakwah. Dakwah bi al-hal dapat dilakukan misalnya dengan tindakan nyata yang dari karya nyata
34
Musthofa Bugho dan Muhyiddin, al-Wafi, fi Syarhi Arbaiina Nawawi (Bairut: Daarul Fikri, 1994) h. 252.
tersebut hasilnya dapat dirasakan secara konkret oleh masyarakat, seperti pembangunan Rumah Sakit atau fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk kemaslahatan umat.
3). Bil-Qalam
Dakwah bil-Qalam adalah dakwah yang dilakukan melalui tulisan, dakwah ini memerlukan keahlian khusus dalam hal menulis dan merangkai kata-kata sehingga penerima dakwah tersebut akan tertarik untuk membacanya tanpa mengurangi maksud yang terkandung di dalamnya, dakwah tersebut dapat dilakukan melalui media massa seperti surat kabar, majalah, buku, buletin maupun lewat internet.
Menurut Slamet Muhaemin Abda, metode dakwah dapat dilihat dari segi cara, jumlah audien dan cara penyampaian.
Metode dakwah dari segi cara, ada dua macam:
1. Cara tradisional, termasuk di dalamnya adalah sistim ceramah umum. Dalam cara ini da'i aktif berbicara, sedangkan komunikan pasif. Komunikasi hanya berlangsung satu arah (one way communication). 2. Cara modern, termasuk di dalamnya adalah diskusi, seminar dan
sejenisnya dimana terjadi komunikasi dua arah (two way communication).
Metode dakwah dari segi jumlah audien, ada dua macam:
1. Dakwah perorangan, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap orang secara langsung.
2. Dakwah kelompok, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap kelompok tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya.
Metode dari segi cara, dapat dilihat dari berbagai segi yaitu:
1. Cara langsung dan tidak langsung. Cara langsung yaitu dakwah yang dilakukan dengan cara tatap muka antara komunikan dan komunikatornya. Cara tidak langsung yaitu dakwah yang dilakukan tanpa tatap muka antara da'i dan audiennya.
2. Cara penyampaian isi secara serentak dan bertahap. Cara serentak dilakukan untuk pokok-pokok bahasan yang praktis dan tidak terlalu banyak kaitannya dengan masalah lain. Cara bertahap dilakukan terhadap pokok-pokok bahasan yang banyak kaitannya dengan masalah lain.
3. Sedangkan cara penyampaian persiapan materi dapat dilakukan dengan tiga cara:
a. Teks book, yaitu dengan membaca materi secara keseluruhan. b. Tanpa teks book, yaitu materi dihafal seluruhnya dan tanpa
membaca.
c. Dengan catatan kecil secara garis besar, disiapkan pokok-pokok materinya saja. 35
e. Media Dakwah
Media dakwah yaitu saluran dakwah (thuruqud dakwah) dengan saluran mana dakwah disampaikan. Ada saluran lisan, tulisan, auditive (yang merangsang pendengaran), visual dan yang audio visual yang merangsang pendengaran dan
35
penglihatan, bahkan ada saluran uswatun hasanah dan amal usaha maksudnya dakwah dengan perbuatan (dakwah amaliyah).36
Menurut Hamzah Ya'qub media dakwah diklasifikasi menjadi lima jenis yaitu:
1. Lisan, merupakan media yang paling mudah mempergunakannya lidah dan suara.
2. Tulisan, media ini berfungsi untuk menggantikan keberadaan da'i dalam peroses dakwah, tulisan dapat menjadi alat komunikasi da'i dan mad'u. 3. Lukisan, gambar atau ilustrasi, media ini berfungsi sebagai penarik. 4. Audio Visual, media ini dapat merangsang indera penglihatan dan
pendengaran.
5. Akhlak, yaitu langsung dimanifestasikan dalam tingkah laku da'i. 37 Dalam buku "Dustur Dakwah Menurut al-Qur'an" karangan A. Hasjmi, beliau mengatakan bahwa juru dakwah memerlukan medan dan sarana, alat dan medan. Di mana media dan sarana, alat dan medan yang dibutuhkan tersebut adalah sebagai berikut:
1.Mimbar dan Khitabah 2.Kalam dan Kitabah 3.Masrah dan Malhamah 4.Seni suara dan Seni Bahasa 5.Madrasah dan Dayyah 6.Lingkungan Kerja dan Usaha
36T. A Latief Rousydiy, Loc. Cit. 37
Hamzah Yakub, Publisistik Islam : Teknik Dakwah dan Ledership (Bandung: CV. Diponogoro, 1982), h. 13.
Dari berbagai sarana, media dan peralatan tersebut, masing-masing dapat dikembangkan dan dijabarkan lebih luas lagi, sesuai dengan situasi dan kondisi serta perkembangan zaman. Pendapat lainnya mengemukakan bahwa sebagai agen pembaharuan, perbaikan, dan perubahan maka dakwah mempunyai sarana yang sama dengan pendidikan, yakni:
a. Keluarga
b. Pendidikan formal c. Lingkungan masyarakat d. Media massa.38
f. Tujuan Dakwah
Tujuan dakwah adalah merupakan salah satu faktor yang sangat penting dengan tujuan itulah dapat dirumuskan suatu landasan tindakan dalam pelaksanaan dakwah.39
Syekh Ali Manfudz merumuskan, bahwa tujuan dakwah ada 5 perkara yaitu:
1. menyiarkan tuntunan Islam, membetulkan aqidah dan meluruskan amal perbuatan manusia, terutama budi pekertinya.
2. memindahkan hati dari keadaan yang jelek kepada keadaan yang baik. 3. membentuk persaudaraan dan menguatkan tali persatuan di antara kaum
muslimin.
4. menolak faham atheisme, dengan mengimbangi cara-cara mereka bekerja.
38
MH Israr, Retorika dan Dakwah Islam Era Modern (Jakarta: CV. Firdaus, 1993), h.10.
39
5. menolak syubhat-syubhat, bid'ah dan khutafat atau kepercayaan yang tidak bersumber dari agama dengan mendalami ilmu ushuluddin.40
Tujuan dakwah bukanlah sekedar menyuguhkan fakta semata-mata tapi juga menjelaskan fakta tersebut sedemikian rupa sehingga tidak saja ia menjadi jelas bagi sekelompok elit di masyarakat, tapi juga bisa dipahami oleh orang awam.41
Ditinjau dari aspek berlangsungnya suatu kegiatan dakwah, maka tujuan dakwah itu terbagi menjadi dua bagian:
a. Tujuan jangka pendek
Dalam jangka pendek itu adalah untuk memberikan pemahaman Islam kepada masyarakat sasaran dakwah itu. Dengan adanya pemahaman masyarakat tentang Islam maka masyarakat akan terhindar dari sikap perbuatan yang mungkar dan jahat.
b. Tujuan jangka panjang
Sedangkan tujuan jangka panjang dakwah itu adalah untuk mengadakan perubahan sikap masyarakat dakwah itu. Sikap yang dimaksud adalah perilaku-perilaku yang terpuji bagi masyarakat yang tergolong kepada kemaksiatan yang tentunya membawa kepada kemadaratan dan mengganggu ketentraman masyarakat lingkungannya.
40
Ibid., h. 34-35.
41
Tujuan utama dakwah adalah nilai atau hasil akhir yang ingin dicapai atau diperoleh keseluruh tindakan dakwah.42